PENGUDUSAN HARUN DAN ANAK-ANAKNYA UNTUK MENJADI IMAM (14)
Pembacaan Alkitab: Kel. 29:29-46
Dalam berita-berita sebelumnya kita telah menekankan nilai lambang-lambang dalam Perjanjian Lama, kita juga telah membahas perbedaan sikap terhadap lambang-lambang tersebut. Di samping adanya kata-kata jelas dalam Perjanjian Baru, kita juga memerlukan lambang-lambang, gambaran-gambaran dalam Perjanjian Lama; khususnya kita perlu memperhatikan lambang-lambang Kristus yang disajikan dalam Keluaran 29. Jika kita menerapkan gambaran Kristus ke atas pengalaman kita, kita akan menikmati Kristus lebih banyak dan mengetahui bagaimana mempertumbuhkan Kristus serta menghasilkan Dia, sehingga kita dapat mempersembahkan Dia kepada Allah di dalam sidang-sidang gereja.
PERUBAHAN YANG RADIKAL DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI KITA
Saya harap semua orang beriman dalam pemulihan Tuhan mau membuang latar belakang keagamaan mereka yang usang, sebab setidak-tidaknya pada suatu tahap, disadari atau tidak, latar belakang ini telah mempengaruhi kaum beriman. Bila mereka datang bersidang, banyak yang masih dipengaruhi oleh latar belakang keagamaan ini. Karena pengaruh ini, mereka datang ke sidang hanya duduk-duduk dan bernyanyi bersama. Orang-orang lainnya mungkin mempersembahkan doa atau bersaksi. Sudah tentu ini adalah suatu kemajuan. Namun, situasi sidang-sidang masih terlalu banyak di bawah pengaruh dari apa yang kita warisi dari kekristenan tradisional. Kita seharusnya memandang warisan ini, pengaruh ini, sebagai suatu kebudayaan usang yang perlu kita buang.
Dalam berita-berita mengenai Keluaran 29 ini kita telah membahas pengudusan orang beriman sebagai imam untuk melayani Allah. Ini berhubungan dengan masalah bagaimana bersidang. Apa yang diwahyukan melalui lambang-lambang dalam Keluaran 29 mutlak berbeda dari praktik kekristenan tradisional. Karena alasan inilah saya menganjuri kalian untuk mengesampingkan latar belakang kalian yang usang dan menerima sesuatu yang baru sesuai dengan gambaran dalam Keluaran 29.
Menjelang akhir Keluaran 29 kita melihat lembu jantan untuk kurban penghapus dosa, domba-domba untuk kurban bakaran, tepung dan minyak untuk kurban sajian, sedang anggur untuk kurban curahan. Praktik kita setiap hari haruslah sesuai dengan apa yang diwahyukan dalam lambang-lambang ini. Ini berarti di dalam kehidupan kita, haruslah kita mengalami Kristus atas semua aspek tersebut. Janganlah lagi menempuh kehidupan kristiani yang usang. Perjanjian Baru telah menjelaskan apakah kehidupan orang Kristen itu. Akan tetapi, Perjanjian Baru tidak memberikan rinciannya. Rinciannya telah digambarkan dalam lambang-lambang Perjanjian Lama. Di sini, dalam Keluaran 29 kita mempunyai sebuah gambaran yang menunjukkan bahwa kita setiap hari memerlukan seekor lembu jantan, dua ekor domba, tepung, minyak, dan anggur. Di manakah kurban penghapus dosa dalam kehidupan kristiani Anda? Di manakah domba-domba, tepung halus, minyak, dan anggur? Mungkin Anda tidak mempunyai suatu pun dari semuanya itu dalam kehidupan sehari-hari Anda. Aspek-aspek Kristus telah digambarkan di dalam Alkitab, namun semuanya tidak menjadi bagian dari pengalaman Anda; semuanya tidak terdapat dalam kehidupan sehari-hari Anda. Mungkin cara kita menempuh kehidupan kristiani kita bersumber pada etika, kebudayaan, agama, dan konsepsi alamiah, sama sekali bukan tersusun dari unsur-unsur yang digambarkan dalam Keluaran 29. Boleh jadi kita seperti pelajar-pelajar Alkitab mempelajari Perjanjian Lama yang mengkaji lambang-lambang dalam Keluaran 29, tetapi tidak hidup menurut lambang-lambang tersebut. Kita tidak mempersatukannya dengan kehidupan sehari-hari kita. Apakah maksud gambaran lembu jantan, domba-domba, tepung, minyak, dan anggur? Sudah pasti itu semua bukan untuk menyusun Alkitab belaka, melainkan merupakan suatu gambaran dari apa yang harus kita alami dalam kehidupan sehari-hari kita.
Tidak mustahil sekalipun kita telah bertahun-tahun menerima suplai ministri Tuhan, tetapi kita tidak menerapkan wahyu yang telah kita terima ke dalam kehidupan sehari-hari. Jika situasi kita demikian, kita hanya mempunyai ministri dalam pendengaran, pengetahuan, atau pembacaan, tetapi bukan dalam kehidupan kita. Tidak hanya demikian, apa yang kita miliki dalam kehidupan kristiani kita mungkin bersumber dari tradisi. Bahkan apa yang kita peroleh dari ministri Tuhan pun tak lain hanya mempengaruhi cara menempuh kehidupan kristiani kita yang tradisional. Itu tidak akan membawa kita ke suatu perubahan yang radikal, ke suatu perombakan dalam kehidupan sehari-hari kita. Gambaran dalam Keluaran 29 harus membawa suatu perubahan yang radikal dalam kehidupan kristiani kita. Gambaran tersebut harus membuat kita tidak lagi menempuh suatu kehidupan sehari-hari yang tradisional.
Kita boleh menjelaskan apa yang kita maksudkan dengan tradisi dari praktik-praktik agama Katolik. Menurut aturan Katolik, seorang beriman harus pergi mengaku dosa dan kemudian menghadiri misa secara rutin. Selain itu, bila seorang wanita berada di gedung gereja, ia diharuskan memakai penutup di atas kepalanya. Juga menurut tradisi Katolik, mungkin ada sebagian orang yang membeli lilin dan menempatkannya di depan sebuah patung. Inilah cara-cara Katolik menurut tradisi. Sekalipun Anda tidak mengikuti tradisi semacam ini, tetapi pada prinsipnya cara Anda menempuh kehidupan kristiani Anda mungkin juga tradisional. Karena itu, saya berharap ketika kita membicarakan mengenai bagaimana bersidang dan bagaimana menjadi imam yang melayani Tuhan, kita dapat menerapkan semua perkara dalam Keluaran 29 ke dalam kehidupan sehari-hari kita. Kiranya semua hal ini mendatangkan suatu revolusi dalam kehidupan kristiani kita. Khususnya kita perlu dirombak dalam doa kita.
Saya dapat bersaksi bahwa saya masih tetap belajar bagaimana menempuh kehidupan orang Kristen yang wajar. Saya akui bahwa saya dulu sangat terpengaruh oleh tradisi. Kita tidak tahu betapa dalamnya kita berada dalam tradisi. Sewaktu kita berupaya meninggalkan tradisi, kita menyadari bahwa hal itu bukan main sulitnya.
Dalam Keluaran 29, lembu jantan melambangkan Kristus sebagai kurban penghapus dosa kita, dan kedua ekor domba melambangkan Kristus sebagai kurban bakaran kita. Saya menganjuri Anda untuk berlatih mempersembahkan Kristus kepada Allah sebagai kurban penghapus dosa Anda dan juga sebagai kurban bakaran Anda. Saya juga ingin mendorong Anda untuk menikmati Kristus sebagai kurban sajian, sebagai tepung halus yang dicampur dengan minyak, bahkan mengalami Dia sebagai anggur untuk dicurahkan kepada Allah sebagai kurban curahan sehari suntuk.
BERDOA DENGAN SPONTAN DAN AKRAB
Karena agak sulit untuk memahami perkara-perkara ini serta mempraktikkannya, maka biarlah saya coba menerangkan lebih lanjut apa yang saya maksudkan. Saya tidak berkata bahwa Anda harus mengerjakan sesuatu menurut hukum Taurat. Tuhan itu hidup dan hadir, dan kita mengasihi Dia. Ia hadir bersama kita dan kita hadir bersama-Nya. Bukankah Tuhan itu hidup dan hadir? Dan bukankah Anda juga hidup dan hadir? Karena itu, baik Anda maupun Tuhan adalah hidup dan hadir terhadap satu sama lain. Harus ada komunikasi secara spontan antara Anda dengan Tuhan. Tatkala Anda dan Tuhan menikmati hubungan semacam ini, Anda akan menyadari bahwa Anda tetap berdosa, dan Anda akan mempersembahkan kurban penghapus dosa.
Hidup dalam hadirat Tuhan akan membuat kita menyadari fakta berdosanya kita, bahkan kita adalah dosa itu sendiri. Jika kita tidak mempunyai perasaan ini sewaktu kita berada di hadirat Tuhan, pastilah ada sesuatu yang tidak beres. Sudah tentu pada Tuhan tak mungkin ada ketidakberesan apa pun, yang tidak beres pastilah di pihak kita. Namun, jika situasi kita normal, maka mungkin hal pertama yang akan kita lakukan ialah berkata demikian, “Oh Tuhan, aku masih berada di dalam ciptaan lama, masih berada di dalam diriku sendiri, sifat lamaku, dan di dalam daging. Tuhan, aku mengakui bahwa aku ini berdosa. Terima kasih Tuhan, karena Engkau telah mati bagiku di kayu salib sebagai kurban penghapus dosa. Tuhan, kini dalam hadirat-Mu, aku meletakkan tanganku ke atas-Mu dan menerapkan Engkau sebagai kurban penghapus dosaku sekarang.” Ini berarti menerima Kristus sebagai kurban penghapus dosa secara spontan, bukan dengan cara legalitas atau hukum Taurat.
Suatu doa yang spontan yang di dalamnya kita menerapkan Kristus sebagai kurban penghapus dosa kita adalah suatu pujian yang sejati kepada Tuhan. Bila kita berdoa sedemikian, berarti kita memberikan penghargaan yang terbaik kepada-Nya. Doa seperti ini berbeda dengan doa pada umumnya yang menurut tradisi atau kebiasaan yang agamawi. Berikut ini adalah contoh dari suatu doa yang sangat umum, yang mungkin dipersembahkan menurut kebiasaan, “Tuhan, aku adalah orang yang berdosa. Aku bersyukur kepada-Mu karena darah adi-Mu yang sekarang dapat kuterapkan pada diriku.” Doa seperti ini memang bagus, tetapi ungkapan ini menunjukkan bahwa orang yang berdoa seperti ini setidak-tidaknya pada tingkat tertentu masih berada di bawah pengaruh tradisi. Akan tetapi, jika kita menerapkan Kristus sebagai kurban penghapus dosa dengan cara yang telah digambarkan di atas, itu merupakan suatu tanda bahwa kita tidak berada di bawah pengaruh tradisi, melainkan di bawah sorotan terang Tuhan.
Bila kita dan Tuhan, sebagai persona-persona yang hidup, bersama-sama di dalam persekutuan, maka ada sesuatu yang akan beroperasi di dalam kita dan menyadarkan kita bahwa Tuhan itu baru, sedang kita ini usang. Kemudian kita akan berkata, “Ya Tuhan, Engkau begitu kudus dan segar, tetapi aku ini usang. Aku hidup di dalam ciptaan lama, dan aku masih berada di dalam daging dan dalam sifatku yang lama. Aku adalah seorang yang berdosa bahkan aku adalah dosa itu. Sekalipun aku telah diselamatkan dan dilahirkan kembali, aku tetap berdosa.” Inilah suatu kesadaran yang timbul secara spontan ketika kita melakukan kontak yang sungguh-sungguh dan akrab dengan Tuhan. Ini bukan suatu doa yang biasa, yang menurut tradisi, yang dipersembahkan menurut hukum Taurat. Sebaliknya, ini adalah cara berbicara yang akrab dengan Tuhan. Selanjutnya, kita akan berkata pula, “Tuhan, aku berterima kasih kepada-Mu karena Engkau telah menjadi dosa untukku. Sewaktu Engkau mati di atas salib, Engkau telah menghukum dosa. Tuhan, aku berterima kasih karena Engkau telah menghukum dagingku.” Doa seperti ini bukan menurut tradisi, melainkan mengucapkan kata-kata yang penuh kasih, akrab kepada Tuhan di bawah sorotan terang-Nya. Ungkapan yang demikian ini adalah menurut perasaan dalam lubuk batin kita.
Sering kali dalam praktik yang sesungguhnya cara kita berbicara kepada Tuhan sangat berbeda dengan cara kita berbicara dengan anggota keluarga kita. Kita tidak berbicara kepada-Nya dengan akrab, melainkan berbicara secara formal, bahkan mungkin berbicara seperti orang main sandiwara. Datang ke hadapan Tuhan dengan cara yang demikian sama sekali tidak menyenangkan. Mengapa Anda tidak berkontak degan Tuhan dengan cara yang hidup, spontan, dan akrab, sama dengan cara Anda berkontak dengan orang-orang yang dekat dengan Anda? Ketika Anda melihat suami atau istri Anda, pasti Anda tidak berbicara secara formal. Sebaliknya, Anda berbicara dengan penuh kasih, dan spontan. Kita pun harus berbicara dengan Tuhan dengan cara demikian.
Pernahkah Anda perhatikan bahwa di dalam kitab-kitab Injil murid-murid berdoa kepada Tuhan Yesus tidak dengan cara yang agamawi, formal, atau tradisional? Sebaliknya murid-murid itu berdoa melalui berbicara kepada Tuhan dengan akrab dan penuh kasih. Kita harus belajar dari contoh itu untuk menghentikan cara berdoa kita yang usang, dan menempuh kehidupan yang sesuai dengan apa yang terlukis dalam Keluaran 29.
MENDENGAR DAN BERBICARA
Saya telah belajar dari pengalaman betapa indahnya akrab dengan Tuhan dan bersatu dengan-Nya. Kadang-kadang janganlah kita yang berbicara terlebih dulu kepada-Nya. Kita harus membiarkan Tuhan berbicara dulu. Bila Ia berbicara, janganlah kita segera menjawab. Ini berarti kita dengan Tuhan seharusnya seperti teman yang mengambil waktu untuk saling mendengarkan. Misalnya, seorang teman mengunjungi Anda dan mulai bercakap-cakap dengan Anda mengenai perkara-perkara tertentu. Jika Anda memotong perkataannya dan membicarakan hal lain, itu menunjukkan bahwa Anda tidak memperhatikan apa yang sedang dibicarakannya. Itu bukanlah cara teman-teman yang akrab bercakap-cakap. Cara yang wajar ialah: teman Anda berbicara kepada Anda, dan Anda mendengarkan. Kemudian, setelah lewat sejenak, ia akan memberi Anda kesempatan untuk berbicara, dan ia akan mendengarkan. Sudah tentu tidaklah wajar jika ia saja yang berbicara, setelah selesai berbicara lalu mengatakan selamat tinggal dan ia pergi. Ia harus memberi Anda kesempatan untuk berbicara kepadanya. Demikian jugalah seharusnya hubungan kita dengan Tuhan.
Pada pagi hari, ketika Anda bersama Tuhan, mungkin Ia yang mulai berbicara kepada Anda. Di samping Ia berbicara, Ia juga menerangi, sebab perkataan-Nya adalah penerangan bagi kita. Ada kalanya Ia mendorong Anda. Pada kesempatan lain, boleh jadi Ia menegur Anda, atau bahkan menghardik Anda. Tetapi tak peduli apa yang dikatakan-Nya, Anda harus mendengarkan Dia. Kemudian Ia akan memberi Anda waktu untuk berbicara. Saya sangat yakin bahwa apa pun yang Anda katakan pasti ada di dalam lingkungan kurban penghapus dosa. Anda mungkin menjawab Dia dengan berkata, “Tuhan, aku adalah dosa, tetapi Engkau adalah kurban penghapus dosaku. Engkau telah menjadi dosa bagiku, dan Engkau mati di atas salib untuk menghukum dosa. Betapa aku berterima kasih kepada-Mu karena darah-Mu yang adi ialah darah yang Kau tumpahkan sebagai kurban penghapus dosaku. Ya Tuhan, betapa aku memustikakan darah ini!” Berbicara kepada Tuhan secara demikian ini akan menyebabkan Anda sangat mengasihi Dia. Anda akan merasa bahwa Anda belum pernah mengasihi Dia sebanyak sekarang ini. Lagi pula, Anda akan memberikan apresiasi yang paling tinggi kepada-Nya. Semuanya ini akan membuat Anda menempuh kehidupan setiap hari dengan menikmati Tuhan. Khususnya, Anda akan menikmati-Nya sebagai tepung halus yang merawat Anda serta menyuplai hayat Anda. Pula, dengan spontan Anda akan hidup dan bertindak di dalam roh, dan berbicara di dalam roh. Dengan jalan ini Anda akan menikmati Kristus sebagai minyak zaitun. Kemudian Anda akan rela mempersembahkan diri Anda untuk Tuhan dan untuk orang lain. Ini berarti menempuh kehidupan yang di dalamnya kita menuangkan Kristus sebagai anggur. Dengan cara inilah Anda akan memiliki seekor lembu jantan, dua ekor domba, dan sejumlah tepung, minyak, serta anggur.
CARA PERSIDANGAN KITA
Jika Anda datang ke sidang gereja dengan Kristus dalam aspek-aspek tersebut, maka Anda tidak akan datang dengan cara tradisional, cara yang umum, cara yang sesuai dengan latar belakang yang agamawi. Tidak, cara Anda datang ke setiap sidang dan berfungsi di dalam sidang akan berbeda sama sekali. Saya tidak tahu apa yang akan Anda lakukan, tetapi saya percaya bahwa dengan spontan Anda akan mempersembahkan puji-pujian kepada Tuhan dan mempersaksikan Dia. Alkitab mewahyukan bahwa apa saja yang memenuhi kita akhirnya akan meluap keluar. Ini berarti jika kita dipenuhi dengan Kristus, kita akan menuangkan-Nya keluar dengan puji-pujian dan kesaksian.
Cara sidang kita masih terlalu formal dan tradisional. Misalnya, mungkin kita mengira bahwa kesaksian-kesaksian itu seharusnya diberikan pada akhir sidang. Menurut konsepsi ini, jika kita bersaksi pada awal sidang, kita akan melanggar kaidah-kaidah atau peraturan-peraturan sidang. Sebenarnya tidak ada peraturan yang mengatakan kita harus bersaksi pada akhir dan bukan pada awal sidang. Jika peraturan ini ada, itu ada di dalam kaum beriman sebagai peraturan buatan kaum beriman itu sendiri. Misalnya kita datang ke suatu sidang gereja atau ke suatu sidang ministri dan bersaksi satu per satu. Mungkin karena begitu banyaknya kesaksian yang diutarakan sehingga tidak ada lagi kesempatan untuk seseorang menyampaikan berita. Akan tetapi, maksud saya berkata demikian bukan untuk memberikan suatu usul mengenai cara bersidang. Beban saya adalah menunjukkan betapa formal, agamawi, alamiah, dan tradisionalnya kita ini. Tujuan saya adalah menunjukkan bahwa kita masih berada di bawah pengaruh kekristenan yang tradisional. Dalam praktik kita setiap hari dan dalam sidang-sidang, kita perlu melepaskan diri dari pengaruh tersebut.
DUA KEBUDAYAAN
Saya ingin mengambil sebuah contoh dari pengalaman saya, betapa saya telah beralih dari kebudayaan orang Timur kuno saya ke kebudayaan Barat yang modern. Akibat dari sering berkontak dengan orang-orang Barat, maka keluarga saya mulai dipengaruhi oleh kebudayaan Barat. Akan tetapi, pengaruh kebudayaan Timur yang kolot demikian kuatnya sehingga perlu sejangka waktu barulah kami dapat mengikuti pola modern itu. Ketika kita berada dalam suatu situasi di mana kita harus memilih di antara kedua kebudayaan itu, kita perlu memakai daya pembeda untuk mengenal manakah yang lebih baik. Sejak masa muda saya mulai memahami bahwa kebudayaan modern lebih baik daripada kebudayaan tradisional. Namun, sebagian besar dari orang-orang China tidak menyadari hal ini, malah menentang kebudayaan modern. Saya menggunakan hal ini sebagai suatu ilustrasi dari situasi kita hari ini. Hari ini ada dua suasana, yang satu lebih umum daripada yang lain. Suasana yang lebih umum ialah dari kekristenan; sedang lainnya adalah dari pemulihan Tuhan. Kita perlu daya pembeda yang tepat untuk mengetahui dalam suasana manakah seharusnya kita berada, dalam suasana kekristenan atau dalam pemulihan Tuhan.
DENGAN RIIL MENGALAMI KRISTUS
Kristus itu hidup, hadir, dan riil. Dalam realitas dan dalam keadaan yang sebenarnya, Dia adalah kurban penghapus dosa, kurban penebus salah, dan kurban bakaran kita. Dia adalah tepung halus untuk kurban sajian yang terdiri dari tepung yang dicampur dengan minyak, yang menandakan Roh pemberi-hayat. Ia juga adalah anggur yang memenuhi kita dan yang kita curahkan sebagai kurban curahan untuk kenikmatan Allah. Kristus adalah semua perkara ini. Namun, kita perlu memiliki hayat yang tidak saja sepadan dengan hal ini, tetapi juga yang dapat memantulkannya. Kehidupan kita harus menjadi refleksi (pantulan) Kristus yang sedemikan.
Jika kita menghadiri sidang-sidang ministri dari minggu ke minggu dan dari tahun ke tahun, namun tidak mempraktikkan apa yang telah kita dengar melalui pemberitaan-pemberitaan itu, maka sidang-sidang seperti itu akan menjadi satu kelas pemahaman Alkitab semata. Kita semua wajib melakukan perkara-perkara yang diwahyukan dari firman melalui ministri Tuhan. Saya harap saya sendiri beroleh belas kasihan dan anugerah untuk memelopori melakukan perkara-perkara tersebut. Kiranya kita semua membawa semua perkara ini ke dalam kehidupan kita setiap hari, dan menjadikannya sebuah refleksi Kristus menurut gambaran dari lambang-lambang Perjanjian Lama.
Kita perlu mengalami Kristus setiap hari secara praktis sebagai kurban penghapus dosa dan kurban bakaran kita. Kita juga harus mengalami Dia sebagai kurban sajian, yaitu sebagai suplai hayat kita. Ini berarti kita harus memiliki tepung halus yang dicampur dengan sejumlah minyak secara memadai. Janganlah kita menjadi layu dan kering; kita harus mempunyai minyak dari Roh pemberi-hayat yang tidak saja dituangkan ke atas kita, tetapi juga berbaur dengan kita. Kemudian kita harus diresapi seluruhnya dengan minyak Roh itu. Berikutnya kita perlu memiliki Kristus sebagai anggur yang memenuhi kita dan menjadikan kita bersukacita, sehingga kita rela mempersembahkan segala sesuatu kepada Tuhan dan menuangkan segala sesuatu bagi Dia.
DIGILING DAN DIPERAS
Tepung halus berasal dari biji-biji gandum yang telah digiling. Penggilingan biji-biji gandum ini merupakan suatu gambaran dari pekerjaan salib dalam pengalaman kita. Penanggulangan salib itulah suatu penggilingan. Kita mungkin adalah biji-biji gandum, tetapi masih belum sebagai tepung halus. Ini berarti kita mungkin mempunyai pengalaman atas Dia sebagai biji gandum, tetapi kita tidak memiliki pengalaman atas Dia sebagai tepung halus, sebab kita tidak mempunyai pengalaman digiling. Kita perlu pengalaman ini, yakni penanggulangan salib.
Minyak zaitun berasal dari buah-buah zaitun yang telah diperas. Jika buah-buah zaitun tidak diperas, tak akan ada minyak yang mengalir keluar. Minyak zaitun hanya bisa mengalir keluar apabila buah-buah zaitun itu melalui proses pemerasan. Demikian pula halnya dengan anggur. Kalau buah-buah anggur itu tidak diperas, tak dapatlah ia mengalirkan anggur. Pemerasan terhadap buah zaitun dan buah anggur keduanya menggambarkan penanggulangan salib. Jadi penggilingan dan pemerasan menandakan pekerjaan salib dalam diri kita. Jika kita ingin menikmati Kristus sebagai tepung halus, haruslah kita menjadi serupa dengan kematian-Nya. Kita harus menempuh satu kehidupan yang berada di bawah pemerasan salib. Selain itu, untuk dapat mengalirkan minyak dan anggur, haruslah kita menempuh kehidupan yang berada di bawah pemerasan salib.
Sewaktu kita membahas perkara-perkara ini, mungkin kita merasa perkara-perkara ini sulit dipahami. Namun, jika kita memasukkan semuanya ini ke dalam praktik kita setiap hari dan menempuh suatu kehidupan yang memantulkan gambaran ini, maka dengan spontan kita akan mengalami penggilingan butir-butir gandum dan pemerasan buah-buah zaitun dan buah-buah anggur. Jika kita tidak berada di bawah pemerasan salib, tak mungkinlah kita mempunyai minyak, kita tak dapat memiliki hayat yang kaya di dalam Roh pemberi-hayat itu. Demikian pula, jika kita tidak berada di bawah pemerasan salib, tak mungkinlah kita memiliki anggur untuk diminum, terlebih pula tak mungkin memiliki anggur untuk dicurahkan kepada Tuhan dan orang lain. Anggur dan minyak berasal dari pemerasan, dan tepung halus berasal dari penggilingan.
TUHAN DIAM DI TENGAH-TENGAH KITA
Ayat 42-43 mengatakan, “Suatu kurban bakaran yang tetap di antara kamu turun-temurun, di depan pintu Kemah Pertemuan di hadapan Tuhan. Sebab di sana Aku akan bertemu dengan kamu, untuk berfirman kepadamu. Di sanalah Aku akan bertemu dengan orang Israel, dan tempat itu akan dikuduskan oleh kemuliaan-Ku.” Ayat-ayat ini menunjukkan, jika kita menempuh hidup seperti yang digambarkan dalam pasal ini, maka Tuhan akan bertemu dengan kita dan akan berfirman kepada kita. Menurut ayat 43, Ia tidak hanya akan menjumpai para imam, tetapi juga seluruh jemaat. Selain itu, segala sesuatunya akan menjadi kudus, dikuduskan. Ayat 44-45 mengatakan, “Aku akan menguduskan Kemah Pertemuan dan mezbah itu, lalu Harun dan anak-anaknya akan Kukuduskan supaya mereka memegang jabatan imam bagi-Ku. Aku akan diam di tengah-tengah orang Israel dan Aku akan menjadi Allah mereka.” Ini juga merupakan hasil, akibat dari kehidupan seperti yang digambarkan dalam pasal ini. Terakhir, dalam ayat 46 terdapat satu kesimpulan: “Maka mereka akan mengetahui, bahwa Akulah, TUHAN, Allah mereka, yang telah membawa mereka keluar dari tanah Mesir, supaya Aku diam di tengah-tengah mereka; Akulah TUHAN, Allah mereka.” Hasil dari mengalami Kristus menurut Keluaran 29 ialah Tuhan akan diam di tengah-tengah kita.