KEHIDUPAN KRISTIANI DAN PENDERITAANNYA (9)
Pembacaan Alkitab: 1 Ptr. 4:1-11
Dalam berita yang lalu kita telah melihat 4:1-4. Ayat 1 mengatakan, “Jadi, karena Kristus telah menderita secara badani, kamu pun harus juga mempersenjatai dirimu de-ngan pikiran yang demikian — karena siapa yang telah menderita secara badani, ia telah berhenti berbuat dosa.” Petrus mengatakan “harus juga mempersenjatai dirimu”, menunjukkan bahwa kehidupan orang Kristen adalah suatu peperangan. Dalam 2:11 Petrus juga membicarakan mengenai peperangan, yaitu peperangan antara keinginan daging melawan jiwa. “Saudara-saudaraku yang terkasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa”. Pasal 2:11 dan 4:1 mengacu kepada peperangan yang sama, yaitu keinginan daging berjuang melawan jiwa. Menurut perkataan Petrus dalam 4:1, kita perlu mempersenjatai diri dengan pikiran Kristus untuk memerangi daging dengan keinginannya.
Jika kita mau mempersenjatai diri dengan pikiran Kristus, Kristus harus menjadi hayat kita. Kalau kita berusaha sekuatnya untuk mempersenjatai diri dengan pikiran Kristus, tetapi Kristus tidak menjadi hayat kita, maka kita hanya di luaran saja meniru Kristus. Seperti telah kita tunjukkan dalam berita terdahulu, peniruan demikian seperti melatih kera untuk meniru manusia.
Dalam 4:2 Petrus berkata bahwa kita jangan hidup dalam daging lagi menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah. Kemudian dalam ayat 3-4 ia menggambarkan cara hidup yang sia-sia. Khususnya dalam ayat 4 ia menunjukkan bahwa orang kafir merasa heran melihat kita tidak turut menceburkan diri bersama-sama mereka di dalam kubangan ketidaksenonohan. Dalam banyak kesempatan, orang-orang yang tidak percaya memfitnah dan mencelakai kaum beriman.
HAKIM BAGI ORANG YANG HIDUP
DAN YANG MATI
Dalam ayat 5 Petrus melanjutkan, “Tetapi mereka harus memberi pertanggungjawaban kepada Dia yang telah siap sedia menghakimi orang yang hidup dan yang mati.” “Mereka” dalam ayat ini mengacu kepada orang kafir (ayat 3), yang heran akan cara hidup kaum beriman yang berbeda, dan memfitnah mereka (ayat 4).
Dalam ayat 5 Petrus berkata bahwa orang-orang yang tidak percaya harus memberi pertanggungjawaban kepada Dia yang siap untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati. Ini mengacu pada menceritakan kepada Allah semua yang telah dilakukan dan dikatakan seseorang dalam seumur hidupnya. Ini mewahyukan pemerintahan Allah atas semua manusia. Dia siap menghakimi semua orang, baik orang hidup maupun orang mati. Penghakiman-Nya adalah administrasi pemerintahan-Nya yang dengannya Dia menanggulangi keadaan di antara manusia.
Kristus akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati. Terlebih dulu Ia akan menghakimi orang-orang yang hidup di antara bangsa-bangsa di takhta kemuliaan Kristus sebelum masa seribu tahun (Mat. 25:31-46) dan kemudian menghakimi orang yang telah mati di takhta putih besar setelah seribu tahun (Why. 20:11-15). Ini pun adalah penghakiman pemerintahan Allah, tetapi berbeda dengan peng-hakiman atas kaum beriman dalam ayat 6 yang dimulai dari rumah Allah dalam zaman itu (ayat 17).
Dalam Kisah Para Rasul 10:42 Petrus berkata bahwa Allah menentukan Kristus sebagai hakim atas orang-orang yang hidup dan orang-orang mati. Dalam 2Timotius 4:1 Paulus memberi tahu kepada Timotius, “Di hadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati, aku berpesan dengan sungguh-sungguh kepadamu demi kedatangan-Nya dan demi Kerajaan-Nya.” Allah telah menyerahkan segala perkara penghakiman kepada Kristus, karena Dia adalah manusia (Yoh. 5:22, 27; Kis. 10:42; 17:31; Rm. 2:16). Sebagai Hakim yang adil (2Tim. 4:8), Kristus akan menghakimi orang-orang yang masih hidup di atas takhta kemuliaan-Nya pada kedatangan-Nya kali kedua, dan akan menghakimi orang-orang yang telah mati di atas takhta putih besar setelah Kerajaan Seribu Tahun. Karena itu, Tuhan akan melaksanakan penghakiman Allah atas orang-orang hidup maupun orang-orang mati.
INJIL YANG DIBERITAKAN
KEPADA ORANG-ORANG MATI
Ayat 6 mengatakan, “Itulah sebabnya, Injil telah diberitakan juga kepada orang-orang mati, supaya mereka, sama seperti semua manusia, dihakimi secara badani; tetapi oleh roh dapat hidup menurut kehendak Allah.” Zaman demi zaman, makna dari ayat ini selalu menjadi bahan perdebatan. Apa artinya perkataan “Injil diberitakan juga kepada orang-orang mati”? Orang-orang mati di sini mengacu kepada kaum beriman dalam Kristus yang sudah mati, yang menderita aniaya karena kesaksian Kristiani mereka, seperti yang dising-gung dalam 1:6; 2:18-21; 3:6-17; dan 4:12-19. Dalam Kitab ini, penganiayaan semacam ini oleh Petrus dianggap sebagai penghakiman Allah, yang menurut pemerintahan Allah dan dimulai dari rumah Allah (ayat 17). Injil diberitakan kepada kaum beriman yang mati ketika mereka masih hidup, agar mereka di satu pihak bisa dihakimi, ditanggulagi oleh Allah dalam daging; menurut manusia melalui penganiayaan para penentang, tetapi di pihak lain, hidup di dalam roh menurut Allah dengan percaya kepada Kristus. Ini memperlihatkan betapa ketat dan seriusnya penghakiman Allah dalam administrasi pemerintahan-Nya. Jika kaum beriman yang taat kepada Injil ditanggulangi oleh penghakiman pemerintahan-Nya, lebih-lebih orang yang menentang Injil dan memfitnah orang-orang beriman, akan dihakimi oleh penanggulangan Allah (ayat. 17-18).
“Roh” dalam ayat 6 mengacu pada roh kaum beriman yang sudah dilahirkan kembali dan dihuni oleh Roh Allah (Yoh. 3:6; Rm. 8:10-11). Jadi, ini adalah roh pembauran yang di dalamnya kaum beriman hidup dan berperilaku (Rm. 8:4).
Ayat 5 dan 6 memakai istilah “orang yang mati”. Orang yang mati dalam ayat 5 mengacu kepada orang tidak percaya yang mati, yang akan dihakimi Tuhan di depan takhta putih besar setelah Kerajaan Seribu Tahun. Dalam ayat 6, orang-orang mati mengacu kepada kaum beriman yang telah mati. Ketika Petrus menulis kitab ini, banyak orang beriman Yahudi telah mati. Ketika kaum beriman ini masih hidup, Injil telah diberitakan kepada mereka. Karena itu “Injil telah diberitakan juga kepada orang-orang mati” berarti Injil telah diberitakan kepada sekelompok orang beriman, yang telah meninggal sebelum surat ini ditulis.
Petrus berkata bahwa Injil telah diberitakan juga kepada orang-orang mati, supaya mereka sama seperti semua manusia, dihakimi secara badani. Kaum beriman ini setelah beroleh selamat akan dihakimi. Ketika masih hidup mereka dihakimi secara badani.
BERBAGAI MACAM PENGHAKIMAN ALLAH
Jika kita mau memahami perkara penghakiman yang dikatakan Petrus dalam ayat 6, kita perlu memiliki pandangan yang menyeluruh terhadap seluruh surat ini. Seluruh Surat 1Petrus membicarakan pemerintahan Allah, dan yang penting dalam pemerintahan Allah adalah penghakiman yang dilakukan oleh-Nya. Penghakiman Allah dimulai dari malaikat-malaikat pemberontak dalam Kejadian 6 (2Ptr. 2:3-4). Kemudian melalui orang-orang berbagai angkatan dalam Perjanjian Lama (2Ptr. 2:5-9). Seperti Allah menghakimi Sodom dan Gomora, Allah juga berulang kali menghakimi orang Israel di padang gurun, ada kurang lebih dua juta orang Israel dihakimi Allah, mati di padang gurun. Dilihat dari satu sisi, Musa mati juga karena penghakiman Allah. Harun, Miryam, dan Musa, semua mati karena penghakiman Allah, karena mereka telah melakukan kesalahan yang melanggar pemerintahan Allah. Sampai-sampai Musa, manusia pilihan Allah, juga mati karena penghakiman Allah, ini adalah perkara yang serius. Kedua anak Harun, Nadab dan Abihu, mati karena penghakiman Allah (Im. 10:1-2). Selain itu, karena penghakiman Allah, dalam satu hari, lebih dari dua puluh ribu orang Israel mati. Ketika keluar dari Mesir, di antara orang Israel hanya Yosua dan Kaleb, dua orang, yang masuk ke Tanah Kanaan. Karena mereka setia sampai pada akhirnya, mereka tidak saja tidak dihakimi, bahkan dapat masuk ke Tanah Kanaan. Tetapi yang lainnya, yang meng-alami hari Paskah, minum air hidup yang mengalir dari batu karang yang terbelah, menyaksikan mukjizat Allah, dan yang makan manna, telah menjadi orang-orang yang tidak taat, dan mati karena penghakiman Allah. Musa pun mengalami penghakiman Allah karena sedikit ketidaktaatan. Semua contoh yang dibentangkan ini seharusnya menyadarkan kita betapa beratnya penghakiman Allah.
Dalam zaman Perjanjian Baru, penghakiman Allah dimulai dari rumah Allah (1Ptr. 1:17; 4:17) dan akan dilanjutkan hingga hari kedatangan Tuhan (2Ptr. 3:10); ini adalah hari penghakiman terhadap orang-orang Yahudi, kaum beriman, dan orang-orang kafir sebelum Kerajaan Seribu Tahun. Setelah Kerajaan Seribu Tahun, semua orang mati, termasuk manusia dan setan-setan akan dihakimi dan binasa selamanya (1Ptr. 4:5; 2Ptr. 3:7), dan langit dan bumi akan dibakar (2Ptr. 3:10, 12).
Banyak orang Kristen mempunyai konsepsi bahwa dihakimi oleh Allah adalah binasa selama-lamanya. Itu adalah pengertian yang tradisional terhadap penghakiman Allah. Sesungguhnya Alkitab menyinggung berbagai macam penghakiman dengan akibat yang berbeda-beda. Ada penghakiman yang mengakibatkan hukuman disipliner, ada yang mendatangkan hukuman sezaman (dispensasional), dan ada yang mendatangkan kebinasaan kekal. Melalui semua penghakiman, Allah membersihkan alam semesta dan memurnikannya sehingga Ia bisa mendapatkan satu langit baru dan bumi baru, satu alam semesta baru yang penuh dengan keadilan (2Ptr. 3:13), sehingga Ia berkenan.
MEMANDANG ANIAYA
SEBAGAI PENGHAKIMAN ALLAH
Menurut 4:6, penganiayaan pun dipandang sebagai salah satu bagian dalam penghakiman Allah. Dalam ayat 14-17, ditunjukkan bahwa penganiayaan adalah permulaan penghakiman Allah. Dalam ayat 15-16, Petrus berkata bahwa kita tidak seharusnya menderita karena berbuat jahat atau berbuat kekacauan, sebaliknya, kita seharusnya menderita sebagai orang Kristen. Kemudian Ia berkata dalam ayat 17 bahwa telah tiba saatnya penghakiman dimulai dari rumah Allah sendiri. Ini menunjukkan, menurut pengertian Petrus, penganiayaan yang dialami kaum beriman adalah penghakiman Allah.
Tidak banyak orang Kristen yang mengetahui bahwa penganiayaan yang dialami kaum beriman mungkin adalah penghakiman Allah atas diri mereka. Saya baru memahami secara demikian terhadap ayat 6 setelah membaca surat ini belakangan ini. Setelah saya membaca, saya nampak bahwa penghakiman yang dikatakan dalam ayat 6 mengacu kepada penganiayaan yang diatur Allah terhadap kaum beriman pilihan-Nya. Untuk menjaga agar kita tidak berbuat dosa, tidak mengumbar hawa nafsu, Allah mungkin mengatur penganiayaan bagi kita. Penganiayaan Allah adalah penghakiman dalam pemerintahan Allah, yaitu penghakiman pendisiplinan sezaman. Karena itu, penganiayaan adalah tindakan pendisiplinan sezaman dari Allah terhadap umat pilihan-Nya. Penghakiman dalam ayat 6 bukanlah penghakiman yang berhubungan dengan kebinasaan kekal, penghakiman kekal, melainkan pendisiplinan sezaman.
Kita telah nampak bahwa Allah melaksanakan penanggulangan dalam pemerintahan-Nya melalui berbagai macam penghakiman. Allah menghakimi malaikat yang murtad, Kota Sodom dan Gomora, dan umat Israel di padang gurun. Ia juga menghakimi kaum beriman dalam Perjanjian Baru. Penganiayaan dapat menimpa kaum beriman karena mereka salah dalam hal-hal tertentu. Allah dapat menggunakan penganiayaan sebagai ganjaran sezaman. Ganjaran sezaman ini adalah penghakiman Allah dalam pemerintahan-Nya atas diri kita, untuk menggenapkan kita. Tujuan penghakiman adalah agar kita dapat hidup bersandar Allah di dalam roh.
WASPADA DAN TENANG, SUPAYA DAPAT BERDOA
Dalam 4:7-11 Petrus melanjutkan pembicaraannya mengenai pengurus yang baik dari berbagai anugerah Allah. Ayat 7 mengatakan, “Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu, kuasailah dirimu dan waspadalah, supaya kamu dapat berdoa.” Segala sesuatu yang menjadi sandaran daging akan berlalu, dan menurut perkataan rasul di sini, kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Ini mengingatkan kita bahwa kehidupan yang kita tempuh dalam daging, dalam nafsu manusia (ayat 2) akan segera berakhir, karena semuanya itu berhubungan dengan segala sesuatu yang segera berlalu. Karena itu, kita harus menguasai diri, waspada dan tenang, supaya kita dapat berdoa. Menurut bahasa aslinya, “menguasai diri” di sini berarti “berpikiran jernih, sehat, tenang, mampu memahami segala sesuatu dengan wajar dan tuntas tanpa gangguan”. Selain itu, “waspadalah, supaya dapat berdoa” berarti tenang untuk berjaga-jaga, juga berarti siap sedia. Inilah waspada dan tenang supaya dapat berdoa. Ini sama dengan firman Tuhan, “Berjaga-jagalah dan berdoalah” (Mat. 26:41; Luk. 21:36).
Kita perlu mengetahui bahwa segala sesuatu akan berakhir. Petrus berkata bahwa kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Sebab itu, kita tidak boleh mencintai hal-hal materi, sebaliknya harus mempunyai pikiran yang jernih, waspada dan tenang supaya dapat berdoa. Jangan arahkan pikiran Anda pada rumah yang indah, mobil yang bagus, atau pendidikan yang lebih tinggi. Kesudahan hal-hal semacam itu sudah dekat.
KASIH DAN MEMBERI TUMPANGAN
Ayat 8 mengatakan, “Tetapi yang terutama: Kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa.” Kasih adalah yang paling utama.
Dalam ayat 9 Petrus berkata “Berilah tumpangan seorang akan yang lain tanpa bersungut-sungut.” Petrus menulis ayat ini berdasarkan pengalamannya. Ia tahu bahwa memberi tumpangan kepada orang bisa mendatangkan banyak kerepotan. Karena kaum beriman mengasihi Tuhan, gereja, dan ministri, mereka rela memberi tumpangan kepada orang yang berkunjung dari tempat lain. Namun, kaum beriman yang memberi tumpangan kepada pendatang mungkin menggerutu. Ada orang yang mengeluh terhadap kaum beriman yang tinggal bersamanya. Itulah bersungut-sungut. Saya berharap kita memberi tumpangan kepada yang lain, tanpa menggerutu.
PENGELOLA YANG BAIK
DARI BERBAGAI ANUGERAH
Ayat 10 melanjutkan “Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengelola yang baik dari (berbagai) anugerah Allah.” Berbagai anugerah Allah, seperti “segala anugerah” dalam 5:10, adalah suplai hayat yang kaya, juga adalah Allah Tritunggal yang dilayankan ke dalam kita dalam banyak aspek (2Kor. 13:13; 12:9). Sebagai pengurus rumah yang baik, kita harus melayankan anugerah semacam ini kepada gereja dan orang kudus dengan karunia yang telah kita terima, bukan sakadar doktrin atau hal-hal yang sia-sia.
Ayat 10 melanjutkan ayat 9, fakta ini menunjukkan bahwa memberi tumpangan kepada tamu adalah satu macam karunia. Memberi tumpangan kepada orang lain adalah memberi satu kesempatan yang baik kepada kita untuk menyuplaikan anugerah Allah kepada mereka. Anda perlu anugerah untuk menyediakan makanan, transportasi, atau membantu mereka dalam keperluan khusus. Kalau mereka terlambat, Anda harus menantikan mereka dengan sabar. Melalui ini kita nampak bahwa dalam memberi tumpangan kepada tamu, kita perlu menyuplaikan berbagai anugerah Allah kepada mereka. Tentu, dalam ayat 10, maksud Petrus bukanlah kita menyuplaikan anugerah hanya ketika melayani tamu. Maksud Petrus, entah karunia apa yang kita peroleh, kita harus menyuplaikan anugerah sesuai dengan karunia yang kita peroleh itu.
Dalam ayat 11 Petrus berkata “Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah; jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus. Dialah yang punya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya! Amin.” “Firman Allah” di sini adalah pembicaraan atau pengutaraan ilahi seperti wahyu. Dalam pelayanan anugerah seperti yang disebutkan ayat 10, pembicaraan kita seharusnya adalah pembicaraan Allah, pengutaraan Allah, yang mengandung wahyu ilahi.
Dalam ayat 11 Petrus menyinggung kekuatan yang Allah anugerahkan (suplaikan). Melalui Roh Kristus, Allah menyuplaikan kepada kita kekuatan melayani dari hayat kebangkitan Kristus (Flp. 1:19; 4:13)
DALAM SEGALA SESUATU
ALLAH DIMULIAKAN KARENA KRISTUS
Menyampaikan firman Allah dan melayani berdasarkan kekuatan pelayanan yang Allah suplai, bertujuan “supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus”. Ini menyatakan bahwa semua pelayanan anugerah kita, baik dalam berbicara atau dalam melayani, seharusnya penuh dengan Kristus, agar Allah bisa dimuliakan melalui Kristus di dalam segala hal.
Dengan perkataan selanjutnya Petrus menutup ayat 11: “Dialah yang punya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya! Amin.” “Dia” adalah kata ganti mengacu kepada Allah. Kemuliaan dan kuasa adalah kepunyaan-Nya. Kemuliaan adalah yang di luar, kuasa adalah yang di dalam. Kuasa menyuplaikan kekuatan di dalam kita; kemuliaan adalah Allah dimuliakan di atas diri kita. Karena itu, kemuliaan berhubungan dengan dimuliakan, kuasa berhubungan dengan kekuatan.