PENGUDUSAN HARUN DAN ANAK-ANAKNYA UNTUK MENJADI IMAM (6)
Pembacaan Alkitab: Kel. 29:15-28; 40:14-15
PENEBUSAN DAN PENUNASAN
Kita akan mulai berita ini dengan melihat beberapa rincian dari kurban pendamaian sebagaimana dijelaskan dalam Keluaran 29:19-20, “Kemudian haruslah kau ambil domba jantan yang lain, lalu haruslah Harun dan anak-anaknya meletakkan tangannya ke atas kepala domba jantan itu. Haruslah kau sembelih domba jantan itu, kau ambillah sedikit dari darahnya dan kaububuh pada cuping telinga kanan Harun dan pada cuping telinga kanan anak-anaknya, pada ibu jari tangan kanan dan pada ibu jari kaki kanan mereka, dan darah selebihnya kausiramkanlah pada mezbah sekelilingnya.” Di sini kita melihat bahwa darah domba jantan itu dibubuhkan pada telinga, ibu jari tangan, dan ibu jari kaki. Ini menunjukkan bahwa organ-organ yang dipakai untuk mendengar, bekerja, dan berjalan, semuanya perlu dibersihkan. Mereka yang ingin menjadi imam Allah harus belajar mendengarkan Dia. Dengan demikian barulah mereka mampu bekerja dan berjalan menurut apa yang mereka dengar dari Dia. Sebagai imam, kita harus memiliki telinga, tangan, dan kaki yang telah terbasuh oleh darah pengampunan. Kita harus belajar mendengarkan Tuan kita, Allah kita, bekerja sesuai dengan apa yang Dia tuntut dalam pelayanan kita kepada-Nya, dan berjalan sesuai dengan jalan-Nya dalam melayani-Nya.
Menurut ayat 20, sebagian besar darah itu dipercikkan di atas mezbah. Tidak disangsikan lagi bahwa pemercikan darah ini menyatakan penebusan. Pencurahan darah memerlukan adanya kematian suatu makhluk. Di sini pencurahan darah menunjukkan bahwa seekor domba jantan telah tersembelih. Berkenaan dengan pemercikan darah dan minyak urapan, ayat 21 berkata, “Haruslah kauambil sedikit dari darah yang ada di atas mezbah dan dari minyak urapan itu dan kau percikkanlah kepada Harun dan kepada pakaiannya, dan juga kepada anak-anaknya dan pada pakaian anak-anaknya; maka ia akan kudus, ia dan pakaiannya, dan juga anak-anaknya dan pakaian anak-anaknya.” Darah dan minyak urapan, kedua-duanya dipercikkan pada pakaian imamat. Darah menyiratkan pengakhiran dan penebusan, minyak urapan menyiratkan penunasan, suatu permulaan baru. Apa saja yang diakhiri dan ditebus oleh darah, akan ditunaskan oleh minyak urapan. Imam-imam sebagai orang-orang yang telah diakhiri, ditebus, dan ditunaskan baru bisa memiliki suatu permulaan baru. Alhasil, mereka bisa menjadi imam-imam melayani Allah.
BAGIAN ALLAH DALAM KURBAN PENDAMAIAN
Setelah Harun dan anak-anaknya itu diakhiri, ditebus, dan ditunaskan, tangan-tangan mereka masih kosong. Kepada mereka telah diberikan suatu permulaan baru, kini mereka mampu melayani Allah. Namun, mereka tidak memiliki apa-apa yang dapat mereka pakai untuk melayani Dia. Kita semua harus berkesan terhadap masalah penting ini. Justru untuk hal ini Allah memberi mereka petunjuk rinci mengenai domba jantan kedua.
Ayat 22-23 mengatakan, “Dari domba jantan itu haruslah kauambil lemaknya, ekornya yang berlemak, lemak yang menutupi isi perutnya, umbai hatinya, kedua buah pinggangnya, lemak yang melekat padanya, paha kanannya sebab itulah domba jantan persembahan pentahbisan kau ambillah juga satu keping roti, satu roti bundar yang berminyak dan satu roti tipis dari dalam bakul berisi roti yang tidak beragi, yang ada di hadapan TUHAN.” Di sini kita baca: bagian isi perut, paha kanan, roti bundar, dan roti tipis. Bila secara cermat kita baca mulai ayat 22-28, kita akan menemukan bahwa dalam ayat-ayat ini terdapat dua paha, paha kanan dan paha kiri. Paha-paha dan dada-dada merupakan bagian yang ditambahkan pada bagian isi perut untuk kurban pendamaian.
Ayat 24-25 mengatakan, “Haruslah kautaruh seluruhnya ke atas telapak tangan Harun dan ke atas telapak tangan anak-anaknya dan haruslah kaupersembahkan semuanya sebagai persembahan timangan (Tl.) di hadapan TUHAN. Kemudian haruslah kauambil semuanya dari tangan mereka dan kaubakar di atas mezbah, yaitu di atas kurban bakaran, sebagai persembahan yang harum di hadapan TUHAN; itulah suatu kurban api-apian bagi TUHAN.” Kini imam-imam itu telah memiliki sesuatu yang mengisi tangan mereka, sesuatu yang dipersembahkan kepada Allah. Bagian kurban pendamaian ini dibakar di atas mezbah sebagai persembahan yang harum bagi Tuhan. Ini merupakan pemuasan lebih lanjut bagi Allah. Telah kita lihat bahwa seluruh kambing jantan kurban bakaran itu dibakar untuk kepuasan Allah. Kini bagian kurban pendamaian itu juga dibakar untuk maksud ini sebagaimana yang akan kita lihat nanti, ini menunjukkan bahwa Allah sedang makan Kristus, berpesta atas Kristus bersama imam-imam-Nya.
PERSEMBAHAN TIMANGAN DAN PERSEMBAHAN UNJUKAN
Walaupun para imam telah memiliki sesuatu yang dipersembahkan kepada Allah, mereka masih belum memiliki sesuatu yang dapat mereka makan. Mereka tetap lapar, tetap kosong di dalam mereka. Dalam ayat 26 Tuhan berkata kepada Musa, “Selanjutnya haruslah kau ambil dada dari domba jantan yang adalah bagi pentahbisan Harun dan kau persembahkan sebagai persembahan timangan (Tl.) di hadapan TUHAN, dan itulah bagian untukmu.” Kata timangan di sini mengandung arti suatu gerakan. Ini melambangkan gerakan Kristus dalam kebangkitan-Nya. Dengan kata lain, persembahan timangan merupakan lambang Kristus dalam kebangkitan. Kalau dada melambangkan kasih, maka dada yang dipergunakan untuk persembahan timangan melambangkan Kristus Sang bangkit dalam kasih.
Menurut keempat kitab Injil dan bagian awal Kitab Kisah Para Rasul, Kristus yang kini berada dalam kebangkitan telah datang kembali kepada murid-murid-Nya dalam kasih. Penampakan-Nya ke hadapan mereka setelah kebangkitan-Nya berada dalam atmosfer kasih. Ketika Tuhan menampakkan diri di hadapan murid-murid-Nya dalam Yohanes 20, Ia berkata kepada mereka, “Damai sejahtera bagi kamu!” Kalimat ini diucapkan di dalam atmosfer kasih. Kristus yang bangkit mendatangi mereka dalam kasih. Ini adalah persembahan timangan, suatu persembahan yang melambangkan Kristus yang bangkit dalam kasih yang diberikan kepada Musa untuk menjadi bagiannya.
Dua bagian domba jantan kurban pendamaian yang masih tertinggal ialah dada kiri dan paha kiri. Ayat 27 dan 28 mengatakan, “Demikianlah harus kaukuduskan dada persembahan timangan dan paha persembahan unjukan yang dipersembahkan dari domba jantan yang adalah bagi pentahbisan Harun dan anak-anaknya. Itulah yang menjadi bagian untuk Harun dan anak-anaknya menurut ketetapan yang berlaku untuk selama-lamanya bagi orang Israel, sebab inilah suatu persembahan unjukan, maka haruslah itu menjadi persembahan unjukan dari pihak orang Israel, yang diambil dari kurban keselamatan mereka, dan menjadi persembahan unjukan mereka bagi TUHAN” (Tl.). Persembahan unjukan melambangkan Kristus yang diangkat tinggi, Kristus yang terangkat ke surga. Jadi, persembahan timangan melambangkan Kristus dalam kebangkitan dan persembahan unjukan melambangkan Kristus yang diangkat tinggi, Kristus dalam keterangkatan. Selain itu, dada melambangkan kasih, sedangkan paha melambangkan tenaga, kekuatan. Kristus yang bangkit memiliki kasih, sedangkan Kristus yang terangkat tinggi memiliki kekuatan. Setelah Kristus terangkat ke surga, Ia mencurahkan kekuatan ke atas murid-murid-Nya. Sebagai bagian mereka, para imam mendapatkan dada timangan dan paha unjukan. Ini berarti mereka menikmati Kristus dalam kebangkitan dengan kasih dan Kristus dalam keterangkatan dengan kekuatan. Inilah bagian untuk mereka makan.
Allah memiliki sesuatu untuk Dia makan, Musa juga memiliki sesuatu untuk ia makan, dan semua imam pun memiliki sesuatu untuk mereka makan. Bagian Allah adalah paha kanan dan isi perut, lemak, roti bundar, dan roti tipis. Bagian untuk Musa, sang pelayan, ialah dada kanan. Bagian imam-imam ialah dada kiri sebagai persembahan timangan dan paha kiri sebagai persembahan unjukan. Ini menunjukkan bahwa Allah, Musa, dan imam-imam, tiga pihak ini terlibat dalam hal makan. Ada makan demikian, terjadilah damai, dan setiap orang dipuaskan. Allah dipuaskan, Musa dipuaskan, imam-imam juga dipuaskan, karena mereka semua menikmati Kristus, Kristus yang Almuhit. Puji Tuhan atas lukisan ini!
Bila tangan kita dipenuhi oleh Kristus sesuai dengan lukisan dalam Keluaran 29, kita akan mampu berkata, “Tangan kita penuh Kristus, dan apa adanya batiniah kita juga penuh dengan Dia.” Inilah terpenuhinya tangan-tangan dan inilah pengudusan yang sejati.
DIKUDUSKAN SEPENUHNYA
Kini kita bisa melihat bahwa para imam telah dikuduskan sepenuhnya. Mereka telah disisihkan untuk Allah dari kenajisan, dari ketelanjangan, dan dari dosa bawaan mereka. Lagi pula mereka tidak lagi berhampa tangan, dalam batin mereka juga tidak hampa lagi. Mereka telah memiliki semua aspek kekayaan Kristus untuk menjadi tanda pengudusan mereka. Kini mereka telah menyandang suatu tanda yang menyisihkan mereka kepada Allah dan yang menunjukkan bahwa mereka telah dikuduskan dari kenajisan, ketelanjangan, dosa, hampa tangan, dan kelaparan. Mereka tidak lagi memiliki masalah mengenai kenajisan, ketelanjangan, dosa, kehampaan atau kelaparan. Sebaliknya, mereka telah memiliki Kristus sebagai sandang dan pangan. Kini mereka adalah imam-imam yang telah dikuduskan dan bersyarat.
Dalam Alkitab, pengudusan menyiratkan banyak hal, mencakup membasuh bersih kenajisan kita, menutupi ketelanjangan kita dengan pakaian yang tepat, menebus kita dari sifat bawaan dosa kita, dan memenuhi kita dengan Kristus. Mereka yang telah dikuduskan secara demikian sesungguhnya telah ditandai, disisihkan, dipisahkan dari yang awam. Ketika Harun dan anak-anaknya dikuduskan untuk melayani Allah sebagai imam, mereka telah dipisahkan dari kenajisan, dari ketelanjangan, dari sifat bawaan dosa, dari bertangan hampa, dan dari kelaparan. Mereka menyandang tanda Kristus yang almuhit. Mereka mampu memuaskan Allah, dan Allah juga mampu memuaskan mereka. Dengan demikian, mereka menikmati pesta bersama dengan Allah atas Kristus. Dalam pesta ini mereka merasa nikmat dan puas. Inilah pemenuhan tangan para imam, dan inilah pengudusan orang yang ditebus untuk menjadi imam-imam Allah.
Bagian Allah atas domba jantan kedua meliputi paha kanan. Paha kiri dan dada kiri diberikan kepada imam-imam yang melayani, sedangkan dada kanan adalah bagian untuk Musa. Roti, roti bundar, dan roti tipis semata-mata untuk Allah nikmati. Selain itu, bagian dalam (isi perut) dan lemak juga seluruhnya untuk Allah nikmati. Bagian dalam dan lemak melambangkan apa adanya Kristus di dalam diri-Nya. Di dalam manusia batiniah-Nya mutlak elok manis. Pada-Nya ada lemak yang limpah. Keelokan dan kemanisan Tuhan bukanlah yang lahiriah, melainkan yang batiniah. Dalam pandangan Allah, manusia batiniah Kristus itu elok dan manis. Bagian dalam dan lemak dari kurban pendamaian sesungguhnya merupakan pemberian terunggul.
Pada berita di depan telah kita bicarakan mengenai kekudusan empat ganda: tanah kudus, hasil tanah kudus, perpuluhan kudus, dan bagian terunggul yang dipersembahkan seluruhnya kepada Allah untuk kenikmatan dan kepuasan-Nya. Bagian dalam (isi perut) dan lemak dari domba jantan kedua merupakan benda yang terkudus daripada benda-benda kudus lainnya. Selain itu, roti bundar dan roti tipis termasuk di antara benda-benda terkudus. Bagian terunggul dari benda-benda terkudus adalah apa adanya Kristus di dalam apa adanya batiniah-Nya. Roti bundar dan roti tipis melambangkan Kristus di dalam tindak tanduk lahiriah-Nya. Semua butir ini melambangkan perilaku Kristus. Apa adanya batiniah Kristus semuanya adalah untuk kepuasan Allah, sedangkan tindak tanduk dan perilaku lahiriah Kristus juga merupakan bagian kudus bagi kepuasan Allah.
Apa yang saya sajikan sejauh ini hanyalah sketsa kasar yang menyiratkan pengalaman dan penikmatan atas Kristus. Saya berkeyakinan, jika Anda setia menuntut pengalaman atas Kristus, Anda akan menyadari bahwa apa adanya batiniah Kristus itu kaya dan manis, sedangkan tindak tanduk dan perilaku lahiriah-Nya sangat mustika. Namun, bagian kudus ini adalah untuk Allah nikmati, mutlak bagi kepuasan-Nya. Menurut Keluaran 29, bagian-bagian ini adalah yang dipersembahkan oleh mereka yang telah dikuduskan untuk melayani Allah sebagai imam-imam. Setelah proses pengudusan ini, kita boleh mempersembahkan bagian sedemikian ini kepada Allah.
Telah kita ketahui bahwa pengudusan meliputi dibasuh, dikenakan pakaian, ditebus, mempersembahkan domba jantan pertama sebagai kurban bakaran, dan domba jantan kedua sebagai kurban pendamaian. Haleluya untuk pengudusan semacam ini! Setelah kita dikuduskan secara demikian, kita telah diisi oleh Kristus dan bersyarat untuk melayani Allah sebagai imam-imam. Kita telah ditutupi pada lahiriah kita dengan Kristus, dan dipenuhi pada batiniah oleh-Nya. Karena itu, kita bersyarat untuk melayani Allah sebagai imam-imam-Nya. Lagi pula, kita memiliki sesuatu dalam tangan kita yang dapat kita pakai untuk melayani-Nya, yaitu Kristus yang almuhit sebagai bagian kudus terunggul bagi kepuasan Allah. Ada juga bagian Kristus untuk kita. Semua ini tercakup di dalam kurban pendamaian. Di dalam pelayanan imamat, kita bersama dengan Allah menikmati pesta damai atas Kristus.
BERPESTA ATAS KRISTUS
Dalam Keluaran 29 kita menjumpai gambaran negatif dari apa adanya kita tanpa Kristus dan di luar Kristus. Terpisah dari Kristus, kita ini najis, telanjang, berdosa, hampa, dan tidak memiliki sesuatu untuk memuaskan Allah maupun diri sendiri. Walaupun mereka telah beroleh selamat, banyak orang Kristen, di bawah pengaruh khotbah dan ajaran dangkal, tidak tahu akan sasaran keselamatan mereka. Dari Keluaran 29 kita tahu bahwa kita telah diselamatkan, karena itu kita bisa dikuduskan untuk melayani Allah sebagai imam-imam, sebagaimana terwahyu dalam pasal ini, pengudusan meliputi dibasuh dan dikenakan pakaian. Juga meliputi penebusan yang menangggulangi masalah sifat bawaan dosa kita, dan terisinya tangan kita dengan barang yang dapat dipakai untuk memuaskan Allah dan diri sendiri. Aspek terakhir pengudusan ini berpesta atas Kristus meliputi penjenuhan dan pengubahan. Akhirnya, kita akan dijenuhi oleh apa yang kita makan dan diubah karenanya. Para imam tidak makan makanan biasa. Sebaliknya mereka memiliki minuman imamat dan makan makanan imamat. Makanan mereka, sebagaimana dilambangkan oleh kurban-kurban persembahan, adalah Kristus. Akhirnya para imam itu tersusun dari makanan yang mereka makan; karena kita makan apa, kita akan menjadi apa.
Semasa muda, kakek nenek dari pihak ibu saya tinggal di pantai, dan mereka makan banyak ikan. Saya ingat, ketika saya mengunjungi mereka, saya terkejut karena mereka bau ikan. Ketika hal ini saya tanyakan kepada ibu, ia menegur kami dengan berkata, “Tidakkah kau tahu bahwa mereka makan ikan setiap hari? Mereka bau ikan, karena mereka makan ikan sehari tiga kali.” Ini merupakan suatu ilustrasi mengenai fakta memakan sesuatu itu sama dengan penjenuhan dengan pengubahan. Kita ini dijenuhi dan diubah oleh apa yang kita makan.
Karena para imam makan kurban persembahan, mereka dikuduskan tidak hanya secara posisi, tetapi juga dikuduskan secara sifat. Mereka dipisahkan atas posisi, juga diubah atas sifat.
Sebelum imam-imam dikuduskan, mereka tidak bersih. Karena itu mereka perlu dibasuh oleh Kristus dengan firman-Nya, yang dilambangkan oleh air hayat. Karena mereka telanjang, mereka perlu ditutupi oleh Kristus sebagai pakaian mereka. Pada pakaian ini kita melihat kemuliaan dalam sifat ilahi dan kemolekan dalam sifat insani. Karena itu, para imam dengan limpahnya mengenakan segala kelimpahan Kristus. Karena mereka telah diberi pakaian secara demikian, maka ketelanjangan mereka telah ditutupi. Lagi pula, walau mereka adalah dosa di dalam sifat bawaan mereka, tetapi sifat bawaan mereka yang telah jatuh itu telah diakhiri di dalam Kristus sebagai kurban penghapus dosa. Dengan demikian tiga perkara negatif telah ditanggulangi: kenajisan, ketelanjangan, dan kedosaan. Namun, para imam itu masih hampa, tidak memiliki sesuatu yang dapat dipergunakan untuk memuaskan Allah atau diri sendiri.
Di pihak positif, para imam memiliki Kristus Sang bangkit yang dilambangkan oleh dua ekor domba jantan. Domba jantan pertama adalah kurban bakaran yang mutlak untuk kepuasan Allah. Dengan kurban bakaran itu para imam memiliki sesuatu untuk dipersembahkan kepada Allah. Dengan demikian terhadap Allah kini mereka kaya, karena mereka telah memiliki Kristus dalam kebangkitan sebagai kurban bakaran yang membubung kepada Allah bagi kepuasan-Nya. Mereka pun memiliki Kristus dalam kebangkitan sebagai persembahan timangan, dan dalam keterangkatan sebagai persembahan unjukan untuk memuaskan diri sendiri juga memuaskan Allah. Jadi, terdapat kepuasan bersama melalui kurban pendamaian. Para imam bisa menikmati kedamaian dan menemukan kepuasan. Kini tangan mereka telah dipenuhi dengan Kristus. Mereka telah memiliki sesuatu yang memuaskan Allah dan diri sendiri. Mereka bisa dipuaskan dengan Kristus dalam kebangkitan sebagai persembahan timangan dari kasih, dan dengan Kristus dalam keterangkatan sebagai persembahan unjukan dari kekuatan.
Alhasil, para imam telah diberi kekuatan dan bersyarat untuk melayani Allah. Inilah pengudusan. Semua orang beriman dalam Kristus seyogianya dikuduskan secara demikian.
GAMBARAN LENGKAP PENGUDUSAN
Jika kita mengerti Keluaran 29, kita akan memiliki pengenalan tepat mengenai makna pengudusan yang dibicarakan dalam Perjanjian Baru. Kini, bila kita membaca tulisan mengenai pengudusan dalam Perjanjian Baru, kita akan memperoleh pemandangan mengenai Keluaran 29 di hadapan kita, sehingga kita paham akan pengudusan Perjanjian Baru seturut pemandangan tersebut.
Pengudusan berarti kita telah dibasuh, dikenakan pakaian, ditebus, dan diisi. Secara batiniah kita diisi dengan Kristus secara demikian sehingga kita dijenuhi dan diubah. Alhasil, kenajisan kita disingkirkan, ketelanjangan kita ditutupi, dosa kita ditanggulangi, dan kehampaan kita diisi. Kini pada lahiriah kita telah mempunyai sesuatu milik Kristus untuk memuaskan Allah, dan pada batiniah kita mempunyai sesuatu milik Kristus untuk memuaskan diri sendiri. Kristus yang kita makan akhirnya akan menjenuhi kita dan mengubah kita. Dengan cara inilah kita dikuduskan, diperlengkapi, bersyarat, dan diberi kekuatan untuk melayani Allah sebagai imam-imam-Nya. Inilah arti pengudusan sepenuhnya dalam Alkitab.
Kita semua memerlukan penglihatan mengenai pengudusan secara lebih kaya dan lebih luas. Jangan sekali-kali meremehkan nilai ketika memperoleh penglihatan yang tepat mengenai masalah tertentu. Penglihatan itu mengubah kita, mempengaruhi apa adanya kita. Ini berlaku baik dalam dunia jasmani maupun dalam dunia rohani. Saya menyukai Keluaran 29 karena adanya penglihatan ajaib yang diberikan kepada kita mengenai pengudusan atas imam-imam.
Awal mula Harun berdiri di hadapan Musa, ia sama sekali tidak memiliki apa-apa. Musa justru ditugaskan untuk menguduskannya, berarti ia harus memperlengkapi, membuatnya bersyarat, dan memberinya kekuatan untuk melayani Allah sebagai seorang imam. Pertama-tama Harun dibasuh dengan air. Air ini melambangkan Kristus dan firman-Nya. Kemudian ia harus mengenakan pakaian imam. Ini melambangkan berbagai aspek kemuliaan dan keelokan Kristus. Selanjutnya, Harun ditebus oleh Kristus sebagai kurban penghapus dosa. Melalui kurban persembahan ini Harun diakhiri, dibawa kembali kepada Allah dan dibangunkan. Agar hal ini terjadi, ia harus bersatu dengan Kristus, esa dengan Dia, sebagaimana ditunjukkan oleh penumpangan tangan di atas kurban penghapus dosa. Kemudian Harun memiliki Kristus dalam kebangkitan sebagai kurban bakaran yang membubung ke hadapan Allah seba-gai kepuasan-Nya. Ia juga memiliki Kristus sebagai kurban pendamaian, domba jantan kedua, ditambah roti bundar dan roti tipis. Lagi pula ia memiliki Kristus dalam kebangkitan sebagai persembahan timangan dari kasih dan sebagai persembahan unjukan dalam keterangkatan dalam kekuatan-Nya. Persembahan ini memuaskan Allah dan manusia. Kristus dalam tindak tanduk-Nya dilambangkan oleh roti bundar dan roti tipis, suatu persembahan untuk memuaskan Allah. Allah dipuaskan dengan Kristus secara demikian dan kita pun dipuaskan dengan-Nya. Tidak saja kita dipuaskan dengan Kristus, kita juga dijenuhi dengan-Nya dan diubah oleh-Nya.
Kurban bakaran melambangkan Kristus yang obyektif yang membubung kepada Allah bagi kepuasan-Nya, sedangkan kurban pendamaian melambangkan Kristus yang subyektif yang masuk ke dalam kita untuk memuaskan kita, menjenuhi kita, dan mengubah kita, sehingga menjadikan kita persona yang lain, persona yang tidak lagi najis, telanjang, hampa, dan alamiah, melainkan persona yang memiliki sesuatu di tangan untuk memuaskan Allah, persona yang terpenuhi secara batiniah dengan Kristus, persona yang diubah oleh-Nya. Inilah hal dikuduskan untuk menjadi imam-imam yang melayani Allah. Pengudusan ini tidak hanya untuk Harun dan anak-anaknya; tetapi juga untuk seluruh umat yang diselamatkan dan ditebus oleh Allah. Kita semua harus dikuduskan demikian untuk melayani Allah sebagai imam-imam.
Satu hal yang khusus perlu kita ketahui ialah penjenuhan dan pengubahan. Dengan jalan makan Kristus sebagai kurban pendamaian, kita dijenuhi dengan-Nya dan diubah oleh-Nya, sehingga kita tidak lagi alamiah. Begitu dada persembahan timangan dan paha persembahan unjukan itu diterima ke dalam kita, kita dijenuhi dan diubah. Ketika Kristus sebagai kurban pendamaian masuk ke dalam kita secara demikian, kita tersusun dari Dia untuk menjadi domba jantan.
Gambaran yang disajikan dalam Keluaran 29 ini unik. Di sini kita melihat bahwa paha kanan kurban pendamaian diberikan kepada Allah, dada kanan diberikan kepada Musa, sedangkan dada kiri dan paha kiri diberikan kepada para imam. Bagian dalam (isi perut), lemak kurban penghapus dosa, roti bundar, dan roti tipis kurban pendamaian merupakan bagian Allah. Ini menunjukkan bahwa Allah sangat menyenangi apa adanya batiniah Kristus dan perilaku lahiriah-Nya. Ini merupakan benda kudus terunggul yang dipersembahkan kepada Allah. Dengan demikian kita memiliki tanah kudus, hasil tanah kudus, perpuluhan kudus, dan sepersepuluh bagian terkudus sebagai bagian unggul bagi kenikmatan Allah.
Jika kita melayani Allah sebagai imam, kita menikmati Kristus bersama Allah. Kenikmatan ini digambarkan oleh kurban pendamaian. Dalam kedamaian timbullah kenikmatan dan kepuasan bersama, bagi Allah dan imam-imam-Nya. Ini merupakan gambar hidup gereja, khususnya dalam persidangan gereja. Dalam persidangan gereja semua imam bertemu dengan Allah dan berpesta atas Kristus bersama Allah.