PENGUDUSAN HARUN DAN ANAK-ANAKNYA UNTUK MENJADI IMAM (11)
Pembacaan Alkitab: Kel. 29:29-46
Dalam berita-berita terdahulu kita telah melihat bahwa bersamaan dengan pengudusan Harun dan anak-anaknya untuk melayani Allah sebagai imam-imam, terdapat empat butir penting. Tiga di antara butir-butir ini berhubungan dengan imam-imam, dan satu berhubungan dengan Allah. Tiga butir yang berhubungan dengan para imam adalah perkara pembasuhan, berpakaian, dan dipuaskan. Satu butir yang berhubungan dengan Allah adalah mempersiapkan makanan bagi Allah dan memberi-Nya makanan sehingga Ia dipuaskan. “Bahan-bahan makanan” yang dipakai untuk mempersiapkan makanan Allah meliputi tiga benda dari hayat hewan seekor lembu jantan dan dua ekor domba dan tiga hayat tumbuh-tumbuhan tepung, minyak, dan arak anggur. Seperti kita ketahui, tepung berasal dari gandum, minyak dari pohon zaitun, dan arak anggur dari buah anggur.
FUNGSI KURBAN PENGHAPUS DOSA
Seperti telah kita ketahui, lembu jantan yang dipersembahkan sebagai kurban penghapus dosa bukanlah makanan yang langsung bagi Allah. Sebaliknya, lembu jantan ini adalah untuk penebusan dosa, untuk pendamaian. Ini berarti bahwa lembu dipersembahkan untuk mendamaikan. Setiap hari kita perlu memelihara Kristus seperti seekor lembu jantan, untuk kurban penghapus dosa. Ini berarti kita perlu setiap hari mempersembahkan Kristus kepada Allah sebagai kurban penghapus dosa, karena sifat dan diri kita adalah dosa. Bila kita mengundang orang lain untuk makan malam ke rumah kita, kita ingin agar semuanya bersih dan teratur. Kemudian, setelah segalanya dipersiapkan dengan sebaik-baiknya, kita dan tamu-tamu kita baru bisa menikmati hidangan dalam suasana yang damai. Ini menggambarkan fungsi Kristus sebagai kurban penghapus dosa. Kurban penghapus dosa yang dilambangkan oleh lembu jantan yang dipersembahkan kepada Allah dalam Keluaran 29 ini menjernihkan situasi antara kita dengan Allah. Masalah pokok antara kita dengan Allah adalah dosa kita. Dosa masuk ke dalam umat manusia melalui kejatuhan, dan sebagai akibatnya kita tersusun dari dosa. Karena itu, kita sesungguhnya adalah dosa itu. Ketika Kristus berinkarnasi, Ia datang menjadi dosa. Dua Korintus 5:21 mengatakan bahwa Ia telah dibuat menjadi dosa karena kita. Menurut Roma 8:3, Kristus, Putra Allah, datang dengan rupa daging yang dikuasai dosa karena dosa. Selain itu, ayat ini mewahyukan bahwa ketika Kristus di kayu salib, Allah menghukum dosa yang ada di dalam daging. Karena itu, Kristus telah menjadi dosa karena kita, dan Allah menghukum dosa di dalam daging.
Dalam pandangan Allah, dosa yang sumbernya di dalam Iblis dan yang telah masuk ke dalam manusia, adalah unsur sifat kita yang telah jatuh dan diri kita yang usang. Diri kita sendiri sebenarnya adalah dosa. Kristus yang dijadikan dosa membawa daging yang dikuasai dosa itu ke atas salib, di mana Allah menghukum dosa di dalam daging. Karena itu, di hadapan Allah, dosa telah dibereskan.
Jika Anda membaca Perjanjian Baru dengan cermat, Anda akan melihat bahwa tak satu ayat pun yang memberi tahu kita Kristus menanggung dosa kita di atas salib. Sebaliknya, Perjanjian Baru memberi tahu kita bahwa Kristus menanggung dosa-dosa kita. Sebagai contoh, Ibrani 9:28 mengatakan bahwa Kristus “hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang”. Satu Petrus 2:24 mengatakan bahwa Kristus “sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib.” Mengenai dosa, Perjanjian Baru mengatakan bahwa Ia diangkut atau dihapuskan. Menurut Yohanes 1:29 Yohanes Pembaptis menyatakan, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia.” Berbicara tentang Kristus, Ibrani 9:26 mengatakan, “Ia hanya satu kali saja menyatakan diri-Nya . . . untuk menghapuskan dosa dengan kurban diri-Nya.” Seperti yang telah kita tunjukkan, Roma 8:3 mengatakan bahwa Allah telah menjatuhkan hukuman atas dosa. Sesuai dengan ayat-ayat ini, dosa telah ditanggulangi. Dosa telah dihukum, diangkut, dihapus.
DOSA BUKAN DICABUT SAMPAI AKARNYA
Dalam menyelamatkan kita, Allah bukan mencabut sampai akarnya sifat kita yang berdosa pada saat kita bertobat, percaya, dan dilahirkan kembali. Menyelamatkan kita dengan cara yang demikian itu tidak sesuai dengan ekonomi Allah. Sewaktu kita bertobat, Allah mengampuni dosa-dosa kita. Ia juga masuk ke dalam roh kita untuk melahirkan kita kembali dengan Roh-Nya. Akan tetapi, Ia bukan mencabut sampai akarnya dosa yang ada di dalam kita. Sekalipun kita telah diampuni, dibersihkan oleh darah adi Kristus, dan dilahirkan kembali oleh Roh itu, kita tetap berada di dalam sifat usang kita, di dalam ciptaan lama. Di satu pihak, kita adalah ciptaan baru dan memiliki sifat baru; di pihak lain, kita tetap berada di dalam ciptaan lama dengan sifat lama. Karena itu, kita perlu diingatkan bahwa di dalam sifat lama kita, daging kita, kita masih berdosa. Kita perlu menyadari bahwa kita adalah orang dosa.
Beberapa orang Kristen berpegang pada konsepsi pencabutan akar dosa atau doktrin kekudusan yang mutlak. Ada beberapa orang yang mengajarkan bahwa begitu seorang beriman menerima baptisan Roh Kudus, ia mutlak menjadi kudus dan tidak dapat berdosa lagi. Pengajaran-pengajaran semacam ini tidak sesuai dengan Alkitab. Tidak hanya demikian, orang-orang yang menerima konsepsi pencabutan akar dosa atau kekudusan yang mutlak bisa membawa beberapa orang untuk mengabaikan perkara-perkara dosa dengan menyebutnya sebagai kelemahan atau kekurangan. Dalam beberapa kasus, orang-orang yang yang berpegang kepada konsepsi pencabutan akar dosa atau kekudusan yang mutlak telah jatuh ke dalam kedosaan yang mencolok. Menurut Alkitab, kita adalah ciptaan baru di dalam Kristus, tetapi dalam sifat kita yang telah jatuh, kita masih berada di dalam ciptaan lama. Ya, memang kita memiliki hayat kekal, sifat ilahi, dan Roh Kudus. Ini berarti Allah sendiri ada di dalam kita. Namun, kita masih tetap mempunyai manusia lama, ciptaan usang, dan daging. Jadi, kita selalu masih ada kemungkinan jatuh ke dalam dosa. Kita perlu menyadari bahwa kita masih berdosa.
Menurut perlambangan dalam Kitab Keluaran, setiap hari kita perlu mempersembahkan Kristus sebagai kurban penghapus dosa kepada Allah. Ketujuh hari yang disebut dalam Keluaran 29 menandakan satu jangka waktu yang penuh, yaitu seumur hidup kristiani kita. Sebelum kita mengalami transfigurasi, penebusan tubuh kita, kita akan terus-menerus memerlukan kurban penghapus dosa. Setiap hari kita harus mengingatkan diri kita bahwa kita adalah orang dosa dan kita memerlukan Kristus sebagai kurban penghapus dosa untuk membereskan situasi antara kita dengan Allah.
Tatkala kita menerapkan Kristus sebagai kurban penghapus dosa, problem di antara kita dengan Allah telah diselesaikan, dan kita telah dibersihkan. Karena Allah telah diperdamaikan melalui Kristus sebagai kurban penghapus dosa, maka kita pun boleh menjadi damai dan tenteram. Sekarang, dalam situasi yang damai sejahtera, kita dapat melayani Allah dengan makanan.
SANTAPAN ALLAH
Menurut Keluaran 29, santapan Allah terdiri atas dua ekor domba, kurban sajian yang mengandung tepung dan minyak, dan kurban curahan dari anggur. Pada pagi hari, seekor lembu jantan harus dipersembahkan kepada Allah bersama kurban sajian dan kurban curahan; dan pada petang hari, seekor domba jantan lainnya harus dipersembahkan kepada-Nya, juga dengan kurban sajian dan kurban curahan. Baiklah sekarang kita melanjutkan dengan membahas domba, tepung, minyak, dan anggur yang dipersembahkan kepada Allah sebagai santapan.
TAAT KEPADA ALLAH
Domba melambangkan Kristus sebagai Persona yang taat kepada Allah. Ketika Tuhan Yesus berada di bumi, Ia mutlak taat kepada Allah. Filipi 2 mengatakan bahwa Ia taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Kematian Kristus di kayu salib merupakan pernyataan ketaatan-Nya yang paling tinggi. Dalam Roma 5:18-19 tertulis bahwa dalam pandangan Allah, ketaatan itu dipandang sebagai suatu perbuatan yang benar. “Satu perbuatan kebenaran” itu khususnya ditujukan kepada perbuatan Kristus ketika Dia taat kepada Allah hingga mati di kayu salib.
Sebagai domba, Kristus bukan hanya taat kepada Allah, tetapi juga lemah lembut di hadapan manusia. Yesaya 53:7 mengatakan, “Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.” Menurut Alkitab, lemah lembut berarti tidak menentang atau melawan segala apa pun yang terjadi atas diri Anda. Sebaliknya, menerima semua serangan dan tindasan. Kelemahlembutan adalah ciri khas domba. Domba sama sekali tidak menentang, tidak seperti anjing dan kucing yang memberikan perlawanan. Keempat kitab Injil mewahyukan bahwa Kristus itu taat juga lemah lembut.
KESAKSIAN DARI KEHIDUPAN KITA SEHARI-HARI
Gambaran dalam Keluaran 29 menunjukkan bahwa sepanjang kehidupan kekristenan kita, kita harus setiap hari mempersembahkan Kristus sebagai kurban penghapus dosa. Kemudian kita perlu memiliki domba, tepung, minyak zaitun, dan anggur. Untuk menjadi imam-imam Allah, kita harus setiap hari mempersembahkan Kristus sebagai kurban penghapus dosa kepada Allah. Jika kita berbuat demikian, maka dalam kehidupan kristiani kita, kita akan membesarkan Kristus sebagai lembu kurban penghapus dosa. Semakin kita mempersembahkan Kristus sebagai lembu dalam pengalaman kita, Ia akan semakin bertumbuh menjadi lembu yang besar. Setelah sejangka waktu, dalam pengalaman kita, Kristus akan semakin bertambah besar seperti lembu jantan, untuk kurban penghapus dosa. Memiliki Kristus yang bertumbuh sebagai kurban penghapus dosa secara demikian ini berarti memperbesar Kristus di “ladang peternakan” kita dalam kehidupan kita setiap hari.
Dalam sidang-sidang gereja kita perlu mempersembahkan Kristus sebagai kurban penghapus dosa kepada Allah. Hal ini seharusnya menjadi suatu pernyataan, suatu kesaksian dari apa yang kita alami setiap hari di dalam kehidupan kita. Jika kita berupaya mempersembahkan Kristus di dalam sidang-sidang namun tanpa mengalami Dia setiap hari, kita akan seperti para aktor berperan di dalam teater. Apa yang kita perbuat di dalam sidang seharusnya adalah suatu kesaksian dari kehidupan kita sehari-hari. Setiap pagi kita harus mempersembahkan Kristus sebagai kurban penghapus dosa. Ini adalah semacam pembasuhan rohani. Setelah dibasuh demikian, barulah kita bisa terus-menerus memperhidupkan Kristus sepanjang hari itu. Jadi, jika kita ingin mempersembahkan Kristus sebagai kurban penghapus dosa, perlulah kita membesarkan Dia sebagai hayat hewani.
Kita perlu membesarkan Kristus sebagai domba dan mempertumbuhkan Dia sebagai gandum, pohon zaitun, dan pohon anggur. Bagaimana kita dapat membesarkan Kristus sebagai domba di dalam kehidupan kita setiap hari? Kita melakukannya melalui memperhidupkan Dia sebagai domba. Setelah kita mempersembahkan Kristus sebagai kurban penghapus dosa dan memperoleh pembasuhan, roh kita akan hidup. Kemudian kita harus memperhidupkan Kristus dengan menerima Dia sebagai domba.
HIDUP BERDASARKAN KRISTUS SEBAGAI DOMBA
Setidak-tidaknya ada beberapa orang di antara kita yang dapat bersaksi bahwa setiap kali kita menerima Kristus sebagai kurban penghapus dosa pada pagi hari, saat itu pula kita segera merasa bahwa kita telah dibersihkan, roh kita menjadi hidup, dan Kristus sebagai Roh itu menjadi riil bagi kita. Alhasil, dengan riil kita akan hidup berdasarkan Dia sebagai domba. Ini berarti dalam sekian banyak hal kita sudah menerima Dia sebagai Persona yang taat kepada Allah di batin kita. Kita memiliki Sang taat ini sebagai hayat ketaatan kita, bahkan sebagai ketaatan kita kepada Allah, dan Ia hidup di dalam kita sebagai hayat yang taat. Pada waktu-waktu yang lampau kita sungguh tidak taat, tidak patuh kepada Allah. Namun, melalui praktik (pelaksanaan) mempersembahkan Kristus sebagai kurban penghapus dosa, dengan sendirinya kita dapat menjadi taat. Sebenarnya bukan kita yang taat, melainkan Kristus Sang taat yang hidup di dalam kita. Di satu pihak, Kristus adalah lembu jantan untuk kurban penghapus dosa; di pihak lain, Dia juga adalah domba yang berdasarkannya kita hidup.
Saya percaya banyak di antara kita dapat bersaksi bahwa dengan menerima Kristus sebagai kurban penghapus dosa, kita menjadi lebih taat kepada Allah. Dahulu bila kita tidak taat dalam perkara-perkara tertentu, kita telah melanggar. Hal itu membuat kita perlu mempersembahkan Kristus sebagai kurban penebus salah. Sebagai contoh, seorang saudari boleh jadi tidak taat dalam hal berbelanja. Sewaktu pergi ke toserba, mungkin ia memberontak dan tidak taat. Sebagai akibatnya, terjadilah pergumulan antara saudari itu dengan Allah. Kemudian, ia tidak secara tepat menerapkan kurban penebus salah, tetapi ia hanya mencoba mempergunakan darah Tuhan ke atas situasinya dan mohon Tuhan membersihkannya. Akan tetapi, jika saudari ini setiap hari mempersembahkan Kristus kepada Allah sebagai kurban penghapus dosa, maka pengalamannya akan sangat berbeda. Ia dengan spontan akan menjadi lebih taat kepada Allah, ia akan lebih sering rela taat. Inilah artinya membesarkan Kristus sebagai domba. Jika seorang saudara dan istrinya taat kepada Allah, mereka pasti tidak akan bersilat lidah. Pertengkaran antara suami dengan istri dapat diibaratkan dengan gonggongan anjing-anjing. Sudah tentu, pertengkaran semacam ini, silat lidah ini, tidaklah menyenangkan. Jika seorang saudara setiap hari menerima Kristus sebagai kurban penghapus dosa, dengan otomatis ia akan menjadi patuh kepada Allah dan juga menjadi lemah lembut. Ia tidak bertengkar dengan istrinya, sebaliknya ia lebih rela mengalah. Ia akan menjadi lemah lembut, tidak melawan maupun menentang. Inilah artinya memperhidupkan Kristus sebagai domba.
MEMBESARKAN SEKAWANAN DOMBA
Saya ingin menekankan satu fakta, yaitu jika kita mau membesarkan Kristus sebagai domba, pertama-tama kita harus memiliki Dia sebagai kurban penghapus dosa. Dari pengalaman saya mengetahui bahwa ketika kita membesarkan Kristus sebagai lembu jantan untuk kurban penghapus dosa, kita juga membesarkan Dia sebagai domba untuk kurban bakaran. Mempersembahkan Kristus sebagai kurban penghapus dosa adalah cara untuk membesarkan Kristus sebagai domba.
Wahyu 14:1 mengatakan, “Lalu aku melihat: Sesungguhnya, Anak Domba berdiri di bukit Sion dan bersama-sama dengan Dia seratus empat puluh empat ribu orang dan di dahi mereka tertulis nama-Nya dan nama Bapa-Nya.” Sebagai bagian dari gambaran seratus empat puluh empat ribu orang yang bersama Anak Domba itu, Wahyu 14:4 mengatakan, “Mereka adalah orang-orang yang mengikuti Anak Domba itu ke mana saja Ia pergi.” Ini adalah suatu ayat yang kuat yang bertalian dengan mempertumbuhkan Kristus sebagai domba. Mereka adalah orang-orang yang setia mengikuti Anak Domba itu ke mana saja Ia pergi. Mengikuti Kristus sebagai Anak Domba berarti membesarkan Dia sebagai domba. Akhirnya, kita akan membesarkan Kristus sebagai sekawanan domba. Sudah tentu hal ini tidak berarti akan terdapat lebih dari satu Kristus. Kristus memang hanya ada satu, tetapi dalam pengalaman kita bisa memiliki Dia dalam banyak aspek. Karena itu, menurut pengalaman, kita bisa membesarkan Kristus sebagai sekawanan domba. Memahami suatu perkara secara doktrinal adalah satu perkara, tetapi memandang perkara yang sama menurut pengalaman sangatlah berbeda. Mengenai Kristus, saya tidak ingin tetap di dalam doktrin semata, tetapi saya ingin memiliki pengalaman rohani yang penuh.
Orang-orang yang mengutamakan doktrin sering menentang kaum beriman yang berpengalaman. Menjelang akhir abad yang lampau dan awal pertama abad ini, guru-guru Alkitab tertentu mengkritik Andrew Murray karena ia lebih menekankan pengalaman daripada doktrin. Buku-bukunya mengenai pengalaman rohani telah membantu ribuan orang Kristen yang menuntut. Karya besarnya adalah ROH KRISTUS. Saya telah menerima bantuan yang besar dari buku tersebut, dan saya pun menganjuri Anda semua tidak saja membacanya, tetapi juga mempelajarinya. Kecuali tulisan-tulisan dalam pemulihan Tuhan, tak ada buku lain selain buku “ROH KRISTUS” yang sangat membantu orang-orang Kristen dalam mengenal Kristus sebagai Roh pemberi-hayat. Namun demikian, Andrew Murray telah disalahkan oleh guru-guru Alkitab tertentu, khususnya oleh beberapa orang dari golongan Kaum Saudara. Selain itu, Jesse Penn-Lewis pun dikritik dengan hebatnya oleh guru-guru Alkitab yang sama. Pada tahun-tahun yang lalu, salah satu toko buku di China menjual semua buku Saudara Watchman Nee kecuali buku “Manusia Rohani”. Pengelola toko ini mengetahui bahwa ada satu bab dalam buku tersebut adalah terjemahan dari tulisan-tulisan Ny. Penn-Lewis tentang peperangan rohani. Mereka menganggap buku itu tidak bersih karena memuat sebagian dari tulisan-tulisan Ny. Penn-Lewis. Sekalipun beribu-ribu orang beriman telah mendapat bantuan melalui tulisan Jesse Penn-Lewis, namun mereka yang menekankan doktrin menyalahkannya tidak saja sebagai bidah, bahkan sebagai wanita penyihir.
Bila kita memperbincangkan tentang membesarkan Kristus sebagai sekawanan domba, kita membicarakan tentang pengalaman kita atas Kristus. Perhatian saya di sini tidak hanya pada pengajaran Alkitab. Dengan Alkitab sebagai dasar saya, saya ingin membicarakan pengalaman atas Kristus. Jadi, berbicara dari aspek pengalaman, saya ingin mengatakan bahwa kita sungguh dapat memiliki Kristus sebagai sekawanan domba.
Pada zaman kuno, orang-orang Israel membawa yang sulung dari kawanan lembu atau kawanan domba ke Gunung Sion untuk dipersembahkan kepada Allah. Semua yang sulung ini melambangkan Kristus. Kita telah menunjukkan bahwa Kristus hanya ada satu, tetapi dalam pengalaman kita boleh mempunyai Kristus dengan aspek yang berbeda-beda. Memang hanya ada satu Kristus, tetapi pengalaman-pengalaman atas Kristus tidaklah terhitung.
KURBAN-KURBAN UNTUK SANTAPAN ALLAH
Kita telah melihat cara untuk membesarkan Kristus sebagai lembu jantan untuk kurban penghapus dosa dan sebagai domba untuk kurban bakaran. Dalam Keluaran 29, domba bukanlah untuk pendamaian, melainkan untuk kurban bakaran sebagai santapan Allah. Domba dipersembahkan kepada Allah untuk santapan-Nya. Banyak orang Kristen tidak pernah mendengar bahwa Kristus tidak saja bisa dipersembahkan untuk pendamaian, tetapi juga sebagai makanan untuk Allah. Mereka yang memiliki beberapa pengetahuan teologi mungkin merasa heran tentang hal ini. Namun, menurut Alkitab, ada kurban-kurban tertentu yang tidak untuk penebusan dosa, juga tidak untuk pendamaian, tetapi untuk santapan Allah. Hal ini digambarkan dengan jelas dalam Keluaran 29. Dalam pasal ini lembu jantan dipersembahkan sebagai kurban penghapus dosa, yaitu dipersembahkan untuk pendamaian. Akan tetapi, domba dipersembahkan kepada Allah untuk santapan-Nya. Karena alasan inilah, ketika menyinggung domba, Keluaran 29 tidak menyinggung tentang darah. Darah adalah untuk penebusan, untuk pendamaian, dan untuk penebusan, bukan untuk santapan. Namun, domba yang dipersembahkan sebagai kurban bakaran sepenuhnya untuk santapan Allah.
Tahukah Anda dengan cara apakah Allah memakan santapan-Nya? Allah memakannya dengan api. Ketika Allah datang untuk memakan santapan yang telah Anda sediakan bagi-Nya, Ia akan menyantapnya dengan api-Nya yang kudus. Boleh jadi sebelumnya Anda belum pernah mendengar bahwa api itulah sarana Allah untuk memakan santapan-Nya.
Sekarang mengertilah kita bagaimana membesarkan Kristus sebagai lembu jantan untuk kurban penghapus dosa dan sebagai domba untuk kurban bakaran. Seluruh domba itu dibakar. Ini berarti domba itu mutlak bagi Allah. Tak ada bagian dari domba kurban bakaran itu yang diberikan kepada orang yang mempersembahkan atau untuk para imam. Domba itu adalah untuk santapan Allah dan seluruhnya untuk Allah makan.
Jika Anda terus melaksanakan hal mempersembahkan Kristus sebagai kurban penghapus dosa kita, kita akan hidup oleh Kristus sebagai domba, sebagai Yang taat kepada Allah dan yang lemah lembut di hadapan manusia. Kemudian dalam sidang-sidang kita akan memiliki Kristus yang menjadi banyak domba untuk dipersembahkan kepada Allah sebagai santapan bagi kepuasan-Nya.