PENGUDUSAN HARUN DAN ANAK-ANAKNYA UNTUK MENJADI IMAM (12)
Pembacaan Alkitab: Kel. 29:29-46
Keluaran 29:38-40 mengatakan, “Inilah yang harus kau olah di atas mezbah itu: dua anak domba berumur setahun, tetap tiap-tiap hari. Domba yang satu haruslah kau-olah pada waktu pagi dan domba yang lain kauolah pada waktu senja. Dan beserta domba yang satu kauolah sepersepuluh efa tepung yang terbaik dengan minyak tumbuk seperempat hin, dan kurban curahan dari seperempat hin anggur.” Menurut ayat-ayat ini, dua ekor anak domba berumur setahun haruslah dipersembahkan setiap hari, seekor pada pagi hari dan seekor lainnya pada waktu senja. Bersamaan dengan setiap ekor domba, dipersembahkan pula sepersepuluh efa tepung yang terbaik dengan minyak tumbuk seperempat hin dan seperempat hin anggur.
Dalam perlambangan, atau dalam gambaran, anak domba melambangkan Kristus sebagai Persona yang taat kepada Allah dan yang lemah lembut di hadapan manusia.
Ketika Kristus berada di bumi, Ia menempuh suatu kehidupan yang taat dan lemah lembut. Keempat kitab Injil menunjukkan bahwa Kristus di dalam keinsanian-Nya taat dan lemah lembut.
Ketika sebagian orang membaca perkataan tentang kelemahlembutan Kristus ini, mereka mungkin heran apakah Kristus lemah lembut ketika Ia membuat cambuk dari tali dan mengusir penukar-penukar uang dari bait suci (Yoh. 2:15). Kita harus ingat bahwa Kristus adalah almuhit. Sebagai manusia, Ia taat dan lembah lembut. Namun, Ia juga adalah Tuhan dan Tuan. Sebagai Tuan, Ia perlu mengajar umat-Nya. Seorang ayah boleh jadi sangat ramah dan lemah lembut, namun kadang-kadang ia masih perlu mendisiplin anak-anaknya. Seorang ayah tidak seharusnya berkata, “Aku harus selalu menjadi anak domba dalam hubunganku dengan anak-anakku. Karena itu, aku tidak akan mendisiplin mereka.” Dalam hal ini, ia akan menjadi bapa-domba. Namun, di dalam Alkitab tidak ada perkara bapa domba seperti ini. Sebaliknya, Alkitab mewahyukan bahwa Bapa harus mendisiplinkan, mengajar anak-anak-Nya. Karena itu, pengajaran Tuhan terhadap umat-Nya sama sekali tidak mengurangi kelemah lembutan-Nya sebagai seorang manusia.
PENGHASIL HAYAT DAN SUPLAI HAYAT
Marilah kita sekarang melanjutkan membahas barang-barang dari hayat nabati dalam Keluaran 29: gandum, minyak, dan anggur. Dalam buku “Kristus yang Almuhit” (The All-inclusive Christ) kita telah menunjukkan secara rinci bahwa gandum dan jelai, keduanya melambangkan Kristus sebagai suplai hayat kita. Sebagai hayat nabati, Kristus adalah Sang penghasil hayat. Sebutir gandum berguna untuk menghasilkan hayat dan juga untuk menghasilkan makanan. Bila sebutir gandum ditanam ke dalam tanah, biji ini akhirnya akan tumbuh dan menghasilkan gandum. Namun, bila gandum ini digiling menjadi tepung, ia akan cocok untuk dimakan. Karena itu, gandum melambangkan Kristus sebagai penghasil hayat dan juga sebagai suplai hayat.
Dalam Injil Yohanes kita mempunyai wahyu tentang Kristus sebagai penghasil hayat dan suplai hayat. Dalam Yohanes 6:41 Tuhan Yesus berkata, “Akulah roti yang telah turun dari surga.” Di tempat lain pada pasal yang sama, Tuhan menggunakan lima ketul roti jelai dan dua ekor ikan untuk mengenyangkan orang banyak. Selain itu, menurut Yohanes 12:24, Tuhan Yesus adalah sebutir gandum yang jatuh ke tanah untuk menghasilkan banyak butir gandum, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” Dalam Yohanes 6 kita mempunyai suplai hayat, dan dalam pasal 12, kita mempunyai hasil hayat.
Bila kita mempersembahkan Kristus kepada Allah di waktu pagi hari sebagai kurban penghapus dosa kita, kita akan dibawa ke dalam situasi yang jernih dengan Allah. Kita juga akan memiliki hati nurani yang jernih, roh yang bebas, dan suasana yang damai. Dengan sendirinya, sepanjang hari itu Kristus akan menjadi anak domba bagi kita, dan kita akan memperhidupkan Dia sebagai anak domba itu. Lebih dari itu, kita juga akan mengalami Kristus sebagai sebutir gandum. Sewaktu kita memperhidupkan Dia, Dia akan menjadi suplai hayat kita, juga akan menghasilkan sesuatu di dalam kita yang baik untuk dimakan. Inilah jalan untuk mempertumbuhkan Kristus sebagai gandum.
Apakah Anda masih tidak tahu bagaimana mempertumbuhkan Kristus sebagai gandum? Cara untuk mempertumbuhkan Kristus adalah memperhidupkan-Nya sebagai suplai hayat Anda dan sebagai Persona yang menghasilkan hayat di dalam Anda. Perkataan tidak cukup untuk menggambarkan pengalaman ini. Namun, jika kita setiap hari mempersembahkan Kristus sebagai kurban penghapus dosa kita, pengalaman-pengalaman lainnya terhadap Kristus dengan otomatis akan menyusul. Melalui mempersembahkan Kristus kepada Allah sebagai kurban penghapus dosa kita, kita benar-benar menunjukkan bahwa kita serius terhadap Allah. Misalkan pada waktu-waktu yang lampau kita agak sembrono dan tidak serius terhadap Tuhan. Akan tetapi, mempersembahkan Kristus kepada Allah sebagai kurban penghapus dosa membuktikan bahwa kita serius terhadap Tuhan dalam memperhidupkan-Nya. Sebelum itu boleh jadi kita banyak membicarakan tentang memperhidupkan Dia, tetapi tidak berminat dengan serius memperhidupkan Dia. Namun, sejak saat kita dengan tulus hati mempersembahkan Kristus sebagai kurban penghapus dosa, kita menunjukkan bahwa kita serius terhadap Tuhan. Hasil dari mempersembahkan Kristus sebagai kurban penghapus dosa, ialah langit di atas kita menjadi cerah, roh kita bebas, dan dengan spontan Kristus sebagai Roh pemberi-hayat mempunyai tempat di dalam kita untuk bergerak dan berkesempatan menguatkan kita dari dalam. Kemudian dengan spontan kita memperhidupkan Dia sebagai anak domba dan juga sebagai gandum. Dengan cara inilah kita akan membesarkan Kristus sebagai anak domba, dan kita akan mempertumbuhkan Dia sebagai gandum.
KAYA DALAM MAKANAN ROHANI
Semakin kita membesarkan dan mempertumbuhkan Kristus, kita akan semakin memiliki Dia sebagai hayat hewani dan hayat nabati dalam sidang-sidang gereja. Kemudian kita akan kaya dengan makanan rohani, karena kita akan memiliki Kristus sebagai lembu jantan untuk kurban penghapus dosa, sebagai domba untuk kurban bakaran, dan sebagai gandum yang menghasilkan dan menyuplaikan hayat.
Dalam sidang-sidang gereja, kita harus melupakan praktik-praktik agamawi dan tradisional yang usang. Kita jangan lagi berdoa secara tradisional. Sebaliknya, doa-doa kita harus diubah. Ini berarti di dalam doa-doa kita haruslah disebutkan Kristus sebagai lembu jantan untuk kurban penghapus dosa, sebagai domba untuk kurban bakaran, dan sebagai gandum untuk kurban sajian.
Mengenai Kristus sebagai hayat hewani, ternak, Allah hanya memerlukan seekor lembu jantan dan dua ekor anak domba. Namun, kita perlu memiliki suatu cadangan, yaitu satu kawanan, dari Kristus. Jika kita tidak memiliki cadangan Kristus sebagai hayat hewani, bagaimana mungkin kita bisa terus mempersembahkan Kristus sebagai lembu jantan untuk kurban penghapus dosa dan sebagai domba untuk kurban bakaran? Karena itu, sekalipun kita tidak bisa membesarkan banyak Kristus, karena Kristus adalah unik, namun dalam pengalaman, kita dapat membesarkan Kristus sebagai sekawanan dan sebagai sekelompok ternak, sehingga kita bisa memiliki cadangan yang memungkinkan kita mempersembahkan Dia kepada Allah secara berkesinambungan.
Mengenai makanan yang dipersembahkan kepada-Nya, Allah tidaklah rakus. Ia bukannya makan tanpa batas. Dari ternak, hayat hewani, Ia hanya memerlukan dua ekor anak domba. Sedangkan tepung, Ia hanya memerlukan sepersepuluh efa, yaitu satu gomer. Menurut Keluaran 16, satu gomer adalah takaran manna yang diperlukan oleh tiap orang tiap hari. Karena itu, sesungguhnya Allah tidak menuntut suatu kuantitas yang sangat banyak. Jangan kita mengira Allah makan dengan tiada batas. Sebaliknya, Allah menginginkan Anda mempersembahkan kepada-Nya segomer tepung. Akan tetapi, Anda tetap perlu mempunyai suatu cadangan. Tak mungkinlah kita mempertumbuhkan Kristus dalam jangka waktu yang pendek. Karena alasan inilah kita perlu mempunyai cadangan gandum dan tepung. Sekalipun kita memiliki sejumlah besar gandum, tetapi yang sudah digiling menjadi tepung tidaklah banyak, kita tidak mempunyai sejumlah tepung yang cukup untuk kurban sajian. Kita memerlukan suatu cadangan tidak saja gandum, tetapi juga tepung.
KRISTUS SEBAGAI ROH YANG MENGURAPI
Ayat 40 mengatakan bahwa sepersepuluh efa tepung yang terbaik haruslah diolah dengan seperempat hin minyak tumbuk. Kita akan merasa sulit makan roti tanpa beberapa tetes minyak. Biasanya kita mengoleskan mentega di atas roti kita. Demikian pula, ketika Allah makan tepung, juga memerlukan minyak. Kita telah mengetahui bahwa tepung atau gandum melambangkan Kristus sebagai suplai hayat dan sebagai Sang penghasil hayat. Namun, apakah yang dilambangkan oleh minyak? Minyak di sini melambangkan Kristus sebagai Roh pengurapan. Kristus adalah pohon zaitun yang menghasilkan minyak yang melambangkan Roh pemberi-hayat.
Baru-baru ini dalam “Kamus Teologi Perjanjian Baru Kittel”, saya membaca sebagian tentang Kristus yang “his-toris” dan Kristus yang “pneumatis” (seperti udara). Kristus yang historis adalah Persona yang hidup di bumi. Namun, setelah kebangkitan-Nya, Kristus yang historis ini menjadi Kristus yang pneumatis. Istilah Kristus yang pneumatis bukan menunjukkan Kristus yang rohani; sebaliknya, itu menunjukkan Kristus sebagai Roh itu, seperti pneuma. Banyak penulis setuju dengan perkataan dalam Surat-surat Kiriman Paulus, yakni Kristus identik dengan Roh itu, terutama sepanjang menyangkut pengalaman orang Kristen. Jadi, janganlah kita mengira bahwa mengatakan Kristus itu adalah Roh pemberi-hayat merupakan suatu ajaran yang tidak benar.
Beberapa guru Alkitab telah menunjukkan bahwa minyak zaitun adalah lambang Roh Kudus Allah. Akan tetapi, pengertian ini hanya benar sebagian. Minyak zaitun tidak saja melambangkan Kristus sebagai Roh itu. Kristus sebagai Roh itu tidaklah terpisah dari Roh Kudus. Tidak, keduanya adalah satu Roh.
Dalam Keluaran 29, Kristus adalah lembu jantan, anak domba, tepung, dan minyak zaitun. Tidaklah logis bila mengatakan lembu jantan, anak domba, tepung, dan anggur adalah Kristus, tetapi minyak adalah sesuatu yang bukan Kristus. Semua kategori dari benda-benda ini melambangkan Kristus.
Banyak guru Alkitab berusaha memisahkan Roh Kudus dari Kristus. Mereka bersikeras mempertahankan ajaran tradisional tentang tiga Persona yang terpisah dalam Trinitas. Menurut ajaran itu, Kristus Sang Putra terpisah dari Roh Kudus. Orang-orang yang berpegang pada konsepsi itu mengabaikan wahyu Alkitab, yang dinyatakan baik melalui lambang-lambang maupun dengan kata-kata yang jelas, yaitu bahwa Kristus adalah Roh pemberi-hayat.
Perhatian kita bukanlah tertuju pada tradisi atau teologi yang sistematis. Kita hanya memperhatikan fakta-fakta Alkitab serta realitas rohani. Dalam Keluaran 29, terdapat enam macam bahan makanan, tiga dari hayat hewani dan tiga hayat nabati. Tidak seharusnya kita mengatakan bahwa tiga barang dari hayat hewani dan dua barang dari hayat nabati melambangkan Kristus, tetapi barang ketiga dari hayat nabati adalah lambang Roh Kudus, bukan lambang Kristus. Tidak. Minyak di sini melambangkan Kristus sebagai Roh itu. Menurut Alkitab, mengajarkan Kristus adalah Roh itu bukanlah bidah. Sebaliknya, kalau kita menyangkalnya, itu barulah bidah.
Lembu jantan, kedua anak domba, tepung, minyak zaitun, dan anggur, adalah berbagai aspek Kristus. Jika Anda meninjau pengalaman Anda, Anda akan menyadari bahwa ketika Anda mempersembahkan Kristus sebagai kurban penghapus dosa, seluruh situasi di antara Anda dengan Allah akan menjadi jernih. Kemudian Kristus di dalam Anda akan menjadi anak domba yang taat kepada Allah dan lemah lembut di hadapan manusia. Dia juga akan menjadi tepung untuk menghasilkan hayat dan suplai hayat. Pada waktu yang bersamaan, Dia, Sang pengurap akan bergerak di dalam Anda. Kristus itu sendiri adalah lembu jantan, domba, tepung, pohon zaitun yang menghasilkan minyak, dan anggur.
MENGHASILKAN MINYAK ZAITUN
Bagaimanakah kita bisa menghasilkan minyak zaitun? Dengan kata lain, bagaimanakah kita dapat mempertumbuhkan Kristus sebagai pohon zaitun? Kita mempertumbuhkan Dia sebagai pohon zaitun dan menghasilkan minyak zaitun melalui senantiasa melatih roh perbauran kita, yakni roh kita yang telah dilahirkan kembali yang telah berbaur dengan Roh Kudus, dan melalui menggunakan roh perbauran ini. Kita tidak seharusnya berkata atau melakukan sesuatu di luar roh ini. Segala sesuatu yang kita lakukan haruslah di dalam roh. Inilah artinya mempertumbuhkan Kristus sebagai pohon zaitun, dan inilah caranya menghasilkan minyak.
Jika kita dengan serius melaksanakan semua perkara ini, kita akan lebih memahami semuanya ini. Kita akan paham bahwa anak domba, gandum, dan pohon zaitun semuanya tumbuh di dalam kita. Di satu pihak, kita adalah peternakan; di pihak lain, kita adalah ladang pertanian. Di peternakan, lembu-lembu jantan itu dibesarkan dan anak-anak domba memakan rumput lembut. Di ladang pertanian, gandum dan pohon zaitun bertumbuh. Dan hasilnya kita akan mempunyai minyak zaitun yang berlimpah. Setiap orang yang menempuh hidup semacam ini pasti akan dipenuhi dengan minyak dalam kata-kata, sikap, dan segala aktivitasnya.
Dari pengalaman kita mengetahui bahwa jika kita tidak menempuh hidup semacam ini, kita akan menjadi kering, sangat kekurangan minyak. Sebagai contoh, ketika seorang saudara bertengkar dengan istrinya, itu menunjukkan keduanya kering. Mereka sedikit pun tidak mengalami pengurapan. Namun, jika seorang saudara dan istrinya memper-sembahkan Kristus sebagai kurban penghapus dosa mereka, maka kata-kata dan segala kegiatan mereka akan penuh dengan minyak. Di antara mereka akan ada suatu aliran minyak zaitun.
Untuk menjalankan sebuah mesin diperlukan minyak. Motor di dalam mobil Anda memerlukan minyak. Seringkali sebuah mesin yang kekurangan minyak akan menimbulkan suara yang tidak enak didengar. Demikian pula prinsipnya pertengkaran suami dengan istri. Pertengkaran di antara seorang saudara dengan istrinya mengeluarkan suara kekeringan. Namun, jika seorang saudara mempunyai cukup minyak, bahkan pertengkarannya dengan istrinya akan diganti dengan sesuatu yang manis dan menyenangkan. Minyak menjadikan segalanya licin. Mungkin Anda berkata, “Jika kita penuh dengan Roh itu, kita tidak akan berbantah-bantahan.” Kalau demikian, sangatlah bagus. Lalu sebagai pengganti perbantahan, yang ada ialah pujian dan persekutuan.
Kita semua memerlukan minyak zaitun. Jalan untuk memiliki minyak itu adalah mengolah roh perbauran, menggunakan roh kita, dan hidup, bertindak, berbicara, serta melakukan segala sesuatu berdasarkan Roh itu. Dengan demikian kita akan mempunyai minyak yang dicampurkan dengan tepung untuk kurban sajian.
KURBAN CURAHAN
Baiklah kita sekarang memperbincangkan anggur dari kurban curahan. Bila kita mengalami Kristus sebagai Sang penghasil hayat dan suplai hayat, kita akan memiliki Kristus sebagai gandum. Bila kita bertindak di dalam roh dan melakukan segala sesuatu di dalam roh, bersekutu dengan Roh itu, kita akan mempertumbuhkan pohon zaitun. Kemudian jika kita mau mempersembahkan dan mencurahkan Kristus yang telah kita alami, kita akan memiliki Dia sebagai anggur. Inilah cara untuk menghasilkan anggur.
Banyaknya anggur sama dengan banyaknya minyak, seperempat hin. Ini menunjukkan bahwa kita tak dapat menuangkan hayat kita bagi Allah lebih banyak daripada Kristus yang telah kita nikmati. Apa yang kita tuangkan tak dapat melampaui tingkat kenikmatan kita atas Kristus. Minyak adalah untuk kenikmatan, dan anggur adalah untuk dituangkan sebagai kurban curahan kepada Allah. Apa yang kita alami dari Roh itu dalam roh kita seharusnya dituangkan. Janganlah kita menahannya untuk diri kita sendiri.
Menghasilkan minyak berarti hidup berdasarkan Kristus, dan menghasilkan anggur berarti mati bagi Kristus. Memperhidupkan Kristus berarti mempertumbuhkan gandum dan pohon zaitun; mati bagi Kristus berarti menghasilkan anggur. Ini berarti mengubah minyak menjadi anggur. Jadi, kita perlu memperhidupkan Kristus dan juga mati bagi Dia. Kita hidup berdasarkan Dia, dan kita hidup untuk Dia, inilah artinya mengalami Dia sebagai gandum dan minyak zaitun. Namun, kita juga harus mati bagi-Nya. Inilah artinya mengalami Dia sebagai anggur. Dalam 1Korintus 15:31 Paulus berkata, “Tiap-tiap hari aku berhadapan dengan maut.” Dalam 2Korintus 4:11 ia mengatakan bahwa ia terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus. Kita juga perlu ditaruh ke dalam maut setiap hari, bahkan dalam kehidupan pernikahan kita dan kehidupan keluarga kita. Inilah artinya mencurahkan apa yang telah kita alami dan nikmati dari Kristus sebagai anggur. Anggur ini adalah anggur yang rohani dan surgawi yang dicurahkan kepada Allah bagi perkenan-Nya.
MAKANAN UNTUK KEPUASAN ALLAH
Bila kita telah mempunyai anak domba, tepung, minyak, dan anggur, kita mempunyai segala macam bahan untuk suatu pesta. Kita mempunyai hidangan-hidangan tersebut melalui mempersembahkan Kristus setiap hari sebagai kurban penghapus dosa kita. Jika kita berlatih mempersembahkan Kristus secara demikian, kita akan mempunyai satu hati nurani yang bersih dan roh yang bebas. Kemudian Kristus akan hidup di dalam kita sebagai domba, gandum, pohon zaitun, dan anggur. Karena itu, kita akan membesarkan Kristus sebagai domba dan mempertumbuhkan Dia sebagai gandum, pohon zaitun, dan anggur. Sebagai akibatnya kita akan mempunyai hasil tanah permai sebagai bahan-bahan rohani kita. Tatkala kita menghadiri sidang-sidang gereja, kita harus membawa serta bahan-bahan makanan ini. Ini tidak berarti kita harus membawa seluruh yang telah kita hasilkan, melainkan kita harus membawa dua ekor domba, sepersepuluh efa tepung, seperempat hin minyak, dan seperempat hin anggur. Kemudian kita harus mempersembahkan semuanya ini kepada Allah sebagai makanan bagi kepuasan-Nya.