← Daftar isi Keluaran (9) · bab 3/20

PENGUDUSAN HARUN DAN ANAK-ANAKNYA UNTUK MENJADI IMAM (3)

Pembacaan Alkitab: Kel. 29:15-28; 40:14-15

Saya percaya bahwa Tuhan ingin menyampaikan kepada kita suatu firman yang sangat manis dari Keluaran 29. Namun, bagian ini dalam Alkitab tidak mudah dipahami. Saat membaca pasal ini, kita perlu dengan memadai menggunakan pikiran kita. Kalau tidak, bisa-bisa kita seperti terbawa ke dalam hutan rimba, sehingga tidak dapat menemukan arah yang benar. Saat kita mempelajari pasal ini, kita perlu tenang dan sangat jernih.

Lima puluh tahun lebih yang lampau, saya diajar oleh beberapa guru bahwa menurut Perjanjian Baru, semua orang beriman, tidak peduli tua atau muda, yang berpengalaman atau pemula, adalah imam-imam. Saya senang sekali mendengar kata-kata mengenai keimaman universal ini. Walaupun saya telah berusaha sebaik-baiknya mempraktikkan keimaman ini, saya tidak menemukan jalan untuk melaksanakannya. Ketika saya sedang mempelajari kelima kitab pertama Perjanjian Lama bersama kaum beriman di Taiwan pada tahun 1953, saya mulai melihat bagaimana kita bisa melayani Allah sebagai imam-imam.

Mungkin saja kita membaca seluruh Perjanjian Baru belasan kali tanpa menemukan cara untuk melayani Allah sebagai imam. Namun, kita bisa menemukan cara ini dengan mempelajari lambang-lambang dalam Perjanjian Lama. Janganlah sekali-kali kita meremehkan nilai lambang-lambang Perjanjian Lama. Beberapa lambang nilainya justru sama dengan perkataan-perkataan jelas yang diutarakan dalam Perjanjian Baru.

Satu Petrus 2:5 mengatakan bahwa kita adalah imamat kudus yang mempersembahkan kurban rohani yang berkenan kepada Allah oleh Yesus Kristus. Dalam 1Petrus 2:9 kita disebut sebagai imamat yang rajani. Selanjutnya, Wahyu 1:6 dan 5:10, mengatakan bahwa kita adalah imam-imam. Kita adalah imamat rajani dan imamat kudus. Kita adalah imam-imam, dan kita bisa melayani Allah sebagai imam-imam. Jadi kita ini bukan kaum paderi, atau kaum awam, tetapi imamat.

Sistem kasta paderiawam bersumber pada Iblis, itu sama sekali tidak berdasarkan Alkitab. Alkitab mewahyukan bahwa semua orang beriman adalah imam-imam. Tetapi sistem hierarki paderiawam membunuh dan meniadakan keimaman. Menjadi imam untuk melayani Allah adalah hak azasi kita. Namun, sistem hierarki paderiawam tradisional telah merampas hak azasi kita. Berdasarkan alasan inilah dengan tegas saya katakan bahwa sistem ini bersumber pada Iblis, bukan pada Alkitab.

Walaupun kitab Perjanjian Baru memberi tahu kita bahwa kita adalah imam-imam, tetapi kita tidak diberi tahu bagaimana cara menjadi imam-imam. Dari kitab Perjanjian Baru kita tahu bahwa kita telah diselamatkan, dibasuh dengan darah Kristus, dilahirkan kembali oleh Roh, dan diberkati dengan karunia-karunia tertentu. Jadi kita tahu bahwa kita telah beroleh selamat, dilahirkan kembali, dan diberkati. Namun, kita perlu bantuan lebih lanjut untuk mengerti bagaimana melayani Allah sebagai imam-imam. Ketika saya mempelajari lagi lambang-lambang Perjanjian Lama dengan kaum beriman pada tahun 1953, terpancarlah terang dari dalam Keluaran 29 yang mewahyukan cara untuk melayani Allah sebagai imam.

BUKAN MENTAHBISKAN ATAU MEMPERSEMBAHKAN

MELAINKAN MENGUDUSKAN

Keluaran 29 membicarakan pengudusan Harun dan anak-anaknya untuk menjadi imam-imam. Karena itu, ini bukan berbicara mengenai pengudusan atas orang-orang dosa, orang yang tidak percaya, atau orang yang belum beroleh selamat. Ayat 1 mengatakan, “Inilah yang harus kaulakukan kepada mereka, untuk menguduskan mereka, supaya mereka memegang jabatan imam bagi-Ku.” Perhatikan, ayat ini tidak membicarakan mempersembahkan Harun dan anak-anaknya, atau mentahbiskan mereka. Bila kita berbicara mengenai pasal ini, kita perlu menghindari pemakaian kata “persembahan” sebagai pengganti kata “pengudusan”.

Kata “persembahan” agak berbau tradisional. Di bawah pengaruh kata ini, mungkin kita memiliki konsepsi salah yang menyangkut pengudusan Allah atas orang-orang yang beroleh selamat untuk menjadi imam-imam-Nya. Karena itu, saya ingin menekankan bahwa yang diperintahkan di sini bukanlah mempersembahkan Harun dan anak-anaknya, melainkan menguduskan mereka. Kata yang paling tepat yang dipakai untuk menjelaskan apa yang tertera di sini ialah “menguduskan”. Harun dan anak-anaknya dikuduskan menjadi imam-imam untuk melayani Allah.

Ada perbedaan yang besar antara persembahan dengan pengudusan, terlebih lagi perbedaan antara pengudusan dengan pentahbisan. Bila seseorang ditahbiskan, beberapa pendeta meletakkan tangan mereka di atas orang itu dan berdoa untuk orang itu. Secara biasa, pada umumnya, persembahan berarti penyerahan diri sendiri kepada Allah. Tetapi Keluaran 29 tidak membahas mengenai pentahbisan, juga tidak membahas persembahan, melainkan suatu catatan mengenai pengudusan.

Seandainya Harun tidak dikuduskan menurut apa yang tercatat dalam Keluaran 29, melainkan ditahbiskan secara tradisional, secara agamawi; maka dalam peristiwa demikian, beberapa orang akan menumpangkan tangan ke atasnya dan berdoa untuknya. Namun, Harun tetap bertangan hampa. Baik sebelum atau sesudah pentahbisan, ia akan tetap sama, bertangan hampa. Untuk menjadi imam Allah dan untuk melayani Dia sebagai imam, Harun harus memiliki sesuatu yang dapat dipakai untuk melayani-Nya.

Seandainya Harun tidak ditahbiskan, melainkan hanya sekadar dipersembahkan kepada Tuhan, menyerahkan diri, mempersembahkan diri kepada-Nya, maka walaupun ia telah dipersembahkan secara demikian, ia tetap bertangan hampa, tidak memiliki sesuatu untuk dipakai melayani Allah. Pengudusan Harun dan anak-anaknya untuk melayani-Nya sebagai imam-imam jauh berbeda dengan persembahan maupun pentahbisan.

DIKUDUSKAN DENGAN DIPENUHINYA TANGAN KITA

Menurut apa yang diwahyukan dalam Keluaran 29, tangan imam-imam itu perlu dipenuhi untuk melayani Allah. Tangan mereka harus dipenuhi dengan lemak domba jantan kurban pendamaian, roti bundar, dan roti tipis. Bila tangan seorang imam telah dipenuhi dengan kemanisan dan kekayaan Kristus, ia akan berbeda dengan yang lain. Orang lain bertangan hampa, tetapi ia bertangan terisi penuh. Alhasil, ia dikuduskan, disisihkan dari orang-orang awam. Lagi pula ia memiliki kelimpahan Kristus yang dapat ia pergunakan untuk melayani Allah sebagai imam.

Cara menguduskan seorang beriman untuk melayani Allah sebagai imam adalah memenuhi tangannya dengan kelimpahan Kristus. Sebelum seorang imam dikuduskan secara demikian, ia sudah sebagai orang beriman. Renungkanlah keadaan Harun. Ia telah mengalami Paskah, ia telah diselamatkan dari penghakiman Allah, dan ia sudah terlepas dari kekejaman Firaun dan penggagahan dunia. Lagipula ia telah menyeberangi Laut Merah, menikmati makanan surgawi dan air hayat, serta menerima pendidikan ilahi di Gunung Sinai. Ia pun sudah mengalami banyak kejadian di padang gurun. Ia benar-benar adalah seorang beriman, seorang yang telah beroleh selamat dan dibawa keluar dari Mesir, dan yang telah mengalami banyak perkara dari Allah di padang gurun. Ini tentu bukan hanya untuk Harun, tetapi juga untuk seluruh bani Israel. Mereka semua telah dibawa keluar dari Mesir, dan telah sampai di gunung Allah untuk menerima pelatihan-Nya. Kemudian Allah berfirman kepada Musa agar beberapa orang dikuduskan untuk menjadi imam-imam. Ini menunjukkan, kita tidak cukup sekadar menjadi seorang beriman. Setelah menjadi orang beriman, kita perlu dikuduskan agar kita boleh melayani Allah sebagai imam.

Dikuduskan untuk melayani Allah sebagai imam berbeda dengan menikmati Kristus sebagai Paskah atau sebagai manna. Juga berbeda dengan menikmati Roh Kristus sebagai air hayat. Dikuduskan ialah adanya suatu tambahan selain semua pengalaman berharga tersebut. Ini berarti, dikuduskan ialah ada suatu tambahan atas Paskah, manna, dan air hayat. Sebagaimana telah saya tunjukkan, itu bukan pentahbisan atau persembahan, melainkan pemenuhan tangan kita dengan kelimpahan Kristus. Kita sangat perlu melihat bahwa untuk melayani Allah sebagai imam, kita memerlukan tambahan kenikmatan atas Kristus sebagai Paskah, sebagai manna, dan sebagai air hayat. Semoga kita semua melihat ini!

Ketika saya melihat perkara ini dalam Keluaran 29 beberapa tahun lalu, saya sangat gembira. Sesungguhnya itu adalah suatu terang yang sangat besar. Saya tidak mengerti cara mengungkapkan kegembiraan saya begitu melihat cara melayani Allah sebagai imam. Selama dua puluh lima tahun pertama pengalaman kristiani saya, saya tahu bahwa kaum beriman adalah imam-imam, tetapi saya tidak mengerti bagaimana melayani Allah sebagai imam dalam cara yang riil. Namun, melalui mempelajari pasal ini di bawah sootan terang Allah, saya mulai melihat cara ini. Betapa gembiranya saya. Betapa gembiranya saya di dalam rahmat-Nya, Tuhan telah memperlihatkan cara melayani Allah sebagai imam. Cara ini ialah dengan memperoleh tambahan pengalaman atas Kristus, tambahan pengalaman atas Paskah, manna harian, dan tambahan pengalaman atas aliran air hayat.

Ketika saya masih muda, saya mendengar bahwa Kristus adalah Paskah kita dan manna kita. Saya juga diajari bahwa Dia adalah batu karang yang telah dipukul sehingga mengalirkan air hayat. Namun, saya belum pernah diberi tahu bahwa menurut Keluaran 29, kita memerlukan tambahan pengalaman atas Kristus untuk melayani-Nya sebagai imam. Pasal ini mewahyukan bahwa kita boleh mengalami Kristus sebagai lembu jantan, domba jantan, roti bundar, dan roti tipis. Dalam pasal ini kita melihat beberapa macam roti. Melalui mengalami Kristus dengan cara yang disajikan dalam pasal ini, kita menjadi imam pelayan dalam cara yang paling riil.

Sebenarnya tidaklah mengherankan bahwa di antara umat Kristen hari ini sedikit sekali orang yang sungguh-sungguh melayani-Nya sebagai imam. Pada waktu-waktu yang lalu, sebagai seorang imam, berapa banyakkah Anda melayani Allah? Sebelum saya menerima sorotan dari Keluaran 29, saya berpikir bahwa saya melayani Allah sebagai seorang imam bila saya menjenguk seorang beriman lainnya di rumahnya, atau ketika saya membersihkan tempat sidang. Akhirnya saya tahu bahwa penjengukan dan pembersihan yang saya lakukan itu hanyalah pelayanan suku Lewi, bukan pelayanan imamat. Pelayanan imamat merupakan masalah mempersembahkan Kristus secara rinci langsung kepada Allah. Kemustikaan Keluaran 29 ini tampak dalam fakta terwahyunya jalan bagi kita untuk menjadi imam-imam.

DIBASUH DAN DIKENAKAN PAKAIAN

Langkah pertama dalam pengudusan atas Harun dan anak-anaknya untuk menjadi imam-imam ialah membasuh mereka. Keluaran 29:4 berkata, “Lalu kausuruhlah Harun dan anak-anaknya datang ke pintu Kemah Pertemuan dan haruslah engkau membasuh mereka dengan air.”

Setelah Harun dan anak-anaknya dibasuh, pada mereka dikenakan pakaian imam-imam. Mengenai Harun, ayat 5 dan 6 berkata, “Kemudian kauambillah pakaian itu, lalu kau kenakanlah kepada Harun kemeja, gamis baju efod, dan baju efod serta tutup dada; kaukebatkanlah sabuk baju efod kepadanya; kautaruhlah serban di kepalanya dan jamang yang kudus kaububuh pada serban itu.” Ayat 8 dan 9 juga membicarakan pengenaan pakaian imam, “Kau suruhlah anak-anaknya mendekat dan kau kenakanlah kemeja-kemeja itu kepada mereka. Kau ikatkanlah ikat pinggang kepada mereka, kepada Harun dan anak-anaknya, dan kau lilitkanlah destar itu kepada kepala mereka.” Pakaian imam adalah untuk menutupi ketelanjangan mereka.

Ketelanjangan merupakan penampilan, pameran, apa adanya alamiah kita. Tahukah Anda, apa ketelanjangan rohani itu? Ketelanjangan rohani adalah penampilan dosa dan buruknya apa adanya alamiah kita. Walaupun kita ini mungkin baik pada bawaan kita, tetapi karena kita ini keturunan Adam, maka dalam pandangan Allah, apa adanya alamiah kita adalah ketelanjangan. Setelah Adam dan Hawa jatuh, mereka sadar bahwa mereka telanjang sehingga berusaha menutupinya dengan daun ara. Mereka sadar bahwa ketelanjangan mereka perlu ditutupi. Jadi pengenaan pakaian Harun dan anak-anaknya dalam Keluaran 29 ini menunjukkan penutupan atas penampilan apa adanya alamiah kita.

PENEBUSAN DAN PERLIPATGANDAAN

Ayat 1-3 berkata, “. . . Ambillah seekor lembu jantan muda dan dua ekor domba jantan yang tidak bercela, roti yang tidak beragi dan roti bundar yang tidak beragi, yang diolah dengan minyak, dan roti tipis yang tidak beragi, yang diolesi dengan minyak; dari tepung gandum yang terbaik haruslah kaubuat semuanya itu. Kau taruhlah semuanya dalam sebuah bakul dan kaupersembahkanlah semuanya dalam bakul itu, demikian juga lembu jantan dan kedua domba jantan itu.” Di sini disebutkan tiga hewan, seekor lembu jantan muda dan dua ekor domba jantan yang tidak bercela. Kita juga mendapati roti, roti bundar, dan roti tipis. Walaupun roti tidak beragi itu mungkin agak tebal, tetapi dalam bahasa Ibrani roti bundar di sini diartikan bahwa roti itu tidak hanya tipis bahkan dilubang-lubangi sehingga renyah dan mudah dimakan. Roti tipis yang tidak beragi, yang diolesi dengan minyak, mungkin juga tidak tebal.

Roti, roti bundar, dan roti tipis, sudah tentu dibuat dari hayat tumbuh-tumbuhan (sayur-mayur) yang berlawanan dengan hayat hewan yang di sini diwakili oleh lembu jantan dan domba jantan. Dalam perlambangan, hayat hewan melambangkan hayat penebusan, suatu hayat yang mengandung darah yang dapat dicurahkan bagi penebusan. Sedangkan hayat tumbuh-tumbuhan (sayur-mayur) menunjukkan suatu hayat yang berlipat ganda, hayat yang berproduksi. Roti, roti bundar, dan roti tipis semuanya dibuat dari tepung gandum. Menurut Yohanes 12:24, sebutir biji gandum jatuh ke dalam tanah, menghasilkan banyak biji. Hayat tumbuh-tumbuhan ini merupakan hayat yang berlipat ganda.

Kristus memiliki baik hayat penebusan maupun hayat yang berlipat ganda, hayat yang berproduksi. Injil Yohanes mewahyukan kedua aspek hayat Kristus ini. Yohanes 1:29 berkata, “. . . Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia.” Ini merupakan hayat hewan untuk penebusan. Dalam Yohanes 12:24, untuk menjelaskan diri-Nya, Tuhan Yesus berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” Ini merupakan hayat tumbuh-tumbuhan untuk perlipatgandaan, untuk berproduksi. Pengudusan atas orang-orang yang mau melayani Allah sebagai imam merangkum baik hayat hewan untuk penebusan maupun hayat tumbuh-tumbuhan untuk perlipatgandaan.

DIINGATKAN ATAS SIFAT DOSA KITA

Menurut Keluaran 29:10-14, lembu jantan adalah untuk kurban penghapus dosa. Lembu jantan itu disembelih di depan pintu Kemah Suci. Harun dan anak-anaknya harus meletakkan tangan mereka di atas kepala lembu jantan itu, kemudian lembu itu disembelih di hadapan Tuhan. Sedikit dari darah itu dipercikkan pada ujung tanduk mezbah dan sisanya dituangkan pada dasar mezbah. Bagian yang lezat dan empuk dari lembu jantan itu dibakar di atas mezbah, dan sisanya, daging, kulit, dan kotorannya dibakar di luar perkemahan. Ini menunjukkan gambaran mengenai kurban penghapus dosa.

Kurban ini mengingatkan kita akan sifat jahat dosa kita. Sekalipun mungkin kita tidak berdosa, asalkan kita ini keturunan Adam, kita sudah memiliki sifat jahat dosa. Bukan hanya sifat jahat dosa, bahkan dosa itu sendiri. Ini berarti pada daging kita tidak ada yang lain kecuali dosa semata. Karena itu, untuk secara riil melayani Allah sebagai imam, terlebih dulu kita harus mengalami Kristus sebagai kurban penghapus dosa. Setiap hari, pada waktu fajar, kita harus mempersembahkan Kristus sebagai kurban penghapus dosa kepada Allah. Dengan spontan hal ini akan mengingatkan kita bahwa kita ini berdosa bahkan dosa itu sendiri. Sifat kita berdosa, dan sekujur kita ini berasal dari dosa.

Hari demi hari kita menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan diri sendiri. Ketika kita berbuat demikian, mungkin tidak terpikirkan oleh kita bahwa diri kita berdosa. Sebaliknya, sering kali kita mengira bahwa diri kita cukup lumayan. Namun, memikirkan diri sendiri secara demikian bisa menyebabkan timbulnya masalah yang menyangkut keimaman. Bagaimana mungkin kita melayani Allah sebagai imam secara riil, bila kita terus-menerus berpikir bahwa diri kita cukup lumayan? Tidaklah aneh bila pada saat bersama melayani, timbul banyak kesulitan di antara kita dengan orang-orang lain. Kita memiliki banyak masalah dalam pelayanan bersama orang lain, sebagian terbesar dikarenakan kita beranggapan bahwa diri kita lebih baik daripada orang lain. Karena itu, kita perlu ingat bahwa kita ini berdosa dalam sifat kita, bersamaan dengan itu, kita perlu mempersembahkan Kristus sebagai kurban penghapus dosa kita kepada Allah.

Bila kita sudah mengalami Kristus sebagai kurban penghapus dosa yang mengingatkan kita akan sifat dosa kita, mungkinkah kita berselisih dengan orang lain? Mungkinkah seorang suami akan tetap bertengkar dengan istrinya? Tentunya tidak. Perlukah seorang saudara yang senantiasa menyadari bahwa ia memiliki sifat dosa itu dilarang bertengkar dengan istrinya?

Penting sekali kita mengetahui bahwa jika kita mau melayani Allah sebagai imam secara riil, kita harus mengalami Kristus sebagai kurban penghapus dosa. Kita yang mau menjadi imam Allah harus senantiasa diingatkan bahwa di dalam kita ada dosa. Bila kita memiliki pengenalan dan kesadaran ini, kita pasti tidak akan berselisih dengan orang lain. Mengenal bahwa kita memiliki sifat dosa seraya mempersembahkan Kristus kepada Allah sebagai kurban penghapus dosa akan menjaga dan melindungi kita sehingga kita mampu melayani Allah sebagai imam-Nya.