TELADAN PEMBENARAN
Saya menyukai surat Roma, karena surat ini ditulis secara padat dan riil. Meskipun surat ini membahas banyak doktrin, namun semuanya ditulis manurut fakta dan peng-alaman. Surat Roma didasarkan pada pengalaman. Pembenaran bisa terlihat sebagai suatu doktrin saja, namun Rasul Paulus memberikan satu teladan yang hidup bersamaan dengan pembenaran, yaitu Abraham (4:1-25). Dalam berita ini kita akan membahas Abraham, teladan pembenaran itu sebagai teladan dan pola kita. Abraham berarti “Bapa banyak bangsa”. Menurut Alkitab, Abraham adalah bapa orang Yahudi dan bapa orang kafir yang beriman (Rm. 4:11-12, 16-17, Gal. 3:7-9, 29). Siapa saja beriman, baik orang Yahudi maupun orang kafir, adalah keturunan Abraham.
I. ORANG YANG TERPANGGIL
Abraham adalah orang yang terpanggil. Adam tercipta, namun Abraham terpanggil. Jauh sekali perbedaan antara tercipta dan terpanggil. Kitab Kejadian dapat dibagi dalam dua bagian besar: bagian pertama meliputi sepuluh setengah pasal pertama, yang mengisahkan sejarah kaum tercipta de-ngan Adam sebagai bapa dan kepalanya; bagian kedua dari pertengahan pasal sebelas sampai akhir kitab tersebut, mengisahkan sejarah kaum terpanggil dengan Abraham sebagai bapa dan kepalanya. Menurut catatan kitab Ke-jadian, sejarah kaum tercipta berakhir sampai dengan pembangunan menara dan kota Babel (Yunaninya: Babilon). Nama berhala tercatat pada menara tersebut. Artinya, seluruh kaum tercipta telah berpaling kepada penyembahan berhala, maka Paulus berkata bahwa umat manusia telah menggantikan Allah dengan berhala (1:23, 25).
Paulus menulis Roma 1 menurut sejarah dalam kitab Kejadian. Sejak zaman Kain, manusia tidak mengindahkan pengenalan terhadap Allah, bahkan telah meninggalkan Allah. Manusia meninggalkan Allah dan mendirikan kota Henokh, inilah kebudayaan manusia yang mula-mula, seperti yang tercatat pada Kejadian 4. Dengan kebudayaan tersebut manusia telah jatuh ke dalam kejahatan, dan tetap tinggal dalam keadaan yang jahat itu sampai air bah datang. Itulah hukuman Allah terhadap mereka.
Oleh belas kasih Allah, ada delapan orang yang diselamatkan demi bahtera (bahtera melambangkan Kristus). Angka delapan adalah angka kebangkitan, ini menyatakan bahwa orang-orang tersebut diselamatkan dan dipelihara di dalam kebangkitan. Dari satu segi, Nuh adalah kepala kaum yang baru. Namun tak lama kemudian keturunan Nuh di Babel meninggalkan Allah (Kej. 11). Ketika mereka menggantikan Allah dengan berhala, mereka sama sekali sudah meninggalkan Allah. Sebelum air bah, mereka belum selu-ruhnya meninggalkan Allah; sampai keturunan Nuh, baru-lah Allah ditinggalkan sama sekali, bahkan mereka mutlak jatuh ke dalam penyembahan berhala.
Persundalan mengikuti penyembahan berhala. Setelah Babel muncullah Sodom. Sodom adalah kota persundalan. Dalam bahasa Inggris terdapat kata “Sodomy” dan “Sodomites” yang berarti “suatu persundalan yang paling memalukan”. Penduduk Sodom melanggar sifat alami mereka dan mengakibatkan kekalutan yang dahsyat. Pada masa Kejadian 19, umat manusia yang sudah menggantikan Allah dengan berhala, jatuh ke dalam keadaan “Sodomy”. Akibatnya timbullah berbagai macam kejahatan.
Inilah latar belakang Roma 1. Roma 1 ditulis menurut sejarah kejatuhan manusia: tidak mengindahkan pengenalan akan Allah, menggantikan Allah dengan berhala, jatuh ke dalam persundalan dan menghasilkan berbagai macam kejahatan.
Selama proses kejatuhan yang mengerikan itu, manusia menggantikan Allah dengan berhala dan sama sekali meninggalkan Allah. Sebaliknya, Allah juga meninggalkan manusia. Seolah-olah Allah berkata, “Karena kamu meninggalkan Aku, maka Aku biarkan kamu.” Kaum tercipta me-ninggalkan Allah, dan Allah meninggalkan kaum tercipta.
Tetapi Allah memanggil satu orang beserta istrinya keluar dari kaum itu. Allah tidak bermaksud memanggil orang yang ketiga. Allah bermaksud memanggil orang yang lengkap, yaitu seorang laki-laki beserta istrinya. Kalau Anda belum menikah, Anda belum lengkap. Tanpa istri, Anda tidak lengkap; Anda memerlukan istri sebagai pelengkap Anda! Anda berdua membentuk kesatuan yang lengkap. Itulah sebabnya Allah memanggil Abraham beserta istrinya sebagai orang yang lengkap.
Mungkin kita mengira bahwa kita kurang mutlak bagi Allah. Namun Abraham, bapa dan teladan iman kita pun tidak mutlak. Ketika ia dipanggil Allah untuk meninggalkan Ur-Kasdim, dia tidak saja membawa istrinya, bahkan sanak saudaranya.
Allah memanggil Abraham dengan menampakkan diri-Nya sebagai Allah yang Mahamulia (Kis. 7:2-3). Allah memanggilnya bukan hanya dengan kata-kata. Dia memanggilnya dengan kemuliaan-Nya, Abraham melihat kemuliaan Allah dan tertarik.
Pengalaman kita juga demikian. Dalam satu segi, kita juga telah melihat kemuliaan Allah. Ketika kita mendengarkan Injil dan Injil itu masuk ke dalam kita, kita melihat kemuliaan Allah. Apakah Anda tidak melihat kemuliaan Allah pada saat Anda beroleh selamat? Saya melihatnya pada waktu saya masih seorang muda yang berambisi. Saya tidak berniat menerima Allah, namun ketika Injil masuk ke dalam saya, tidak tertahan lagi saya berkata, “Ya Allah, hamba mau Engkau!” Tak dapat saya sangkal bahwa kemuliaan Allah telah tertampak oleh saya. Pengalaman yang demikian tidak dapat diutarakan. Tak seorang pun yang mampu menjelaskannya dengan jelas. Ketika Injil masuk ke dalam kita, kita hanya dapat berkata bahwa Allah yang Mahamulia telah menampakkan diri kepada kita, menarik kita, serta memanggil kita. Seperti Abraham, kita juga dipanggil oleh Allah yang Mahamulia.
Abraham sama dengan kita. Janganlah mengira kita berbeda dengannya. Kita tidak seharusnya mengira kita ber-beda dengannya. Kita tidak seharusnya meninggikan Abraham dan merendahkan diri sendiri, karena kita semua sama tinggi. Kita semua adalah Abraham. Abraham tidak luar biasa. Ketika kanak-kanak, saya mendengar cerita Abraham, saya mengira dia itu luar biasa. Namun melalui pembacaan Alkitab selama bertahun-tahun, saya menyadari bahwa antara Abraham dan saya hanya terdapat sedikit perbedaan, bahkan hampir-hampir sama. Meskipun Abraham telah dipanggil oleh Allah, dia tidak mempunyai keberanian untuk meninggalkan negeri yang menyembah berhala, sehingga Allah terpaksa menggunakan ayah Abraham untuk membawanya keluar dari Ur-Kasdim. Abraham adalah orang yang dipanggil, tetapi sebenarnya ayahnyalah yang mula-mula mengajaknya berangkat, meninggalkan Ur-Kasdim dan tinggal di Haran. Tetapi, ketika Abraham masih belum cukup berani mengikuti Allah secara mutlak, Allah terpaksa mengambil ayahnya. Ayahnya meninggal di Haran dan Allah memanggil Abraham untuk kali kedua.
Panggilan pada Abraham yang pertama tercatat dalam Kisah Para Rasul 7:2-4. Panggilan yang kedua tercatat dalam Kejadian 12:1. Kita harus memperhatikan perbedaan antara kedua panggilan tersebut. Menurut Kisah Para Rasul 7:2, Allah memanggil Abraham keluar dari dua hal negeri dan sanak saudaranya. Menurut Kejadian 12:1 terdapat tambahan lain rumah bapanya. Panggilan pertama me-minta Abraham meninggalkan negeri, sanak saudaranya; panggilan kedua meminta dia meninggalkan negeri, sanak saudaranya, dan rumah bapanya. Abraham dan istrinya harus pergi sendirian. Allah mengambil ayah Abraham, dan Dia tidak menghendaki Abraham membawa sanak saudaranya yang mana pun bersamanya.
Kalau kita perhatikan apa yang dilakukan Abraham, akan kita ketahui bahwa kita bukanlah satu-satunya orang yang tidak mutlak menaati panggilan Tuhan. Bapa kita, Abraham, adalah yang pertama mengikuti Allah dengan tidak mutlak. Dia merasa kesepian. Dia tidak ingin pergi sendirian. Maka dia membawa Lot, keponakannya pergi bersamanya. Ini melanggar panggilan Allah. Meskipun Abraham menjawab panggilan Allah, tetapi sedikitnya sebagian dari jawabannya tidak menaati panggilan tersebut. Begitu pula, hampir semua dari kita telah menjawab penggilan Alah, tetapi dalam jawaban itu, kita bertindak berlawanan dengan panggilan-Nya. Tak seorang pun di antara kita yang men-jawab panggilan Allah dengan mutlak. Sekalipun demikian, Allah tetap mutlak. Tak peduli betapa tidak mutlaknya kita, Allah tetap akan menggenapi panggilan-Nya.
Abraham mengasihi Lot, maka Allah menggunakannya untuk mendisiplinkan Abraham. Akhirnya Lot berpisah dengan Abraham, dan Abraham mengikuti panggilan Allah secara mutlak. Dia tidak lagi beserta dengan ayah atau keponakannya. Dia sendirian dengan istrinya. Ia telah meninggalkan negerinya, sanak saudaranya, dan rumah bapanya. Namun masih ada satu lagi yang harus ia tinggalkan yaitu dirinya sendiri. Dia terlalu bersandar kepada dirinya sendiri.
Kita mengetahui bahwa Abraham masih melekat kepada dirinya sendiri. Ini bisa kita lihat dari reaksinya terhadap saran Sara agar ia mempunyai keturunan dari Hagar. Meskipun usul ini mengandung maksud yang baik, tetapi bertentangan dengan panggilan Allah. Abraham seharusnya menggunakan daya tamyiznya (pembeda), dan tidak mendengarkan saran istrinya. Saran Sara adalah ujian yang membuktikan bahwa Abraham masih berada di dalam dirinya yang lama, bagiannya ini adalah ciptaan lama. Namun, maksud Allah memanggil Abraham adalah agar ia sama sekali meninggalkan setiap bagian ciptaan lama bukan hanya negeri, sanak saudara, dan rumah bapanya, tetapi juga keluar dari diri sendiri. Seolah-olah Allah berkata kepada Abraham, “Jangan berbuat apa pun. Kamu harus keluar dari dirimu. Akulah yang akan mengerjakan segalanya bagimu. Tetapi Aku tidak dapat berbuat apa-apa selama kamu masih tetap tinggal di dalam dirimu sendiri.” Sekalipun demikian, Abraham menuruti saran Sara dan hasilnya adalah Ismael. Ini adalah satu kesalahan yang sangat serius, yang menyebabkan orang Yahudi terus-menerus menderita. Mengapa Abraham berbuat kesalahan sedemikian? Karena dia masih berada di dalam dirinya sendiri. Dia telah meninggalkan banyak hal lain, tetapi dia masih belum meninggalkan dirinya sendiri.
Kapan Abraham meninggalkan dirinya sendiri? Yaitu ketika ia berumur seratus tahun, pada saat ia telah menganggap dirinya sebagai orang mati. Setiap orang mati tentu sudah meninggalkan dirinya sendiri. Pada umur seratus tahun Abraham mengamati dirinya sendiri dan berkata, “Habislah aku, aku seperti orang mati.” Roma 4:19 mengatakan, “ia melihat dirinya sendiri seperti sudah mati” (Tl.). Hal ini menyatakan bahwa akhirnya ia telah keluar dari dirinya sendiri. Dia telah mutlak menjadi orang yang terpanggil. Telah terpanggilkah Anda? Meskipun Anda adalah orang terpanggil, Anda masih belum meninggalkan diri Anda sendiri.
Seperti telah kita lihat, kaum tercipta telah jatuh sedemikian rupa sehingga mereka menggantikan Allah dengan berhala. Allah tidak dapat berbuat apa-apa lagi atas mereka. Bagi Allah, kaum tercipta yang dikepalai Adam telah tidak berpengharapan sama sekali, maka Allah meninggalkan mereka. Tetapi dari kaum tercipta yang jatuh, Allah memanggil Abraham keluar untuk menjadi bapa dan kepala kaum yang baru yaitu kaum terpanggil. Termasuk kaum manakah kita Kaum tercipta ataukah kaum terpanggil? Kita termasuk yang terpanggil! Tetapi kita sama dengan bapa kita Abraham. Seperti dia, kita memberikan reaksi terhadap panggilan Allah setapak demi setapak, tidak mutlak. Kita semua di dalam proses menjawab panggilan Allah. Tak peduli betapa lemah Anda, saya yakin akhirnya Anda akan dipanggil. Tetapi Anda harus cepat-cepat menjawab panggilan Allah dan meninggalkan segala yang bukan Allah. Makin cepat Anda maju, makin baik. Saya anjurkan Anda bergegas. Keluarlah dari segala yang bukan Allah.
II. ORANG YANG PERCAYA
Kaum terpanggil menjadi kaum beriman. Mula-mula Abraham adalah orang yang terpanggil, kemudian menjadi orang yang beriman. Dia telah meninggalkan segalanya dan tidak ada jalan lain kecuali bersandar kepada Allah. Dia bersandar kepada Allah karena tidak mengetahui ke mana ia akan pergi. Allah hanya menyuruhnya meninggalkan negeri, sanak saudara, dan rumah bapanya. Dia tidak mengatakan kepada Abraham ke mana ia harus pergi. Ini memaksanya bersandar kepada Allah. Abraham dapat berkata, “Aku hanya bersandar kepada Allah, aku akan pergi ke mana saja Ia memimpinku.” Jika kita pelajari sejarah hidup Abraham, kita akan tahu bahwa hidupnya adalah hidup yang bersandar dan iman. Allah tidak mengharapkan Abraham berbuat apa-apa. Seolah-olah Allah berkata kepadanya, “Abraham, engkau telah Kupanggil. Janganlah berbuat sesuatu apa pun. Aku akan mengerjakan segalanya bagimu. Tinggal saja bersama Aku. Ketika Aku bergerak, ikutlah bergerak. Engkau harus pergi ke mana saja Aku pergi. Janganlah berbuat sesuatu bagi dirimu sendiri, dan janganlah berbuat sesuatu bersandar dirimu sendiri.” Inilah yang dimaksud bersandar kepada Allah.
Banyak orang mempunyai kesan yang tidak benar, mengira percaya kepada Tuhan Yesus hanyalah berkata, “Ya Tuhan Yesus, aku percaya kepada-Mu. Aku menerima Eng-kau sebagai Juruselamatku.” Ini memang benar, tetapi maksud sebenarnya jauh lebih dalam. Maksudnya ialah kita harus mengakhiri diri kita sendiri, mengakui bahwa kita bukan apa-apa, tidak memiliki apa-apa, dan tidak bisa ber-buat apa-apa. Tiap langkah dan tiap saat, kita wajib bersandar kepada-Nya. Saya tidak tahu bagaimana cara berbuat sesuatu, saya hanya tahu bagaimana bersandar kepada Tuhan. Saya telah dipanggil keluar dari segala yang bukan Allah, sekarang saya percaya kepada segala perkara Allah. Saya percaya kepada-Nya dan saya percaya akan segala sesuatu yang telah Ia rampungkan bagiku. Saya percaya kepada apa yang dapat Ia lakukan bagi saya dan percaya kepada apa yang akan Ia lakukan bagi saya. Saya bersandar sepenuhnya kepada-Nya. Inilah kesaksian kaum yang terpanggil dan yang beriman. Sebagai anak-anak Abraham, bapa orang beriman, kita adalah orang-orang beriman (Gal. 3:7-9).
A. ALLAH YANG MENJADIKAN APA YANG TIDAK ADA MENJADI ADA
Abraham percaya kepada Allah yang bagaimana? Siapakah Allah yang kepada-Nya kita percaya? Allah yang kepada-Nya Abraham percaya adalah Allah yang menjadikan apa yang tidak ada menjadi ada (4:17). Allah Abraham adalah Allah yang menjadikan apa yang tidak ada menjadi ada, berarti Dia menciptakan sesuatu dari tidak ada. Allah adalah Pencipta, Abraham percaya kepada Allah yang demikian dan menerapkan Allah ini ke dalam keadaannya. Pada satu pihak, Abraham tidak mampu melahirkan anak. Namun Allah menjadikan Ishak, meskipun Ishak belum ada. Allah menjadikan apa yang tidak ada menjadi ada. Ketika Ishak tidak ada dan ketika tidak ada kemungkinan baginya untuk ada, Allah mengumumkan “Akan ada Ishak”. Maka Ishak dilahirkan. Allahlah yang menjadikan apa yang tidak ada menjadi ada. Kita harus percaya kepada Allah yang sama ini, karena Dialah Pencipta yang Mahakuasa, yang men-jadikan apa yang tidak ada menjadi ada.
B. ALLAH YANG MENGHIDUPKAN ORANG MATI
Allah yang kepada-Nya Abraham percaya adalah Allah yang menghidupkan orang mati (4:17). Hal ini berarti Allah dapat membangkitkan orang mati. Abraham telah mengalami hal ini ketika Allah memintanya untuk mempersembahkan Ishak. Abraham taat. Ketika Abraham mempersembahkan Ishak, ia percaya bahwa Allah akan membangkitkannya dari kematian (Ibr. 11:17-19). Ia percaya Allah akan membangkitkan anaknya dan ia akan menerimanya kembali di dalam kebangkitan.
Kita perlu percaya kepada Tuhan Yesus dengan cara yang sama. Kita percaya kepada Allah Pencipta, yang menjadikan apa yang tidak ada menjadi ada. Kita juga percaya kepada-Nya sebagai pemberi kehidupan, sebagai Yang dapat membangkitkan orang mati. Dia dapat menciptakan sesuatu dari tidak ada, dan Dia dapat memberi kehidupan kepada orang mati.
Kita dapat menerapkannya di dalam hidup gereja. Anda mungkin merasa bahwa keadaan gereja di tempat Anda berada sangat kasihan. Memang sangat kasihan, dan tidak ada apa-apanya. Berkatalah kepada Tuhan, “Ya Tuhan, datanglah untuk menjadikan apa yang tidak ada menjadi ada.” Mungkin Anda pindah ke suatu tempat, dan ternyata tempat itu penuh dengan kematian. Inilah sebabnya Allah mengutus Anda. Anda harus percaya kepada-Nya sebagai Sang Pemberi hidup kepada orang mati.
Pada tahun 1949 saya diutus ke Taiwan. Saya menganggap pulau tersebut adalah daerah terbelakang. Sebelumnya, saya tinggal dan melayani di Shanghai, kota terbesar di Timur Jauh, di mana pekerjaan Tuhan sangat kuat, ada seribu orang saleh yang berhimpun. Kami mempunyai 17 sidang rumahan dan menerbitkan empat macam majalah. Tiba-tiba saya dipindahkan dari China ke Taiwan, sebuah pulau kecil. Ketika saya memeriksa keadaannya, saya sangat kecewa. Saya tak berdaya berbuat apa-apa, dan saya juga tidak ingin berbuat apa-apa. Saya tidak berselera untuk bekerja di suatu wilayah yang sedemikian terbelakang dan orang-orang yang demikian kasihan. Saya berbaring di atas tempat tidur dan memandangi langit-langit kamar, dan berkata kepada diri sendiri, “Apa yang kaulakukan di sini? Mengapa engkau ke sini?” Kemudian saya berpaling kepada istri saya dan bertanya, “Mengapa kita datang ke sini? Apa yang dapat kita lakukan?” Saya sangat susah, istri saya juga tidak bisa berkata apa-apa untuk menolong saya.
Pada suatu hari, Allah yang menjadikan apa yang tidak ada menjadi ada dan yang menghidupkan orang mati, menyentuh hati saya, menyuruh saya untuk tidak kecewa. Sejak itu saya mempunyai beban terhadap pekerjaan di Taiwan. Kurang dari lima tahun, jumlah 350 orang bertambah menjadi 20.000. Pada tahun pertama, pertambahannya hampir tiga puluh kali lipat. Kebanyakan yang diselamatkan waktu itu sekarang adalah sekerja-sekerja.
Kita harus percaya kepada Allah yang menjadikan apa yang tidak ada menjadi ada dan yang menghidupkan orang mati. Janganlah dikecewakan oleh keadaan di tempat Anda. Janganlah berkata bahwa segalanya melarat dan mati. Tempat yang demikian inilah yang cocok untuk Anda dan cocok untuk Allah. Miskinkah? Anda mempunyai Allah yang hidup yang menjadikan apa yang tidak ada menjadi ada. Matikah? Anda mempunyai Allah yang hidup yang menghidupkan orang mati. Keadaan Anda memberi kesempatan kepada Allah untuk datang memberikan hayat kepada orang mati. Janganlah mengeluh. Berserulah kepada-Nya dan percayalah kepada-Nya. Janganlah kecewa karena keadaan keluarga Anda. Janganlah berkata bahwa istri Anda miskin, atau suami Anda mati. Semakin berkata demikian, semakin celakalah keadaannya. Katakanlah, “Istriku miskin, tetapi Allah-ku tidak miskin. Suamiku mati, tetapi Allahku tidak mati. Allah yang kepada-Nya aku percaya, adalah Allah yang menciptakan sesuatu dari tidak ada dan yang menghidupkan orang mati. Allahku tidak menghidupkan orang hidup Dia menghidupkan orang mati. Keadaanku adalah satu kesempatan yang terbaik bagi Allah.”
III. IMANNYA DIPERHITUNGKAN
SEBAGAI KEBENARAN
Iman yang sedemikian diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran (4:3, 22). Jadi, makin besar percaya kita kepada Allah, makin besar pula kita merasa bahwa Allah berkenan kepada kita. Inilah kebenaran Allah yang diperhitungkan kepada kita sebagai hasil percayanya kita. Seperti yang kita lihat pada berita yang lalu, iman adalah Kristus yang hidup itu. Ketika Kristus masuk ke dalam kita yang percaya, Dialah iman kita. Kemudian Allah memperhitungkan iman kita itu sebagai kebenaran. Jadi kita mempunyai iman maupun kebenaran. Artinya kita memperoleh Kristus lebih banyak. Kita memiliki-Nya sebagai iman kita dan kebenaran kita. Dia adalah iman yang dengannya kita percaya kepada-Nya, dan kebenaran yang diperhitungkan kepada kita oleh Allah. Dialah segala-gala kita. Makin percaya kepada-Nya, makin banyak kita memperoleh-Nya. Makin percaya kepada-Nya, makin banyak pula Allah memberikan Dia kepada kita.
IV. MENERIMA SUNAT SEBAGAI METERAI
Iman yang diperhitungkan kepada Abraham sebagai kebenaran, tidak tergantung pada sunat lahiriah, karena sunat datang belakangan. Abraham menerima tanda sunat itu sebagai meterai kebenaran berdasarkan iman yang ia miliki sebelum ia disunat (4:11). Sunat, sebagai tanda lahiriah, adalah meterai dari realitas di dalam. Kalau kita tidak mempunyai realitasnya, hendaklah kita lupakan tanda luaran itu. Kalau kita mempunyai realitasnya, kita mungkin masih memerlukan tanda di luar sebagai meterai. Sunat bagi Abraham merupakan meterai yang demikian. Lagi pula hal itu merupakan meterai bagi orang kafir yang percaya, yaitu orang yang tidak bersunat. Abraham juga merupakan bapa bagi mereka.
V. MENJADI BAPA IMAN
Abraham menjadi bapa iman (Rm. 4:16, Gal. 3:7-9, 29). Dia adalah bapa orang-orang tak bersunat yang beriman yang sama dengannya (4:11), dan orang bersunat yang mengikuti jejak iman yang sama (4:12). Abraham adalah bapa dua golongan manusia: Orang Yahudi yang percaya dan orang kafir yang percaya. Jika Anda percaya kepada Tuhan, Abraham adalah bapa Anda. Semua orang yang percaya di dalam Kristus adalah keturunannya.
VI. JANJI YANG DIBERIKAN KEPADANYA DAN
KETURUNANNYA UNTUK MEWARISI DUNIA
Janji ini diberikan kepada Abraham dan keturunannya, bahwa mereka akan mewarisi (memiliki) dunia (4:13). Ini satu perkara yang besar. Abraham dan keturunannya telah mewarisi Allah; mereka juga akan mewarisi dunia. Biarkan orang lain berjuang untuk menguasai dunia, tetapi dunia ini akan menjadi milik kita. Setelah peperangan usai, Allah akan berkata, “Biarlah umat-Ku memiliki dunia”. Janji ini diberikan bukan karena melakukan hukum Taurat, melainkan karena kebenaran iman. Siapakah yang akan mewarisi dunia? Mereka yang telah dipanggil dan percaya kepada Tuhan Yesus; mereka yang memiliki Kristus sebagai iman dan kebenaran mereka.
Percayalah bahwa dunia ini akan menjadi milik kita. Kita tidak usah berjuang dan berperang. Kita hanya perlu percaya kepada tindakan kuat kuasa Allah. Setiap hari saya membaca berita internasional untuk melihat apa yang dikerjakan Allah; terutama di Timur Tengah. Sangat indah sekali hidup pada zaman ini, yaitu zaman di mana Allah bekerja. Allah bukan hanya bekerja bagi orang Yahudi, tetapi juga bagi kita. Pada suatu hari, dunia akan menjadi milik keturunan Abraham yang percaya itu.
Percayakah Anda akan hal ini? Saya percaya sepenuhnya, bahwa pada suatu hari kita akan mewarisi dunia. Kita harus berharap mewarisi dunia. Alkitab menjamin kita, bahwa kita akan mewarisi bumi. Kristus sendiri ingin segera kembali untuk mendapatkan bumi. Dia jauh lebih tertarik kepada bumi daripada surga. Tuhan akan kembali untuk mengambil bumi, bukan hanya bagi diri-Nya, juga bagi kita. Kita adalah ahli waris janji itu, kita akan mewarisi dunia.
VII. BUKTI PEMBENARAN ALLAH
Bukti pembenaran Allah adalah Kristus yang bangkit (4:22-25). Saya senang akan syair kidung yang mengatakan:
Bapa, Kau t’lah menerima,
Yesus jadi pengganti;
Sang Benar t’rima hukuman,
menggantiku yang lalim.
Kanan-Mu, Dia kini duduk,
adil-Mu pun terbukti;
Mutlak puas Dikau kini,
adil kukuh abadi.
(Kidung No. 18 bait 3)
Jadi, Kristus yang bangkit, yang duduk di sebelah kanan Allah, adalah bukti bahwa kita telah dibenarkan. Kematian penebusan Kristus sebagai dasar Allah untuk membenarkan kita, telah diterima seluruhnya oleh Allah. Kristus telah dibangkitkan dari kematian untuk membuktikan hal itu. Inilah bukti pembenaran yang Allah berikan kepada kita.
Kematian Kristus telah menggenapkan dan memuaskan seluruh tuntutan keadilan Allah, sehingga kita dapat dibenarkan oleh Allah (3:24). Kebangkitan-Nya adalah satu bukti bahwa Allah telah puas akan kematian penggantian-Nya bagi kita. Kita dibenarkan Allah oleh karena kematian-Nya, dan di dalam Dia yang bangkit, kita diperkenan di hadapan-Nya. Tidak hanya demikian, sebagai Yang bangkit, Dia juga di dalam kita menempuh suatu kehidupan bagi kita. Kehidupan ini dapat dibenarkan Allah dan selalu berkenan kepada Allah. Sebab itu Roma 4:25 mengatakan, “Dia dibangkitkan untuk pembenaran kita.”