BERSATU DENGAN KRISTUS
Ketika Paulus menulis surat Roma, ia telah menunjukkan suatu titik peralihan yang penting pada pasal 5:12. Seperti yang pernah kita katakan, peralihan dari “dosa-dosa” kepada “dosa”, dari kedudukan kepada watak (sifat), dan dari pembenaran kepada pengudusan, atau boleh juga kita sebut dari keselamatan kepada hayat. Setelah ada peralihan itu, Paulus mulai menanggulangi manusia kita, dan tidak lagi menanggulangi perbuatan kita. Pada empat setengah pasal di depan, Paulus menitikberatkan masalah perbuatan manusia. Di situ diperbincangkan secara luas tentang perbuatan manusia yang bejat akibat kejatuhan, tetapi diri manusia itu sendiri tidak dipersoalkan. Kita sudah dikeluarkan dari alam kejatuhan yang demikian, dan sudah memasuki alam kasih karunia yang di dalamnya kita dapat menikmati Allah. Akan tetapi itu hanya merupakan suatu perubahan keadaan, kedudukan, dan alam lingkungan, bukan perubahan pribadi, sifat atau watak insani kita. Jadi, walaupun perbuatan manusia telah dibereskan dan keadaannya juga sudah berubah, namun manusianya itu sendiri masih belum terjamah.
Mulai dari Roma 5:12, Paulus beralih pada penanggulangan manusianya. Kini kita harus melampaui situasi kondisi, alam lingkungan, dan kedudukan manusia, sebab semua itu sudah dibereskan pada pasal-pasal terdahulu. Manusia telah dibasuh, diampuni, dibenarkan, dan diperda-maikan dengan Allah. Kini masalah yang ada didepan mata ialah diri manusianya. Dalam firman Allah yang kudus tidak ada ayat-ayat lain yang menyingkapkan keadaan manusia sejelas Roma 5 hingga 8. Dalam keempat pasal ini, Paulus membuat diagnosis yang tajam atas diri manusia, dan seolah-olah telah mempergunakan setiap alat rohani untuk membuat diagnosis atas penyakit manusia.
Manusia yang bagaimanakah yang disingkapkan Paulus dalam bagian surat Roma ini? Manusia yang di dalamnya terdapat dosa, manusia yang berada di bawah kuasa maut; jadi manusia ini adalah karenanya manusia yang berada di bawah penghakiman dan penghukuman keadilan Allah. Manusia telah diracuni oleh sifat Iblis yang jahat, dan telah terkena sengat dosa yang berbisa. Manusia mutlak sudah berdosa. Tidak saja dalam perbuatannya yang menakutkan, juga dalam watak, dan sifatnya. Ditinjau dari hakiki manusia itu sendiri, manusia sudah bejat secara total. Dosa berada dalam tubuh manusia yang telah jatuh, sedang ma-nusia berada di bawah kekangan maut serta penghakiman dan hukuman Allah. Inilah keterangan diagnosis yang tercatat dalam Roma 5 sampai 8 tersebut.
Sebelum kita melanjutkan peninjauan kita pada Roma 6, kita perlu mengulangi pelajaran bagian akhir pasal 5 yang pernah kita bahas dua manusia, dua perbuatan, dan dua akibat yang mendatangkan empat perkara yang meraja. Meskipun perkara-perkara itu telah kita uraikan secara ringkas dalam berita kesepuluh, tetapi bila kita meninjaunya lagi dari sudut lain, mungkin akan berfaedah bagi kita.
Kini saya akan membuat satu perbandingan yang tegas dan kontras antara segala milik Adam dan milik Kristus. Untuk itu kita dapat memakai istilah pembukuan, yaitu debet dan kredit. Dalam catatan pembukuan terdapat dua kolom, kolom debet dan kolom kredit. Perhitungan ialah berdasarkan kedua kolom tersebut. Saya bukan orang pertama yang memakai istilah pembukuan dalam perkara rohani, sebab Paulus adalah seorang akuntan surgawi yang baik, ia sendiri yang memakai istilah “diperhitungkan”. Dalam surat Roma istilah ini berulangkali dipakainya. Pertama, Allah memperhitungkan iman Abraham sebagai kebenaran (4:3, 9, 22). Tatkala Abraham menyatakan reaksi terhadap Allah demi iman, maka Allah, Kepala akuntan surgawi, nampak angka (nilai) itu dan Ia seolah-olah berkata, “Iman Abraham ini selayaknya diperhitungkan sebagai kebenaran.” Maka Allah mencantumkan kebenaran dalam kolom kredit pembukuan Abraham. Paulus juga berkata, “Tetapi dosa itu tidak diperhitungkan kalau tidak ada hukum Taurat” (Rm. 5:13). Kalimat ini lebih baik diterjemahkan demikian, “Tetapi dosa itu tidak dicatat dalam pembukuan kalau tidak ada hukum Taurat.” Memang sebenarnya berarti demikian. Sebelum ada hukum Taurat, dosa sudah ada, namun masih belum dimasukkan dalam pembukuan Allah. Ketika kita tiba di Roma 6, kita harus menggunakan matematika rohani untuk mengerjakan perhitungan kita (ayat 11). Kalau kita telah tersalib bersama Kristus, dan bangkit bersama-Nya, maka kita harus mencantumkan fakta itu ke dalam pembukuan kita. Itu berarti kita harus menghitung diri kita mati kepada dosa, dan hidup kepada Allah.
Kini mari kita membuat dua kolom, kolom debet dan kolom kredit, masing-masing untuk Adam dan Kristus. Bagian pertama yang tercatat dalam kolom debet buku besar ini adalah Adam sendiri. Adam telah membuat debet besar bagi kita sekalian. Di bawah Adam ialah bagian kedua yakni pelanggaran, atau dengan istilah yang searti, yaitu dosa atau durhaka. Dalam Roma 5, istilah pelanggaran, dosa dan durhaka ditujukan kepada perkara yang sama, dan istilah-istilah ini silih berganti dipakai untuk menerangkan kejatuhan Adam. Kejatuhan itu telah menimbulkan suatu debet yang sangat besar sekali. Kalau disebut dengan istilah keuangan, boleh jadi hutang itu jauh di atas triliunan. Bagian ketiga dari kolom debet ialah dosa, sebagai akibat dari pelanggaran Adam. Menurut Roma 5, bagian keempatnya ialah penghakiman; ia masuk mengikuti dosa. Allah adalah Allah yang senantiasa berjaga dan tenang. Ia tidak saja benar, Ia pun berjaga dan tenang; Ia selalu waspada. Allah tidak pernah tertidur. Begitu Adam berdosa, Allah segera datang menjalankan penghakiman. Maka penghakiman selalu membuntuti dosa. Jangan sekali-kali Anda mengira harus mati dulu baru dihakimi, sebab enam ribu tahun yang lalu, kita semua telah dihakimi Allah di dalam Adam. Sebelum kita dilahirkan, kita sudah menerima penghakiman. Maka penghakiman boleh dicantumkan dalam bagian keempat pada kolom debet. Bagian kelima ialah penghukuman. Penghukuman Allah selalu berada di belakang penghakiman-Nya. Sebab itu, Adam beserta semua orang yang tercakup di dalamnya sudah berada di bawah penghukuman-Nya. Karena kita berasal dari Adam, maka pada saat Adam dihukum, kita pun dihukum di dalamnya.
Apakah total dari kolom debet itu? Totalnya ialah maut (mati). Kita dapat menempatkan maut di dalam bagian keenam, walau sebenarnya maut ialah total dari bagian-bagian yang terdahulu. Jadi total dari Adam, pelanggaran, dosa, penghakiman, dan penghukuman ialah maut. Itulah total dari debet yang tercatat dalam pembukuan umat manusia.
Namun kita harus berkata, “Haleluya,” bagi kolom kredit! Dalam buku universal juga ada kolom kredit. Pada bagian pertama dari kolom ini ialah Kristus, yang berlawanan dengan Adam. Sungguh pun Kristus berlawanan dengan Adam, tetapi di antara keduanya tidak ada perbandingannya. Paulus mengatakan dalam Roma 5:15, “Karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran”. Adam memang tidak sama dengan Kristus, sebab Adam tak dapat diban-dingkan dengan Kristus. Kristus jauh melampaui Adam. Ketika catatan Kristus dibubuhkan di dalam kolom kredit, di belakangnya diikuti dengan angka nol yang tidak terhitung. Saya sungguh bersukacita, karena kini semuanya itu telah tercantum dalam pembukuan kita. Saya tak peduli debet Adam itu. Saya mempunyai Kristus.
Pada kolom kredit, di bawah Kristus ialah bagian kedua, yaitu taat. Kristus taat hingga mati di salib, dan itulah disebut sebagai perbuatan-Nya yang benar. Ketaatan dan perbuatan benar adalah dua istilah yang searti. Perbuatan Adam disebut pelanggaran, dosa, durhaka, sedang perbuatan Kristus disebut taat atau perbuatan benar. Berapakah sebenarnya nilai dari ketaatan Kristus? Tidak ada komputer yang mampu menghitungnya.
Kalau ketaatan Kristus dan kebenaran-Nya berlawanan dengan pelanggaran dan pendurhakaan Adam, maka demikian pula kasih karunia dengan dosa. Karena itu kasih karunia adalah bagian ketiga dalam kolom kredit. Manakah yang lebih unggul, dosa atau kasih karunia? Dengan tegas Paulus memberi tahu pada kita bahwa yang satu tak dapat menandingi yang lainnya. Sebab “di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia (anugerah) menjadi berlimpah-limpah” (5:20). Sampai tingkat manakah kasih karunia itu melampaui dosa? Saya tidak tahu, bahkan Paulus sendiri hanya bisa mengatakannya “berlimpah-limpah”. Maka janganlah kuatir akan debet dosa, sebab kredit kasih karunia berlimpah-limpah (5:17).
Kita telah nampak bahwa penghakiman ialah bagian keempat dalam kolom debet. Nah, apakah yang menjadi lawannya dalam kolom kredit? Itulah karunia kebenaran (5:17). Boleh jadi sejak dulu Anda tidak memahami hal itu. Apakah arti karunia atau pemberian dalam Roma 5? Ada orang mengatakannya sebagai bahasa lidah atau pemberian talenta mujizat lainnya. Tetapi bila kita membaca Roma 5, kita akan tahu bahwa karunia yang disebut di sini ialah kebenaran Allah. Roma 5:17 mengatakan tentang kelimpahan kasih karunia dan karunia kebenaran. Kasih karunia Allah telah diwahyukan dan telah dilimpahkan kepada kita, bahkan mencapai kita sebagai karunia cuma-cuma kebenaran Allah. Kalau Anda mengulang-ulang membaca Roma 5, Anda akan menemukan pengertian yang sedemikian, yakni karunia dalam pasal ini adalah kebenaran Allah yang diberikan kepada kita dengan cuma-cuma demi kasih karunia-Nya. Seperti telah kita nampak di depan, kasih karunia ialah Allah sendiri yang telah menjadi kenikmatan kita. Dari kenikmatan ini, yakni kasih karunia (anugerah), kebenaran Allah diberikan kepada kita sebagai karunia. Dari dosa timbul penghakiman, sedang dari kasih karunia timbul kebenaran. Maka kebenaran berlawanan dengan penghakiman. Selama Anda memiliki kebenaran Allah, Anda tidak akan berada di bawah penghakiman-Nya. Kebenaran telah menghapuskan penghakiman. Kalau saya memiliki kebenaran Allah, mana mungkin Anda dapat menghakimi saya? Saya telah benar sama seperti Allah. Selama kita memiliki karunia kebenaran itu, penghakiman mustahil menggugat kita.
Menyusul karunia kebenaran ialah pembenaran, yakni yang berlawanan dengan penghukuman. Maka dalam kolom kredit kita memiliki bagian kelima. Dan total dari semua bagian itu ialah hayat, hayat dapat kita hitung sebagai bagian keenam.
Sekarang mari kita membuat neraca atas perhitungan kita. Total dari kolom debet ialah maut, sedang total dari kolom kredit ialah hayat. Yang manakah lebih besar? Sudah tentu hayat. Hayat ini bukan hayat jasmani kita (bios Luk. 8:14), atau hayat jiwa kita (psuche — Mat.16:25, 26; Yoh. 12:25), melainkan ditujukan pada hayat ilahi, kekal, bukan yang tercipta, tak terbatas dan yang dapat menelan maut, yakni hayat Allah sendiri (Zoe — Yoh. 11:24; 14:6; Kol. 3:4). Hayat ini adalah Kristus sendiri yang menjadi hayat kebangkitan kita. Maka total dari kolom kredit jauh melampaui total kolom debet.
Berdasarkan semuanya itu, sekarang kita boleh maju meninjau Roma 6. Tanpa pasal 5 sebagai dasar tak mungkin kita dapat membereskan pasal 6. Kini bukan lagi problem dua situasi atau dua kondisi, melainkan dua manusia, manusia pertama ialah Adam dengan debetnya dan manusia kedua ialah Kristus dengan kredit-Nya. Anda milik yang mana?
I. BERSATU DENGAN KRISTUS DALAM KEMATIAN DAN KEBANGKITAN-NYA
Kalau kita semua dilahirkan di dalam Adam, bagaimana kita dapat mengatakan bahwa sekarang kita berada di dalam Kristus?
A. DIBAPTIS DI DALAM KRISTUS
Dalam Roma 6:3 Paulus berkata, “Tidak tahukah kamu bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya?” Meskipun kita dilahirkan oleh Adam, manusia yang pertama itu, namun kita telah dibaptis ke dalam Kristus, manusia kedua itu. Betapa kasihan orang-orang Kristen yang memperdebatkan tata cara lahiriah baptisan! Ada yang memperdebatkan tentang airnya, ada pula yang memperdebatkan tentang metodenya. Padahal baptisan itu berarti dibaptis ke dalam Kristus, ke dalam kematian-Nya. Tak peduli kita baik atau jahat, kita semua dilahirkan di dalam Adam. Kini kita nampak orang yang lain yaitu Kristus. Bagaimana kita bisa berada di dalam Dia dan menjadi bagian-Nya? Jalannya ialah dibaptis di dalam Kristus. Makna baptisan ialah membaptiskan orang ke dalam Kristus. Itu bukan suatu tata cara, melainkan suatu pengalaman yang sangat penting.
Dalam tindakan baptisan, harus terjadi suatu peralihan yang rohani. Kalau kita tidak mengalami realitas yang demikian, kita tak patut menjamah masalah tesebut. Maka jangan sekali-kali kita memberi baptisan kepada orang secara liturgi atau tata cara belaka. Kita harus mempunyai keyakinan dan pemahaman, ketika kita membaptis orang, berarti membaptis orang itu ke dalam Kristus. Begitu kita memahami makna baptisan, kita takkan membiarkan hal ini terperosok ke dalam liturgi atau tata cara lahiriah. Pembaptisan adalah suatu tindakan di mana kita membaptis orang milik Adam ke dalam maut, dan demi itu kita me-mindahkan mereka keluar dari Adam, masuk ke dalam Kristus. Jadi manusia itu dibaptis ke dalam Kristus. Banyak orang memperdebatkan tentang liturgi atau tata cara pembaptisan, namun makna intinya telah diabaikan. Maka setiap kali kita membaptis orang, kita selalu harus memperhatikan makna intinya, yaitu membaptis orang ke dalam Kristus. Betapa bahaya jika kita hanya melakukan liturgi dan tata cara; namun sebaliknya alangkah indahnya kalau kita membaptis orang ke dalam Kristus!
Terpujilah Tuhan! Kita sekalian telah dibaptis di dalam Kristus. Kita telah bersatu di dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Demi kematian dan kebangkitan, Kristus telah berubah dari tubuh daging menjadi Roh. Bahkan Kristus pun perlu mati dan bangkit, agar Ia dapat berubah dari daging menjadi Roh. Demikian pula kita. Demi bersatu dalam kematian dan kebangkitan-Nya, kita telah pindah dari Adam ke dalam Kristus. Tatkala kita dibaptis ke dalam Kristus, kita dipindahkan dari bagian milik Adam dan dimasukkkan ke dalam Kristus serta menjadi bagian-Nya. Kini kita tidak lagi berada di dalam Adam, melainkan mutlak berada di dalam Kristus. Inilah fakta dari kesatuan kita dengan Dia. Sekarang kita perlu maju selangkah untuk melihat dan mengetahui dengan jelas dua butir lainnya, yang berkaitan dengan masalah ini.
B. DIBAPTIS DALAM KEMATIAN-NYA —
BERTUMBUH BERSMA-NYA
DALAM RUPA KEMATIAN-NYA
Roma 6:5 mengatakan, “Kita telah bertumbuh bersama Dia dalam rupa kematian-Nya” (Tl.). Apakah artinya? Kalimat “rupa kematian-Nya” dalam Roma 6:5, ditujukan kepada pembaptisan. Pembaptisan itulah rupa kematian-Nya. Dalam pembatisan kita telah bertumbuh bersama Kristus. Kata “bertumbuh bersama” ini telah menimbulkan satu problem yang sangat menyulitkan para penerjemah Alkitab. Namun jika kita dengan teliti melihat maknanya dalam bahasa Yunani, tidaklah ada kesulitan. Istilah serupa dipakai juga dalam Lukas 8:7, yaitu yang mengatakan tentang semak-semak duri bertumbuh bersama dengan benih. Demikian pula, kita bertumbuh bersama Kristus. Tatkala kita dibaptis ke dalam Kristus, pada satu pihak kita diletakkan ke dalam maut, sedang pada pihak lainnya kita mulai bertumbuh. Hal ini mirip sekali dengan menabur benih ke dalam tanah. Dipandang dari luar, benih kita tabur, padahal ia mulai bertumbuh. Demi dibaptis ke dalam Kristus, kita semua bertumbuh bersama-Nya di dalam rupa kematian-Nya. Kalau kita telah bertumbuh bersama Dia di dalam rupa kematian-Nya, maka kini kita pun bertumbuh bersama-Nya. Kita telah bertumbuh, dan kini kita sedang bertumbuh terus.
C. HIDUP DALAM KEBARUAN HAYAT
Kita pun bertumbuh bersama Kristus di dalam rupa kebangkitan-Nya. (6:4-5) Apakah rupa kebangkitan-Nya? Itulah kebaruan hayat. Kita semua patut hidup dalam kebaruan hayat ini. Kita harus nampak kedua perkara tersebut. Kita telah bertumbuh bersama Kristus dalam baptis-an dan kita telah bertumbuh bersama-Nya dalam rupa kebangkitan-Nya, yakni dalam kebaruan hayat kebangkitan-Nya. Kalau kita telah nampak hal ini, berarti kita telah mati bersama-Nya dan kini kita bertumbuh bersama-Nya. Kita telah dikubur bersama-Nya dalam baptisan, dan sekarang kita telah bertumbuh bersama-Nya di dalam kebangkitan-Nya, yaitu dalam hayat ilahi-Nya. Kita harus hidup di dalam apa yang kita nampak itu, yakni hidup di dalam kebaruan hayat.
II. MENGETAHUI DAN MENGHITUNG
A. MENGETAHUI MELALUI MELIHAT
Dalam Roma 5 kita nampak bahwa kita dilahirkan di dalam Adam, dan kita terbentuk menjadi orang dosa. Dalam pasal 6 kita nampak kita telah dibaptis dalam Kristus, bahkan telah diserupakan dalam maut dan kebangkitan-Nya. Kini kita telah berada dalam Kristus. Kalau kita telah berada dalam Dia, maka segala pengalaman-Nya telah menjadi sejarah kita. Dia telah tersalib dan bangkit, maka penyaliban maupun kebangkitan-Nya juga telah menjadi milik kita. Inilah satu fakta yang mulia. Kita patut nampak fakta ini, bukan hanya mengerti saja. Kita perlu berdoa, mohon Tuhan mengaruniakan visi yang jelas kepada kita, agar kita nampak fakta yang mulia ini. Visi inilah yang menjadi dasar pengetahuan kita. Ketika kita telah nampak sesuatu perkara, kita selamanya tak dapat mengatakan bahwa kita tidak mengetahuinya. Allah telah menyempurnakan fakta di mana Ia telah menaruh kita di dalam Kristus, dan kita telah tersalib dan bangkit beserta-Nya.
Pengetahuan kita berdasarkan penglihatan kita, sedang penglihatan kita berasal dari visi. Maka kita perlu suatu visi, agar kita nampak bahwa kita telah tersalib bersama Kristus seperti yang tercantum dalam Roma 6:6-7, dan bahwa kita pun telah dibangkitkan bersama-Nya seperti yang tercantum dalam Roma 6:8-10. Bila kita telah nampak kedua fakta tentang kesatuan kita dengan Kristus, kita pun mengetahui bahwa kita telah mati terhadap (kepada) dosa dan hidup terhadap (kepada) Allah.
Di sini bukan perkara yang berdasarkan iman, melainkan sepenuhnya berdasarkan penglihatan kita. Ketika demi visi kita nampak fakta yang mulia itu, kita tak dapat tidak percaya dan menyadari bahwa kita telah mati bersama Kristus dan bangkit bersama-Nya. Demi penglihatan yang serupa itu kita baru memiliki suatu keyakinan yang penuh, yakni mengetahui kita telah mati terhadap dosa, hidup terhadap Allah.
Saya harus menekankan sekali lagi, bahwa kita sangat perlu visi untuk melihat fakta mulia yang diwahyukan dalam Roma 6. Banyak orang Kristen memiliki pengetahuan secara teori saja atas Roma 6, namun mereka tak pernah nampak visi dari fakta yang tercantum dalam pasal tersebut. Suatu perkara yang kita mengerti pada teorinya mutlak berbeda dengan wujud perkara itu yang tertampak dalam visi. Problema yang terdapat dalam Roma 6 ini sangat umum di kalangan orang Kristen. Banyak orang menganggap dirinya mengerti ajaran Roma 6, namun mereka belum nampak faktanya melalui visi. Banyak orang menekankan “percaya” kepada perkara tersebut, tetapi jika Anda tidak nampak faktanya, hanya bersandar pada pengertian secara teori saja, Anda akan sukar mempercayainya. Tetapi begitu Anda demi visi melihat faktanya, iman Anda terhadap-Nya akan timbul dengan sendirinya. Karena itu Paulus berkata, “karena kita tahu”, ungkapan ini sebenarnya berarti kita telah nampak faktanya dalam suatu visi rohani. Untuk itu kita perlu berdoa, agar Tuhan menyelamatkan kita dari keadaan puas diri atas pengertian teoritis, dan mohon Tuhan mengaruniakan kepada kita suatu visi yang jelas di dalam roh kita, agar kita benar-benar nampak fakta mulia yang diwahyukan dalam pasal tersebut. Kemudian barulah kita bisa dengan riil mengenal faktanya.
B. MENGHITUNG DEMI PERCAYA
Berdasarkan penglihatan kita atas fakta yang telah diwahyukan dalam Roma 6, perlulah kita melakukan suatu perhitungan, yakni kita harus menghitung diri kita telah mati terhadap dosa, dan hidup terhadap Allah (6:11). Pada satu pihak kita wajib menghitung diri kita mati terhadap dosa, pada pihak lainnya kita wajib menghitung diri kita hidup terhadap Allah. Perhitungan ini adalah berdasarkan penglihatan. Kalau kita telah nampak bahwa kita telah mati bersama Kristus, bahkan telah bertumbuh bersama Dia dalam kebangkitan-Nya, maka dengan otomatis dan terus-menerus akan menghitung diri kita mati terhadap dosa, dan hidup terhadap Allah. Ini adalah masalah perhitungan. Dalam perhitungan kita ini, kita mempunyai suatu bagian kredit yang besar, yaitu mati terhadap dosa dan hidup terhadap Allah.
Perhitungan ialah suatu iman yang timbul dari penglihatan. Kalau kita telah melihat faktanya, maka demi percaya bahwa kita telah mati tersalib dan bangkit bersama Kristus, menghitung diri kita mati terhadap dosa dan hidup terhadap Allah. Begitu kita nampak fakta ini, saat itu pula kita percaya memang demikian. Dan kemudian kita membuat perhitungan berdasarkan penglihatan itu.
Banyak orang Kristen pernah mendapat teknik dalam hal menghitung dirinya telah mati, dan banyak pula yang telah mempraktekkannya. Namun pada akhirnya, semuanya dapat bersaksi bahwa teknik itu tak berguna. Itu bukan soal teknik, melainkan soal melihat faktanya, inilah yang menghasilkan perhitungan demi iman yang spontan. Kalau hanya dengan pengertian secara teori untuk menghitung, tanpa melihat faktanya, akhirnya akan gagal. Karena itu Paulus lebih dulu mengutarakan tentang pengetahuan yang berdasarkan penglihatan pada faktanya, kemudian baru me-mimpin kita menghitung diri mati terhadap dosa dan hidup terhadap Allah (ayat 11). Perhitungan memerlukan pengli-hatan, sedang hasil dari penglihatan ialah percaya. Bila kita sudah melihat faktanya, pasti kita akan mempercayai dan juga menghitungnya.
III. BEKERJASAMA DEMI PENOLAKAN
DAN PERSEMBAHAN
Jika kita telah menghitung diri kita mati terhadap dosa dan hidup terhadap Allah, maka kita perlu mempersembahkan anggota tubuh kita kepada Allah, menjadi “senjata kebenaran bagi Allah” (6:13). Istilah “senjata” di sini sama dengan yang dipakai Paulus dalam 2 Korintus 6:7 — “senjata keadilan”. Dalam Roma 7:23 membuktikan adanya suatu peperangan di dalam batin manusia. Roma 13:12 mengatakan, “mengenakan perlengkapan senjata terang”, ini pun membuktikan sedang berlangsungnya suatu peperangan. Dalam peperangan kita memerlukan perlengkapan senjata. Setiap anggota tubuh kita ialah senjata. Kita harus bersiap siaga demi peperangan berikutnya, sebab peperangan itu berlangsung terus. Begitu kita menyadari bahwa kita telah mati terhadap dosa, dan hidup terhadap Allah, serta menghitung demikian, maka wajiblah kita mempersembahkan anggota tubuh kita sebagai senjata untuk berperang bagi Allah.
Lebih maju lagi, kita perlu mempersembahkan diri kita serta anggota tubuh kita kepada Allah sebagai hamba (6:16, 19 ,22). Kalau kita telah mempersembahkan diri kita kepada Allah sebagai hamba dan mempersembahkan anggota tubuh kita kepada-Nya sebagai senjata kebenaran, dengan sendirinya kita akan dikuduskan. Ini berarti kita telah berada di pihak Kristus yang bangkit dan yang menjadi hayat dalam batin kita. Kita berada di pihak hayat yang kekal. Dengan demikian, kita akan memberi kesempatan agar hayat kekal bekerja di dalam kita, untuk memisahkan kita dari setiap perkara duniawi, sehingga kita dikuduskan. Hasil dari persembahan diri ialah pengudusan. Itulah urutan pengalaman kita: Penglihatan, perhitungan, persembahan, penolakan atas dosa dan bekerja sama dengan Allah.
Kita wajib menolak dosa, sebab dosa tetap bercokol dalam tubuh kita yang telah jatuh (6:12). Jangan kita berkawan lagi dengan dosa, tetapi kita harus menolaknya dan bekerja sama dengan Allah. Kita tidak boleh menjadi rohani sedemikian rupa sehingga bersikap pasif tanpa berbuat apa-apa. Sikap pasif itu sangat berbahaya. Begitu Anda menjadi pasif, Anda akan tertipu dan tersesat. Karena itu, kita jangan pasif, namun jangan terlampau aktif. Pasif atau aktif kita sebenarnya tidak berarti apa-apa. Kalau begitu bagai-manakah seharusnya? Kita harus melihat fakta, menghitung diri kita telah mati terhadap dosa dan hidup terhadap Allah, mempersembahkan diri dan anggota tubuh kita kepada Allah, menolak dosa, serta bekerja sama dengan Allah. Kita tak boleh melakukan sesuatu menurut kemauan pribadi. Janganlah mencoba bertekad untuk mengasihi istri atau menaati suami, jangan pula berusaha untuk berendah hati dan menjadi pemurah atau perahmat. Namun Anda patut menolak dosa. Ketika dosa datang mengusulkan sesuatu kepada Anda, Anda harus berkata, “Enyahlah hai dosa, aku tak ada urusan denganmu!” Sekali-kali jangan membiarkan dosa terus mengekang Anda (6:14). Itulah yang disebut menolak dosa dan berpaling kepada Allah, dan berkata, “Ya, Tuhan, aku mengasihi istri atau tidak, itu terserah kepada-Mu saja. Aku mau bekerja sama dengan Engkau dalam hal kasih. Aku ingin menghambakan diriku kepada-Mu. Apa pun yang hendak Kau perbuat, aku mau mengikuti-Mu dan bekerja sama dengan-Mu.” Jangan pasif atau pun aktif, yang penting ialah menolak dosa dan bekerja sama dengan Allah. Kalau kita berbuat demikian, kita tidak saja menjadi benar, bahkan menjadi kudus. Kita akan mengalami suatu perubahan sifat yang batiniah.
Hasil pengudusan ialah hidup yang kekal (6:22). Jadi Roma 8 berkaitan erat dengan Roma 6. Roma 6 berakhir pada pengudusan, hingga hidup yang kekal; sedang Roma 8 berawal pada Roh hayat. Tak usah bertanya kepada saya Roma 7 akan ditempatkan di mana. Walaupun pasal itu tercantum dalam Alkitab, dan tak dapat disingkirkan, tetapi ia dapat disingkirkan dari pengalaman kita. Kita boleh saja meloncat dari akhir pasal 6 ke awal Roma 8.
Dalam Roma 6 maksud Paulus di satu pihak mengatakan bahwa kita berada dalam fakta mati tersalib dan bangkit bersama Kristus, di pihak lainnya kita pun telah memiliki hayat Allah yang ilahi. Dan fakta tersebut telah memindahkan kita dari Adam ke dalam Kristus. Hayat ilahi ini memungkinkan kita menempuh suatu kehidupan yang kudus dan ilahi. Kita perlu nampak bahwa kita telah dipindahkan. Berdasarkan penampakkan kita itu, kita percaya dan menghitung diri kita demikian. Kemudian kita perlu menolak dosa dan mempersembahkan diri beserta anggota tubuh kepada Allah untuk bekerja sama dengan-Nya. Kita sesungguhnya telah mempunyai suatu kedudukan untuk menolak dosa, sebab kini kita “tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia” (6:14). Dosa tidak berkedudukan dan tidak berhak menuntut sesuatu apa pun pada diri kita, sebaliknya, kita hidup di bawah kasih karunia, dan memiliki hak sepenuhnya untuk menolak dosa dan kuasanya. Seiring dengan itu, demi berdiri sepihak dengan Kristus, kita mempersembahkan diri dan anggota tubuh kita sebagai hamba kepada Allah, agar hayat ilahi-Nya dapat bekerja di dalam kita dan sifat ilahi-Nya menguduskan kita. Bukan saja kedudukan kita bahkan sifat kita pun menjadi kudus.
Kita boleh menarik kesimpulan demikian, bahwa kita semua telah dibaptis ke dalam Kristus, dan demi itu kita telah diserupakan dengan Dia dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Kita telah bertumbuh bersama-Nya di dalam kematian-Nya, kini kita pun bertumbuh bersama-Nya dalam hayat kebangkitan-Nya. Kita nampak bahwa kita telah mati terhadap dosa, hidup terhadap Allah, bahkan telah terhitung dalam pembukuan surgawi kita. Berdasarkan perhitungan ini, kita mempersembahkan diri kita sebagai hamba, dan anggota tubuh kita sebagai senjata kebenaran kepada Allah. Dengan demikian memberi kesempatan kepada hayat ilahi dalam batin kita untuk bekerja. Kemudian kita belajar menolak dosa, kita bekerja sama dengan Allah. Hasil dari keseluruhannya ialah pengudusan, dan yang berakhir pada hayat yang kekal. Puji Tuhan!