PENGUDUSAN HARUN DAN ANAK-ANAKNYA UNTUK MENJADI IMAM (9)
Pembacaan Alkitab: Kel. 29:29-46
Kita telah melihat satu gambaran yang jelas tentang langkah-langkah pengudusan Harun dan anak-anaknya untuk menjadi imam-imam yang melayani Allah. Mula-mula mereka dibasuh, kemudian dikenakan pakaian, dan setelah itu mereka dipuaskan dengan terpenuhinya kehampaan mereka. Mereka dibasuh dengan air, kemudian dikenakan pakaian imam, dan sesudah itu dipuaskan dengan makanan kudus. Ketiga kategori benda ini air, pakaian, dan makanan, persembahan (kurban) semuanya melambangkan Kristus. Setelah Harun dan anak-anaknya dibasuh, dikenakan pakaian, dan dipuaskan, mereka siap melayani Allah. Dengan kata lain, mereka siap melayankan makanan kepada-Nya. Kita boleh mengatakan bahwa imam-imam adalah pelayan-pelayan yang membawakan makanan kepada Allah dan melayani-Nya. Mereka tidak melayani Allah dengan yang lain, selain dengan makanan yang tepat bagi Dia.
MELAYANKAN MAKANAN KEPADA ALLAH
Sebenarnya pengudusan yang digambarkan dalam Keluaran 29 meliputi empat langkah. Ketiga langkah pertama ialah dibasuh, dikenakan pakaian, dan dipuaskan, berkaitan dengan kebutuhan imam-imam. Langkah keempat ialah melayankan Kristus kepada Allah sebagai makanan untuk kepuasan Allah, hal ini berkaitan dengan kebutuhan Allah. Menjadi imam berarti melayani Allah, melayankan Kristus kepada-Nya untuk kepuasan-Nya. Karena itu menjadi imam meliputi tiga langkah yang ada sangkut pautnya dengan imam-imam itu sendiri, dan langkah lainnya berkaitan dengan kepuasan Allah. Ini berarti sekalipun Harun dan anak-anaknya telah dibasuh, dikenakan pakaian, dan dipuaskan, mereka belum lagi memenuhi syarat untuk melayani sebagai imam-imam. Mereka masih perlu persembahan (kurban) untuk melayani Allah. Persembahan-persembahan itu dilayankan kepada Allah sebagai makanan. Setelah langkah ini digenapi, barulah pengudusan itu sempurna.
Sebagai umat Allah, kita semua telah ditebus. Akan tetapi, penebusan belumlah cukup untuk melayakkan kita melayani Allah sebagai imam-imam. Paling-paling penebusan memberi kita hak dan posisi untuk dikuduskan sebagai imam-imam untuk melayani Allah. Karena itu, setelah penebusan, kita perlu dikuduskan. Pengudusan ini terdiri dari empat langkah: dibasuh, dikenakan pakaian, beroleh kepuasan, dan melayani Allah dengan makanan. Dalam berita ini kita akan membahas langkah keempat, yakni langkah yang terakhir.
Dalam Keluaran 29, perkara yang paling sulit dipahami ialah imam melayani Allah dengan makanan untuk kepuasan-Nya. Sebaliknya, sangat mudahlah memahami tentang imam-imam dibasuh, dikenakan pakaian, dan dipuaskan. Seperti yang telah kita tunjukkan, dada kiri dan bahu kiri dari domba jantan yang kedua diberikan kepada imam-imam sebagai bagian mereka untuk kenikmatan mereka. Bersama domba jantan kedua, imam-imam juga diberikan roti dari bakul yang juga berisikan roti untuk makanan Allah. Karena itu, para imam dapat menikmati daging dan roti. Hal ini dapat diibaratkan dengan Tuhan Yesus yang dengan lima ketul roti dan dua ekor ikan mengenyangkan orang banyak. Dalam kedua kasus tersebut, orang-orang ini dipuaskan dengan daging dan roti. Jadi, makanan imam sangatlah sederhana.
Ketika kita sampai kepada masalah melayankan makanan kepada Allah, maka hal ini jauh lebih rumit. Karena Allah itu tidak sederhana, maka pelayanan makanan bagi-Nya juga tidak sederhana. Sebagai contoh, sangat mudahlah seorang ibu menyiapkan makanan untuk anaknya. Akan tetapi, penyiapannya akan jauh lebih rumit bila yang akan datang makan malam di rumahnya adalah gubernur. Sudah tentu ia tidak dapat menjamunya sama dengan cara ia memberi makan seorang anak kecil. Seprinsip dengan itu, menjamu Allah jauh lebih rumit dibandingkan dengan menjamu para imam.
MAKANAN ALLAH
Kita perlu terkesan dengan “lauk pauk”, makanan yang dihidangkan kepada Allah sebagai makanan-Nya. Lauk pauk pertama adalah seekor lembu jantan untuk kurban penghapus dosa. Kemudian diikuti oleh dua ekor domba yang berumur setahun, yang segar, muda, perkasa, dan yang penuh kekuatan. Berikutnya ialah sepersepuluh efa tepung gandum halus yang dicampur dengan minyak. Banyaknya minyak adalah seperempat hin, yaitu kira-kira satu liter. Tepung dan minyak dicampur menjadi kurban sajian. Lagi pula, ada “seperempat hin anggur untuk kurban curahan” (ayat 40). Banyaknya anggur sama dengan minyak, yakni seperempat hin. Di sini terdapat tiga benda dari hayat hewan seekor lembu jantan dan dua ekor domba dan tiga benda dari hayat tumbuh-tumbuhan tepung gandum yang halus, minyak, dan anggur. Keenam benda itu dapat dibagi menjadi dua kelompok: kelompok pertama terdiri atas lembu jantan dan dua ekor domba, dan kelompok kedua terdiri atas tepung, minyak, dan anggur. Semua benda ini adalah “bahan-bahan makanan” yang dipakai dalam “memasak” makanan bagi Allah. Untuk menjamu-Nya, kita memerlukan seekor lembu jantan, dua ekor domba, tepung, minyak, dan anggur.
Tahun-tahun yang lalu, saya merasa sulit untuk mengingat semua benda dari bahan-bahan makanan tersebut. Saya tak habis mengerti mengapa Musa menyusun potongan firman ini dengan cara yang begitu sulit dimengerti. Anda perlu membaca pasal ini berulang-ulang sebelum semuanya itu menjadi jelas bagi Anda. Menurut pasal ini, makanan Allah meliputi seekor lembu jantan, dua ekor domba, tepung, minyak, dan anggur. Banyaknya tepung halus itu adalah sepersepuluh efa. Satu efa sama dengan sepuluh gomer. Karena itu, sepersepuluh efa sama dengan satu gomer. Menurut Keluaran 16, banyaknya manna setiap hari untuk setiap orang adalah segomer. Karena itu, banyaknya makanan Allah adalah seekor lembu jantan, dua ekor domba, sepersepuluh efa tepung halus, seperempat hin minyak, dan seperempat hin anggur.
Lembu jantan adalah untuk kurban penghapus dosa, dan dua ekor domba dipersembahkan dengan tepung, minyak, dan anggur adalah untuk kurban bakaran. Dalam perlambangan, kurban bakaran merupakan makanan Allah. Kurban ini adalah untuk kepuasan Allah. Akan tetapi, supaya Allah memakan kurban bakaran yang kita persembahkan kepada-Nya, pertama-tama haruslah kita mempersembahkan kurban penghapus dosa. Kurban penghapus dosa bukanlah makanan Allah, sekalipun bagian-bagian dalamnya serta lemaknya dibakar untuk kepuasan Allah. Sebab itu, kita tak dapat mengatakan dengan pasti bahwa kurban ini dalam pandangan Allah terbilang sebagai makanan, tetapi kita tahu bahwa bagian-bagian dari kurban penghapus dosa adalah untuk kepuasan Allah.
PERLUNYA KURBAN PENGHAPUS DOSA
Dalam berita terdahulu kita telah tunjukkan bahwa menurut Keluaran 28 dan 29, Allah menginginkan kita mengundang Dia makan malam. Akan tetapi, sebagai tuan rumah, yakni orang-orang yang mengundang Tuhan makan malam, kita adalah orang-orang yang berdosa. Sebab itu, sebelum Allah dapat datang dan makan malam dengan kita, sifat kedosaan kita harus dibereskan terlebih dulu. Inilah sebabnya Keluaran 29 tidak mengatakan kurban penebus salah, melainkan kurban penghapus dosa. Jelaskah Anda tentang perbedaan antara kurban penghapus dosa dengan kurban penebus salah? Mengetahui perbedaan di antara keduanya adalah hal yang penting.
DOSA DAN DOSA-DOSA
Dalam Perjanjian Baru, kata “dosa” dipergunakan dalam dua cara, dalam bentuk tunggal (dosa) dan dalam bentuk jamak (dosa-dosa, perbuatan dosa). Perjanjian Baru memberi tahu kita bahwa Kristus mati di atas salib adalah untuk kedua-duanya, yaitu untuk dosa kita dan untuk perbuatan dosa kita. Yohanes 1:29 mengatakan, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia!” Dalam 1Korintus 15:3 Paulus berkata, “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci.” Petrus juga memberi tahu kita bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, “Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran” (1Ptr. 2:24). Dalam 1Petrus 3:18, Petrus berkata lebih lanjut, “Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk dosa-dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah.” Ibrani 9 mengatakan tentang dosa dan dosa-dosa. Tentang Kristus, ayat 26 mengatakan, “Akan tetapi, sekarang Ia hanya satu kali saja menyatakan diri-Nya pada zaman akhir untuk menghapuskan dosa dengan kurban diri-Nya.” Ayat 28 mengatakan, “Demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengurbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya un-tuk kedua kalinya bukan untuk menanggung dosa, tetapi untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka yang menantikan Dia.” Karena itu, dalam Perjanjian Baru, terdapat perbedaan antara dosa dengan dosa-dosa.
Apakah dosa? Dosa menunjukkan sifat kejatuhan kita. Sebagai orang-orang yang telah jatuh, sifat kita adalah berdosa. Dalam pandangan Allah, sifat kita sebenarnya adalah dosa itu sendiri. Sebuah meja yang terbuat dari kayu bukan saja bersifat kayu; tetapi juga adalah kayu. Demikian pula, kita tidak saja berdosa, tetapi kita adalah dosa. Kita semua perlu menyadari bahwa kita tersusun dari dosa. Menurut perkataan Paulus dalam Roma 5:19, kita telah menjadi orang-orang berdosa. Jadi, dosa berhubungan dengan sifat dosa kita, berhubungan dengan manusia alamiah kita.
Dosa-dosa adalah masalah pekerjaan-pekerjaan, perbuatan-perbuatan, serta perilaku kita. Seorang bayi mempunyai sifat dosa sejak kelahirannya, dan ketika ia bertumbuh ia akan melakukan dosa-dosa, yaitu perbuatan-perbuatan dosa. Dosa mengacu pada sifat, sedang dosa-dosa mengacu pada perbuatan-perbuatan. Di luar, kita mempunyai perbuatan-perbuatan, tindakan-tindakan dosa; di dalam, kita mempunyai sifat dosa. Karena itu, kita memerlukan seorang Penebus, seorang Pengganti. Persona yang menjadi Penebus dan Pengganti kita adalah Tuhan Yesus. Ia mati di atas salib karena segala dosa kita dan juga karena dosa kita.
Sebagai orang-orang yang ingin mengundang Allah makan malam, kita perlu mengakui bahwa kita telah berdosa dan kita adalah dosa. Akan tetapi, kebanyakan di antara mereka yang telah dianjuri dalam suatu sidang Injil untuk percaya kepada Tuhan Yesus Kristus hanya menyadari bahwa perbuatan-perbuatan merekalah yang berdosa. Di dalam ministri saya, tak pernah saya menjumpai seseorang yang pada awal mula pertobatannya sudah menyadari bahwa ia adalah dosa, yaitu ia bersifat dosa. Namun, kita harus mempunyai kesadaran ini jika ingin mengundang Allah makan malam. Kebanyakan orang China menganggap bahwa Konghucu sedikit pun tidak bercela, mereka sangat menghormatinya, menghargainya, dan memandangnya sebagai seorang yang suci. Namun, sekalipun Konghucu tidak melakukan kesalahan sedikit pun, sifatnya tetap sama seperti sifat seorang dosa. Sebagai contoh, sebatang pohon persik yang berbuah dan sebatang pohon persik yang tidak berbuah, keduanya memiliki sifat yang sama. Pohon yang tidak menghasilkan buah-buah persik sifatnya tetap adalah sebatang pohon persik. Demikian pula, tak peduli bagaimana baiknya Konghucu pada lahirnya, ia tetap bersifat seorang yang berdosa, sama seperti setiap orang lainnya.
Syukur kepada Tuhan, karena belas kasihan-Nya, kita mengasihi Dia dan ingin mengundang-Nya makan malam. Namun, pada saat kita mengundang Allah makan malam, kita perlu menyadari siapakah kita ini. Mungkin ada orang akan berkata: “Aku adalah anak Allah.” Ya, Anda memang anak Allah menurut kelahiran kembali Anda. Namun, menurut sifat Anda yang telah jatuh, Anda tetap adalah dosa. Walaupun hari ini Anda mungkin tidak berbuat dosa atau melakukan sesuatu yang keliru, namun Anda tetap adalah dosa. Karena itu, Anda perlu menerima Kristus sebagai kurban penghapus dosa Anda. Menurut Keluaran 29:35-36, selama tujuh hari, setiap hari dari pentahbisan imam, seekor lembu jantan sebagai kurban penghapus dosa harus di persembahkan untuk pendamaian. Ini menunjukkan bahwa setiap hari kita harus mempersembahkan Kristus kepada Allah sebagai kurban penghapus dosa kita.
KURBAN PENGHAPUS DOSA UNTUK PENDAMAIAN
Ayat 36 mengatakan, “Tiap-tiap hari haruslah engkau mengolah seekor lembu jantan menjadi kurban penghapus dosa untuk mengadakan pendamaian.” Sebagai pengganti “pendamaian”, ada beberapa versi terjemahan memakai kata “penebusan dosa”. Penebusan dosa berarti akhirnya bersatu. Di antara kita dengan Allah ada suatu problem, problem ini adalah dosa, dan dosa memisahkan kita dari Allah. Dosa menjauhkan kita dari Dia. Namun, ada satu kurban Kristus sebagai kurban penghapus dosa telah dipersembahkan kepada Allah, sehingga kita dengan Allah pada akhirnya bisa bersatu. Menurut arti dalam bahasa Ibrani, kita boleh berdamai dengan Allah, karena Ia telah ditenangkan. Sebagai kurban penghapus dosa, Tuhan Yesus telah menenangkan Allah bagi kita. Ia telah mendamaikan kita dengan Allah. Alhasil, Allah dan kita telah bersama-sama dibawa masuk ke dalam keesaan.
Lembu kurban penghapus dosa bukan untuk dimakan, melainkan untuk pendamaian. Namun demikian, isi perut dan lemaknya yang dibakar di atas mezbah mungkin boleh dianggap sejenis makanan yang dipersembahkan kepada Allah. Saya tidak berani mengatakan dengan pasti apakah bagian-bagian dari kurban penghapus dosa ini adalah makanan Allah. Akan tetapi, tak dapat diragukan bahwa isi perut serta lemak dari kurban penghapus dosa dibakar demi kepuasan Allah.
Di satu pihak, lemak dan isi perut dibakar sebagai suatu bau-bauan yang harum bagi Allah. Di pihak lain, darah dari kurban penghapus dosa dicurahkan di sekeliling mezbah. Bau-bauan yang harum adalah untuk kepuasan Allah, sedang darah adalah untuk kepuasan kita. Dahulu kita mempunyai suatu problem yang serius dengan Allah yang disebabkan oleh dosa kita. Namun, suatu kurban penghapus dosa telah dipersembahkan kepada Allah, dan persembahan ini memuaskan Allah, juga memuaskan kita. Melalui bau-bauan yang harum dan melalui darah, maka Allah dan kita telah dipuaskan.
Allah itu benar dan kudus. Ia juga Allah yang mulia. Sebaliknya, kita adalah orang berdosa. Dalam pandangan Allah, kita sesungguhnya adalah dosa. Tidak hanya demikian, kebenaran, kekudusan, dan kemuliaan-Nya secara otomatis menuntut kita. Akan tetapi, kita tak dapat memenuhi tuntutan-tuntutan itu, permintaan-permintaan itu. Tuhan Yesuslah yang telah memenuhi tuntutan Allah terhadap kita. Apa yang telah Ia perbuat di atas salib telah memuaskan tuntutan kebenaran, kekudusan, dan kemuliaan Allah. Kematian Tuhan telah menjadi suatu persembahan yang harum yang naik ke hadapan Allah untuk kepuasan-Nya. Begitu Allah mencium bau-bau yang harum ini, Ia dapat berkata, “Aku telah dipuaskan. Sekarang Aku telah berdamai dengan orang yang menyajikan persembahan ini kepada-Ku.” Ini adalah kepuasan di pihak Allah.
Kristus sebagai kurban penghapus dosa kita juga memungkinkan kita dipuaskan. Ketika kita melihat darah persembahan ini, kita merasa damai. Sebelum mempersembahkan Kristus sebagai kurban penghapus dosa, kita tidak mempunyai rasa damai sedikit pun, malahan kita berada di bawah penghukuman. Namun, melalui penumpahan darah dari kurban penghapus dosa dan pencurahan darah ini, kita menjadi damai. Karena itu, kita dapat berkata, “Ya, Allah, syukur kepada-Mu, karena melalui darah kurban penghapus dosa aku sekarang berdamai dengan Engkau.” Alhasil, Allah dengan kita dapat bersekutu, dapat saling bercakap-cakap. Inilah penebusan dosa.
Kurban penghapus dosa bukan makanan secara langsung. Itu sama sekali bukan makanan untuk kita, dan bukan secara langsung disediakan untuk dimakan oleh Allah. Kurban penghapus dosa adalah untuk membersihkan, untuk menyelesaikan problem antara kita dengan Allah. Kita adalah orang-orang yang mengundang Allah makan, dan Allah adalah Persona yang kita undang. Kurban penghapus dosa menyelesaikan problem antara tuan rumah, orang yang mengundang, dengan Allah, Persona yang diundang.