KESIA-SIAAN AGAMA DAN TANPA PENGHARAPAN SAMA SEKALI
Dalam berita ini, kita akan membahas kesia-sian agama yang dinyatakan oleh penghukuman atas orang-orang beragama (2:17—3:8), dan hal tanpa pengharapan sama sekali yang dinyatakan oleh penghukuman atas seluruh dunia (3:9-20). Seperti telah kita tunjukkan, Paulus membahas hal penghukuman ini dari empat pihak: secara umum terhadap umat manusia; secara khusus terhadap orang yang membenarkan diri sendiri; secara istimewa terhadap kaum agamawan; dan secara keseluruhan terhadap seluruh du-nia. Ini sangat berarti sekali. Dari keempat pihak penghukuman ini, kita dapat nampak empat perkara: sumber kejahatan, jalan pembatasan, kesia-siaan agama, dan tanpa pengharapan sama sekali.
I. PENGHUKUMAN ATAS KAUM AGAMAWAN —
MENYATAKAN KESIA-SIAAN AGAMA
Pertama, marilah kita meninjau kesia-siaan agama. Kebudayaan manusia merupakan penemuan manusia yang terbaik, dan bagian terpenting dalam kebudayaan manusia ialah agama. Agama adalah puncak kebudayaan manusia. Kebudayaan manusia memerlukan agama, sebab tanpa agama, kebudayaan akan menjadi liar. Kalau agama disingkirkan dari kebudayaan, niscaya kebudayaan akan tinggal dalam keadaan kasar dan liar. Sebab itu kebanyakan orang menghormati agama.
Di kalangan umat manusia ada dua agama yang paling baik, yaitu agama Yahudi dan agama Kristen. Kedua agama ini merupakan agama yang memenuhi standar, sejati, sehat, dan sangat penting. Keduanya juga berasal dari satu sumber, yaitu wahyu ilahi dalam Alkitab. Menyusul kedua agama ini, ada satu agama lain, yang merupakan tiruan dari agama Yahudi. Agama Yahudi adalah sumber agama ini; kitab suci agama ini, sebenarnya mencuplik Perjanjian Lama dalam Alkitab, hanya bagian-bagiannya telah diubah dan ditambah sehingga ada perbedaan. Dalam kitab itu disinggung tentang Kristus, bahkan dikatakan bahwa Kristus lebih besar daripada nabi agama tersebut. Juga dikatakan bahwa Kristus tidak pernah disalib. Ketika orang-orang berusaha memaku Dia di salib, turunlah malaikat dan membawa Dia ke surga. Kitab itu bahkan memberi tahu orang bahwa Yesus ini akan datang lagi. Jadi, jelaslah bahwa agama tersebut beserta kitab sucinya adalah tiruan.
Pada hakekatnya dalam dunia ini hanya ada tiga jenis agama: Yahudi, Kristen, dan agama lain itu, yang merupakan tiruan. Selain ketiga agama tersebut, tidak ada agama lagi. Budha sebenarnya bukan agama. Agama selalu mengajarkan manusia menyembah Allah. Sedang dalam Budha sama sekali tidak ada Allah. Mungkin Anda akan bertanya bagaimana kalau Kong Hu Cu? Ajaran Kong Hu Cu sebenar-nya juga bukan agama, melainkan ajaran-ajaran tentang etika atau budi pekerti, sama sekali tidak bersangkut paut dengan Allah. Kitab klasik karangan Kong Hu Cu mungkin hanya satu atau dua kali mengatakan “allah”, yang disebut “surga”. Kita tidak seharusnya menganggap ajaran Kong Hu Cu sebagai suatu agama. Di dunia ini hanya ada tiga agama: Agama Yahudi dan agama Kristen, dua agama yang sesungguhnya; dan agama yang lain itu, agama tiruan.
Namun, bahkan dalam agama-agama yang sesungguhnya itu, kita tidak memperoleh apa-apa selain kesia-siaan. Sebenarnya kita tidak memerlukan agama, kita memerlukan satu Persona yang hidup. Kita tidak membutuhkan sesuatu yang berhubungan dengan Allah, tetapi membutuhkan diri Allah sendiri. Kita tidak memerlukan cara-cara untuk menyembah Allah, kita memerlukan Allah sendiri, Persona hi-dup ini, masuk ke dalam kita. Ketika Allah mengaruniakan Alkitab kepada kita, Ia tidak bermaksud memberikan satu agama kepada kita. Kehendak Allah ialah mewahyukan diri-Nya ke dalam kita melalui firman kudus itu, bukan meng-hendaki kita memiliki suatu corak agama. Akan tetapi orang Yahudi zaman kuno telah mendirikan satu agama ber-dasarkan kitab Perjanjian Lama. Kemudian kekristenan pun mendirikan satu agama yang lebih besar lagi, karena ia memiliki 27 jilid kitab lebih banyak daripada orang Yahudi. Orang Yahudi hanya memiliki 39 jilid kitab untuk men-dirikan satu agama, sedangkan kekristenan memiliki 66 jilid. Sebab itu, kekristenan telah mendirikan agama yang lebih kuat. Namun semakin kuat agamanya, semakin hampalah isinya.
Saya tahu bahwa kata-kata saya ini akan menyinggung banyak orang. Kata “kekristenan” sangat manis dan indah dalam telinga kebanyakan orang Kristen. Mereka akan tersinggung jika ada orang yang mengatakan kekristenan itu sia-sia. Jika Anda juga tersinggung, itu membuktikan Anda adalah seorang agamawan yang ekstrim.
Saya tidak mengatakan “Kristus itu sia-sia”, juga tidak mengatakan “Orang Kristen sia-sia”, tetapi saya menyatakan dengan tegas bahwa agama Kristen adalah sia-sia. Agama yang mana pun semuanya sia-sia, ini termasuk agama gereja (churchanity). Gereja itu sendiri indah, tetapi bila Anda menambahkan “agama” di depannya, ia segera menjadi sia-sia.
Kita menyukai Kristus, kita menyukai orang Kristen, dan kita menyukai gereja, akan tetapi kita tidak menyukai agama apa pun. Ini bukan ajaran saya. Kalau kita berpaling kepada firman murni dalam kitab Perjanjian Baru, kita bisa menjumpai istilah “Kristus” dan “orang Kristen” (Kis. 11:26). Tetapi istilah “agama Kristen” atau “hari Natal” tidak pernah tercantum di Alkitab. Semua itu adalah tambahan dari luar. Hari Natal adalah sia-sia. Ketika orang menggantungkan lampu-lampu di pohon yang kecil, itulah “agama Kristen” dan “Natal”, semuanya itu sia-sia. Kita harus berhati-hati terhadap agama, sebab agama itu sia-sia.
A. MEMILIKI SEBUTAN DI LUAR
Kini kita perlu melihat beberapa hal mengenai kesiasiaan agama. Pertama, agama memiliki satu sebutan di luar (2:17). Baru-baru ini saya ke tukang cukur untuk mencukur rambut. Tukang cukur itu berbicara tentang mengikuti misa hari Natal kepada saya. Saya bertanya kepadanya, ada berapa orang yang menghadirinya. Ia menjawab, “Anda tahu, itu hanya satu kewajiban agama. Ada beberapa orang hanya mengikuti misa setahun sekali, yaitu pada hari Natal.” Dari sini kita nampak satu contoh dari kesia-siaan agama: mengikuti misa setahun sekali sebagai kewajiban agama, untuk mempertahankan nama sebagai penganut agama tertentu. Orang beriman macam apakah itu? Seorang beriman yang hanya memiliki nama lahiriah. Kalau Anda benar-benar di dalam roh, berarti Anda adalah orang ber-iman yang sejati, dan itu adalah hal yang indah. Tetapi, kalau Anda tidak memiliki realitasnya, Anda hanya memiliki sebutan luaran, itu sama sekali tidak berarti, sia-sia.
B. MENGENAL ALLAH DALAM
PENGETAHUAN LUARAN
Butir kedua dari kesia-siaan agama ialah mengenal Allah dalam pengetahuan luaran (2:17-18). Sia-sialah mengenal Allah dalam pengetahuan luaran saja, hanya berdasarkan huruf luaran. Kita perlu memiliki pengenalan batini tentang Allah, pengenalan di dalam roh kita; pengenalan ini yang menyebar ke seluruh diri kita. Kita perlu mengenal Allah secara batiniah dan subyektif.
C. MEMILIKI ALKITAB YANG DI LUAR
Butir ketiga dari kesia-siaan agama ialah memiliki Alkitab namun hanya di luar saja (3:2). Baik orang Yahudi maupun orang Kristen, sama-sama memiliki Alkitab, tetapi Alkitab bagi kebanyakan orang di antara mereka telah menjadi kitab takhayul. Mereka menggunakan Alkitab secara takhayul. Ada beberapa orang Kristen berkata kepada saya, mereka takut tidur tanpa Alkitab di sisi mereka. Tanpa menaruh sejilid Alkitab di tepi bantal, atau di atas meja, mereka tidak bisa tidur tenang. Mereka mengira Alkitab bisa mengusir setan. Itu adalah takhayul. Ada lagi orang Kristen yang mencari petunjuk dari Alkitab dengan cara yang aneh. Mereka membuka Alkitab, lalu dengan telunjuk menuding ke suatu tempat dan kemudian melakukan sesuatu menurut apa yang dikatakan ayat tersebut. Pernah sekali saya mendengar ada orang yang takhayul seperti itu; setelah orang itu membuka Alkitab dan menaruh telunjuknya pada satu ayat yang ternyata berbunyi: “(Yudas) lalu pergi dari situ dan menggantung diri” (Mat. 27:5). Saya tidak tahu entah apa yang ia perbuat selanjutnya. Menggunakan Alkitab dengan cara demikian sangat berbahaya, sangat takhayul! Segala praktek yang sia-sia seperti itu harus dibuang.
Tentu, banyak orang Yahudi ortodoks dan orang Kristen sejati tidak menggunakan Alkitab dengan cara yang takhayul seperti itu, namun mereka tidak memakai Alkitab dengan cara yang benar dan hidup. Mereka hanya memperhatikan ajaran-ajaran secara harfiah, tanpa memperhatikan Kristus, Persona yang hidup itu. Dalam Yohanes 5:39-40 Tuhan Yesus berkata kepada ahli-ahli agama Yahudi, bahwa mereka menyelidiki kitab suci untuk mendapatkan pengetahuan, namun tidak mau datang kepada Tuhan untuk memperoleh hidup itu. Pada hari ini banyak orang Kristen yang demikian. Karena itu, Alkitab tidak berarti banyak bagi mereka, baik dalam hal hayat maupun realitas.
D. MEMELIHARA HUKUM TERTULIS
YANG DI LUAR
Beberapa orang agamawan memelihara hukum tertulis yang di luar (2:27-28). Misalnya soal pembaptisan. Banyak orang Kristen terkasih yang mempertahankan konsepsi mereka tentang baptisan selam. Sesuai dengan Alkitab, saya berpendapat baptisan selam yang benar, dan saya tidak pernah membaptiskan orang dengan baptisan percik. Akan tetapi, soal baptisan hampir menjadi satu perkara yang hanya merupakan tata cara lahiriah saja. Kita wajib menghindari segala tata cara lahiriah macam apa pun. Paulus memberi tahu orang-orang Yahudi bahwa jika sunat mereka hanya secara luaran, itu tidak sejati. Sunat yang sejati ialah sunat dalam batin, yaitu dalam hati dan dalam roh. Prinsip ini dapat kita terapkan dalam hal baptisan, sebab pada satu pihak, baptisan menggantikan sunat. Dalam Perjanjian Lama ada sunat, sedangkan dalam Perjanjian Baru sunat telah diganti dengan baptisan. Karena sunat itu tidak sejati bila dilakukan sebagai perbuatan pada lahiriah saja, baptis-an pun tidak sejati bila hanya dilakukan secara lahiriah saja. Dengan sangat menyesal saya katakan, hampir semua baptisan telah merosot menjadi semacam tata cara yang lahiriah belaka.
Saya dapat memberikan gambaran berdasarkan peng-alaman saya sendiri. Dulu, saya pernah menerima baptisan percik dari seorang pendeta. Kemudian saya tahu kalau itu salah, tidak sesuai dengan Alkitab. Setelah itu saya dibaptis selam di laut oleh seorang guru dari Kaum Saudara. Be-berapa waktu kemudian, seseorang memberi tahu saya bahwa dibaptis dalam air asin itu tidak benar lebih tepat dibaptis di dalam air tawar. Menurut pendapat mereka, kita harus menuruti teladan Tuhan Yesus, yaitu dibaptis selam di sungai. Boleh jadi, nanti akan ada lagi pendeta yang menyalahkan karena itu bukan sungai Yordan. Akhirnya saya tahu, sekalipun seseorang dibaptis di sungai Yordan, akan ada orang berkata bahwa itu tetap salah, sebab belum dibaptis tepat di lokasi Tuhan Yesus sendiri dibaptis. Perdebatan demikian tidak ada habisnya, malahan akan timbul kritik yang tidak wajar dan tidak masuk akal.
Berabad-abad lamanya soal baptisan ini terus diper-debatkan orang, karena mereka terus mempertahankan tata cara lahiriah saja. Ada beberapa orang seperti kaum Quak-ers dan Nyonya Penn-Lewis, menolak baptisan yang lahiriah. Walau saya tidak setuju dengan pendapat mereka, na-mun saya ingatkan, janganlah memperhatikan tata cara yang menurut Anda benar. Anda bukan Tuhan, saya pun bukan. Entah Anda dibaptis dengan air panas atau air dingin, air asin atau air tawar, di sungai atau di laut, satu kali atau beberapa kali, kalau hanya merupakan tata cara lahiriah saja, itu tidak ada artinya. Kita memerlukan rea-litas batiniah. Saya tidak menganjuri Anda mempraktekkan sesuatu hanya sebagai tata cara lahiriah. Jangan menaruh perhatian pada tata cara apa pun, kita wajib menaruh segenap perhatian kita pada realitasnya.
E. KEKURANGAN REALITAS BATINIAH
DALAM ROH
Agama menjadi sia-sia karena kekurangan realitas batiniah dalam roh. Roma 2:29 menyiratkan, apa pun hakiki kita, apa pun yang kita lakukan, dan apa pun yang kita miliki, semuanya haruslah di dalam roh. Jika Anda adalah seorang Yahudi dan bersunat, sunat Anda haruslah di dalam roh. Jika Anda orang Kristen, dan dibaptis, baptisan Anda harus di dalam roh. Setiap perkara harus berada di dalam roh. Roh di sini sudah tentu adalah roh manusia. Mengapa setiap perkara harus dilakukan di dalam roh? Sebab roh kita adalah tempat kediaman Allah. Roh adalah tempat dan kedudukan di mana Allah dapat bekerja bagi kita. Jika Anda adalah orang Kristen yang berada dalam roh, berarti Anda adalah orang Kristen yang bersama Allah. Jika Anda bertindak di dalam roh Anda, ini berarti Anda bertindak ber-sama Allah. Tanpa Allah, segala sesuatunya adalah sia-sia; pada-Nya segalanya riil. Karena itu, kita wajib kembali ke dalam roh kita. Jika kita mengasihi orang lain, kita harus mengasihinya di dalam roh kita. Jika tidak, kasih kita itu bukan kasih yang sejati, melainkan kasih yang politis. Tetapi kalau kita mengasihi orang di dalam roh kita, kasih kita itu bersama-sama dengan Allah.
Anda yang menjadi suami, ketika berkata bahwa Anda mengasihi istri Anda, Anda wajib mengatakannya dengan roh. Jika kasih Anda bukan di dalam roh, itu suatu penipuan, kasih yang politis. Banyak istri telah tertipu oleh kasih suaminya yang politis. Jika saya mengatakan sepatah kata kepada Anda, saya wajib mengatakannya dalam roh. Dengan demikian, perkataan saya itu baru mengandung Allah. Jika tidak, perkataan saya akan menjadi perkataan politis. Roh kita adalah organ yang dapat dipakai Allah untuk menjamah kita dan melaluinya kita dapat menjamah Allah. Segala apa adanya kita, segala perbuatan kita, wajiblah di dalam roh. Itu bukan agama, melainkan realitas.
F. MELAKUKAN KEJAHATAN SAMA SEPERTI ORANG YANG TAK BERIMAN
Terakhir, orang yang beribadah melakukan kejahatan yang sama seperti yang dilakukan oleh orang yang tak beriman (2:21-22), sehingga hampir-hampir tidak ada perbedaan antara orang yang beragama dengan orang yang tidak beragama. Semuanya sama. Meskipun orang-orang Yahudi adalah orang-orang yang beribadah, namun perbuatan mereka lebih buruk daripada orang-orang kafir.
Dalam potongan Alkitab mengenai penghukuman atas para agamawan ini, kita nampak bahwa agama sama sekali bukan apa-apa, sia-sia. Karena itu, kita harus meninggalkan agama jauh-jauh, jangan mempunyai sangkut paut apa pun dengannya. Yang kita perlukan adalah Persona yang hidup, Allah Tritunggal.
II. PENGHUKUMAN ATAS SELURUH DUNIA —
TANPA PENGHARAPAN SAMA SEKALI
Kini marilah kita melihat penghukuman atas seluruh dunia, penghukuman yang menunjukkan tanpa pengharap-an sama sekali (3:9-20). Situasi dunia ini mutlak tanpa pengharapan. Jangan mencoba menyembuhkan, mengoreksi, atau memperbaikinya. Buanglah harapan Anda itu. Situasi dunia ini sudah tidak tertolong lagi.
Dalam potongan surat Roma ini, Paulus menggambarkan manusia telah bejat seluruhnya, ia juga mengemukakan contoh-contoh yang membuktikan situasi dunia ini tak berpengharapan. Tidak ada seorang pun yang mencari Allah, dan tidak ada seorang pun yang mengenal Allah (3:11), semua orang telah berpaling dari Allah dan menjadi tidak berguna (3:12). Tidak ada seorang pun yang benar (3:10) dan tidak ada yang berbuat baik (3:12). Dengan kata lain, tidak ada seorang pun yang benar dan tidak ada yang baik. Tahukah Anda perbedaan antara orang benar dengan orang yang baik? Kalau saya bekerja pada Anda dengan gaji 500 dolar sebulan, namun pada waktunya Anda tidak mau membayar upah saya, maka Anda telah melakukan hal yang tidak benar. Tetapi jika Anda membayar, maka Anda adalah orang yang benar. Jika saya sama sekali tidak mengerjakan apa-apa bagi Anda, dan Anda memberi saya lima ratus dolar ketika saya membutuhkannya, itulah perbuatan kasih karunia. Kalau Anda berbuat demikian, berarti Anda adalah seorang yang baik. Akan tetapi Paulus mengatakan bahwa di antara seluruh umat manusia di dunia ini tidak ada seorang pun yang benar, dan tidak ada seorang pun yang baik. Percayakah Anda? Saya percaya. Janganlah berpikir bahwa Anda merupakan perkecualian. Tidak ada seorang pun yang benar; tidak ada seorang pun yang baik. Karena itu, setiap orang rebah di bawah penghukuman Allah (3:19). Situasi dunia sama sekali tanpa pengharapan.
Sebelum kita beroleh selamat, di manakah kita berada? Kita semua berada di bawah hukuman keadilan Allah. Setiap orang telah bersalah. Tidak ada seorang pun yang mencari atau mengenal Allah. Setiap orang telah menyeleweng dan menjadi tidak berguna. Semua manusia tidak ada yang benar atau baik; semua berada di bawah penghukuman keadilan Allah. Dari sini kita nampak bahwa keadaan dunia ini sama sekali tanpa pengharapan.
Saya sangat mengapresiasi tulisan Paulus. Dalam bagian penghukuman, kita melihat sumber kejahatan, jalan pembatasan, kesia-siaan agama, dan keadaan dunia yang tanpa pengharapan. Inilah kesimpulan tulisan Paulus tentang penghukuman: seluruh dunia telah berada di bawah penghukuman keadilan Allah. Seandainya kita belum beroleh selamat, di manakah kita? Bagaimana keadaan kita? Kita akan kehilangan pengharapan sama sekali dan juga berada di bawah penghukuman Allah. Tidak peduli kita siapa, sedang mengerjakan apa, dan memiliki apa, kita berada di bawah penghukuman keadilan Allah. Kita semua tahu bahwa kita memerlukan keselamatan Allah. Bagian penghukuman ini telah menyiapkan sebuah jalan bagi karunia keselamatan Allah, dan telah membuka pintu agar manusia dapat memasuki keselamatan Allah. Tidak peduli siapa kita, kita memerlukan Kristus. Kita memerlukan Kristus dan penebusan-Nya.
Dalam pembahasan tentang penghukuman, Paulus bermaksud menyediakan sebuah jalan untuk menyuplaikan Kristus ke dalam kita. Sasaran terakhir dari Injil yang di-tulis Paulus adalah menyuplaikan Kristus ke dalam kita. Sampai pada Roma 8, kita segera menemukan sebuah ayat yang mengatakan, “Kristus ada di dalam kamu” (8:10). Itulah sasaran Paulus. Baik kita sebagai seorang dari umat manusia, sebagai seorang yang membenarkan diri sendiri, sebagai seorang agamawan, atau sebagai seorang yang ada di dunia ini, kita memerlukan Yesus. Keperluan kita berada di dalam roh kita. Kita tidak seharusnya memperhatikan perkara-perkara yang di luar atau perbuatan-perbuatan luaran. Kita perlu kembali ke dalam roh. Di dalam roh, kita akan berjumpa dengan Kristus. Di dalam roh, kita akan menikmati Kristus. Perkataan Paulus dalam bagian penghukuman ini telah menyediakan sebuah jalan, agar kita menerima Kristus. Ia telah membukakan jalan agar Kristus dapat masuk ke dalam kita.