← Daftar isi Keluaran (9) · bab 10/20

PENGUDUSAN HARUN DAN ANAK-ANAKNYA UNTUK MENJADI IMAM (10)

Pembacaan Alkitab: Kel. 29:29-46

Dalam berita terdahulu kita telah menunjukkan bahwa jika kita ingin masuk ke dalam keesaan dengan Allah, perlulah kita mempersembahkan kurban penghapus dosa. Persembahan ini sebenarnya bukan makanan yang langsung bagi Allah, melainkan untuk menyelesaikan problem antara kita dengan Allah, sehingga kita bisa mempunyai persekutuan dengan-Nya.

PENDAMAIAN YANG DIBUAT DI ATAS MEZBAH

Keluaran 29:35-36 mengatakan, “Maka haruslah kau perbuat demikian kepada Harun dan kepada anak-anaknya, tepat seperti yang Kuperintahkan kepadamu; selama tujuh hari haruslah kautahbiskan mereka. Tiap-tiap hari haruslah engkau mengolah seekor lembu jantan menjadi kurban penghapus dosa untuk mengadakan pendamaian dan haruslah kau sucikan mezbah itu, dengan mengadakan pendamaian baginya; haruslah engkau mengurapinya untuk menguduskannya.” Ketujuh hari yang disebutkan dalam ayat 35 menunjukkan sejangka waktu yang penuh, yaitu seumur hidup kita. Setiap hari kita perlu mempersembahkan Kristus sebagai kurban penghapus dosa kita. Menurut ayat 36, lembu jantanlah sebagai kurban penghapus dosa yang dipersembahkan untuk pendamaian. Di sini titik beratnya adalah pendamaian di atas mezbah.

Mezbah disucikan dengan mengadakan pendamaian yang dibuat di atasnya. Kita harus ingat, mezbah adalah sebuah meja makan. Kapan saja kita ingin menghidangkan makanan, pertama-tama kita harus membersihkan meja itu. Kita harus membersihkan semua debu yang ada di meja itu. Kurban penghapus dosa membersihkan meja makan kita, yaitu mezbah, sehingga menjadi sebuah tempat untuk bersantap.

Ayat 36 mengatakan bahwa mezbah itu haruslah diurapi supaya menjadi kudus. Dalam ayat ini sedikit pun tidak disinggung tentang darah. Namun, pada prinsipnya perkara pengudusan melalui percikan darah diwahyukan juga di bagian lain dalam tulisan-tulisan Musa. Tak perlu diragukan bahwa mezbah itu pasti dikuduskan oleh darah. Akan tetapi, di sini, mezbah disucikan oleh urapan minyak. Darah menunjukkan kematian Kristus, dan minyak menunjukkan urapan Roh itu. Kita mempunyai darah untuk membasuh kita dan Roh itu untuk mengurapi kita. Sekali lagi kita boleh menggunakan ilustrasi meja makan. Ketika kita membersihkan meja makan, kita suka kalau meja itu bersih mengkilap dan berkilauan. Darah menyucikan kita, dan minyak membuat kita bercahaya. Karena itu kita memerlukan darah untuk menyucikan kita, juga Roh itu supaya kita bersinar. Inilah artinya dikuduskan.

Kita perlu ingat bahwa dikuduskan berarti dipisahkan dan diberi tanda. Mungkin semua meja lainnya tidak bersih dan suram. Meja-meja itu kotor dan tidak mengkilap. Tetapi ada satu meja mezbah yang telah disucikan dan diurapi. Jadi, meja inilah yang kudus, yang bercahaya. Alhasil, meja ini berbeda dengan meja-meja lainnya dan terpisah dari yang lain. Ayat 37 mengatakan: “Tujuh hari lamanya haruslah engkau mengadakan pendamaian bagi mezbah itu; haruslah engkau menguduskannya, maka mezbah itu akan menjadi maha kudus; setiap orang yang kena kepada mezbah itu akan menjadi kudus.” Kita melihat bahwa setiap hari di atas mezbah diadakan pendamaian. Setelah dikuduskan, maka mezbah itu menjadi maha kudus. Dan setiap orang yang kena kepada mezbah itu akan menjadi kudus. Ini berarti mezbah yang telah merampungkan pendamaian dan telah diurapi dengan minyak itu menjadi maha kudus. Mez-bah yang sedemikian ini sanggup menguduskan seseorang yang menyentuhnya. Siapa saja yang menyentuh mezbah itu, atau apa pun yang diletakkan di atasnya akan dikuduskan. Karena itu, segala yang dipersembahkan di atas mezbah dengan sendirinya menjadi kudus.

Setiap hari kita perlu mempersembahkan kurban penghapus dosa. Bila kita melakukannya, kita memiliki meja makan yang benar-benar bersih dan telah diurapi. Apa pun yang diletakkan di atas meja ini akan menjadi kudus.

Setiap pagi kita perlu mempersembahkan Kristus sebagai kurban penghapus dosa. Hal ini akan mendatangkan suatu pagi yang indah bagi kita. Orang sering memberi salam kepada yang lain dengan ucapan “selamat pagi”. Ketika kita mengatakan tentang pagi yang indah, janganlah kita tujukan pada sejenis salam, melainkan suatu pagi yang indah karena telah mempersembahkan kurban penghapus dosa kepada Allah. Jika di pagi hari kita mempersembahkan Kristus sebagai kurban penghapus dosa kepada Allah, kita akan mempunyai suatu pagi yang indah, suatu pagi pendamaian. Dan akhirnya kita akan memiliki suatu hari yang indah, karena pagi yang indah itu akan menguduskan seluruh hari itu.

Dalam berita sebelumnya kita telah memakai ilustrasi manusia mengundang Allah untuk makan. Ketika kita mempersembahkan Kristus sebagai kurban penghapus dosa, maka tak akan ada masalah di antara kita, yang mengundang Allah makan, dan Allah yang diundang. Sebagai gantinya, kita akan mempunyai darah penebusan dan minyak pengurapan yang melambangkan pendamaian dan pengudusan. Sekarang ada pendamaian di antara orang yang mengun-dang dengan Dia yang diundang, dan kita dapat seterusnya melayani Allah makan untuk kepuasan-Nya.

Perkara pendamaian ini perlu dipahami sesuai dengan latar belakang praktik di zaman purba. Teristimewa di antara orang-orang Yahudi, bila ada persoalan di antara dua pihak orang, maka perlu ada pendamaian. Setelah pendamaian itu dirampungkan, maka orang-orang yang terlibat itu dapat makan bersama-sama. Karena telah ada pendamaian, mereka dapat hidup rukun. Kemudian dalam kerukunanlah mereka dapat menikmati santapan bersama-sama. Inilah satu gambaran, satu lambang hubungan antara kita dengan Allah. Kita mempunyai problem dengan Allah karena dosa kita. Sumber problem atau sumber kesulitan ini adalah setan. Ia menyuntikkan dosa ke dalam kita, dan dosa itu menjadi suatu problem. Namun, Kristus datang sebagai Anak Domba Allah yang mengangkut dosa. Dengan jalan inilah Ia membereskan problem yang ada itu dan membuat pendamaian. Karena itu, ketika kita mempersembahkan Dia kepada Allah sebagai kurban penghapus dosa, kita akan menikmati apa yang telah Ia perbuat bagi kita. Dengan demikian, karena untuk kepentingan kita Ia telah mengadakan pendamaian dengan Allah, maka tak ada lagi problem antara kita dengan Allah. Sebagai gantinya, kita mempunyai damai sejahtera, dan dalam damai sejahtera inilah kita dapat berpesta dengan Allah.

MAKANAN YANG DIPERSEMBAHKAN KEPADA ALLAH

Ayat 38-41 membicarakan mempersembahkan dua ekor anak domba setiap hari sebagai makanan yang langsung bagi Allah. Ayat 38 mengatakan, “Inilah yang harus kau olah di atas mezbah itu: dua anak domba berumur setahun, tetap tiap-tiap hari.” Menurut ayat 39, seekor domba dipersembahkan pada pagi hari, dan domba yang lain pada waktu senja. Beserta domba yang satu haruslah diolah sepersepuluh efa tepung yang terbaik dengan minyak tumbuk seperempat hin, dan kurban curahan dari seperempat hin anggur (ayat 40). Domba-domba beserta tepung, minyak, dan anggur dipersembahkan kepada Allah oleh imam-imam yang telah dibasuh, dikenakan pakaian, dan dipuaskan.

Pada titik ini, baiklah kita memperhatikan “bahanbahan makanan” yang akan dipergunakan ketika mempersiapkan kurban sajian kepada Allah. Bahan-bahan makanan ini meliputi dua ekor domba, sejumlah tepung, dan sejumlah minyak serta anggur. Sudah tentu, domba-domba berasal dari dunia hewan; tepung, minyak, anggur termasuk dunia tumbuh-tumbuhan. Semua bahan makanan ini melambangkan aspek-aspek Kristus. Kristus adalah domba kita, tepung kita, pohon anggur kita yang menghasilkan arak anggur, dan pohon zaitun yang menghasilkan minyak.

Bagaimana dalam keempat aspek ini Kristus dapat menjadi bahan-bahan makanan kita? Jika kita ingin menjawab pertanyaan ini, kita perlu menyadari bahwa perkara ini bagi orang Israel tidak hanya bersifat obyektif, lebih-lebih sangat subyektif, sebab barang-barang itu ditanam, dibesarkan, dan dituai oleh orang-orang Israel. Sepersepuluh dari tuaian ini dipisahkan, dan selama pesta berlangsung, barang-barang itu dipersembahkan kepada Allah. Karena semua barang ini dihasilkan dengan cara demikian, maka barang-barang ini terhadap orang Israel sangat subyektif. Dengan kata lain, barang-barang ini merupakan hasil jerih payah mereka, suatu hasil yang menjadi milik orang Israel. Umat Allah dalam Perjanjian Lama mempersembahkan apa yang mereka hasilkan. Ini menunjukkan bahwa Kristus yang kita persembahkan kepada Allah sebagai makanan-Nya seharusnya sangat subyektif bagi kita. Ia seharusnya menjadi hasil kita, yaitu apa yang kita hasilkan melalui jerih payah dan pengalaman kita setiap hari.

MEMPERTUMBUHKAN KRISTUS DAN MEMPERBESAR KRISTUS

Belakangan ini kita telah banyak membicarakan tentang memperhidupkan Kristus. Memperhidupkan Kristus sebenarnya berarti mempertumbuhkan Kristus. Ini berarti ketika kita memperhidupkan Kristus, Ia bertumbuh di dalam kita. Dalam Matius 13, Tuhan menyamakan diri-Nya dengan benih dan menyamakan kita dengan tanah. Ia datang menaburkan diri-Nya sebagai benih ke dalam kita yang adalah tanah, sehingga kita bisa mempertumbuhkan Dia. Pemikiran ini berkembang dengan limpahnya dalam Perjanjian Baru. Sebagai contoh, dalam 1Korintus 3:9 Paulus mengatakan, “Kamu adalah ladang Allah.” Secara harfiah, istilah Yunani yang diterjemahkan “ladang” dalam ayat ini berarti tanah yang ditanami atau lahan pertanian. Kita adalah ladang garapan Allah untuk mempertumbuhkan Kristus. Karena itu, sangat pentinglah kita menghasilkan Kristus.

Mungkin kita membicarakan tentang memperhidupkan Kristus, tetapi mungkin kita tidak menyadari bahwa memperhidupkan Kristus berarti mempertumbuhkan Dia dan memperbesar Dia. Di satu pihak, sebagai kaum beriman kita adalah ladang; di pihak lain, kita adalah peternakan. Ladang menghasilkan tanaman padi-padian yang berbiji dan sayur-sayuran, tetapi peternakan adalah untuk membesarkan ternak. Karenanya, kita mempertumbuhkan Kristus sebagai hayat tumbuh-tumbuhan, dan kita memperbesar Dia sebagai hayat hewani. Namun, sekarang kita perlu bertanya, bagaimanakah cara menumbuhkan Kristus dan memperbesar Kristus.

Jika kita ingin memperbesar Kristus menjadi “seekor lembu jantan” untuk kurban penghapus dosa kita, maka setiap pagi kita perlu mempersembahkan Kristus sebagai kurban penghapus dosa kita. Semakin kita mempersembahkan Kristus sebagai kurban penghapus dosa, maka dalam aspek ini Ia akan semakin bertumbuh di dalam kita. Mungkin ketika kita mulai mempersembahkan Dia sebagai kurban penghapus dosa, Ia adalah “seekor domba jantan” yang kecil. Namun, secara berangsur-angsur ketika kita terus mempersembahkan Dia, Dia akan bertumbuh. Akhirnya setelah lewat sejangka waktu, Ia akan menjadi seekor lembu jantan yang besar.

Dari pengalaman saya menyadari bahwa setiap kali kita berkontak dengan Allah, kita perlu mempersembahkan Kristus sebagai kurban penghapus dosa. Akan tetapi, ketika berdoa dengan saudara-saudara lain, saya pernah mengamati hampir-hampir tak seorang pun dalam doa itu mempersembahkan Kristus sebagai kurban penghapus dosa. Saya merasa heran mengapa saudara-saudara dan saudari-saudari tidak mempersembahkan Kristus secara demikian. Apakah mereka tidak berdosa? Sudah tentu, kita semua berdosa, tetapi kebanyakan orang tidak menyadari kedosaan mereka. Sebagaimana kita perlu membasuh tangan kita sebelum makan, kita pun perlu membasuh diri kita melalui mempersembahkan Kristus sebagai kurban penghapus dosa kita. Kita perlu setiap hari mempersembahkan Kristus kepada Allah sebagai kurban penghapus dosa kita. Janganlah kita melakukan hal ini sebagai suatu kebiasaan atau suatu hal yang rutin belaka. Sebaliknya, kita harus melakukannya dengan suatu kesan dan perasaan yang kuat, yakni di dalam sifat kita yang telah jatuh ini, kita adalah dosa. Kalau kita menyadari bahwa kita penuh dosa, kita sebenarnya adalah dosa itu sendiri, lalu mempersembahkan Kristus sebagai kurban penghapus dosa kita, maka Kristus sedikit demi sedikit akan bertumbuh di dalam kita hingga Ia menjadi seekor lembu jantan yang besar.

Mungkin Anda merasa bahwa sidang-sidang gereja di lokal Anda sangat bagus atau sangat maju. Akan tetapi, apakah bahan-bahan makanan di dalam sidang-sidang itu? Khususnya, adakah Kristus dipersembahkan kepada Allah sebagai seekor lembu jantan untuk kurban penghapus dosa? Dalam sidang-sidang gereja kita seharusnya mendengar doa-doa seperti ini: “Tuhan, kami akui bahwa kami berdosa. Tuhan, kami bahkan adalah dosa itu sendiri. Sekalipun kami tidak merasa bahwa kami telah melakukan sesuatu yang tidak benar, namun kami tetap bersifat dosa. Tuhan, setiap kali kami datang ke hadapan-Mu dan berkontak dengan Engkau, kami sungguh-sungguh merasa bahwa kami adalah dosa. Kami memerlukan Putra-Mu, Tuhan Yesus Kristus kami, untuk menjadi kurban penghapus dosa kami.” Pada Sidang Pemecahan Roti ada sebagian saudara saudari yang seharusnya berdoa: “Tuhan, di sini, di meja-Mu, kami memandang Engkau sebagai kurban penghapus dosa kami.” Akan tetapi, di antara orang-orang Kristen hari ini kemiskinan rohani menjadi sangat umum. Agama yang mati telah merampas demikian banyaknya umat Tuhan dari kekayaan Kristus.

PENDIDIKAN ROHANI YANG WAJAR

Saya mengetahui bahwa situasi-situasi tertentu telah membuat banyak orang muda di China kehilangan pendidikan yang wajar. Demikian pula, banyak orang Kristen hari ini telah kehilangan pendidikan rohani yang wajar. Banyak pengkhotbah yang berpetah lidah, berpengetahuan luas, dan berkemampuan, namun mereka sangat dangkal. Hati saya hancur melihat situasi ini. Kaum beriman yang terkasih, kita semua perlu lebih banyak pendidikan rohani yang sejati. Orang-orang Kristen di negeri ini mungkin memiliki pendidikan duniawi yang tinggi, tetapi banyak yang kehilangan dalam hal-hal rohani. Mereka mungkin mengetahui banyak sekali tentang ilmu pengetahuan, perkara materi, dan hal ikhwal hidup ini, tetapi pengetahuan rohani mereka terbatas sekali. Namun, saya harap semua orang beriman dalam pemulihan Tuhan dapat memperoleh pendidikan rohani yang terbaik. Karena itu, saya mendorong kalian untuk menggunakan waktu membaca berita-berita pelajaran hayat. Berita-berita ini akan membantu kalian untuk terdidik secara rohani.

MEMBAWA MAKANAN KE DALAM SIDANG

Dalam sidang-sidang gereja kita harus memiliki isi yang wajar. Janganlah kita berseru dengan teriakan-teriakan kosong, yaitu teriakan-teriakan yang tanpa isi atau realitas. Tidaklah cukup hanya berfungsi dalam sidang secara aktif atau di dalam apa yang disebut hidup. Kita perlu isi rohani. Untuk isi ini perlulah kita setiap hari mempertumbuhkan Kristus dan memperbesar Kristus. Jika Anda tidak memperbesar Kristus sebagai hayat hewani, bagaimana mungkin Anda memiliki seekor lembu jantan atau domba untuk dipersembahkan kepada Allah? Jika Anda tidak menggarap tanah, menabur benih, dan mengairinya, bagaimana mungkin Anda mempunyai gandum untuk dituai? Bagaimana Anda bisa memiliki minyak dan anggur? Maka kita mutlak perlu mempertumbuhkan Kristus sebagai hayat tumbuh-tumbuhan dan memperbesar Dia sebagai hayat hewani.

Sebagaimana kita perlu memperbesar Dia menjadi seekor lembu jantan untuk pendamaian, kita pun perlu memperbesar Dia menjadi seekor domba untuk makanan yang langsung dipersembahkan kepada Allah. Ini berarti kita perlu memperbesar Kristus menjadi lembu jantan dan menjadi domba. Ketika kita datang ke dalam sidang-sidang, kita akan dapat membawa Kristus sebagai lembu jantan dan domba.

Kita perlu mempertumbuhkan Kristus menjadi gandum yang menghasilkan tepung, menjadi pohon zaitun yang menghasilkan minyak, dan pohon anggur yang menghasilkan arak anggur. Mempertumbuhkan gandum berarti mengalami Kristus setiap hari sebagai suplai hayat kita. Gandum melambangkan Kristus dalam inkarnasi, sedangkan jelai melambangkan Kristus dalam kebangkitan. (Berita tentang aspek-aspek Kristus selengkapnya terdapat dalam buku: Kristus yang Almuhit). Jika kita mengalami Kristus sebagai suplai hayat kita, kita akan mempertumbuhkan Dia menjadi gandum dan jelai. Jika kita memperhidupkan Kristus melalui Roh itu di dalam roh kita, kita akan memperhidupkan Dia menjadi pohon zaitun yang menghasilkan minyak. Selain itu, jika di dalam pengalaman kita menuangkan diri kita dan memperhidupkan Kristus, kita akan menumbuhkan pohon anggur untuk menghasilkan arak anggur bagi kurban curahan. Karena itu, untuk menghasilkan minyak dan arak anggur, kita harus hidup setiap hari dan mati setiap hari. Kita perlu kehidupan yang hidup dan mati. Paulus berkata bahwa setiap hari ia ditaruh ke dalam kematian. Hari demi hari diserahkan ke dalam kema-tian Kristus. Ini seharusnya juga menjadi pengalaman kita. Setiap hari mungkin kita ditaruh ke dalam kematian oleh yang lain, mungkin oleh keluarga kita atau oleh perkara-perkara yang berbeda dalam lingkungan kita. Sewaktu kita memperhidupkan hayat yang ditaruh ke dalam kematian, kita akan menghasilkan arak anggur untuk kurban curah-an. Saya harap kata-kata yang singkat dan sederhana ini dapat memberi Anda beberapa pengertian tentang makanan.

Marilah kita semua mengalami kekayaan Kristus dan memperoleh pendidikan rohani yang wajar, sehingga kita boleh menempuh suatu kehidupan yang bermutu lebih tinggi, bukan kehidupan bertaraf rendah yang lazim dimiliki orang Kristen hari ini. Marilah kita mempertumbuhkan Kristus dan memperbesar Kristus. Kemudian kita akan mempunyai makanan untuk dibawa ke dalam sidang-sidang gereja.