← Daftar isi Surat Roma (2) · bab 8/16

PENGALAMAN SUBYEKTIF ATAS PEMBENARAN (2)

Sewaktu Paulus menulis surat Roma, Perjanjian Lama pasti tersirat dalam benaknya. Dalam Roma 1 jelas terlihat sebuah kutipan dari kitab Kejadian. Ungkapan, “Sebab sifat-sifat-Nya yang tidak tampak, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat tampak dan dipahami dari karya-Nya sejak dunia diciptakan” (1:20), jelas ditujukan kepada Kejadian 1. “Sifat-sifat-Nya yang tidak tampak” mengacu kepada atribut-atribut ilahi, dapat nampak dari karya ciptaan-Nya. Jadi, Paulus mengawali surat Roma dengan mengutip kitab Kejadian 1. Selain itu, Paulus juga menilai penghukuman atas umat manusia merupakan kelanjutan tahap-tahap kejatuhan manusia yang tercatat dalam kitab Kejadian. Dalam Kejadian 4, Kain meninggalkan Allah, yaitu tidak mengindahkan perihal mengenal Allah. Sampai pada Kejadian 11, seluruh umat manusia yang telah jatuh menggantikan Allah dengan berhala-berhala. Mereka menukar Allah yang mulia dengan berhala-berhala yang sia-sia, bahkan mereka telah terjerumus ke dalam percabulan dan kekacau-balauan, yang mencapai titik puncaknya di Sodom. Akibatnya, manusia melakukan segala macam dosa dan kejahatan yang ada di pikirannya. Paulus menggunakan sejarah dari bangsa yang telah bobrok ini sebagai latar belakang bagian penghukuman atas umat manusia. Dalam Roma 3 Paulus menggunakan gambaran tentang tabut dengan tutupnya ketika ia menjelaskan Kristus sebagai tem-pat perujukan. Karena itu, ketika membahas Roma 3, Perjanjian Lama pun tercakup di dalamnya. Di samping itu, ketika Paulus menarik kesimpulan perihal pembenaran, ia membentangkan sejarah Abraham sebagai satu teladan yang sempurna. Sejarah Abraham menampilkan sebuah pola yang lengkap dari pembenaran Allah yang sejati dan subyektif. Jika kita hanya memiliki pengajaran Paulus dalam Roma 3, kita tidak mungkin bisa menghargai kedalaman pembenaran Allah. Kita hanya akan memiliki benih pembenaran tanpa intinya.

I. TRANSFUSI ALLAH

Saya rasa masih perlu menyinggung sedikit lagi tentang pengalaman subyektif atas pembenaran. Dalam roh, saya sangat berbeban untuk membeberkan Roma 4 secara lengkap kepada umat Tuhan. Seperti yang telah saya katakan, Roma 4 merupakan satu pasal yang dalam, jauh lebih dalam daripada yang bisa kita pahami. Pasal ini menyajikan pengalaman Abraham terhadap Allah. Abraham adalah teladan pengalaman orang yang dipanggil Allah terhadap Allahnya. Kita tidak mempunyai kosakata yang cukup untuk menggambarkan pengalaman tersebut. Setelah saya renungkan perkara ini dengan sungguh-sungguh, saya memilih kata “transfusi” untuk membantu kita memahami hubungan antara Allah dengan manusia.

Pemakaian listrik tergantung kepada sekringnya. Boleh kita katakan bahwa daya listrik itu disalurkan melalui sekring. Itulah suatu transfusi. Listrik surgawi berada jauh sekali di surga, sedang pemakaiannya diperlukan di sini, di bumi. Jika listrik ilahi ini mau sampai kepada kita, kita memerlukan suatu transfusi. Jadi, Allah mentransfusikan diri-Nya ke dalam kita. Begitu kita mengalami transfusi ini, kita akan mengalami infusi rohani, yakni perembesan esens Allah ke dalam diri kita. Infusi unsur Allah ini akan meresapi dan menjenuhi kita. Transfusi mendatangkan infusi, dan infusi ini akan meresapi serta menjenuhi kita dengan unsur Allah.

II. IMAN ADALAH SUATU REAKSI

Perembesan ini menimbulkan suatu reaksi. Berbagai pekerti rohani dan atribut ilahi yang ditransmisikan ke dalam kita akan bereaksi di dalam kita. Reaksi pertama adalah percaya. Itulah iman kita. Ini merupakan definisi tertinggi dari iman. Iman bukanlah kemampuan atau pekerti alamiah kita. Iman adalah reaksi kita terhadap Allah, sebagai akibat dari transfusi diri Allah ke dalam kita dan infusi unsur ilahi-Nya ke dalam kita. Sewaktu unsur Allah meresapi diri kita, kita bereaksi terhadap-Nya, dan reaksi ini adalah iman. Iman bukan suatu pekerti manusia; melainkan mutlak adalah satu reaksi yang disebabkan oleh infusi ilahi, yang meresapi dan menjenuhi diri kita. Begitu kita memperoleh iman ini, iman ini tidak akan hilang dari diri kita. Iman ini lebih dalam daripada darah kita, karena iman telah terinfus ke dalam kita dan tersusun dalam diri kita. Sekalipun kita mungkin mencoba untuk tidak percaya lagi, kita tidak mungkin berhasil. Inilah yang dimaksud oleh Alkitab dengan percaya kepada Allah.

Jika saya tidak salah ingat, Paulus tidak pernah menggunakan istilah “oleh iman dalam Yesus.” Tetapi paling sedikit dua atau tiga kali dia menyebutkan “iman Yesus,” suatu frasa yang menyulitkan kebanyakan penerjemah. Ada yang merasa sukar memberi definisi atas frasa yang demikian, sehingga mengubah preposisi “dari” (iman “dari” Yesus) menjadi “dalam”. Jika kita mengubah preposisinya, frasa tersebut akan menjadi “Iman dalam Yesus” dan ini berarti kita percaya dalam Yesus berdasarkan diri kita sendiri. Maksud Paulus bukan demikian. Maksud Paulus yaitu kita percaya dalam Tuhan Yesus dengan Tuhan Yesus sendiri sebagai iman kita. Karena kita tidak mempunyai kemampuan untuk beriman, maka kita perlu menerima Kristus sebagai kemampuan iman kita. Kita perlu percaya dalam Tuhan Yesus demi iman-Nya. Saya telah mencoba memahami hal ini hampir selama empat puluh tahun. Di waktu yang silam saya menerangkan iman ini adalah Kristus yang menggarapkan diri-Nya sendiri ke dalam kita. Itulah definisi yang terbaik yang saya miliki saat itu. Akan tetapi, pada hari-hari belakangan ini Tuhan telah memberi saya istilah yang lebih baik: iman adalah reaksi kita terhadap Allah, yang dihasilkan melalui transfusi, infusi, dan penjenuhan-Nya.

III. PROSES TRANSFUSI

Bagaimana transfusi ini bisa terlaksana? Allah, sebagai listrik surgawi, datang kepada orang-orang pilihan-Nya. Misalnya, Allah datang kepada Abraham melalui menampakkan diri kepadanya. Jika kita mempelajari Kejadian 11—24, termasuk juga catatan dalam Kisah Para Rasul 7, kita menemukan bahwa Allah beberapa kali menampakkan diri kepada Abraham. Kisah Para Rasul 7:2 mengisahkan bahwa Allah yang mulia menampakkan diri kepada Abraham. Sudah tentu Abraham tertarik oleh penampakkan Allah yang mulia. Tertarik berarti Allah mentransfusikan diri-Nya ke dalam Abraham tanpa ia sendiri menyadari atau mengetahui hal tersebut. Hal ini mirip dengan pengobatan dengan radium yang dilakukan dalam ilmu kedokteran di zaman modern ini. Pasien ditempatkan di bawah sinar X, tanpa menyadari bagaimana sinar itu menembusi dirinya. Allah adalah radium yang paling kuat. Bila kita duduk selama satu jam di bawah-Nya, niscayalah Ia akan mentransfusikan diri-Nya ke dalam kita. Transfusi ini akan menginfusi, meresapi, dan menjenuhi kita.

IV. TRANSFUSI DALAM PENGINJILAN

Dalam setiap penginjilan yang wajar, seharusnya terjadi transfusi semacam itu, yaitu transfusi Kristus ke dalam diri manusia. Bagaimana Kristus dapat ditransfusikan ke dalam kita? Melalui pemberitaan Injil. Ketika kita memberitakan Injil Yesus Kristus secara normal, di sana akan ada penampakkan Kristus yang hidup, dan penampakkan ini akan mentransfusikan Kristus ke dalam diri manusia.

Saya bisa membuktikan hal ini dari pengalaman saya sendiri. Saya dilahirkan di China dan mendapat pendidikan menurut ajaran Kong Hu Cu, namun Kong Hu Cu tidak mem-punyai daya tarik terhadap saya. Kekristenan sebagai satu agama juga tidak menarik hati saya. Ketika berusia sembilan belas tahun, Tuhan mengutus seorang saudari muda ke kota saya untuk memberitakan Injil. Dengan rasa ingin tahu saya pergi melihatnya. Tatkala saya duduk di ruang sidang sambil mendengarkan nyanyiannya dan pemberitaannya, Allah yang mulia menampakkan diri-Nya, dan saya pun tertarik. Tak seorang pun yang telah meyakinkan saya untuk percaya. Sewaktu saya mendengarkan saudari itu, Allah mentransfusikan diri-Nya ke dalam saya, dan transfusi itu membanjiri dan menaklukkan saya, menimbulkan suatu reaksi yang sangat positif. Ketika saya keluar dari balai sidang dan berjalan pulang, saya menengadahkan ke langit dan berkata, “Ya Allah, Engkau tahu saya adalah seorang pemuda yang sangat berambisi. Tetapi, andaikata sekarang ada orang yang menjanjikan seluruh dunia ini kepada saya, saya tidak mau. Saya hanya ingin menerima Engkau. Sejak hari ini, saya ingin melayani Engkau. Saya rela menjadi penginjil yang miskin, dan pergi dari kampung ke kampung, memberitakan kepada orang betapa baiknya Yesus ini.” Begitulah Yesus yang hidup telah tertransfusi ke dalam saya. Saya pun segera memberikan reaksi kepada Allah, dan Allah bereaksi pula kepada saya. Reaksi saya terhadap Allah adalah percaya ke dalam-Nya. Itulah iman saya. Reaksi balasan Allah kepada saya adalah membenarkan saya, mengaruniakan kebenaran-Nya yang penuh damai sejahtera dan sukacita kepada saya. Kebenaran Allah bereaksi terhadap saya, dan sejak saat itu saya memiliki kebenaran itu. Allah telah mengaruniakan Kristus menjadi kebenaran saya. Demikianlah saya memiliki damai sejahtera, sukacita, dan penuh pengharapan. Saya telah dibenarkan oleh Allah. Allah telah memanggil saya keluar dari segala sesuatu yang bukan diri-Nya sendiri.

Begitu Kristus mentransfusikan diri-Nya ke dalam Anda, Anda tak bisa melepaskan diri lagi dari-Nya; Anda tak dapat tidak percaya kepada-Nya. Saya paham benar situasi ini yang terjadi selama penginjilan saya. Ada orang berkata, “Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi pada diriku. Setelah aku mendengarkan khotbah yang pertama dari penginjil itu dan pulang ke rumah, aku berkata bahwa aku tidak ingin mempunyai sangkut paut dengan Kristus, aku tidak menyukai Yesus. Namun ada sesuatu yang masuk ke dalamku. Aku mencoba mengusirnya, tetapi tak berhasil. Walaupun aku tak berniat mendengarkan lagi, namun di dalam hatiku ada sesuatu yang selalu mendesakku untuk pergi mendengarkan lagi.” Apakah ini? Ini adalah pengaruh dari transfusi Kristus ke dalam orang tersebut. Dari trans-fusi ini datanglah suatu reaksi percaya kepada Kristus berdasarkan iman Yesus.

V. ALLAH MENAMPAKKAN DIRI

KEPADA ABRAHAM

Allah berkali-kali menampakkan diri-Nya kepada Abraham. Umumnya, kita mempunyai konsepsi yang salah terhadap Abraham, mengira ia adalah seorang raksasa iman. Dulu, sebagai seorang Kristen yang masih muda, ketika mendengar hal ini, saya menjadi kecil hati, saya berpikir, “Lupakan saja hal itu. Saya tidak mungkin bisa menjadi seorang raksasa iman.” Kemudian, setelah saya perhatikan sejarah Abraham, saya menemukan bahwa ia bukanlah raksasa iman. Satu-satunya raksasa iman adalah Allah sendiri. Allah, sebagai raksasa iman, mentransfusikan diri-Nya ke dalam Abraham. Setelah Abraham meluangkan waktunya di hadirat Allah, ia tak dapat tidak percaya kepada-Nya, karena ia telah ditransfusi dengan Allah. Begitulah Abraham tertarik kepada Allah dan memberikan reaksi kepada-Nya, yaitu percaya. Reaksinya itulah imannya. Andaikata seorang yang miskin mengunjungi Abraham dan berkata, “Abraham, aku tahu engkau tidak mempunyai anak. Tahun depan aku akan membuat istrimu melahirkan seorang anak bagimu.” Abraham pasti akan mengusir orang itu, sambil memberi tahu agar ia tidak berbicara sembarangan. Siapakah sebenarnya yang menampakkan diri kepada Abraham? Allah yang mulia. Peristiwa dalam Kejadian 15 bukanlah kali pertama Allah menampakkan diri kepadanya. Sebelumnya Allah pernah beberapa kali menampakkan diri kepadanya.

Penampakkan diri Allah kali pertama tercatat dalam Kisah Para Rasul 7. Dua kali lagi kita temukan dalam Kejadian 12, yang pertama Allah menyuruh Abraham meninggalkan negeri, sanak saudara, dan rumah bapanya (12:1-3); kedua, Allah berjanji akan memberikan tanah itu kepada keturunannya (12:7-8). Setelah itu Abraham yang pengalaman imannya masih dangkal, jatuh ke Mesir. Penampakkan diri Allah kali keempat tercantum dalam Kejadian 13:14-17, ketika Allah menyuruhnya memandang dari tempat ia berdiri ke arah sebelah timur, barat, selatan, dan utara. Karena itu, penampakkan diri Allah dalam Kejadian 15:1-7 adalah yang kelima; tidak ada sesuatu yang baru bagi Abraham. Allah berkali-kali menampakkan diri kepada Abraham, dan Abraham pun mengalami kelimpahan dari penampakkan Allah itu, sehingga memiliki iman terhadap penampakkan-penampakkan itu. Pada empat kali penampakkan yang terdahulu unsur Allah telah ditransfusikan dan diinfuskan ke dalam diri Abraham. Ketika Allah menampakkan diri kepadanya, Allah tidak secara mendadak meninggalkannya, melainkan berhenti beberapa saat di tempat Abraham. Berapa lama Allah tinggal bersama Abraham dalam Kejadian 18? Ia tinggal bersamanya hampir setengah hari lamanya, bercakap-cakap dengannya selama berjam-jam seperti seorang sahabat karib. Selama kunjungan itu Abraham diinfus dengan Allah. Dalam penampakkan kali kelima (Kej. 15) Allah memberi tahu Abraham bahwa keturunannya akan banyak, tidak terhitung jumlahnya, seperti bintang-bintang di langit. Hasilnya, melalui penampakan diri Allah kali kelima ini, Abraham mengalami infus Allah yang ia percayai dengan sangat limpah. “Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhi-tungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran” (Rm. 4:3; Kej. 15:6).

Iman Abraham sekali-kali bukan berasal dari kemampuan alamiahnya, bukan pula berasal dari dirinya sendiri. Imannya terhadap Allah merupakan reaksinya kepada radium surgawi, satu respon terhadap infus ilahi. Secara simbolis, iman Abraham tak lain adalah Allah di dalamnya bekerja seperti radium. Apakah iman yang sebenarnya? Iman yang sebenarnya adalah garapan Allah di dalam kita. Itulah sebabnya Allah menghitung iman Abraham sebagai kebenaran. Allah seolah berkata, “Iman ini adalah sesuatu yang berasal dari-Ku. Itulah yang sesuai dengan diri-Ku. Itulah kebenaran Abraham di hadapan-Ku.” Apakah kebenaran itu? Itu adalah kebenaran Allah.

VI. PENGALAMAN LEBIH LANJUT ABRAHAM

Firman ilahi dalam Alkitab ini sangat dalam, dan kita tidak sanggup memahaminya jika kita membacanya hanya secara luaran. Abraham telah menerima unsur Allah melalui proses infus ilahi. Sekalipun kebenaran telah dihitung bagi Abraham, namun ia masih belum mengalami kebenaran itu secara konkret dan mantap. Demikian pula, mungkin kita telah memiliki Kristus sebagai kebenaran kita, namun kita belum mengalami-Nya secara riil dan mantap. Pada saat kita berseru kepada-Nya, kita menerima Kristus, dan Kristus menjadi kebenaran kita. Tetapi, Kristus masih harus menjadi pengalaman kita. Jadi, kita memerlukan Sara.

Sara melambangkan kasih karunia. Hagar, gundik Abraham, melambangkan hukum Taurat (Gal. 4:22-26). Kita memang memiliki Kristus di dalam kita, namun kita kekurangan pengalaman akan Kristus ini. Siapakah yang bisa membantu kita mengalami Kristus? Sara. Ingatlah, Sara melambangkan kasih karunia Allah. Jangan mau berurusan dengan hukum Taurat, yakni Hagar, melainkan bekerja sama dengan kasih karunia, yakni datang kepada Sara. Jika Anda menyatukan diri Anda dengan Sara, Anda akan meng-alami Kristus sebagai kebenaran Anda. Jangan mencari hukum Taurat, dan jangan pula bertekad melakukan kebaikan. Kita perlu mengingat kembali pengalaman Paulus yang tercatat dalam Roma 7:18, “Sebab menghendaki yang baik memang ada padaku, tetapi melakukan apa yang baik tidak.” Jika Anda ingin berbuat baik, itu berarti Anda berpaling kepada hukum Taurat. Kalau Anda bertekad ingin menghormati orang tua, mengasihi istri atau menaati suami, itu berarti Anda berpaling kepada hukum Taurat dan memperistri Hagar. Akibat dari kesatuan itu adalah Ismael. Akan tetapi, jika Anda bersatu dengan kasih karunia, kesatuan ini akan melahirkan Kristus, yaitu Ishak yang sejati.

Ishak melambangkan pengalaman yang konkret dari kebenaran yang Allah perhitungkan kepada Abraham. Pada hari Anda percaya kepada Tuhan Yesus, Kristus dikaruniakan kepada Anda dan diinfuskan ke dalam Anda. Anda bereaksi dalam iman, dan iman Anda itu oleh Allah dihitung sebagai kebenaran Anda. Demikianlah, Allah menjadikan Kristus sebagai, pembenaran Anda, kebenaran Anda. Namun pada saat itu Anda masih belum memiliki pengalaman yang riil. Setelah Anda beroleh selamat, Anda pergi kepada Hagar, kepada hukum Taurat, ingin melakukan kebaikan. Sampai pada taraf tertentu Anda sukses, namun hasilnya tidak lain Ismael. Sekarang Anda harus bersatu dengan kasih karunia Allah, Sara. Pada diri Sara Anda akan memiliki pengalaman sejati terhadap Kristus yang telah Anda miliki.

Dalam perlambangan, kebenaran yang Allah perhitungkan kepada Abraham adalah Ishak. Menurut Kejadian 17:21, Allah datang kepada Abraham dan berkata, “Tetapi perjanjian-Ku akan Kuadakan dengan Ishak, yang akan dilahirkan Sara bagimu tahun yang akan datang pada waktu seperti ini juga.” Dalam Kejadian 18:10 Allah mengulangi pernyataan-Nya ini namun agak berbeda sedikit, “Sesungguhnya Aku akan kembali tahun depan mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara, istrimu, akan mempunyai seorang anak laki-laki.” Kalau kita menjajarkan kedua ayat ini, niscaya kita akan memahami bahwa kelahiran Ishak sebetulnya adalah kedatangan Allah sendiri. Tuhan berkata kepada Abraham, pada tahun depan, waktu Ishak dilahirkan, itulah waktu kedatangan Allah. Karena itu, peristiwa kelahiran Ishak sangat luar biasa; karena itu adalah kedatangan Allah.

VII. PENGALAMAN KAUM BERIMAN

Kita boleh menerapkan semuanya ini ke dalam pengalaman kita. Dalam pemberitaan Injil, melalui penampakkan dan transfusi Kristus, kita bereaksi kepada Allah dengan percaya berdasarkan Kristus sebagai iman. Kemudian Allah menghitung iman ini sebagai kebenaran kita. Itulah pengalaman riil terhadap Kristus pada saat kita beroleh selamat. Itu juga merupakan kembalinya Kristus, yaitu kedatangan Kristus lebih lanjut setelah kita bereaksi ter-hadap Allah, percaya kepada-Nya berdasarkan Dia (Kristus) sebagai iman kita. Sebagai akibat penampakkan Kristus dan transfusi ilahi-Nya, Ia menjadi iman kita, bereaksi kepada Allah. Oleh Allah iman ini diperhitungkan kembali kepada kita sebagai kebenaran, dan Kristus selanjutnya menjadi kebenaran Allah bagi kita. Oleh kedatangan Kristus lebih lanjut, melalui kasih karunia Allah, kita memiliki Kristus sebagai kebenaran di hadapan Allah. Ringkasnya proses ini adalah demikian: dalam penampakkan dan transfusi-Nya, Kristus menjadi iman kita kepada Allah, kemudian dalam balasan Allah, Kristus menjadi kebenaran yang Allah beri-kan kepada kita. Demikian, Kristus menjadi pengalaman kita.

Selain itu, kita tidak saja memiliki Kristus sebagai kebenaran yang Allah perhitungkan kepada kita, kita pun memiliki pengalaman atas Kristus sebagai Ishak kita. Kita memustikakan pengalaman ini, mempertahankannya sebagai barang yang berharga, dan menghargainya bagaikan anak tunggal kita.

VIII. PENGGENAPAN KEHENDAK ALLAH

BAGI KEPUASAN ALLAH

Boleh jadi kemudian Allah menampakkan diri pula dan bertanya, “Maukah kamu maju terus bersama-Ku? Inginkah kamu menikmati penampakkan-Ku selanjutnya? Kalau mau, kamu harus mempersembahkan Ishak. Persembahkanlah apa yang telah Kuberikan kepadamu. Jangan mengusir Ishak, tetapi persembahkanlah dia kepada-Ku. Bawalah Kristus yang telah kaualami itu, letakkanlah Dia di atas mezbah, dan persembahkanlah kepada-Ku supaya Aku puas. Pengalamanmu terhadap Kristus telah menjadi bagianmu dan telah memuaskan dirimu. Kini, Aku minta agar engkau mempersembahkan bagianmu itu kepada-Ku, agar Aku pun dipuaskan sepenuhnya.” Maukah Anda melakukan hal ini? Di antara seratus orang Kristen yang memiliki pengalaman ini, tidak seorang pun yang mau melakukannya. Setiap orang akan menjawab, “Bagaimana mungkin aku bisa melepaskan pengalamanku terhadap Kristus yang demikian manis dan mustika? Meminta aku melakukan hal itu, sungguh keliru. Aku tidak setuju.” Akan tetapi, setiap orang yang diminta mempersembahkan pengalamannya terhadap Kristus yang sebagai Ishak kepada Allah dan tidak rela melakukannya, hal itu akan membuat hidup kerohaniannya mati. Terhadap orang-orang yang demikian Allah seolah-olah berkata kepadanya, “Karena kamu memustikakan pengalaman Ishakmu dan tidak rela mempersembahkannya kepada-Ku, maka Aku pun akan membiarkannya bersamamu. Aku tidak bisa maju lagi bersamamu. Kamu telah memiliki kenikmatan dan kepuasanmu, namun Aku tidak memilikinya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi atas dirimu untuk menggenapkan rencana-Ku.”

Abraham mempersembahkan Ishak untuk kepuasan Allah. Itulah suatu kurban bakaran yang sejati. Di atas Gunung Moria Allah telah memperoleh kepuasan-Nya dengan sepenuhnya. Dalam Kejadian 22 kita nampak Allah tidak saja adalah Allah yang menjadikan yang tidak ada menjadi ada (Ia diwahyukan sebagai Allah yang demikian dalam Kejadian 15 dan 17), bahkan Ia adalah Allah yang membangkitkan orang mati. Dalam pandangan Allah, Ishak telah mati tatkala Abraham meletakkannya di atas mezbah dan mengangkat pisaunya untuk menyembelihnya. Allah menghentikan perbuatan Abraham, melarangnya membu-nuh Ishak. Dalam perlambangan, ini berarti Allah menga-runiakan hayat kepada Ishak yang telah mati. Ibrani 11:17-19 mengatakan, Ishak telah dibangkitkan, dan Abraham menerima Ishak kembali, yakni Ishak yang telah dibangkitkan oleh Allah. Hal ini menghasilkan suatu transfusi, infus, dan peresapan yang lebih lanjut dan lebih limpah dari Allah ke dalam Abraham.

Di atas Gunung Moria pengalaman rohani Abraham telah mencapai puncaknya. Hasilnya, Abraham menjadi sangat rohani dan matang dalam hayat, sehingga dalam Kejadian 24 ia melambangkan Allah Bapa. Di manakah ia menjadi demikian matang? Di Gunung Moria. Di situ ia me-nerima bagian Allah sepenuhnya. Allah Bapa ditransfusikan ke dalamnya. Karena itu, Abraham menjadi bapa, bukan saja bapa bagi Ishak secara individu, tetapi juga bapa korporat dari jutaan keturunan yang menjadi Kerajaan Allah di bumi ini untuk penggenapan rencana Allah.

Sekarang kita tahu mengapa setelah menulis Roma 3, Paulus terbeban menggunakan kisah Abraham dalam pasal 4 sebagai satu gambaran untuk menunjukkan puncak pembenaran Allah. Tujuan pembenaran Allah adalah untuk memiliki satu reproduksi Kristus dalam jutaan orang saleh. Kaum saleh ini, sebagai reproduksi Kristus, menjadi anggota-anggota Tubuh-Nya (Rm. 12:5). Tubuh ini kemudian menjadi Kerajaan Allah di bumi (Rm. 14:17) untuk menggenapkan rencana Allah. Tubuh sebagai Kerajaan Allah telah diuraikan dalam Roma 12-16. Semua gereja lokal merupakan ekspresi Tubuh Kristus sebagai Kerajaan Allah. Gereja sebagai Kerajaan Allah bukan tersusun dari satu Ishak, melainkan tersusun dari banyak Ishak yang telah dibenarkan Allah. Kesemuanya ini merupakan hasil dari pengalaman pembenaran yang subyektif dan lebih dalam.

IX. KEMBALI KE POHON HAYAT

Kita masih perlu meninjau lebih banyak lagi. Baiklah kita kembali lagi ke pasal pertama dari kitab Kejadian.

Menurut Kejadian 1, manusia bukan saja diciptakan oleh Allah tetapi juga bagi Allah dan kepada Allah. Manusia diciptakan kepada Allah agar ia bisa mengekspresikan gambar Allah dan melaksanakan pemerintahan-Nya bagi pembangunan Kerajaan-Nya. Manusia diciptakan kepada Allah untuk tujuan yang agung ini. Dalam Kejadian 2, kita nampak bahwa Allah diwakili oleh pohon hayat, menyatakan bahwa manusia yang diciptakan kepada Allah itu wajib senantiasa makan buah pohon ini. Manusia perlu datang kepada Allah, kontak dengan Allah, dan membiarkan Allah mentransfusi serta menginfus dirinya. Namun, sayang manusia gagal, ia pergi ke sumber yang salah, yakni pohon pengetahuan. Jadi, manusia yang diciptakan kepada Allah ini telah berpaling dari Allah. Inilah arti sebenarnya dari kejatuhan manusia.

Allah menampakkan diri dan memanggil Abraham keluar dari situasi yang telah jatuh, berarti Allah ingin membawa manusia kembali kepada diri-Nya sendiri. Ketika Allah memanggil Abraham keluar dari Ur-Kasdim, Ia tidak memberi tahu Abraham ke mana ia harus pergi, karena maksud Allah adalah membawanya kembali kepada diri-Nya sendiri. Manusia harus kembali kepada Allah agar Allah bisa mentransfusikan diri-Nya ke dalamnya.

Dalam memanggil Abraham keluar dari Ur-Kasdim, Allah membawanya kembali ke pohon hayat. Prinsip pohon hayat ialah bersandar; prinsip pohon pengetahuan ialah merdeka. Datang ke pohon hayat berarti bersandar kepada Allah; berpaling ke pohon pengetahuan berarti meninggalkan Allah. Setiap hari dan setiap saat kita perlu bersandar kepada Allah sebagai hayat kita. Kita tidak mungkin menjauh dari Allah sebagai hayat kita. Karena itu, Abraham dibawa kembali kepada Allah sebagai pohon hayat itu. Ketika Allah menampakkan diri kepadanya, itu pun berarti penampakkan pohon hayat. Ketika Abraham meluangkan waktunya di hadapan Allah, ia menikmati pohon hayat. Setiap kali ini terjadi, esens Allah ditransfusikan ke dalamnya. Dengan cara beginilah Allah melatih Abraham sehingga ia seluruhnya ditransfusi, diinfus, diresapi, dan dijenuhi dengan Allah, dengan demikian ia tidak bertindak menurut dirinya sendiri. Ini bukan pelajaran yang mudah bagi Abraham.

Kita pun sedang mengalami latihan yang serupa pada hari ini. Allah telah memanggil kita keluar dari kondisi yang jatuh dan membawa kita kembali kepada diri-Nya sendiri, pohon hayat itu. Sekarang kita berada di bawah transfusi, infus, dan penjenuhan-Nya. Kita tidak seharusnya melakukan apa pun seturut diri kita sendiri. Diri kita harus diakhiri. Manusia usang kita harus dikerat dan dikuburkan, sehingga Allah bisa menjadi segala sesuatu kita. Kemudian kita bisa berkata dalam realitas, “Bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Hidup yang sekarang aku hidupi secara jasmani adalah hidup oleh iman Anak Allah” (Gal. 2:20 Tl.). Itulah kehidupan Abraham. Sebagai keturunan Abraham, kita sama seperti dia. Kita berjalan menurut jejak imannya, dan berada di bawah pekerjaan penjenuhan Allah.

Ketika kita mengalami proses demikian, kita mempunyai bermacam-macam reaksi terhadap Allah. Reaksi kita yang pertama ialah percaya kepada-Nya dengan iman Kristus. Ini menimbulkan reaksi yang lain di pihak Allah, yakni Allah menghitung Kristus sebagai kebenaran kita. Kemudian, kita bertindak berdasarkan diri kita sendiri, dan menghasilkan kegagalan. Kita mencari sumber yang salah, Hagar, hukum Taurat itu, dan melahirkan Ismael. Selanjutnya, kita perlu disunat. Ini mendatangkan pengalaman yang lebih maju terhadap Kristus sebagai Ishak kita hari ini. Lalu kita akan diminta mempersembahkan Ishak ini kepada Allah sebagai kurban bagi kepuasan-Nya. Jika kita memenuhi permintaan ini, Allah akan memberikan reaksi sekali lagi, yakni mengaruniakan pengalaman kebangkitan kepada kita, sehingga lebih banyak Ishak yang terlahir. Begitu kita mempersembahkan pengalaman pribadi kita akan Kristus kepada Allah, kita menemukan bahwa diri kita di dalam gereja dikelilingi banyak Ishak, dan memiliki pengalaman Kristus secara korporat. Akhirnya kita tidak lagi sebagai individu-individu, kita adalah satu kerajaan, Tubuh Kristus yang menggenapkan tujuan Allah.

Inilah makna yang lebih dalam dari pembenaran yang ditunjukkan oleh teladan Abraham. Kita harus mengakui bahwa sumber dari semuanya ini adalah transfusi, infus, dan penjenuhan Allah. Proses transfusi dan infus ini menimbulkan banyak reaksi di antara Allah dengan manusia. Lalu lintas ini, yaitu hubungan timbal balik antara Allah dengan manusia, menjadikan kita satu dengan-Nya, dan melahirkan manusia universal yang dapat menggenapkan tujuan kekal Allah. Dalam proses ini, sifat ilahi berbaur dengan sifat insani. Inilah penyempurnaan pembenaran Allah.