BELENGGU HUKUM TAURAT DALAM TUBUH DAGING KITA (1)
Dalam Roma 5:12-21, kita telah nampak bahwa karunia dalam Kristus jauh mengungguli apa yang diwariskan dalam Adam. Roma 6 mewahyukan kesatuan kita dengan Kristus. Untuk memperoleh pengalaman yang sejati terhadap kesatuan tersebut, kita perlu menaruh perhatian atas dua masalah negatif yang terdapat dalam Roma 7 hukum Taurat dan daging. Roma 7 menyingkapkan belenggu hukum Taurat dalam daging. Meskipun kita telah disatukan dengan Kristus melalui pembaptisan, dan telah tumbuh bersama-Nya dalam rupa kematian-Nya dan sedang bertumbuh dalam rupa kebangkitan-Nya, namun hukum Taurat dan daging tetap ada. Sungguh pun kita dapat mempersembahkan diri sebagai hamba dan anggota tubuh sebagai senjata kebenaran kepada Allah, sehingga kita dikuduskan dan menikmati kelimpahan hayat ilahi, tetapi hukum Taurat Allah yang di luar kita dan daging yang di dalam kita masih ada.
Mengapa Paulus dalam pasal 7 membicarakan masalah hukum Taurat dan daging begitu rinci? Sebab Roma 6:14 mengatakan bahwa kita “tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia.” Dalam Roma 5 dan 6, Paulus menerangkan dengan jelas bahwa kita sekarang berada di bawah kasih karunia bukan di bawah hukum Taurat. Tetapi ia belum menunjukkan kepada kita, bagaimana cara kita tidak berada di bawah hukum Taurat itu. Karena dalam 6:14 Paulus mengatakan, kita tidak berada di bawah hukum Taurat, maka ia harus menulis pasal lain untuk menjelaskan bagaimana kita tidak berada di bawah hukum Taurat. Andaikata tidak ada pasal 7, maka masalah tersebut tidak mungkin jelas bagi kita. Sekalipun hukum Taurat tetap ada, namun kita tidak berada di bawahnya; kita tidak berurusan lagi dengannya. Apakah hukum Taurat itu ditarik kembali oleh Allah? Apakah Ia telah membatalkannya? Atas pertanyaan-pertanyaan itu, jawaban kita ialah, “tidak”. Lalu bagaimana kita dapat berkata bahwa kita tidak berada di bawah hukum Taurat? Bagaimana kita bisa berada di luar hukum Taurat dan dibebaskan darinya? Bagaimana kita bisa terlepas dari hukum Taurat? Jawaban atas semua pertanyaan itu terdapat dalam Roma 7, khususnya dalam enam ayat yang pertama. Bagian firman ini telah memberikan suatu keterangan dan penjelasan yang sempurna atas sebab musabab tidak beradanya kita di bawah hukum Taurat. Kalau kita memahami Roma 7:1-6, kita akan mengetahui bagaimana kita telah dibebaskan dari hukum Taurat.
I. DUA SUAMI
Jika kita ingin mengerti bagaimana kita telah dibebaskan dari hukum Taurat, kita wajib mengerti tentang dua suami yang tercantum dalam Roma 7. Dalam Roma 5 tercantum dua manusia, dua perbuatan, dan dua akibat serta empat hal yang berkuasa. Dalam Roma 7:1-6 terdapat dua suami dan dalam Roma 7:7-25 terdapat tiga hukum. Siapakah dua suami dalam Roma 7?
Ketika saya masih muda, saya sangat damba memahami Alkitab. Saya merasa luar biasa sukarnya untuk mengetahui siapa sebenarnya suami pertama yang tercantum dalam Roma 7 itu. Dengan sedapat mungkin saya mengumpulkan buku-buku tafsiran yang terbaik, namun saya tetap tidak dapat memutuskan siapa suami pertama yang tercantum dalam Roma 7 itu. Dia itu hukum Taurat atau daging? Saya lalu pergi bertanya kepada orang-orang yang paham akan Alkitab, tetapi tidak ada orang yang jelas tentang hal tersebut. Ada yang mengatakan suami pertama itu ditujukan kepada hukum Taurat, sedang orang lainnya mengatakan suami pertama itu daging. Saya baca Roma 7 berkali-kali, dan berusaha memahaminya sebisanya, bahkan saya pelajari terus selama beberapa tahun. Tahun 1962 yang lalu, saya pernah mengadakan suatu pengkajian menyeluruh atas surat Roma, tetapi sampai saat itu saya belum dapat memastikan siapa sebenarnya suami pertama itu. Kini, setelah mempelajarinya ditambah pengalaman beberapa tahun, perkara ini barulah jelas.
Siapakah suami pertama dalam Roma 7 itu? Kita harus meneroponginya melalui pandangan seluruh Alkitab, sebab kita harus memakai seluruh Alkitab untuk memahami satu ayat itu. Sekarang marilah kita dengan pandangan yang demikian melihat suami pertama dalam Roma 7 itu.
A. KEDUDUKAN MANUSIA YANG SEMULA — KEDUDUKAN SEBAGAI ISTRI
Dalam penciptaan Allah, kedudukan manusia yang semula ialah sebagai seorang istri. Yesaya 54:5 mengatakan bahwa Allah, Pencipta kita, ialah suami kita. Karena itu, menurut penciptaan Allah, manusia memiliki kedudukan sebagai istri. Sebagai istri Allah, kita harus bersandar kepada Allah, dan menerima Dia sebagai kepala kita. Itulah kedudukan kita yang semula.
B. KEDUDUKAN YANG DIAMBIL SENDIRI OLEH
MANUSIA YANG TELAH JATUH
Setelah jatuh, manusia mengambil satu kedudukan lain bagi dirinya sendiri, yaitu suatu kedudukan manusia lama. Manusia yang jatuh mengambil kedudukan sebagai suami. Manusia yang Allah ciptakan sebenarnya adalah istri, namun manusia yang telah jatuh berubah menjadi suami, yakni kedudukan yang diambilnya sendiri. Manusia yang jatuh itu menjadi merdeka terhadap Allah, sehingga menempatkan dirinya sendiri sebagai kepala, sebagai seorang suami. Sebelum beroleh selamat, Anda tidak pernah menganggap diri Anda adalah seorang istri. Kalau Anda seorang perempuan, boleh jadi Anda menganggap diri Anda lebih kuat daripada laki-laki. Di antara umat manusia yang jatuh, baik laki-laki maupun perempuan, semua menganggap diri masing-masing sebagai suami. Banyak istri berkata, “Mengapa aku harus tunduk di bawah suami? Dialah yang harus berada di bawahku. Mengapa dia yang menjadi kepala? Aku ingin menjadi kepala.” Demikianlah manusia yang jatuh menjadi suami yang perkasa, tetapi buruk.
C. HUKUM TAURAT MANUSIA LAMA
Karena manusia yang jatuh ingin menjadi suami, maka Allah memberi hukum Taurat kepadanya. Hukum Taurat diberikan bukan untuk istri, melainkan untuk suami yang jatuh. Dengan demikian hukum Taurat tersebut menjadi hukum Taurat manusia lama, yaitu hukum Taurat suami (7:2). Namun Allah tidak bermaksud menyuruh manusia lama memelihara hukum Taurat, sebab manusia lama tidak mampu memeliharanya. Diturunkannya hukum Taurat jus-tru untuk menyingkapkan keadaan asli manusia lama itu. Manusia telah sangat menyalahpahami maksud Allah, mengira Allah menghendaki mereka memelihara hukum Taurat. Padahal sebaliknya, Allah menghendaki agar manu-sia melanggar hukum Taurat, dan demi pelanggarannya keadaan diri manusia yang asli akan tersingkap sepenuhnya. Jika Anda berniat melakukan hukum Taurat, Anda sudah salah besar; tetapi jika Anda melanggarnya, Anda berbuat hal yang tepat. Diturunkannya hukum Taurat sekali-kali bukan untuk ditaati, melainkan untuk dilanggar.
Konsepsi yang demikian sesuai dengan Alkitab. Roma 3:20 mengatakan, “Karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa.” Hukum Taurat membuat orang mengenal dosa. Kalau tidak ada hukum Taurat, manusia akan terus melakukan dosa namun tidak mengakui itu dosa. Manusia akan memaafkan dosanya sendiri, yaitu menggambarkannya dengan kata-kata indah. Akan tetapi hukum Taurat menetapkan dosa itu sebagai dosa. Lagi pula Roma 4:15 mengatakan, “Di mana tidak ada hukum Taurat, di situ tidak ada juga pelanggaran.” Mungkin Anda mengira hukum Taurat bisa mencegah pelanggaran, tetapi ayat itu mengatakan bahwa hukum Taurat menyingkapkan pelanggaran. Selain itu, dalam Roma 5:20 dikatakan demikian, “Dengan masuknya hukum Taurat, pelanggaran menjadi semakin banyak.” Jelas, ditambahkannya hukum Taurat bukan untuk mengurangi dosa, atau membatasinya. Itu adalah konsepsi alamiah kita. Paulus mengatakan bahwa ditambahkannya hukum Taurat justru agar pelanggaran menjadi semakin banyak. Jadi, Alkitab membuktikan kepada kita bahwa diturunkannya hukum Taurat bukan untuk kita lakukan, melainkan untuk kita langgar.
Boleh jadi Anda akan berkata, “Aku justru tidak mau melanggar hukum Taurat.” Tak peduli Anda mau atau tidak mau melanggarnya, itu tidak berarti apa-apa, sebab Anda pasti melanggarnya. Kalau hukum Taurat mengatakan, “Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.” Walaupun Anda mungkin mencoba mengasihi sesama Anda, Anda tidak akan berdaya mengasihinya. Bahkan murid-murid sekolah pun tidak dapat mengasihi teman sekelasnya seperti dirinya sendiri. Setiap orang yang membaca berita ini, setidak-tidaknya sudah pernah melanggar, bahkan sedang melanggar sekurang-kurangnya salah satu dari kesepuluh hukum itu. Siapakah yang dapat menaati hukum Taurat? Seorang pun tidak! Hukum Taurat ditambahkan supaya pelanggaran menjadi semakin banyak.
Menurut Roma 7:7, “Justru melalui hukum Taurat aku telah mengenal dosa”. Dalam ayat ini Paulus mengatakan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan “Jangan mengingini (tamak)” dia juga tidak tahu apa itu tamak. Kita dapat menarik kesimpulan, yakni begitu hukum Taurat itu menyatakan fungsinya, pelanggaran pun bertambah banyak. Begitu pelanggaran itu bertambah banyak, hukum Taurat lalu menyingkapkannya sebagai dosa. Dengan demikian hukum Taurat membuat kita mengenal dosa.
D. KEDUDUKAN MANUSIA YANG TELAH
DILAHIRKAN KEMBALI —
KEDUDUKAN SEBAGAI ISTRI SEJATI
Kedudukan manusia baru yang telah dilahirkan kembali ialah sebagai seorang istri sejati. Kelahiran kembali telah memulihkan kita kepada kedudukan yang semula.
1. Manusia Lama telah Tersalib
Suami pertama dalam Roma 7:2-3 bukan daging atau hukum Taurat, melainkan manusia lama dalam Roma 6:6, yang telah disalibkan bersama Kristus. Kalau kita membaca Roma 7:1-6 dengan teliti, kita akan nampak suatu kecocokan dengan Roma 6:6.
Banyak orang Kristen merasa sulit memahami suami pertama yang dikatakan dalam Roma 7 tersebut, sebab kebanyakan mereka telah mengabaikan fakta bahwa sebagai orang beriman, yang sudah beroleh selamat kita memiliki dua status status lama dan status baru. Karena kejatuhan, kita memiliki status lama, dan karena kelahiran kembali, kita memiliki status baru. Kejatuhan menyebabkan kita menjadi manusia lama, sedang kelahiran kembali membuat kita menjadi manusia baru. Sebagai manusia lama kita adalah suami; sebagai manusia baru, kita adalah istri. Maka kita memiliki dua status.
Mari kita menggali Roma 7:1-6, dengan memperhatikan hubungannya dengan Roma 6:6 dan Galatia 2:19-20. Roma 7:1 mengatakan, “Hukum berkuasa atas seseorang selama orang itu hidup.” Ayat tersebut tidak menimbulkan kesulitan apa-apa. Dalam ayat 2 dikatakan, “Sebab seorang istri terikat oleh hukum kepada suaminya selama suaminya itu hidup. Akan tetapi apabila suaminya itu mati, bebaslah ia dari hukum yang mengikatnya kepada suaminya itu.” Perhatikanlah, di situ bukan mengatakan “istrinya itu hidup” melainkan “suaminya itu hidup”. Apabila suaminya itu mati, maka bebaslah istri itu dari hukum suaminya itu. Roma 7:3 selanjutnya mengatakan, “Jadi, selama suaminya hidup ia dianggap berzina, kalau ia menjadi istri laki-laki lain; tetapi jika suaminya telah mati, ia bebas dari hukum,” dan ia boleh menikah dengan laki-laki lain.
Tiga ayat berikutnya dari pasal 7 cukup sulit dimengerti. Titik persoalannya terdapat pada ayat 4. Mari kita lihat dengan seksama. “Sebab itu, Saudara-saudaraku, kamu juga telah mati terhadap hukum Taurat melalui tubuh Kristus.” Kita bukan mati dengan cara membunuh diri, melainkan melalui Tubuh Kristus, yakni berarti kita mati di atas salib Kristus. Frase “Oleh tubuh Kristus” menjelaskan kematian, dan menyatakan kematian macam apa yang dimaksud. Bukan kematian dengan membunuh diri, melainkan tersalib bersama Kristus. Tatkala Kristus tersalib, kita pun mati beserta-Nya. Kita perlu membandingkan kata-kata ini dengan Roma 6:6 yang mengatakan, “Karena kita tahu bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan”. Ayat ini sesuai dengan pasal 7:4, “Kamu juga telah mati . . . melalui tubuh Kristus.” Jelaslah, bahwa “kamu” yang terdapat pada 7:4 adalah “manusia lama” yang “telah turut disalibkan” dalam 6:6. Singkatnya, “kamu” dalam 7:4 adalah “manusia lama” dalam 6:6.
Roma 6:6 mengatakan, “manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya.” Manusia lama (bukan tubuh) telah turut disalibkan. Kalau Anda mengatakan tubuh Anda telah disalibkan, itu artinya Anda harus mengadakan suatu upacara pemakaman untuk mengubur Anda. Apakah yang sebenarnya terjadi atas tubuh Anda? Tubuh Anda hilang kuasanya atau kegunaannya. Manusia lama telah disalibkan, sedangkan tubuh masih ada. Karena manusia lama telah disalibkan, maka tubuh hilang pekerjaannya. Namun Roma 6:6 seterusnya mengatakan, “Agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.” Manusia lama telah disalibkan, tetapi kita masih hidup. Kita tidak seharusnya menghambakan diri lagi kepada dosa.
Kini kita beralih kapada Galatia 2:19. Ayat itu mengatakan, “Aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah.” Kita telah mati atau masih hidup? Kita ini dua manusia atau satu manusia? Dari ayat ini kita dapat membuktikan bahwa kita memiliki dua status, yakni dua “aku” satu “aku” yang lama, dan satu lagi “aku” yang baru. “Aku” lama telah mati, supaya “aku” baru boleh hidup. Itu bukan tafsiran saya, melainkan kutipan kata-kata dari Galatia 2:19. Ayat itu mengatakan, bahwa aku telah mati, supaya aku dapat hidup. Kalau aku tidak mati, aku tidak mungkin dapat hidup. Maka aku perlu mati, supaya aku bisa hidup. Aku mati untuk hidup. Aku mati terhadap siapa? Menurut Galatia 2:19, aku mati terhadap hukum Taurat.
Galatia 2:19-20 selanjutnya mengumumkan, “Aku telah disalibkan dengan Kristus.” Perkataan ini jelas sesuai dengan Roma 6:6, dan 7:4. Ketiga ayat ini saling bersesuaian. Galatia 2:19-20 mengatakan, “Aku telah disalibkan dengan Kristus, namun aku hidup . . .” Orang yang telah disalibkan bagaimana dapat tetap hidup? Kita telah mati atau masih hidup? Dua-duanya benar. Sebagai manusia lama, saya sudah mati, tetapi sebagai manusia baru, saya tetap hidup. Walaupun saya hidup, tetapi bukan lagi saya sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam saya. Apabila kita memusatkan perhatian kita kepada ayat tersebut, kita akan jelas bahwa kita memiliki dua status. “Aku telah disalibkan dengan Kristus, namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Betapa indahnya kalimat ini. Ini merupakan ajaran yang penting dalam Alkitab. Lalu Galatia 2:20 meneruskan, “Hidup yang sekarang aku hidupi di dalam daging adalah hidup dalam iman Anak Allah”(Tl.). Ayat ini mewahyukan adanya dua status bagi seorang beriman: status orang lama dan status orang baru yang telah dilahirkan kembali.
Kita telah dibuat bingung oleh manusia lama dalam Roma 7:4, karena kita tidak memperhatikan status ganda orang Kristen. Sebagai manusia lama, kita menjadi suami, tetapi sebagai manusia baru, kita adalah istri.
Kini kita kembali kepada Roma 7:4 yang mengatakan, “Sebab itu, Saudara-saudaraku, kamu juga telah mati ter-hadap hukum Taurat melalui tubuh Kristus, supaya kamu menjadi milik orang lain, yaitu milik Dia, yang telah dibangkitkan dari antara orang mati, agar kita berbuah bagi Allah.” Dalam ayat ini, Paulus meletakkan masalah pemakaman bersama masalah pernikahan. Di satu pihak, kita dikubur, sedang di pihak lain, kita menikah. Kita telah dimatikan, supaya kita boleh menikah dengan orang lain. Dalam Roma 7:4, kita telah mati untuk menikah lagi, dalam Galatia 2:19-20, kita mati untuk hidup lagi. Bagaimana hal itu bisa terjadi, bila kita tidak memiliki dua status? Menurut status kita yang lama, kita telah dimatikan, supaya menurut status yang baru, kita bisa menikah dengan orang lain. Menurut status yang baru, kita telah menikah dengan Dia, yang telah bangkit dari antara orang mati, agar kita berbuah bagi Allah.
Sekarang kita melihat 7:5-6. Ayat 5, “Sebab waktu kita masih hidup di dalam daging, hawa nafsu dosa, yang dirangsang oleh hukum Taurat, bekerja dalam anggota-anggota tubuh kita, sehingga kita berbuah bagi maut.” Ayat ini menyinggung tentang hakiki kita. Ayat 6, “Tetapi sekarang kita telah dibebaskan dari hukum Taurat, sebab kita telah mati bagi dia, yang mengurung kita, sehingga kita sekarang melayani dalam keadaan baru menurut Roh dan bukan dalam keadaan lama menurut huruf hukum Taurat.” Ketika kita berada dalam daging (ayat 5) kita adalah suami lama itu. Ketika kita dibebaskan dari hukum Taurat (ayat 6) kita menjadi istri. Kita telah dibebaskan dari hukum Taurat suami yang lama itu, dan telah mati terhadap dia yang dulu membelenggu kita.
Jadi kini kita seharusnya sudah jelas, siapakah sebenarnya yang disebut suami lama itu. Suami lama itu tidak lain manusia lama kita. Istri ialah manusia baru kita yang telah dilahirkan kembali. Sebagai manusia lama, kita telah mati; sebagai manusia baru, kita hidup. Kita telah mati di dalam status suami lama, tetapi kini kita telah hidup sebagai seorang istri. Sebentar lagi kita akan melihat dua perkara yang dilakukan oleh sang istri berbuah bagi Allah dan melayani dalam kebaruan Roh.
2. Terlepas dari Hukum Taurat Manusia Lama
Setelah manusia lama tersalib, maka kini manusia yang dilahirkan kembali telah terlepas dari hukum Taurat manusia lama itu (Rm. 7:2-3; Gal. 2:19). Hukum Taurat diberikan kepada manusia lama, tetapi manusia lama, suami lama telah mati. Berhubung suami lama kita telah mati, maka sebagai istrinya, kita sudah terlepas dari hukum Tauratnya. Paulus berkata bahwa hukum suami berkuasa atas istrinya selama suami itu hidup, kalau suami itu telah mati, bebaslah istrinya dari hukumnya. Suami lama kita adalah manusia lama kita. Kini kita adalah manusia baru yang telah dilahirkan kembali. Karena hukum Taurat diberikan kepada suami lama, dan karena ia telah mati di atas salib, maka dengan sendirinya kita telah terlepas dari hukum Tauratnya. Itulah sebabnya kini kita tidak berada di bawah hukum Taurat lagi.
3. Menikah dengan Kristus, Suami Baru
Kini kita telah menikah dengan Kristus, suami baru kita. Kita telah nampak dalam Roma 7:4, bahwa kita telah menjadi milik Kristus, yang telah dibangkitkan dari antara orang mati. Dalam 2Korintus 11:2 Paulus mengatakan bahwa ia telah mempertunangkan kita kepada satu suami, yakni Kristus. Kini, Kristus itulah suami baru kita.
4. Menerima Kristus Sebagai Kepala
Sebagai orang yang telah dilahirkan kembali, baik saudara maupun saudari, semua adalah bagian dari istri itu. Karena Kristus menjadi suami kita, maka kita wajib bersandar kepada-Nya, dan menerima-Nya sebagai Kepala kita (Ef. 5:23). Kalau kita menerima-Nya demikian, kita akan berbuah dalam kebangkitan untuk Allah (Rm. 7:4), dan melayani Tuhan dalam kebaruan Roh (7:6). Kita tidak lagi berada dalam daging, melainkan dalam kebaruan Roh.
Di sini terdapat suatu pikiran yang dalam, yang berhubungan dengan kedalaman pembenaran Allah yang terlihat dalam teladan Abraham. Dalam pembenaran-Nya, Allah memanggil orang pilihan-Nya ke luar, meninggalkan segala sesuatu yang bukan Allah, dan berpaling kepada-Nya, agar orang terpanggil dan pilihan-Nya tidak lagi hidup bersandar diri sendiri, melainkan bersandar kepada-Nya dalam setiap perkara. Ini berarti ketika mereka berpaling kepada-Nya, mereka menerima Dia menjadi suami mereka. Menerima Alah menjadi suami kita, berarti mengakhiri segala hakiki kita, perbuatan kita, milik kita, dan bersandar kepada-Nya dalam setiap perkara. Menerima Kristus menjadi suami, juga berarti kita percaya kepada Kristus. Kita tidak seharusnya hidup bersandar diri sendiri lagi, melainkan bersandar kepada Kristus. Kita harus membiarkan Kristus hidup bagi kita. Sebab itu pikiran yang dalam yang terkandung dalam Roma 7:1-6 sesuai sekali dengan makna pembenaran yang tercantum dalam Roma 4. Maksud Allah ialah membawa kita kembali kepada-Nya, dan membuat kita bersandar sepenuhnya kepada diri-Nya sendiri. Kita tidak seharusnya hidup, bertindak, atau menjadi apa saja demi diri kita lagi. Kita harus diakhiri seluruhnya; dan kepala kita harus mutlak ditutupi. Kita tidak lagi menjadi suami. Manusia lama kita telah disalibkan. Kini Kristus adalah suami kita.
Dalam upacara pernikahan yang mana pun, kepala sang istri selalu ditutupi. Maka dalam pernikahan, walau ada dua orang, namun hanya ada satu kepala. Kepala sang istri telah tertutup oleh suaminya, dan suami adalah kepala. Kalau demikian, sang istri menjadi apa? Ia tidak lagi berdiri sendiri. Ia telah dikurangi sedemikian rupa sehingga di dalam dirinya ia menjadi bukan apa-apa lagi. Senangkah Anda mendengar perkataan ini? Saya senang. Saya senang mendengar hal ini bukan karena saya seorang suami, melainkan karena saya adalah salah satu bagian dari sang istri itu. Aku telah terhapus sama sekali, aku bukanlah apa-apa. Kristuslah suamiku, dan Kepalaku. Aku sendiri tak berkepala, kepalaku telah ditudungi.
Kristus menjadi Kepalaku, Ia pun menjadi personaku. Setiap istri wajib menjadikan suaminya sebagai personanya, bukan hanya menjadi kepalanya. Bahkan kita pun wajib menerima Kristus sebagai hayat kita. Kristus adalah suami kita, kepala kita, persona kita, dan hayat kita. Kita telah diakhiri, dan telah menjadi bukan apa-apa lagi. Kristus hidup di dalam kita, dan hidup bagi kita. Aku telah terpanggil keluar dari segala perkara, dan menjadi milik-Nya. Aku percaya kepada-Nya dan mutlak bersandar kepada-Nya. Kristus ialah segala sesuatuku. Dialah suamiku, kepalaku, personaku, dan hayatku. Karena itu aku mutlak berada di bawah kasih karunia, tidak lagi berada di bawah hukum Taurat. Hukum Taurat tidak ada hubungan lagi denganku dan aku tidak ada hubungan dengan hukum Taurat. “Aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat” (Gal. 2:19). Kini dalam kasih karunia, aku hidup untuk Allah.
Apakah Anda masih sarat dengan segala ajaran usang yang menyuruh Anda melakukan banyak hal? Setiap kali Anda berniat melakukan sesuatu berdasarkan diri sendiri, itu menyatakan bahwa Anda sebagai manusia lama telah kembali berpaling kepada Hagar. Yang dapat Anda hasilkan tak lain ialah Ismael. Jangan sekali-kali bersatu dengan Hagar, pisahkanlah dia! Kesampingkan dia dan katakan kepadanya bahwa Anda tidak ada hubungan lagi dengannya. Kemudian sebagai manusia baru, datanglah kepada Sara, yaitu kasih karunia Allah dan bersatulah dengannya, Anda akan melahirkan Ishak, Kristus. Anda akan mengalami dan menikmati Kristus. Hal ini tidak saja tepat secara doktrinal, bahkan menurut pengalaman. Baiklah kita meninjau Galatia 4:21-26 lebih lanjut. Dalam bagian itu Paulus mengibaratkan Hagar dan Sara sebagai dua perjanjian: Hagar mengibarat-kan perjanjian hukum Taurat; Sara mengibaratkan perjanjian kasih karunia. Dengan ini kita bisa mengerti bahwa Hagar melambangkan perjanjian Taurat, Sara melambangkan perjanjian kasih karunia. Jadi, Ismael dilahirkan melalui melakukan hukum Taurat, sedang Ishak dilahirkan melalui kasih karunia. Galatia 4:31 mengatakan, “Karena itu, Saudara-saudara, kita bukanlah anak-anak hamba perempuan, melainkan anak-anak perempuan merdeka.” Ini berarti kita bukan anak-anak hukum Taurat, melainkan anak-anak kasih karunia. Karena itu kalau kita mencari Hagar, berarti kita berpaling kepada hukum Taurat, namun kalau kita datang kepada Sara, berarti kita berpaling kepada kasih karunia. Kita semua harus datang kepada Sara dan berada di bawah kasih karunia, agar kita dapat lebih banyak mengalami Kristus.
5. Berbuah Bagi Allah
Sebagai seorang istri, kita harus berbuah bagi Allah. Apakah artinya? Mengapa Paulus dalam Roma 7:4 menyinggung perkara ini? Tatkala kita berada di dalam daging, ketika kita masih menjadi suami lama, segala sesuatu yang berhubungan dengan kita tak lain adalah maut. Segala hal yang dapat kita hasilkan juga adalah maut. Setiap perkara yang kita hasilkan ialah buah-buah milik maut dan untuk maut. Kini sebagai manusia yang telah dilahirkan kembali, yakni sebagai istri, kita berbuah bagi Allah. Itu berarti setiap hal yang kita lakukan sekarang berhubungan dengan Allah. Kalau dulu, segala hakiki dan perbuatan kita adalah maut. Sebab itu dalam ayat-ayat ini kita nampak suatu kontradiksi yang jelas antara maut dengan Allah, berbuah bagi maut dan berbuah bagi Allah. Ini membuktikan ketika kita masih menjadi manusia lama, suami lama, dan terkurung di bawah hukum Taurat, setiap hakiki dan perbuatan kita adalah maut. Hasilnya kita berbuah bagi maut. Sebagai manusia baru dan istri yang menikah dengan suami baru, semua hakiki dan perbuatan kita berhubungan dengan Allah. Kita berbuah bagi Allah. Apa artinya “berbuah bagi Allah”? Artinya, Allah tertampilkan; Allah bertumbuh ke luar seperti buah-buahan. Maka segala hakiki dan perbuatan kita haruslah Allah yang hidup itu sendiri. Kita harus menghasilkan Allah, menjadi keluapan Allah. Dengan demikian, kita memiliki Allah yang hidup sebagai buah kita, bahkan kita berbuah bagi-Nya.
6. Melayani Tuhan dalam Kebaruan Roh
Sebagai seorang istri, kita pun wajib melayani Tuhan dalam kebaruan roh, bukan menurut keadaan lama, dari hukum Taurat. Istilah roh dalam ayat ini ditujukan kepada roh manusia kita yang telah dilahirkan kembali, yang di dalamnya dihuni oleh Tuhan, Roh itu (2Tim. 4:22). Kita bisa melayani Tuhan dalam kebaruan roh, karena Allah telah memperbarui roh kita. Roh manusia kita yang telah dilahir-kan kembali dan diperbarui adalah sumber dari kebaruan seluruh diri kita. Pada roh kita yang telah dilahirkan kem-bali itu, segala-galanya baru, bahkan semua yang berasal darinya pun baru. Dalam roh kita yang telah dilahirkan kembali itu tidak ada keusangan. Keusangan hanya ada pada hukum Taurat usang, tata cara usang, atau huruf usang. Maka kita tidak melayani Tuhan dalam keusangan huruf, melainkan berada dalam kebaruan roh kita yang telah di-lahirkan kembali.
Kita semua harus belajar menggunakan roh kita. Ketika Anda datang bersidang janganlah menggunakan pikiran Anda. Gunakanlah roh Anda. Jika Anda menggunakan roh Anda, niscaya Anda akan menyuplaikan sesuatu yang baru kepada saudara saudari. Begitu pula dalam membawakan berita. Kalau saya menghafalkan sejumlah bahan dalam otak saya, kemudian berusaha menyampaikan sebuah berita berdasarkan bahan-bahan itu, berita itu pasti usang, penuh dengan keusangan dari pengetahuan yang mati. Akan tetapi kalau saya melupakan semua bahan yang saya ingat, menggunakan roh saya ketika menyampaikan berita, maka sesuatu yang baru akan meluap. Saya mempunyai pengalaman serupa itu ketika saya mengadakan Sidang Istimewa Erie pada tahun 1969. Dalam sebuah sidang saya berdiri hendak berbicara, tetapi saya tidak jelas isi berita yang akan saya sampaikan. Demi iman saya berdiri sambil menggunakan roh saya. Segera, timbullah perkara ketujuh Roh yang tercantum dalam kitab Wahyu. Setiap orang yang mendengar pemberitaan saya kali itu bisa bersaksi bahwa berita itu baru, segar, berkuasa, dan hidup. Itulah hari pertama munculnya perihal Roh yang diperkuat tujuh ganda itu. Setelah itu, sekembalinya saya ke Los Angeles, topik itulah yang mendorong saya mengadakan sidang istimewa musim panas tahun 1969. Bahkan dalam pemulihan Tuhan di benua Amerika, sidang istimewa musim panas kali itu sangat menentukan, dan menyaksikan suatu peralihan yang besar.
Kita perlu terus-menerus menggunakan roh kita, karena roh kita yang telah dilahirkan kembali adalah sumber dari kebaruan. Tuhan, hayat ilahi, dan Roh Kudus, semua berhuni di dalam roh kita yang dilahirkan kembali. Segala sesuatu yang terdapat dalam roh kita yang telah dilahirkan kembali adalah baru. Jangan mengingat-ingat hukum Taurat, sebab di dalamnya tiada barang lain kecuali keusangan. Sebaliknya dalam roh kita yang telah dilahirkan kembali tidak ada yang lain kecuali kebaruan.
Sebagai manusia yang telah dilahirkan kembali, kita telah menjadi milik Kristus sebagai suami baru kita, maka kita wajib berbuah bagi Allah. Hakiki kita, perbuatan kita, milik kita, semuanya haruslah Allah sendiri. Allah meluap keluar dari diri kita, itulah yang menjadi buah kita bagi-Nya. Kita pun wajib melayani-Nya dalam kebaruan roh, bukan dalam keadaan lama menurut huruf atau hukum Taurat. Terhadap hukum Taurat kita tidak mempunyai sangkut paut apa-apa lagi. Kita telah dibebaskan darinya. Kini kita berada di bawah kasih karunia, hidup bersama dan dengan suami baru kita, yaitu Kristus.