← Daftar isi Keluaran (9) · bab 8/20

PENGUDUSAN HARUN DAN ANAK-ANAKNYA UNTUK MENJADI IMAM (8)

Pembacaan Alkitab: Kel. 29:29-46

Saya telah menunjukkan bahwa Keluaran 29:29-46 adalah sketsa mengenai Keluaran 28 dan 29. Aspek pertama sketsa ini terdiri dari peraturan tentang pakaian kudus imam besar. Ayat 29-30 mengatakan, “Pakaian kudus kepunyaan Harun itu haruslah turun kepada anak-anaknya yang kemudian, supaya mereka memakainya apabila mereka diurapi dan ditahbiskan. Tujuh hari lamanya haruslah pakaian itu dikenakan oleh imam penggantinya dari antara anak-anaknya, yang akan masuk ke dalam Kemah Pertemuan untuk menyelenggarakan kebaktian di tempat kudus.” Ayat-ayat ini hanya membicarakan pakaian yang dikenakan oleh imam besar, mula-mula oleh Harun, kemudian oleh anak-anaknya, keturunannya. Firman ini berlaku untuk semua generasi berikutnya. Firman ini berlaku untuk Harun, kemudian anak-anaknya, dan setelah itu cucu-cucunya. Tentu saja, pada satu masa hanya bisa ada satu imam besar. Ketika Harun mati, Eleazar menggantikannya sebagai imam besar.

DIURAPI DENGAN MENGENAKAN PAKAIAN IMAM

Mengenai pakaian kudus, ayat 29 menyatakan bahwa Harun dan anak-anaknya diurapi dan diisi tangannya dengan mengenakan pakaian imam. Untuk memperoleh pengurap-an dan pemenuhan tangan, imam besar harus mengenakan pakaian kudus. Dengan kata lain, jika ia tidak berpakaian dengan tepat, ia tidak akan memenuhi syarat untuk diurapi.

Allah tidak dapat mengurapi dan memenuhi tangan seseorang yang telanjang. Kita telah melihat bahwa dalam pengudusan imam, mula-mula kita jumpai pembasuhan, dan kemudian penutupan atas ketelanjangan mereka. Jika secara rohani kita telanjang dalam pandangan Allah, maka Ia akan menjauhi kita. Siapa pun yang tidak berpakaian dengan tepat tidak akan dapat masuk ke dalam tempat maha kudus untuk menghadap Allah. Siapa pun yang masuk ke dalam tempat kediaman Allah harus sepenuhnya tertutup. Sekarang kita melihat bahwa untuk diurapi dan dipenuhi tangannya, pertama-tama imam besar harus mengenakan pakaian kudus.

Prinsip ini juga berlaku untuk kita sebagai imam-imam dalam hidup gereja hari ini. Maukah Anda menjadi imam melayani Allah dalam gereja? Jika Anda mau, Anda harus diurapi dan dipenuhi. Namun, Anda harus diurapi dan dipenuhi dengan mengenakan pakaian imam. Pada butir ini, kita perlu ingat bahwa pakaian imam melambangkan berbagai aspek Kristus. Karena itu, mengenakan pakaian imam berarti tertutup sepenuhnya oleh Kristus dan dengan Kristus. Begitu kita tertutup oleh Kristus, kita memenuhi syarat untuk diurapi.

Hari ini banyak orang Kristen yang kalau tidak mengabaikan Roh Kudus, lalu membicarakan Roh itu dengan cara yang aneh. Inilah sebabnya saya tidak setuju dengan tata cara Pentakosta hari ini. Banyak orang dalam tata cara Pentakosta tidak mengalami pengurapan sejati, karena mereka tidak ditutup dengan Kristus. Sebenarnya kita tidak perlu berdoa untuk pembaptisan Roh Kudus. Jika kita ditutup dengan Kristus dalam cara yang tepat, maka pengurapan akan menjadi milik kita. Pengurapan itu datang secara otomatis. Saya dapat memberikan kesaksian ini berdasarkan pengalaman saya. Bertahun-tahun yang lalu saya pernah berlatih berbicara dalam bahasa lidah. Namun setelah lebih dari satu tahun, saya sepenuhnya meninggalkan latihan tersebut. Saya dapat bersaksi bahwa hari ini saya memiliki lebih banyak kekuatan rohani daripada ketika saya berbicara dalam bahasa lidah. Namun, orang-orang yang menuntut untuk memiliki kekuatan Roh itu sebenarnya tidak memiliki apa-apa selain halusinasi. Pengalaman dan pekerjaan mereka tidak kekal. Imam besar tidak hanya diurapi dalam pakaian imam, tetapi juga harus mengenakan pakaian-pakain tersebut agar tangan mereka terpenuhi. Ini menunjukkan bahwa kita harus ditutupi dengan Kristus, kemudian barulah tangan kita bisa dipenuhi oleh-Nya.

MENGENAKAN PAKAIAN IMAM SELAMA TUJUH HARI

Ayat 30 mengatakan bahwa imam besar pengganti Harun harus mengenakan pakaian imam selama tujuh hari bila ia memasuki Kemah Pertemuan untuk menyelenggarakan pelayanan dalam tempat kudus. Saya telah menghabiskan banyak waktu untuk memahami makna ayat ini. Ayat ini menunjukkan bahwa kapan saja kita menyentuh pelayanan Allah, meskipun hanya sehari, kita harus mengenakan pakaian imam selama tujuh hari. Tujuh hari melambangkan sejangka waktu yang penuh. Karena itu, bila kita menyentuh pelayanan Allah, kita harus mengenakan Kristus dalam berbagai aspek untuk sejangka waktu yang penuh. Marilah kita menerapkan hal mengenakan Kristus dalam sejangka waktu ini secara riil. Khususnya, mari kita terapkan pada sidang-sidang gereja. Ketika kita menghadiri sidang, misalnya pada hari Tuhan, mungkin kita mempunyai keinginan untuk melayani Allah sebagai imam-imam. Namun, jika kita ingin menjadi imam-imam yang melayani Allah, kita tidak dapat melakukannya dengan hanya mengenakan Kristus secara tiba-tiba. Sebaliknya, kita harus mengenakan Kristus sebagai pakaian dalam sejangka waktu yang penuh. Inilah yang dimaksud dengan memperhidupkan Kristus hari demi hari selama tujuh hari, yaitu dalam sejangka waktu yang penuh.

Pelayanan Allah bukan hanya untuk sehari, melainkan untuk seumur hidup kekristenan kita. Seumur hidup kekristenan kita, dari saat kita beroleh selamat sampai kedatangan Tuhan kembali, adalah sejangka waktu yang penuh, yang dilambangkan dengan tujuh hari dalam ayat 30. Karena itu, kita harus mengenakan Kristus dalam seluruh waktu hidup kita di bumi.

Beberapa di antara orang-orang yang membaca perkataan ini mungkin ingat bahwa saya pernah mengatakan, dengan menerapkan darah Tuhan pada situasi kita, kita dapat berfungsi dalam sidang-sidang gereja, sekalipun selama hari itu kita melalaikan Tuhan, misalnya marah-marah. Ya, saya memang mengatakan bahwa melalui pembasuhan darah Kristus kita dapat memperoleh hati nurani yang sejahtera untuk memuji Tuhan dalam sidang-sidang gereja. Namun, pelayanan sedemikian ini berasal dari kategori lain pelayanan imam. Jika kita memperhidupkan Kristus hari demi hari, mengenakan Kristus dalam berbagai aspek-Nya dalam seluruh hidup kekristenan kita, dan kemudian menghadiri sidang untuk berfungsi sebagai imam, itu barulah semacam pelayanan. Namun, jika kita menerapkan darah Tuhan hanya sebelum menghadiri sidang untuk membasuh kita dari kegagalan dan kelemahan kita, memang kita dapat melayani-Nya, namun dalam kategori yang berbeda dengan pelayanan imam.

Tuhan tahu apa dasar pelayanan kita dalam hidup gereja. Ia dapat melihat situasi kita. Lagi pula, orang beriman yang berpengalaman juga tahu dasar pelayanan kita. Apakah dasar-dasar itu adalah kehidupan yang terus-menerus mengenakan Kristus dalam sejangka waktu yang penuh, atau secara tiba-tiba? Memang, lebih baik mengenakan Kristus secara tiba-tiba daripada sama sekali tidak. Namun, jauh lebih baik mengenakan Kristus secara terus-menerus.

Mengenakan Kristus secara tiba-tiba pada Sidang Meja Tuhan dapat disamakan dengan orang yang tergesa-gesa mengenakan jas dan dasinya untuk acara khusus. Namun, mengenakan Kristus secara terus-menerus dapat disamakan dengan orang yang mengenakan jas dan dasi sehari penuh. Pemakaian pakaian-pakaian tersebut merupakan bagian dari kehidupannya. Orang-orang yang mengenakan Kristus secara terus-menerus dan kemudian menghadiri sidang-sidang gereja untuk melayani, memiliki kedalaman, bobot, dan kelimpahan.

Keluaran 29:31-42a berkenaan dengan makanan kudus untuk imam-imam (ayat 31-34) dan kurban tiap hari untuk pemenuhan tangan para imam (ayat 35-42a). Dalam pasal 29, makanan Allah disebutkan lebih dulu. Pertama-tama kita diberi tahu tentang kurban bakaran, paha kanan domba jantan kurban keselamatan, dan roti tidak beragi, roti bundar, serta roti tipis, yang semuanya dibakar untuk menjadi makanan Allah. Kemudian pasal ini berlanjut membicarakan makanan bagi imam-imam. Namun, pada kesimpulannya, makanan imam disebutkan lebih dulu. Alasannya ialah kesimpulan bersifat praktis. Dalam pelaksanaan yang sebenarnya, kita harus berpakaian, dan kemudian dikuduskan. Kita tidak dapat melayani Allah dengan perut kosong. Pertama-tama kita harus diberi makan. Dengan demikian kita akan melayani Allah, bukan dari kekurangan kita, melainkan dari apa yang diisikan ke tangan kita. Karena itu, bagian dari Keluaran 29 ini pertama-tama memperhatikan makanan imam, kemudian barulah makanan Allah.

Ayat 31 berkata, “Domba jantan persembahan pentahbisan itu haruslah kauambil dan dagingnya kaumasak pada suatu tempat yang kudus.” Domba jantan di sini bukanlah domba jantan yang pertama, yaitu domba jantan dari kurban bakaran, melainkan domba jantan kedua, yaitu domba jantan dari kurban keselamatan (pendamaian). Domba jantan yang pertama dibakar untuk kepuasan Allah sepenuhnya. Imam tidak memiliki bagian dalam hal ini. Domba jantan kedua, yaitu domba jantan untuk pemenuhan tangan, paha kanannya diberikan kepada Musa sebagai bagiannya. Para imam, yaitu Harun dan anak-anaknya, diberi dada kiri dan paha kiri. Dada kiri adalah persembahan timangan, dan paha kiri adalah persembahan unjukan. Bagian dari domba jantan kedua yang diberikan kepada Musa dan para imam ditunjukkan dengan kata “daging” dalam ayat 31.

MENIKMATI KRISTUS DALAM TEMPAT KUDUS

Menurut ayat 31, daging domba jantan ini dimasak pada suatu tempat yang kudus. Bagian Allah tidak dimasak, melainkan dibakar. Ingat bahwa Domba Paskah harus dibakar, bukan dimasak. Dalam makna rohani, apakah perbedaan antara dimasak dengan dibakar? Dibakar menunjukkan penghakiman Allah. Apa pun yang dipersembahkan kepada Allah harus dihakimi oleh-Nya, yaitu harus dibakar dengan api kudus-Nya. Meskipun makanan Allah dibakar, namun makanan para imam dimasak. Makanan mereka tidak perlu dihakimi. Dibakar menunjukkan penghakiman, sedangkan dimasak tidak. Karena itu, dada dan bahu dari domba jantan kedua yang diberikan kepada para imam sebagai makanan para imam dimasak, tidak dibakar.

Bagian para imam atas domba jantan kedua dimasak pada suatu tempat yang kudus, yang pasti berada di pelataran Kemah Pertemuan; dan Kemah Pertemuan, adalah lambang gereja. Orang Israel menikmati hasil tanah permai dengan cara bekerja lebih dulu di tanah kudus. Kemudian barulah mereka memperoleh hasil tuaian yang berlimpah-limpah. Mereka boleh menikmati tuaian yang limpah ini di mana saja. Tanah kudus adalah lambang Kristus, sedangkan tuaian melambangkan kelimpahan Kristus. Karena itu, orang Israel dapat menikmati hasil tuaian di mana saja, menyatakan bahwa anak-anak Allah dapat menikmati kelimpahan Kristus di mana pun mereka berada. Namun, mereka tidak mempunyai hak untuk menikmati sepersepuluh yang unggul dari hasil tuaian di tempat yang mereka pilih. Bagian ini, persepuluhan ini, harus disisihkan dan disimpan untuk perayaan. Pada waktu perayaan, mereka harus membawa persembahan persepuluhan yang unggul ini ke Sion. Bagian persembahan persepuluhan ini dipersembahkan kepada Allah. Di antara barang-barang yang dipersembahkan kepada Allah terdapat dua ekor domba jantan, yang satu untuk Allah, dan bagian lainnya lagi untuk para imam. Domba jantan kedua ini tidak saja hanya boleh dimakan di Sion, juga harus dimakan di pelataran kudus. Ini melambangkan bahwa bagian atas Kristus ini harus dinikmati dalam hidup gereja.

Domba jantan ini adalah bagian terunggul, yaitu bagian terunggul dari persembahan persepuluhan yang dihasilkan di tanah kudus. Persembahan persepuluhan adalah bagian terunggul dari hasil tuaian, dan setengahnya diberikan kepada para imam. Bilangan 18:28 mengatakan bahwa dari persembahan persepuluhan yang dipersembahkan oleh orang-orang Israel dari tuaian mereka, sepersepuluhnya disisihkan untuk para imam. Dari hal ini kita melihat bahwa makanan para imam adalah bagian terunggul di antara persembahan persepuluhan unggul.

Memang, Anda dapat menikmati Kristus di mana saja. Namun, Kristus yang Anda nikmati di tempat lain tidak akan selimpah Kristus yang Anda nikmati di sidang gereja. Ada beberapa orang bertanya, “Mengapa untuk menikmati Kristus kita harus menghadiri sidang-sidang gereja? Konsepsi ini terlalu sempit. Tidak dapatkah kita bersidang di rumah dan menikmati Tuhan?” Tentu saja Anda dapat menikmati Kristus di ruang tamu Anda bersama beberapa orang beriman lain. Namun, kenikmatan itu berbeda dengan kenikmatan atas Kristus di Sidang Meja Tuhan dalam gereja. Menikmati Kristus dalam sidang gereja berarti menikmati-Nya di tempat kudus.

Tanah kudus sendiri sebenarnya adalah tempat kudus. Namun, pada kaum beriman terdapat perbedaan tingkat. Tanah kudus, gunung kudus Sion, dan pelataran kudus dari Kemah Pertemuan adalah tempat yang kudus. Meskipun demikian, tingkat kekudusannya berbeda. Di tempat yang manakah Anda berada? Anda berada di tanah kudus, di gunung kudus, ataukah di pelataran kudus? Tuhan Yesus berjanji bahwa jika dua atau tiga orang berkumpul bersama dalam nama-Nya, Ia akan berada di tengah-tengah mereka (Mat. 18:20). Karena itu, ada segolongan orang mungkin mendebat, “Di ruang tamu kami ada lebih daripada dua atau tiga orang bersidang bersama, bukankah Kristus ada di tengah-tengah kami?” Memang, Kristus bersama Anda di ruang tamu Anda. Namun, itu adalah Kristus di tanah kudus, bukan di gunung kudus, apalagi di pelataran kudus.

Izinkan saya memberi beberapa contoh lebih lanjut. Mungkin Anda berada di tempat duniawi dan masih memperoleh kenikmatan atas Kristus. Lagi pula, boleh jadi Anda menghadiri suatu kampanye Injili yang dipimpin oleh sekelompok orang Kristen tertentu, dan Anda menikmati Kristus di sana. Mungkin pula Anda menghadiri Sidang Meja Tuhan dalam gereja dan menikmati Kristus. Di sini kita memiliki tiga macam kenikmatan atas Kristus: kenikmatan di tempat duniawi, kenikmatan di kampanye Injili, dan kenikmatan di Sidang Meja Tuhan. Samakah ketiga macam kenikmatan ini? Tidak! Makanan kudus untuk para imam harus dimasak dan dimakan oleh mereka di tempat kudus. Tempat kudus ini bukan hanya merupakan tanah kudus atau gunung kudus, melainkan di pelataran kudus dari Kemah Pertemuan. Karena itu, sidang gereja adalah tempat untuk memperoleh kenikmatan terunggul atas Kristus. Dalam sidang kita menikmati bagian Kristus yang terbaik. Karena itu, Keluaran 29:32 mengatakan, “Haruslah Harun dan anak-anaknya memakan daging domba jantan itu serta roti yang ada di dalam bakul di depan Kemah Pertemuan.”

Selanjutnya ayat 33 mengatakan, “Haruslah mereka memakan semuanya itu yang dipakai untuk mengadakan pendamaian pada waktu mereka ditahbiskan dan dikuduskan, tetapi orang awam janganlah memakannya, sebab persembahan kudus semuanya itu.” Makanan kudus hanya untuk para imam, bukan untuk orang awam. Makanan kudus ini harus dimakan oleh orang-orang kudus di tempat yang kudus.

MENGALAMI KRISTUS SEBELUM KEDATANGAN-NYA KEMBALI

Mengenai makanan kudus untuk para imam. Ayat 34 mengatakan, “Jika ada yang tinggal dari daging persembahan pentahbisan dan dari roti itu sampai pagi, haruslah kaubakar habis yang tinggal itu dengan api, janganlah dimakan, sebab persembahan kudus semuanya itu.” Dalam perlambangan, apakah yang dimaksud dengan daging dan roti harus habis dimakan sebelum pagi? Ini berarti kita harus mengalami Kristus sebelum kedatangan-Nya kembali. Kita tidak boleh berkata, “Biarlah aku melupakan penikmatan atas Kristus hari ini. Aku pasti akan menikmati-Nya ketika Ia datang kembali.” Bertindak demikian berarti menyimpan daging domba jantan kedua sampai pagi. Dalam perlambangan, pagi adalah kedatangan Tuhan kembali.

Ini juga menunjukkan bahwa kita tidak seharusnya menyimpan Kristus untuk dinikmati pada waktu yang akan datang. Jangan membuka tabungan rohani untuk menyimpan kenikmatan atas Kristus untuk waktu yang akan datang. Sebaliknya, kita harus menghabiskan apa yang kita peroleh dari Kristus. Jangan menyimpan Kristus untuk waktu yang akan datang. Jangan membiarkan daging domba jantan kedua tersisa (tertinggal) sampai pagi. Menurut ayat 34, daging yang tertinggal harus dibakar, walaupun daging itu telah dimasak. Ini berarti daging itu kemudian menjadi kenikmatan Allah. Jika kita ingin menyimpan Kristus, Allah akan berkata, “Sebagai pengganti dari menyimpan bagian atas Kristus, persembahkan saja kepada-Ku dan biarkan Aku memakannya. Jika kamu tidak menikmati Kristus, biarlah Aku yang menikmati-Nya untukmu. Biarlah apa yang tertinggal menjadi bagian-Ku.” Inilah makna dari daging dan roti yang tidak boleh tertinggal sampai pagi dan yang tertinggal harus dibakar dengan api.