PENGUDUSAN HARUN DAN ANAK-ANAKNYA UNTUK MENJADI IMAM (7)
Pembacaan Alkitab: Kel. 29:29-46
KESIMPULAN
Keluaran 29:29-46 sebenarnya merupakan kesimpulan dari pasal 28 dan 29. Pasal 28 berkenaan dengan pakaian imam, sedangkan pasal 29 terutama berkenaan dengan makanan imam. Para imam baru memenuhi syarat setelah memiliki pakaian dan makanan yang tepat. Keluaran 29:29-46 tidak hanya memberi kita kesimpulan dari pasal 28 dan 29, tetapi juga memberi kita bagan ringkasan pakaian dan makanan imam serta makanan Allah. Ayat 29-42a berisi peraturan-peraturan tentang pakaian kudus dari imam (ayat 29-30), makanan kudus untuk para imam (ayat 31-34), serta kurban tiap hari untuk pemenuhan tangan para imam (ayat 35-42a). Jadi, setelah wahyu tentang pakaian imam, makanan imam, dan makanan Allah, Musa memberi kita uraian ringkas peraturan-peraturan yang berhubungan dengan pakaian imam, makanan imam, dan makanan Allah. Kita harus memiliki kesan bahwa peraturan-peraturan ini berkaitan dengan tiga hal pakaian imam, makanan imam, dan makanan Allah.
Dalam ayat 42b-46 kita jumpai hasil, akibat dari hal-hal di atas. Hasilnya ialah Allah datang untuk bertemu dengan para imam, berfirman kepada mereka, bahkan tinggal di tengah-tengah mereka dan orang Israel. Ayat 42 membicarakan pintu Kemah Pertemuan, tempat TUHAN akan bertemu dengan kita dan berfirman kepada kita. Ayat-ayat berikut berkata, “Di sanalah Aku akan bertemu dengan orang Israel, dan tempat itu akan dikuduskan oleh kemuliaan-Ku. Aku akan menguduskan Kemah Pertemuan dan mezbah itu, lalu Harun dan anak-anaknya akan Kukuduskan supaya mereka memegang jabatan imam bagi-Ku. Aku akan diam di tengah-tengah orang Israel dan Aku akan menjadi Allah mereka. Maka mereka akan mengetahui, bahwa Akulah, TUHAN, Allah mereka, yang telah membawa mereka keluar dari tanah Mesir, supaya Aku diam di tengah-tengah mereka. Akulah TUHAN, Allah mereka.” Menurut ayat-ayat ini, hasil dari memiliki pakaian imam, makanan imam, dan makanan yang dipersembahkan kepada Allah oleh imam, ialah Allah datang untuk bertemu dengan kita, berfirman kepada kita, dan tinggal di tengah-tengah kita.
Jika kita kurang memperhatikan uraian ringkas ini, maka kita tidak akan dapat memahami ayat-ayat ini. Sebenarnya, semakin banyak kita membaca bagian firman ini, semakin kurang pula kita memahaminya. Ini adalah pengalaman saya dalam membaca ayat-ayat tersebut bertahun-tahun yang lalu. Jika kita berusaha untuk membaca dan mempelajari bagian ini tanpa uraian ringkas dan pengetahuan tentang kesimpulannya, kita akan mengalami kesulitan. Tidak mudah bagi kita untuk melihat makna riil ayat-ayat tersebut. Misalnya, Anda menerima surat yang panjang dari orang tua Anda, yaitu surat yang terdiri atas beberapa halaman, mungkin Anda akan mengalami kesulitan dalam memahami butir inti surat tersebut. Boleh jadi Anda telah berkali-kali membacanya, namun tetap belum melihat masalah intinya. Ini merupakan gambaran dari kesulitan kita dalam memahami Keluaran 28 dan 29. Mungkin kita bahkan telah membaca pasal-pasal ini sebanyak dua puluh kali, namun kita belum dapat menunjukkan secara ringkas apa yang diwahyukan dalam pasal-pasal ini. Memang, banyak orang dapat berbicara tentang pasal-pasal ini berdasarkan tulisan hitam di atas putih. Mungkin mereka berkata bahwa Keluaran 28 membicarakan pakaian imam, dan Keluaran 29 membicarakan Harun dan anak-anaknya yang dikuduskan untuk melayani Allah sebagai imam. Namun, bagaimana cara Harun dan anak-anaknya dikuduskan untuk melayani Allah sebagai imam? Dapatkah Anda menerangkan dengan jelas dan tepat cara mereka dikuduskan?
Pengudusan Harun dan anak-anaknya untuk menjadi imam mencakup sejumlah langkah: pembasuhan kenajisan, penutupan ketelanjangan dengan pakaian imam, penanggulangan sifat dosa melalui kurban penghapus dosa, dan pemenuhan kekosongan mereka. Mula-mula Harun dan anak-anaknya harus dibasuh dan diberi pakaian. Kemudian mereka harus menyadari bahwa mereka lahir dalam dosa, memiliki sifat dosa, dan memerlukan kurban penghapus dosa untuk membereskan problem ini. Namun setelah mereka dibasuh, diberi pakaian dan mempersembahkan kurban penghapus dosa, mereka tetap kosong. Mereka tidak memiliki apa-apa untuk memuaskan Allah atau mereka sendiri. Karena itu, mereka tidak hanya memerlukan pemenuhan yang di luar, yaitu pemenuhan pada tangan mereka, tetapi juga pemenuhan yang di dalam, yaitu pemenuhan pada perut mereka. Untuk menjadi kudus, mereka memerlukan empat langkah, yaitu pembasuhan, pemberian pakaian, penanggulangan sifat dosa, dan pemenuhan luar dalam.
Sebelum berita-berita tentang Keluaran 28 dan 29 ini disampaikan, melihatkah Anda akan empat langkah pengudusan para imam ini? Saya sangsi bahwa ada orang di antara kita yang jelas tentang hal ini. Tidak hanya demikian, bahkan setelah membaca berita-berita ini, ada orang yang masih belum dapat mengingat keempat butir ini. Karena itu, saya menganjurkan Anda untuk mengingat keempat langkah yang diperlukan untuk menguduskan Harun dan anak-anaknya agar menjadi imam-imam Allah: pembasuhan kenajisan, penutupan ketelanjangan, penanggulangan sifat dosa, dan pemenuhan kehampaan.
ALLAH DAMBA TINGGAL DI TENGAH-TENGAH KITA
Dalam berita ini kita sampai pada Keluaran 29:29-46, yaitu kesimpulan dari Keluaran 28 dan 29. Meskipun mungkin sekarang kita memahami langkah-langkah dalam pengudusan Harun dan anak-anaknya untuk menjadi imam-imam, namun boleh jadi kita tidak memahami bagaimana cara menerapkan langkah-langkah ini menjadi kesimpulan. Dengan kata lain, kita mungkin tidak menyadari bahwa pasal-pasal ini memiliki sasaran. Apakah sasaran dari Keluaran 28 dan 29? Ada orang mungkin beranggapan bahwa sasaran itu ialah pengudusan umat tebusan Allah untuk menjadi imam-imam-Nya. Namun, pengudusan hanyalah prosedur, bukan sasaran.
Saya tahu bahwa kita tidak mudah memahami sasaran dari Keluaran 28 dan 29. Kita tidak hanya mengalami kesulitan dalam memahami makna dari bagian-bagian Alkitab tertentu, juga mengalami kesulitan yang sama dalam membaca buku-buku rohani maupun surat-surat. Baru-baru ini, saya menerima surat dari seorang beriman yang mengatakan kepada saya betapa banyak ia terbantu oleh berita yang berjudul “Ekonomi Allah”. Selanjutnya ia mengatakan kepada saya bahwa ia telah membaca sejumlah buku lain yang diterbitkan oleh Living Stream Ministry dan banyak tersuplai serta terbantu oleh buku-buku tersebut. Namun, sulit untuk ditunjukkan bahwa sebenarnya ia tidak memiliki banyak pengertian yang tepat tentang apa yang ia baca. Inilah gambaran dari kesulitan kita dalam memahami hal-hal rohani.
Karena alasan inilah, maka pembicaraan saya sering saya ulangi. Kita harus menemukan hal-hal tertentu yang harus diulangi berkali-kali. Alkitab sendiri sering mengulang. Sebagai contoh, dalam Perjanjian Baru berkali-kali kita diberi tahu agar percaya kepada Yesus Kristus. Berapa kali Perjanjian Baru menyuruh kita percaya kepada Kristus? Perkataan tersebut diulang berkali-kali. Alasan pengulangan ini ialah karena kita ini tebal telinga. Kita mendengar, tetapi sering tidak memahaminya.
Izinkan sekali lagi saya bertanya, apakah sasaran dari Keluaran 28 dan 29? Sebagaimana saya tunjukkan, sasaran ini terdapat dalam Keluaran 29:42b-46. Sasaran ini ialah kedatangan Allah untuk berbicara dengan kita, bertemu dengan kita, dan tinggal di tengah-tengah kita. Allah tidak mau hanya mengunjungi kita, Ia mau tinggal di tengah-tengah kita. Ayat 42 mengatakan bahwa TUHAN akan bertemu dengan kita dan berfirman kepada kita. Dalam ayat 45 dan 46, TUHAN mengatakan bahwa Ia akan tinggal di tengah-tengah orang Israel. Pertama-tama Allah mengatakan bahwa Ia akan bertemu dengan kita, berfirman kepada kita, dan yang terakhir tinggal di tengah-tengah kita. Ini menunjukkan bahwa tinggalnya Allah di tengah-tengah kita tergantung pada pembicaraan-Nya kepada kita dan pembicaraan kita kepada-Nya. Dengan kata lain, tinggalnya Allah tergantung pada pembicaraan antara kita dengan Allah. Pembicaraan kita dapat menyebabkan Ia pergi, namun dapat juga menyebabkan Ia tinggal di tengah-tengah kita.
Dalam ayat-ayat ini seolah-olah Allah berkata, “Aku ingin tinggal bersama kalian, dan bukan hanya mengunjungi kalian dalam waktu yang singkat. Tujuanku ialah tinggal di tengah-tengah kalian. Jadi, Aku akan datang kepada kalian dan berbicara dengan kalian, untuk melihat bagaimana keadaan kalian dan di mana kalian berada. Aku damba memiliki Kemah Pertemuan di tengah-tengah kalian. Kemah yang kalian tinggali bukanlah Kemah Pertemuan, namun kemah-Ku itulah Kemah Pertemuan. Tujuan dari memiliki pakaian imam, makanan imam, dan bahkan makanan yang dipersembahkan kepada-Ku ialah agar Aku bertemu dengan kalian dan tinggal di tengah-tengah kalian.”
MENGUNDANG ALLAH MAKAN
Saya akan menggunakan gambaran sehari-hari untuk menanamkan makna dari tujuan Keluaran 28 dan 29 seperti yang diwahyukan dalam 29:42b-46. Pasal-pasal ini sebenarnya memberi tahu kita bagaimana cara mengundang Allah untuk makan. Dari pengalaman kita pada saat diundang makan atau mengundang orang lain ke rumah kita untuk makan, kita dapat memahami tentang apa yang dimaksud dengan mengundang Allah makan. Sering kaum beriman meminta saya agar memberi mereka waktu untuk bersekutu. Kadang-kadang saya mengatakan kepada mereka bahwa saya tidak ada waktu. Maka akal mereka adalah mengundang saya ke rumah mereka untuk makan malam. Sebenarnya, tujuan mereka bukanlah memberi saya makanan yang enak, melainkan mencari kesempatan agar mereka memiliki waktu untuk berbincang-bincang dengan saya. Mereka tahu bahwa jika saya menerima undangan makan tersebut, berarti mereka akan memperoleh waktu yang mereka inginkan. Jadi, undangan mereka adalah akal mereka untuk memiliki waktu tersendiri dengan saya. Yang penting di sini ialah dengan mengundang seseorang datang ke rumah Anda untuk makan, Anda memberi kesempatan kepada orang tersebut untuk membuka dirinya kepada Anda dan bersekutu dengan Anda.
Dalam hal mengundang Allah makan, tidak perlu kita gunakan akal. Allah sangat berkenan menerima undangan kita. Sebenarnya, Ia sendiri telah menawarkan agar kita mengundang-Nya makan. Keluaran 28 dan 29 mewahyukan bahwa Allah ingin agar kita mengundang-Nya makan, dan Ia akan datang serta makan bersama kita. Akan tetapi, supaya Ia datang, kita harus membuat persiapan yang diperlukan.
Menyiapkan makan malam bersama Allah dapat digambarkan dengan adat istiadat China dalam mempersi-apkan penerimaan tamu terhormat untuk makan. Pertama-tama, tuan rumah harus mandi, jika perlu, memotong rambut dan mengenakan pakaian yang terbaik. Rumah harus benar-benar bersih, dan halaman harus disapu. Jika tidak melakukan persiapan seperti ini, berarti tuan rumah memandang rendah tamu terhormat mereka. Semakin terhormat tamunya, semakin sempurna dan cermat persiapan yang harus dilakukan. Bahkan kadang-kadang perlu memperbarui cat pada bagian-bagian tertentu dari rumah. Tentu saja, makanan paling enaklah yang harus disediakan. Persiapan ini harus mencakup bermacam-macam makanan: buah-buahan, sayur mayur, ikan, unggas, dan daging. Ikannya harus ikan air tawar dan ikan air laut. Selain itu, harus ada beberapa makanan terkenal dari tempat jauh, bahkan dari negara lain. Semua makanan ini disediakan bersamaan dengan persiapan pesta untuk tamu terhormat. Tuan rumah memiliki tujuan dalam memberikan undangan kepada seorang tamu terhormat, dan membuat persiapan dengan sempurna. Tujuannya ialah ketika menikmati pesta, tamu terhormat tersebut akan terbujuk untuk membuka dirinya dan berbicara kepada tuan rumah serta keluarganya. Jika tamu terhormat tersebut ikut serta dalam percakapan sedemikian ini, maka tuan rumah akan merasa gembira, beranggapan bahwa tidaklah sia-sia ia menghabiskan begitu banyak waktu dan uang untuk menyiapkan suasana itu. Ia telah mencapai tujuannya dalam mengundang tamu terhormat tersebut ke rumahnya untuk makan.
Gambaran ini membantu kita dalam memahami Keluaran 28 dan 29. Dalam pasal-pasal ini para imam adalah tuan rumah, yaitu orang-orang yang mengundang tamu terhormat. Mereka dikuduskan agar menyambut tamu ini untuk makan. Harun, imam besar, bagaikan ayah dalam keluarga tuan rumah, dan anak-anaknya, para imam, dapat disamakan dengan anak-anak dalam keluarga. Mereka semua melayani TUHAN sebagai tamu terhormat mereka. Semua langkah pengudusan mereka adalah untuk menerima kedatangan Allah yang akan makan bersama mereka.
Di negara ini, ada orang yang mengundang tamu untuk makan tanpa membuat persiapan yang saksama ketika menyambut tamu tiba. Sebagai contoh, mungkin mereka tidak mengenakan sepatu yang patut. Namun, menurut Keluaran 28 dan 29 serta gambaran yang saya berikan di atas, kita harus dibasuh dan ditutup dengan baik.
Saya menggunakan gambaran ini untuk menunjukkan bahwa kedua pasal ini mewahyukan cara yang tepat untuk mengundang Allah agar datang dan tinggal bersama kita. Kedatangan, pembicaraan, dan tinggalnya Allah berhubungan dengan hal makan bersama-Nya. Bila orang-orang makan bersama, mereka sering berbincang-bincang dengan akrab. Demikian pula pertemuan kita dengan Allah.
ALLAH MINUM
Baru-baru ini terpikir oleh saya bahwa menurut Alkitab, Allah juga minum. Saya bahkan merasa perlu menerbitkan brosur yang berjudul “Allah Minum”. Keluaran 29:40-41 menyebutkan kurban curahan. Kurban curahan ini bukan untuk para imam, melainkan, ini sepenuhnya untuk Allah. Jadi, karena kurban curahan ini dicurahkan untuk Allah, kita boleh mengatakan bahwa Allah minum. Allah tidak hanya makan, tetapi juga minum! Menurut Keluaran 29, kita tidak hanya harus melayani Allah dengan makanan, namun juga harus memberi-Nya sesuatu untuk diminum. Kita perlu mencurahkan kurban curahan bagi-Nya untuk diminum. Terakhir, kita harus melayani-Nya dengan makanan dan anggur dari kurban curahan.
SASARAN PENGUDUSAN
Pernahkah Anda membayangkan bahwa Keluaran 28 dan 29 mewahyukan cara yang tepat untuk mengundang Allah makan? Pasal-pasal ini mewahyukan apa yang harus kita lakukan agar Allah bertemu dengan kita, berfirman kepada kita, makan bersama kita, dan yang terakhir, tinggal di tengah-tengah kita. Inilah sasaran pengudusan Harun dan anak-anaknya untuk menjadi imam.
Misalnya, satu keluarga China bersiap-siap menyambut seorang tamu terhormat untuk makan. Ketika mereka sedang sibuk membersihkan rumah, menyapu halaman, dan memasak makanan, mungkin orang lain akan bertanya kepada mereka apa yang sedang mereka lakukan. Tentu saja anggota keluarga ini tidak akan mengatakan bahwa semua persiapan tersebut adalah tujuan mereka. Tidak, tujuan dari pembersihan tersebut bukanlah pembersihan, dan tujuan memasak bukanlah memasak. Penyebab dari semua persiapan ini ialah karena mereka akan kedatangan seorang tamu terhormat. Anggota keluarga tersebut mungkin akan berkata, “Tahukah Anda mengapa kami demikian sibuk membersihkan, menyapu, dan memasak? Semua ini karena malam nanti walikota akan datang untuk makan bersama kami.” Sasaran dari semua persiapan mereka adalah untuk menerima tamu terhormat sedemikian ini.
Demikian pula, pembasuhan dan pemberian pakaian kepada kita ada sasarannya. Sasaran kita ialah menyambut Allah untuk makan. Mengapa kita harus dikuduskan untuk melayani Allah sebagai imam? Kita memerlukan semua langkah pengudusan ini karena Allah akan datang untuk makan, dan kita harus siap melayani-Nya. Selain itu, kita harus makan bersama-Nya.
Bila kita menerima seorang tamu di rumah kita, di satu aspek, kita melayaninya, dan di aspek lain, kita makan bersamanya. Mula-mula, kita memberi tamu itu makanan yang terbaik, kemudian kita semua menikmati makanan tersebut bersama-sama. Kita juga memberi tamu terhormat itu sesuatu untuk diminum. Tujuan kita ialah agar tamu kita, yaitu Tuhan sendiri, akan membuka diri-Nya kepada kita, berbicara kepada kita, dan kemudian memutuskan untuk tinggal bersama kita. Bukankah ini suatu penjelasan rinci yang ajaib dari Keluaran 28 dan 29? Jika kita melihat sasaran ini, yaitu alasan dari semua langkah dalam pengudusan imam, kita akan memahami apa yang diwahyukan dalam pasal-pasal tersebut.