← Daftar isi Surat Roma (2) · bab 7/16

PENGALAMAN SUBYEKTIF ATAS PEMBENARAN (1)

I. PENGALAMAN TERHADAP ALLAH DALAM PEMBENARAN

Roma 4 adalah pasal yang dalam sekali. Kita tidak seharusnya memahaminya hanya pada permukaannya saja. Kalau kita mendalami pasal ini, kita akan nampak bahwa pasal ini mewahyukan bahwa pembenaran yang tepat dan hidup adalah karya Allah yang lebih dalam, yaitu Allah memanggil manusia yang jatuh dari segala perkara yang bukan Allah serta membawa mereka kembali kepada diri-Nya sendiri. Allah menciptakan manusia bagi diri-Nya sen-diri, dan kepada diri-Nya sendiri. Namun manusia telah jatuh. Kejatuhan manusia ialah manusia terpisah dari Allah oleh perkara-perkara yang bukan Allah sendiri. Manusia yang pernah diciptakan untuk Allah telah jatuh dari hadirat Allah ke dalam perkara-perkara yang lain. Entah suatu perkara baik atau jahat, asalkan perkara itu bukan Allah dan membuat orang menjauhi Allah, maka perkara itu sudah merupakan faktor kejatuhan. Dalam pembenaran Allah atas manusia, Ia memanggil dan mengeluarkan orang-orang yang telah jatuh itu dari dalam segala perkara serta mengembalikan mereka kepada diri-Nya sendiri. Maka ketika Allah memanggil Abraham, Abraham tidak diberi tahu ke mana ia harus pergi, sebab Ia bermaksud menyuruh Abraham berpaling kepada diri-Nya sendiri. Dari saat ke saat dan selangkah demi selangkah, hati Abraham harus melekat kepada Allah. Dalam setiap tindakannya, ia harus bersandar kepada Allah, dan tidak meninggalkan Allah sesaat pun. Dengan kata lain, Abraham harus bersatu dengan Allah.

Setelah Allah memanggil Abraham keluar dari Ur-Kasdim, Allah melatih Abraham untuk beriman kepada-Nya. Seperti telah kita lihat, percaya kepada Allah berarti beriman ke dalam-Nya, dan bersatu dengan-Nya. Dalam iman ini manusia mengakui dirinya bukan apa-apa, tidak memiliki apa-apa, dan tidak bisa berbuat apa-apa. Manusia mengakui dirinya harus diakhiri. Jadi, percaya kepada Allah berarti mengakhiri diri kita sendiri dan membiarkan Allah menjadi segala manusia kita, membiarkan Allah menjadi segala sesuatu yang seharusnya pada diri kita. Sejak kita percaya kepada Allah, kita sudah tidak seharusnya menjadi apa-apa. Kita harus diakhiri seluruhnya, dan membiarkan Allah menjadi segala sesuatu di dalam kita. Itulah makna sunat yang tepat. Tidaklah cukup kalau kita mohon Tuhan menyunat hati kita, sebab sunat yang batiniah dan tepat ialah mengakhiri diri Anda dan membiarkan Allah menjadi segala sesuatunya.

Ketika seseorang dipanggil Allah dengan cara demikian, Allah yang hidup itu segera mentransfusikan diri-Nya ke dalamnya. Istilah “transfusi” ini sangat penting sekali dalam melukiskan perkara-perkara yang terjadi pada saat Allah memanggil manusia. Allah yang hidup dengan sendirinya mentransfusikan diri-Nya ke dalam diri orang-orang yang dipanggil-Nya. Akibatnya, manusia tertarik oleh Allah, bahkan tertarik ke hadapan Allah. Tanpa disadarinya, unsur dan esens Allah yang hidup itu ditransfusikan ke dalamnya, dan ia bereaksi kepada Allah dengan percaya kepada Dia. Reaksi itulah yang kita sebut iman.

Ketika Anda mendengar Injil kemuliaan tentang Tuhan Yesus, Anda bertobat. Itu berarti Allah memanggil Anda keluar dari segala sesuatu yang di luar Allah. Pada saat itu, bahkan tanpa Anda sadari, Kristus yang hidup yang berada dalam Injil kemuliaan tadi telah mentransfusikan diri-Nya ke dalam diri Anda (2Kor. 4:4). Beberapa unsur Kristus itu telah meresap ke dalam Anda, dan Anda tertarik kepada-Nya. Anda bereaksi terhadap-Nya, dan reaksi Anda yang spontan itulah iman Anda. Kristus yang mentransfusikan diri-Nya ke dalam Anda itu menjadi iman Anda. Maka iman bukan berasal dari diri kita, melainkan dari Allah. Firman tidak terpisah dari Kristus, sebab iman sesungguhnya adalah Kristus sendiri yang mentransfusikan diri-Nya ke dalam kita dan yang menimbulkan reaksi di dalam kita.

Iman kita adalah suatu gema. Tanpa ada suara tak mungkin ada gema. Kristus itulah suaranya. Ketika suara ini mencapai hati dan roh kita, timbullah reaksi, yaitu gema. Reaksi ini ialah apresiasi dan iman kita kepada Tuhan Yesus. Iman ini sebenarnya adalah Kristus sendiri di dalam kita sebagai jawaban terhadap Injil. Karena itu, iman ini dihitung Allah sebagai kebenaran kita. Ketika Kristus mentransfusikan diri-Nya ke dalam Anda, timbullah suatu reaksi di dalam Anda iman. Setelah Anda percaya kepada Tuhan, Allah pun bereaksi kepada Anda, yaitu menghitung iman Anda (Kristus) sebagai kebenaran. Jika kita membaca Alkitab pada permukaannya saja, kita tak dapat menemukan pengalaman yang demikian. Tetapi jika kita mencarinya sampai ke dasar Alkitab, kita akan menemukannya di sana. Seolah-olah Allah berkata kepada kita; “Hai orang dosa yang kasihan, kamu tidak memiliki kebenaran. Ketika Aku, Allah yang hidup, berbicara kepadamu, esens-Ku Kutransfusikan ke dalam dirimu, dan hal ini akan menimbulkan reaksimu kepada-Ku di dalam iman, dan iman itu akan Kuhitung sebagai kebenaranmu.” Setelah Allah melakukan hal ini atas kita, dari dalam kita akan timbul reaksi kasih dan apresiasi terhadap-Nya. Reaksi ini adalah iman kita. Iman yang bukan berasal dari diri kita, melainkan unsur Kristus yang hidup yang ada di batin kita. Iman ini lalu kembali kepada Allah, dan menyebabkan Ia menyatakan reaksi-Nya kepada kita: kebenaran Allah diperhitungkan sebagai kebenaran kita, dan kita akan memiliki sesuatu yang tidak pernah kita miliki. Itulah pengalaman kita terhadap Allah di dalam pembenaran.

Dengan demikian kita telah memiliki kebenaran Allah yaitu Kristus. Ishak adalah lambang Kristus. Abraham, nenek-moyang iman kita, telah menerima kebenaran Allah dan Ishak. Demikian pula kita kini telah menerima kebe-naran Allah dan Kristus. Kristus justru Ishak masa kini. Inilah pengalaman terhadap Allah yang menjadikan apa yang tidak ada menjadi ada. Pada saat kita diselamatkan dan datang ke hadapan Allah, kita tidak memiliki apa-apa. Namun Allah menyatakan diri-Nya kepada kita, bahkan menjadikan apa yang tidak ada menjadi ada. Dulu kita tidak memiliki kebenaran Allah, tetapi selang beberapa menit, kita memilikinya. Sebelum itu kita tidak memiliki Kristus, tetapi dalam beberapa menit saja, kita memperoleh-Nya.

Begitu kita mengalami kebenaran Allah dan Kristus, kita akan memeliharanya sebagai mustika yang tak ternilai harganya. Kita akan mengumumkan, “Aku memiliki kebenaran Allah, aku memiliki Kristus.” Namun pada suatu hari, Allah datang dan berkata, “Persembahkanlah semua-nya itu di atas mesbah.” Maukah Anda melakukannya? Di antara seratus orang Kristen satu pun tidak ada yang mau. Sebaliknya mereka berkata, “Ya Tuhan, janganlah menyuruh aku melakukan hal itu. Yang lain boleh aku laku-kan, tetapi jangan yang ini.” Kita harus ingat reaksi yang terjadi di antara Allah dengan manusia. Kebenaran Allah dan Kristus adalah milik kita, hal ini terjadi sebagai reaksi Al-lah atas iman kita. Maka kini kita wajib mempersembahkan reaksi ini kepada Allah. Setelah kita menyatakan reaksi demikian, Allah pun akan bereaksi sekali lagi. Reaksi Allah yang pertama ialah menjadikan apa yang tidak ada menjadi ada, sedangkan reaksi-Nya yang kedua ialah menghidupkan kembali orang yang telah mati. Ini sungguh merupakan perkara yang sangat dalam artinya.

Menurut Roma 4, hasil akhir dari semua reaksi itu adalah Kristus yang bangkit. Kristus yang bangkit ini kini berada di surga sebagai satu bukti yang kuat bahwa Allah telah puas dan kita telah dibenarkan. Kristus yang bangkit berada di surga tingkat ketiga, di sebelah kanan Allah. Ini menjadi bukti pasti yang menyatakan bahwa segala tuntutan Allah telah dipuaskan dan kita pun telah dibenarkan dengan tuntas dan memadai. Akan tetapi Kristus yang bangkit ini tidak hanya bersemayam di surga, Ia pun bersemayam di dalam kita, menyalurkan hayat, agar kita beroleh hayat pembenaran. Maka pembenaran bukan hanya masalah kedudukan, tetapi juga telah menjadi satu masalah sifat. Kematian Kristus telah memberi satu pembenaran keduduk-an kepada kita, dan Kristus yang bangkit, yang berada di surga, telah menjadi bukti atas perkenanan tersebut. Sekarang Kristus yang bangkit ini hidup pula di batin kita dan mengadakan reaksi di dalam kita serta memperhidupkan suatu hayat yang dibenarkan dalam sifatnya. Pada akhirnya, baik dalam kedudukan maupun sifat kita dibenarkan seluruhnya. Kita tidak hanya memiliki pembenaran yang obyektif, tetapi juga memiliki pembenaran yang subyektif. Sekarang kita bisa memperhidupkan suatu pembenaran yang subyektif, pembenaran sifat.

Pembenaran ini adalah sunat yang sejati dan hidup. Apakah arti sunat? Sunat berarti mengakhiri diri kita sen-diri dan masuk ke dalam Allah: Sunat mengakhiri kita sambil menunaskan Allah ke dalam kita. Orang-orang Yahudi tidak memperhatikan realitas batiniah sunat, yang mereka perhatikan malahan rukun agama yang lahiriah, yaitu mengerat kulit dagingnya saja. Itu bukanlah sunat yang terhitung dalam pandangan Allah. Menurut pandangan Allah, sunat berarti mengerat diri Anda sendiri, yaitu mengakhiri diri Anda, kemudian membiarkan Allah bertunas di dalam Anda, menjadi hayat Anda, agar Anda memiliki suatu permulaan yang baru.

Abraham telah mengalami Allah yang menjadikan apa yang tidak ada menjadi ada. Demi terlahirnya Ishak, Abraham telah mengalami Allah yang sedemikian. Bahkan demi kebangkitan Ishak, ia pun telah mengalami Allah yang membangkitkan orang mati. Maka ada dua macam Ishak, Ishak yang dilahirkan dan Ishak yang dibangkitkan. Allah yang dipercayai Abraham mempunyai dua aspek ini. Ia percaya kepada Allah yang menjadikan apa yang tidak ada menjadi ada, dan Allah yang membuat orang mati hidup kembali.

Tidak peduli siapa kita ini dan berada dalam situasi apa, keadaan manusia pada umumnya ialah tidak ada, yakni tanpa eksistensi apa-apa. Kedua, keadaan umum dari setiap orang dan segala sesuatu ialah mati. Jadi, keadaan manusia umumnya meliputi dua aspek tadi, tidak ada dan mati. Keadaan kita semua sebenarnya tidak ada dan mati. Namun Allah yang dipercayai nenek moyang kita, Abraham, yang juga kita percayai, adalah Allah yang menjadikan apa yang tidak ada menjadi ada. Bila kita mengatakan, “Tidak ada”, Dia berkata, “Ada”. Jangan mengatakan gereja di suatu tem-pat sangat miskin. Memang dalam pandangan Anda boleh jadi ia miskin, akan tetapi tidak demikian dalam pandangan Allah yang dipercayai Abraham. Mungkin Allah akan mem-beri tahu Anda, “Kamu mengatakan tidak ada apa-apa. Satu menit lagi, Aku akan mengadakan sesuatu.” Andaikata di sini tidak ada seorang saudara yang bernama James Barber. Kalau Allah menghendaki seorang yang demikian, Ia cukup memanggil namanya, “Si Anu”, maka si Anu itu segera muncul. Itulah artinya Allah menjadikan apa yang tidak ada menjadi ada. Tatkala Allah bersabda kepada Abraham, “Keturunanmu akan sebanyak bintang di langit,” menurut kenyataannya, pada masa itu sama sekali tidak ada keturunan Abraham, bahkan satu pun tidak. Namun Allah telah membuat pernyataan yang demikian tentang keturunan Abraham dan Abraham percaya akan firman Allah itu. Kira-kira setahun kemudian, keturunan Abraham yang pertama lahir, yaitu Ishak. Demi terlahirnya Ishak, ia telah mengalami Allah yang menjadikan apa yang tidak ada menjadi ada.

Tetapi itu hanya separuh pengalaman atas Allah. Kemudian ia pun mengalami Allah yang membuat orang mati hidup kembali. Ketika Abraham memperoleh kembali Ishak, setelah ia mempersembahkannya kepada Allah di atas mezbah, ia mengalami Allah yang membangkitkan orang mati. Mungkin di suatu tempat ada sebuah gereja yang keadaannya sangat mati. Jangan terlalu cepat menilai, sebab Allah bisa membangkitkan orang. Ketika sebuah gereja da-lam keadaan mati, itulah satu kesempatan paling baik bagi Allah yang dipercayai Abraham untuk datang dan menyalur-kan hayat kepada gereja yang mati itu.

II. TUJUAN PEMBENARAN ALLAH

Pengertian umum tentang pembenaran yang terdapat pada kebanyakan orang Kristen adalah demikian, “Kita telah berdosa, sedang Allah itu adil dan kudus, maka kita tidak dapat menghampiri-Nya, Dia pun tidak dapat menghampiri kita. Kemudian Kristus datang dan mati di atas salib, demi darah-Nya Ia telah menggenapkan penebusan. Kini di bawah naungan darah-Nya, kita telah tertebus, sehingga Allah telah mendapat kedudukan yang adil dan benar untuk membenarkan kita.” Memang pengertian demikian mutlak tepat. Hanya saja uraian Paulus tentang masalah pembenaran yang tercantum pada akhir pasal 3 tidak berakhir pada butir ini.

Ketika saya masih sebagai seorang Kristen muda dan membaca surat Roma, saya mengira Roma 4 itu tidak perlu ada. Saya rasa masalah pembenaran ini sudah selesai dibahas pada akhir Roma 3. Roma 5 seharusnya menyambung Roma 3, sedang Roma 4 boleh dihapus. Kemudian saya baru mengetahui bahwa rasul Paulus tidak sedangkal itu, yang ia perhatikan adalah perkara yang jauh lebih dalam daripada penebusan, ia memperhatikan tujuan Allah. Penebusan bu-kan tujuan Allah, melainkan merupakan satu proses yang Allah tempuh untuk mencapai tujuan-Nya. Dalam Roma 3, kita nampak penebusan telah menghasilkan pembenaran, namun kita belum nampak tujuan Allah. Apakah tujuan pembenaran Allah? Untuk menjawab pertanyaan ini, Paulus telah mengutip kisah Abraham sebagai teladan dan kiasan yang menjelaskan apa yang tidak dapat dijelaskan oleh perkataan manusia. Maka jika kita mempelajari gambar dalam pasal 4, kita akan mengerti bahwa masalah dalam Roma 4 lebih dalam dan lebih luas daripada Roma 3.

Kita sering mengira pembenaran hanya merupakan perkara yang berhubungan dengan dosa. Namun, kalau kita baca Kejadian 15 yang mengatakan bahwa iman Abraham telah diperhitungkan Allah sebagai kebenaran, di sini masa-lah dosa tidak disebut-sebut. Dosa tidak terkandung di dalamnya. Titik beratnya terletak pada satu keturunan yang kelak akan menjadi kerajaan bagi penggenapan kehendak Allah. Allah memanggil Abraham bukan hanya karena Ia mengasihani keadaannya yang penuh dosa. Allah tidak berkata kepadanya demikian, “Hai Abraham, kamu terlalu kasihan. Aku tidak ingin melihatmu jatuh ke dalam neraka. Demi belas kasihan-Ku, Aku memanggil kamu keluar dari keadaanmu yang jatuh.” Sama sekali tidak demikian.

Kejadian 1 menerangkan kepada kita bahwa manusia diciptakan Allah menurut gambar dan rupa-Nya untuk mengekspresikan Dia sendiri. Dan, manusia ini bukan yang individu, melainkan yang korporat. Allah menciptakan satu manusia yang korporat, yang mencakup laki-laki dan perempuan. Menurut Kejadian 5:2, baik Adam maupun Hawa, kedua-duanya disebut Adam. Ini menyatakan Allah telah menciptakan manusia yang korporat untuk mengekspresi-kan Dia dan menjalankan kekuasaan-Nya. Dengan kata lain Allah ingin memiliki suatu kerajaan sebagai wilayah untuk mengeskpresikan kemuliaan-Nya. Inilah tujuan Allah. Sayang manusia telah jatuh dari tujuan Allah ini. Begitu manusia berpaling dari Allah, menyimpang dari tujuan Allah dan diduduki oleh perkara-perkara lain, manusia terjerumus ke dalam dosa. Tetapi Kejadian 15 sama sekali tidak menyinggung masalah dosa, melainkan menyinggung masalah bagaimana Allah mencapai tujuan-Nya. Ini bukan masalah keselamatan, melainkan masalah penggenapan tujuan Allah. Asal Anda terlibat dalam penggenapan tujuan Allah, Anda pasti beroleh selamat.

Kekristenan sangat dangkal, karena hanya memperhatikan keselamatan manusia, tanpa memperhatikan kehendak Allah. Pembenaran Allah yang penting bukan untuk keselamatan manusia, melainkan untuk menggenapkan kehendak Allah. Mengapa Allah memilih Anda? Allah memilih Anda yang penting bukan untuk keselamatan, tetapi untuk kehendak-Nya. Mengapa Allah memanggil Anda? Allah bukan memanggil Anda untuk naik ke surga, melainkan untuk meng-genapkan kehendak-Nya. Asal Anda berhubungan dengan kehendak-Nya, maka keselamatan Anda pasti tidak menjadi soal lagi. Namun jika Anda hanya memperhatikan keselamatan diri sendiri, Anda mungkin akan kehilangan sasaran kehendak-Nya itu. Keselamatan itu sendiri bukan tujuan, ia hanya diperuntukkan bagi kehendak Allah. Sebab itu, pembenaran Allah adalah untuk menggenapkan kehendak-Nya.

Dalam Kejadian 15 tidak disebut masalah dosa. Allah berfirman kepada Abraham, “Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang...Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” Abraham percaya kepada firman Allah, dan imannya ini dihitung Allah sebagai kebenaran. Jadi pembenaran Allah terhadap Abraham sama sekali tidak bersangkutan dengan masalah dosa, tetapi bersangkutan dengan kehendak Allah, yakni terlahirnya seorang anak untuk menghasilkan kerajaan bagi penggenapan kehendak Allah. Itulah sebabnya dalam Roma 4, setelah mengutip Kejadian 15 yang mengatakan iman Abraham oleh Allah dihitung sebagi kebenaran, rasul Paulus menyebutkan janji tentang Abraham bersama keturunannya akan mewarisi dunia (4:13). Apakah hubungan mewarisi dunia dengan pembenaran? Mengapa Paulus menyebutkan perkara tersebut pada Roma 4? Abraham bersama keturunannya akan mewarisi dunia demi Kerajaan Allah, dan Kerajaan Allah adalah untuk kehendak-Nya. Roma 4 menerangkan kepada kita bahwa pembenaran Allah bukan agar kita dapat naik ke surga, atau untuk keselamatan kita saja. Pembenaran menyebabkan Abraham beserta semua keturunannya yang beriman itu bisa mewarisi dunia, bahkan bisa memegang kuasa bagi Allah di bumi seperti yang tercantum dalam Kejadian 1. Kalau kita hanya memiliki Roma 3, kita akan mengatakan bahwa pembenaran yang terjadi atas dasar penebusan Kristus adalah untuk keselamatan kita. Tetapi pasal 4 menerangkan dengan jelas sekali kepada kita, bahwa Allah membenarkan orang-orang yang dipilih-Nya bukan hanya untuk menyelamatkan mereka, melainkan untuk membuat mereka mewarisi dunia, agar bisa berkuasa bagi Allah di bumi ini.

III. HASIL PENGALAMAN YANG SUBYEKTIF ATAS PEMBENARAN

Menurut Kejadian 15:6, Abraham percaya kepada firman Allah yang mengatakan keturunannya akan sebanyak bintang-bintang di langit, maka imannya ini oleh Allah dihitung sebagai kebenaran. Walaupun pada masa itu Abraham telah menerima kebenaran Allah, namun ia kurang begitu paham terhadap perkara tersebut. Kebenaran itu seolah masih abstrak, kurang konkrit. Bagi Abraham hal itu mungkin hanyalah satu istilah.

Dalam Kejadian 16 kita nampak kelahiran Ismael. Meskipun Abraham telah dibenarkan Allah, tetapi pada dirinya masih belum ada yang konkrit. Karena itu Sara menyarankan supaya ia memperoleh seorang anak melalui hamba perempuannya, yaitu Hagar. Abraham dengan daya upayanya sendiri telah melahirkan Ismael. Dari segi kedudukan, Abraham sudah memiliki kebenaran Allah, tetapi dari segi watak (sifat), ia belum memilikinya. Ia hanya memiliki Ismael. Sebab itu, Allah datang mencampuri urusannya, seolah-olah berkata kepadanya, “Abraham, kamu harus sempurna, sebab Aku adalah Allah yang sempurna. Kamu wajib percaya kepada sabda-Ku dan wajib bersandar kepada-Ku. Aku telah menghitung imanmu sebagai kebenaranmu, maka kamu tidak seharusnya bertindak demi dirimu sendiri untuk melahirkan Ismael guna menggenapkan kehendak-Ku. Itu bukan kebenaran yang Kuhitung bagimu. Ismael bukanlah kebenaran yang Kuhitung bagimu. Kamu harus menghentikan tindakanmu itu. Sebagai peringatan, maka kamu harus disunat.” Maka sunat diadakan, karena Abraham hendak menggenapkan kebenaran Allah melalui perbuatannya sendiri. Galatia 4 mengatakan bahwa Hagar melambangkan hukum Taurat. Maka melahirkan Ismael melalui Hagar berarti melakukan hukum Taurat. Perbuatan itu bukan kebenaran Allah. Abraham harus belajar mengakhiri dirinya sendiri, harus menghentikan daya upaya sendiri, dan harus disunat.

Dalam Kejadian 17 Allah mengatakan tentang Ishak dan berjanji akan membuat perjanjian dengannya. Ditinjau dari segi lambang, Ishak melambangkan Kristus sebagai kebenaran yang Allah perhitungkan bagi orang-orang yang telah percaya demi iman. Dalam Kejadian 15, menurut kedudukan, Abraham sudah memiliki kebenaran Allah. Ketika Ishak lahir, menurut sifat, ia pun sudah memiliki kebenaran Allah. Ia kini telah mempunyai satu pengalaman yang sesungguhnya terhadap kebenaran Allah.

Pengertian kebanyakan orang Kristen sangatlah dangkal. Mereka mengatakan, “Kita sudah berdosa. Kristus telah mati bagi kita. Kalau kita percaya kepada-Nya, maka di bawah naungan darah-Nya, Allah akan mengaruniakan kebenaran-Nya kepada kita, bahkan akan membenarkan kita.” Menurut konsepsi yang demikian, kebenaran hanya beraspek kedudukan dan obyektif. Namun menurut pengalaman kita, kita dapat mengenal bahwa kebenaran yang terhitung bagi kita ketika kita percaya adalah Kristus itu sendiri. Ishak adalah lambang Kristus. Karena Ishak melambangkan Kristus, kita boleh mengatakan bahwa Ishak adalah kebenaran kita. Akhirnya, kebenaran Allah tidak lagi merupakan satu istilah yang abstrak, melainkan menjadi satu persona, yaitu Kristus yang bangkit. Kristus yang bangkit ini kini telah menjadi Ishak kita. Meskipun pada saat percaya kita sudah menerima kebenaran Allah, tetapi kita belum mengetahui bahwa kebenaran itu sebenarnya adalah Kristus, Putra Allah itu.

Segera sesudah kita menerima Kristus, kita lalu bertekad hendak mengamalkan kebajikan bagi Allah. Itu berarti kita mengambil Hagar dan melahirkan Ismael. Ingatlah, Ismael melambangkan pekerjaan hukum Taurat. Sungguhpun kita telah mengamalkan kebajikan, tetapi Allah akan berkata, “Usirlah Ismael itu. Aku tidak berkenan kepadanya. Kamu harus ditanggulangi dan diletakkan di atas salib. Kamu wajib diakhiri. Kamu harus dikerat, disunat. Kamu memerlukan Putra-Ku sebagai kebenaran-Ku yang hidup, yaitu yang dilahirkan di dalammu serta yang dinyatakan dari dalammu.” Dengan demikianlah kita baru memiliki satu pengalaman yang sesungguhnya terhadap kebenaran Allah, dan dibenarkan dalam kedudukan dan sifat.

Setelah Abraham menerima Ishak, ia merasa puas ter-hadapnya. Begitu pula, ketika kita secara pribadi menerima pengalaman atas diri Kristus, kita merasa puas sekali terhadap-Nya, kita akan berkata, “Beberapa tahun yang lalu, aku hanya mengetahui kebenaran Allah, namun aku belum mengalami Kristus sendiri sebagai kebenaran Allah. Sekarang aku mengalami dan menikmati Kristus sebagai kebenaran Allah.” Tetapi ketika Anda sedang menikmati Kristus milik pribadi Anda itu, Allah datang menampakkan diri-Nya sama seperti Ia menampakkan diri-Nya kepada Abraham di masa lalu, dan berkata, “Persembahkanlah Ishakmu itu kepada-Ku.” Mungkin Tuhan menyuruh Anda pergi ke gereja. Hal itu akan membuat Anda merasa tidak enak. Anda lalu menjawab, “Aku tak peduli gereja. Asal aku sudah mengalami Kristus, bukankah sudah cukup?” Jawaban Anda yang demikian membuktikan bahwa Anda tidak rela mempersembahkan Ishak Anda di mezbah. Tetapi kalau Anda mempersembahkan Ishak Anda kepada Allah, Allah akan menyatakan reaksi-Nya sekali lagi, bahkan akan memberikan ribuan Ishak kepada Anda. Abraham mempersembahkan satu Ishak, tetapi ia memperoleh jutaan keturunan, yakni kerajaan Israel, yang melaksanakan kekuasaan Allah. Itulah sebabnya Paulus mengatakan bahwa Abraham beserta keturunannya akan mewarisi dunia.

Kehidupan Tubuh telah tersirat di sini. Pada pasal 12 kita nampak adanya Tubuh. “Kita, walaupun banyak, adalah satu Tubuh di dalam Kristus.” Sampai pasal 14 dijelaskan oleh Paulus, bahwa Tubuh itulah Kerajaan Allah, dan mengatakan bahwa kita wajib menerima semua saudara oleh karena Kerajaan Allah tersebut. Roma 14:17 mengatakan, “Sebab Kerajaan Allah adalah kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita oleh Roh Kudus.” Kehidupan Tubuh ialah Kerajaan Allah untuk menggenapkan kehendak Allah.

Pada suatu hari Allah yang mulia melalui berita Injil mendatangi kita, sehingga kita tertarik, diyakinkan, dan mulai menghargai-Nya. Pada saat itu Allah yang mulia telah mentransfusikan unsur ilahi-Nya ke dalam kita, kita pun dengan spontan percaya kepada-Nya. Lalu kita berkata, “Ya, Allah, aku adalah orang berdosa. Aku bersyukur kepada-Mu, sebab Yesus Kristus, Putra-Mu telah mati di atas salib bagiku.” Kita bisa mengucapkan kata-kata yang demikian karena Kristus yang hidup telah bekerja di dalam diri kita, yang menjadi kemampuan percaya kita. Setelah itu kalau ada orang menganjuri kita supaya tidak percaya Kristus, kita akan merasa tidak mungkin melakukan perkara itu. Tidak ada seorang pun yang bisa mengambil iman yang ada di dalam kita, sebab iman itu adalah Kristus yang hidup yang bekerja di dalam kita, dan bereaksi terhadap Allah. Sesudah kita menyatakan reaksi demikian terhadap Allah, Allah pun segera menyatakan reaksi-Nya kepada kita, yaitu membenarkan kita. Kemudian kita merasa bahwa kita telah beroleh pengampunan dan pembenaran; telah memperoleh damai sejahtera dan sukacita. Selanjutnya, kita semua bertekad hendak mengamalkan kebajikan, seperti membawa diri (berperilaku), mengasihi istri, mematuhi suami, dan lain sebagainya. Tetapi semua yang kita hasilkan tak lain adalah Ismael. Akhirnya kita mengetahui bahwa kita perlu diakhiri, disunat, agar Allah dapat bekerja di dalam kita, hingga Ishak hari ini bisa dilahirkan. Dialah Kristus, realitas kebenaran Allah. Begitu kita memiliki Kristus, kita wajib pula mempersembahkan-Nya kepada Allah, agar kita bisa memperoleh-Nya kembali di dalam kebangkitan. Akibat dari semuanya itu ialah Kerajaan Allah, kehidupan gereja. Inilah Tubuh Kristus.

Paulus menulis Roma 4 dengan maksud memperlihatkan kepada kita bahwa pembenaran Allah hanya untuk menggenapkan kehendak-Nya. Kehendak Allah justru menghendaki satu Tubuh, yaitu Kerajaan Allah, untuk mengekspresikan diri-Nya dan berkuasa bagi-Nya di bumi. Maka Roma 4 telah meletakkan dasar bagi pasal 12-16, di mana kita nampak kehidupan Tubuh yang praktis, kehidupan gereja, dan kehidupan kerajaan.