← Daftar isi Keluaran (9) · bab 4/20

PENGUDUSAN HARUN DAN ANAK-ANAKNYA UNTUK MENJADI IMAM (4)

Pembacaan Alkitab: Kel. 29:15-28; 40:14-15

Telah kita tunjukkan bahwa ingat akan adanya sifat dosa pada diri kita dan setiap hari mempersembahkan Kristus sebagai kurban penghapus dosa akan menjaga dan melindungi kita. Persembahan kurban penghapus dosa merupakan aspek dasar pengudusan Harun dan anak-anaknya untuk menjadi imam-imam. Sekarang, mari kita membahas beberapa aspek lainnya.

BERSATU DENGAN KURBAN BAKARAN

Pengudusan Harun dan anak-anaknya untuk melayani Allah sebagai imam-imam, menuntut dua ekor domba jantan sebagai tambahan pada lembu jantan muda untuk kurban penghapus dosa. Mengenai domba jantan yang pertama, Keluaran 29:15-18 mengatakan, “Kemudian haruslah kau ambil domba jantan yang satu, lalu haruslah Harun dan anak-anaknya meletakkan tangannya ke atas kepala domba jantan itu. Haruslah kausembelih domba jantan itu dan kauambillah darahnya dan kausiramkan pada mezbah sekelilingnya. Haruslah kaupotong-potong domba jantan itu menurut bagian-bagian tertentu, kaubasuhlah isi perutnya dan betis-betisnya dan kautaruh itu di atas potongan-potongannya dan di atas kepalanya. Kemudian haruslah kaubakar seluruh domba jantan itu di atas mezbah; itulah kurban bakaran, suatu persembahan yang harum bagi TUHAN, yakni suatu kurban api-apian bagi TUHAN.” Menurut ayat-ayat ini, domba jantan pertama disembelih, kemudian dipotong-potong menjadi beberapa potong. Ini, tak usah disangsikan lagi, ditujukan kepada Kristus yang disembelih dan dipotong-potong. Namun, kita pun tercakup di dalamnya, karena kita sudah disatukan dengan Kristus. Penyatuan dengan Kristus ini ditunjukkan oleh diletakkannya tangan-tangan Harun dan anak-anaknya di atas kepala domba jantan (ayat 15).

Kita semua sangat memustikakan perkara bersatu dengan Kristus ini. Namun, pernahkah Anda sadari bahwa di dalam Kristus, dengan Kristus, dan melalui Kristus, Anda perlu disembelih, dan dipotong-potong menjadi potongan-potongan? Siapakah di antara kaum beriman Kristus yang rela disembelih dan diiris-iris menjadi potongan-potongan? Jangan-jangan tidak ada seorang pun yang sungguh-sungguh rela mengalaminya. Namun, untuk menjadi imam-imam, kita perlu disembelih dan diiris-iris menjadi potongan-potongan di dalam Kristus dan melalui Kristus. Kita, sudah tentu tidak menyembelih diri sendiri atau orang lain, tetapi Allahlah yang menyembelih kita di dalam Kristus. Alkitab menunjukkan bahwa siapa saja yang mau menjadi imam, pasti akan disembelih dan dipotong-potong menjadi beberapa potongan oleh Allah.

Ada orang begitu mendengar kata-kata tentang imam perlu disembelih dan diiris-iris dalam Kristus, mungkin akan membantah, “Tidak, kami tidak sependapat dengan ini. Bukankah lembu jantan muda dan domba jantan itu melambangkan Kristus? Kristus itulah satu-satunya yang tersembelih. Allah telah menyembelih Kristus dan memotong-motong-Nya menjadi beberapa bagian. Ini bukan sesuatu yang terjadi atas diri kita. Karena itu, Kristus adalah pengganti kita, Ia telah menggantikan kedudukan kita untuk disembelih dan dipotong-potong.” Kalau ini memang merupakan pendapat Anda, Anda hanya bersyarat untuk sekadar diselamatkan, tetapi tidak bersyarat untuk menjadi seorang imam. Ya, memang Kristus disalibkan sebagai pengganti kita. Ia menggantikan kita memikul dosa-dosa kita, ketika Ia mati di atas salib. Namun, untuk melayani Allah sebagai imam, kita harus disatukan dengan Kristus yang tersembelih dan terpotong-potong oleh Allah.

Setelah domba jantan kurban bakaran itu disembelih dan dipotong-potong, isi perut dan betis-betisnya dicuci, kemudian sekujur domba jantan itu dibakar di atas mezbah sebagai bau-bauan harum bagi TUHAN. Ini menunjukkan bahwa setelah disembelih dan dipotong-potong, kita perlu dibasuh dan dibakar. Menurut Keluaran 29:4-5, Harun dan anak-anaknya dibasuh dengan air, kemudian dipakaikan pakaian imam. Itu merupakan pembasuhan paling awal. Setelah itu, imam-imam harus bersatu dengan domba jantan yang tersembelih dan terpotong-potong, dibasuh, dan dibakar.

SANTAPAN ALLAH

Ayat 18 berkata bahwa seluruh domba jantan itu dibakar di atas mezbah; itulah kurban bakaran, suatu persembahan yang harum bagi TUHAN, yakni suatu kurban api-apian bagi TUHAN. Istilah “kurban bakaran” dalam bahasa Ibrani sesungguhnya berarti kurban yang membubung. Ketika kurban ini dibakar di atas mezbah, jadilah bau-bauan yang harum yang membubung kepada Allah bagi kenikmatan-Nya. Inilah alasan Bilangan 28:2 dan 3 berbicara mengenai kurban bakaran sebagai santapan Allah. Santapan Allah kurban bakaran, untuk memuaskan Allah.

Sesungguhnya Kristus adalah Dia yang dibakar agar Allah memperoleh santapan dan kepuasan. Nemun, kita tetap perlu meletakkan tangan-tangan kita pada Kristus, yang berarti kita perlu esa dengan Dia, disatukan dengan Dia. Ini berarti bahwa apa adanya kita, apa yang kita perbuat harus disembelih, dipotong-potong menjadi beberapa bagian, dibasuh, dan dibakar di atas mezbah, salib, yang keseluruhannya adalah untuk kenikmatan dan kepuasan Allah. Ini kemudian akan menjadi santapan bagi Allah.

Pada masa awal saya menjadi orang Kristen, saya tidak mengerti bahwa Allah memerlukan santapan, memerlukan sesuatu untuk dimakan. Dari dalam Alkitab saya hanya mengerti bahwa kita sebagai orang berdosa memerlukan sesuatu untuk dimakan. Saya tidak tahu bahwa Allah juga perlu makan. Namun, pada waktu saya mempelajari kembali lambang-lambang bersama kaum beriman di Taiwan pada tahun 1953, saya mulai melihat bahwa Allah memerlukan makanan. Aspek pertama santapan Allah ialah kurban bakaran. Inilah dasarnya mengapa di antara kurban-kurban persembahan yang dicatat dalam Kitab Imamat, kurban bakaran dituliskan paling depan.

Walaupun dalam Kitab Imamat kurban bakaran dicatat pada urutan paling depan, tetapi dalam hal pengudusan imam-imam yang dibahas dalam Keluaran 29, lembu jantan muda bagi kurban penghapus dosa diletakkan paling depan, sedangkan domba jantan untuk kurban bakaran menyusul di tempat kedua. Pertama-tama kita harus mempersembahkan Kristus sebagai kurban penghapus dosa; secara konstan kita harus senantiasa menyadari bahwa kita ini berdosa dalam sifat kita, bahkan adalah dosa itu sendiri. Pada alamiah dan kehidupan kita, kita ini adalah dosa. Mereka yang ingin melayani Allah sebagai imam harus memiliki kesadaran dan pengertian ini. Kalau kita ini adalah dosa dalam alamiah, mana mungkin kita melayani Allah. Berdasarkan diri sendiri dan hayat alamiah, kita tidak mungkin melayani Allah. Kita perlu ditebus, dan sifat dosa kita harus ditanggulangi.

Sesudah domba jantan pertama disembelih, darahnya dipercikkan ke sekeliling mezbah. Darah ini berbicara mengenai penebusan. Bagaimana kita bisa menjadi imam Allah? Ini dimungkinkan hanya melalui penebusan.

DARAH DAN UKUPAN

Mengenai kurban bakaran dalam Keluaran 29, kita melihat dua perkara penting. Pertama, darah yang dipercikkan di sekeliling mezbah. Ini untuk damai sejahtera dan kepuasan. Perkara yang kedua, ialah bau-bauan harum yang membubung ke surga bagi kepuasan Allah. Darah penebusan dipercikkan pada mezbah di bumi, sedangkan bau-bauan yang harum membubung ke surga untuk memuaskan Allah. Sebagai kurban bakaran untuk kepuasan kita yang adalah imam-imam, Kristus telah mencucurkan darah-Nya bagi damai sejahtera kita, dan Dia sendiri terbakar bagi kepuasan Allah.

Domba jantan yang pertama adalah untuk kurban bakaran, tetapi domba jantan yang kedua adalah untuk kurban pendamaian. Kurban pendamaian memang sangat kompleks. Kurban bakaran sesungguhnya sederhana: setelah disembelih, dipotong-potong, dibasuh, lalu dibakar. Dari kurban persembahan ini timbul dua hasil darah yang dipercikkan di atas mezbah dan bau-bauan yang harum yang membubung kepada Allah. Darah adalah untuk kita pandang; wangi-wangian adalah untuk Allah nikmati. Memang, darah itu bisa memuaskan Allah, tetapi yang terutama darah itu adalah untuk hati nurani kita dan untuk damai sejahtera kita.

Mengapa kita mempersembahkan Kristus sebagai domba jantan yang pertama, domba jantan kurban bakaran? Kita mempersembahkan demikian karena kita menyadari bahwa kita selama ini bukan untuk Allah, sekarang pun tidak untuk Allah; sebaliknya, kita selalu untuk diri sendiri. Lagi pula, seharusnya kita ini menjadi santapan Allah, tetapi sebaliknya, menjadi santapan diri sendiri. Karena kita ini berdosa, maka kita memerlukan Kristus untuk menebus kita. Ia telah tersembelih bagi kita, Ia telah terpotong-potong untuk kita, dan darah-Nya sudah tercurah untuk penebusan kita. Kini kapan saja kita memandang darah-Nya, kita mengalami damai sejahtera, karena mengetahui bahwa kita sudah ditebus. Lagi pula wangi-wangian itu telah membubung kepada Allah untuk kenikmatan dan kepuasan-Nya. Sebab itu, kesulitan kita diselesaikan, dan rasa lapar Allah dipuaskan. Dengan demikian timbullah suasana damai, sehingga kita mampu untuk seterusnya menikmati Kristus serentak lebih banyak mengalami-Nya. Khususnya, kini kita boleh mengalami-Nya sebagai domba jantan kedua, sebagai kurban pendamaian.

DARAH KURBAN PENDAMAIAN

Kini marilah kita memikirkan secara sepintas makna domba jantan kedua. Dari Keluaran 29:20 kita tahu bahwa domba jantan ini disembelih, tetapi tidak dipotong-potong menjadi beberapa bagian. Darah domba jantan pertama dipercikkan ke atas mezbah, agak berbeda dengan yang dilakukan untuk darah domba jantan kedua. Ayat 20 berkata, “Haruslah kausembelih domba jantan itu, kauambillah sedikit dari darahnya dan kaububuh pada cuping telinga kanan Harun dan pada cuping telinga kanan anak-anaknya, pada ibu jari tangan kanan dan pada ibu jari kaki kanan mereka, dan darah selebihnya kausiramkanlah pada mezbah sekelilingnya.” Perhatikan, darah itu dibubuhkan pada cuping telinga kanan, pada ibu jari tangan kanan, dan pada ibu jari kaki kanan. Darah dibubuhkan pada telinga menunjukkan bahwa bila kita ingin menjadi imam-imam, kita memerlukan telinga untuk mendengarkan Allah. Kita tidak seharusnya banyak bicara. Mungkin kita merasa heran, mengapa Musa tidak diperintah untuk membubuhkan darah pada bibir atau lidah Harun. Menjadi imam menuntut kita untuk mendengar, tidak untuk berbicara banyak. Ibu jari tangan melambangkan “bekerja”, dan ibu jari kaki melambangkan “berjalan”. Karena itu sebagai imam kita perlu mendengar, bekerja, dan berjalan secara memadai. Telinga kita, ibu jari tangan kita, dan ibu jari kaki kita, semuanya memerlukan darah penebusan. Darah yang dibubuhkan pada telinga, ibu jari tangan, dan ibu jari kaki kita menguduskan kita, menjadikan kita berbeda dengan orang-orang lain. Mereka yang tidak dikuduskan pada telinga, ibu jari tangan, dan ibu jari kaki belum dikuduskan bagi Allah. Setelah Harun dan anak-anaknya dibasuh dengan darah secara demikian, mereka telah dikuduskan untuk melayani-Nya sebagai imam-imam.

Menurut ayat 20, darah domba jantan kedua tidak hanya dibubuhkan pada cuping telinga, ibu jari tangan, dan ibu jari kaki saja, tetapi juga dipercikkan di atas mezbah. Ini merupakan penerapan jenis kedua dari darah kurban pendamaian.

Ayat 21 berkata, “Haruslah kauambil sedikit dari darah yang ada di atas mezbah dan dari minyak urapan itu dan kau percikkanlah kepada Harun dan kepada pakaiannya, dan juga kepada anak-anaknya dan pada pakaian anak-anaknya; maka ia akan kudus, ia dan pakaiannya, dan juga anak-anaknya dan pakaian anak-anaknya.” Di sini kita melihat aspek yang ketiga dari kurban pendamaian. Musa mengambil sebagian dari darah yang dipercikkan di atas mezbah, dan dari minyak urapan, kemudian memercikkan darah dan minyak itu pada pakaian Harun dan pakaian anak-anaknya. Kini Harun dan anak-anaknya telah sepenuhnya dikuduskan, sebab pakaian-pakaian yang menutupi sekujur tubuh mereka telah dibasuh dan diurapi.

DUA MACAM PENGURAPAN

Dalam Keluaran 29, minyak urapan diungkapkan untuk kali pertama dalam ayat 7, kemudian sekali lagi diungkapkan dalam ayat 21. Ayat 7 berkata, “Sesudah itu kau ambillah minyak urapan dan kau tuang ke atas kepalanya, dan kauurapilah dia.” Ini mengacu kepada pengurapan Harun sebelum kurban-kurban disembelih. Terlebih dulu Harun sendiri diurapi terpisah dari darah. Ini merupakan lambang pengurapan Kristus yang dinyatakan dalam Mazmur 133. Dalam Mazmur ini minyak itu dituangkan ke atas kepala Harun dan akhirnya meleleh ke leher jubahnya. Ini menunjukkan pengurapan Kristus oleh Allah terpisah dari penebusan. Kristus diurapi, dengan sendirinya tidak menuntut pencurahan darah.

Harun diurapi tidak hanya sebagai lambang Kristus, tetapi juga sebagai lambang orang dosa yang telah dikuduskan untuk melayani Allah sebagai imam. Karena Harun dan anak-anaknya berdosa, mereka memerlukan pengurapan jenis kedua, suatu pengurapan dengan minyak pengurapan dan pemercikan darah penebusan. Sesungguhnya, bertalian dengan pengurapan ini, darah dioleskan lebih dulu. Ini menunjukkan bahwa terlebih dulu harus memiliki darah penebusan, barulah kemudian kita mampu berpartisipasi di dalam pengurapan Roh.

Darah kurban pendamaian agak rumit. Kita telah melihat adanya tiga langkah, tiga penerapan; pertama, darah dibubuhkan pada cuping telinga, ibu jari tangan, dan ibu jari kaki imam; kedua, darah dipercikkan pada mezbah; dan ketiga, darah beserta minyak pengurapan dipercikkan pada pakaian imam.

ASPEK LAIN KURBAN PENDAMAIAN

Ayat 22-23 mengatakan, “Dari domba jantan itu haruslah kauambil lemaknya, ekornya yang berlemak, lemak yang menutupi isi perutnya, umbai hatinya, kedua buah pinggangnya, lemak yang melekat padanya, paha kanannya sebab itulah domba jantan persembahan pentahbisan kau ambillah juga satu keping roti, satu roti bundar yang berminyak dan satu roti tipis dari dalam bakul berisi roti yang tidak beragi, yang ada di hadapan TUHAN.” Bagian-bagian dari tubuh domba jantan yang disinggung di sini merupakan bagian-bagian yang limpah dan sedap. Menurut ayat 24 dan 25, bagian-bagian ini bersama roti bundar, roti tipis dan roti yang tidak beragi dari dalam bakul, “dibakar semuanya di atas mezbah sebagai persembahan yang harum di hadapan TUHAN”. Isi perut dan lemak-lemak semuanya dibakar untuk santapan Allah. Hal ini lebih dijelaskan dalam Imamat 3:11, 16.

Bagian-bagian luar yang utama dari domba jantan yang kedua adalah bagian dada dan paha. Paha kanan, isi perut, dan lemak-lemaknya dibakar bersama tiga macam roti. Dada kanan ditimang-timang di hadapan Allah. Ini adalah persembahan timangan, lambang Kristus dalam kebangkitan. Dada kanan yang diunjukkan di hadapan Allah ini tidak dibakar; tetapi diberikan kepada Musa menjadi bagiannya. Dada kiri dan paha kiri adalah bagian Harun dan anak-anaknya untuk mereka nikmati. Paha ini diunjukkan, diangkat tinggi. Persembahan unjukan ini melambangkan Kristus dalam keterangkatan. Kristus dalam kebangkitan adalah persembahan timangan dan Kristus dalam keterangkatan adalah persembahan unjukan.

Dada kurban pendamaian melambangkan kasih, sedangkan paha melambangkan kekuatan. Kristus dalam kebangkitan adalah dari kasih, sedangkan Kristus dalam keterangkatan adalah dari kekuatan. Dalam Perjanjian Baru, keterangkatan melambangkan kekuatan dan tenaga. Kristus yang terangkat adalah Kristus yang memiliki kekuatan dan tenaga.

Saya ulangi, paha kanan dibakar untuk Allah, sedangkan dada kanan terlebih dulu diunjukkan di hadapan Allah baru kemudian diberikan kepada Musa menjadi bagiannya. Paha kiri dan dada kiri kedua-duanya diunjukkan di hadapan Allah, kemudian diberikan kepada Harun dan anakanaknya menjadi bagian mereka. Dalam berita-berita selanjutnya akan kita bahas hal ini lebih rinci.

Dari pembahasan kita yang sudah sedemikian jauh, kita melihat betapa perlunya kita akan Kristus untuk menjadi kurban penghapus dosa, untuk menjadi domba jantan sebagai kurban kita bagi kepuasan Allah, dan untuk menjadi kurban pendamaian dengan semua aspeknya. Sebagian dari kurban pendamaian adalah untuk kepuasan Allah dan sebagian lagi untuk para imam yang melayani. Sebagai imam-imam, kita boleh menikmati bagian dada dari kurban pendamaian bersama-sama dengan roti.