← Daftar isi Surat Roma (2) · bab 13/16

BELENGGU HUKUM TAURAT DALAM TUBUH DAGING KITA (2)

II. TIGA HUKUM

Dalam berita sebelumnya telah kita lihat dua suami yang diwahyukan dalam Roma 7:1-6. Dalam berita ini kita akan melihat tiga hukum yang diwahyukan dalam Roma 7:7-25. Saya akan membacakan ayat-ayatnya, dan bila perlu, akan memberikan sedikit uraian.

“Jika demikian, apa yang hendak kita katakan? Apakah hukum Taurat itu dosa? Sekali-kali tidak! Sebaliknya, justru melalui hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: Jangan mengingini!” (ayat 7). Ayat ini dengan jelas sekali mengatakan bahwa hukum Taurat membuat kita mengenal dosa, karena hukum Taurat menyingkapkan dosa dan menetapkan dosa sebagai dosa.

“Tetapi dengan perintah itu dosa mendapat kesempatan untuk membangkitkan di dalam diriku rupa-rupa keinginan; sebab tanpa hukum Taurat dosa mati.” (ayat 8). Dosa mempergunakan hukum Taurat, dan hukum Taurat membantu dosa bekerja dalam diri kita. Jadi, hukum Taurat bukan diberikan untuk membantu kita, melainkan untuk membantu dosa. Tanpa hukum Taurat, atau terpisah dari hukum Taurat, dosa itu mati.

“Dahulu tanpa hukum Taurat, aku hidup. Akan tetapi, sesudah datang perintah itu, dosa mulai hidup, sebaliknya aku mati.” (ayat 9 Tl.). Hukum Taurat tidak membantu kita; ia membantu dosa. Hukum Taurat datang untuk membangkitkan dosa, menghidupkan dosa. Sebelum hukum Taurat datang, dosa tidur. Namun, ketika hukum Taurat muncul, dosa dihidupkan.

“Perintah yang seharusnya membawa kepada hidup, ternyata bagiku justru membawa kepada kematian.” (ayat 10). Meskipun hukum Taurat dianggap membawa kepada hidup, tetapi akhirnya, ia membawa kita kepada kematian.

“Sebab dengan perintah itu, dosa mendapat kesempatan untuk menipu aku dan dengan perintah itu ia membunuh aku” (ayat 11). Dosa adalah pembunuh dan hukum Taurat adalah alat pembunuh. Hukum Taurat adalah pisau yang dipakai oleh dosa untuk membunuh kita. Tanpa pisau atau alat pembunuh sukar membunuh orang. Dosa, dengan meng-gunakan hukum Taurat, mula-mula menipu kita, kemudian membunuh kita. Karena perbuatan menipu dan membunuh adalah perbuatan suatu oknum, kita harus memandang dosa sebagai penjelmaan Iblis.

“Jadi, hukum Taurat adalah kudus, dan perintah itu juga adalah kudus, benar dan baik” (ayat 12). Tidak ada per-soalan mengenai sifat hukum Taurat. Sifat, esens hukum Taurat adalah kudus, adil, dan baik.

“Jika demikian, apakah yang baik itu menjadi kematian bagiku? Sekali-kali tidak! Tetapi supaya nyata bahwa ia adalah dosa, maka dosa mempergunakan yang baik untuk mendatangkan kematian bagiku, supaya dengan perintah itu dosa lebih nyata lagi keadaannya sebagai dosa” (ayat 13). Ayat ini adalah bukti tambahan bahwa hukum Taurat tidak membantu kita. Sebaliknya, hukum Taurat membuat dosa lebih nyata lagi keadaannya sebagai dosa. Apakah Anda masih tertarik kepada hukum Taurat? Kita harus menjauhinya.

“Sebab kita tahu bahwa hukum Taurat bersifat rohani, tetapi aku bersifat (milik) daging, terjual di bawah kuasa dosa.” (ayat 14). Kata “terjual di bawah kuasa dosa” berarti terjual kepada dosa. Dosa adalah pembeli, tuan pembeli, dan kita telah dijual kepadanya.

“Sebab apa yang aku lakukan, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku lakukan, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku lakukan” (ayat 15). Kata “tidak tahu” dalam ayat ini berarti “tidak mengenal, tidak menyetujui”. Bagaimana kita dapat berkata bahwa kita tidak mengetahui apa yang kita lakukan? Tentu saja kita tahu. Ayat ini berarti bahwa Paulus tidak mengenal apa yang dia lakukan. Artinya, meskipun kita bisa bertindak salah, kita tidak mengenalnya atau menyetujuinya.

“Jadi, jika aku melakukan apa yang tidak aku kehen-daki, aku menyetujui, bahwa hukum Taurat itu baik. Kalau demikian bukan aku lagi yang melakukannya, tetapi dosa yang ada di dalam aku” (ayat 16-17). Paulus berkata, bahwa bukan dia lagi yang melakukan apa yang tidak dia kehen-daki, melainkan dosa yang ada di dalamnya. Kata “ada di dalam” tidak sama dengan kata Yunani yang di tempat lain diterjemahkan “tinggal”; kata ini adalah kata Yunani yang berarti “membuat rumah”, karena kata kerja tersebut mempunyai akar kata yang berarti rumah. Jadi, ayat ini tidak berarti bahwa dosa hanya tinggal atau berada di dalam kita sejenak, melainkan dosa membuat rumahnya di dalam kita. Jadi bukan lagi kita yang melakukan kejahatan yang tidak ingin kita lakukan, melainkan dosa yang membuat rumahnya di dalam kita.

“Sebab aku tahu bahwa di dalam aku, yaitu di dalam dagingku, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab menghendaki yang baik memang ada padaku, tetapi melakukan apa yang baik tidak” (ayat 18 Tl.). Paulus tidak berkata bahwa tidak ada sesuatu yang baik di dalamnya; dia berkata bahwa tidak ada sesuatu yang baik di dalam dagingnya. Kita harus memperhatikan kata penjelas yang dipakai Paulus “di dalam dagingku”. Jangan sekali-kali mengatakan bahwa tidak ada sesuatu yang baik di dalam Anda. Namun, di dalam daging kita, yakni di dalam tubuh kita yang telah jatuh, tidak ada yang baik. Di dalam tubuh kita yang telah jatuh, yang disebut “daging” oleh Alkitab, tinggallah dosa dengan segala nafsunya. Jadi tidak terdapat yang baik di dalam daging kita.

“Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku lakukan, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku lakukan” (ayat 19). Ayat ini membuktikan bahwa masih ada yang baik di dalam kita, karena kita masih mempunyai keinginan yang baik, keinginan untuk berbuat baik. Namun, kita tidak mampu melakukan kebaikan yang ingin kita lakukan.

“Jadi, jika aku melakukan apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang melakukannya, tetapi dosa yang tinggal di dalam aku. Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku ingin melakukan apa yang baik, yang jahat itu ada padaku” (ayat 20-21). Ayat 21 menyinggung hukum yang bekerja setiap kali kita ingin berbuat baik. Hukum ini jahat, karena setiap kali kita mencoba berbuat baik, yang jahat itu ada pada kita. Kata Yunani yang diterjemahkan “yang jahat” di dalam ayat ini berarti yang jahat karakternya.

“Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku, aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku” (ayat 22-23). Ayat 22 menyinggung hukum Allah, dan di dalam manusia batiniahnya Paulus suka kepada hukum ini. Kita boleh menomori hukum ini sebagai hukum nomor satu. Dalam ayat 23 Paulus menyinggung hukum akal budi, yang boleh kita sebut hukum nomor dua. Karena hukum ini adalah hukum akal budi, dan akal budi adalah bagian jiwa kita, ini berarti di dalam jiwa kita ada hukum. Ayat 23 juga mengatakan apa yang disebut oleh Paulus “hukum lain di dalam anggota-anggota tubuhku”. Karena hukum ini ada di dalam anggota-anggota tubuh kita, dan anggota-anggota tubuh kita adalah bagian dari daging kita, tubuh kita yang telah jatuh, berarti di dalam daging kita ada hukum lain. Hukum ini, hukum nomor tiga, berperang melawan hukum akal budi kita. Dalam 7:23 kita menemukan dua hukum yang saling bertentangan, berperang melawan satu sama lain. Paulus berkata, bahwa “hukum lain” yang ada di dalam anggota-anggota tubuh kita membuat kita menjadi tawanan hukum dosa. “Hukum dosa yang di dalam anggota-anggota tubuhku”, ditujukan kepada “hukum lain yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku” yang dikatakan lebih dulu dalam ayat tersebut. Hukum ini adalah hukum ketiga. Jadi dalam satu ayat ini, kita menemukan dua hukum: yang satu adalah hukum kebaikan di dalam akal budi kita, dan yang lain adalah hukum kejahatan di dalam anggota-anggota tubuh kita.

“Aku, manusia celaka! Siapa yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” (ayat 24). Mengapa tubuh kita disebut “tubuh maut”? Karena di dalam tubuh kita ada hukum kejahatan yang berperang melawan hukum kebaikan di dalam jiwa kita. Hukum kejahatan ini membuat tubuh kita menjadi “tubuh maut ini”. Apakah “maut ini”? Itulah maut karena dikalahkan dan ditawan oleh hukum dosa di dalam tubuh kita.

“Syukur kepada Allah melalui Yesus Kristus, Tuhan kita! Jadi, dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan dagingku aku melayani hukum dosa” (ayat 25 Tl.). Ayat ini memberi jawaban atas pertanyaan dalam ayat sebelumnya. Menurut ayat 25, kelepasan dari tubuh maut adalah melalui Tuhan kita, Yesus Kristus. Dalam ayat ini Paulus memberi tahu kita bahwa dengan akal budinya, oleh dirinya sendiri dia melayani hukum Allah; bukan di dalam rohnya, oleh Tuhan Yesus. Dia juga berkata bahwa dengan daging dia melayani hukum dosa.

Dalam 7:7-25 kita nampak tiga hukum, dan kita dapat menentukan tempatnya.

A. HUKUM ALLAH

Hukum Allah itu adil, baik, kudus, dan rohani (ayat 12, 14, 16). Hukum ini berada di luar kita, atau dapat kita katakan berada di atas kita. Hukum Allah ini mempunyai banyak permintaan dan tuntutan terhadap manusia yang telah jatuh sehingga manusia tersingkapkan (ayat 7-11).

B. HUKUM KEBAIKAN

Kalau hukum Allah berada di atas kita dan di luar kita, mempunyai banyak tuntutan atas kita, maka hukum kebaikan berada di dalam akal budi, jiwa manusia (ayat 22-23). Dapat kita katakan bahwa hukum kebaikan di dalam akal budi kita sesuai dengan hukum Allah dan memberikan reaksi terhadap tuntutan-tuntutannya, berusaha menjalankannya (ayat 18, 21, 22). Kapan saja hukum Allah mem-punyai tuntutan atas kita, hukum kebaikan di dalam jiwa kita memberikan reaksi kepadanya. Kalau hukum Allah berkata, “Hormatilah orang tuamu”, hukum kebaikan di dalam akal budi kita segera menjawab, “Amin! Aku akan melakukannya. Aku akan menghormati orang tuaku.” Ini adalah pengalaman sepanjang hidup kita. Setiap kali hukum Allah mempunyai tuntutan, hukum kebaikan di dalam jiwa kita memberikan reaksi dan berjanji untuk melakukannya.

C. HUKUM DOSA (DAN MAUT)

Namun, di dalam anggota-anggota tubuh kita ada hukum ketiga, hukum dosa, yang berperang melawan hukum kebaikan. Seperti telah kita lihat, hukum dosa berada di dalam tubuh kita yang telah jatuh, yakni daging (ayat 17-18, 20, 23). Ia selalu berperang melawan hukum kebaikan dan membuat manusia menjadi tawanan (ayat 23). Kapan saja hukum kebaikan memberikan reaksi terhadap hukum Allah dan mencoba untuk melakukan permintaan hukum Allah, saat itu juga hukum kejahatan di dalam daging kita bangun. Kalau hukum kebaikan tidak memberikan reaksi, mungkin hukum kejahatan masih tidak bergerak, seolah-olah sedang tidur. Namun, ketika hukum kejahatan mengetahui bahwa hukum kebaikan sedang memberikan reaksi, maka hukum kejahatan seolah-olah berkata, “Apakah engkau akan melakukan kebaikan menurut hukum Allah? Aku tidak akan mengijinkan!” Hukum kejahatan berperang melawan hukum kebaikan dan selalu menawan kita. Jadi, kita menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuh kita. Ini bukan doktrin, melainkan sejarah hidup kita.

Perintah “Hai suami, kasihilah istrimu”, sangat indah kedengarannya dan kelihatannya mudah dilaksanakan. Ketika perintah ini diberikan, hukum kebaikan di dalam akal budi manusia segera memberikan reaksi, “Ya, akan kulakukan.” Namun, hukum kejahatan di dalam daging mengetahui ini dan menjawab, “Apakah kamu ingin melakukan hukum ini? Tidakkah kauketahui bahwa aku ada di sini?” Akibatnya adalah kalah. Bukannya mengasihi istrinya, ia mungkin menampar istrinya atau melempar pisau dan garpu dalam amarahnya. Para istri juga mempunyai pengalaman yang sama, ketika mereka mencoba melakukan hukum yang menyuruh mereka taat kepada suami mereka. Hukum kebaikan di dalam akal budi para istri menyukai permintaan ini dan berkata, “Aku akan melakukan. Sebagai istri yang baik, tentu saja aku harus taat kepada suamiku. Aku akan berbuat demikian.” Jika seorang istri berkata demikian, dia akan menemukan bahwa hukum lain sedang menunggu kesempatan untuk menyerang. Hukum kejahatan akan berkata, “Percayakah bahwa kamu bisa melakukannya? Aku ada di sini untuk menunjukkan bahwa kamu tidak bisa.” Sekali lagi, akibatnya adalah kegagalan. Bukan saja tidak bisa taat kepada suaminya, ia bahkan marah-marah kepadanya. Beberapa menit kemudian, dia menangis karena keadaannya yang kasihan. Inilah pengalaman Roma 7.

Dalam Roma 7, kita melihat tiga hukum. Pertama, hu-kum Allah yang menuntut dan mengajukan permintaan. Kedua, hukum kebaikan di dalam akal budi kita yang cepat memberikan reaksi. Ketiga, hukum dosa di dalam anggota-anggota tubuh kita, selalu siap berperang melawan hukum kebaikan di dalam akal budi kita, bahkan mengalahkan, menawan, dan memenjara kita. Setiap hukum mempunyai aspeknya masing-masing. Roma 7 menggambarkan pengalaman kita. Mungkin sampai hari ini Anda masih saja mengulangi Roma 7. Jangan mengira Anda terkecuali. Namun, menurut ekonomi Allah, Roma 7 seharusnya tidak perlu. Sebagaimana telah kita nyatakan dalam berita yang lalu, Roma 8 merupakan kelanjutan Roma 6. Namun, karena keadaan kita yang kasihan, kita memerlukan Roma 7 untuk menyingkapkan dan membantu kita.

Ada orang Kristen yang mempertahankan dengan berkata bahwa Roma 7 harus ada, yaitu menurut pengalaman, dia harus ada di antara Roma 6 dan Roma 8. Beberapa orang Kristen yang baik berpegang pada konsepsi ini. Apakah Anda masih setuju bahwa Roma 7 perlu disisipkan di antara Roma 6 dan 8? Tidak perlu diragukan bahwa Roma 7 melukiskan pengalaman pribadi Paulus. Guru-guru Alkitab berdebat mengenai waktu kapan pengalaman ini terjadi, sebelum atau sesudah Paulus beroleh selamat. Meskipun ada yang percaya bahwa Roma 7 adalah kelanjutan pengalaman Roma 6, namun jika kita membaca Roma 6 sampai 8 dengan seksama, kita akan menemukan bahwa Roma 7 berhubugan dengan pengalaman Paulus sebelum ia diselamatkan. Dalam 7:24 Paulus berkata “Aku, manusia celaka!” Dalam 8:1 ia berkata, “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.” Roma 8:1 membuktikan bahwa pengalaman yang diceritakan dalam Roma 7 terjadi sebelum Paulus beroleh selamat. Itu bukan pengalamannya yang sekarang, karena ia berkata bahwa sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Jadi, pengalaman Roma 7 terjadi sebelum Paulus di dalam Kristus; itu adalah pengalamannya sebelum dia beroleh selamat.

Lalu mengapa Paulus merasa bahwa setelah Roma 6, ia perlu melukiskan pengalaman sebelum dia beroleh selamat? Dia memasukkannya untuk membuktikan bahwa kita tidak lagi di bawah hukum Taurat. Saya telah menyinggung bahwa Roma 7 ditulis untuk menerangkan sebuah anak kalimat dalam 6:14 yang mengatakan bahwa kita “tidak lagi di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia.” Roma 7 menyatakan kepada kita bahwa kalau kita berada di bawah hukum Taurat kita adalah manusia lama. Ketika manusia lama kita masih hidup, kita berada di bawah hukum Taurat. Namun, sebagai manusia baru yang dilahirkan kembali, kita tidak lagi berada di bawah hukum Taurat, karena suami lama kita, manusia lama yang di bawah hukum Taurat, telah disalibkan. Lalu Paulus melanjutkan bahwa betapa kasihan dan celakanya orang yang berada di bawah hukum Taurat. Seolah Paulus berkata, “Kaum saleh yang terkasih, apakah kalian masih ingin berada di bawah hukum Taurat? Kalau ya, biarlah kuceritakan pengalaman yang pernah kualami. Hukum Taurat tidak menolong kalian; dia menipu kalian dan memberi kesempatan kepada dosa untuk bekerja atas kalian. Hukum Taurat malahan membunuh kalian. Kalian tidak seharusnya ingin berada di bawah hukum Taurat lagi. Namun sekalipun kalian ingin berada di bawah hukum Taurat, kalian tidak mungkin dapat memeliharanya.” Kemudian Paulus melukiskan kisah lengkap pengalamannya sebelum ia beroleh selamat. Ia berkata bahwa hukum Allah menuntut dirinya, dan hukum kebaikan di dalam akal budinya memberikan reaksi kepada hukum Allah, namun hukum dosa di dalam anggota-anggota tubuhnya yang telah jatuh berperang melawan hukum akal budi-nya, mengalahkan hukum itu dan menawannya. Kesimpulan Paulus adalah, “Aku, manusia celaka! Tubuhku adalah tubuh maut. Aku tidak dapat melepaskan diri.” Jadi, Roma 7 adalah catatan pengalaman Paulus sebelum ia beroleh selamat, satu catatan yang membuktikan bahwa kita tidak dapat memelihara hukum Taurat, dan ia menganjuri kita agar jangan mencobanya. Kapan saja kita mencoba memelihara hukum Taurat, maka hukum ketiga, yakni hukum dosa, pasti menawan kita. Memelihara hukum Taurat adalah hal yang mustahil bagi orang yang telah jatuh.

Allah tidak memberi kita hukum Taurat dengan maksud membantu kita. Maksud diberikannya hukum Taurat adalah menggerakkan Iblis untuk menyusahkan kita. Maksud Allah dalam memberi kita hukum Taurat adalah untuk menyingkapkan adanya hukum dosa di dalam kita. Kalau kita mengira bahwa kita harus memelihara hukum Taurat, kita keliru sama sekali. Kita tidak cukup kuat untuk memenuhi permintaan-permintaan hukum itu. Tidakkah Anda ketahui bahwa hukum kejahatan di dalam Anda sebenarnya adalah persona Iblis yang kuat? Dapatkah Anda, sebagai orang yang telah jatuh, mengalahkan Iblis? Tidak mungkin. Ia adalah raksasa, dan dibandingkan dengannya, Anda adalah orang yang lemah. Anda lemah, dan hukum kebaikan di dalam Anda juga tidak berdaya. Anda mempunyai niat baik dan keinginan yang positif, tetapi Anda tidak dapat memenuhinya. Anda sebagai manusia lama, hanya baik untuk disalib dan dikubur bersama Kristus, sebagaimana Anda telah berada dalam 6:6. Tidak seharusnya Anda menarik manusia lama Anda yang telah dikubur itu keluar dari kubur dan mengharapkan dia menjalankan perintah Allah. Hukum kebaikan di dalam akal budi Anda melambangkan kekuatan Anda, dan hukum kejahatan di dalam daging Anda melambangkan kuasa Iblis. Karena Iblis lebih berkuasa daripada Anda, maka Anda tidak mungkin mengalahkan dia, sebaliknya Anda selalu ditawan olehnya begitu Anda mencoba memelihara hukum Allah. Inilah arti dan pemahaman yang tepat dari Roma 7.

Meskipun Roma 7 menggambarkan pengalaman Paulus sebelum ia beroleh selamat, itu juga melukiskan pengalaman kebanyakan orang Kristen setelah mereka diselamatkan. Saya meragukan adanya orang yang terkecuali. Setelah kita beroleh selamat, kita semua memberikan reaksi total terhadap hukum Allah. Sebagai contoh, ada seorang pemuda yang baru beroleh selamat. Ia telah bertobat dan mengaku dosa-dosanya kepada Tuhan dengan tuntas. Pada malam hari ia beroleh selamat, ia mengambil keputusan, berkata kepada dirinya sendiri, “Aku tidak seharusnya berkelakuan seperti dulu lagi. Aku tidak seharusnya melakukan kejahatan-kejahatan yang dahulu kulakukan. Malam ini aku bertekad untuk tidak lagi melakukannya.” Lalu orang yang baru bertobat ini berdoa kepada Tuhan, “Tuhan, aku sangat menyesal akan cara hidupku yang lalu. Mulai sekarang aku ingin menjadi orang Kristen yang baik. Aku tidak mau melakukan hal-hal itu lagi.” Orang muda ini adalah wakil yang tepat dari semua orang Kristen sejati. Ketika saya masih muda, saya sering melakukan hal tersebut. Kita semua telah melakukan hal yang sama di hadapan Tuhan. Tetapi kita semua dapat bersaksi bahwa kita tidak dapat melaksanakan sesuai dengan tekad kita. Kita hanya seperti ini orang dengan hukum kebaikan di dalamnya. Setelah kita beroleh selamat, hukum kebaikan di dalam akal budi kita ini memberi reaksi terhadap hukum Allah di luar kita, dan kita bertekad untuk menjadi orang yang lebih baik.

Beberapa orang Kristen dengan keliru memberi tahu orang bahwa di dalam mereka sama sekali tidak ada kebaikan. Ketika beberapa orang pengkhotbah berkata demikian, ada beberapa orang profesor yang mendebat, “Aku tidak percaya perkataan ini. Aku dapat bersaksi bahwa di dalamku terdapat sesuatu yang baik. Aku menghormati ibuku dan dengan sugguh-sungguh mencintainya. Bukankah ini sesuatu yang baik di dalamku? Aku juga telah bertekad untuk bertindak adil terhadap murid-muridku. Bukankah ini berarti di dalam diriku ada sesuatu yang baik? Bagaimana Anda dapat berkata, tidak ada sesuatu yang baik di dalam manusia?” Kita harus berhati-hati mengenai hal ini, seperti juga Paulus dalam menulis Roma 7. Paulus berkata “Di dalam aku, yaitu di dalam dagingku, tidak ada sesuatu yang baik” (Tl.). Kalau dia tidak menambahkan penjelasan ini, perkataannya saling bertentangan, karena dalam ayat berikutnya dia menyinggung keinginannya untuk berbuat baik. Manusia terdiri atas tiga bagian: roh, jiwa dengan akal budi, dan tubuh dengan anggota-anggotanya. Di dalam anggota-anggota tubuh kita yang telah jatuh, tidak ada sesuatu yang baik. Bagaimanapun kita harus ingat bahwa manusia diciptakan dengan baik oleh Allah, dan sedikit banyak masih ada kebaikan di dalam manusia. Misalnya, jika Anda mengambil sekeping logam dan melemparkannya ke dalam lumpur, ia bisa tercemar, tetapi sifatnya masih tetap logam. Anda tidak bisa berkata bahwa logam itu bukan lagi logam. Manusia diciptakan oleh Allah, dan Allah tidak pernah menciptakan sesuatu yang tidak baik. Segala sesuatu yang diciptakan Allah itu baik, termasuk manusia ciptaan Allah. Tak peduli bagaimana parahnya kejatuhan manusia, kebaikan dari ciptaan Allah tetap ada padanya. Bahkan perampok bank masih mempunyai unsur kebaikan di dalam dirinya, suatu unsur yang diciptakan oleh Allah.

Meskipun manusia diciptakan baik, sifat jahat Iblis telah disuntikkan ke dalam tubuhya ketika ia makan buah pohon pengetahuan. Pohon pengetahuan melambangkan Iblis, si jahat itu, yang mempunyai kuasa maut. Jadi, ketika manusia makan buah pohon pengetahuan, Iblis masuk ke dalam tubuhnya. Prinsip Iblis, faktor setiap kejahatan, adalah hukum dosa. Di dalam akal budi kita, kita mempunyai suatu prinsip yang diciptakan oleh Allah, yakni hukum kebaikan. Jadi, jika kita mengerti Roma 7 dengan memadai, kita akan mengetahui di mana kita berada, dan apa yang ada di dalam kita. Kita mempunyai hukum kebaikan di dalam akal budi kita, dan hukum kejahatan di dalam daging kita; dua hukum yang bertentangan. Hukum kebaikan mewakili prinsip kebaikan yang diciptakan Allah, dan hukum kejahatan adalah prinsip Iblis di dalam daging kita. Iblis di dalam daging kita membenci Allah, menipu manusia, dan berusaha sekuatnya untuk merusak dan menghancurkan sifat manusia. Jadi, kapan saja akal budi manusia demi hukum kebaikan berpikir hendak berbuat baik, hukum kejahatan segera bangun memerangi, mengalahkan, dan menawan manusia celaka yang kasihan. Demikianlah pengalaman Paulus sebelum ia beroleh selamat, ketika ia sebagai seorang pengikut agama Yahudi yang berapi-api dan pen-cinta hukum Taurat. Siang malam dia berusaha memelihara hukum Allah. Akhirnya dia menyadari bahwa hukum Allah berada di luarnya; hukum kebaikan yang memberikan reaksi kepada hukum Allah ada di dalam akal budinya; dan kapan saja dia ingin berbuat baik, hukum lain di dalam anggota-anggota tubuhnya berperang melawan hukum kebaikan di dalam akal budinya, menawan dia dan menjadikannya celaka. Paulus menemukan bahwa tubuhnya adalah tubuh maut. Dalam hal memelihara hukum Allah, dalam hal berbuat kebaikan untuk diperkenan Allah, tubuh maut ini seperti mayat saja. Paulus mulai mengenal bahwa dia tidak berpengharapan dikarenakan unsur dosa yang begitu berkuasa tinggal di dalam tubuhnya yang telah jatuh. Inilah gambaran yang jelas dilukiskan dalam Roma 7. Begitu kita nampak gambaran ini, kita akan memuji Tuhan karena Dia tidak menyuruh kita memelihara hukum-Nya.

Roma 7 mewahyukan bahwa suatu peperangan sedang berlangsung dengan serunya di dalam kita. Hukum kebaik-an yang memberikan reaksi terhadap hukum Allah, ada di dalam akal budi kita; hukum dosa ada di dalam anggota-anggota tubuh kita dan berperang melawan hukum kebaikan. Peperangan ini sangat seru. Beberapa guru Alkitab berkata bahwa peperangan dalam Roma 7 sama dengan peperangan dalam Galatia 5. Sebenarnya tidak sama. Jika kita meneliti Galatia 5, kita akan nampak perbedaannya. Na-mun, sebelum kita berpindah ke Galatia 5, saya ingin berkata sedikit mengenai daging.

Beberapa orang Kristen mempertahankan konsepsi bah-wa sebelum mereka beroleh selamat mereka mempunyai nafsu di dalam daging mereka, tetapi setelah mereka beroleh selamat, nafsu tersebut hilang. Ada suatu aliran yang mengajarkan demikian. Ajaran itu mengatakan bahwa sebelum kita beroleh selamat, di dalam daging kita ada nafsu, tetapi setelah beroleh selamat, nafsu itu telah lenyap. Menurut ajaran itu, daging orang yang telah beroleh selamat menjadi baik.

Sebagai perbedaan yang nyata dengan aliran itu, kita mempunyai Galatia 5:16 yang mengatakan, “Hiduplah oleh (berjalanlah menurut) Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan (nafsu) daging.” Tentu saja “kamu” mengacu kepada orang Kristen sejati. Jadi, masih mungkin bagi orang beriman yang sejati untuk menuruti nafsu daging, karena keinginan (nafsu) ini masih di dalam kita. Tak peduli kita ini orang beriman yang betapa sejatinya, kita harus selalu waspada dan tidak sampai tertipu oleh musuh yang mungkin memberi tahu kita bahwa kita tidak mempunyai nafsu lagi di dalam daging kita. Konsepsi itu mengerikan dan menyesatkan.

Izinkan saya mengisahkan suatu peristiwa yang terjadi di China Utara beberapa tahun yang lalu. Suatu gerakan Pentakosta yang istimewa sangat menonjol di daerah itu, melanda China Utara. Mereka mengatakan, karena mereka telah menerima baptisan Roh Kudus, mereka tidak lagi mempunyai nafsu. Akibat ajaran ini, laki-laki dan perempuan tinggal bersama-sama sambil mengatakan bahwa mereka rohani dan tanpa nafsu. Tak lama kemudian terjadi banyak perzinahan, dan gerakan itu hampir punah. Dampaknya, beberapa waktu lamanya penginjilan menjadi sangat sukar, karena orang China, terutama karena ajaran etika Kong Hu Cu, membenci segala macam perzinahan. Jadi, gerakan tersebut memberikan nama buruk terhadap kekris-tenan di China Utara. Kita harus selalu menolak ajaran yang menipu yang mengatakan bahwa karena kita adalah anak-anak Allah dan memiliki Roh Kudus, maka kita tidak mempunyai nafsu di dalam daging kita.

Paulus berkata, “Berjalanlah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan (nafsu) daging” (Tl.). Dilanjutkan olehnya bahwa “keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging” (Gal. 5:17). Ini bukan peperangan antara hukum kejahatan dengan hukum kebaikan; ini adalah peperangan antara daging dengan Roh. Daging dan Roh saling berlawanan. Hal ini membuktikan, sekalipun kita berjalan di dalam Roh, di dalam daging kita masih ada nafsu, dan daging kita masih tetap merupakan musuh Roh. Tuhan Yesus berkata, “Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging” (Yoh. 3:6). Daging adalah daging, dan tidak ada yang dapat mengubah sifatnya. Jangan sekali-kali menerima pemikiran bahwa setelah Anda menjadi rohani, daging Anda pun diperbaiki. Ajaran ini adalah kesalahan yang besar dan berbahaya.

Galatia 5:24 mengatakan, “Siapa saja yang menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.” Roma 6:6 mengatakan, “Manusia lama kita telah turut disalibkan”. Galatia 5:24 bukan mengatakan bahwa daging, hawa nafsu, dan keinginan telah disalibkan, melainkan mengatakan kita harus menyalibkan daging dengan hawa nafsu dan keinginan. Pikiran ini sama dengan pikiran yang tercantum dalam Roma 8:13 yang mengatakan, “oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu”. Kita tidak dapat menyalibkan manusia lama kita, karena manusia lama itu adalah diri kita. Tidak ada seorang pun bisa memaku diri sendiri ke atas salib, atau bunuh diri. Tetapi kita dapat menyalibkan daging kita oleh Roh Kudus, yaitu terus-menerus menaruh daging kita pada maut. Manusia lama kita sudah disalibkan sekali untuk selamanya bersama Kristus, namun kita harus dari hari ke hari dan tak putus-putusnya menyalibkan daging kita. Kemudian Galatia 5:25 mengatakan, “Jika kita hidup dalam Roh, baiklah hidup kita juga harus bertindak di dalam Roh” (Tl.).

Demikianlah Galatia 5 menyingkapkan peperangan antara daging kita dengan Roh Kudus. Meskipun banyak penerjemah Alkitab merasa sulit menentukan, apakah roh dalam Galatia 5:25 ditujukan kepada roh kita atau Roh Kudus; saya yakin ini menunjukkan roh yang berbaur, yaitu perbauran Roh Kudus dengan roh kita yang telah dilahirkan kembali. Kita harus berjalan dalam roh yang demikian. Jadi peperangan dalam Galatia 5 adalah peperangan antara daging kita dengan Roh. Peperangan ini berbeda sekali dengan peperangan dalam Roma 7.

Peperangan yang disinggung dalam Roma 7 adalah peperangan antara dua hukum, yaitu hukum kebaikan dan hukum kejahatan, sama sekali tidak bersangkut paut dengan roh. Para pengarang kuno di China malahan pernah me-ngatakan “pertentangan antara prinsip dan nafsu.” “Prinsip” ini tak lain ditujukan kepada hukum kebaikan. Mereka menyebutkan pula, nafsu yang berlawanan dengan prinsip itu ada di dalam tubuh manusia. Ketika saya masih muda, saya pernah membandingkan peperangan antara prinsip dengan nafsu ini dengan Roma 7, sangat menakjubkan bahwa saya menemukan bahwa keduanya serupa. Karena itu, ketika mendengar beberapa guru Kristen menyatakan bahwa Roma 7 mengisahkan pengalaman Paulus setelah ia beroleh selamat, saya menjadi bingung. Karena karangan-karangan China kuno saja membicarakan peperangan antara prinsip dengan nafsu, dan karena hal ini serupa dengan pengalaman Paulus dalam Roma 7, bagaimana mungkin kita mengatakan Roma 7 merupakan pengalaman orang Kristen?

Roma 7 mengisahkan pengalaman Paulus sebelum ia beroleh selamat. Sebelum beroleh selamat, ia amat gairah terhadap hukum Allah, mencoba memeliharanya dan berusaha berbuat baik agar menyukakan Allah. Kendati orang-orang China ratusan tahun yang lalu tidak mengenal hukum Allah, tetapi mereka paham juga tentang sifat baik manusia seperti yang tercantum dalam Roma 2:14-15. Menurut Roma 2, ketika tercipta, manusia mengandung tiga hal yang positif di dalam pembentukannya. Yang pertama adalah sifat baik manusia, karena orang kafir pun menurut pembawaannya memelihara hukum (2:14), menandakan bahwa fungsi hukum tertulis di dalam hati mereka (2:15). Yang kedua, manusia mempunyai hati nurani (2:15). Yang ketiga, memiliki akal budi yang dapat menuduh, memaafkan, menghukum, dan membenarkan (2:15). Setiap manusia mengandung tiga unsur ini. Anda tidak perlu percaya kepada Kristus untuk memperolehnya. Setiap manusia mempunyai sifat baik, hati nurani, dan akal budi. Dengan adanya ketiga unsur ini di dalam manusia, timbullah peperangan antara hukum kebaikan dan hukum kejahatan; atau menurut tulisan-tulisan kuno China, prinsip berperang melawan nafsu.

Roma 7 menunjukkan peperangan ini. Mengapa banyak orang kristen mengalami peperangan demikian setelah mereka berolah selamat? Itu dikarenakan mereka mengabaikan sikap dan kelakuan mereka sebelum mereka berolah selamat. Tidak seperti Paulus, mereka tidak pernah bermaksud berbuat baik dan mencari perkenan Allah. Akan tetapi, banyak orang baik, bahkan dari seluruh dunia, ingin mengalahkan hawa nafsu mereka. Orang-orang ini tentu mengalami Roma 7, mengalami pertentangan antara hukum kebaikan dan hukum kejahatan. Jadi, Roma 7 tidak menggambarkan peperangan antara Roh dengan daging seperti yang diwahyukan dalam Galatia 5. Peperangan yang terkandung dalam Galatia 5 adalah pengalaman khas orang-orang Kristen; dan peperangan yang terkandung dalam Roma 7 merupakan pengalaman orang-orang yang berusaha berbuat baik, tak peduli mereka orang Kristen atau bukan. Kebanyakan orang Kristen berpengalaman serupa Roma 7 setelah mereka beroleh selamat, ini disebabkan setelah diselamatkan mereka memutuskan untuk berhati-hati terhadap kelakuannya sambil mencoba menjadi baik sedapat mungkin. Akibatnya, setelah mereka beroleh selamat, mereka mengalami apa yang dikenal Paulus sebelum ia beroleh selamat. Orang Kristen semacam ini sebenarnya melakukan hal yang sama dengan yang berusaha dilakukan oleh orang-orang China ratusan tahun yang lalu. Bagaimanapun pertentangan yang terdapat dalam Roma 7, tak peduli apakah ini dialami sebelum atau sesudah beroleh selamat, sekali-kali bukanlah pengalaman orang Kristen teladan. Itu tak lain pengalaman manusia alamiah kita. Orang-orang yang mencoba berbuat baik sebelum mereka beroleh selamat, memiliki pengalaman ini sebelum mereka beroleh selamat. Yang lain mengalami hal ini setelah beroleh selamat, setelah mereka memutuskan berbuat baik serta mencari perkenan Allah.

Di dalam setiap orang, baik yang sudah atau belum beroleh selamat, memang terkandung unsur kebaikan di dalam pikirannya, dan unsur jahat di dalam tubuhnya, yakni daging. Sedikitnya Paulus menggunakan tiga istilah untuk menggambarkan unsur jahat dosa, kejahatan, dan hukum dosa. Paulus menyebut unsur kebaikan di dalam akal budinya itu sebagai “hukum akal budiku”. Hukum akal budi ini adalah hukum kebaikan. Jadi, kita memiliki dua hukum, yang satu di dalam akal budi kita dan yang lainnya di dalam tubuh kita yang telah jatuh. Kita mempunyai dua hukum ini karena sedikitnya kita memiliki dua hayat. Masing-masing hayat memiliki hukumnya sendiri. Mengapa kita mempunyai hukum kebaikan? Karena kita memiliki hayat kebaikan. Mengapa kita mempunyai hukum dosa? Karena kita memiliki hayat yang penuh dosa. Setiap orang memiliki dua hayat ini hayat baik yang diciptakan Allah, dan hayat Iblis yang masuk ke dalam tubuh manusia karena kejatuhan.

Beberapa orang mempertahankan pendapat bahwa sifat manusia memang jahat; sedang lainnya mengatakan baik. Pada suatu hari, ketika saya membaca Roma 7, saya menemukan jawaban dari perbantahan ini. Kedua pendirian itu betul; namun hanya betul sebagian. Kedua pendirian itu benar, karena manusia tidak sederhana, melainkan sangat kompleks. Misalnya, pada pagi hari boleh jadi seseorang kelihatan manis, berkelakuan sebagai orang bermoral. Ia memiliki hayat manusia dan bersikap sebagai manusia seturut hukum manusianya. Tetapi malam harinya, ia berkunjung ke tempat perjudian, bertindak seperti Iblis. Dia itu Iblis atau manusia? Jawaban yang tepat adalah kedua-duanya.

Selama menempuh perjalanan di padang gurun, bani Israel melontarkan ucapan-ucapan melawan dan menggerutu terhadap Allah dan Musa, sehingga Allah membiarkan mereka dipagut oleh ular tedung berbisa, yang membuat banyak orang dari antara mereka mati (Bil. 21:4-9). Ketika orang-orang berdoa kepada Allah, Allah menyuruh Musa meninggikan sebuah ular tembaga di atas sebuah tiang. Bani Israel itu ular atau manusia? Mereka itu manusia, karena mereka memiliki rupa dan hayat manusia. Mereka pun boleh disebut ular, karena racun ular telah masuk ke dalam mereka bahkan meresapi mereka. Karena itulah seekor ular tembaga ditinggikan sebagai wakil dan pengganti mereka. Bani Israel adalah manusia pun ular. Demikianlah Tuhan Yesus menegur orang Farisi, “Kalian keturunan ular beludak.” Di satu pihak, orang Farisi adalah keturunan manusia; di pihak lain, mereka adalah keturunan ular berbisa. Kita semua mempunyai dua sifat: yang satu baik, karena diciptakan oleh Allah; yang satu lagi jahat, karena itu adalah sifat Iblis yang diinjeksikan ke dalam tubuh kita di saat kejatuhan. Sifat baik terdapat di dalam akal budi kita, dan sifat jahat terdapat di dalam daging kita, yaitu tubuh kita yang telah jatuh. Masing-masing sifat memiliki hukumnya sendiri. Kedua hukum tersebut berperang satu sama lain. Bila Anda mencoba berbuat baik, entah sesudah atau sebelum beroleh selamat, Anda pasti menemukan peperangan antar kedua hukum ini. Jika Anda bersikap masa bodoh, Anda mungkin tidak akan menyadarinya. Namun, bila Anda berusaha menjadi baik, Anda akan menemukan kedua hukum itu ada di dalam Anda. Sebelum beroleh selamat, Anda mencoba sebisanya menjadi baik, namun akhirnya Anda gagal. Anda menemukan bahwa di dalam Anda terjadi pertarungan antar dua hal. Inilah sebabnya sebagian orang mencoba memperkuat tekadnya untuk mengendalikan dan menindas hawa nafsu yang terkandung di dalam tubuh mereka. Tidak peduli bagaimana usaha mereka, akhirnya tidak ada seorang pun yang benar-benar berhasil.

Jadi, Roma 7 bukanlah pengalaman teladan orang Kristen. Selama Anda masih seseorang yang berusaha berbuat baik, Anda pasti mengalami pertentangan yang dilukiskan dalam Roma 7. Pengalaman dalam Roma 7 adalah bagi orang-orang semacam itu.

D. TUBUH MAUT INI

Dalam Roma 6:6, tubuh kita yang telah jatuh disebut “tubuh dosa”, tetapi 7:24 menyebutnya “tubuh maut ini”. “Tubuh dosa” berarti tubuh yang dihuni, diduduki, dimiliki, dan diperalat oleh dosa untuk melakukan hal-hal dosa. Sebab itu dalam berbuat dosa, tubuh kita aktif, cakap, dan penuh tenaga. “Tubuh maut” berarti, tubuh yang kena racun, menjadi lemah, lumpuh, dan mati, tidak sanggup memelihara hukum dan berbuat baik untuk menyukakan Allah. Jadi dalam hal memelihara hukum Allah dan mengamalkan kebaikan untuk mencari perkenan Allah, tubuh itu lemah dan tak berdaya; bahkan seperti mayat. Kita semua sudah mengalami betapa cakap dan kuatnya tubuh kita dalam hal berbuat dosa; bahkan tidak kenal lelah. Namun dalam hal memelihara hukum Allah atau melakukan kebaikan untuk mencari perkenan Allah, tubuh ini mencapai puncak kelemahannya, seolah-olah sudah mati. Jadi, bila kita mencoba memelihara hukum atau mencari perkenan Allah berdasarkan diri sendiri, ini seolah menyeret sesosok mayat. Semakin berusaha melakukan yang baik, semakin banyak maut yang dibawakan oleh tubuh kita. Sebab itu Rasul Paulus menyebut tubuh kita ini “tubuh maut ini”, artinya dia mati dalam hal mencoba memelihara hukum dan mencari perkenan Allah.

Mengenai tubuh dosa, yang aktif dan penuh tenaga bersama hawa nafsunya dalam berbuat dosa, kita tidak perlu berusaha menekannya dengan tekad yang kuat atau dengan cara-cara lain. Roma 6:6 memberi tahu kita bahwa setelah manusia lama kita tersalib bersama Kristus, “tubuh dosa” kita sudah “kehilangan fungsi”, artinya sekarang tubuh dosa kita “menganggur.” Berhubung orang yang berdosa, yakni manusia lama sudah tersalib, maka tidak ada lagi pekerjaan bagi tubuhnya, dan ia menjadi penganggur.

Mengenai tubuh maut, kita tidak perlu lagi menyeret-nyeretnya. Karena kita adalah manusia baru yang telah dilahirkan kembali dan dibebaskan dari hukum manusia lama, kita tidak perlu meronta untuk memelihara hukum, sebab perontaan sedemikian hanya membuat tubuh yang telah jatuh, yakni daging, makin mati. Asal kita hidup ber-sandar manusia baru bersama suami baru kita, yakni Kristus yang hidup, kita dimerdekakan dari hukum dan di-lepaskan dari daging dan dari hukum dosa yang bercokol di dalamnya.

E. CELAKANYA MANUSIA KARENA MENCOBA MEMENUHI HUKUM TAURAT

Manusia telah menjadi bersifat daging, terjual di bawah kuasa dosa (7:14). Dalam daging manusia tidak ada sesuatu yang baik (7:18), dan manusia tak mampu menguasai dosa (7:15-20). Dalam situasi semacam ini, jika manusia mencoba memenuhi hukum Allah seperti yang Paulus lakukan, hasilnya pasti adalah kegagalan. Siapa saja yang berusaha demikian niscaya gagal dan menjadi orang yang celaka. Orang yang jatuh dan mengandung hukum dosa di dalam dagingnya, tidak bisa ditolong dan tidak berpengharapan. Setelah kita diselamatkan, kita tidak seharusnya berusaha memenuhi hukum Allah atau berbuat baik untuk menyukakan Allah. Bila kita mencoba, kita pasti akan mengalami Roma 7 dan menjadi orang yang celaka. Kita wajib mengenal bahwa manusia lama kita telah tersalib bersama Kristus, dan sebagai manusia baru, kita telah dimerdekakan dari hukum manusia lama, bahkan sudah dinikahkan dengan suami baru, yakni Kristus yang telah bangkit, sehingga kita bisa berbuah bagi Allah sambil melayani Allah di dalam kebaruan roh.