KARUNIA DI DALAM KRISTUS JAUH MELAMPAUI APA YANG DITERIMA DI DALAM ADAM
Kalau kita membaca surat Roma dengan teliti, kita akan jelas bahwa bagian pembenaran berakhir pada Roma 5:11. Ini berarti bahwa dalam bagian pertama surat Roma terutama ada dua pokok, yaitu penghukuman dan pembenaran. Bagian penghukuman dimulai dari 1:18 dan berakhir pada 3:20. Bagian pembenaran dimulai dari 3:21 dan berakhir pada 5:11.
Dalam bagian pembenaran, Paulus memperhatikan kedudukan luaran kita di hadapan Allah. Tadinya, kita adalah penuh dengan dosa, perlu penebusan Kristus sebagai dasar agar Allah dapat membenarkan kita. Pembenaran Allah telah mengubah kedudukan kita. Dulu, kedudukan kita di bawah penghukuman Allah; sekarang kedudukan kita di bawah pembenaran Allah. Sebagai akibat pembenaran, kita memiliki kasih, kasih karunia, damai sejahtera, pengharapan, hayat, kemuliaan, Allah, Kristus dan Roh Kudus. Mes-kipun kita dapat menikmati enam butir yang sangat berarti dan tiga Pribadi yang ajaib, namun semua itu masih mengacu kepada yang luaran dan obyektif. Tetapi dalam bagian pembenaran ini Paulus memberi isyarat untuk menyatakan bahwa dia akan maju untuk menanggulangi sifat (watak) kita.
Isyarat pertama ditemukan dalam Roma 4:24-25, di mana Paulus menyinggung tentang Kristus yang bangkit. Kristus yang tersalib selamanya tidak mungkin masuk ke dalam diri kita, hanya Kristus yang bangkit yang dapat masuk ke dalam kita. Kristus kita bukan hanya Kristus yang disalibkan untuk menebus kita; Dia juga Kristus yang bangkit sehingga dapat memberikan hayat ke dalam kita. Jadi Roma 4:24-25 menyatakan bahwa Kristus akan masuk ke dalam orang-orang yang dibenarkan dan di dalam mereka akan memperhidupan suatu hayat yang dibenarkan.
Kita nampak isyarat lain dalam Roma 5:10, yang menyatakan kita akan diselamatkan oleh hayat-Nya. Kata “akan” menyatakan pengalaman yang akan datang. Sebelum Roma 5:10, kita telah diberitahu bahwa kita telah diselamatkan; karena kita telah ditebus, dibenarkan dan didamaikan. Mengapa ayat tersebut tiba-tiba mengatakan kita akan diselamatkan? Meskipun kita telah diselamatkan oleh kematian Kristus bagi penebusan, pembenaran, dan pendamaian, kita belum diselamatkan bagi pengudusan, pengubahan, dan penyerupaan. Penebusan, pembenaran dan pendamaian memerlukan kematian Kristus, dalam kematian ini, darah-Nya tercurah. Sedang pengudusan, pengubahan, dan penyerupaan memerlukan pekerjaan hayat-Nya yang batini. Kematian Kristus di atas salib menyelamatkan kita secara obyektif, sedang hayat-Nya akan menyelamatkan kita secara subyektif. Kristus yang tersalib menyelamatkan kita secara obyektif di atas salib; Kristus yang telah bangkit, di dalam kita menyelamatkan kita secara subyektif. Hayat-Nya harus masuk ke dalam kita. Akhirnya, dalam bagian kesimpulan di Roma 8 yang berhubungan dengan sifat kita, terlihat bahwa Kristus berada di dalam kita (8:10). Sebelum pasal 5, Kristus terpaku di atas salib, namun masih belum di dalam kita. Dalam pasal 8, Kristus tidak lagi di atas salib Dia di dalam kita. Kristus yang tinggal di dalam kita adalah hayat yang akan menyelamatkan kita secara subyektif setelah kita diselamatkan secara obyektif. Kita perlu diselamatkan terus-menerus. Kita telah diselamatkan dari neraka dan dari penghukuman Allah inilah penyelamatan atas kedudukan. Sekarang kita perlu diselamatkan dari sifat kita, misalnya, manusia lama, ego, hayat alamiah kita, dan lain-lain. Inilah penyelamatan sifat.
Setelah Roma 5:11, surat Roma beralih dari aspek kedudukan ke aspek sifat. Ini ditemukan atas munculnya kata-kata dosa dan dosa-dosa. Sebelum Roma 5:12, kata dosa selalu ditemukan dalam bentuk jamak. Namun dalam Roma 5:12 kata ini tiba-tiba muncul dalam bentuk tunggal. Meng-apa ada perubahan ini? Dosa-dosa adalah yang di luar, berhubungan dengan kedudukan kita; dosa adalah yang batini, berhubungan dengan sifat kita. Dari segi kedudukan, dosa-dosa kita yang di luar, yakni perbuatan-perbuatan dosa kita, telah dibereskan seluruhnya oleh kematian Kristus; tetapi dosa di dalam sifat kita, yakni sifat alamiah kita yang jatuh dan rusak, masih belum dibereskan. Mulai Roma 5:12, Paulus menaruh perhatiannya pada sifat dosa di dalam kita.
Lagi pula, dalam Roma 5:11, meskipun kita berada di dalam Allah dan Kristus, kita belum mempunyai banyak pengalaman terhadap Allah dan Kristus yang hidup di dalam kita. Meskipun kita berada di dalam Allah, bangga dan riang di dalam Allah, berdiri dalam wilayah kasih karunia, kita masih belum sepenuhnya mengalami Allah dan Kristus yang tinggal di dalam kita. Berada di dalam Kristus adalah perkara kedudukan; untuk memiliki Kristus di dalam diri kita, terutama hidup dan tinggal di dalam kita, adalah perkara sifat dan pengalaman. Kita harus berada di dalam Kristus, baru kemudian Kristus dapat berada di dalam kita dan hidup di dalam kita. Kita menemukan kedua aspek ini di dalam Yohanes 15:4 yang mengatakan, “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.” “Tinggallah di dalam Aku”, berarti berada di dalam Kristus; “Aku di dalam kamu” berarti Kristus hidup di dalam kita. Mula-mula, kita berada di dalam Kristus, kemudian Kristus hidup di dalam kita. Kristus hidup di dalam kita adalah aspek sifat yang tercakup dalam Roma 5:12—8:30, bagian pengudusan dan pemuliaan yang semuanya menanggulangi watak dan sifat alamiah kita, bukan menanggulangi perbuatan lahiriah kita. Pada bagian depan, Paulus menanggulangi perbuatan lahiriah kita. Dan pada Roma 5:12—8:30, ia memperhatikan sifat alamiah kita, ego kita. Bila kita tidak jelas perbedaan-perbedaan ini, kita tidak dapat mengerti Roma 5:12—8:30 dengan jelas dan limpah.
Ketika kita menelaah bagian pengudusan ini, kita harus menyadari bahwa karunia di dalam Kristus jauh melampaui apa yang diterima di dalam Adam. Karena kita semua di-lahirkan dari Adam dan di dalam Adam, kita telah mewarisi hakikinya dia dan apa yang ia miliki. Hal-hal apakah yang kita warisi dari Adam? Ada dua hal yang mengerikan dosa dan maut. Tidak peduli kita ini baik atau jahat, asal kita ini keturunan Adam, kita sudah menerima dosa dan maut sebagai warisan. Terpujilah Allah atas karunia di dalam Kristus! Karunia di dalam Kristus jauh melampaui apa yang diterima di dalam Adam. Sungguh tidak dapat dibandingkan.
I. DUA MANUSIA, DUA PERBUATAN, DUA AKIBAT
Dalam Roma 5:12-21 terdapat dua manusia, dua perbuatan, dan dua akibat. Bagian ini sukar diingat, karena segala sesuatu yang di dalamnya melampaui pengertian kita. Secara alamiah kita tidak mempunyai konsepsi seperti yang diwahyukan dalam bagian Alkitab ini. Kalau kita memilikinya, dengan mudah kita akan terkesan oleh pikiran Paulus tersebut. Pernahkah Anda berpikir bahwa dalam seluruh alam semesta hanya ada dua manusia? Dalam pandangan Allah hanya ada dua manusia Adam dan Kristus. Kita sendiri tidak masuk hitungan. Kita semua termasuk dalam manusia pertama atau kedua. Segalanya tergantung pada di mana Anda. Jika Anda di dalam Adam, Anda adalah bagian dari Adam. Jika Anda di dalam Kristus, Anda adalah bagian dari Kristus. Lima puluh tahun yang lalu saya di dalam Adam, tetapi hari ini dan sampai selamanya saya di dalam Kristus.
A. DUA ORANG
1. Adam
Adam adalah manusia pertama (1Kor. 15:47). Dia bukan saja manusia pertama, tetapi juga Adam pertama (1Kor. 15:45). Adam diciptakan oleh Allah (Kej. 1:27) namun sama sekali tidak mempunyai sifat Allah dan hayat Allah. Dia hanya ciptaan Allah, buah karya tangan-Nya saja.
2. KRISTUS
Kristus adalah manusia kedua (1Kor. 15:47) dan Adam yang akhir (1Kor. 15:45). Apa yang dimaksud dengan kata-kata Kristus adalah manusia kedua dan Adam yang akhir? Artinya, Kristus adalah manusia yang terakhir. Setelah Dia, tidak ada lagi manusia yang ketiga, karena manusia yang kedua adalah yang terakhir. Hal ini menyingkirkan kemungkinan adanya manusia yang ketiga. Jangan menganggap diri Anda sebagai yang ketiga. Kristus adalah manusia kedua juga Adam yang akhir. Setelah Dia, tidak ada Adam ketiga.
Manusia kedua ini bukan diciptakan oleh Allah. Dia adalah manusia berbaur dengan Allah. Dia adalah Allah yang berinkarnasi menjadi manusia (Yoh. 1:14). Manusia pertama sama sekali tidak mempunyai sifat Allah dan hayat Allah, karena dia hanya ciptaan Allah. Manusia kedua adalah perbauran antara Allah dan ciptaan-Nya, penuh dengan sifat Allah dan hayat Allah. Dia adalah manusia berbaur dengan Allah, yaitu manusia-Allah. Kepenuhan ke-Allahan terkandung di dalam-Nya (Kol. 2:9; Yoh. 1:16).
B. DUA PERBUATAN
1. Pelanggaran Adam di Taman Eden
Roma 5:14 menyebutkan pelanggaran Adam, ini ditujukan pada pelanggaran Adam memakan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Setelah Allah menciptakan Adam, Dia menempatkannya di depan pohon hayat; menghendaki agar Adam makan buah pohon tersebut. Hal ini akan memungkinkan dia menerima hayat Allah dan hidup bersama Allah. Namun Adam gagal. Dia meninggalkan pohon hayat yang melambangkan Allah sebagai hayat, malahan berpaling kepada pohon pengetahuan yang melambangkan Iblis sebagai sumber kematian. Jadi, pelanggaran Adam berupa ditinggalkannya pohon hayat dan diraihnya pohon pengetahuan (Kej. 2:8-9, 17; 3:1-7). Hasil pohon hayat adalah hayat, sedang hasil pohon pengetahuan adalah maut. Ini berarti Adam meninggalkan hayat dan memilih maut.
2. Ketaatan Kristus di atas Salib
Perbuatan yang kedua adalah ketaatan Kristus di atas salib (Flp. 2:8). Perbuatan taat ini, yaitu perbuatan benar yang dilakukan Kristus, telah mengakhiri manusia pengetahuan (6:6). Adam membawa manusia kepada pengetahuan, membuatnya menjadi manusia pengetahuan. Kristus, dengan ketaatan-Nya di atas salib, telah mengakhiri manusia pengetahuan dan membawa manusia kembali kepada hayat. 1Petrus 2:24 mengatakan, kematian Kristus mengembalikan manusia kepada hayat; dan Yohanes 3:14-15 mengatakan, Kristus ditinggikan di atas salib untuk membawa manusia kembali kepada hidup yang kekal. Jadi ketaatan Kristus di atas salib mengakhiri manusia pengetahuan yang jatuh, manusia kematian, dan memulihkan manusia kembali kepada hayat, menjadikannya manusia hayat.
C. DUA AKIBAT
Dua manusia tersebut mempunyai dua perbuatan, dan kedua perbuatan ini menghasilkan dua akibat.
1. Akibat Pelanggaran Adam
a. Dosa Telah Masuk
Dosa telah masuk oleh pelanggaran Adam (5:12). Dosa yang disebut dalam Roma 5 sampai Roma 8 terlihat berkepribadian. Dia seolah manusia yang dapat berkuasa (5:21), dia menguasai manusia (6:14), dapat menipu dan membunuh manusia (7:11), dapat tinggal di dalam manusia dan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan kehendak mereka (7:17, 20). Dosa itu hidup dan sangat aktif (7:9). Jadi, dosa ini tentu merupakan sifat jahat Iblis, si jahat itu, dan berdiam, beraksi, serta bekerja di dalam umat manusia yang telah jatuh. Dosa sungguh merupakan satu persona yang jahat. Oleh pelanggaran Adam, dosa telah masuk.
b. Semua Orang Telah Menjadi Orang Dosa
Sebagai akibat dari ketidaktaatan Adam, semua orang, termasuk kita, telah menjadi orang-orang dosa (5:19). Kita tidak saja menjadi orang dosa, bahkan telah terbentuk men-jadi orang dosa. Kita bukan diciptakan sebagai orang dosa, tetapi kita telah terbentuk menjadi orang dosa. Ada satu elemen yang tidak diciptakan Allah telah diinjeksikan ke dalam diri kita dan telah membentuk kita menjadi orang dosa. Kita menjadi dosa bukan secara kebetulan; kita menjadi orang dosa karena dibentuk. Dosa telah tergarap ke dalam kita dan telah terbentuk ke dalam kita. Jadi dosa bukan hanya suatu perbuatan lahiriah, tetapi batiniah, elemen subyektif di dalam susunan kita. Jadi kita adalah sekelompok orang dosa karena sifat hakiki kita.
c. Semua Orang Beroleh Hukuman dan Mati
Tambahan pula, semua orang telah beroleh hukuman dan mati (5:18). Semua orang dilahirkan dari Adam dan di dalam Adam. Jadi, ketika Adam dihukum oleh karena satu pelanggarannya, maka semua orang di dalam dia, juga telah beroleh hukuman dan mati.
d. Maut Telah Berkuasa atas Semua Orang
Demikianlah, “maut telah berkuasa atas semua orang” (5:14). Maut telah menjadi raja yang menguasai segalanya. “Sama seperti dosa berkuasa dalam alam maut” (5:21), jadi maut berkuasa melalui dosa.
e. Di dalam Adam Semuanya Mati
Hasil terakhir dari pelanggaran Adam ialah di dalam Adam semuanya mati (1 Kor. 15:22). Setiap orang telah mati di dalam Adam. Kadang-kadang kita berkata tentang seseorang, “Dia hampir mati.” Ketika pertama kali saya mendengar kata ini, saya segera berpikir, “Bukan hanya orang itu saja yang hampir mati setiap orang hampir mati.” Jangan berkata bahwa Anda hidup, karena Anda, seperti juga setiap orang lainnya adalah mati. Anda hidup untuk mati. Semakin Anda hidup, Anda semakin mati. Dalam segi tertentu, manusia tidaklah hidup, melainkan mati. Kita semua dilahirkan untuk mati; karena di atas diri kita ada seorang raja yang sangat berkuasa yang bernama kematian. Dia dilantik oleh dosa, yaitu pelopornya. Dosa membuat kematian berkuasa. Jadi semua orang berada di bawah kuasa maut (kematian). Persona yang mengerikan ini telah dilantik menjadi raja. Ketika kita dilahirkan di dalam Adam, kita mulai mati. Sebelum mati secara mutlak, manusia berbuat dosa, dan dosa mempercepat waktu kematian. Makin banyak Anda berdosa, makin cepatlah mati; makin sedikit Anda berdosa, makin lambat mati. Jika Anda tidak ingin cepat mati, janganlah berbuat dosa. Kita harus menjauhi dosa.
2. Akibat Ketaatan Kristus
Terpujilah Tuhan karena kita mempunyai manusia kedua, perbuatan kedua, dan akibat kedua! Apakah akibat ketaatan Kristus?
a. Kasih Karunia Datang
Kasih karunia datang (Yoh. 1:17) oleh ketaatan Kristus. “Anugerah Allah dan karunia-Nya dilimpahkan-Nya atas banyak orang” (5:15). Paulus tidak mengatakan bahwa hayat telah dilimpahkan. Hal ini sama seperti pelanggaran Adam, di mana dosa datang dahulu kemudian kematian mengikutinya. Begitu pula, oleh ketaatan Kristus kasih karunia datang dahulu lalu hayat mengikutinya. Kematian melawan hayat, dan kasih karunia melawan dosa. Dosa datang melalui pelanggaran Adam, tetapi kasih karunia datang oleh ketaatan Kristus. Dosa adalah jelmaan Iblis, datang untuk meracuni kita, merusak kita, dan membawa kematian ke dalam kita. Kasih karunia adalah jelmaan Allah, datang untuk memberikan hayat dan kenikmatan. Oleh pelanggaran Adam, dosa telah memasuki umat manusia sebagai racun yang membinasakan, tetapi oleh perbuatan ketaatan yang benar dari Kristus, Allah telah datang sebagai kasih karunia untuk kenikmatan kita.
b. Banyak Orang Tersusun Menjadi Orang Benar
Roma 5:19 mengatakan, “Melalui ketaatan satu orang, banyak orang tersusun menjadi orang benar” (Tl.). Kita bukan saja benar, kita tersusun menjadi benar. Jika Anda mengecat kulit saya dengan warna hijau, itu tidak akan mempengaruhi keadaan di dalam saya. Namun jika Anda menginjeksikan warna hijau ke dalam darah saya, kemungkinan seluruh diri saya akan tersusun dengan warna hijau. Hal ini bukan pengecatan di luar, tetapi penyusunan di dalam. Tatkala Allah yang hidup masuk ke dalam kita sebagai kasih karunia, kita tersusun menjadi benar.
c. Semua Orang Beroleh Pembenaran untuk Hayat
Akibat selanjutnya dari ketaatan Kristus ialah kita “beroleh pembenaran untuk hayat” (5:18). Karena kita telah dibenarkan, kita telah memenuhi standar kebenaran Allah dan sekarang telah sesuai dengan-Nya. Jadi dengan sendirinya kita telah beroleh pembenaran untuk hayat. Di dalam Adam, oleh satu pelanggarannya, kita beroleh hukuman mati; di dalam Kristus, oleh satu perbuatan kebenaran-Nya, kita beroleh pembenaran untuk hayat. Pembenaran adalah untuk hayat. Mula-mula kita mendapat pembenaran, kemudian kita mendapat hayat. Pembenaran mengubah kedudukan lahiriah kita, dan hayat mengubah sifat batiniah kita. Sekarang kita memiliki baik pembenaran secara lahiriah untuk kedudukan kita maupun hayat secara batiniah untuk sifat kita.
d. Kasih Karunia Berkuasa oleh Kebenaran untuk Hidup yang Kekal
Roma 5:21 mengatakan, “Anugerah (kasih karunia) akan berkuasa oleh kebenaran untuk hidup yang kekal, melalui Yesus Kristus, Tuhan kita.” Kasih karunia berkuasa. Kita mempunyai raja yang lain karena kita sekarang berada dalam kerajaan yang lain. Dahulu kita di dalam kerajaan maut, dan dosa menjadi raja kita melalui kematian. Sekarang kita di dalam kerajaan hayat, dan kasih karunia adalah raja kita. “Kasih karunia berkuasa oleh kebenaran untuk hayat yang kekal.” Pikiran ini sangatlah dalam. Mengapa kasih karunia harus berkuasa oleh kebenaran? Karena dahulu kita adalah orang-orang dosa. Kalau saja kita belum dibentuk menjadi orang-orang dosa, kita tentunya bersih dan benar, tanpa suatu apa pun di dalam kita yang bertentangan dengan sifat Allah. Jika demikian keadaannya, tentulah kita tidak memerlukan kebenaran. Akan tetapi, kita telah dibentuk menjadi orang dosa. Bagaimana mungkin kasih karunia yang merupakan Allah sendiri bisa berkuasa atas orang-orang yang tidak benar ini?
Kasih karunia memerlukan satu alat, satu sarana untuk berkuasa. Alat ini, sarana ini, adalah kebenaran Allah. Jadi, kasih karunia berkuasa melalui kebenaran Allah untuk hidup yang kekal. Karena Kristus telah mati di atas salib untuk perampungan penebusan bagi kita, dan karena kebenaran telah dinyatakan kepada kita, maka kita mendapatkan kedudukan untuk menikmati Allah sebagai kasih karunia. Bahkan kita mempunyai kedudukan untuk menuntut Allah menjadi kasih karunia kita. Demikianlah kasih karunia dapat berkuasa oleh kebenaran untuk hayat yang kekal.
Mari kita terapkan ini ke dalam pengalaman kita. Andaikata saya adalah seorang penuh dosa yang hampir mati. Saya beroleh hukuman mati, dan maut berkuasa atas saya. Suatu hari saya sadar bahwa Kristus telah mati bagi saya untuk menggenapi penebusan Allah, dan kebenaran Allah dinyatakan kepada saya. Lalu sebagai orang dosa, saya datang kepada Allah di bawah darah penebusan Kristus. Segera, kebenaran Allah mengikat diri-Nya untuk membenarkan saya, dan Dia menjadi bagian saya. Saya boleh menuntut Dia menjadi bagian saya, karena penebusan Kristus telah memenuhi semua tuntutan kebenaran-Nya. Sekarang saya telah mendapatkan kedudukan untuk menuntut Dia menjadi bagian saya, tiada pilihan lain bagi-Nya. Karena kebenaran-Nya, Dia harus datang kepada saya sebagai kasih karunia untuk kenikmatan saya. Kasih karunia berarti aku menerima suatu pemberian yang tidak sepatutnya saya terima. Bila saya bekerja untuk Anda, Anda harus membayar upah saya sebagai kewajiban; itu bukan kasih karunia. Namun, jika Anda memberi hadiah kepada saya lima ratus dolar, itu adalah kasih karunia, karena saya tidak patut menerimanya. Oleh kebenaran Allah saya menerima kasih karunia yang sebenarnya tak patut saya terima.
Allah telah memberikan diri-Nya sendiri kepada kita sebagai kasih karunia yang sebenarnya kita tidak patut menerimanya. Kita tak pernah bekerja untuk-Nya, kita juga tak mampu mengeluarkan apa-apa. Harganya terlampau tinggi. Dengan begitu saja Allah memberikan diri-Nya kepada kita sebagai kasih karunia melalui kebenaran-Nya. Kasih karunia ini menjadi bagian kita untuk kenikmatan kita dan berkuasa melalui kebenaran, menghasilkan hayat yang kekal. Hal ini bukan ditujukan kepada berkat yang kekal, melainkan hayat yang kekal, yang boleh kita nikmati hari ini. Hayat ini bukan hayat manusia atau hayat yang diciptakan, melainkan hayat ilahi, hayat kekal yang bukan diciptakan.
Di bawah darah Kristus, kita menuntut Allah menjadi bagian kita. Dan, dari Allah kita menerima suatu bagian yang sebenarnya tak pantas kita terima. Bagian ini adalah kasih karunia menjadi kenikmatan kita. Hasil dari kenikmatan ini adalah hayat yang kekal, satu hayat yang akan mengubah seluruh manusia kita. Hayat ini akan menguduskan kita sepenuhnya dan membereskan keseluruhan sifat kita. Jadi, kita akan menjadi orang-orang yang dikuduskan, diubah, diserupakan dengan-Nya, dan dimuliakan.
e. Di dalam Kristus Semua Orang akan Dihidupkan Kembali
Di dalam Adam semua orang telah mati, tetapi di dalam Kristus semua orang akan dihidupkan kembali (1Kor. 15:22). Pelanggaran Adam mengakibatkan dan tetap akan mengakibatkan semua keturunannya mati; tetapi ketaatan Kristus mengakibatkan semua orang hidup. Dalam Adam semua orang mati; dalam Kristus semua orang hidup. Akibat pelanggaran Adam adalah kematian bagi semua orang. Akibat ketaatan Kristus adalah hayat bagi semua orang.
II. EMPAT PERKARA YANG BERKUASA
Kita telah nampak dua manusia, dua perbuatan, dan dua akibat. Dua manusia, dua perbuatan, dan dua akibat ini telah membawa masuk empat perkara yang berkuasa. Kita harus mengetahui manusia-manusia, perbuatan-perbuatan, dan akibat-akibat itu, dan kita pun harus mengenal keempat perkara yang berkuasa tersebut agar kita bisa memahami dengan jelas Roma 5:12-21.
A. DOSA
1. Telah Masuk melalui Manusia Pertama
Seperti telah kita lihat, dosa masuk melalui manusia pertama (5:12). Melalui ketidaktaatan Adam, si jahat, sebagai dosa, telah masuk ke dalam dunia. Dunia di sini ditujukan kepada umat manusia pada umumnya, karena dalam satu aspek, kata dunia dalam Perjanjian Baru berarti umat manusia. Sebagai contoh, Yohanes 3:16 mengatakan bahwa Allah mengasihi dunia, berarti Allah mengasihi umat manusia. Jadi, dosa telah masuk ke dalam umat manusia, ke dalam sifat manusia, melalui manusia pertama Adam.
2. Berhuni dalam Tubuh Manusia yang Telah Jatuh
Setelah memasuki umat manusia, dosa berhuni dalam tubuh manusia yang telah jatuh (7:17, 18, 21, 23). Dosa bukan berhuni dalam pikiran, jiwa atau roh kita. Tempat tinggal dosa ialah tubuh kita. Paulus berkata bahwa dosa tinggal di dalamnya, hukum dosa berada di dalam anggota-anggota tubuhnya, dan di dalam dagingnya tidak ada sesuatu pun yang baik, hanya dosa melulu (7:17-18, 23). Dosa berhuni di dalam tubuh kita. Meskipun tubuh kita sewaktu diciptakan oleh Allah adalah baik, namun telah menjadi “daging” ketika dosa diinjeksikan ke dalamnya dan menjadi tempat kediamannya. Memang Allah yang menciptakan tu-buh kita, namun Ia tidak menciptakan daging. Daging adalah campuran ciptaan Allah dengan dosa, si jahat itu. Jadi, tubuh telah menjadi daging, dan dosa berhuni di dalam daging ini. Segala macam hawa nafsu sumbernya adalah di dalam daging.
3. Dengan Hukum Taurat Sebagai Kuasanya
Kuasa dosa adalah hukum Taurat (1Kor. 15:56; Rm. 7:11). Tanpa hukum Taurat, dosa tak berdaya. Menurut Roma 7:11, dosa membunuh kita melalui hukum Taurat, karena hukum Taurat memberikan kuasanya kepada dosa. Dosa mempergunakan hukum Taurat sebagai pisau untuk membunuh kita. 1Korintus 15:56 berbunyi, “kuasa dosa itulah hukum Taurat.” Janganlah menjamah hukum Taurat, karena dengan menjamahnya, berarti Anda menjamah pisau pembunuh dari dosa itu. Kita secara mutlak tidak mampu melakukan Hukum Taurat, bahkan merupakan suatu ketololan apabila kita mencobanya. Kalau kita berusaha melakukan hukum Taurat, dosa akan mempergunakan Hukum Taurat itu untuk membunuh kita.
4. Berkuasa dalam Maut
Dosa berkuasa dalam maut (5:21; 6:12). Dosa, seperti setiap raja lainnya, memerlukan satu kekuasaan untuk berkuasa. Kekuasaan dosa adalah dalam maut. Dosa mempu-nyai kekuasaan untuk memerintah sebagai raja di dalam alam maut. Roma 5:21 dan 6:12 memperlihatkan dosa ber-kuasa seperti seorang raja.
Dosa berada dalam daging kita, yaitu tubuh kita yang telah jatuh. Dosa ini bukan suatu tindakan seperti melakukan kesalahan; melainkan merupakan jelmaan si jahat. Dalam Roma 7:21 Paulus berkata bahwa yang jahat itu ada padanya. Kata “si jahat” dalam ayat ini dalam bahasa Yunaninya berarti “yang jahat karakternya”. Ini pasti adalah hayat, sifat, dan karakter jahat dari Iblis. Saya tidak meragukan bahwa dosa yang masuk ke dalam tubuh kita adalah jelmaan Iblis. Ketika manusia makan buah pohon pengetahuan, buah itu masuk ke dalam manusia. Menurut fakta, segala yang kita makan masuk ke dalam tubuh kita. Seperti yang kita lihat, pohon hayat dalam taman menyatakan Allah, sedang pohon pengetahuan menyatakan Iblis. Jadi ketika manusia makan buah pohon pengetahuan, manusia menerima Iblis, si jahat itu masuk ke dalamnya. Tubuh yang diciptakan Allah pada mulanya tanpa kejahatan di dalamnya. Alkitab berkata bahwa manusia yang diciptakan Allah sangat baik dan jujur (Kej. 1:31; Pkh. 7:29). Akan tetapi, setelah kejatuhan, elemen lain telah disuntikkan ke dalam tubuh manusia. Elemen itu adalah dosa, yakni sifat si jahat. Dosa ini berkuasa di dalam manusia. Kuasanya adalah hukum Taurat dan ia berkuasa dalam maut.
B. MAUT
1. Datang melalui Dosa
Hal kedua yang berkuasa adalah maut. Maut masuk melalui dosa (5:12), karena dosa telah membuka jalan bagi maut untuk memasuki umat manusia. Sengat maut adalah dosa (1 Kor. 15:56). Sengat, seperti sengat kalajengking, mengandung racun. Demikian juga dosa mengandung racun. Begitu dosa meracuni kita, kita mengalami maut.
2. Oleh Satu Orang Menguasai Semua Orang
Oleh pelanggaran Adam maut berkuasa atas seluruh umat manusia (5:7, 14). Menurut Ibrani 2:14, Iblis berkuasa atas maut. Jadi, Iblis mempunyai hubungan erat dengan maut. Dosa mendatangkan maut, dan maut memerintah dengan kuasa dalam tangan Iblis. Jadi, Iblis bertalian dengan maut, maut bertalian dengan dosa, dan kuasa dosa adalah hukum Taurat. Kita semua harus menjauhi hukum Taurat, dosa, maut dan Iblis.
C. KASIH KARUNIA
1. Datang melalui Manusia Kedua
Yohanes 1:14 memberitahu kita bahwa ketika Kristus berinkarnasi menjadi manusia, “Ia penuh dengan kasih karunia”. Yohanes 1:17 mengatakan bahwa hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia datang oleh Yesus Kristus. Kasih karunia datang bersama Kristus. Ini berarti ketika Kristus hadir, kasih karunia pun hadir. Seperti halnya dosa adalah jelmaan Iblis, maka kasih karunia adalah jelmaan Allah. Karena itu, kasih karunia adalah Kristus, pewujudan Allah.
Apakah kasih karunia itu? Kasih karunia adalah Allah berinkarnasi untuk menjadi kenikmatan kita. Allah telah mengaruniakan diri-Nya sendiri kepada kita untuk menjadi kenikmatan kita. Kalau kita membandingkan 1Korintus 15:10 dengan Galatia 2:20, kita nampak bahwa kasih karunia Allah adalah Kristus. Dalam 1Korintus 15:10 Paulus berkata, “Aku telah bekerja lebih keras daripada mereka (para rasul) semua; tetapi bukannya aku, melainkan anugerah (kasih karunia) Allah yang menyertai aku”. Dalam Galatia 2:20 Paulus berkata pula, “bukan lagi aku yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku”. Jadi, kasih karunia adalah Persona Kristus yang hidup. 2Korintus 13:14 juga menyebutkan kasih karunia Kristus. Karena itu, Kristus adalah kasih karunia Allah. Kapan Kristus datang kepada kita sebagai Allah yang berwujud bagi kenikmatan kita, itulah kasih karunia. Kasih karunia ini datang melalui manusia kedua.
2. Berkuasa dengan Berkelimpahan melalui Kebenaran untuk Hidup yang Kekal
Kasih karunia ini berlimpah, bertambah-tambah, dan berkuasa oleh kebenaran untuk hidup yang kekal (5:15, 20, 21). Telah kita lihat bahwa oleh penebusan Kristus kita memiliki kebenaran Allah dan kebenaran ini memberi kita dasar untuk menuntut Kristus sebagai kasih karunia kita. Kasih karunia ini berlimpah dan bertambah-tambah terus-menerus. Berlimpahnya kasih karunia menghasilkan kuasa untuk hidup yang kekal. Hasilnya bukan sesuatu yang bersifat materiil dan sementara, melainkan sesuatu dalam kuasa kasih karunia, yakni yang kekal dan ilahi hayat kekal Allah. Semakin banyak kasih karunia yang kita nikmati, semakin banyak pula hayat yang kita miliki. Hayat ini adalah hayat pengudusan, hayat pengubahan, hayat penyerupaan, dan hayat pemuliaan. Hayat ini berasal dari kasih karunia.
D. KAUM BERIMAN
Kaum beriman juga berkuasa, karena kaum beriman adalah raja-raja.
1. Telah Menerima Kelimpahan Kasih Karunia dan Karunia Kebenaran
Roma 5:17 berkata, “Yang telah menerima kelimpahan anugerah dan karunia kebenaran, akan berkuasa dalam hayat oleh karena satu Orang itu, yaitu Yesus Kristus”(Tl.). Bagaimanakah kita bisa berkuasa dalam hayat? Kita berkuasa dalam hayat melalui menerima kelimpahan kasih karunia. Kita perlu memperhatikan makna riil dari kelimpahan kasih karunia ini. Misalkan Anda menghadapi suatu problema tertentu. Jika Anda merasa mudah mengatasinya, itu berarti Anda memiliki suplai kasih karunia yang cukup. Jika Anda merasa keadaan Anda sangat sulit, itu membuktikan Anda kurang memiliki kelimpahan kasih karunia. Meskipun Anda memiliki kasih karunia, tetapi Anda memilikinya hanya sedikit saja. Anda tak mempunyainya secara berkelimpahan.
Seringkali seorang saudara merasa tersinggung ketika kita berbicara terus terang kepadanya. Mengapa dia tersinggung? Karena dia kurang memiliki kasih karunia. Jika dia memilikinya secara berkelimpahan, kasih karunia itu akan menunjangnya dan membuatnya tahan terhadap kata-kata yang keras. Hal yang paling sukar kita tahan adalah kata-kata yang keras. Kita semua suka mendengar kata-kata yang lunak, manis, yang dilapisi gula. Namun, jika Anda menyukai kata-kata yang berlapis gula, Anda akan tertipu. Jauh lebih baik mengatakan kata-kata yang asin. Dalam Kolose 4:6 Paulus memberitahu kita, hendaklah kata-kata kita senantiasa bergaram. Ini berarti kata-kata kita harus terkendali. Kata-kata yang bermanfaat adalah kata-kata yang bergaram, bukan kata-kata yang berlapiskan gula. Belajarlah menerima kata-kata yang bergaram. Jika Anda dipenuhi dengan kasih karunia dan mempunyainya dengan berkelimpahan, Anda akan bersukacita dengan kata-kata yang mana pun.
Paulus menghadapi satu kesulitan, yaitu duri yang ada dalam dagingnya, dan ia telah tiga kali memohon kepada Tuhan untuk menyingkirkannya (2 Kor. 12:7-9). Tuhan seolah-olah menjawabnya, “Aku tidak akan menyingkirkan duri itu. Engkau harus menahannya bersandar kasih karunia-Ku. Kasih karunia-Ku cukup kamu pakai.” Apakah kasih karunia ini? Yaitu jelmaan Kristus, dan tak lain adalah diri Kristus sendiri sebagai kenikmatan kita. Kapan Anda menikmati kasih karunia ini, hasilnya akan menjadi hayat. Anda akan menjadi kaya dalam hayat. Semakin banyak Anda menanggung berbagai kesulitan dengan kasih karunia ini, Anda akan semakin dipenuhi dengan hayat.
Jadi, Paulus berkata bahwa kasih karunia tidak saja “dilimpahkan atas banyak orang”, tetapi juga “kasih karunia berkuasa oleh kebenaran untuk hidup yang kekal.” Hayat terus-menerus mengalir keluar melalui bertambahnya kasih karunia. Kasih karunia haruslah berlimpah. Roma 5:20 mengatakan, “di mana dosa bertambah banyak, di sana ka-sih karunia menjadi berlimpah-limpah.” Kasih karunia selalu melebihi dosa. Meskipun dosa sangat berkuasa, namun kasih karunia lebih berkuasa lagi. Kasih karunia lebih kuat daripada dosa. Kita perlu membuka diri kita terhadap kasih karunia dan memperbesar kapasitas kita untuk menerima kasih karunia demi kasih karunia. Yohanes 1:16 mengatakan, “karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia.” Kristus adalah sumber kasih karunia dan Kristus adalah kasih karunia itu sendiri. Jika kita membuka diri kita kepada Kristus dan menerima “kelimpahan kasih karunia”, kita akan dipenuhi dengan hayat.
Hayat ini akan menjadi hayat yang bertumbuh yang ditemukan dalam Roma 6. Hayat ini juga adalah hayat yang menguduskan, hayat yang memerdekakan, hayat pengubahan, dan hayat penyerupaan. Akhirnya, hayat ini akan menjadi hayat pemuliaan. Inilah hasil dari menikmati Kristus sebagai kasih karunia.
2. Berkuasa dalam Hayat melalui Manusia Kristus
Karena kasih karunia berkuasa bagi hayat, maka kita yang “telah menerima kelimpahan kasih karunia akan berkuasa dalam hayat oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus” (5:17 Tl.). Dari awal surat Roma hingga 5:11, sedikit sekali menyinggung hayat. Roma 5:10 mengatakan bahwa kita akan diselamatkan dalam hayat-Nya dan Roma 1:17 mengatakan, “orang benar akan memiliki hayat dan hidup oleh iman”(Tl.). namun ketika kita memasuki bagian pengudusan, kita menemukan suatu kalimat yang tegas sekali dalam Roma 5:17, yang mengatakan, kita “akan berkuasa di dalam hayat.” Jadi kita dapat “hidup dan bertindak dalam kebaruan hayat (6:4 Tl.). Kita berkuasa dalam hayat dan hidup di dalam kebaruan hayat, karena kita telah me-nerima kelimpahan kasih karunia di dalam Kristus. Hari ini, melalui manusia Yesus Kristus, oleh kelimpahan kasih karunia-Nya, kita tidak saja mempunyai hidup yang kekal, kita pun dapat dalam hayat ini berkuasa atas segala hal, atas segala situasi, dan hidup dalam kebaruannya.