← Daftar isi 1 Petrus (2) · bab 9/11

PENGGEMBALAAN PENATUA DAN UPAHNYA

Pembacaan Alkitab: 1Ptr 5:1-4

Dalam 5:1 Petrus berkata, “(Karena itu,) aku menasihatkan para penatua di antara kamu, aku sebagai teman penatua dan saksi penderitaan Kristus, yang juga akan mendapat bagian dalam kemuliaan yang akan dinyatakan kelak” (Tl.). Kata “karena itu” menunjukkan bahwa 5:1-11 adalah kata penutup dari bagian sebelumnya (4:12-19), mengenai penderitaan bagi Kristus dalam melakukan hal yang benar secara terhormat. Nasihat ini disampaikan kepada para penatua dalam gereja (ayat 1-4), kepada anggota-anggota muda (ayat 5), dan kepada semua orang pada umumnya (ayat 6-11).

Dalam 5:1-4 Petrus berbicara kepada para penatua. Para penatua adalah para penilik gereja, orang-orang yang memegang pimpinan di antara kaum beriman dalam hal-hal rohani (Ibr. 13:17). Terlebih dulu rasul menasihati mereka, mengharapkan supaya mereka mau memelopori menderita bagi Kristus secara terhormat.

Petrus adalah yang pertama dari dua belas rasul terdahulu (Mat. 10:1-4; Kis. 1:13), dia juga salah seorang dari penatua dalam gereja di Yerusalem, seperti Rasul Yohanes (2Yoh. 1; 3Yoh. 1; Kis. 15:6; 21:17-18). Di sini, ketika menasihati para penatua dalam gereja-gereja lain, Petrus tidak menggunakan jabatan rasulnya, melainkan jabatan penatuanya, supaya dia bisa berbicara dengan mereka pada kedudukan yang setara secara akrab.

SAKSI PENDERITAAN KRISTUS

Dalam 5:1 Petrus menyebut dirinya sendiri sebagai saksi penderitaan Kristus. Petrus dan rasul-rasul terdahulu adalah saksi-saksi Kristus (Kis. 1:8), bukan hanya sebagai saksi mata yang mempersaksikan apa yang mereka lihat dari penderitaan Kristus (Kis. 5:32; 10:39), tetapi juga sebagai martir yang meneguhkan kesaksian mereka dengan menderita sebagai martir bagi-Nya (Kis. 22:20; 2Kor. 1:8-9; 4:10-11; 11:23; 1Kor. 15:31). Ini adalah mengambil bagian dalam penderitaan Kristus (1Ptr. 4:13), mengambil bagian dalam persekutuan penderitaan-Nya (Flp. 3:10).

Petrus juga berkata dalam 5:1 bahwa dia pertama-tama adalah seorang saksi, seorang martir, orang yang mengambil bagian dalam penderitaan Kristus, kemudian mengambil bagian dalam kemuliaan-Nya (Rm. 8:17). Kristus sendiri telah menempuh jalan yang sama (1Ptr. 1:11; Luk. 24:26).

Dalam bahasa Yunani saksi dan martir adalah kata yang sama. Ini menunjukkan bahwa kita perlu memikul kesaksian sebagai saksi, walaupun dengan risiko menjadi martir, mengorbankan nyawa kita. Inilah yang dilakukan Petrus. Pada hari Pentakosta Petrus memberi satu kesaksian yang kuat, mempersaksikan penderitaan Kristus. Dia dengan berani mengatakan kepada orang Yahudi bahwa mereka telah menyalibkan Tuhan Yesus. Akan tetapi, sebelum hari Pentakosta, Petrus tidak berani. Sebaliknya, dia takut. Pada malam Tuhan Yesus dikhianati, Petrus menyangkal bahwa dia adalah salah seorang pengikut-Nya. Di hadapan Tuhan, Petrus menyangkal Tuhan. Sebenarnya, itu bukan Petrus, sebuah batu; itu adalah Simon, sebuah gumpalan tanah liat. Tetapi pada hari Pentakosta, Petrus mempunyai keberanian menegur orang-orang Yahudi karena menyalibkan Tuhan Yesus. Setelah itu, Petrus mulai menderita penganiayaan. Dia ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara. Dia rela menempuh bahaya atas nyawanya demi menjadi saksi bagi Tuhan Yesus.

Sudah pasti, Petrus mengingat firman Tuhan dalam Kisah Para Rasul 1 tentang saksi-saksi. Ketika murid-murid bertanya kepada Tuhan tentang pemulihan kerajaan Israel, Dia menjawab, “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi kamu akan menerima kuasa bilamana Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kis. 1:7-8). Petrus adalah orang pertama yang menjadi saksi semacam ini. Dia adalah seorang saksi terkemuka, seorang martir, seorang yang mau mengorbankan nyawanya untuk mempersaksikan penderitaan Kristus. Akhirnya, Petrus sendiri dibunuh sebagai martir. Dia mengorbankan nyawanya sebagai bagian dari kesaksiannya bagi Kristus. Inilah penggenapan firman Tuhan kepadanya dalam Yohanes 21:18, perkataan tentang, “bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah” (Yoh. 21:19). Ketika Petrus menulis suratnya yang pertama, dia sudah cukup tua. Ketika dia menulis suratnya yang kedua, dia tahu bahwa waktunya untuk mati martir sudah dekat. “Sebab aku tahu bahwa aku akan segera menanggalkan kemah tubuhku ini, sebagaimana yang telah diberitahukan kepadaku oleh Yesus Kristus, Tuhan kita” (2Ptr. 1:14). Ketika Petrus menulis surat-surat ini, dia mengingat kata-kata nubuat Tuhan mengenai dia. Dalam 5:1 kita melihat bahwa Petrus mempunyai tiga status. Dia adalah seorang rekan penatua, dia adalah seorang saksi penderitaan Kristus, dan dia adalah seorang yang berbagian dalam kemuliaan yang akan dinyatakan.

Setiap penatua perlu menjadi saksi dari penderitaan Kristus. Ini berarti para penatua harus siap mengorbankan nyawa mereka sebagai bagian dari kesaksian mereka. Jika seorang saudara tidak mau mengorbankan nyawanya, dia tidak bersyarat menjadi seorang penatua. Setiap penatua harus menjadi seorang martir, seorang yang mengorbankan nyawanya bagi Kristus. Menjadi seorang yang berbagian dalam kemuliaan Kristus tergantung pada menjadi seorang martir yang demikian. Jika para penatua mau menjadi martir, jika mereka mau mengorbankan nyawanya, tentu saja mereka akan berbagian dalam kemuliaan yang akan dinyatakan. Jika para penatua tidak mau mengorbankan nyawanya, tetapi mau berbagian dalam kemuliaan ketika Tuhan datang, mereka mungkin akan ditegur-Nya.

Seperti yang kita lihat dalam 4:19 Petrus berkata, “Karena itu, baiklah juga mereka yang harus menderita karena kehendak Allah, menyerahkan dirinya (jiwanya) kepada Pencipta yang setia, sambil terus berbuat baik.” Di sini “berbuat baik” mengacu kepada melakukan perbuatan yang benar, baik, dan terhormat. Menyerahkan jiwa kita kepada Pencipta yang setia hanya berguna jika disertai berbuat baik, yaitu jika kita melakukan perbuatan-perbuatan yang terhormat. Tidak ada yang lebih terhormat daripada mati sebagai seorang martir bagi Tuhan. Polycarp adalah contoh seorang martir yang terhormat. Sebagai seorang yang telah belajar dari Rasul Yohanes, Polycarp mati martir ketika berumur lebih dari 80 tahun. Sebelum dia mati, dia diberi sebuah kesempatan untuk menyelamatkan dirinya dengan menyangkal Tuhan. Polycarp menolak dan mengatakan bahwa dia tidak dapat menyangkal Orang yang selalu setia kepadanya. Polycarp benar-benar tidak hanya gagah dan berani, dia juga terhormat. Dengan mengorbankan nyawanya, dia dengan terhormat mengakui Tuhan di hadapan para penganiayanya.

Bila kita memiliki tindakan yang terhormat semacam ini, kita mempunyai kedudukan untuk menyerahkan jiwa kita kepada Pencipta yang setia. Dia setia sepenuhnya. Tetapi apakah kita setia? Apakah kita melakukan perbuatan-perbuatan yang terhormat? Apakah kita memelihara kesaksian-Nya dalam cara yang terhormat? Ketika Tuhan Yesus dicobai sebelum penyaliban-Nya, Petrus sama sekali tidak terhormat. Tetapi akhirnya, dalam Kitab Kisah Para Rasul, Petrus bersaksi bagi Kristus di hadapan para penganiayanya dengan cara yang terhormat. Contohnya, Petrus dan Yohanes berkata kepada para penganiaya mereka, “Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah. Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan dengar” (Kis. 4:19-20). Petrus dan rasul-rasul yang lain menyerahkan jiwa mereka kepada Pencipta yang setia dengan berbuat baik. Petrus tentu dapat berkata, “Tuhan, Engkau setia kepadaku. Sekarang aku akan setia kepada-Mu. Aku akan setia kepada-Mu dengan mengorbankan nyawaku.” Tentu saja Tuhan akan menghormati penyerahan yang terhormat semacam ini.

Karena Petrus adalah seorang saksi yang terhormat, seorang martir yang terhormat, dia memiliki jaminan bahwa dia akan berbagian dalam kemuliaan yang akan datang. Saya hendak mengajukan satu pertanyaan kepada para penatua: Apakah Anda mempunyai jaminan bahwa Anda juga berbagian dalam kemuliaan yang akan dinyatakan? Saya ragu apakah banyak penatua yang memiliki jaminan ini. Mungkin para penatua dapat berkata bahwa mereka adalah saksi-saksi. Akan tetapi, apakah seorang penatua akan menjadi orang yang berbagian dalam kemuliaan yang akan datang tergantung pada bagaimana terhormat dan setianya dia sebagai seorang saksi. Yang penting di sini adalah seorang penatua harus rela mengorbankan dirinya sendiri.

Bukan hanya para penatua, tetapi juga istri para penatua perlu mempunyai konsepsi berkorban sehubungan dengan kepenatuaan. Tidak benar bagi seorang istri merasa tinggi ketika suaminya diangkat menjadi penatua. Sebenarnya memiliki perasaan semacam itu adalah hal yang memalukan. Menjadi seorang penatua bukanlah masalah mendapat keuntungan, tetapi adalah masalah pengorbanan. Setiap saudara yang ingin menjadi penatua yang baik harus mengorbankan dirinya sendiri. Dia harus mengorbankan waktunya dan bahkan kehidupan keluarganya. Menjadi seorang penatua bukan-lah masalah mendapat kedudukan atau menerima penghormatan pribadi. Kepenatuaan memerlukan pengorbanan. Setiap penatua yang tidak rela berkorban tidak akan menjadi seorang penatua yang memenuhi syarat. Para penatua harus selalu mempunyai kerelaan untuk mengorbankan diri mereka. Para penatua perlu berkorban bukan hanya waktu dan tenaga mereka, tetapi juga nyawa mereka. Jika para penatua rela berkorban dalam hal ini, mereka akan menjadi saksi-saksi penderitaan Kristus dan berbagian dalam kemuliaan yang akan datang. Pertama-tama, seorang penatua harus berbagian dalam penderitaan Kristus, barulah dia dapat berbagian dalam kemuliaan Kristus. Saya harap semua penatua menerima perkataan ini.

Saya dapat bersaksi bahwa gereja-gereja dalam pemulihan Tuhan telah dibangkitkan, ditegakkan, dan dibangunkan, sebagian besar disebabkan oleh kesetiaan dan pengorbanan para penatua. Saya dapat berkata bahwa pendirian dan pembangunan gereja-gereja mungkin 60 atau 70 persen karena jerih lelah dan pengorbanan para penatua, dan 30 atau 40 persen karena ministri. Melihat persentase ini akan membantu kita mengerti pentingnya kepenatuaan. Di mana ada penatua yang setia, loyal, dan penuh pengorbanan, gereja akan kuat dan kokoh. Ministri yang sama melayani semua gereja, akan tetapi ada gereja-gereja yang kuat dan ada gereja-gereja yang lemah. Sebuah gereja kuat atau lemah tergantung pada loyalitas, kesetiaan, dan pengorbanan para penatua. Terima kasih kepada Tuhan bahwa dalam pemulihan-Nya, sebagian besar penatua loyal, setia, dan rela berkorban.

MENGGEMBALAKAN

KAWANAN DOMBA ALLAH

Dalam 5:2 Petrus berkata, “Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan menilik dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan yang rendah, tetapi dengan pengabdian diri” (Tl.). Menggembalakan kawanan domba Allah menuntut penderitaan bagi Tubuh Kristus, seperti yang juga dilakukan oleh Kristus (Kol. 1:24). Menderita demikian akan mendapatkan mahkota kemuliaan yang tidak layu sebagai pahala (1Ptr. 5:4).

“Kawanan domba”, dalam bahasa aslinya adalah “kawanan kecil”, yaitu gereja Allah (Kis. 20:28), yang kecil jumlahnya (Luk. 12:32) jika dibandingkan dengan dunia. Gereja sebagai kawanan kecil adalah sesawi yang kecil untuk menyuplaikan hayat, bukan satu pohon besar untuk bernaungnya burung-burung (Mat. 13:31-32), bukan agama besar seperti dunia kekristenan.

Menurut ayat ini, penatua bukanlah penguasa, mereka adalah gembala. Kadang-kadang seorang gembala harus mengatur kawanan domba, tetapi bukan menguasai (memerintah) seperti seorang raja. Ini adalah pengaturan seseorang yang memperhatikan kawanan domba. Penggembalaan adalah satu pemeliharaan yang tepat yang dilaksanakan atas kawanan domba. Kawanan domba perlu dipelihara, dilindungi, dan dipimpin ke arah yang tepat. Mereka perlu dibawa ke satu tempat di mana mereka dapat makan dan minum. Inilah penggembalaan.

Dalam 5:2 Petrus tidak menyuruh para penatua menggembalakan kawanan mereka sendiri. Dia menyuruh mereka menggembalakan kawanan domba Allah. Kawanan domba bukanlah milik para penatua, tetapi milik Allah. Dalam hal ini, para penatua dipakai oleh Allah untuk menggembalakan kawanan domba-Nya.

Para penatua jangan menganggap gereja di mana mereka memimpin sebagai harta milik mereka. Dalam Perjanjian Baru dijelaskan bahwa gereja berasal dari Kristus, dari Allah, dan adalah dari kaum beriman. Gereja disebut gereja Kristus, gereja Allah, dan gereja kaum beriman (Rm. 16:16; 1Kor. 1:2; 14:33). Tetapi gereja bukanlah gereja rasul-rasul atau gereja para penatua. Gereja pasti bukan milik para rasul atau milik para penatua. Tetapi karena gereja tersusun dari kaum beriman, gereja adalah gereja kaum beriman. Karena gereja telah ditebus oleh Kristus, gereja adalah gereja Kristus. Karena gereja telah dilahirkan kembali oleh Allah, gereja adalah gereja Allah. Akan tetapi, mungkin seorang rasul mengira, karena suatu gereja dibangunkan melalui pelayanannya, maka gereja itu miliknya. Demikian juga, para penatua mungkin mengira, karena mereka memimpin di dalam gereja, maka gereja itu adalah milik mereka. Tetapi Petrus menjelaskan bahwa para penatua harus menggembalakan kawanan domba Allah, bukan kawanan domba mereka sendiri.

MENILIK, BUKAN MEMERINTAH

Dalam ayat 2 dikatakan, “Jangan menilik (mengawasi) dengan paksa” (Tl.), ini berarti melakukan penilikan, memperhatikan keadaan dengan rajin. Bertahun-tahun yang lalu saya mengira bahwa menilik adalah menyelidiki siapa yang salah dan siapa yang benar, siapa yang berlaku baik, dan siapa yang berlaku jelek. Akhirnya saya tahu bahwa menilik terutama adalah masalah menilik keperluan. Contohnya, ketika seorang gembala menilik kawanan domba, yang dia perhatikan bukanlah siapa yang benar dan siapa yang salah; yang dia perhatikan adalah keperluan kawanan domba. Penilikannya berhubungan dengan melindungi kawanan domba, memimpin kawanan domba, dan memberi makan kawanan domba. Gembala melaksanakan penilikan untuk menyuplai kawanan domba dengan apa yang diperlukan.

Baik Petrus maupun Paulus memakai kata “menilik” (mengawasi). Mereka tidak memakai kata “menguasai” berkenaan dengan para penatua. Menilik adalah mengamati situasi, kondisi, dan keperluan. Ini adalah merawat gereja beserta semua orang beriman. Para orang tua mengawasi anak-anaknya bukan untuk mencari kesalahan mereka. Para orang tua mengawasi anak-anaknya untuk melindungi dan memelihara mereka. Karena para orang tua mempunyai kasih untuk memelihara anak-anaknya, mereka melaksanakan pengawasan atas kegiatan anak-anaknya. Ini tidak berarti para orang tua menguasai anak-anaknya, ini berarti para orang tua melindungi dan memelihara mereka dengan mengawasi mereka.

Para penatua harus memahami bahwa Tuhan tidak mengangkat mereka menjadi penguasa-penguasa untuk melaksanakan kekuasaan atas orang lain. Menguasai orang lain adalah sesuatu yang buruk dan rendah. Para penatua tidak boleh menguasai siapa pun. Dalam Injil Matius Tuhan Yesus berkata bahwa hanya Dialah Tuhan dan Tuan, dan kita semua adalah saudara (Mat. 23:8, 10). Ini berarti para penatua, para pemimpin, juga tidak lebih dari saudara. Lebih dari seabad yang lalu, Kaum Saudara (The Brethren) nampak kebenaran ini, menurunkan semua nama denominasi, dan dengan sederhana menyebut mereka sendiri saudara. Sebenarnya nama “The Brethren” (Kaum Saudara) adalah sebuah nama sebutan yang diberikan kepada mereka oleh orang-orang lain. Di dalam gereja kita semua adalah saudara, dan tidak ada seorang pun yang boleh berkuasa atas siapa pun.

Dalam 5:2 Petrus berkata bahwa para penatua harus menilik bukan dengan paksa, tetapi dengan sukarela, sesuai dengan Allah. Para penatua harus rela merawat, memelihara, melindungi orang lain. Mereka tidak boleh melakukan hal ini dengan terpaksa.

Dengan konteks di atas kita dapat melihat bahwa menilik (mengawasi) bukan berarti menguasai; bukan berarti menjadi raja. Dalam hayat alamiah, setiap orang suka menguasai orang lain. Tidak perlu memaksa atau mendesak agar seseorang mau menjadi seorang penguasa. Kata-kata “jangan menilik dengan paksa” menyatakan bahwa menilik adalah merawat gereja, bukan menguasainya.

Seperti kata Petrus, para penatua harus menilik “dengan sukarela, sesuai dengan Allah”. Menilik sesuai dengan Allah berarti menurut sifat, keinginan, cara, dan kemuliaan Allah, bukan menurut kesukaan, kepentingan, dan tujuan manusia. Para penatua jangan menilik menurut opini, konsepsi, rasa suka atau tidak suka mereka. Sebaliknya, mereka harus menilik menurut pilihan, keinginan, maksud, dan kesukaan Allah. Para penatua harus menilik gereja secara keseluruhan menurut pikiran, perasaan, maksud, dan pilihan Allah. Mereka harus menilik menurut kesukaan dan ketidaksukaan Allah.

Baik Paulus maupun Petrus berbicara dalam tulisantulisan mereka mengenai para penatua. Akan tetapi, saya ingin mengatakan bahwa apa yang diajarkan Petrus dalam 5:1-4 lebih dalam daripada apa yang diajarkan Paulus dalam Surat 1Timotius dan Surat Titus. Perkataan Petrus di sini lebih serius daripada apa yang dikatakan Paulus.

Dalam 5:2 Petrus memperingatkan para penatua untuk tidak mencari keuntungan dengan cara-cara yang rendah, tetapi melaksanakan penilikan dengan bergairah. Ini berarti para penatua tidak boleh mengambil keuntungan dari kepenatuaan dan menggunakannya sebagai alat untuk mencari uang. Mereka harus dengan bergairah menilik seperti para orang tua yang dengan bergairah memelihara anak-anak mereka.

TIDAK MENJADI TUAN

MEMERINTAH ATAS MEREKA

YANG DIPERCAYAKAN

Dalam ayat 3 Petrus selanjutnya berkata, “Janganlah kamu menjadi tuan memerintah atas bagian yang dipercayakan kepadamu, tetapi menjadi teladan bagi kawanan domba itu” (Tl.). Menjadi tuan memerintah atas orang lain adalah melaksanakan penguasaan atas orang yang dikuasai (Mat. 20:25). Di antara kaum beriman, selain Kristus, tidak seharusnya ada tuan lain; semua orang seharusnya adalah hamba, bahkan budak (Mat. 20:26-27; 23:10-11). Para penatua dalam gereja hanya dapat memimpin (tidak dapat menjadi tuan), dan semua orang beriman harus menghormati dan mengikuti pimpinan ini (1Tes. 5:12; 1Tim. 5:17).

Dalam ayat 3, Petrus secara langsung memberi tahu para penatua tidak boleh menjadi tuan memerintah gereja. Semua penatua haruslah menjadi budak kaum beriman. Para penatua tidak cukup hanya menjadi pelayan-pelayan, mereka harus menjadi budak-budak. Inilah sesuatu yang Petrus pelajari dari Tuhan sendiri. Petrus mendengar Tuhan Yesus berkata bahwa siapa saja yang ingin menjadi besar harus menjadi budak. Para penatua harus menganggap diri mereka sendiri sebagai budak-budak, dan menganggap saudara-saudari sebagai tuan mereka.

Secara harfiah kata “bagian (LAI: mereka) yang dipercayakan kepadamu” mengacu kepada suatu bagian tanah, harta benda; jadi tanah yang dibagikan, harta yang dipercayakan. Di sini mengacu kepada kawanan domba yang disebutkan dalam klausa selanjutnya. Gereja adalah harta milik Allah, yang dipercayakan kepada para penatua sebagai bagian mereka, porsi mereka, dipercayakan oleh Allah untuk mereka rawat.

Gereja adalah kawanan domba Allah dan harta milik-Nya. Para penatua telah ditetapkan oleh Allah menjadi gembala-gembala kawanan domba ini. Karena itu, Allah telah mempercayakan gereja di tempat mereka kepada mereka untuk dipelihara. Gereja di satu tempat adalah harta milik Allah, bukan milik para penatua. Tetapi Allah telah mempercayakan gereja itu kepada para penatua, agar mereka memelihara dan menggembalakannya. Tidak hanya demikian, gereja hanyalah sementara dipercayakan kepada para penatua untuk dipelihara. Gereja selamanya adalah harta milik Allah. Bahkan para penatua sendiri pun adalah satu bagian dari gereja sebagai harta milik Allah.

Para penatua tidak seharusnya menguasai bagian yang dipercayakan itu, sebaliknya harus menjadi teladan bagi kawanan domba itu. Ini berarti mereka memimpin untuk melayani dan memelihara gereja sehingga kaum beriman mengikutinya.

MAHKOTA KEMULIAAN

YANG TIDAK DAPAT LAYU

Ayat 4 mengatakan, “Apabila Gembala Agung datang (dinyatakan), maka kamu akan menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu.” Pada zaman rasul, mahkota diberikan kepada para pemenang dalam pertandingan atletik (1Kor. 9:25; 2Tim. 4:8). Mahkota itu adalah mahkota yang dapat binasa, yang bisa pudar kemuliaannya. Mahkota yang diberikan Tuhan kepada penatua yang setia akan menjadi pahala bagi pelayanan mereka yang setia. Kemuliaan mahkota ini tidak pernah layu, dan akan menjadi bagian kemuliaan untuk kenikmatan para pemenang dalam manifestasi Kerajaan Allah dan Kristus (2Ptr. 1:11).

Perkataan Petrus kepada para penatua tidak panjang, tetapi penuh arti dan sangat mengharukan. Saya harap semua penatua mengambil cukup waktu untuk mempelajari ayat-ayat ini agar menyentuh kedalaman dari kebenaran yang diwahyukan di sini.