← Daftar isi Keluaran (9) · bab 5/20

PENGUDUSAN HARUN DAN ANAK-ANAKNYA UNTUK MENJADI IMAM (5)

Pembacaan Alkitab: Kel. 29:15-28; 40:14-15

Menurut kitab Perjanjian Baru, sasaran penyelamatan Allah ialah agar semua orang yang percaya Kristus menjadi imam-imam Allah. Karena itu, bila seseorang telah beroleh selamat tetapi tidak menjadi imam untuk melayani Allah, berarti ia tidak dapat memenuhi kehendak Allah atau memuaskan keinginan Allah. Dalam kitab terakhir Perjanjian Baru, Kitab Wahyu, kita melihat bahwa orang yang telah ditebus, pasti adalah imam Allah. Dalam Wahyu 1:5 dan 6 kita diberi tahu bahwa Yesus Kristus telah membebaskan kita dari dosa-dosa kita dengan darah-Nya dan “membuat kita menjadi suatu kerajaan, menjadi imam-imam bagi Allah, Bapa-Nya”. Demikian juga Wahyu 5:10 berkata bahwa kita telah dijadikan “kerajaan dan menjadi imam-imam bagi Allah kita”.

Dari lambang-lambang dalam Perjanjian Lama, kita tahu bahwa Allah terlebih dulu menebus umat-Nya, lalu menyelamatkan mereka, kemudian mendidik mereka. Tiga hal ini diwahyukan dalam Kitab Keluaran. Pertama-tama Allah menebus bani Israel, kemudian Dia melepaskan dan membebaskan mereka, setelah itu Dia mendidik mereka. Ketika mereka masih berada di Mesir, mereka telah ditebus, kemudian mereka dilepaskan dari Mesir. Di padang gurun mereka menikmati persediaan Allah. Akhirnya mereka tiba di Gunung Sinai, tempat mereka menerima didikan ilahi. Di Gunung Sinai, Allah datang menguduskan sejumlah orang di antara bani Israel untuk menjadi imam-imam-Nya.

KEIMAMAN UNIVERSAL

Bila kita mengkaji keseluruhan wahyu Alkitab, kita akan melihat bahwa bukanlah maksud Allah untuk menguduskan hanya beberapa orang saja di antara umat tebusan-Nya guna menjadi imam-imam. Tidak, maksud Allah ialah menguduskan seluruh umat tebusan-Nya bagi kehendak ini. Ini berarti Allah berkehendak agar seluruh bani Israel menjadi suatu kerajaan imam. Keluaran 19:6 berkata, “Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus.” Namun, karena kemerosotan bani Israel, sebelas suku telah gagal. Karena itu Allah lalu memilih satu dari dua belas suku, suku Lewi, untuk menjadi imam-imam-Nya.

Janganlah kita berpikir bahwa Allah berkehendak agar hanya sebagian umat-Nya saja yang dikuduskan. Sebalik-nya, Allah sedang menguduskan semua orang beriman di dalam Kristus agar menjadi imam-imam-Nya. Karena alasan inilah, beberapa guru Kristen membicarakan keimaman dalam Perjanjian Baru sebagai imamat universal. Karena keimaman ini bersifat universal, maka tidak seharusnya ada sebagian dari kaum beriman berstatus imam dan sebagian lagi berstatus awam. Dengan demikian tidak ada lagi sistem kasta paderiawam di antara kaum beriman Perjanjian Baru. Semua orang yang percaya di dalam Kristus, semua orang yang telah ditebus dan beroleh selamat, tentu dididik dan dikuduskan untuk menjadi imam-imam Allah. Sebagaimana diwahyukan dalam Perjanjian Baru, Allah berkehendak agar semua orang yang telah ditebus dalam Kristus menjadi imam-imam-Nya. Ini dikatakan tidak hanya dalam Kitab Wahyu, bahkan dikatakan juga dalam 1Petrus 2:5, “Biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.” Lagi pula dalam 1Petrus 2:9 dikatakan bahwa kaum beriman adalah imamat rajani. Ini mewahyukan bahwa ekonomi Perjanjian Baru Allah ialah menjadikan seluruh umat tebusan-Nya imam-imam-Nya.

GAMBARAN RINCI TENTANG PENGUDUSAN

Walaupun Perjanjian Baru jelas sekali mewahyukan bahwa semua orang yang ditebus seharusnya menjadi imam-imam Allah, tetapi Perjanjian Baru tidak menyajikan gambaran rinci tentang cara menjadi imam yang melayani Allah secara riil. Tidak ada penjelasan rinci dalam Perjanjian Baru tentang bagaimana kita dikuduskan untuk menjadi imam-imam yang melayani Allah. Perjanjian Baru mengatakan kepada kita bahwa Allah berkehendak agar kita menjadi imam-imam, tetapi tidak menunjukkan bagaimana kita menjadi imam-imam. Namun, dalam Perjanjian Lama, terutama dalam Kitab Keluaran, terdapat sebuah pasal yang memberi gambaran rinci tentang pengudusan imam-imam Allah. Pasal ini ialah Keluaran 29. Mengenai ini, Keluaran 29 sangatlah mustika. Saya dapat bersaksi bahwa saya sangat menyenangi pasal ini.

Untuk menyenangi sesuatu perlulah kita terlebih dulu mempunyai apresiasi yang cukup mengenai hal tersebut. Sebagai contoh, di provinsi kampung halaman saya di China, ada sebuah gunung yang terkenal sebagai penghasil kristal untuk dibuat lensa kaca mata. Dari luarnya batu-batu yang mengandung kristal itu kasar dan jelek. Namun, setelah dibelah, kristal berkualitas tinggi tertampak di dalamnya. Hanya dengan mengapresiasi batu-batu itu secara memadai barulah kita mampu menghargai batu-batu itu. Seprinsip dengan itu, bila kita ingin menyayangi Keluaran 29, terlebih dulu kita perlu mengapresiasi pasal ini. Saya yakin, bila Anda mau mencurahkan waktu menyayangi bagian firman ini, Anda pasti akan menyayanginya. Mungkin saja dengan selesainya berita-berita mengenai Keluaran 29, Anda akan menyenangi pasal ini sebagaimana saya menyenanginya.

Mengapa Keluaran 29 demikian mustika? Kemustikaan pasal ini terkandung dalam gambaran rinci mengenai cara umat tebusan Allah dikuduskan untuk melayani Dia sebagai imam-imam. Sebagaimana telah saya tunjukkan, yang dijelaskan pasal ini bukanlah penobatan maupun pentahbisan, melainkan pengudusan. Ayat pertama pasal ini berkata, “Inilah yang harus kaulakukan kepada mereka, untuk menguduskan mereka, supaya mereka memegang jabatan imam bagi-Ku . . .” Allah memerintahkan Musa menguduskan Harun dan anak-anaknya untuk melayani Allah sebagai imam-imam-Nya.

Orang-orang Kristen hari ini sudah sangat kenal akan kata-kata kudus dan dikuduskan. Bila kita mempunyai minat yang sungguh-sungguh untuk mengalami pengudusan sepenuhnya, kita harus mempelajari Keluaran 29. Pasal ini tidak hanya berkenaan dengan keimaman, lebih-lebih merupakan sebuah pasal mengenai pengudusan.

Pengudusan merupakan subyek penting dalam teologia. Mungkin sepenting pembenaran. Di antara kaum beriman terdapat banyak ajaran yang berbeda-beda mengenai pengudusan. Apa yang kita perlukan ialah suatu pengertian mengenai pengudusan sebagaimana dijelaskan dalam Keluaran 29. Dalam berita-berita ini saya ingin mencoba memberikan suatu gambaran kasar mengenai pengudusan imam-imam sesuai dengan yang dilukiskan dalam Keluaran 29.

PEMBASUHAN YANG TUNTAS

Ketika Harun dan anak-anaknya dikuduskan untuk melayani Allah sebagai imam-imam, pertama-tama mereka harus menyadari bahwa diri mereka tidak bersih, najis, perlu dibersihkan. Memang tidaklah nyaman untuk mengakui diri sendiri tidak bersih, memerlukan pembasuhan yang menyeluruh. Dari sudut fisik kita katakan, ketidakbersihan tubuh kita timbulnya dari dua sumber, sumber yang satu datangnya dari dalam tubuh kita sendiri dan sumber yang lain datangnya dari luar. Di satu pihak, karena berkontak dengan banyak benda, kita menjadi kotor. Di pihak lain, peluh yang keluar dari dalam tubuh kita menyebabkan kita harus mandi setiap hari. Karena itu, kita menjadi kotor karena peluh kita maupun karena bersentuhan dengan benda-benda dunia di luar kita. Kenyataannya, tanpa bersentuhan dengan sesuatu kita sudah bisa menjadi kotor, karena kita bisa menjadi kotor hanya oleh sesuatu yang ada di atmosfer.

Saya mengambil masalah pembersihan tubuh jasmani untuk menjelaskan hal pembasuhan, pembersihan, yang merupakan bagian dari proses pengudusan untuk melayani-Nya sebagai imam-imam Allah. Berminatkah Anda menjadi imam-imam yang melayani Allah? Bila Anda berminat, Anda harus menyadari bahwa Anda itu kotor dan perlu dibasuh. Inilah alasan Keluaran 29 mengatakan bahwa pengudusan Harun dan anak-anaknya untuk menjadi imam-imam Allah dimulai dengan pembasuhan dan pembersihan. Keluaran 29:4 berkata, “Lalu kausuruhlah Harun dan anak-anaknya datang ke pintu Kemah Pertemuan dan haruslah engkau membasuh mereka dengan air.” Kita perlu dibasuh bersih atas pengotoran-pengotoran yang datangnya dari peluh kita, juga yang berasal dari kontak dengan hal-hal dan benda dunia.

MENGENAKAN PAKAIAN IMAM

Setelah Harun dan anak-anaknya dibasuh dengan air, mereka perlu mengenakan pakaian imam. Untuk melayani Allah sebagai imam, mereka perlu berpakaian lengkap. Pakaian imam bisa kita bandingkan dengan pakaian seragam, pakaian jabatan untuk keperluan khusus. Pakaian imam tidak hanya menutupi ketelanjangan Harun dan anak-anaknya, tetapi juga menyebabkan mereka bersyarat untuk menempati jabatan sebagai imam. Keluaran 29:5-6 mengatakan, “Kemudian kau ambillah pakaian itu, lalu kau kenakanlah kepada Harun kemeja, gamis baju efod, dan baju efod serta tutup dada; kau kebatkanlah sabuk baju efod kepadanya; kau taruhlah serban di kepalanya dan jamang yang kudus kaububuh pada serban itu.” Ayat 8-9 melanjutkan, “Kau suruhlah anak-anaknya mendekat dan kau kenakanlah kemeja-kemeja itu kepada mereka. Kau ikatkanlah ikat pinggang kepada mereka, kepada Harun dan anak-anaknya, dan kau lilitkanlah destar itu kepada kepala mereka, . . .” Ayat-ayat ini menunjukkan dengan jelas bahwa untuk melayani Allah sebagai imam, Harun dan anak-anaknya harus mengenakan pakaian imam.

Sebagai imam besar, Harun mengenakan pakaian berlapis-lapis. Lapisan terdalam adalah celana, pakaian yang menutupi dari pinggang sampai ke lutut, bagian tubuh yang paling kotor. Kemudian Harun mengenakan kemeja, juga boleh disebut baju dalam. Di luar kemeja ditutup dengan pakaian yang berupa baju luar, efod. Di sini kita dapati lima lapis: celana, kemeja, baju, efod, dan tutup dada. Sebagai tambahan Harun mengenakan serban di kepalanya. Dari hal ini kita tahu, untuk melayani Allah sebagai imam, pertama-tama kekotoran kita perlu dibasuh bersih, kemudian ketelanjangan kita perlu ditutupi dengan pakaian-pakaian imam. Adalah sangat penting untuk kita sadari bahwa sebagai manusia yang telah jatuh, kita ini kotor lagi telanjang dalam pandangan Allah. Karena itu, untuk menjadi imam-imam Allah, kita perlu dibasuh dan diberi pakaian.

PERLU PENEBUSAN

Mereka yang ingin melayani Allah sebagai imam-imam harus menyadari bahwa mereka itu kotor dan perlu dibasuh, dan mereka itu telanjang dan perlu diberi pakaian. Selain itu, kita semua harus melihat bahwa dari bawaan lahir kita adalah dosa. Karena kita terlahir dalam dosa, kita memiliki sifat dosa. Dari lahir kita adalah orang-orang dosa, komposisi dan susunan kita dosa semata. Karena itu, walaupun kita sudah dibasuh dan diberi pakaian, sehingga bereslah masalah kenajisan dan ketelanjangan kita, tetapi sifat bawaan kita yang telah jatuh masih belum beres. Karena kita ini adalah dosa pada sifat bawaan kita, kita perlu ditebus.

Kata-kata penebusan dan ditebus sudah umum dipakai dalam kalangan kekristenan. Namun, tidak banyak orang Kristen yang paham dengan tepat bahwa dalam pandangan Allah penebusan itu meliputi tiga hal. Pertama, meliputi pengakhiran. Karena kita ini manusia berdosa, kita perlu diakhiri. Setelah kita diakhiri, kita perlu ditebus, dan apa yang diperlukan setelah penebusan ialah pemugaran (pemulihan). Karena itu kita perlu pengakhiran, penebusan, dan pemugaran. Bagaimanakah hal ini bisa dirampungkan? Untuk ini kita memerlukan Kristus sebagai kurban penghapus dosa.

Keluaran 29 menyinggung tentang kurban penghapus dosa. Menurut pasal ini, binatang kurban penghapus dosa terlebih dulu disembelih, diakhiri, kemudian dipotong-potong menjadi beberapa bagian, dan kemudian dibakar. Jadi kurban penghapus dosa itu dibakar hingga menjadi abu. Bagian isi yang di dalam kurban penghapus dosa ini dibakar di atas mezbah; sedangkan sisa-sisanya dibakar di luar kemah.

Kurban penghapus dosa dalam Keluaran 29 melambangkan Kristus. Kristus telah menyatukan diri-Nya dengan kita, dan kita esa dengan-Nya. Keesaan ini dilambangkan dengan diletakkannya tangan Harun dan anak-anaknya di atas kepala lembu jantan kurban penghapus dosa. Ini berarti karena disatukan dengan kurban penghapus dosa, mereka juga telah disembelih, dipotong-potong, dan dibakar. Di dalam Kristus kita telah diakhiri, dan disusutkan menjadi abu. Dalam pandangan Allah, sifat bawaan lama kita telah menjadi abu. Kita telah diakhiri sama sekali.

Harun dan anak-anaknya najis dan perlu dibasuh. Mereka telanjang di hadapan Allah, dan perlu mengenakan pakaian. Kini kita melihat bahwa mereka berdosa pada sifat bawaan mereka, dan perlu ditebus. Anda berminat menjadi imam pelayan Allah? Kalau Anda berminat, Anda perlu dibasuh, perlu mengenakan pakaian, dan perlu ditebus. Penebusan itu dilakukan oleh Kristus sebagai kurban penghapus dosa. Inilah penebusan yang menyiratkan pengakhiran. Allah tidak akan menebus sesuatu pun kecuali sudah diakhiri. Tidak ada sisa sedikit pun pada sifat bawaan lama kita, kecuali setumpuk abu.

KURBAN BAKARAN

Dalam Keluaran 29 kita tidak hanya mendapati lembu jantan kurban penghapus dosa, tetapi juga dua domba jantan, satu untuk kurban bakaran dan yang lain untuk kurban pendamaian. Kurban bakaran itu berbeda dengan kurban penghapus dosa. Kurban penghapus dosa boleh dianggap sebagai kurban persembahan, tetapi kurban bakaran boleh dianggap sebagai pemberian. Kurban penghapus dosa adalah untuk penebusan dan kurban bakaran adalah untuk persekutuan. Kurban pendamaian adalah untuk kenikmatan dan kepuasan. Di satu pihak, kita telah disatukan dengan Kristus yang tersalib sebagai kurban persembahan karena dosa. Di pihak lain kita pun disatukan dengan Kristus yang bangkit. Lembu jantan dalam Keluaran 29 melambangkan Kristus yang tersalib, sedangkan dua ekor domba jantan melambangkan Kristus yang bangkit. Kristus yang bangkit itu dipersembahkan kepada Allah, pertama-tama sebagai kurban bakaran, kemudian sebagai kurban pendamaian. Kita sebagai orang-orang yang telah dikuduskan untuk melayani Allah sebagai imam, tidak saja memiliki Kristus sebagai kurban penghapus dosa, tetapi juga memiliki Kristus sebagai kurban bakaran dan kurban pendamaian. Dia adalah lembu jantan pada penyaliban, Dia pun dombadomba jantan dalam kebangkitan.

Kurban persembahan untuk pengudusan imam-imam terdiri atas dua kategori. Kategori pertama terdiri atas hayat hewani, kategori kedua terdiri atas hayat nabati (tumbuh-tumbuhan). Yang berkenaan dengan hayat hewani ialah lembu jantan dan dua ekor domba jantan. Yang berkenaan dengan hayat nabati ialah roti, roti bundar, dan roti tipis. Di dalam setiap kategori terdapat tiga hal. Dalam perlambangan, angka tiga ini menyatakan kebangkitan. Bahkan ketika Kristus di atas salib, Ia telah mempersembahkan diri-Nya sendiri dalam kebangkitan.

Kristus itu Yang tersalib juga Yang bangkit. Yang tersalib dan Yang bangkit ini tidak saja mewakili kita bahkan mencakup kita. Kita tercakup di dalam-Nya. Karena itu, ketika Ia disalibkan, kita pun disalibkan di dalam-Nya. Ketika Ia bangkit dan menghadap kepada Allah, kita ada di dalam-Nya.

Kristus yang bangkit ialah kurban bakaran. Kurban bakaran dipersembahkan kepada Allah untuk kepuasan Allah sepenuhnya. Semua kurban bakaran dibakar di atas mezbah sebagai bau-bauan yang harum bagi Allah. Ini sulit dijelaskan. Dari pengalaman kita tahu bahwa ketika kita disatukan dengan Kristus dalam kematian-Nya, kita dapat memahami bahwa kita telah menjadi seonggok abu. Kemudian, secara spontan, kita berada di dalam kebangkitan. Dalam Kristus yang bangkit, bagian kita adalah domba jantan yang dipersembahkan kepada Allah sebagai kurban bakaran untuk memuaskan Allah sepenuhnya. Karena itu, untuk menjadi imam-imam, kita perlu dibasuh, memakai pakaian, dan ditebus. Selanjutnya, kita memerlukan Kristus sebagai Yang Bangkit yang dipersembahkan kepada Allah untuk kepuasan-Nya.

KURBAN PENDAMAIAN

Langkah terakhir pengudusan atas imam ialah di persembahkannya domba jantan untuk kurban pendamaian. Langkah pertama ialah dibasuh, kedua ialah dikenakan pakaian, ketiga ialah mempersembahkan lembu jantan sebagai kurban penghapus dosa, keempat ialah mempersembahkan domba jantan pertama sebagai kurban bakaran, dan yang kelima, yang terakhir ialah mempersembahkan domba jantan kedua sebagai kurban pendamaian.

Bagian terakhir Keluaran 29:9 mengatakan, “demikianlah engkau harus mentahbiskan Harun dan anak-anaknya.” Dalam arti harfiah Yunaninya “mentahbiskan mereka” berarti “mengisi tangan mereka”. Ini juga merupakan arti ayat-ayat 29, 33, dan 35. Karena itu, menguduskan orang-orang tebusan Allah untuk menjadi imam-imam-Nya menuntut memenuhi tangan-tangan mereka.

Banyak terjemahan yang tidak menerjemahkan kata Ibrani yang berarti “memenuhi tangan-tangan mereka” secara harfiah. Beberapa terjemahan menulis “mentahbiskan”, sebagian lagi menulis “mempersembahkan”. Sesungguhnya apa yang kita jumpai di sini bukan pentahbisan, juga bukan persembahan; melainkan mengisi penuh tangan orang-orang yang dikuduskan. Untuk itulah Harun dan anak-anaknya dibasuh, dikenakan pakaian, dan ditebus. Ini merupakan ketiga langkah awal aspek pengudusan. Mereka juga telah mempersembahkan Kristus sebagai kurban bakaran kepada Allah untuk kepuasan Allah. Karena itu kenajisan telah disingkirkan, ketelanjangan mereka telah ditutupi, sifat bawaan dosa mereka telah ditanggulangi, dan mereka telah mempersembahkan Kristus kepada Allah untuk kepuasan-Nya. Namun, tangan mereka masih tetap kosong. Bahkan sampai pada empat langkah ini, mereka masih bertangan hampa. Bagaimana mungkin mereka melayani Allah sebagai imam-imam apabila mereka tetap bertangan hampa? Untuk menjadi imam-imam pelayan Allah secara riil mereka perlu tangan yang terisi penuh.

Kita telah membahas mengenai pembasuhan, pakaian, dan persembahan lembu jantan sebagai kurban karena dosa; yang telah menanggulangi tiga masalah. Pembasuhan menanggulangi masalah kenajisan, pakaian menanggulangi ketelanjangan, dan persembahan kurban penghapus dosa menanggulangi sifat bawaan dosa kita. Lebih lanjut kita telah melihat bahwa persembahan kurban bakaran memuaskan Allah dan menyebabkan Dia senang. Ketika Allah mencium aroma kurban bakaran, Dia bisa berkata, “Aku dipuaskan dan senang.” Namun, imam-imam yang masih bertangan hampa boleh berkata, “Ya, Allah Engkau senang, tetapi kami masih tetap lapar. Tuhan, kami telah dibersihkan dan ditutupi. Dosa kami telah disingkirkan, dan Engkau telah dipuaskan. Namun, Tuhan, kami masih tetap lapar.” Karena lapar ini, timbullah keperluan akan adanya langkah terakhir dalam pengudusan imam-imam persembahan kurban domba jantan kedua.

Haleluya bagi Kristus sebagai domba jantan kedua! Domba jantan ini bukan kurban penghapus dosa untuk menanggulangi dosa, juga bukan kurban bakaran untuk memuaskan Allah. Domba jantan ini untuk kurban pendamaian. Kurban pendamaian memungkinkan imam-imam menikmati Kristus bersama Allah. Dengan kata lain, memiliki kurban pendamaian berarti dipersiapkan untuk berpesta dengan Allah. Dalam berita berikutnya kita akan membahas kurban ini secara rinci.