← Daftar isi 1 Petrus (2) · bab 10/11

TANGAN ALLAH YANG KUAT DAN SASARANNYA (1)

Pembacaan Alkitab: 1Ptr. 5:5-9

Dalam berita ini kita akan membahas 1Petrus 5:5-11, satu potongan ayat yang membicarakan tangan Allah yang kuat dan sasarannya. Kita akan membahas 5:5-9 ayat demi ayat.

ORANG MUDA HARUS TUNDUK

KEPADA ORANG YANG TUA

Ayat 5 mengatakan, “Demikian juga, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: ‘Allah menentang orang yang congkak, tetapi memberi anugerah kepada orang yang rendah hati.’” Sekali lagi Petrus menggunakan kata “demikian juga”. Kata “demikian juga” dalam ayat ini tentunya mengacu kepada perkataan Petrus mengenai ketaatan atau tunduk (2:18; 3:1). Istri harus tunduk kepada suaminya, hamba harus tunduk kepada tuannya. Seperti telah kita tunjukkan, suami sedikitnya dalam taraf tertentu juga harus tunduk kepada istrinya. Kini dalam 5:5 Petrus melanjutkan perkataannya bahwa dalam hidup gereja, orang-orang muda harus tunduk kepada orang yang tua.

Meskipun kata “orang yang tua” di sini dalam bahasa aslinya sama dengan “penatua” yang terdapat dalam ayat 1, pada prinsipnya di sini kata ini mengacu kepada orang-orang yang lebih tua. Artinya, orang muda tidak saja harus tunduk kepada penatua gereja, juga harus tunduk kepada semua saudara yang tua. Saya yakin seprinsip dengan itu, saudari yang muda harus tunduk kepada saudari yang tua.

MENGIKAT DIRI

DENGAN KERENDAHAN HATI

Dalam 5:5 Petrus berkata, “Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu (ikatlah dirimu dengan kerendahan hati) seorang terhadap yang lain.” (Tl.). Setiap orang dalam gereja, termasuk penatua, harus mengikat diri dengan kerendahan hati. Dalam 1:13 Petrus berpesan agar kita “mengikat pinggang pikiran” kita (mempersiapkan akal budi, LAI), tetapi di sini ia menunjukkan bahwa seluruh diri kita perlu diikat.

“Ikatlah dirimu dengan kerendahan hati” kata Yunaninya merupakan turunan dari kata benda yang berarti celemek budak; celemek semacam itu mengikat pakaian luar budak yang longgar pada waktu dia melayani. Di sini, kata ini dipakai sebagai kiasan, yang melambangkan mengenakan kerendahan hati sebagai kebajikan dalam pelayanan. Kiasan ini jelas berasal dari kesan Petrus terhadap cara Tuhan mengikat diri-Nya dengan handuk, ketika Dia merendahkan diri mencuci kaki murid-murid, khususnya kaki Petrus (Yoh. 13:4-7).

Hari ini tukang kayu dan tukang cetak sering mengenakan celemek ketika mereka bekerja. Pada zaman dulu orang-orang memakai pakaian yang longgar. Karena pakaian yang longgar menyebabkan orang tidak leluasa untuk bekerja, maka budak-budak menggunakan celemek untuk mengikat pakaian mereka yang longgar. Petrus memakai gambaran ini untuk menunjukkan bahwa dalam hidup gereja kita semua harus belajar mengendalikan diri. Dalam segala hal kita tidak boleh kendur. Bila kita kendur, secara otomatis kita akan menjadi congkak. Kita harus mengikat diri kita dengan kerendahan hati. Jika kita mengikat diri kita dengan kerendahan hati, kita akan menjadi orang yang rendah hati dan waspada. Kita tidak akan kendur atau ceroboh. Dalam hidup gereja kita semua harus mengenakan celemek kerendahan hati.

ALLAH MENENTANG

ORANG YANG CONGKAK

Berdasarkan perkataan Petrus, kita harus mengikat diri dengan kerendahan hati, “sebab: Allah menentang orang yang congkak, tetapi memberi anugerah kepada orang yang rendah hati.” Kata “menentang” di sini dalam bahasa aslinya adalah perkataan tegas yang dipakai tentara yang siap melawan musuh. Petrus menggunakan kata ini untuk menunjukkan betapa keras dan kuatnya Allah menentang orang yang congkak.

Kata “congkak” dalam ayat 5 mengacu kepada orang-orang yang menyatakan dirinya lebih tinggi daripada orang lain. Allah menentang orang yang mengangkat derajat dirinya lebih tinggi di atas orang lain, yang menganggap dirinya lebih baik daripada orang lain. Kita tidak seharusnya bersikap congkak dan memperlihatkan diri kita lebih unggul daripada orang lain, sebaliknya kita harus mengikat diri kita dengan celemek kerendahan hati. Mengenakan celemek semacam ini akan selalu membuat kita merendah, menyebabkan kita rendah hati.

MEMBERI ANUGERAH

KEPADA ORANG YANG RENDAH HATI

Petrus berkata bahwa Allah tidak hanya menentang orang yang congkak, tetapi juga memberi anugerah kepada orang yang rendah hati. Tegasnya, anugerah mengacu kepada Allah Tritunggal sendiri sebagai suplai hayat, yang berlipat ganda di dalam orang beriman yang rendah hati. Kita telah nampak bahwa anugerah yang makin melimpah (1:2) berhubungan dengan berbagai anugerah (4:10), dan segala anugerah (5:10). Kaum beriman telah menerima anugerah awal, namun anugerah ini perlu dilipatgandakan di dalam mereka, sehingga mereka dapat mengambil bagian dalam segala anugerah. Berbagai macam anugerah Allah, sebagai segala anugerah dalam 5:10, mengacu kepada kekayaan suplai hayat ilahi yang berlimpah, yaitu Allah Tritunggal yang dilayankan ke dalam kita dalam banyak aspek (2Kor. 13:13; 12:9). Allah memberikan diri-Nya sebagai anugerah, sebagai suplai hayat, kepada kaum beriman yang rendah hati.

Dalam bahasa Yunaninya kata “rendah hati” dalam 5:5 sama dengan “rendah hati” dalam Matius 11:29. Dalam ayat itu Tuhan Yesus berkata, “Aku lemah lembut dan rendah hati.” Bersikap congkak adalah tinggi hati, tetapi merendah adalah rendah hati. Jika kita ingin merendahkan diri dalam hidup gereja, kita perlu merendah. Kita tidak seharusnya meninggikan diri, sebaliknya kita harus menjaga diri selalu merendah. Kemudian kita baru dapat berada dalam kedudukan menerima Allah Tritunggal sebagai suplai hayat kita. Kita akan menerima anugerah yang Allah berikan kepada kaum beriman yang rendah hati.

TUNDUK DI BAWAH

TANGAN ALLAH YANG KUAT

Dalam ayat 6 Petrus berkata, “Karena itu, rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya.” Di sini kata “rendahkanlah” berbentuk pasif, menunjukkan dijadikan rendah oleh Allah, terutama melalui penderitaan penganiayaan (ayat 10). Namun, ini menuntut kita bekerja sama dengan pekerjaan Allah; kita harus rela direndahkan di bawah tangan Allah yang kuat. Karena itu dikatakan, “rendahkanlah”. “Direndahkan” berbentuk pasif, tetapi “rendahkanlah” berbentuk aktif. Ketika Allah bekerja di atas diri kita, kita perlu berperan aktif, membiarkan Dia bekerja; berperan aktif berarti aktif, membiarkan Dia bekerja berarti pasif. Inilah kerelaan kita berada di bawah tangan Allah yang kuat untuk melakukan segala sesuatu bagi kita.

Penganiayaan bisa saja digunakan oleh Allah untuk membuat kita rendah hati. Sesungguhnya, Allah bisa meng-gunakan berbagai macam penderitaan untuk mencapai tujuan ini. Ketika kita mengalami hal-hal yang baik, kita mungkin menjadi congkak, tetapi penderitaan atau aniaya mungkin membantu kita menjadi rendah hati. Sebagai contoh, seorang saudara mungkin menjadi rendah hati karena kehilangan pekerjaan. Seorang murid mungkin menjadi rendah hati karena memperoleh nilai yang rendah. Jika murid ini memperoleh nilai yang tinggi, mungkin ia akan merasa agak hebat. Tetapi jika ia mendapat nilai yang rendah, ia mungkin akan rendah hati.

Dalam kehidupan keluarga, kita mungkin juga mempunyai pengalaman menjadi rendah hati. Jika anak dari seorang saudara atau saudari menonjol, orang tuanya mungkin menjadi congkak. Tetapi jika anak-anak mendatangkan masalah atau kesulitan bagi mereka, orang tuanya akan menjadi rendah hati. Demikian juga, jika ayah dari seorang saudara muda mempunyai kedudukan yang tinggi dalam pekerjaannya, saudara tersebut mungkin akan menjadi congkak. Andaikata ayahnya adalah komisaris dari sebuah perusahaan atau rektor dari universitas yang ternama, maka saudara ini pasti menjadi congkak karena kedudukan ayahnya. Tetapi seandainya ayahnya adalah seorang pelayan, dengan pendi-dikan yang sangat terbatas, saudara itu akan merendah karena mengetahui kedudukan ayahnya rendah. Karena kedu-dukan ayahnya tidak tinggi, ia pun menjadi rendah hati.

Saya akan menegaskan satu fakta bahwa dalam ayat 6 Petrus menyuruh kita “rendah hati”. Kita tidak dapat rendah hati, perlu Allah membuat kita menjadi rendah hati. Namun, kita perlu bekerja sama dengan pekerjaan Allah. Artinya, kita harus rela tunduk di bawah tangan Allah yang kuat, menjadi rendah hati.

Boleh kita katakan “rendahkanlah dirimu” adalah aktif, juga pasif, menunjukkan inisiatif kita untuk menjadi rendah hati, dan menunjukkan pekerjaan Allah yang membuat kita menjadi rendah hati. Meskipun tangan Allah maha kuasa, dapat mengerjakan segala sesuatu untuk keperluan kita, tetapi tangan-Nya masih memerlukan kerja sama kita. Pekerjaan Allah memerlukan kerja sama kita. Karena itu, kita perlu rendah hati.

DITINGGIKAN PADA WAKTUNYA

Petrus berkata, jika kita tunduk di bawah tangan Allah yang kuat, pada waktunya, Ia akan meninggikan kita. Tunduk di bawah tangan Allah yang kuat, rela direndahkan, adalah menerima cara yang membuat Allah mendapatkan kehormatan dan kemuliaan, yang memberi-Nya kedudukan untuk meninggikan kita pada waktu-Nya. Rela direndahkan oleh tangan Allah yang merendahkan dalam pendisiplinan-Nya adalah syarat mutlak untuk ditinggikan oleh tangan Allah yang meninggikan dalam pemuliaan-Nya. Di sini kita mempunyai cara yang membuat Allah mendapatkan kemuliaan dan hormat, tangan Allah yang merendahkan dan tangan Allah yang meninggikan. Allah akan merendahkan atau meninggikan kita berdasarkan sikap kita. Kita mungkin mengambil satu cara yang memaksa Allah merendahkan kita, atau kita mungkin mengambil cara yang lain, cara yang memuliakan dan menghormati Allah, yang membantu Allah meninggikan kita pada waktunya. Frase “pada waktunya” dalam ayat 6 mengacu kepada waktu yang Allah anggap tepat untuk meninggikan kita.

MENYERAHKAN KEKHAWATIRAN KITA

KEPADA ALLAH

Dalam ayat 7 Petrus melanjutkan, “Serahkanlah segala kekhawatiranmu kepada-Nya, sebab Ia memelihara kamu.” Kata “menyerahkan” di sini berarti “melemparkan kepada”, “berserah kepada”. Penunjuk waktu dari kata kerja ini menyatakan tindakan yang dilakukan satu kali untuk selamanya. Frase “segala kekhawatiranmu” berarti seluruh kekhawatiranmu dalam seumur hidupmu, seumur hidup dengan segala kekhawatirannya. Kita perlu belajar melemparkan beban kekhawatiran kita kepada Allah. Mungkin beban itu sekarang berada di atas bahu kita, tetapi kita harus melemparkannya dari bahu kita kepada Allah.

Meskipun kata kerja “melemparkan” di sini menunjukkan tindakan sekali untuk selamanya, tetapi karena kelemahan kita, mungkin kita perlu sekali demi sekali melemparkan kekhawatiran kita kepada Allah. Kadang-kadang, kita melemparkan kekhawatiran kita kepada Allah, tetapi tidak lama kemudian secara diam-diam kita mengambilnya kembali. Begitulah pengalaman saya dulu. Saya telah melemparkan kekhawatiran saya kepada Tuhan, tetapi beberapa hari kemudian, saya merasa bahwa saya telah mengambilnya kembali, dan mulai lagi memikulnya sendiri. Karena itu, saya perlu berdoa, “Ya Tuhan, ampuni aku karena telah mengambil kembali kekhawatiran ini dari Engkau. Sekali lagi aku melemparkan kekhawatiranku kepada-Mu.”

Kadang-kadang saya memberi tahu Tuhan, “Tuhan, aku tidak hanya melemparkan kekhawatiran hari ini, juga melemparkan semua kekhawatiran di masa yang akan datang kepada-Mu. Tuhan, aku menduga banyak kekhawatiran akan menimpaku. Kini aku serahkan semua kekhawatiran yang akan datang itu kepada-Mu.”

Kata “kekhawatiran” dalam bahasa Yunaninya juga berarti kecemasan, kegelisahan. Penderitaan-penderitaan yang menimpa kaum beriman dalam penganiayaan terhadap mereka menyebabkan mereka cemas dan khawatir. Mereka tidak hanya perlu direndahkan dari kesombongan, kecongkakan mereka, tetapi juga perlu menyerahkan seumur hidup mereka dengan kecemasannya kepada Allah; karena terhadap mereka Dia tidak hanya kuat dan adil, tetapi juga penuh kasih dan setia.

Kita boleh menggunakan pesawat udara yang akan mendarat di pelabuhan udara yang ramai sebagai ilustrasi datangnya kekhawatiran menimpa kita. Jika Anda memperhatikan bagaimana pesawat udara mendarat, Anda akan nampak biasanya pesawat-pesawat mendarat satu per satu. Tetapi kadang-kadang pesawat itu datangnya berpasangan, bahkan berkelompok. Kekhawatiran mungkin mengitari kita bagaikan sebuah pesawat udara terbang mengitari pelabuhan udara, menunggu waktu untuk mendarat.

Mereka yang sering berkontak dengan orang, umumnya memiliki lebih banyak kekhawatiran daripada orang yang menyendiri. Sebagai contoh, seorang saudara yang belum berkeluarga akan lebih sedikit kekhawatirannya daripada saudara yang sudah berkeluarga dan memiliki beberapa anak. Saudara yang sudah berkeluarga memperhatikan istri serta anaknya, dan hal itu membuatnya khawatir. Pertama, istrinya adalah sumber kekhawatiran. Kemudian setiap melahirkan seorang anak, penyebab kekhawatirannya juga bertambah. Kekhawatirannya mungkin bertambah ketika anaknya bertumbuh dewasa, menikah, melahirkan anak, karena saat itu cucunya akan menjadi sumber kekhawatiran.

Demikian juga, mungkin harta benda atau warisan kita dapat menyebabkan kekhawatiran. Jika Anda memiliki sebuah rumah, Anda akan khawatir akan pemeliharaan rumah itu. Jika Anda memiliki rumah yang kedua, Anda pun akan mengkhawatirkan rumah kedua itu. Demikian juga deposito Anda di bank. Uang yang Anda depositokan di bank juga bisa menjadi sumber kekhawatiran Anda. Melalui pengalaman saya dapat bersaksi, semakin banyak barang yang saya miliki, kekhawatiran saya juga semakin banyak. Pesawat “kekhawatiran” semakin banyak berputar-putar di atas kepala saya.

Kita perlu belajar melemparkan segala kekhawatiran kita kepada Tuhan. Jika kita tidak melemparkan kekhawatiran kepada-Nya, kita tidak ada damai sejahtera. Mungkin anak di bawah umur 4 tahun tidak ada kekhawatiran. Tetapi, semakin besar kita, kekhawatiran semakin banyak, karena ada semakin banyak pesawat kekhawatiran menantikan hendak mendarat di pelabuhan udara kita. Lalu, kita harus bagaimana? Meskipun tidak mudah, kita masih perlu melemparkan kekhawatiran kita kepada Tuhan. Jika kita menemukan bahwa kita mengambil kembali kekhawatiran yang telah kita lemparkan kepada Tuhan, kita harus sekali lagi melemparkannya kepada Tuhan.

Kita boleh melemparkan segala kekhawatiran kepada Tuhan, karena “Ia memelihara kamu.” “Ia memelihara kamu” juga boleh diterjemahkan “Ia memperhatikan kamu.” Allah yang mendisiplin dan menghakimi manusia memiliki perhatian kasih terhadap kaum beriman, khususnya orang yang dianiaya. Dengan setia Dia memperhatikan mereka. Mereka dapat melemparkan kekhawatiran mereka kepada Dia, khususnya pada saat mereka mengalami penganiayaan.

SADAR DAN BERJAGA-JAGA

Dalam ayat 8 Petrus melanjutkan, “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” Sadar adalah berpikiran jernih, waspada, dan bisa mengendalikan pikiran, supaya kita memahami tujuan Allah mendisiplin kita dan juga mengetahui siasat musuh yang ingin menghancurkan kita, khususnya seperti yang diwahyukan dalam pasal ini.

Jika kita tidak melemparkan segala kekhawatiran kepada Tuhan, kita sulit menjadi sadar. Banyak orang beriman menjadi bodoh karena kekhawatiran. Jika kita tidak melemparkan kekhawatiran, pikiran kita tidak dapat sadar. Jika kita tidak sadar, maka akan jatuh di bawah awan kacau balau dan tebal, kehilangan arah. Jika pikiran kita terganggu oleh kekhawatiran, kita tidak dapat sadar, pikiran tidak jernih, bahkan kalut, campur aduk. Jika pikiran kita jatuh dalam keadaan demikian, sangat sulit bagi kita untuk mendengarkan Tuhan berbicara. Kekhawatiran juga mungkin membuat kita berbicara sembarangan, ngawur. Karena itu, kalau kita mau sadar, kita harus melemparkan kekhawatiran kita kepada Tuhan.

Menurut perkataan Petrus dalam 5:8, kita juga harus berjaga-jaga. Berjaga-jaga adalah bersikap seperti dalam peperangan, seperti tentara di garis depan. Kekhawatiran adalah musuh yang licik, sering kali kekhawatiran adalah jelmaan Iblis. Kita harus berjaga-jaga, tidak membiarkan kekhawatiran menjajah kita. Pasukan yang menjaga keamanan negara perlu setiap saat berjaga-jaga. Orang-orang yang mempertahankan keamanan negara setiap saat harus berjaga-jaga, jangan sampai dijajah musuh. Ketika Petrus menasihati kita harus sadar, berjaga-jaga, inilah konsepsi yang ada padanya.

Petrus menulis ayat 8 berdasarkan pengalamannya. Pendidikannya mungkin kurang, tetapi pengalamannya sangat limpah. Semasih muda, ia sudah dipanggil oleh Tuhan. Setelah Tuhan bangkit, Petrus banyak belajar di dalam Roh itu. Sebelum Kristus bangkit, Petrus telah mendengar dan melihat banyak perkara. Tetapi terhadap perkara itu ia tidak memiliki penjelasan dan pemahaman yang tepat. Namun setelah Tuhan bangkit, Roh itu masuk ke dalam dirinya dan di atas dirinya, dan ia mulai mengetahui apa yang ia alami selama tiga setengah tahun bersama-sama dengan Tuhan. Karena itu, pengalaman Petrus sangat limpah. Tulisannya tidak hanya berdasarkan teori, tetapi juga berdasarkan penga-laman. Karena pengalaman ini, Petrus menyuruh kaum beriman sadar dan berjaga-jaga.

Seperti telah kita tunjukkan, kata “berjaga-jaga” menyiratkan peperangan. Kita terlibat dalam satu peperangan, karena itu kita perlu waspada. Jangan biarkan musuh masuk. Kekhawatiran adalah musuh yang licik. Iblis sering bersembunyi di dalam kekhawatiran, atau menyelinap di baliknya. Jika Anda menyambut kekhawatiran, Anda akan menyambut Satan, Iblis. Tuhan Yesus juga menyuruh murid-murid-Nya berjaga-jaga dan berdoa (Mat. 26:41). Kita perlu berjaga-jaga dan siaga.

LAWAN KITA, IBLIS

Kita harus berjaga-jaga, karena lawan kita, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. “Lawan” dalam bahasa aslinya berarti penuntut (dalam pengadilan). Di sini mengacu kepada Iblis, pendakwa kita (Why. 12:9-10). Kata “Iblis” dalam bahasa aslinya, “diabolos” berarti pendakwa, pemfitnah. Satan, Iblis, mendakwa kita di hadapan Allah dan memfitnah kita di hadapan manusia.

Iblis, lawan dalam ayat 8, berkaitan dengan kekhawatiran dalam ayat 7. Jika kita menerima kekhawatiran, kita juga akan membuka diri kepada lawan kita, Iblis. Bahkan mungkin dapat kita katakan, kekhawatiran dalam ayat 7 adalah lawan dalam ayat 8.

Lawan di sini tidak sama dengan musuh. Musuh adalah penentang yang obyektif bagi kita, berada di luar kita. Lawan adalah penentang yang subyektif, ada di dalam kita. Satan (Iblis) bukan hanya musuh yang ada di luar kita, ia juga adalah lawan yang ada di dalam kita. Kekhawatiran adalah salah satu bentuk Iblis sebagai lawan kita. Setiap kali kita khawatir atau cemas, kita harus berkata, “Iblis, kamu sudah tersingkapkan, kekhawatiran ini sesungguhnya adalah dirimu. Jangan menutupi dirimu. Aku tahu kamu siapa. Ini bukan kekhawatiran — ini adalah kamu, Iblis. Enyahlah dariku!”

Dilihat dari konteksnya, kekhawatiran sebenarnya adalah Iblis. Iblis menyerang kita dengan memakai jubah kekhawatiran. Ia berpura-pura menjadi kekhawatiran. Karena itu, kita perlu berjaga-jaga, waspada.

SINGA YANG MENGAUM-AUM MENCARI ORANG

YANG DAPAT DITELANNYA

Dalam ayat 8 Petrus berkata, “Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” “Mengaum-aum” menyatakan melolong dalam kelaparan. “Berjalan keliling” menunjukkan kegiatan Iblis yang terus-menerus dan agresif mencari mangsa. Ada satu peribahasa yang mengatakan bahwa Iblis tidak pernah tidur, ia selalu sibuk dan agresif, mencari orang yang dapat ditelan.

Di sini Petrus mengingatkan kaum beriman yang menderita dalam penganiayaan, jika mereka tidak mau merendahkan diri di bawah tangan Allah yang kuat (ayat 6) dan menyerahkan kekhawatiran mereka kepada Allah (ayat 7), mereka akan ditelan oleh singa yang mengaum-aum, Iblis, musuh mereka. Ini mengajar kita bahwa kesombongan dan kekhawatiran membuat kita menjadi mangsa yang lezat bagi pemuasan rasa lapar singa yang mengaum-aum. Dalam hal ini, tentu Petrus tidak dapat melupakan peringatan Tuhan mengenai keinginan Iblis (Luk. 22:31).

Tulisan Petrus dalam ayat 8 sederhana, singkat, dan langsung. Kita harus belajar sesuatu kepadanya, khususnya dalam memberikan kesaksian. Ada orang bersaksi panjang lebar, penuh dengan rincian yang tidak perlu. Dalam gereja kita tidak perlu cerita yang panjang lebar, melainkan harus singkat dan langsung. Kesaksian semacam ini sering kali sangat efektif.

TEGUH DALAM IMAN

Dalam ayat 9 Petrus berkata, “Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu bahwa semua saudara seimanmu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama.” “Lawanlah” di sini bukan menentang atau berjuang, melainkan bertahan dengan kokoh seperti batu karang di atas dasar iman kita, di hadapan Iblis yang mengaum-aum. “Iman” dalam ayat 9 ini mengacu kepada iman subyektif kaum beriman, yaitu percaya kepada kuasa penjagaan dan perhatian kasih Allah.

Dalam ayat 9 Petrus berkata, “Semua saudara seimanmu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama.” Menurut konteks pasal ini dan pasal sebelumnya, penderitaan ini adalah penderitaan dalam penganiayaan. Kita telah nampak bahwa saudara-saudara (semua saudara) adalah kumpulan saudara, keluarga saudara-saudara, saudara-saudara dalam perasaan kasih persaudaraan (2:17).

Kekhawatiran yang dibicarakan dalam 5:7 berkaitan dengan penganiayaan. Ketika kaum beriman dianiaya, mereka merasa khawatir, karena tidak tahu apa yang akan terjadi. Kekhawatiran ini, kecemasan ini, mungkin menyebabkan mereka meragukan Injil yang telah mereka dengar. Ini mungkin menimbulkan dampak negatif atas iman mereka. Karena itu, Petrus menyuruh kaum beriman melawan Iblis dengan iman yang teguh. Kita tidak boleh meragukan apa yang telah kita percayai, sebaliknya kita perlu teguh dalam iman, karena kita tahu semua saudara kita di seluruh dunia, juga menanggung penderitaan yang sama.