PENGUDUSAN HARUN DAN ANAK-ANAKNYA UNTUK MENJADI IMAM (13)
Pembacaan Alkitab: Kel. 29:38-46
Kita perlu mempunyai kesan yang mendalam terhadap makna semua lambang dalam Perjanjian Lama. Khususnya kita perlu mempunyai pemahaman yang tepat tentang persembahan-persembahan setiap hari untuk pengudusan para imam. Selama tujuh hari, setiap hari diperlukan seekor lembu jantan untuk kurban penghapus dosa, dua ekor anak domba untuk kurban bakaran, (satu dipersembahkan pada pagi hari dan lainnya pada waktu senja), dan bersamaan dengan domba-domba itu ada kurban sajian dan kurban curahan. Kurban sajian terdiri atas tepung gandum yang dicampur dengan minyak. Kurban curahan dibuat dari (arak) anggur yang dihasilkan dari buah anggur. Jika kita meninjau semua lambang ini dalam terang pengalaman kita, kita akan menyadari bahwa maknanya sangat indah.
SIKAP TERHADAP PERLAMBANGAN
Sangat banyak guru Kristen, termasuk sejumlah profesor dalam seminari-seminari dan sekolah-sekolah Alkitab serta pendeta-pendeta dari denominasi, tak begitu memperhatikan perlambangan dalam Perjanjian Lama. Banyak orang menganggap Perjanjian Lama tak lain hanya suatu sejarah atau hanya bertalian dengan orang Israel dan tak ada sangkut pautnya dengan kita, kaum beriman dalam Kristus dalam Perjanjian Baru. Jadi, sikap pertama terhadap perlambangan dalam Alkitab ialah jarang atau sama sekali tidak memperhatikannya.
Sikap kedua agak berbeda. Sikap ini mengira bahwa perlambangan dalam Perjanjian Lama telah digenapi dalam Perjanjian Baru, karenanya tak perlu lagi memperhatikannya. Mereka yang bersikap demikian menyatakan bahwa cukuplah kita memiliki Perjanjian Baru, dan karena itu kita tak perlu membahas lebih lanjut perihal perlambangan dalam Perjanjian Lama.
Sikap ketiga terhadap perlambangan Alkitab berhubungan dengan tafsiran lambang-lambang itu. Sikap ini dipegang oleh mereka yang mengakui adanya lambang-lambang dan lambang-lambang itu patut diperhatikan. Akan tetapi, mereka mengatakan bahwa perlambangan itu terlalu sulit untuk ditafsirkan oleh siapa pun. Mereka menyatakan bahwa ada orang menafsirkan menurut cara begini, lainnya menafsirkan menurut cara begitu. Karena ada perbedaan pengertian terhadap perlambangan, maka mereka yang berpegang pada sikap ketiga mengatakan lebih baik kita tinggalkan semua itu, dan jangan berusaha memahaminya.
Janganlah kita berpegang pada sikap yang mana pun dari ketiga sikap di atas, karena tak satu pun di antara sikap-sikap itu patut diterima. Alkitab mengatakan, “Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci” (Rm. 15:4). Ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa segala sesuatu yang ditulis dalam Perjanjian Lama adalah untuk kita hari ini. Selain itu, dalam 1Korintus 10:6, berkenaan dengan orang-orang Israel di padang belantara, Paulus berkata, “Semuanya ini telah terjadi sebagai contoh bagi kita.” Dalam ayat 11 pada pasal yang sama Paulus meneruskan perkataannya, “Semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu zaman akhir telah tiba.” Ayat-ayat ini pastilah menunjukkan bahwa lambang-lambang dalam Perjanjian Lama adalah untuk kita.
Selain itu, penulis Kitab Ibrani saat membahas lambang tertentu dalam Perjanjian Lama menunjukkan bahwa ia tidak mempunyai cukup waktu untuk mempelajarinya lebih dalam lagi. Sebagai contoh, setelah membicarakan tempat kudus dengan kaki pelita, dan meja, serta tempat maha kudus dengan tabut perjanjian, penulis Kitab Ibrani membicarakan tentang kedua kerub kemuliaan yang menaungi tutup pendamaian, dan kemudian ia mengatakan bahwa “hal ini tidak dapat kita bicarakan sekarang secara terperinci” (Ibr. 9:5). Ini menunjukkan bahwa masih banyak yang dapat dikatakan oleh penulis tentang lambang-lambang tersebut, tetapi ia tak mempunyai cukup waktu untuk mengatakannya. Namun, ketika menulis Kitab Ibrani ia memaparkan suatu contoh untuk membantu kita menafsirkan lambang-lambang dalam Perjanjian Lama. Melalui membaca Kitab Ibrani kita menemukan suatu model yang dapat menolong kita sewaktu kita mempelajari lambang-lambang dalam Perjanjian Lama. Karena Perjanjian Baru menunjukkan nilai lambang-lambang itu bagi kita dewasa ini, maka kita harus menganggap ketiga sikap yang telah kita sebut itu tidak Alkitabiah.
Baiklah kita sekarang meneruskan membahas sikap keempat, suatu sikap yang agak sesuai dengan Alkitab. Akan tetapi, seperti yang akan kita lihat, pandangan tentang lambang ini agak terbatas ketepatannya. Pandangan ini menganggap jika suatu perkara dalam Perjanjian Lama telah diakui dengan tegas dalam Perjanjian Baru itu baru patut dianggap lambang. Menurut pengertian terhadap lambang-lambang seperti ini, jika Perjanjian Baru tidak menunjukkan bahwa perkara itu adalah suatu lambang, maka janganlah kita menganggapnya sebagai suatu lambang. Misalnya, orang-orang yang memiliki pandangan demikian terhadap perlambangan akan menunjuk perkataan Paulus mengenai Sara dan Hagar dalam Galatia 4, sebab pada pasal ini Paulus dengan jelas mengatakan bahwa kedua perempuan tersebut adalah lambang dari dua macam perjanjian. Dengan menunjuk contoh semacam ini, maka orang-orang yang berpegang pada pengertian ini dengan keras mengatakan bahwa kita tak seharusnya menafsirkan segala perkara yang terdapat dalam Perjanjian Lama sebagai suatu lambang dan menerapkannya kepada diri kita kecuali Perjanjian Baru memberi tahu kita bahwa perkara itu adalah suatu lambang. Selain itu, menurut pandangan ini, janganlah kita menerapkan perkara-perkara khusus apa pun dalam Perjanjian Lama kepada Kristus, kecuali Perjanjian Baru mengatakannya demikian.
Namun, ada sebagian orang yang berpegang pada sikap ini memperbolehkan adanya perkecualian. Perkecualian yang terkenal adalah tentang Yusuf dalam Kitab Kejadian. Kebanyakan guru-guru Alkitab, termasuk orang-orang yang berpegang pada keempat sikap terhadap lambang mengakui bahwa Yusuf adalah lambang Kristus. Namun, dalam Perjanjian Baru tak banyak perkataan yang mengatakan bahwa Yusuf melambangkan Kristus. Bagaimanapun, guru-guru Alkitab sepanjang abad menganggap Yusuf adalah lambang Kristus.
Semasa muda, saya menerima sikap yang keempat ini terhadap perlambangan Perjanjian Lama. Saya setuju bahwa kita dapat mengakui adanya perkecualian seperti kasus Yusuf. Namun, kemudian saya mulai ragu mengapa tak terdapat banyak perkecualian lainnya jika memang bisa terjadi suatu perkecualian. Prinsip dalam setiap kasus seharusnya sama. Di satu pihak, orang-orang yang berpegang pada pandangan keempat ini mendirikan suatu tembok yang membatasi penafsiran tentang lambang; di pihak lain, mereka membuka satu pintu sebagai satu perkecualian. Namun, mengapa tak dapat membuka banyak pintu lainnya, bahkan beratus-ratus pintu lainnya? Setelah mempertimbangkannya lebih lanjut selama bertahun-tahun, saya menyimpulkan bahwa sikap keempat terhadap perlambangan ini tidak begitu tepat.
Ada lagi sikap yang kelima terhadap perlambangan dalam Perjanjian Lama. Menurut pandangan ini, lambang-lambang dalam Perjanjian Lama hanya sebagian yang bisa diterapkan ke dalam Perjanjian Baru. Ambillah satu contoh dari sejarah orang-orang Israel. Hampir semua guru fundamental mengerti hari Paskah dalam Keluaran 12 adalah lambang Kristus sebagai Paskah kita. Paulus dengan jelas mengatakan dalam 1Korintus 5:7 bahwa Anak Domba Paskah kita, Kristus, telah disembelih untuk kita. Jadi, mengenai lambang ini tak ada celah untuk diperdebatkan. Juga, sekalipun tak ada kata-kata yang jelas dan tegas dalam Perjanjian Baru yang mengatakan bahwa manna adalah suatu lambang. Namun, dalam Yohanes 6, ada suatu isyarat bahwa manna melambangkan Kristus sebagai makanan kita setiap hari. Dalam Yohanes 6 Tuhan Yesus berkata bahwa Ia adalah roti dari surga, roti hayat, roti hidup, yang turun untuk memberikan hayat kepada dunia. Di dalam terang ini, orang-orang yang menerapkan sebagian lambang-lambang dalam Perjanjian Lama ke atas Perjanjian Baru menyetujui bahwa manna adalah lambang Kristus. Karena dalam 1Korintus 10 Paulus memberi tahu kita bahwa batu karang yang menyertai orang-orang Israel di padang gurun itulah Kristus. Banyak guru Alkitab juga mengatakan bahwa batu karang yang mengalirkan air, itu juga lambang Kristus. Banyak pula yang mengangap penyeberangan Laut Merah sebagai suatu lambang baptisan (1Kor. 10:1-2). Akan tetapi tidaklah banyak yang memahami penyeberangan Sungai Yordan mengandung makna perlambangan. Penyeberangan Sungai Yordan sering ditafsirkan sebagai suatu gambaran dari kematian jasmani kaum beriman. Bahkan orang-orang yang tidak setuju dengan penafsiran perlambangan Perjanjian Lama menganggap penyeberangan Sungai Yordan sebagai lambang kematian dan kepergian kaum beriman ke surga. Sejumlah nyanyian tentang hal ini telah ditulis, khususnya ada satu nyanyian yang mengatakan fakta cepat atau lambat semua orang beriman harus melewati gelombang Sungai Yordan yang dingin. Akan tetapi, dalam penafsiran ini terkandung suatu problem yang serius. Jika penyeberangan Sungai Yordan adalah lambang kematian tubuh jasmani kita, bagaimana mungkin Tanah Kanaan dapat melambangkan surga? Kita harus ingat, di Tanah Kanaan penuh dengan musuh yang menentang, karenanya orang-orang Israel harus berperang melawan mereka. Jika Kanaan melambangkan surga, itu berarti di surga masih ada musuh-musuh. Namun, situasinya sesungguhnya tidak demikian. Karenanya penafsiran tentang penyeberangan Sungai Yordan semacam itu tidaklah tepat.
Banyak guru Alkitab yang menganggap permulaan sejarah orang Israel adalah suatu lambang. Namun, mereka tidak menafsirkan secara perlambangan tentang pembuangan ke Babel serta kembalinya dari tawanan itu. Beberapa guru di antara Kaum Saudara dan mungkin beberapa orang lainnya menganggap kisah tertawan serta kembalinya mereka dari Babel adalah suatu lambang.
Kita harus menerima Perjanjian Lama sama seperti kita menerima Perjanjian Baru. Perjanjian Lama adalah sebuah kitab gambaran, dan Perjanjian Baru adalah sebuah kitab yang menerangkan gambaran ini. Karena itu, janganlah kita hanya menerima bagian yang memberikan penjelasan dan mengabaikan bagian yang menyajikan gambaran-gambaran. Janganlah pula kita hanya menerima bagian-bagian atau aspek-aspek tertentu dari kitab gambaran itu. Hanya menerima sebagian saja dari Perjanjian Lama sebagai kitab gambaran itu masih tidak cukup. Sebaiknya, sikap kita haruslah mutlak. Ini berarti kita harus mutlak dalam menerima Perjanjian Lama sebagai sebuah kitab gambaran untuk kita hari ini.
Akan tetapi, sudah pasti hal ini tidak berarti kita menerima Perjanjian Lama tanpa memiliki suatu pengertian yang tepat terhadap pengelolaan Allah. Sebagai contoh, jangan kita menerima hukum Taurat, khususnya Sepuluh Perintah Allah, dalam pengertian yang sama dengan ketika hukum-hukum itu diberikan kepada orang Israel. Berkenaan dengan ini, golongan Advent Hari Ketujuh mempunyai suatu problem atas hari ketujuh. Mereka menyatakan bahwa hukum Taurat mengenai hari Sabat masih berlaku atas kaum beriman Perjanjian Baru. Pada saat ini saya tidak ingin berdebat. Tujuan saya ialah menunjukkan bahwa sikap kita terhadap seluruh Perjanjian Lama ialah menanggapinya menurut pengelolaan Allah. Karena itu, demikianlah seharusnya sikap dan pengertian kita ketika kita membahas lambang-lambang dalam Keluaran 29.
SUATU GAMBARAN KRISTUS
Renungkanlah gambaran dalam pasal ini. Kita memiliki seekor lembu jantan untuk kurban penghapus dosa, dua ekor domba untuk kurban bakaran, minyak dan tepung untuk kurban sajian, dan anggur untuk kurban curahan. Ketika Anda merenungkan hal-hal tersebut, tidakkah Anda merasa bahwa kesemuanya ini sangat berarti dan bermakna? Bagi saya, gambaran-gambaran ini sungguh sangat bermakna. Akan tetapi, saya ingin menunjukkan dengan tegas bahwa penafsiran saya terhadap gambaran-gambaran atau lambang-lambang ini bukanlah yang dihasilkan oleh imajinasi angan-angan alamiah manusia. Dalam Keluaran 29 kita mempunyai sebuah gambaran: Lembu jantan untuk kurban penghapus dosa, dua ekor domba untuk kurban bakaran, tepung, minyak, dan anggur kesemuanya ini adalah bagian-bagian dari gambaran tersebut. Kecuali Anda memiliki sedikit pengetahuan dan pengalaman, Anda tidak mungkin dapat mengetahui bagaimana menafsirkan gambaran ini. Sudah tentu, orang yang belum beroleh selamat dan belum dilahirkan kembali, serta orang yang tidak memiliki pengetahuan Alkitab yang cukup, tidaklah berdaya untuk memahami gambaran ini. Ia bisa melihat lembu jantan, dua ekor domba, tepung, dan anggur, tetapi ia tidak mengetahui makna kesemuanya itu. Ia tak dapat berbuat apa-apa selain menunjukkan daftar dari barang-barang dalam Keluaran 29 itu. Akan tetapi, karena barang-barang ini tertulis dalam Kitab Suci, maka perlulah kita membahasnya dengan serius dan menyadari bahwa gambaran ini menyajikan sesuatu yang sangat bermakna terhadap diri kita sebagai kaum beriman di dalam Kristus.
Jika kita telah mengalami keselamatan Tuhan dan memiliki sejumlah pengalaman dalam kehidupan kristiani dan kemudian membaca Keluaran 29, kita akan mengetahui bahwa lembu jantan, domba, tepung, minyak, dan anggur semuanya menggambarkan pelbagai aspek dari Kristus yang almuhit. Berulang-ulang telah kita tunjukkan bahwa lembu jantan melambangkan Kristus sebagai kurban penghapus dosa kita. Dalam alam semesta tak ada yang lain selain Kristus itu sendiri yang dapat menjadi kurban penghapus dosa kita. Menurut Keluaran 29, domba-domba adalah untuk kurban bakaran. Domba-domba itu melambangkan Kristus sebagai kurban bakaran kita. Hanya Dialah yang memenuhi syarat menjadi kurban bakaran.
Memahami makna tepung yang dicampur dengan minyak dan anggur yang dicurahkan sebagai kurban curahan itu lebih sulit. Tepung halus yang dicampur dengan minyak adalah untuk kurban sajian. Sudah tentu kurban sajian adalah baik untuk dimakan, dan anggur adalah untuk minuman. Jika kita setia dan menyelidiki firman, akhirnya kita akan mengetahui makna dari kurban sajian dan kurban curahan. Sudah pasti, tepung menggambarkan Kristus sebagai makanan kita. Pertama-tama Dia adalah sebiji gandum. Kemudian gandum digiling menjadi makanan. Selanjutnya, berdasarkan Alkitab, Roh Kudus, dan pengalaman-pengalaman kita, kita dapat menemukan makna tepung, minyak, dan anggur. Alkitab dan Roh Kudus dapat diibaratkan seperti dua buah rel kereta api. Kita boleh menempuh perjalanan sepanjang rel-rel ini hingga kita sampai pada tujuan kita itulah pemahaman yang tepat terhadap lambang-lambang dalam Keluaran 29. Sudah pasti, tepung melambangkan Kristus sebagai hayat yang menjadi suplai hayat untuk makanan kita setiap hari. Seperti yang telah kita tunjukkan, minyak melambangkan Roh itu. Namun, apakah anggur itu? Anggur adalah untuk kepuasan Allah. Anggur dicurahkan di hadapan Allah sebagai minuman-Nya.
Sewaktu kita merenungkan semua hal ini, kita menyadari, sangat bermakna sekali semuanya itu dibeberkan bersama-sama. Semua itu dapat diibaratkan seperti gambar susun. Bila semua potongan gambar itu disusun dengan tepat, kita akan memperoleh sebuah gambaran. Demikian pula, bila kita meletakkan semua barang Perjanjian Lama ini, dalam roh, kita akan melihat suatu gambaran dari Kristus. Apa yang diwahyukan dalam gambaran ini melebihi apa yang dapat dilukiskan dengan perkataan. Sebagai contoh, melalui sebuah foto diri seseorang, kita dapat mengetahui bagaimana rupa orang itu. Akan tetapi, jika dengan kata-kata, sekalipun kita berusaha menggambarkan wajahnya dengan ribuan kata, tetaplah kita belum mempunyai pengenalan yang tepat atas penampilannya. Wajah seseorang hanya dapat diperlihatkan melalui sebuah foto, bukan melalui gambaran dalam kata-kata. Saya menggunakan ilustrasi ini untuk menunjukkan pentingnya menyelidiki lambang-lambang dalam Perjanjian Lama. Lambang-lambang itu melukiskan perkara-perkara yang tak dapat diutarakan dengan kata-kata.
Sebagai seorang yang telah menjadi orang Kristen dan mempelajari Alkitab lebih dari lima puluh tahun, saya ingin bersaksi, jika kita tidak mempunyai Perjanjian Lama, kita akan kehilangan banyak pengertian rohani. Kita tak dapat memahami perkara-perkara rohani dengan secukupnya jika kita hanya membaca Perjanjian Baru saja. Kita perlu gambaran-gambaran dalam Perjanjian Lama seperti halnya kita memerlukan definisi-definisi dan kata-kata yang jelas dalam Perjanjian Baru. Karena itu, kita semua perlu memiliki suatu perhatian yang memadai terhadap Perjanjian Lama. Kita perlu terkesan dengan makna gambaran-gambaran dalam Perjanjian Lama, sehingga kita memandangnya lebih tinggi daripada yang kita miliki sekarang. Menurut pengertian saya, kebanyakan orang Kristen, termasuk banyak di antara kita, tidak mempunyai perhatian yang cukup terhadap Perjanjian Lama. Kurangnya perhatian ini terutama disebabkan oleh pengaruh latar belakang keagamaan kita.
Banyak orang Kristen bahkan tidak menggunakan Perjanjian Baru dengan sesungguhnya dalam pengertian rohani atau secara rohani. Sebaliknya, mereka menggunakannya dengan cara yang agamawi, menurut cara yang alamiah, secara etis, atau secara kebudayaan. Sebagai contoh, Perjanjian Baru memberi tahu kita bahwa kita perlu beriman. Akan tetapi, ada sebagian orang menerima perkataan ini secara alamiah dan menyatakan bila kita mempunyai iman, kita akan berhasil dalam apa pun yang kita kerjakan. Inikah jenis iman yang diwahyukan dalam Perjanjian Baru? Sudah pasti bukan. Juga, Perjanjian Baru memerintahkan kita untuk mengasihi sesama kita. Namun, perintah tentang mengasihi ini boleh jadi ditafsirkan secara alamiah atau secara agamawi, tidak secara rohani yang murni. Semasa muda, saya mendengar banyak khotbah di mana ayat-ayat Alkitab digunakan sebagai dasar seseorang untuk mengekspresikan opininya yang sesuai dengan latar belakang kebudayaannya. Praktik-praktik semacam ini masih dilakukan sampai hari ini. Sekali demi sekali, ayat-ayat ini dikutip dari Alkitab hanya untuk tujuan-tujuan tertentu. Banyak orang tidak mengetahui bagaimana menggunakan Alkitab menurut pikiran Allah.
Sekalipun kita mengetahui Perjanjian Baru menurut pikiran Allah, namun kita tetap memerlukan Perjanjian Lama. Hanya dengan Perjanjian Baru saja belumlah cukup. Kata-kata penjelasan yang terang tidaklah cukup bagi kita untuk memahami wahyu Allah. Seiring dengan keteranganketerangan dan definisi-definisi dalam Perjanjian Baru, kita pun memerlukan lambang-lambang, gambaran-gambaran dalam Perjanjian Lama.