HASIL PEMBENARAN — KENIKMATAN PENUH TERHADAP ALLAH DI DALAM KRISTUS
Pada akhir Roma 3, Paulus memberikan definisi tentang pembenaran Allah, sedang dalam pasal 4, ia menampilkan Abraham sebagai teladan pembenaran itu. Roma 5:1-11 seyogianya dipandang sebagai kesimpulan atas pengajaran Paulus mengenai pembenaran. Kesimpulan ini menunjukkan akibat dari pembenaran. Kesebelas ayat ini menyebutkan banyak perkara indah yang timbul dari pembenaran Allah terhadap diri kita.
Dalam Roma 5:1-11 Paulus mengetengahkan enam kata yang istimewa: kasih, kasih karunia (anugerah), damai sejahtera, pengharapan, hayat, dan kemuliaan. Kasih Allah telah dicurahkan ke dalam hati kita melalui Roh Kudus (5:5). Kita telah beroleh jalan masuk ke dalam kasih karunia ini dan di dalamnya kita berdiri (5:2). Karena kita telah dibenarkan demi iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah (5:1). Selanjutnya, kita bermegah, bersorak-sorai, dan menerima kemuliaan dalam pengharapan (5:2). Ayat 10 memberi tahu kita, kita akan diselamatkan dalam hayat-Nya. Terakhir, kita berharap berbagian dalam kemu-liaan Allah (5:2). Keenam perkara ini merupakan hasil dari pembenaran Allah. Apakah Anda mau kasih dan kasih karunia Allah? Maukah Anda memiliki damai sejahtera dan pengharapan? Maukah Anda berbagian dalam hayat Allah yang ilahi dan kekal, dan berada dalam kemuliaan-Nya? Kalau Anda mau, Anda perlu dibenarkan. Kesemuanya ini adalah bagian kita yang merupakan hasil dari pembenaran Allah.
Seiring dengan keenam kata yang penuh makna ini, terdapat pula tiga Persona yang ajaib. (Walaupun saya tidak menyukai istilah “Persona” ini, karena dalam pengajaran tentang Trinitas pengertian terhadap istilah ini tidak tepat, namun karena dalam kosakata kita tak ada istilah yang lebih baik daripada istilah yang menerangkan pribadi KeAllahan, maka terpaksa kita pakai juga). Dalam Roma 5:11 kita nampak tiga Persona Allah Tritunggal. Ayat 5 membicarakan tentang Roh Kudus, memberi tahu kita bahwa Roh Kudus telah mencurahkan kasih Allah ke dalam hati kita. Kemudian ayat 6 mengatakan, “Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka”. Akhirnya, pada ayat 11 dikatakan, “kita malah bermegah di dalam Allah”. Dalam Versi King James dikatakan, “bersukacita di dalam Allah,” itu berarti Allah telah menjadi kenikmatan kita. Kita bersukacita, bermegah, bersorak-sorai, dan menerima kemuliaan di dalam Allah karena Dialah kenikmatan kita. Jadi, Roma 5 mengungkapkan enam perkara yang indah dan tiga Persona yang ajaib. Kita memiliki kasih, kasih karunia, damai sejahtera, pengharapan, hayat, dan kemuliaan. Sebagai hasil dari pembenaran Allah, kita memiliki Roh Kudus, Kristus, dan Allah sebagai kenikmatan kita. Oh, alangkah kayanya bagian firman ini! Kita memerlukan banyak sekali berita untuk mengungkapkan hal ini sampai taraf memadai.
I. DIBENARKAN DAN DIDAMAIKAN
Asalnya, kita tidak saja sebagai orang dosa, tetapi juga sebagai seteru Allah. Melalui kematian Kristus dalam rangka penebusan, Allah telah membenarkan kita, orang-orang dosa ini, dan telah mendamaikan kita, para musuh-Nya ini, kepada diri-Nya sendiri (5:1, 10-11). Hal ini terjadi ketika kita percaya kepada Tuhan Yesus. Kita menerima pembenaran dan pendamaian Allah demi iman. Hal ini membukakan jalan serta memasukkan kita ke dalam alam lingkungan kasih karunia untuk menikmati Allah.
II. KASIH ALLAH TELAH DICURAHKAN
Dalam lingkungan kasih karunia, perkara pertama yang kita nikmati ialah kasih Allah. “Kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita” (5:5). Sering kali dalam hidup kristiani kita, kita memerlukan dorongan dan peneguhan. Sewaktu kita melewati masa-masa yang penuh penderitaan, boleh jadi kita dihinggapi banyak pertanyaan dan keragu-raguan. Boleh jadi Anda berkata, “Mengapa timbul banyak kesulitan dalam kehidupanku sebagai orang Kristen? Mengapa banyak ujian dan pencobaan?” Mungkin saja dalam benak kita timbul pertanyaan-pertanyaan dan keragu-raguan terhadap keadaan sekitar kita. Sekalipun kebimbangan-kebimbangan macam ini bisa saja timbul, namun kita tak dapat menyangkal bahwa kasih Allah ada di dalam kita. Sejak kali pertama kita menyeru nama Tuhan Yesus, kasih Allah telah dicurahkan ke dalam hati kita melalui Roh Kudus. Ini berarti Roh itu mewahyukan, meneguhkan, dan menjamin kita dengan kasih Allah. Roh yang berhuni ini seolah-olah berkata, “Janganlah ragu, Allah mengasihimu. Kamu tidak paham mengapa kamu kini menderita, namun pada suatu hari kamu akan berkata: Ya Bapa, aku bersyukur kepada-Mu karena kesukaran dan pencobaan yang kualami. Ketika Anda memasuki gerbang kekekalan, Anda akan berkata: Terpujilah Tuhan, karena penderitaan dan ujian yang menimpaku dalam jalan hidupku. Allah memakai semua ini untuk mengubahku.”
Oh, kasih Allah telah dicurahkan ke dalam hati kita! Meskipun kita terkena malapetaka, miskin dan tertekan, kita tak dapat menyangkal kehadiran kasih Allah di dalam kita. Dapatkah kita menyangkal bahwa Kristus telah mati bagi kita? Kristus telah mati bagi kaum dosa yang durhaka seperti kita ini. Kita pernah menjadi seteru, namun Kristus telah mencurahkan darah-Nya di atas salib untuk mendamaikan kita dengan Allah. Alangkah ajaibnya kasih ini! Kalau Allah sampai mengaruniakan Putra-Nya sendiri, pasti Ia takkan melakukan suatu perkara yang merugikan kita.
Allah itu berdaulat. Ia tahu apa yang paling berfaedah bagi kita. Hak memilih ada pada-Nya, bukan pada kita. Tak peduli apa pilihan kita, apa yang telah Allah rencanakan bagi kita itulah yang akan menjadi bagian kita. Segala yang bertalian dengan kita telah dipersiapkan oleh Bapa kita. Kita berdoa saja demikian, “Ya Tuhan, perbuatlah menurut kehendak-Mu. Aku hanya menginginkan apa yang Kauingin-kan. Aku meletakkan segala perkara ke dalam tangan-Mu.” Itulah reaksi kita kepada Allah tatkala kita sekali lagi menyadari bahwa Ia demikian mengasihi kita dan kasih-Nya telah dicurahkan ke dalam hati kita melalui Roh Kudus.
III. BERDIRI DI DALAM WILAYAH KASIH KARUNIA
Roma 5:2 mengatakan, “Kita juga beroleh jalan masuk oleh iman ke dalam anugerah (kasih karunia) ini. Di dalam anugerah ini kita berdiri (Tl.).” Kasih karunia adalah ruang lingkup tempat kita berdiri. Kita harus tinggal di mana kasih karunia itu berada. Jangan bertanya, Anda harus berada di mana? Anda wajib berdiri di dalam kasih karunia. Bila Anda merasa bahwa Anda telah keluar dari ruang lingkup kasih karunia, segeralah balik ke dalamnya. Kalau Anda hampir bercekcok dengan istri Anda, dan merasa diri Anda telah keluar dari ruang lingkup kasih karunia, hentikan apa yang sedang Anda lakukan, kembalilah ke dalam ruang lingkup kasih karunia, dan berdirilah di situ.
Kita tak perlu melakukan suatu perkara dosa untuk dipisahkan dari kasih karunia. Asal kita tinggal di suatu tempat dalam jangka waktu yang lama, kita sudah merasa bahwa kita telah meninggalkan ruang lingkup kasih karunia dan pergi ke ruang lingkup lainnya. Dalam keadaan seperti itu, apakah yang harus kita perbuat? Kita harus berdoa, “Ya Tuhan, ampunilah aku. Bawalah aku kembali ke ruang lingkup kasih karunia.” Kita kembali ke ruang lingkup kasih karunia melalui jalan yang pernah kita tempuh dulu. Kita memasuki ruang lingkup kasih karunia melalui pembenaran oleh iman. Asal kita mengakui dosa-dosa kita kepada Allah, menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat kita, memanfaatkan darah-Nya, niscayalah kita dibenarkan. Pembenaran Allah membuat kita berdiri di dalam kasih karunia. Bila kita berbuat kesalahan dan merasa diri kita telah keluar dari kasih karunia, wajiblah kita kembali berdoa, “Ya Tuhan, ampunilah aku. Bersihkan aku dengan darah adi-Mu.” Jika Anda berbuat demikian, saat itu juga Anda dikembalikan kepada kasih karunia.
Karena kita dibenarkan oleh iman dan berdiri di dalam ruang lingkup kasih karunia, kita mempunyai damai sejahtera terhadap Allah melalui Tuhan Yesus Kristus (5:1 Tl.). Paulus tidak mengatakan, kita berdamai “dengan” Allah, melainkan berdamai “terhadap” Allah. Ini berarti bahwa kita masih berada di jalan yang mengarah kepada Allah. Kita belum menyudahi perjalanan kita. Dalam alam kerohanian, kita memasuki pintu dulu, baru kemudian menempuh jalannya. Pembenaran demi iman merupakan pintu masuk, memberikan jalan masuk kepada kita ke suatu lapangan luas yang penuh kenikmatan. Begitu kita melewati gerbang pembenaran, kita perlu menempuh jalan damai sejahtera. Orang dosa tidak memiliki damai sejahtra. Roma 3:17 mengatakan, ketika kita masih menjadi orang-orang berdosa, kita “tidak mengenal jalan damai ini”. Namun kini kita sedang menempuh jalan ini.
Jika Anda sedang bergerak ke suatu jurusan, dan dalam batin Anda tidak ada rasa damai sejahtera, Anda harus berhenti. Dalam jalan yang kita tempuh perlu selalu ada damai sejahtera. Dalam Lukas 7:50, Tuhan Yesus berkata kepada seorang perempuan berdosa, begitu dosanya diampuni, Tuhan berkata, “Pergilah dengan selamat (damai sejahtera).” Kaum muda, setelah kalian beroleh selamat, kalian wajib menempuh jalan damai sejahtera. Ke mana saja kalian pergi, tempuhlah jalan damai sejahtera. Jika dalam kalian tidak ada damai sejahtera, janganlah pergi. Apa saja yang kalian perbuat, perbuatlah dalam damai sejahtera. Tanpa damai sejahtera, janganlah kalian lakukan. Kasih karunia adalah untuk tumpuan kita, dan damai sejahtera adalah untuk jalan kita. Jika Anda berdiam di suatu tempat tanpa kasih karunia, janganlah tinggal di situ. Jika Anda mengarah ke suatu jurusan tanpa damai sejahtera, janganlah bergerak ke situ. Berdirilah dalam kasih karunia dan berjalanlah dalam damai sejahtera.
IV. MENIKMATI ALLAH DENGAN BERMEGAH
DALAM ALLAH, BERGEMBIRA DALAM ALLAH,
DAN MEMULIAKAN DIA
Dalam ruang lingkup kasih karunia, “kita bermegah dalam Allah” (5:11). Kata “bermegah” dalam bahasa Yunani paling sedikit mengandung tiga arti: bermegah, bergembira, dan mulia. Jadi, kita bermegah dalam Allah, bergembira dalam Allah, dan mulia di dalam Allah. Bila kita berdiri dalam wilayah kasih karunia, dan berjalan dalam jalan damai sejahtera, kita akan senantiasa bermegah, bergembira, dan mulia di dalam Allah. Ini berarti kita menikmati Allah. Allah adalah bagian kita untuk kenikmatan kita. Kita memiliki Allah yang demikian ini, yang di dalam-Nya kita boleh bermegah, bergembira, dan mulia.
A. BERMEGAH DALAM KESULITAN
Orang alamiah kita perlu dikuduskan, diubah, dan diserupakan. Karena itu, Allah mendatangkan berbagai kesulitan dan penderitaan untuk kebaikan kita. Hal ini dengan jelas tercantum dalam Roma 8:28-29. Di situ dikatakan bahwa Allah membuat segala sesuatu bekerja sama untuk kebaikan kita, agar kita dapat digarap menjadi serupa dengan gambar Putra-Nya. Karena itu, kesulitan dan penderitaan adalah untuk mengubah kita. Kita semua menyukai damai sejahtera, kasih karunia, dan kemuliaan, namun tidak seorang pun menyukai kesulitan. Baru-baru ini, saya menjalani dua kali operasi pada mata kanan saya. Sekalipun saya tidak menyukai penderitaan ini, namun saya harus mengatakan bahwa pada tahun-tahun belakangan ini tiada suatu perkara yang mendatangkan kasih karunia yang lebih banyak daripada saat-saat kedua operasi tersebut berlangsung.
Kesulitan sebenarnya merupakan jelmaan dari kasih karunia beserta semua kelimpahan Kristus. Hal ini mirip dengan inkarnasi Allah di dalam Yesus. Kelihatannya Ia hanya seorang manusia Yesus, padahal Dialah Allah. Seolah-olah keadaan sekitar kita penuh dengan kesulitan, padahal itulah kasih karunia. Jika kita membaca Roma 5 dengan seksama, kita akan nampak bahwa kesulitan itu tidaklah setara dengan kasih karunia, ia di bawah kasih karunia. Keenam perkara ini: kasih, kasih karunia, damai sejahtera, pengharapan, hayat, dan kemuliaan serta ketiga persona ke-Allahan telah menggantikan kesulitan yang ada. Bagaimanapun, kesulitan merupakan isyarat kedatangan kasih karunia.
Kalau kita mengatakan bahwa kita menghargai kasih karunia dan tidak menghargai kesulitan, itu sama saja dengan mengatakan kita mengasihi Allah tetapi tidak menyukai Yesus. Namun, menolak Yesus berarti menolak Allah. Demikian juga, menolak kesulitan berarti menolak kasih karunia. Mengapa Allah berinkarnasi? Sebab Ia ingin datang kepada kita. Maka inkarnasi Allah berarti kunjungan Allah yang penuh kasih karunia. Sudah tentu kita semua menyukai kunjungan Allah yang demikian. Jika kita menyukai kunjungan-Nya, kita pun harus menyukai inkarnasi-Nya. Sama halnya dengan kasih karunia dan kesulitan. Kesulitan adalah inkarnasi kasih karunia yang mengunjungi kita. Kita boleh menyukai kasih karunia Allah, tetapi kita pun harus mencium kesulitan, sebab ia adalah inkarnasi kasih karunia, yaitu kunjungan kasih karunia yang manis.
Madame Guyon pernah mengatakan, ia selalu mencium semua salib yang diberikan kepadanya. Kebanyakan orang tidak menyukai salib, sebab salib adalah suatu penderitaan, satu kesengsaraan. Tetapi sebaliknya, Madame Guyon malah senang mencium setiap salib, dan ia menantikan datang-nya salib-salib lainnya, sebab ia menyadari bahwa salib mendatangkan Allah kepadanya. Madame Guyon berkata, “Allah memberikan salib kepadaku, dan salib mendatangkan Allah kepadaku.” Ia selalu menyambut kedatangan salib, karena bila ia memiliki salib, ia memiliki Allah. Keseng-saraan adalah satu salib, dan kasih karunia adalah Allah sebagai bagian kita untuk kenikmatan kita. Kasih karunia ini terutama mengunjungi kita dalam bentuk kesengsaraan.
Pengalaman atas kesengsaraan menghasilkan ketekunan (5:3). Ketekunan melebihi kesabaran; karena ini merupakan hasil dari kesabaran ditambah penderitaan. Tak seorang pun di antara kita yang memiliki ketekunan sejak lahirnya; hal itu merupakan hasil dari penderitaan atas kesengsaraan. Karena itu, Paulus mengatakan, kesengsaraan menimbulkan ketekunan. Kita bisa mengalami ketekunan ini dalam urusan-urusan kecil dalam hidup kita sehari-hari. Satu perkara yang tidak saya senangi, adalah mendengar “tanda sibuk” sewaktu saya menelepon. Mengapa saya tidak menyukainya? Karena saya kurang tekun. Perkara kecil lainnya yang saya benci ialah orang yang datang terlambat, tidak tepat waktu. Sekalipun keterlambatan itu bagi saya merupakan sesuatu yang menyengsarakan, namun itu membantu saya untuk memperoleh ketekunan.
Ketekunan menghasilkan tahan uji (5:4). Tahan uji adalah satu mutu teruji yang dihasilkan dari ketekunan atas kesengsaraan dan ujian. Jadi, tahan uji adalah satu mutu atau satu sifat yang bisa diperkenan. Adakalanya, saudara-saudara muda sulit diperkenan orang lain. Mereka memerlukan ketekunan yang bisa menghasilkan satu mutu yang mudah diperkenan oleh orang lain. Kesengsaraan menghasilkan ketekunan, dan ketekunan menghasilkan mutu yang bisa diperkenan. Beberapa versi menerjemahkan kata “tahan uji” ini dengan “pengalaman.” Ini benar, karena perkenanan meliputi pengalaman. Akan tetapi, ia bukan hanya pengalaman itu sendiri, melainkan sifat atau pekerti yang diperoleh dari pengalaman-pengalaman atas penderitaan. Semakin sering Anda menderita, semakin banyak Anda memiliki ketekunan, dan semakin banyak pekerti baik yang dapat diperkenan dihasilkan. Tahan uji bukanlah suatu sifat yang kita miliki sejak kita dilahirkan.
Perhatikanlah emas mentah sebagai contoh. Meskipun itu emas murni, namun masih mentah dan tidak menarik. Ia memerlukan api pemurni. Semakin banyak menerima pembakaran api pemurni, semakin baik pula mutu emas yang dihasilkan. Setelah mengalami pembakaran dan pengujian, emas itu memperoleh suatu mutu yang mudah sekali diperkenan setiap orang. Boleh jadi kebanyakan orang muda seperti emas mentah tadi. Mereka tidak perlu digosok atau dicat; mereka memerlukan pembakaran. Beberapa orang saleh yang mengasihi Tuhan memiliki sedikit hayat dan terang. Karena memiliki hal-hal ini, mereka mengira dirinya cocok bekerja bagi Tuhan. Akan tetapi, mereka kurang memiliki perkenanan ini. Di satu pihak, ke mana saja mereka pergi, mereka bisa menjadi orang-orang yang produktif; tetapi di pihak lainnya, mereka mentah dan kekurangan pekerti yang membuat orang senang, manis, dan merasa nyaman. Yang mereka miliki berlawanan dengan perkenanan itu, yang boleh kita sebut kecelaan atau tidak diperkenan. Mengapa situasi Anda yang demikian baik pada mulanya, berubah menjadi sangat buruk setelah sejangka waktu? Keindahan dan kebaikan pada mulanya disebabkan karena karunia dan terang yang Anda miliki. Namun keadaan yang baik itu tidak dapat berlangsung lama karena Anda masih demikian mentah, kekurangan mutu yang diperkenan. Jika kita memiliki pekerti yang bisa diperkenan, kita tak akan menjadi problema bagi orang lain. Karena itu, kita harus berdoa, “Ya Tuhan, karuniakanlah pekerti yang diperkenan itu kepadaku.”
Jika Anda berdoa demikian, Tuhan akan bertanya, “Apakah engkau dengan sungguh-sungguh mengatakan hal itu?” Jika jawaban Anda pasti, Tuhan akan mengatur keadaan sekitar yang bisa membantu Anda untuk menghasilkan mutu yang bisa diperkenan. Misalnya Ia akan memberi Anda seorang istri yang paling tepat, yang akan paling bermanfaat dalam hal menghasilkan mutu ini di dalam Anda. Kebanyakan istri adalah “pembantu Allah” yang paling baik, yang membantu para hamba-Nya menghasilkan mutu yang bisa diperkenan. Memang kebanyakan hamba-hamba Tuhan perlu istri yang demikian. Istri bukanlah membantu suami, melainkan membantu Allah. Tabiat seorang istri selalu membantu Allah untuk membina suaminya, agar suaminya menghasilkan mutu yang bisa diperkenan.
Allah itu berdaulat. Banyak di antara kita yang menyadari bahwa kita tidak saja telah dipanggil, tetapi juga telah ditangkap. Kita harus menjadi budak Kristus Yesus selain itu kita tidak mempunyai pilihan lain. Jika saya bisa memilih, saya tentu sudah melakukannya. Bagaimanapun, saya harus menjadi budak Tuhan. Namun, sekalipun kita adalah budak-budak Kristus, kita kurang memiliki perkenanan. Hal ini menyulitkan Allah dan merusak diri kita sendiri; juga bagi saudara-saudara sesama kaum saleh dan seisi keluarga Allah. Di satu pihak, kita membantu mereka, namun di pihak lain, juga melukai mereka. Dengan terang dan karunia, kita membantu mereka, namun dengan kurangnya perkenanan yang kita miliki, kita melukai mereka. Jadi, kita memerlukan perkenanan yang berasal dari ketekunan.
B. BERMEGAH DALAM PENGHARAPAN
KARENA BERBAGIAN DALAM ALLAH
Bersamaan dengan perkenanan ini, kita memiliki peng-harapan (5:4). Apakah pengharapan ini? Pengharapan ini ialah pada suatu hari kita semua akan dibawa ke dalam kemuliaan Allah (5:2). Walaupun kita telah berdiri di dalam kasih karunia dan berjalan dalam damai sejahtera, namun kita masih belum di dalam kemuliaan. Namun harinya akan datang, saat itu kita akan dibawa masuk ke dalam kemuliaan. Apakah kemuliaan itu? Seperti yang telah kita sebutkan beberapa waktu yang lalu, kemuliaan ialah ekspresi diri Allah sendiri. Setiap kali Allah mengekspresikan diri-Nya, itulah kemuliaan. Hal ini mirip sekali dengan ekspresi aliran listrik di dalam bola lampu. Ekspresi listrik adalah kemuliaan listrik. Kita tak nampak wujud listrik, akan tetapi sinar yang terpancar dari bola lampu itulah ekspresi dan kemuliaan listrik. Begitu pula halnya, kemuliaan Allah ialah ekspresi Allah sendiri.
Kemuliaan ini sudah hampir tiba dan tak ada sesuatu pun yang bisa menandinginya. Beberapa ayat Alkitab menunjukkan kepada kita bahwa Allah akan membawa masuk banyak putra ke dalam kemuliaan (Rm. 8:18; 2 Kor. 4:17; 1 Tes. 2:12; Ibr. 2:10; 1 Ptr. 5:10). Kita, di sini dan pada hari ini menikmati Allah dalam pengharapan akan kemuliaan mendatang. Sementara kita menikmati Dia, kita mengharapkan tibanya kemuliaan. Kita akan membahas hal ini lebih banyak lagi bila kita sampai pada Roma 8.
V. DISELAMATKAN DALAM HAYAT KRISTUS
Ketika kita demikian menikmati Allah, kita diselamat-kan oleh hayat-Nya. “Lebih-lebih kita . . . pasti akan diselamatkan dalam hayat-Nya” (5:10). Dari hari ke hari, kita perlu diselamatkan dari banyak perkara yang negatif. Kita perlu diselamatkan dari sifat kita dan diri kita. Sewaktu kita menikmati Allah di dalam penderitaan, kita perlu diselamatkan dalam hayat-Nya. Kita perlu diselamatkan dalam hayat-Nya, agar kita terlepas dari dosa-dosa yang membelenggu kita, yaitu terlepas dari hukum dosa dan hukum maut. Kita perlu diselamatkan dalam hayat-Nya, agar kita terlepas dari keduniaan, yaitu agar kita dikuduskan. Kita perlu diselamat-kan dalam hayat-Nya, agar kita terlepas dari sifat alamiah, yaitu mengalami suatu pengubahan. Kita perlu diselamatkan dalam hayat-Nya, agar tidak lagi serupa dengan diri kita, melainkan diserupakan dengan gambar Kristus, Putra sulung Allah. Bahkan kita perlu diselamatkan dalam hayat-Nya, agar meninggalkan keegoisan, agar bisa dibangun bersama orang lain menjadi satu Tubuh. Semua itu adalah aspek-aspek dari keselamatan dalam hayat Kristus. Pada pasal-pasal berikutnya akan kita bahas hal ini secara menyeluruh. Keselamatan dalam hayat ini adalah kenikmatan utama yang kita peroleh di dalam Allah.
Pembenaran telah membawa kita masuk ke dalam ruang lingkup kenikmatan. Dalam ruang lingkup ini kita berdiri dalam kasih karunia, berjalan dalam damai sejahtera, menderita dalam pengharapan, dan menikmati Allah dalam kesengsaraan. Sementara kita menderita dan menikmati, kita diselamatkan dalam hayat-Nya. Inilah hasil pembenaran.