TANGAN ALLAH YANG KUAT DAN SASARANNYA (2)
Pembacaan Alkitab: 1Ptr. 5:5-14.
TANGAN ALLAH DALAM PENGHAKIMAN-NYA
Dalam 5:6 Petrus berkata, “Karena itu, rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya.” Para penginjil dan pengajar sering mengutip frase “tangan Tuhan yang kuat”, namun tidak memperhatikan apa arti yang ada di dalam Surat 1Petrus secara keseluruhan. Akibatnya, tangan Tuhan yang kuat dalam ayat ini telah disalahgunakan.
Kita telah melihat bahwa isi seluruh Surat 1Petrus adalah pemerintahan Allah, dan pemerintahan Allah itu diatur melalui penghakiman-Nya. Penghakiman Allah dilaksanakan di dalam lingkungan yang diatur menurut kedaulatan-Nya. Contohnya, dalam hal menghakimi generasi Nuh, Allah mengatur satu bencana alam yang besar, air bah. Hanya Allah yang dapat melakukan satu hal semacam ini. Air bah yang mengakhiri umat manusia pada zaman Nuh didatangkan oleh tangan Allah yang kuat. Dalam 5:6 tangan Tuhan yang kuat mengacu kepada tangan pengaturan Allah, khususnya yang nampak dalam penghakiman-Nya.
Tangan Allah lebih kuat dalam penghakiman-Nya daripada dalam penyelamatan-Nya. Tentu saja, dalam menyelamatkan kita, tangan Allah itu kuat. Tetapi kita lihat tangan-Nya jauh lebih kuat dalam penghakiman-Nya. Misalnya, seorang saudara telah lama beroleh selamat, tetapi masih terus menikmati hiburan-hiburan duniawi; meskipun dia benar-benar telah beroleh selamat, dia masih mengasihi dunia. Tetapi suatu hari dia mengalami kecelakaan, satu kecelakaan yang diatur oleh tangan Allah yang kuat, dan kecelakaan itu menyebabkan dia mencari Tuhan dengan jalan yang lebih dalam daripada yang pernah dia lakukan sebelumnya. Inilah sebuah ilustrasi tentang tangan Allah yang berperan dalam penghakiman.
TIGA HAL YANG BERHUBUNGAN DENGAN TANGAN ALLAH YANG KUAT
Menurut perkataan Petrus dalam 5:6-8, kita perlu melakukan tiga hal yang berhubungan dengan pengalaman kita tentang tangan Allah yang kuat. Pertama, kita sendiri harus merendahkan diri di bawah tangan Allah yang kuat. Kedua, kita harus menyerahkan segala kekhawatiran kita kepada-Nya. Ketiga, kita perlu sadar dan berjaga-jaga. Segala hal yang terjadi pada kita berada di bawah tangan Allah yang kuat. Kita tidak perlu khawatir atau gelisah. Kita harus dengan sederhana merendahkan diri kita di bawah tangan Allah yang kuat dan tidak melawannya. Lalu kita harus menyerahkan segala masalah yang menyebabkan kekhawatiran kita kepada Tuhan. Selanjutnya, kita perlu sadar dan berjaga-jaga. Jika kita menyerahkan segala kekhawatiran kita kepada Allah, kita akan mempunyai satu pikiran yang jernih, dan kita akan jelas tentang keadaan kita. Tidak hanya demikian, kita akan berjaga-jaga terhadap lawan kita, Iblis, yang mengendap-endap seperti seekor singa yang mengaum-aum, mencari orang untuk ditelan. Jika kita berjaga-jaga, kita tidak akan ditipu bila Iblis menyatakan dirinya dalam bentuk kekhawatiran. Sebaliknya, musuh, singa yang mengaum-aum itu, akan kita kalahkan. Inilah pengertian yang tepat tentang bagian firman ini.
ALLAH DARI SEGALA ANUGERAH
Dalam 5:10 Petrus selanjutnya berkata, “Tetapi Allah dari segala anugerah, yang telah memanggil kamu dalam Kristus Yesus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan, dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya” (Tl.). “Tetapi” di sini menunjukkan suatu kontras, mendatangkan penghiburan dan dorongan kepada kaum beriman yang menderita. Kontradiksi adalah antara penderitaan-penderitaan dalam ayat 9 dan Allah dari segala anugerah dalam ayat 10. Jika kita memiliki ayat 9 tanpa ayat 10, kita akan kehilangan pengharapan dan dorongan. Akan tetapi, dalam 5:10 Petrus seolah-olah berkata kepada kaum beriman yang menderita, “Kamu dan para saudaramu sedang menderita karena ancaman lawanmu, yaitu Iblis yang seperti singa yang mengaum-aum, itu hanya sementara; tetapi Allah dari segala anugerah, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan, dan mengokohkan kamu dengan suplai hayat yang berlimpah ruah, yang melampaui semua keperluanmu.
Dalam ayat ini segala anugerah mengacu kepada kekayaan suplai hayat ilahi yang berlimpah dalam banyak aspek yang dilayankan kepada kita dalam tahap-tahap pekerjaan ilahi di atas dan di dalam diri kita dalam ekonomi Allah. Langkah awal adalah memanggil kita, dan langkah akhir adalah memuliakan kita, seperti yang disebutkan di sini dalam frase “yang telah memanggil kamu ke dalam kemuliaan-Nya yang kekal”. Di antara kedua langkah itu, ada perawatan kasih Allah saat Dia mendisiplin kita, dan pekerjaan perleng-kapan, peneguhan, penguatan, dan pengokohan-Nya atas diri kita. Dalam segala tindakan ilahi ini, suplai limpah hayat ilahi menjadilah anugerah yang menyuplai kita dalam berbagai pengalaman. Allah sumber anugerah sedemikian ini akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan, dan mengokohkan kaum beriman yang dianiaya, sesudah mereka menderita seketika lamanya.
Istilah “Allah dari segala anugerah” bersifat unik, dalam Perjanjian Baru hanya ditemukan dalam 1Petrus 5:10. Mungkin orang-orang Kristen biasa membicarakan tentang rahmat Allah. Tetapi tahukah Anda, siapa yang menggunakan ungkapan “Allah dari segala anugerah”? Petrus tidak mengatakan bahwa Allah semata-mata adalah Allah dari anugerah, dia mengatakan bahwa Allah adalah Allah dari “segala” anugerah. Dalam ungkapan ini sekali lagi Petrus menampakkan ciri khasnya menggunakan kata sifat. Kaum beriman yang menderita harus didorong oleh fakta bahwa meskipun mereka menderita, Allah mereka adalah Allah dari segala anugerah. Selanjutnya, Dia memanggil kita ke dalam kemuliaan kekal, satu kemuliaan yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu.
DIPANGGIL DALAM KRISTUS YESUS
KEPADA KEMULIAAN YANG KEKAL
Petrus berkata bahwa Allah telah memanggil kita dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal. Dalam Kristus Yesus menunjukkan bahwa Allah dari segala anugerah mengalami proses inkarnasi, kehidupan insani, penyaliban, kebangkitan, dan kenaikan, untuk merampungkan penebusan yang lengkap dan sempurna agar Dia bisa membawa umat tebusan-Nya ke dalam satu kesatuan organik dengan diri-Nya. Dengan demikian mereka bisa mengambil bagian dalam kekayaan Allah Tritunggal sebagai kenikmatan mereka. Semua langkah pekerjaan ilahi itu ada dalam Kristus; Dia adalah perwujudan Allah Tritunggal, menjadi Roh pemberi-hayat yang almuhit, menjadi suplai hayat yang limpah lengkap bagi kita. Dalam Kristus ini, melalui penebusan-Nya yang almuhit dan berdasarkan segala pencapaian-Nya, Allah bisa menjadi Allah dari segala anugerah yang memanggil kita ke dalam kemuliaan kekal-Nya dan yang melengkapi, meneguhkan, menguat-kan, dan mengokohkan kita dalam Allah Tritunggal (1:2) sebagai fondasi yang mantap, dengan demikian membuat kita mampu mencapai tujuan-Nya yang mulia. Sungguh ajaib, orang dosa yang jatuh bisa dibawa ke dalam kemuliaan kekal Allah! Dan betapa unggulnya pekerjaan perlengkapan, peneguhan, penguatan, dan pengokohan-Nya di dalam kita! Semuanya itu dirampungkan melalui segala anugerah-Nya, yaitu “anugerah yang sejati” (5:12).
Menurut apa yang dikatakan Petrus dalam 5:10, penderitaan-penderitaan kita hanyalah untuk sementara, tetapi kemuliaan Allah adalah kekal. Setelah kita menderita sesaat, Allah dari segala anugerah akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan, dan mengokohkan kita.
Kata “sendiri” dalam frase “Dia sendiri akan melengkapi . . .” (Tl.) menyatakan bahwa Allah secara pribadi aktif dalam pekerjaan anugerah. Kata “melengkapi” dalam bahasa aslinya berarti mengatur kembali, menambal, menyatakan dengan sempurna, memperlengkapi dengan baik dan menyeluruh; karena itu adalah melengkapi, menyempurnakan, mendidik. Dalam bahasa aslinya, kata “meneguhkan” berarti teguh, kukuh. Kata yang sama dipakai oleh Tuhan dalam pesan-Nya kepada Petrus dalam Lukas 22:32. Arti kata “menguatkan” hampir sama dengan meneguhkan. Kata “mengokohkan” dalam bahasa aslinya adalah bentuk turunan dari kata yang ber-makna fondasi. Jadi, di sini berarti tertancap dengan mantap, seperti dalam Matius 7:25, Efesus 3:17, dan Ibrani 1:10.
Dalam keempat tindakan ilahi dari anugerah itu kita nampak suatu kemajuan. Perlengkapan mendatangkan pene-guhan, peneguhan mendatangkan penguatan, dan penguatan mendatangkan pengokohan dalam Allah dari segala anugerah — Allah Tritunggal dalam penyaluran-Nya (1:2) sebagai fondasi yang mantap.
Pertama-tama, Allah melengkapi kita. Melalui penderitaan dari penganiayaan kita dilengkapi. Lalu setelah melengkapi kita, Allah meneguhkan kita. Ketika kita diteguhkan, kita tidak lagi mengembara, dan kita tidak lagi berubah-ubah. Setelah Allah meneguhkan kita, Dia menguatkan kita, memberi kuasa kepada kita dan akhirnya, Dia mengokoh-kan kita di dalam diri-Nya sendiri sebagai Allah Tritunggal.
Dalam 5:11 Petrus berkata, “Bagi Dialah kemuliaan dan kekuasaan sampai selama-lamanya. Amin” (Tl.). Bagi Allah segala anugerah, yang melengkapi, meneguhkan, menguatkan, dan mengokohkan kita, tersembah kemuliaan dan kekuasaan.
Dalam 5:12-14 kita mempunyai penutup dari surat ini. Dalam ayat 12 kita memiliki kesaksian anugerah sejati Allah, dan dalam ayat 13 dan 14 kita mempunyai salam Petrus.
ANUGERAH SEJATI ALLAH
Satu Petrus 5:12 berkata, “Dengan perantaraan Silwanus yang kuanggap sebagai saudara yang setia, aku menulis dengan singkat kepada kamu untuk menasihati dan bersaksi dengan sebenarnya bahwa inilah anugerah sejati Allah, yang di dalamnya kita berdiri” (Tl.). Petrus adalah saksi mata (5:1), yang mempersaksikan apa yang telah dilihat dan dialaminya. Dia bersaksi bahwa apa yang ditulisnya dalam suratnya sebagai catatan anugerah Allah adalah benar.
Petrus menulis surat ini kepada kaum beriman pengembara untuk menasihati mereka dan bersaksi kepada mereka tentang anugerah Allah. Dalam 5:12 dia menyatakan bahwa apa yang telah dia tulis dengan sungguh-sungguh mengenai pekerjaan-pekerjaan Allah adalah anugerah sejati. Kita telah melihat yang Petrus katakan tentang anugerah yang dilipatgandakan, tentang anugerah yang beragam, tentang segala anugerah, dan di sini tentang anugerah sejati. Selanjutnya, mengenai cara hidup yang unggul, Petrus dua kali mengatakan bahwa ini adalah anugerah sejati Allah (2:19-20). Dalam 5:12 Petrus menasihati kaum beriman untuk berdiri di dalam anugerah sejati ini. Kita perlu berdiri di dalam anugerah sejati Allah dan bertahan terhadap Iblis.
Anugerah sejati dalam ayat ini mengacu kepada “segala anugerah” yang tercantum dalam ayat 10. Rasul menasihati kaum beriman untuk masuk ke dalam anugerah ini dan berdiri di dalamnya. Kitab ini ditulis terutama ditujukan kepada kaum beriman yang dianiaya untuk memperlihatkan tujuan pemerintahan Allah dalam penderitaan mereka. Agar mereka bisa melewati penderitaan itu, Allah menyuplai mereka dengan segala anugerah yang berlipat ganda, beragam, dan sejati (5:10; 1:2; 4:10), yang mampu membuat mereka mengambil bagian dalam dan untuk penderitaan Kristus (2:21; 3:14-17; 4:12-16), dan yang akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan, dan mengokohkan mereka dalam Allah Tritunggal serta membawa mereka ke dalam kemuliaan kekal-Nya.
KAWAN TERPILIH DI BABILON
Dalam 5:13 Petrus berkata, “Salam kepada kamu sekalian dari kawanmu yang terpilih yang di Babilon dan juga dari Markus, anakku.” Dalam bahasa aslinya, kata “kawan terpilih” memiliki kata sandang berjenis feminin. Mungkin kata itu mengacu kepada istri Petrus, yang menyertainya dalam perjalanan (1Kor. 9:5), atau mengacu kepada seorang saudari terkemuka dalam Tuhan, yang dipilih oleh Allah bukan hanya bersama penerima surat ini, melainkan juga bersama Petrus dan semua orang beriman lain. Ada yang menganggap kata tersebut mengacu kepada gereja.
Dari abad ke abad guru-guru besar menganut dua pe-nafsiran yang berbeda terhadap nama Babilon yang digunakan dalam 5:13: ada yang menganggapnya sebagai kiasan, mengacu kepada Roma, ibukota Kekaisaran Romawi; ada juga yang menganggap kata ini harus ditafsirkan secara harfiah, mengacu kepada Babel, kota besar dekat Sungai Efrat. Alasan yang terakhir lebih logis daripada penafsiran yang sebelumnya. Pertama, nampaknya Petrus tidak ada alasan untuk memakai nama kiasan dengan maksud menyembunyikan nama kota tempat dia berada pada saat itu. Kedua, semua nama tempat yang disebutkannya dalam salam yang terdapat pada suratnya (1:1) bersifat harfiah. Ketiga, dalam Perjanjian Baru, nama Roma selalu disebutkan dengan jelas (Kis. 19:21; 28:14, 16; Rm. 1:7, 15), bahkan sampai pada saat penulisan surat Paulus yang terakhir, 2Timotius (2Tim. 1:17), yang mungkin ditulis setelah Surat 1Petrus. Pada saat Kitab Wahyu, kitab lambang ditulis oleh Yohanes, kira-kira 90 M, barulah nama Babel Besar yang bermakna kiasan dipakai untuk mengacu kepada Kota Roma (Why. 17:5; 18:2).
MARKUS,
PUTRA PETRUS
Nama Markus dalam ayat 13 mengacu kepada Yohanes yang disebut Markus (Kis. 12:12, 25), penulis Injil Markus. Ia adalah anak rohani Petrus, saat itu ia bersama Petrus. Kemudian ia dibawa oleh Timotius kepada Paulus (2Tim. 4:11).
SALAM PETRUS
Dalam 5:14 Petrus menyimpulkan, “Berilah salam seorang kepada yang lain dengan ciuman kudus (kasih). Damai sejahtera menyertai kamu sekalian yang berada dalam Kristus. Amin.” Pada awal surat ini Petrus berkata, “Anugerah dan damai sejahtera makin melimpah atas kamu.” Pada penutupnya dia berkata, “Damai sejahtera menyertai kamu sekalian yang berada dalam Kristus.” Damai sejahtera adalah hasil dari anugerah dan berasal dari kenikmatan kita atas Allah Tritunggal. Kenikmatan semacam ini atas Allah sebagai anugerah yang makin melimpah (berlipat ganda) (1:2), berbagai anugerah (4:10), segala anugerah (5:10), dan anugerah yang sejati (5:12), sebagai realitas isi kehidupan orang Kristen di bawah pemerintahan Allah, menghasilkan satu keadaan damai sejahtera bagi Allah dan manusia.
Tulisan Petrus sama sekali tidak dangkal, tetapi mendalam atas hal kebenaran dan sangat berpengalaman. Kita melihat hal ini dalam apa yang Petrus katakan mengenai damai sejahtera. Pengertian Petrus tentang damai sejahtera adalah mendalam. Akan tetapi, kebanyakan orang Kristen hari ini memikirkan damai sejahtera dengan cara yang sangat dangkal.
Menurut 5:14, keinginan Petrus adalah damai sejahtera itu menyertai semua yang berada dalam Kristus. Petrus menekankan fakta bahwa kaum beriman ada di dalam Kristus (3:16; 5:10). Kita berada di dalam Kristus karena Allah, juga oleh iman kita dan baptisan (1Kor. 1:30; Yoh. 3:5; Gal. 3:27; Rm. 6:3). Ini menghasilkan kesatuan organik dengan Allah Tritunggal (Mat. 28:19) dan membuat kita menjadi satu roh dengan Tuhan (1Kor. 6:17).
?