← Daftar isi Surat Roma (2) · bab 5/16

CARA PEMBENARAN ALLAH

Baiklah kita sekarang meninjau bagian pembenaran yang merupakan doktrin terpenting (3:21—5:11). Martin Luther telah dibangkitkan Allah untuk berperang dengan hebat bagi masalah pembenaran ini, sebab inilah doktrin yang sangat penting dalam Alkitab. Meskipun Luther per-nah memperdebatkan kebenaran ini, tetapi kita perlu memahami hubungan pembenaran dengan masalah perujukan, penebusan, dan pendamaian. Dalam berita ini kita akan membahas istilah-istilah ini dan menguraikannya hingga jelas. Namun kita perlu kebenaran Allah terlebih dulu.

I. KEBENARAN ALLAH

A. ALLAH DI DALAM KEADILAN DAN KETEPATAN

Apakah kebenaran Allah itu? Kita boleh mengatakan bahwa kebenaran Allah ialah hakiki Allah yang menyangkut keadilan dan ketepatan-Nya (Rm. 3:21-22; 1:17; 10:3; Flp. 3:9). Allah itu adil dan tepat. Hakiki Allah di dalam keadilan dan ketepatan-Nya membentuk kebenaran-Nya. Selain itu, hakiki Allah di dalam keadilan dan ketepatan-Nya sebenarnya adalah diri Allah sendiri. Jadi, kebenaran Allah justru adalah diri Allah sendiri. Kebenaran Allah adalah satu Persona, bukan hanya merupakan suatu atribut ilahi.

B. BAGI ORANG BERIMAN, KRISTUS ADALAH

KEBENARAN ALLAH

Banyak orang Kristen berkata bahwa dirinya memiliki kebenaran Kristus. Ini tidak tepat, kita seharusnya tidak berkata demikian. Kebenaran kita sekali-kali bukanlah kebenaran Kristus, melainkan Kristus sendiri. Allah telah menjadikan Kristus, Persona ini, (bukan atribut kebenaran-Nya) menjadi kebenaran kita (1 Kor. 1:30). Jangan mengatakan bahwa kebenaran Kristus telah menjadi kebenaran kita. Sebaliknya, kita wajib mengatakan, “Kristus adalah kebenaranku. Kebenaranku di hadapan Allah justru Kristus sendiri, Persona yang hidup itu, bukan suatu atribut. Kristus yang benar itulah milikku.” Allah membuat Kristus perwujudan sejati Allah, menjadi kebenaran kita.

C. ORANG BERIMAN DI DALAM KRISTUS

MENJADI KEBENARAN ALLAH

2Korintus 5:21 mengatakan bahwa orang beriman di dalam Kristus menjadi kebenaran Allah (Tl.). Paulus bukan mengatakan bahwa mereka dijadikan benar, melainkan mereka menjadi kebenaran. Kita di dalam Kristus telah menjadi kebenaran Allah. Ini merupakan suatu perkara yang dalam dan misteri. Bagaimanakah kita bisa menjadi kebenaran Allah? Tak lain karena Kristus telah digarap ke dalam diri kita. Kita telah nampak bahwa Kristus adalah perwujudan Allah; sedang Allah, Persona yang hidup ini, adalah kebenaran. Sebab itu, kebenaran, Allah, dan Kristus adalah satu. Kebenaran Allah tak lain adalah Allah sendiri. Karena Allah telah menjelma ke dalam Kristus, maka Kristus itulah kebenaran Allah. Kristus telah digarap ke dalam diri kita, dan bahkan kita pun telah ditaruh ke dalam Kristus. Kini kita telah berbaur menjadi satu dengan Kristus. Demikianlah kita menjadi kebenaran Allah. Paulus mengatakan, “Karena bagiku hidup adalah Kristus” (Flp. 1:21). Karena Kristus telah digarap ke dalam diri kita, maka kita pun dapat mengatakan bersama Paulus, “Karena bagiku hidup adalah Kristus.”

Misalkan di sini ada segelas air putih. Bila kita memasukkan teh ke dalamnya, maka air itu bukan lagi air putih, melainkan air teh. Begitu pula, begitu Kristus digarapkan ke dalam diri kita, kita menjadi satu dengan Dia.

Kebenaran Allah bukan hanya Pribadi Allah di dalam keadilan dan ketepatan, bukan hanya Kristus, Persona yang hidup itu saja, tetapi juga meliputi kita, orang-orang yang telah bersatu dengan Kristus. Kristus, Persona hidup yang menjadi kebenaran Allah itu telah digarapkan ke dalam kita, dan kita telah ditaruh di dalam Dia, sehingga kita pun menjadi kebenaran Allah. Kita wajib mengumumkan, “Aku adalah kebenaran Allah. Aku telah dibenarkan. Allah adalah kebenaran, aku pun demikian. Aku di dalam Kristus adalah kebenaran Allah. Aku adalah “hakiki” Allah. Aku telah dibenarkan sepenuhnya. Aku telah menjadi satu dengan Allah. Aku berkenan kepada Allah, dan Dia pun berkenan kepadaku. Kita, aku dengan Dia saling berkenan.” Begitulah artinya dibenarkan demi iman.

Mungkin ada beberapa orang menganggap bahwa kita tidak patut mengatakan diri kita memperkenan Allah. Namun, kita sekalian harus memperkenan Allah. Allah suka menerima penghakiman dan perkenanan kita (Rm. 3:4). Sebab itu, kita dapat berkata kepada Allah, “Engkau memperkenan kami, kami pun memperkenan Engkau.”

D. PEMBENARAN — DIPERKENAN MENURUT STANDAR KEADILAN ALLAH

Apa artinya pembenaran? Pembenaran ialah tindakan Allah dalam memperkenan manusia menurut standar keadilan-Nya. Yang menjadi standar adalah keadilan-Nya bu-kan keadilan kita. Meskipun kita menganggap diri kita benar, kebenaran kita paling-paling hanya setinggi “setengah sentimeter”. Tak peduli bagaimanapun benarnya kita, atau betapa benar diri kita menurut perkiraan kita, kebenaran kita tidak lebih dari “dua sentimeter” tingginya. Bagaimana dengan kebenaran Allah? Tidak terbatas! Mungkinkah Anda diperkenan Allah menurut kebenaran Anda sendiri? Itu mustahil! Boleh jadi hubungan Anda dengan siapa pun benar dengan orang tua, anak-anak, teman, dan lain-lainnya. Akan tetapi kebenaran Anda itu sekali-kali takkan membuat Anda dibenarkan di hadapan Allah. Menurut standar kebnaran Anda, mungkin Anda bisa membenarkan diri sendiri, tetapi itu tak mungkin membuat Anda dibenarkan Allah menurut standar-Nya. Kita perlu dibenarkan demi iman. Dibenarkan demi iman di hadapan Allah berarti diperkenan Allah menurut standar keadilan-Nya.

Bagaimana Allah dapat melakukan hal itu? Ia dapat melakukan hal itu berdasarkan penebusan Kristus. Begitu penebusan Kristus diterapkan atas diri kita, kita dibenarkan. Tanpa penebusan sedemikian, kita tidak bisa dibenarkan Allah. Penebusan merupakan dasar pembenaran.

II. PENEBUSAN KRISTUS

A. PENEBUSAN DOSA DALAM PERJANJIAN LAMA

Karena kita akan meninjau judul penebusan Kristus ini, maka kita perlu memeriksa penebusan dosa dalam Perjanjian Lama (Im. 16:34; 25:9).

1. Penutupan Dosa

Penebusan dosa dalam Perjanjian Lama adalah suatu penutupan dosa (Im. 25:9; Bil. 5:8). Artinya meredakan Allah bagi kita, agar kita berdamai dengan Allah melalui memuaskan tuntutan kebenaran-Nya.

2. Tutup Pendamaian pada Tabut

Tutup pendamaian (“takhta rahmat”, versi King James) adalah penutup tabut perjanjian (Kel. 25:17-22; Im. 16:14; Ibr. 9:5). Di bawah tutup ini terdapat hukum Taurat yang disebut kesaksian Allah (Kel. 25:21). Mengapa disebut ke-saksian Allah? Karena hukum Taurat itu menyaksikan hakiki Allah. Melalui hukum Taurat, Allah disaksikan dan diekspresikan sepenuhnya. Di atas tutup pendamaian ter-dapat kerub yang mulia, yang juga berarti ekspresi Allah (Kel. 25:19-20; Ibr. 9:5; Rm. 3:23). Maka, di bawah tutup terdapat kesaksian Allah yang menunjukkan Allah adalah Allah yang bagaimana, sedang di atas tutup terdapat kerub yang mulia, yang mengekspresikan kemuliaan Allah.

Tutup pendamaian diperciki dengan darah kurban penghapus dosa (Im. 16:14, lihat ayat 18). Pada hari penebusan dosa, atau lebih baik disebut hari penutupan dosa, darah kurban penutupan dosa telah dialirkan, kemudian dibawa ke dalam tempat mahakudus dan dipercikkan ke atas tutup pendamaian. Darah itu adalah darah yang berbicara. Saat itu di antara Allah dengan umat-Nya terdapat problema. Semua orang telah berdosa kepada Allah dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Karena itu, timbullah dua masalah antara Allah dengan umat-Nya masalah dosa dan masalah kehilangan kemuliaan Allah, sehingga timbul satu sekatan yang memisahkan keduanya. Tidak ada jalan untuk menyatukan kedua pihak itu. Meskipun manusia membutuhkan kasih karunia Allah, dan Allah mempunyai kasih karunia untuk diberikan kepada manusia, namun tidak ada jalan untuk mendekatkan satu dengan lainnya. Penutupan dosa itulah jalannya. Itulah jalan penebusan dosa, dan akhirnya keduanya bersatu. (Kata penebusan dalam bahasa Inggris adalah atonement. Ini dapat diuraikan sebagai atonment, artinya kesatuan, mempersatukan kedua pihak.)

Dalam zaman Perjanjian Lama, cara penebusan dosa adalah penutupan dosa, memerlukan kurban untuk dialirkan darahnya. Kemudian darah itu dibawa ke dalam tempat mahakudus dan dipercikkan ke atas tutup tabut. Seperti telah kita ketahui, di bawah tutup itu terdapat loh hukum. Tatkala orang menghampiri Allah, maka hukum itu menyingkapkan dan menghukum mereka, sementara itu di atas tutup terdapat kerub yang mulia yang mengamati segalanya. Ketika darah penebusan dosa dipercikkan ke atas tutup tabut, darah itu telah memuaskan tuntutan keadilan hukum Allah dan memenuhi tuntutan kemuliaan Allah. Sebab itu, di atas tutup pendamaian pada tabut itu Allah dapat bertemu dengan manusia, berbicara, dan bersekutu dengan manusia tanpa melanggar atau bertentangan dengan keadilan maupun kemuliaan-Nya. Di sinilah Allah bersatu dengan manusia. Itulah yang dinamakan penebusan dosa atau penutupan dosa.

B. PENEBUSAN DOSA DALAM PERJANJIAN BARU

1. Perujukan

Penutupan dosa dalam Perjanjian Lama adalah lam-bang perujukan dalam Perjanjian Baru. Istilah “perujukan” dalam Perjanjian Baru paling sedikit terdapat lima kali. Dalam 1Yohanes 2:2 dan 4:10 dikatakan bahwa Kristus, Putra Allah, telah menjadi pendamaian (perujukan) atas dosa-dosa kita. Istilah pendamaian yang terdapat di kedua ayat tadi sebenarnya berarti satu kurban persembahan, seharusnya diterjemahkan menjadi “kurban pendamaian (perujukan)”. Istilah itu dalam bahasa Yunaninya ialah hilasmos, artinya “yang merujukkan, yang mendamaikan”, yakni kurban persembahan perujukan. Pada 1Yohanes 2:2 dan 4:10 diterangkan bahwa Tuhan Yesus telah menjadi kurban pendamaian atas dosa-dosa kita. Istilah lainnya ialah hilasterion, tercantum dalam Ibrani 9:5 dan Roma 3:25. Hilasterion berarti tempat di mana pendamaian ini dilakukan. Dalam buku-buku referensi yang tepat, kata hilasterion dalam kedua ayat ini berarti tempat di mana pendamaian itu diadakan. Alkitab bahasa Inggris versi King James menerjemahkannya “takhta rahmat”. Dalam Septuagint (Alkitab Perjanjian Lama bahasa Yunani), kata “takhta rahmat” dalam Keluaran 25 dan Imamat 16 tercantum hilasterion. Maka hilasterion berarti tempat pendamaian. Selain itu, dalam Ibrani 2:17, kata hilaskomai ialah bentuk verba dari hilasmos. Alkitab versi King James menerjemahkannya “memperdamaikan untuk”, namun seharusnya diterjemahkan “merujukkan”. Kristus telah mempersembahkan kurban perujukan atas dosa-dosa kita.

Dalam Perjanjian Baru perihal perujukan tercantum lima kali dan bertalian dengan Kristus. Dua kali ditujukan kepada Kristus sendiri yang menjadi kurban perujukan, dua kali ditujukan kepada tempat di mana perujukan itu dilakukan dan satu kali ditujukan kepada tindakan perujukan tersebut.

Selain kelima ayat yang mencantumkan perihal perujukan tadi, dalam Perjanjian Baru kita dapati satu kata yang seakar dengan istilah ini, yakni yang diucapkan oleh pemungut cukai ketika ia berdoa di dalam bait suci (Luk. 18:13). Ia berdoa: “Ya Allah, kasihanilah hamba.” Tetapi dalam bahasa Yunani adalah: “Ya Allah, rujukkanlah hamba.” Pemungut cukai itu sesungguhnya berkata demikian, “Ya Allah, rujukkanlah hamba. Dalam pandangan-Mu, hamba ini penuh dosa. Hamba sungguh perlu dirujukkan.”

Apa artinya perujukan? Bagaimana pula kita membeda-kannya dengan penebusan pada satu pihak dan dengan pendamaian pada pihak lainnya? Jika kita membaca Per-janjian Baru dengan teliti, kita akan menemukan bahwa pendamaian telah mencakup perujukan, namun satu sama lain tetap berbeda. Perujukan berarti Anda telah berurusan dengan orang lain; mungkin Anda telah berbuat salah terhadapnya, atau Anda telah berhutang kepadanya. Misalnya, saya menyalahi Anda, atau berhutang sesuatu kepada Anda, lalu antara Anda dengan saya timbul suatu urusan. Karena urusan itu, maka di atas diri Anda ia menuntut sesuatu. Kalau tuntutan itu belum Anda penuhi, urusan yang ada di antara kita tidak akan selesai. Karena itu perlu diadakan perujukan.

Istilah Yunani hilasmos mengandung arti, saya telah menyalahi Anda, dan kini saya berhutang kepada Anda. Antara Anda dan saya telah terjadi suatu urusan yang mengakibatkan terhalangnya hubungan kita. Karena itu perujukan meliputi dua pihak; pihak kesatu telah bersalah terhadap pihak kedua, telah berhutang atau merugikan pihak kedua, maka ia wajib berusaha untuk memenuhi tuntutan pihak yang dirugikan itu. Bila pihak yang merugikan itu ingin menenangkan pihak yang dirugikan, wajiblah ia memenuhi tuntutan pihak lainnya. Alkitab Septuagint memakai istilah hilasmos ini untuk maksud penebusan dalam Imamat 25:9 dan Bilangan 5:8. Dalam bahasa Yunani, kata itu berarti memperdamaikan kedua belah pihak dan mempersatukan mereka. Demikianlah masalah penebusan (penudungan).

Kata menebus dalam bahasa Inggris ialah “atone”, yang tersusun dari dua kata, at dan one, artinya mempersatukan kedua belah pihak. Ketika kedua belah pihak itu terputus dan ingin bersatu kembali, mereka memerlukan perujukan. Itulah maksud penebusan dosa. Perujukan berarti mempersatukan kita dengan Allah, sebab tadinya kita telah terpisah dengan Dia. Perkara apakah yang menimbulkan sekatan antara kita dengan Allah, sehingga kita tak mungkin langsung berhubungan dengan-Nya? Perkaranya adalah dosa. Dosa kita membuat kita tak dapat datang kepada Allah, dan membuat Allah tidak sudi menghampiri kita. Karena itu, kita membutuhkan perujukan untuk menenangkan dan membereskan tuntutan Allah. Masalah ini telah dibereskan ketika Tuhan Yesus mempersembahkan diri-Nya sebagai kurban pendamaian di atas salib. Di atas salib Ia telah merujukkan kita bahkan membawa kita ke hadirat Allah sehingga kita kembali bersatu dengan Dia.

2. Penebusan

Apakah perbedaan antara perujukan dengan penebusan? Kata tebus berarti membeli kembali suatu barang yang asalnya kita miliki, namun telah hilang. Misalkan buku Kidung milik saya ini hilang dan saya harus mengeluarkan uang untuk membelinya kembali, itu berarti saya menebus buku kidung tersebut. Jadi, penebusan berarti memperoleh kembali dengan membayar harga.

Kita asalnya milik Allah. Kita adalah milik-Nya. Tetapi kita telah hilang. Namun Allah tidak membiarkan kita, melainkan dengan membayar suatu harga ia mendapatkan kita kembali, dengan harga yang tinggi. Itulah arti penebus-an. Namun, perkara ini tidak demikian mudah dilaksanakan Allah, karena hilangnya kita itu telah melibatkan kita ke dalam dosa dan banyak hal lain yang bertentangan dengan keadilan, kekudusan, dan kemuliaan Allah.

Karena kita telah hilang, maka di atas diri kita timbul banyak problema terhadap keadilan, kekudusan, dan kemuliaan-Nya. Kita kini berada di bawah tiga tuntutan: tuntutan keadilan, kekudusan, dan kemuliaan. Begitu banyak tuntutan yang menimpa diri kita, yang tak mungkin kita penuhi. Harganya terlampau besar. Syukur kepada Allah, Ia telah mengeluarkan harga yang sangat besar itu bagi kita, sehingga kita didapatkan kembali. Kristus mati di atas salib untuk menggenapkan penebusan yang kekal bagi kita (Gal. 3:13; 1Ptr. 2:24; 3:18; 2Kor. 5:21; Ibr. 10:12; 9:28). Darah-Nya telah menghasilkan penebusan yang kekal bagi kita (Ibr. 9:12, 14; 1Ptr. 1:18-19).

3. Pendamaian

Masalah menjadi seteru adalah lebih berat daripada masalah kebutuhan perujukan. Kalau saya menjadi musuh Anda, hanya perujukan saja masih tidak memadai, saya masih perlu diperdamaikan. Orang dosa perlu dirujukkan, musuh perlu diperdamaikan. Masalah yang paling gawat antara Allah dengan manusia ialah perseteruan. Tatkala kita menjadi musuh Allah, kita tidak saja perlu dirujukkan, juga perlu diperdamaikan. Perujukan terutama untuk membereskan dosa, sedang perdamaian membereskan perseteruan dan dosa. Maka perdamaian mencakup perujukan. Roma 5 menerangkan kepada kita, sebelum kita beroleh selamat, kita bukan hanya sebagai orang dosa juga sebagai musuh. Sebagai orang berdosa kita memerlukan perujukan, dan sebagai seteru kita perlu diperdamaikan. Di sini ternyatalah perbedaan antara perujukan dengan pendamaian; perujukan untuk dosa, pendamaian untuk dosa-dosa dan perseteruan.

Pendamaian berdasar pada penebusan Kristus (Rm. 5:10-11) dan dirampungkan melalui pembenaran Allah (2Kor. 5:18-19; Rm. 5:1, 11). Jadi, pendamaian adalah hasil dari penebusan dan pembenaran.

Beberapa butir yang telah kita bahas di depan, terutama menyinggung definisi dari beberapa istilah kebenaran Allah, pembenaran, perujukan, penebusan, dan pendamaian. Begitu kita mengetahui definisi yang tepat dari istilah-istilah tersebut, kita dapat memahami apakah maksud pembenaran itu. Sekarang kita akan langsung membahas pembenaran ini.

III. KEBENARAN ALLAH TELAH DINYATAKAN

Apakah pembenaran itu? Pembenaran berarti kebenaran Allah telah dinyatakan. Walaupun kebenaran Allah berabad-abad yang lalu telah ada, tetapi baru dinyatakan kepada kita ketika kita percaya ke dalam Tuhan dan menyeru nama-Nya. Ketika kebenaran Allah diwahyukan, kebenaran-Nya dinyatakan. Ketika kita percaya Tuhan Yesus, kebenaran Allah dinyatakan kepada kita. Dalam surat Roma dicatat dua kali penyataan kebenaran Allah Roma 1:17 mengatakan, kebenaran Allah dinyatakan, bertolak dari iman dan memimpin kepada iman. Kebenaran Allah yang dinyatakan dalam Injil berasal dari iman kita dan memimpin kepada iman kita pula. Kemudian Roma 3:21 mengatakan, “Tanpa hukum Taurat, kebenaran Allah telah dinyatakan, seperti yang disaksikan dalam kitab Taurat dan kitab-kitab para nabi” (Tl.).

A. TANPA TAURAT

Kebenaran Allah telah dinyatakan tanpa Taurat, ini berarti kebenaran Allah tidak ada hubungan apa-apa dengan Taurat. Jangan sekali-kali mencampuraduk kebenaran Allah dengan Taurat. Keduanya harus terpisah. Kebenaran Allah tidak ada sangkut-pautnya dengan Taurat. Kita tidak akan bisa memperoleh kebenaran Allah melalui Taurat. Ditinjau dari kebenaran Allah, Taurat adalah sesuatu yang sudah berlalu. Taurat adalah perkara pada zaman Perjanjian Lama. Sekarang tanpa Taurat, terpisah dari Taurat, kebenaran Allah telah dinyatakan melalui iman dalam Yesus Kristus.

B. MELALUI IMAN DALAM YESUS KRISTUS

Para pelajar Alkitab menjumpai kesulitan dengan ung-kapan “iman dalam Yesus Kristus” (3:22). Sebagian orang berpendapat bahwa ini ditujukan kepada tindakan percaya kita kepada Yesus Kristus. Yang lain berpendapat bahwa ini ditujukan kepada iman Yesus, yakni iman Yesus menjadi iman kita. Saya akan berkata demikian, “Iman yang sejati ialah percaya kepada Tuhan Yesus melalui iman-Nya”. Kita percaya kepada Yesus Kristus melalui iman-Nya, karena kita sendiri tidak mempunyai iman. Yesuslah Pemimpin dan Penyempurna iman kita (Ibr. 12:2). Semakin kita memandang dan meneliti diri kita sendiri, iman kita akan semakin lenyap. Iman bukanlah penemuan kita sendiri, karenanya iman sekali-kali tidak bisa dimulai dari diri kita. Kita tidak bisa melahirkan iman. Iman adalah suatu aspek dari diri Kristus. Sebenarnya, iman adalah Kristus. Galatia 2:20 mengatakan bahwa kita hidup oleh iman dalam Anak Allah. Saya bukannya hidup demi iman saya sendiri, saya sendiri tidak beriman, melainkan hidup dalam iman Anak Allah. Dia yang beriman, bahkan bagi saya Dia adalah iman. Kalau Anda memandang diri sendiri, Anda tidak akan bisa mendapatkan iman. Tetapi bila Anda melupakan diri sendiri sambil berkata, “Ya Tuhan Yesus, aku cinta kepada-Mu”, segera iman timbul dari dalam Anda. Iman ini sebenarnya adalah iman Yesus, atau boleh kita katakan itulah Yesus yang beriman di dalam kita. Jadi, ungkapan “melalui iman dalam Yesus Kristus”, berarti percaya kepada Yesus Kristus berdasarkan iman-Nya.

Kebenaran Allah telah dinyatakan tanpa hukum Taurat, dan telah dinyatakan melalui percaya kepada Yesus Kristus berdasarkan iman-Nya. Kita percaya kepada Kristus berdasarkan iman-Nya, bukan berdasarkan iman kita. Kristus adalah iman kita. Jangan sekali-kali beranggapan Anda tidak bisa percaya, karena Anda bisa percaya kalau Anda mau. Jangan mencoba percaya berdasarkan diri sendiri, sebab semakin kita mencoba, iman itu akan semakin berkurang. Katakan saja, “O, Tuhan Yesus, aku mengasihi Engkau. Tuhan Yesus, Engkau sungguh baik.” Dengan berbuat demikian, Anda segera beroleh iman. Kita percaya kepada Yesus Kristus berdasarkan iman-Nya; bertolak dari iman ini dan memimpin kepada iman ini. Demikianlah ke-benaran Allah diwahyukan kepada semua orang yang per-caya.

C. MEMUASKAN TUNTUTAN KEADILAN HUKUM

TAURAT ALLAH DAN KEMULIAAN ALLAH

Kebenaran Allah telah dinyatakan untuk memenuhi tuntutan keadilan hukum Taurat dan kemuliaan-Nya (3:23). Ketika kita percaya Tuhan Yesus, kita menerima kebenaran Allah yang memuaskan segala tuntutan Allah. Dalam Roma 3 kita nampak dua kategori tuntutan Allah: Tuntutan keadilan-Nya dan tuntutan kemuliaan-Nya. Paulus dengan jelas menyebutkan Taurat Allah dan kemuliaan Allah. Kita semua telah melanggar Taurat Allah, kita pun telah kehilangan kemuliaan Allah. Karena itu Roma 3:23 mengatakan, “semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.”

Mengapa Paulus tiba-tiba menyebutkan kemuliaan Allah? Jawabannya berhubungan dengan tutup pendamaian yang tercantum dalam ayat 25. Ketika Paulus menulis bagian ini, mungkin ia teringat akan gambaran dari tabut kesaksian, khususnya tutup pendamaian itu. Di atas tutup pendamaian terdapat kerub yang mulia. Seperti yang telah kita tunjukkan, di bawah tutup pendamaian terdapat hukum Taurat yang menyingkapkan dan menghukum dosa manusia; sedang di atasnya terdapat dua kerub yang mewakili kemuliaan Allah dan yang mengawasi setiap perbuatan manusia. Di bawah tutup pendamaian terdapat Taurat yang sifatnya menyingkapkan dosa manusia; sedang di atas tutup pendamaian terdapat kerub yang mengawasi dan mengamati. Hukum Taurat yang bersifat menyingkapkan dan menghukum menandakan segala tuntutan keadilan Allah sesuai dengan Taurat itu, sedang kerub yang mengawasi menandakan tuntutan kemuliaan Allah sesuai dengan ekspresi-Nya. Kalau semua tuntutan ini tidak dipenuhi dan Allah tidak dipuaskan, orang dosa tidak ada jalan untuk menghubungi Allah, Allah pun tidak ada jalan untuk bersekutu dengan manusia. Haleluya, atas darah di atas tutup pendamaian itu! Darah penutup dosa telah dipercikkan di sana, memuaskan tuntutan keadilan hukum Taurat serta kemuliaan Allah.

Perujukan bukan hanya suatu tindakan, tetapi juga suatu tempat. Perujukan adalah tempat di mana Allah dapat bersua dengan manusia. Di bawah ilham Roh Kudus, Paulus dengan berani mengatakan bahwa tempat perujukan itu adalah Yesus Kristus sendiri, Allah telah menetapkan Kristus Yesus menjadi tutup pendamaian (3:25). Tutup pendamaian ini adalah tempat di mana Allah dapat berjumpa dengan manusia. Tempat ini ialah Persona Tuhan Yesus Kristus.

Walaupun banyak orang Kristen mengasihi Tuhan Yesus, juga tahu betapa limpahnya Dia terhadap mereka, tetapi mungkin mereka tidak tahu kalau Kristus adalah tempat untuk merujukkan orang; di sana Allah dapat bertemu dengan kita, di sana pula kita dapat berhubungan dengan Allah. Sebelum kita mengenal tempat ini, pada saat kita ingin menghampiri Allah, kita segera merasa takut, akan tetapi kini kita tidak takut lagi kepada Allah. Sebab di atas Kristus yang telah menjadi tutup pendamaian itu kita dapat bertemu dengan Allah. Inilah makna tulisan Paulus pada Roma 3. Ia memakai lambang tabut perjanjian serta tutupnya untuk menerangkan makna pembenaran.

Di alam semesta ini Tuhan Yesus telah ditetapkan Allah menjadi tempat perujukan, sehingga semua orang dosa dapat menghampiri Allah berdasarkan Dia. Di manakah kita hari ini? Kita berada di tempat perujukan, takhta rahmat. Kita telah mempunyai posisi, tempat untuk berjumpa dengan Allah; Allah pun mempunyai tempat yang sama untuk berkomunikasi dengan kita. Lalu, di manakah Taurat? Taurat ada di bawah tutup pendamaian, tertutup oleh Kristus Sang Pendamai itu. Di manakah kemuliaan Allah? Kemuliaan Allah ada di atas kita, namun kemuliaan Allah itu kini tidak menuntut terhadap kita, sebab kita telah berada di atas Kristus yang menjadi tempat perujukan itu. Di sanalah kita menerima pembenaran. Di atas tutup perujukan ini kita sama seperti Allah dalam keadilan-Nya. Kita dengan Allah menjadi saling berhubungan, saling memperkenan. Kita memperkenan Allah, Allah pun memperkenan kita; Allah membenarkan kita, dan kita pun membenarkan Dia.

Apakah Anda mengira kita terlalu gegabah dengan ber-kata kita dapat membenarkan Allah? Roma 3:4 memberikan dasar kepada kita untuk mengatakan perkataan tersebut. Ayat ini mengatakan, “supaya Engkau ternyata benar dalam segala Firman-Mu, dan menang, jika Engkau dihakimi”. Kita dapat membenarkan Allah. Saya telah berbuat demikian beberapa kali. Meski saya mengakui bahwa saya dulu seorang dosa, saya tidak mengikuti Allah secara membabi buta. Saya telah berbuat sedapat mungkin untuk membuktikan firman-Nya, dan pada akhirnya saya dengan sepenuh hati mengakui Allah itu benar. Janganlah takut untuk menyelidiki Allah, yaitu untuk mencocokkan apakah Ia betul atau tidak. Kalau Anda mennyelidiki Allah, Anda akan menemukan bahwa Allah seribu persen bahkan sejuta persen benar. Anda akan membenarkan Allah. Di atas Kristus yang menjadi tutup perujukan, Allah dan kita saling memperkenankan.

Menurut pengalaman kita, bukan Allah yang memperkenan kita dulu, melainkan kita yang memperkenan Dia dulu. Kita tidak tahu entah berapa banyak waktu yang Allah pakai untuk membuat kita percaya pada kebenaran-Nya. Dulu kita adalah pemberontak, bahkan berkata, “Aku tidak suka kepada Allah, Allah tidak benar.” Kita semua berpikir demikian sebelum kita diselamatkan. Banyak orang menentang Allah sambil berkata, “Kalau Allah adil, mengapa di bumi ini banyak orang melarat? Kalau Allah adil, mengapa tidak ada keadilan di antara bangsa-bangsa?” Mereka mengakui ada Allah, namun mereka mengatakan Allah tidak adil. Banyak orang di antara kita dapat menyaksikan hal yang sama, mengakui bahwa kita dulu mengira Allah keliru, tidak adil. Tetapi Allah terhadap kita penuh kesabaran. Bahkan Ia telah melakukan banyak hal bagi kita, sehingga pada akhirnya membuat kita percaya kepada kebenaran-Nya. Siapa yang lebih dulu membenarkan siapa? Kitalah yang membenarkan Allah dulu. Pada saat Allah membuat kita percaya kepada kebenaran-Nya, kita membenarkan Allah, bahkan kita bertobat sambil menangis dan berkata, “Ya, Allah, ampunilah aku. Aku begitu berdosa dan najis. Aku perlu pengampunan-Mu.” Ketika kita menyeru nama Tuhan Yesus, kita tidak saja ditaruh ke dalam Kristus, juga ditaruh di atas-Nya. Sekarang kita berada di atas Kristus yang menjadi tempat perujukan itu, dan di situlah kita dengan Allah dapat saling membenarkan. Kita mengumumkan, “Ya Allah, Engkau sungguh benar, aku tidak ada persoalan lagi dengan Engkau.” Kemudian Allah pun berkata, “Anak-Ku yang terkasih, Aku pun tidak ada persoalan lagi dengan kamu.” Jadi, kitalah yang terlebih dahulu membenarkan Allah, baru kemudian Ia membenarkan kita. Semua peristiwa ini terjadi di atas Kristus sebagai tempat perujukan. Hukum Taurat telah tertutup di bawah-Nya, dan di atas-Nya kerub-kerub itu bergembira ketika mereka melihat pembenaran timbal balik yang terjadi di atas diri-Nya se-bagai tutup perujukan.

Sekarang di manakah kita berada? Kita berada di atas Yesus Kristus sebagai tempat perujukan itu. Hukum Taurat kini berada di bawah kaki kita, dan kemuliaan Allah berada di atas kepala kita, sudah dipuaskan. Hukum Taurat telah dibungkam, tidak lagi bisa menyalahi kita, tetapi kemuliaan Allah dapat bersukacita atas kita dengan penuh kepuasan. Di atas tutup perujukan inilah kita dapat menikmati pembenaran Allah dengan sepenuhnya.

IV. KEBENARAN ALLAH TELAH DIPERLIHATKAN

A. KEPADA KAUM SALEH PERJANJIAN LAMA

Kebenaran Allah pernah diperlihatkan kepada kaum saleh Perjanjian Lama dalam hal Allah melewatkan dosa-dosa mereka. Dalam Roma 3:25 Paulus memakai istilah “melewatkan” (Tl.). Selama zaman Perjanjian Lama, dosa-dosa umat Allah belum dihapuskan, melainkan hanya ditutupi dengan darah pendamaian. Dosa-dosa mereka baru dihapuskan ketika Tuhan Yesus Kristus mati di atas salib. “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yoh. 1:29). Sebelum Tuhan Yesus mati di atas salib, dosa-dosa kaum saleh Perjanjian Lama tetap ada, walaupun telah tertutup oleh darah pendamaian yang melambangkan Kristus. Allah harus melewatkan dosa-dosa mereka karena Dia benar. Darah yang melambangkan Kristus itu telah tertumpah di hadapan Allah, dan Allah yang adil mau tidak mau melewatkan dosa-dosa yang telah tertutup darah itu. Dalam hal Allah melewatkan dosa-dosa yang telah tertutup itu, Allah memperlihatkan kebenaran-Nya.

Baiklah saya ambil sebuah contoh. Misalkan saya meminjam uang sebanyak satu miliar dolar. Meskipun mustahil bagi saya untuk melunasi uang sebanyak itu, namun saya terikat oleh orang itu untuk melunasinya. Tetapi, saya mempunyai seorang teman yang miliarder. Teman saya kemudian tampil dan memberi tahu kedua belah pihak bahwa ia akan melunasi semua hutang saya, bahkan ia mem-buatkan sebuah akta perjanjian sebagai jaminan. Begitu akta perjanjian diserahkan dan diterima, saya sudah dapat dibebaskan karena keadilan. Demikian pula halnya, kaum saleh Perjanjian Lama berhutang begitu banyak terhadap Allah, tetapi ada satu akta perjanjian darah pendamaian yang dipercikan di atas tutup pendamaian ialah yang menjamin bahwa Kristus akan datang untuk menghapus dosa-dosa. Akta perjanjian ini menutupi semua dosa kaum saleh Perjanjian Lama. Tatkala Kristus mati di atas salib, akta perjanjian ini telah ditebus-Nya, bahkan dibayar lunas. Karena itu, demi kebenaran-Nya, Allah harus melewatkan dosa-dosa mereka. Dengan berbuat demikian, berarti Ia telah memperlihatkan kebenaran-Nya kepada kaum saleh Perjanjian Lama. Inilah maksud dari Roma 3:25.

B. KEPADA KAUM SALEH PERJANJIAN BARU

Kebenaran Allah telah diperlihatkan kepada kaum saleh Perjanjian Baru dalam hal Allah membenarkan mereka. Allah telah membenarkan kita dengan cuma-cuma, demi kasih karunia-Nya melalui penebusan di dalam Kristus dan melalui iman Yesus (Rm. 3:24, 26). Karena Kristus telah membayar harga atas dosa-dosa kita, bahkan telah menggenapkan penebusan-Nya yang sempurna, maka segala tuntutan Allah telah terpenuhi. Demi kebenaran, Allah tidak dapat tidak membenarkan kita. Pada pihak Allah, pembenaran adalah bersandar pada kebenaran-Nya; sedang pada pihak kita, pembenaran ialah karena kasih karunia yang cuma-cuma; bukan demi melakukan hukum Taurat. Sebab kalau demi Taurat kita dibenarkan, itu berarti kita harus melakukan sesuatu. Tetapi kita telah dibenarkan demi penebusan dalam Kristus, maka kita tidak perlu berbuat apa-apa. Pembenaran ini diberikan demi kasih karunia-Nya yang cuma-cuma. Sebenarnya kita tidak layak memperolehnya. Namun Allah telah terikat oleh kebenaran-Nya, sehingga Ia tak dapat tidak membenarkan kita; sebab penebusan Kristus telah memuaskan semua tuntutan-Nya. Demikianlah, pada diri kaum saleh Perjanjian Lama, demi melewatkan dosa-dosa mereka, Allah telah memperlihatkan kebenaran-Nya; sedang pada diri kaum saleh Perjanjian Baru demi mem-benarkan mereka, Allah telah memperlihatkan kebenaran-Nya. Cara Allah menanggulangi kita pada hari ini bukan hanya melewatkan dosa-dosa kita, melainkan membenarkan kita. Allah telah membenarkan kita.

V. TIDAK ADA ALASAN UNTUK BERMEGAH

Dengan demikian, maka tidak ada alasan bagi manusia untuk bermegah. Tidak seorang pun di antara kita yang mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Kita dibenarkan bukan karena perbuatan, melainkan demi iman (3:27). Iman ini pun bukan berasal dari diri kita sendiri, melainkan berasal dari Kristus, Sang hidup kekal itu.

VI. SATU ALLAH MEMBENARKAN

DUA GOLONGAN MANUSIA

Allah itu satu. Allah yang satu ini telah membenarkan baik orang Yahudi maupun orang kafir (3:30). Dia adalah Allah orang Yahudi, pun Allah orang kafir (3:29). Dengan berkata demikian, Paulus membuka jalan bagi Tubuh Kristus. Andaikata Allah memperlakukan manusia yang berlainan ini dengan perlakuan yang berlainan pula, maka kehidupan Tubuh sukar terwujud. Akan tetapi Allah memperlakukan semua orang dengan jalan yang sama. Dengan satu jalan ini Allah telah membenarkan orang-orang tersebut, hingga kita dijadikan satu Tubuh, yakni Tubuh Kristus.

Demi iman Allah telah membenarkan orang yang bersunat, dan melalui iman, Dia pun telah membenarkan orang yang tak bersunat. Perhatikanlah kata preposisi: “orangorang Yahudi, orang bersunat, dibenarkan dari (out of) iman, orang-orang kafir, orang tak bersunat, dibenarkan melalui (through) iman”. Apakah arti semua ini? Orang-orang Yahudi mempunyai kedudukan di hadapan Allah sebagai umat-Nya. Walaupun mereka tidak percaya dan ternyata tidak tahir, namun mereka tetap memiliki kedudukan sebagai umat Allah. Kita harus mengakui fakta ini dan harus berhati-hati dalam mengomentari masalah orang Yahudi. Sebab Allah akan berkata untuk mereka, “Mereka adalah umatku.” Karena mereka mempunyai kedudukan sebagai umat Allah, itulah sebabnya mereka sangat berbeda dengan semua bangsa lainnya. Kita harus menghormati hal ini. Dalam Kejadian 12:3 tercantum janji Allah kepada Abraham, yakni nenek moyang orang Yahudi, demikian: “Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati eng-kau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuki engkau.” Allah tetap menggenapi Kejadian 12:23. Siapa saja yang mengutuki orang Yahudi akan dikutuki. Selama 25 abad yang lalu tidak ada perkecualian; setiap orang dan setiap bangsa yang mengutuki orang Yahudi, telah dikutuk; dan setiap orang yang memberkati orang Yahudi, telah diberkati.

Meskipun ditinjau dari keadaan orang Yahudi hari ini di hadapan Allah tidak benar, namun ditinjau dari ke-dudukan mereka, mereka tetap adalah umat Allah. Dalam Roma 11:28-29 Paulus mengatakan, “Tetapi mengenai pilih-an, mereka adalah kekasih Allah . . . Sebab Allah tidak menyesali karunia-karunia dan panggilan-Nya.” Ya, orang Yahudi adalah bangsa pilihan Allah, dan pilihan Allah itu kekal sifatnya. Tak peduli betapa buruknya keadaan mereka dewasa ini, kedudukan mereka tetap adalah umat Allah. Karena itu, Allah membenarkan orang Yahudi adalah dari iman, bukan melalui iman. Mengapa bukan melalui iman? Karena orang-orang Yahudi sudah mempunyai kedudukan. Akan tetapi, tatkala Allah membenarkan orang kafir, Dia harus membenarkan mereka melalui iman, karena mereka asalnya sangat berjauhan dengan Allah. Terdapat jarak yang jauh antara orang-orang kafir dengan Allah. Karena orang-orang Yahudi, orang-orang yang bersunat, telah mempunyai kedudukan, maka mereka dibenarkan dari iman; sedang orang-orang kafir karena terpisah dari Allah, maka mereka dibenarkan melalui iman. Melalui imanlah orang-orang kafir bisa memperoleh kedudukan yang benar. Kedua kasus ini merupakan masalah iman.

Allah yang satu telah membenarkan kita semua. Baik orang Yahudi maupun orang kafir berada di bawah satu Allah dan satu jalan. Perkataan Paulus dalam Roma 3:29-30 mempersiapkan jalan bagi Tubuh Kristus dalam Roma 12. Baik kaum beriman Yahudi maupun kaum beriman kafir, adalah satu Tubuh di dalam Kristus, di bawah satu ekonomi dari satu Allah.