← Daftar isi Surat Roma (2) · bab 14/16

KEBEBASAN ROH ITU DI DALAM ROH KITA (1)

I. HUKUM ROH HAYAT

Dalam Roma 5 kita nampak karunia di dalam Kristus jauh melampaui warisan di dalam Adam. Roma 6 memperlihatkan penyatuan kita dengan Kristus. Roma 7 memperlihatkan belenggu hukum Taurat dalam daging kita. Roma 8 berlawanan dengan Roma 7. Dalam Roma 7 ada belenggu, sedang dalam Roma 8 ada kebebasan; dalam Roma 7 ada Taurat, dalam Roma 8 ada Roh Kudus. Dalam Roma 7 ada daging, dalam Roma 8 ada roh kita. Roma 7 menyingkapkan belenggu hukum Taurat di dalam daging, sedang Roma 8 menyingkapkan kebebasan Roh itu di dalam roh kita.

Kita perlu membaca Roma 8:1-6 dengan teliti dan cermat. “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Hukum Roh hayat telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut” (8:1-2 Tl.). Kata “Hukum Roh hayat” sangat berarti. Dalam frase ini kita nampak tiga unsur yang membentuk satu kesatuan hukum, Roh, dan hayat. Ketiganya adalah satu.

“Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tidak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan mengutus Anak-Nya sendiri sebagai manusia yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa dan untuk menghapuskan dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging” (8:3). Allah adalah subyek kalimat ini. Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam tubuh Kristus dengan “mengutus Anak-Nya sendiri sebagai manusia yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa dan untuk menghapuskan dosa.”

“Supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh. Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh” (8:4-5). Di dalam daging, Allah telah menjatuhkan hukuman atas dosa, agar tuntutan kebenaran hukum Taurat digenapi di dalam kita, yang hidup menurut roh. Mereka yang hidup menurut roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh. Perhatikanlah, kali pertama ayat 5 mengetengahkan roh, yang dimaksud adalah roh manusia, sedang yang kedua ditujukan kepada Roh Kudus. Itu berarti mereka yang menurut roh memikirkan hal-hal Roh Kudus.

“Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera” (8:6). Menaruh pikiran di atas roh adalah hidup dan damai sejahtera. Setiap kata dalam Roma 8:1-6 sangatlah berharga. Dalam ayat-ayat tersebut, sekata pun jangan kita lewatkan begitu saja. Karena keterbatasan waktu, saya hanya dapat memberikan garis besar Roma 8.

A. ROH HAYAT

Sebelum kita membahas Roma 8, kita perlu merenungkan satu istilah yang mulia dan ajaib yang terdapat dalam 8:2, “Roh hayat”. Istilah ini hanya terdapat satu kali dalam seluruh Alkitab. Dalam Surat Roma, sampai pada pasal 8:2 baru mewahyukan istilah ini. Akan tetapi sebelum pasal 8 kita dapati beberapa acuan tentang hayat ilahi, kekal, dan bukan ciptaan. Kata “hayat” kali pertama dipakai dalam surat Roma adalah dalam 1:17, yang mengatakan bahwa orang benar akan memiliki hayat dan hidup oleh iman. Hayat yang tercantum dalam ayat itu ialah hayat ilahi. Pemunculan yang kedua terdapat pada 2:7, “yaitu hidup (hayat) kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik . . .” Jika kita dengan tekun mencari Allah, Ia akan mengaruniakan kepada kita hayat yang kekal. Roma 5:10 mengatakan bahwa kita akan diselamatkan dalam hayat-Nya; sedangkan 5:17 menerangkan bahwa setelah kita menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, maka kita akan berkuasa dalam hayat. Roma 5:18 mengatakan tentang pembenaran hayat (atau beroleh hayat demi pembenaran). Roma 5:21 mengatakan bahwa kasih karunia akan berkuasa untuk hidup yang kekal. Roma 6:4 mengatakan bahwa kita akan hidup dalam kebaruan hayat. Roma 6:22-23 mengatakan bahwa hayat kekal adalah akibat pengudusan, dan karunia cuma-cuma Allah di dalam Kristus Yesus Tuhan adalah hayat kekal. Jadi, dalam enam pasal di depan banyak disebut hayat ilahi. Hayat ialah tujuan karunia keselamatan Allah. Allah telah menebus, membenarkan, dan mendamaikan kita dengan-Nya, agar kita dapat berbagian dalam hayat ini. Begitu kita menerimanya, kita perlu diselamatkan dalam hayat, berkuasa di dalam hayat, menempuh hidup dalam kebaruan hayat, dan dikuduskan dalam hayat.

Meskipun beberapa pasal di depan dari Surat Roma mengatakan bahwa kita akan diselamatkan, berkuasa, hi-dup, dan dikuduskan dalam hayat, namun Paulus belum memberi tahu kita bagaimana kita bisa diselamatkan dan berkuasa dalam hayat? Bagaimana kita bisa hidup dalam kebaruan hayat, dan bagaimana pula kita bisa mengalami pengudusan dalam hayat? Semuanya itu belum diterangkan oleh Paulus kepada kita. Ia pun belum menjelaskan bagaimana orang benar itu akan hidup. Sekalipun ia mengatakan bahwa hayat berasal dari iman, tetapi hal itu belum dijelaskan. Dalam Roma 1—6 Paulus menyinggung masalah hayat sebanyak 9 kali. Sekarang, dalam Roma 8:2, secara mendadak ia menggabungkan masalah hayat dengan Roh dalam frase “Roh hayat”.

Jalan mendapatkan hayat adalah Roh itu, jalan diselamatkan dalam hayat adalah Roh itu, jalan untuk berkuasa dalam hayat adalah Roh itu, jalan hidup di dalam kebaruan hayat adalah Roh itu, jalan dikuduskan dalam hayat adalah Roh itu. Roh itu adalah jalannya. Hayat itu milik Roh itu, Roh itu berasal dari hayat. Keduanya sebenarnya adalah satu. Kita mustahil memisahkan hayat dari Roh itu, atau memisahkan Roh itu dari hayat. Tuhan Yesus sendiri berkata, “Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah Roh dan hayat” (Yoh. 6:63). Dalam perkataan itu, Tuhan Yesus menyatukan Roh dengan hayat. Bila kita memiliki Roh itu, kita memiliki hayat; bila kita tidak memiliki Roh itu, kita tidak memiliki hayat. Jika kita berjalan dalam Roh, berarti kita berjalan dalam hayat; jika kita tidak berjalan dalam Roh, kita pun tidak berjalan dalam kebaruan hayat itu. Maka jalan untuk mengalami hayat ilahi, kekal, dan bukan ciptaan adalah Roh itu. Dengan demikian, kita nampak hubungan antara Roma 8 dengan pasal-pasal sebelumnya. Ketujuh pasal di depan membawa kita kepada hayat dan mencapai kesempurnaan dalam hayat. Kini dalam Roma 8:2, kita justru berada pada hayat ini. Jadi, kita harus memperhatikan secara khusus istilah “hayat” dalam Roma 8 ini.

B. HAYAT EMPAT GANDA

Dalam Roma 8 istilah hayat dipakai sebanyak 4 kali. Ayat 2 menyebutkan hukum Roh hayat, ayat 6 mengatakan keinginan menaruh pikiran di atas roh adalah hayat. Ayat 9-10 mengatakan bahwa jika Kristus ada di dalam kita, maka roh kita adalah hayat oleh karena kebenaran. Ayat 11 mengatakan Roh yang berhuni di batin itu akan memberi hayat kepada tubuh kita yang fana. Pada pasal ini kali pertama hayat dihubungkan dengan Roh Kudus, kali kedua dihubungkan dengan pikiran kita, kali ketiga dihubungkan dengan roh kita, dan kali keempat dihubungkan dengan tubuh kita. Maka Roma 8 menunjukkan kepada kita adanya hayat yang empat ganda. Pertama, hayat adalah Roh. Kemudian Roh itu masuk ke dalam roh kita agar roh kita menjadi hayat. Lalu Roh itu dari roh kita meluas sampai ke dalam pikiran kita, hingga pikiran kita menjadi hayat. Roh itu bahkan memberikan hayat kepada tubuh kita yang fana, agar tubuh dosa itu menjadi tubuh hayat. Kita memiliki hayat yang empat ganda. Semuanya berfokus pada berdiamnya Roh Kudus di dalam roh kita. Hayat itu akan meluas dari roh kita ke pikiran kita, dan melalui segenap jiwa kita, bahkan mencapai seluruh anggota tubuh kita. Akhirnya, seluruh diri kita akan dipenuhi oleh hayat, dan kita akan menjadi manusia hayat. Sudahkah Anda nampak hal ini? Kita boleh menyebutnya hayat yang empat ganda. Roh Kudus adalah hayat, roh kita adalah hayat, pikiran kita adalah hayat, dan bahkan tubuh kita pun adalah hayat. Demikianlah hubungan antara Roma 8 dengan pasal-pasal yang di depan, adalah hayat ditambah Roh itu.

C. HUKUM ROH HAYAT

Dalam Roma 8 tidak saja ada Roh hayat, juga ada hukum Roh hayat. Kata “hayat” menunjukkan bahwa Roma 8 adalah lanjutan Roma 6, sebab Roma 6 berakhir dengan hayat. Kata “hukum” pun menunjukkan Roma 8 sebagai kelanjutan Roma 7, sebab pasal 7 membahas masalah hukum. Dalam Roma 8, Paulus meneruskan pembahasannya mengenai hukum. Dalam pasal 7 ia mengemukakan tiga buah hukum: hukum Allah, hukum kebaikan, dan hukum dosa. Jika hanya terdapat tiga hukum itu saja, kita semua akan berseru, “Oh, aku manusia celaka!” Hukum Allah itu benar, suci, baik, dan alkitabiah. Namun bila hukum itu makin suci dan adil, maka makin besar pula permintaannya terhadap kita. Mengapa tuntutan hukum Allah begitu hebat terhadap manusia? Sebab hukum Allah itu kudus, adil, dan baik. Kalau hukum itu buruk, sudah tentu permintaannya pun sangat rendah. Namun hukum Allah itu kudus dan adil. Hukum itu hanya menuntut, tidak menyuplai. Galatia 3:21 menerangkan bahwa hukum itu tidak dapat memberi hayat kepada manusia. Allah menurunkan hukum Taurat bukan untuk menyuplai, melainkan untuk menuntut manusia. Berhubung kita mengira diri sendiri baik, kita memerlukan hukum itu untuk menyingkapkan keadaan kita yang sebenarnya, supaya kita menyadari bahwa diri kita sebenarnya tidak baik.

Ingatkah Anda, ketika hukum Taurat itu diturunkan bagaimana keadaannya? Demi kasih karunia Allah, Dia telah membawa umat-Nya keluar dari Mesir. Keluar dari Mesir itu bisa terlaksana sekali-kali bukan karena mereka menaati hukum Taurat, melainkan karena kemurahan Allah melepaskan mereka melalui penebusan-Nya. Ketika Allah membawa umat Israel ke kaki gunung Sinai, maksud Allah ialah agar mereka menjadi suatu kerajaan imamat (Kel. 19:3-6). Meskipun mereka setuju akan hal itu, namun Allah tahu bahwa mereka tidak mengenal keburukan diri sendiri. Maka Allah mengadakan pertemuan dengan umat-Nya melalui Musa dengan maksud memberikan hukum Taurat kepada mereka. Suasana saat itu mendadak berubah menjadi sangat menakutkan, sehingga seluruh umat ketakutan. Dalam suasana demikianlah Allah menurunkan hukum Taurat kepada bangsa Israel. Tetapi ketika hukum Taurat masih diberikan di atas gunung, mereka di bawah sudah membuat sebuah berhala, patung lembu emas. Jelas mereka sudah melanggar hukum Taurat sebelum hukum Taurat itu diterima. Melihat keadaan demikian Musa menjadi sangat marah dan membanting kedua loh batu hukum Taurat itu hingga hancur.

Kita tidak dapat menaati hukum Taurat. Jangan sekalikali mengira bahwa hukum Taurat itu diberikan untuk kita jalankan. Sebaliknya kita harus bersujud di hadapan Allah yang penuh rahmat dan pemurah, dan berkata kepada-Nya, “Ya Tuhan, aku tak berdaya menuruti hukum Taurat-Mu, atau melakukan kebajikan apa pun untuk memperoleh perkenan-Mu.” Untuk membawa kita kepada kesimpulan yang demikian, maka Paulus menulis Roma 7 sebagai penjelasan masalah hukum Taurat tersebut. Paulus benar-benar seorang penulis yang pandai, dan pemikirannya sangat dalam. Setiap pasal dari Surat Roma ditulisnya berdasarkan Perjanjian Lama, dan di bawah penerangan dan pengenalan terhadap Perjanjian Lama.

Dalam Roma 7 Paulus membahas masalah hukum Taurat. Paulus memperlihatkan kepada kita bahwa di luar tubuh kita terdapat hukum Taurat Allah dengan berbagai macam tuntutannya, sedangkan dalam jiwa kita terdapat hukum kebaikan yang menyambut hukum Allah, tetapi dalam segenap anggota tubuh kita terdapat satu hukum lain lagi yang berperang dengan hukum kebaikan dalam jiwa kita. Paulus memberi tahu kita bahwa hukum dalam akal budi kita itu lemah dan tidak berdaya, sedangkan hukum dalam anggota tubuh kita sangat kuat. Saya yakin, Paulus adalah seorang yang bertekad dan berpribadi kuat, karakternya begitu kuat, sehingga hanya Tuhan Yesus yang dapat menaklukkannya. Itulah perbuatan yang Tuhan lakukan terhadapnya ketika ia berjalan menuju Damsyik. Akan tetapi bagaimanapun kuatnya ia sebelum beroleh selamat, ia tetap tak berdaya mengalahkan hukum dosa yang ada dalam anggota tubuhnya. Paulus berkata, “Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku lakukan, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku lakukan”(ayat 19). Selanjutnya dikatakannya pula, “Jadi, jika aku melakukan apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang melakukannya, tetapi dosa yang tinggal di dalam aku” (ayat 20). Siapakah dosa? Dosa adalah Iblis. Hukum dosa sebenarnya adalah kuasa yang spontan dari Iblis itu sendiri. Iblis lebih kuat daripada manusia yang mana pun, dan tidak ada seorang pun yang mampu mengalahkannya, bahkan Paulus pun tidak. Kekuatan tekad Anda tidak berarti apa-apa bila dibanding dengan kuasa Iblis. Karena itu, jika Anda ingin menuruti hukum Taurat Allah, akhirnya Anda akan berseru, “Aku manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” Paulus memakai istilah “maut ini”. Apakah maut itu? Maut adalah akibat dari kuasa jahat Iblis. Dalam Roma 7 kita dapati dua kata sinonim yang menggambarkan Iblis, “yang jahat itu” dan “dosa yang diam di dalamku”. Iblis adalah dosa si jahat itu dan hukum dosa adalah kekuatannya yang spontan. Dia memang begitu kuat, sampai-sampai tidak seorang pun dapat mengalahkannya; sekalipun segenap manu-sia dikumpulkan, tetap tak berdaya mengalahkannya. Akan tetapi, haleluya! Ada Satu yang lebih berkuasa daripada raksasa jahat itu!

Menyusul Roma 7 adalah Roma 8, yang menyebutkan hukum Roh hayat. Hukum itu bukan hukum Allah, bukan pula hukum kebaikan yang ada dalam akal budi kita, melainkan hukum Roh hayat.

Roma 8:2 mewahyukan bahwa Allah telah menjadi Roh hayat. Kita boleh mengatakan bahwa Roh hayat dalam ayat itu mengacu kepada Allah yang telah mengalami suatu proses. Di dalam Kristus, Allah telah melalui proses yang panjang proses inkarnasi, tersalib, kebangkitan, dan kenaikan ke surga. Allah yang terdapat dalam Kejadian 1 itu telah mengalami suatu proses yang begitu panjang. Maka, Dia bukan lagi sebagai Allah yang “mentah”. Meskipun dalam Kejadian 1, Ia masih merupakan Allah yang “mentah”, akan tetapi dalam Roma 8, Ia telah mengalami suatu proses.

Barang-barang yang Anda beli di pasar semuanya masih mentah, perlu melalui proses pemotongan, pembakaran, dan pemasakan agar siap santap. Jika tidak diolah terlebih dulu, maka makanan-makanan mentah itu tidaklah siap santap. Saya tidak suka makan makanan yang belum diolah. Semua makanan yang ada di kulkas adalah bahan mentah. Tetapi setiap makanan yang terletak di meja makan sudah mengalami pengolahan.

Puji Tuhan! Roma 8 bukan kulkas, melainkan meja makan kita. Setiap kali Anda merasa lapar, datang dan makanlah dalam Roma 8. Di meja Roma 8 tersedia Allah yang telah diolah, sebab di sini nama-Nya bukan Yehova, pun bukan Allah yang mahakuasa, melainkan Roh hayat. Puji Tuhan! Istri saya sering membuat sop sapi atau ayam. Ketika ia melihat saya penat, ia sering menyuguhi saya semangkuk sop. Oh, sop itu sungguh sedap, enak, pun mudah sekali dimakan. Sesudah meneguk semangkuk sop yang demikian, sekujur tubuhku menjadi bersemangat lagi. Roh hayat mirip dengan sop tersebut. Dari manakah datangnya Roh hayat itu? Ia datang dari Allah. Allah seolah seekor lembu atau ayam yang besar, lalu diolah menjadi sop. Dalam Roma 8, Ia tidak lagi seperti seekor lembu atau ayam, melainkan Roh hayat yang sangat mudah disantap. Asal saja kita berkata, “Oh, Tuhan Yesus, Roh hayat, Amin. Kristus ada di dalam kamu, Roh adalah hayat. Amin. Menaruh pikiran di atas roh adalah hayat. Amin. Roh yang berhuni di batin akan mengaruniakan hayat kepada tubuhmu yang fana. Amin!” Kalau kita minum Roh itu dalam Roma 8, kita akan menyadari bahwa Ia benar-benar bagaikan sop.

Dalam Roh hayat itu ada satu hukum. Hukum itu bukanlah hukum Taurat Allah yang “mentah” dengan segala tuntutannya, melainkan hukum Allah yang sudah melalui pengolahan, yakni hukum Roh hayat berikut segala suplaiannya. Ketika istri saya menyediakan semangkuk sop ayam, ia tidak menuntut sesuatu apa pun terhadap diri saya. kadang-kadang saya tak tahu apa yang diberikannya, saya hanya tahu itu adalah hidangan yang lezat. Puji Tuhan! Pada Allah yang sudah melalui pengolahan itu terdapat hukum Roh hayat! Hukum itu adalah prinsip, kuasa, dan kekuatan Allah yang sudah terolah itu. Kita semua harus berseru, “Haleluya!” karena hukum itu adalah kuat kuasa yang spontan dan ilahi, yang bukan di luar tubuh kita, me-lainkan di dalam roh kita. Hukum Allah yang sudah terolah itu ada di dalam roh kita.

Apakah yang kita miliki di dalam hukum ini? Apakah hukum ini? Apakah unsur hukum ini? Unsur hukum Roh hayat ini ialah Roh ilahi dan hayat kekal. Sebab itu, hukum ini penuh kuasa dan daya penggerak, yang terbit dengan spontan. Hukum yang sedemikian ada di dalam roh kita.

D. TIGA HAYAT EMPAT HUKUM

Kita adalah manusia yang rumit, sebab ada empat hukum yang berhubungan dengan kita. Di atas kita ada hukum Allah dengan segala tuntutannya. Di dalam pikiran kita ada hukum kebaikan, yang bereaksi kepada hukum Allah. Di dalam tubuh kita ada hukum dosa yang memerangi hukum kebaikan. Semuanya itu tercantum dalam Roma 7. Namun dalam Roma 8 dikatakan, bahwa di dalam roh kita ada hukum Roh hayat. Jadi kita memiliki empat buah hukum: Yang satu menuntut di luar, yang satu menyatakan reaksi di dalam pikiran, yang satu lagi berperang di dalam tubuh, dan yang terakhir di dalam roh kita menyuplai, menambahkan kekuatan, dan membawa kita kepada kemenangan.

Mengapa kita demikian rumit? Karena kita telah melewati tiga pos: penciptaan, kejatuhan, dan keselamatan oleh Allah. Kita adalah manusia yang tercipta, yang terjatuh, dan yang diselamatkan. Itulah sejarah kita atau biografi kita. Biografi kita tak lain ialah: tercipta, jatuh, dan akhirnya diselamatkan oleh Allah. Dalam penciptaan Allah kita telah menerima hayat manusia. Berdasarkan hayat itulah kita menjadi manusia. Pada saat kita jatuh, ada hayat lain yang masuk ke dalam kita, yaitu hayat Iblis yang jahat. Tetapi ketika kita beroleh selamat, Allah yang sudah diproses itu masuk ke dalam roh kita dalam bentuk Roh hayat. Maka kini ada tiga persona di dalam kita: pribadi kita di dalam jiwa, Iblis di dalam tubuh, dan Allah yang telah melalui proses sebagai Roh hayat di dalam roh kita. Kita adalah manusia yang terbagi dalam tiga bagian, sedang dalam tiap ba-giannya terdapat satu persona. Dalam tubuh kita ada dosa, yakni Iblis: dalam jiwa kita ada pribadi atau “aku” kita; sedang dalam roh kita ada Roh hayat yang adalah Allah yang telah melalui proses itu.

Setiap persona itu mempunyai hayat dan hukumnya sendiri. Iblis mempunyai hayat setaninya dengan hukumnya yang jahat, yaitu hukum dosa. Manusia alamiah kita mempunyai hayat yang tercipta dan membawa satu hukum kebaikan. Allah yang terolah sebagai Roh pemberi-hayat pun mempunyai hayat ilahi, dengan hukum Roh hayat. Sebab itu, kita memiliki satu hukum kejahatan, satu hukum kebaikan, dan satu hukum Roh hayat (singkatnya, hukum hayat). Hukum hayat itu berlawanan dengan hukum kejahatan maupun hukum kebaikan; ia sama sekali tidak ada hubungan dengan kebaikan maupun kejahatan. Sebab kebaikan maupun kejahatan adalah milik pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat (Kej. 2:9, 17). Hukum hayat sudah tentu milik pohon hayat (Kej. 2:9). Jadi di dalam kita terdapat pohon pengetahuan dan pohon hayat. Setiap orang di antara kita adalah miniatur Taman Eden. Di dalamnya ada manusia, ada Iblis sebagai pohon pengetahuan, dan ada Allah sebagai pohon hayat. Tiga pihak yang pernah ada di Taman Eden, kini ada di dalam kita. Peperangan yang terjadi antara Iblis dengan Allah di Taman Eden kini terjadi pula di dalam kita. Peperangan itu melibatkan tiga persona, tiga hayat, dan tiga hukum.

E. ALLAH ADA DI DALAM ROH KITA

Pada kesempatan lain pernah saya terangkan bahwa wahyu tentang Allah dalam surat Roma bersifat progresif. Dalam Roma 1, Dia adalah Allah dalam penciptaan; dalam pasal 3, Dia adalah Allah dalam penebusan; dalam pasal 4, Dia adalah Allah dalam pembenaran; dalam pasal 5, Dia adalah Allah dalam pendamaian; dalam pasal 6, Dia adalah Allah dalam penyatuan. Kita dapat nampak, Allah dari penciptaan ke dalam penebusan, dari penebusan ke dalam pembenaran, dari pembenaran ke dalam pendamaian, dan dari pendamaian ke dalam penyatuan. Jadi Allah telah maju dari penciptaan ke dalam penyatuan. Dalam penciptaan Dia berada di luar ciptaan-Nya; dalam penyatuan, demi menaruh kita ke dalam diri-Nya sendiri, Ia telah menyatukan kita dengan diri-Nya. Maka siapa saja yang telah dibaptis, ia telah dibaptis ke dalam Kristus (Rm. 6:3; Gal. 3:27). Allah telah menaruh kita ke dalam Kristus, sehingga kita mutlak satu dengan Dia.

Dalam Roma 8, Allah telah menjadi Allah di dalam roh kita. Ia tidak saja menjadi Allah dalam penyatuan, tetapi juga Allah yang di dalam roh kita. Ia tidak saja membuat kita menjadi satu dengan-Nya, Ia pun membuat diri-Nya sendiri menjadi satu dengan kita. Kini Allah kita berada di dalam roh kita. Allah yang bagaimanakah Dia? Ia adalah Allah yang sudah melalui proses, yang berada di dalam roh kita. Allah yang berada dalam penciptaan itu telah melalui penebusan, pembenaran, pendamaian, penyatuan dan kini Dia ada di dalam roh kita. Allah yang kini berada di dalam roh kita ini bukan hanya Allah, bahkan Ia telah mengalami proses sehingga menjadi Roh hayat. Roh hayat adalah Allah yang telah mengalami proses. Menurut pengalaman kita, tidak ada apa pun yang lebih menyenangkan daripada hal ini. Kita boleh menghadapi Allah yang sedemikian sebagai hidangan.

F. MENIKMATI KRISTUS SEBAGAI

ROH PEMBERI-HAYAT

Datang ke meja makan untuk menikmati Allah sebagai santapan bukanlah konsepsi saya. Dalam kitab Injil Tuhan Yesus pernah mengatakan bahwa Injil adalah suatu perjamuan. Tuhan Yesus mengatakan bahwa segalanya sudah siap dan kita boleh datang mengambil bagian dalam per-jamuan ini (Luk. 14:16-17). Ia menyuruh kita datang dan makan. Bahkan dalam perumpamaan anak yang hilang, kita pun melihat adanya konsepsi ini (Luk. 15:11-32). Ketika anak itu pulang ke rumah, sang bapa mengenakan jubah yang terbaik kepada anaknya itu, jubah yang melambang-kan Kristus sebagai kebenaran kita, supaya kita dibenarkan. Sewaktu anak itu kembali, keadaannya persis seorang pengemis yang kasihan, berdiri di depan bapanya yang kaya raya. Keadaan mereka kontras sekali. Sang bapa kaya raya, sedang si anak melarat. Sang bapa segera menyuruh hambanya mengambilkan jubah yang terbaik untuk dikenakan pada anaknya. Setelah jubah itu dikenakan kepada anaknya, anaknya itu dibenarkan di hadapan bapanya, bahkan berpadanan dengan bapanya. Kini si anak telah serupa bapanya, telah dibenarkan dan telah diperkenan. Kristus sebagai kebenaran telah menutupi anak yang pulang itu. Hal tersebut memang telah memuaskan hati sang bapa, namun si anak mungkin akan berkata, “Ya, bapaku, aku memang memperhatikan jubah ini, tapi aku lebih memperhatikan perutku yang kelaparan. Ya, bapaku, aku lapar sekali! Engkau memang telah puas, tetapi aku belum.” Itulah sebabnya sang bapa menyuruh hambanya menyediakan lembu yang tambun, mengolahnya, dan menghidangkannya di meja. Bapanya kemudian berkata, “Marilah kita makan dan bersukacita.” Siapakah lembu yang tambun itu? Tak lain adalah Kristus yang telah diproses di atas salib lebih dari 1900 tahun yang lalu. Setelah Ia diproses di atas salib, kemudian di dalam kebangkitan Ia menjadi Roh pemberi-hayat (1 Kor. 15:45).

Hari ini Kristus di mana? Sesudah Ia diproses, mati, dan bangkit, ke manakah Ia pergi? Memang benar Ia pergi ke surga. Akan tetapi, jika Ia hanya berada di surga, manusia tak mungkin memakan Dia. Surga terlampau tinggi dan jauh. Tetapi Kristus tidak hanya di surga (8:34), Ia pun di batin kita (8:9), yakni di dalam roh kita (2 Tim. 4:22). Roh kita adalah meja makan. Setelah mengalami proses, Kristus berubah menjadi Roh pemberi-hayat. Kristus yang telah diolah itu adalah Roh itu (2 Kor. 3:17). Ia telah masuk ke dalam roh kita menjadi hayat dan suplai hayat kita, menjadi kenikmatan kita.

Ini sekali-kali bukan konsepsi saya. Walaupun Kristus itu hayat, namun bila Ia hendak memberi hayat kepada Anda, tetaplah sukar. Siapakah yang memberi hayat? Yang memberi hayat itulah Roh (Yoh. 6:63; 2 Kor. 3:6). Kristus adalah hayat, tetapi yang mengaruniakan Kristus sebagai hayat kepada kita adalah Roh itu. Tanpa Roh, Kristus boleh saja sebagai hayat, namun Ia tak berdaya mengaruniakan diri-Nya sebagai hayat kepada kita. Dengan menjadi Roh itu, Ia dapat mengaruniakan diri-Nya sebagai hayat kepada kita. Hari ini Kristus telah mengalami proses sehingga menjadi Roh pemberi-hayat. Kini dalam roh kita, kita boleh menikmati Roh yang ajaib ini. Jangan lupa, bahwa Kristus adalah Allah, yaitu Yehova penyelamat, Allah yang beserta dengan kita. Kristus itulah Allah sendiri. Setelah melalui proses, kini Kristus menjadi Roh pemberi-hayat. Kita wajib menik-mati Roh itu dalam kelimpahan-Nya. Roh kita yang dilahirkan kembali adalah meja makannya, sedang Kristus yang telah diproses adalah hidangan kita. Ia bukan santapan dalam bentuk material, melainkan dalam bentuk Roh. Makanan kita ialah Roh itu. Roh itu sangat kaya! Sifat ilahi, sifat insani, kasih, terang, hayat, kekuatan, kebenaran, kekudusan, kasih karunia, . . . segala yang kita perlukan, semuanya ada di dalam Roh itu. Roma 8 adalah meja makan itu.