← Daftar isi 1 Petrus (2) · bab 5/11

KEHIDUPAN KRISTIANI DAN PENDERITAANNYA (10)

Pembacaan Alkitab: 1Ptr. 4:12-19

Dalam berita ini kita sampai pada 4:12-19. Bagian ini membicarakan bersukacita karena berbagian dalam penderitaan Kristus.

DIMURNIKAN MELALUI NYALA API SIKSAAN

Dalam ayat 12 Petrus berkata, “Saudara-saudara yang terkasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan (pengujian) yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu.” Nyala api siksaan dalam bahasa Yunaninya purosei berarti menyala-nyala, melambangkan tungku pemurni emas dan perak yang menyala-nyala (Ams. 27:21; Mzm. 66:10); ini serupa dengan kiasan yang dipakai dalam 1:7. Petrus menganggap penganiayaan yang diderita kaum beriman sebagai tungku yang menyala-nyala yang digunakan Allah untuk memurnikan hayat mereka. Inilah cara Allah menanggulangi kaum beriman dalam penghakiman administrasi pemerintahan-Nya, yang dimulai dari rumah-Nya sendiri (4:17-19). Bahasa Yunani untuk kata “heran” dalam ayat 12 adalah xenizo, sama dengan yang digunakan dalam ayat 4. Penganiayaan yang hebat (menyala-nyala) adalah biasa bagi kaum beriman; mereka tidak seharusnya menganggapnya sebagai sesuatu yang aneh atau asing, dan mereka seharusnya tidak terkejut dan heran karenanya. Penganiayaan ini adalah satu pengujian, satu pencobaan.

Petrus menggunakan kiasan tungku api yang menyala-nyala dalam ayat 12 untuk menyatakan bahwa hari ini Tuhan menggunakan penganiayaan dan ujian-ujian sebagai pembakaran untuk tujuan yang positif. Tujuan yang positif dari penganiayaan dan ujian adalah pemurnian hayat kita. Kita dapat diumpamakan sebagai emas dan perak. Akan tetapi, kita masih mengandung kotoran. Sebab itu, kita perlu dimurnikan. Seperti emas dan perak dimurnikan melalui api, kita juga perlu dimurnikan dengan cara demikian. Dalam ayat 12 Petrus mengatakan kepada kaum beriman jangan menganggap nyala api pengujian sebagai hal yang aneh. Sebagai orang Kristen, kita harus menyadari bahwa nyala api pengujian adalah biasa. Penganiayaan dan ujian-ujian adalah pengalaman yang biasa bagi orang-orang Kristen. Hal-hal itu tidak aneh, asing, atau tidak lazim bagi kita. Sebaliknya, adalah hal-hal yang biasa, karena kita telah ditentukan bagi hal-hal itu. Nasib kita adalah menderita dalam zaman ini. Tentu saja, ini bukanlah nasib yang kekal. Allah tidak menakdirkan kita untuk menderita dalam kekekalan, tetapi Dia pasti menakdirkan kita untuk menderita dalam zaman ini.

BERBAGIAN DALAM PENDERITAAN KRISTUS

Dalam ayat 13 Petrus melanjutkan, “Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya.” Meskipun penganiayaan merupakan satu ujian yang memurnikan kita melalui pembakaran, namun akhirnya Petrus mengatakan bahwa dengan mengalami semacam nyala api pengujian, kita berbagian dalam penderitaan Kristus. Di sini Petrus mengatakan bahwa mungkin saja penderitaan yang dialami orang Kristen adalah penderitaan Kristus. Bagaimana penganiayaan yang kita derita dapat menjadi penderitaan Kristus? Jika kita bukan orang Kristen, kita tentu tidak menderita penganiayaan seperti yang tercantum dalam ayat 12-13. Penganiayaan semacam itu ada dikarenakan kita adalah orang Kristen, manusia Kristus. Karena kita percaya Kristus, mengasihi Kristus, memperhidupkan Kristus, memikul kesaksian untuk Kristus, bersaksi bagi-Nya dalam zaman ini, maka dunia bangkit melawan kita. Zaman ini berada di bawah tangan si jahat, dan karena itulah orang-orang yang tak percaya menganiaya siapa saja yang percaya dan bersaksi bagi Kristus. Dalam pandangan Allah penderitaan semacam ini adalah penderitaan Kristus. Contohnya, seorang saudara mungkin mempunyai kesempatan menjadi kaya. Tetapi karena dia percaya Kristus, mengasihi Kristus dan mengikuti Kristus, maka usahanya mungkin menderita, dan dia kehilangan kesempatan menjadi orang kaya. Bahkan dia mungkin benar-benar dalam kemiskinan. Kemiskinan semacam ini adalah penderitaan Kristus. Penderitaan bagi Kristus itu dihitung oleh Allah sebagai penderitaan Kristus.

Kristus menempuh satu kehidupan yang menderita. Sekarang kita adalah mitra-Nya, menempuh kehidupan yang sama seperti yang Dia tempuh. Menurut Kitab Ibrani, kita bukan hanya orang yang berbagian dalam Kristus, juga mitra Kristus (Ibr. 3:14). Kita bekerja sama dengan-Nya dalam menempuh kehidupan menderita. Kita mengikuti-Nya sepanjang jalan penderitaan. Ini berarti bahwa apa yang diderita Kristus, juga diderita oleh kita. Sebab itu, ketika kita menderita bagi Kristus dalam jalan ini, penderitaan kita dihitung oleh Allah sebagai penderitaan Kristus.

Jangan berkecil hati karena kita harus menderita sebagai orang Kristen. Penderitaan ini bersifat positif dan sangat berharga. Betapa istimewanya mengalami penderitaan Kristus! Paulus pun dapat mengatakan yang dia genapkan adalah apa yang kurang dari penderitaan Kristus untuk Tubuh-Nya, yaitu gereja (Kol. 1:24). Dia juga mengatakan dalam Filipi 3:10 mengenai persekutuan dalam penderitaan Kristus. Hari ini kita harus menjadi orang Kristen, pengikut-pengikut Kristus, yang mengalami penderitaan Kristus. Kita perlu berbagian bukan hanya dalam kekayaan Kristus, tetapi juga dalam penderitaan Kristus. Jika kita berpandangan demikian, kita akan berbesar hati setiap kali kita menderita bagi Kristus. Kita bahkan mungkin menyambut penderitaan ini. Ya, kita mungkin menghadapi nyala api pengujian, tetapi itulah penderitaan Kristus yang di dalamnya kita memiliki hak istimewa untuk berbagian.

KEGEMBIRAAN DAN SUKACITA

Dalam ayat 13 Petrus mengatakan bahwa saat kita berbagian dalam penderitaan Kristus, kita harus bersukacita, supaya pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya kita boleh bergembira dan bersukacita. Dalam ayat ini Petrus mengatakan tentang bergembira dan bersukacita. Menurut pengertian saya, ini berarti bahwa kita tidak hanya bersukacita di dalam batin, tetapi juga akan menyuarakan sukacita kita. Pada saat yang sama, kita boleh menjulurkan tangan kita dan melompat karena sukacita. Inilah artinya bergembira dan bersukacita dengan sukaria. Pada saat kemuliaan Tuhan dinyatakan, kita bersukacita. Saya percaya bahwa kita akan bersorak, bergembira dan mungkin melompat karena sukacita. Kita akan gembira sepenuhnya, lupa diri karena sukacita. Hari ini kita mungkin bersukacita, tetapi ketika Tuhan menyatakan diri, kita akan bergembira dan bersukacita.

DIHINA DALAM NAMA KRISTUS

Dalam ayat 14 Petrus selanjutnya berkata, “Berbahagia-lah kamu, jika kamu dihina karena (dalam) nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu.” Dalam nama Kristus berarti dalam persona Kristus, dalam diri Kristus. Karena kaum beriman sudah percaya ke dalam Kristus (Yoh. 3:15), sudah dibaptis ke dalam nama-Nya (Kis. 19:5), yaitu ke dalam diri-Nya (Gal. 3:27), maka mereka ada di dalam Kristus (1Kor. 1:30) dan bersatu dengan Dia (1Kor. 6:17). Ketika mereka dihina dalam nama-Nya, mereka dihina bersama-Nya, mengambil bagian dalam penderitaan-Nya (ayat 13), memiliki persekutuan dalam penderitaan-Nya (Flp. 3:10).

Penganiayaan yang kita derita adalah penderitaan Kristus karena kita menerimanya dalam nama Kristus. Menurut perkataan Petrus dalam ayat 14, kita berbahagia jika kita dihina dalam nama Kristus. Jangan mengira bahwa dihina dalam nama Kristus adalah suatu kutukan. Ini adalah berkat. Akan tetapi, ini mungkin bisa menjadi suatu kutukan jika orang menghargai kita terlalu tinggi. Mengenai masalah ini, kita perlu mengubah konsepsi kita.

Hari ini orang-orang yang menentang, menyebarkan kabar angin mengenai kita dan menuduh kita mengajarkan bidah. Saya dapat bersaksi bahwa saya adalah seorang Kristen fundamental dan saya sangat mengasihi firman Kudus. Saya tidak mengajarkan apa pun selain Alkitab dengan Yesus Kristus. Namun, saya dituduh mengajarkan bidah. Di satu pihak, saya menyambut hinaan macam ini, karena ini benarbenar suatu berkat, bukan suatu kutukan.

ROH KEMULIAAN

MEMILIKI PERHENTIAN ATAS KITA

Petrus mengatakan dalam ayat 14 bahwa jika kita dihina dalam nama Kristus, Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada pada kita. Dalam bahasa Yunani secara harfiah dikatakan, “Roh kemuliaan dan Roh Allah memiliki perhentian di atas kamu.” Roh kemuliaan adalah Roh Allah. Roh kemuliaan adalah Dia yang melalui-Nya Kristus dimuliakan dalam kebangkitan-Nya (Rm. 1:4). Roh kemuliaan ini, yaitu Roh Allah sendiri, memiliki perhentian di atas kaum beriman yang menderita dalam penganiayaan, supaya Kristus yang bangkit dan ditinggikan, yang sekarang ada dalam kemuliaan (ayat 13), mendapatkan kemuliaan.

Dalam surat ini Petrus menyebut Roh Allah sebanyak 4 kali. Dalam 1:2 dia membicarakan tentang pengudusan Roh, dalam 1:11 dia mengatakan bahwa Roh Kristus di dalam nabi-nabi Perjanjian Lama, dan dalam 1:12 dia mengatakan tentang Roh Kudus diutus dari surga. Di sini dalam 4:14 Petrus mengatakan bahwa Roh kemuliaan memiliki perhentian di atas kaum beriman yang dianiaya. Menurut apa yang dikatakan Petrus dalam surat ini, Roh Kristus ada di dalam kita, dan Roh kemuliaan memiliki perhentian di atas kita. Roh Kristus di dalam kita untuk mewahyukan segala apa adanya Kristus kepada kita, menjadi kenikmatan kita. Roh kemuliaan memiliki perhentian di atas kita untuk memuliakan Allah. Dikatakan dari aspek Roh yang ajaib ini, Roh ini di dalam kita untuk mewahyukan Kristus; dikatakan dari aspek lain dari Roh yang sama, Dia juga adalah Roh kemuliaan yang memiliki perhentian di atas kita.

Semakin kita menderita, semakin dianiaya, semakin ada kemuliaan di atas kita. Ini benar-benar berkat. Saya dapat bersaksi bahwa semakin saya dianiaya dan difitnah, semakin saya mendapatkan kekuatan. Penganiayaan dan hinaan tidak menekan saya jatuh. Sebaliknya, mengangkat saya. Sebab itu, kita harus bergembira ketika kita dihina dalam nama Kristus, karena Roh kemuliaan memiliki perhentian di atas kita.

MENDERITA SEBAGAI ORANG KRISTEN

Dalam ayat 15 dikatakan, “Janganlah ada di antara kamu yang harus menderita sebagai pembunuh atau pencuri atau penjahat, atau pengacau.” “Pengacau”, secara harfiah berarti pencampur urusan orang lain, menyatakan orang yang menimbulkan masalah dengan mencampuri urusan orang lain. Jika kita sembarangan dalam hidup gereja, kita bisa mencampuri, ikut campur dalam urusan-urusan orang lain. Jika kita menderita karena hal-hal ini, penderitaan semacam itu tidak terhitung apa-apa. Itu adalah bagian dari cara hidup yang sia-sia.

Dalam ayat 16 Petrus melanjutkan, “Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu.” Dalam ayat 14 dan 16 kita mempunyai dua nama. Yang pertama adalah Kristus, dan yang kedua adalah orang Kristen. Jika kita menderita karena kedua nama ini, itulah kemuliaan. Penderitaan semacam ini adalah me-muliakan Allah. Hal ini memuliakan Allah, sebab jika kita menderita dalam nama Kristus dan menderita sebagai orang Kristen, maka Roh Allah, yaitu Roh kemuliaan, memiliki perhentian atas kita. Jika kita menderita karena Kristus, kemuliaan memiliki perhentian di atas kita, dan kemuliaan itu sesungguhnya adalah Roh kemuliaan itu sendiri.

Bahasa Yunani untuk orang Kristen adalah Christianos, kata yang terbentuk dari bahasa Latin. Akhiran ianos, me-nyatakan bawahan seseorang, diterapkan kepada budak-budak milik keluarga-keluarga besar (kaya) di Kekaisaran Romawi. Orang yang menyembah maharaja atau Kaisar disebut Kaisarianos, yang berarti bawahan Kaisar, orang milik Kaisar. Ketika orang-orang percaya kepada Kristus dan menjadi pengikut-pengikut-Nya, sebagian orang dalam Kekaisaran Romawi menganggap Kristus sebagai pesaing Kaisar mereka. Kemudian, di Antiokhia (Kis. 11:26) mereka mulai menyebut para pengikut Kristus itu Christianoi (orang Kristen), bawahan Kristus, sebuah julukan yang diucapkan dengan nada mengejek. Karena itu, ayat ini mengatakan, “Jika ia menderita sebagai orang Kristen, janganlah ia malu.” Maksudnya, jika seorang beriman menderita karena penganiaya menghinanya dengan memanggilnya orang Kristen, dia tidak seharusnya merasa malu, sebaliknya ia harus memuliakan Allah dalam nama ini.

Hari ini, istilah Kristen seharusnya mengandung makna yang positif, yaitu manusia milik Kristus, orang yang bersatu dengan Kristus, bukan hanya menjadi milik-Nya, bahkan memiliki hayat dan sifat-Nya dalam kesatuan organik dengan Dia, dan yang hidup oleh Dia serta memperhidupkan Dia dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita menderita karena menjadi orang semacam ini, kita tidak seharusnya merasa malu, melainkan dengan berani memperbesar Kristus dalam pengakuan kita dengan cara hidup kita yang unggul dan kudus, untuk memuliakan (mengekspresikan) Allah dalam nama ini.

PENGHAKIMAN DIMULAI DARI RUMAH ALLAH

Dalam ayat 17 Petrus berkata, “Karena sekarang telah tiba saatnya penghakiman dimulai dari rumah Allah sendiri. Jika penghakiman itu dimulai pada kita, bagaimana pula kesudahannya dengan mereka yang tidak percaya pada Injil Allah?” Kitab ini memperlihatkan pemerintahan Allah, khususnya dalam hubungannya dengan penanggulangan-Nya terhadap umat pilihan-Nya. Penderitaan-penderitaan yang mereka alami dalam penganiayaan yang kejam dipakai-Nya sebagai sarana untuk menghakimi mereka supaya mereka didisiplinkan, dimurnikan, dan dipisahkan dari orang-orang yang tidak percaya yang tidak memiliki nasib yang sama seperti mereka. Jadi, penghakiman penanggulangan itu dimulai dari rumah-Nya sendiri, dan tidak dilaksanakan hanya satu kali, atau dua kali, melainkan dilaksanakan terus-menerus sampai kedatangan Tuhan.

Seperti telah kita jelaskan, Petrus memakai kata “penghakiman” dalam ayat 17 menyatakan bahwa penganiayaan dan penderitaan adalah semacam penghakiman. Akan tetapi, penghakiman ini bukan untuk penghukuman pada kebinasaan kekal. Ini adalah suatu penghakiman pendisiplinan, yaitu pendisiplinan sezaman (dispensasional) untuk memurnikan hayat kita. Penghakiman ini adalah nyala api pengujian, sebuah tungku pembakaran, untuk memurnikan kita dan menyingkirkan segala sampah. Kita dapat diumpamakan sebagai emas, tetapi kita masih mempunyai kotoran tertentu, karena itu kita perlu dimurnikan. Tidak ada pengajaran atau persekutuan yang dapat menyempurnakan pemurnian ini. Penghakiman penanggulangan dari tungku pembakaran diperlukan untuk melaksanakannya.

PENDISIPLINAN SEZAMAN (DISPENSASIONAL)

Pikiran tentang pendisiplinan sezaman tidak hanya terdapat dalam tulilsan-tulisan Petrus, tetapi juga dalam surat-surat Paulus. Paulus menyebutkan masalah ini dalam 1Korintus 11:27-32. Dalam ayat 27-29 Paulus berkata, “Jadi, siapa saja dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. Karena itu, hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu. Karena siapa yang makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman (penghakiman) atas dirinya.” Makan roti dan minum cawan Tuhan dengan cara yang tidak layak adalah tidak menghargai arti roti dan cawan Tuhan. Roti dan cawan Tuhan menyatakan tubuh-Nya terbelah bagi kita dan darah-Nya tercurah bagi dosa-dosa kita, melalui kematian penebusan-Nya bagi kita. Bagi setiap orang, bersalah terhadap tubuh dan darah Tuhan adalah mendatangkan penghakiman atas dirinya sendiri. Dalam ayat 29 Paulus memakai kata “penghakiman”, mengatakan bahwa orang yang makan dan minum tanpa mengakui tubuh, mendatangkan penghakiman atas dirinya sendiri. Makan roti dan minum cawan Tuhan dengan cara yang tidak layak mendatangkan penghakiman. Penghakiman ini bukan penghukuman kekal, ini adalah pendisiplinan Tuhan yang sementara.

Paulus melanjutkan pembicaraan tentang disiplin sementara ini dalam 1Korintus 11:30-32. Dalam ayat 30 dia berkata, “Sebab itu banyak di antara kamu yang lemah dan sakit, dan tidak sedikit yang meninggal.” Inilah pendisiplinan Tuhan, penghakiman Tuhan yang sementara, atas mereka yang mengambil bagian dalam tubuh Tuhan dengan cara yang tidak layak. Terlebih dulu Tuhan mendisiplin mereka, sehingga tubuh mereka menjadi lemah. Kemudian, karena mereka tidak mau bertobat atas kesalahan mereka, mereka dihajar lebih lanjut sehingga mereka menjadi sakit. Karena mereka masih tidak mau bertobat, Tuhan mengha-imi mereka dengan kematian. Mati secara demikian sama dengan ditewaskan di padang gurun dalam 10:15. Ayat ini adalah sebuah gambaran yang jelas tentang apa yang kami maksud dengan pendisiplinan sezaman dari Allah.

Dalam ayat 31-32 Paulus selanjutnya berkata, “Kalau kita menguji diri kita sendiri, hukuman (penghakiman) tidak menimpa kita. Tetapi kalau kita menerima hukuman (penghakiman) dari Tuhan, kita dididik, supaya kita tidak akan dihukum bersama-sama dengan dunia.” Kata “menguji” di sini berarti membedakan diri sendiri, membuat penilaian (penghakiman) yang tepat terhadap diri sendiri. Ini menunjukkan jika kita menghakimi diri sendiri, kita tidak akan dihakimi. Penghakiman dalam ayat 32 bukan untuk kebinasaan kekal. Dalam ayat ini, dihakimi oleh Tuhan menunjukkan bahwa ketika kita, kaum beriman, yang mengasihi Tuhan Yesus, dihakimi oleh Tuhan, maksudnya adalah supaya kita tidak dihukum bersama dengan dunia. Dihakimi oleh Tuhan bersifat sementara, tetapi dihukum bersama dunia bersifat kekal. Penghukuman atas dunia adalah untuk kebinasaan kekal. Tetapi penghakiman yang kita derita hari ini adalah untuk pendisiplinan sezaman, bukan untuk kebinasaan kekal.

Kita jangan masa bodoh terhadap apa yang dikatakan Alkitab mengenai penghakiman Allah. Orang-orang Kristen hari ini banyak yang tidak tahu apa-apa tentang pendisiplinan sezaman dari Allah. Ketika mereka membaca tentang penghakiman, mereka mungkin berkata, “Oh, kami telah ditebus oleh Tuhan, dan kami tidak mungkin dihakimi. Adalah bidah bila seseorang mengajarkan bahwa orang Kristen dapat dihakimi oleh Allah.” Seperti yang telah kita lihat, hal ini bukanlah sebuah ajaran bidah atau pengajaran orang-orang tertentu. Inilah pengajaran firman kudus. Masalah pendisiplinan sezaman dari Allah diajarkan baik oleh Petrus maupun Paulus. Sebab itu, kita perlu percaya dan menerima pengajaran ini dari firman Allah yang murni.

Menurut Alkitab, Allah dalam pemerintahan-Nya melaksanakan administrasi universal-Nya dengan bermacammacam penghakiman. Kita tidak boleh mempunyai konsepsi bahwa Allah tidak menghakimi dunia hari ini. Penghakiman Allah ada di mana-mana. Setiap bangsa ada di bawah penghakiman-Nya. Menurut catatan dalam Matius 25, pada saat kedatangan Tuhan kembali, semua orang yang hidup akan dihakimi. Pada akhir Kerajaan Seribu Tahun, semua orang tidak percaya yang mati akan dihakimi oleh Tuhan pada takhta putih. Jadi, akan ada penghakiman bagi orang yang hidup dan yang mati.

Di antara dua penghakiman ini, akan ada satu periode seribu tahun, Kerajaan Seribu Tahun. Sebelum permulaan Kerajaan Seribu Tahun, akan ada penghakiman bagi semua bangsa yang masih hidup. Pada saat itu, Tuhan akan membawa semua orang kafir yang masih hidup ke takhta kemuliaan-Nya untuk dihakimi. Beberapa orang akan dihakimi sebagai “kambing” dan akan dilemparkan ke dalam laut-an api. Mereka akan langsung ke lautan api, tanpa melewati alam maut. Seluruh diri mereka — tubuh, jiwa, dan roh — akan dilemparkan ke dalam lautan api. Setelah Kerajaan Seribu Tahun, Tuhan Yesus akan menghakimi orang-orang tidak percaya yang mati di takhta putih. Pada waktu itu, Dia juga akan menghakimi setan-setan. Kemudian orang-orang yang tidak percaya dan setan-setan akan dilemparkan ke dalam lautan api. Penghakiman ini adalah penghakiman untuk kebinasaan kekal.

Kita, orang-orang yang telah beroleh selamat, tidak akan mempunyai bagian dalam penghakiman untuk kebinasaan kekal. Kita tidak perlu takut akan penghakiman itu. Menyinggung penghakiman untuk kebinasaan kekal, Allah telah melewatkan kita dalam Kristus sebagai Domba Paskah kita. Akan tetapi, kita tidak boleh mengira bahwa karena Allah telah melewatkan kita dari penghakiman itu, maka kita tidak akan mempunyai masalah apa pun dan tidak akan menderita penghakiman pendisiplinan sezaman dari Allah.

Keadaan kita sebagai kaum beriman dalam Kristus dapat dibandingkan dengan bani Israel. Mereka mengalami Paskah dan mereka ditebus dengan domba Paskah. Setelah mereka keluar dari Mesir dan menyeberangi Laut Merah, mereka menikmati air hidup yang keluar dari batu karang dan manna surgawi. Mereka melihat mukjizat yang Allah lakukan untuk mereka. Namun, dari dua juta orang lebih yang keluar dari Mesir, hanya dua orang, yaitu Yosua dan Kaleb, yang lolos dari penghakiman Allah yang mengarah kepada kematian. Semua yang lain, termasuk Musa, Harun, dan Miryam mati di bawah penghakiman Allah. Ini tidak berarti mereka berada di bawah kutukan Allah. Ini berarti mereka di bawah penghakiman pendisiplinan sezaman dari Allah. Seperti yang telah kami uraikan, penghakiman semacam ini bukan untuk kebinasaan kekal. Ini mutlak berhubungan dengan penanggulangan pendisiplinan sezaman dari Allah. Tentu saja, Musa diselamatkan. Allah ingin memelihara tubuhnya sehingga Musa dapat muncul di atas gunung pengubahan bersama Tuhan. Tetapi karena Musa membuat satu kesalahan, Allah memberikan kepadanya satu penghakiman pendisiplinan yang khusus.

Karena banyak orang Kristen hari ini diselubungi oleh pengajaran-pengajaran tradisional, maka saya mendorong Anda untuk kembali ke firman Allah yang jelas dan murni, yang mengungkapkan dan menerangi. Menurut firman Allah, kita tahu bahwa Allah melaksanakan pemerintahan-Nya dengan penghakiman yang berbeda-beda. Penghakimanpenghakiman ini termasuk penghakiman untuk kebinasaan kekal dan penghakiman pendisiplinan sezaman.

Penghakiman Allah untuk pendisiplinan sezaman mutlak berbeda dengan konsepsi agama tentang purgatori (api penyucian dosa). Beberapa tahun yang lalu, saya dituduh mengajarkan doktrin tentang purgatori. Pengajaran tentang purgatori adalah salah. Tetapi mengajarkan masalah penghakiman pendisiplinan, sebuah pendisiplinan sezaman, sepenuhnya sesuai dengan Alkitab. Pengajaran ini sama sekali tidak berhubungan dengan purgatori, dan tentu saja bukan bidah.

Kita perlu melihat kebenaran mengenai penghakiman Allah dan memiliki rasa takut yang kudus terhadap Allah. Seperti yang disebutkan Paulus dalam 1Korintus 11, kita perlu berhati-hati dalam mengambil bagian dalam perjamuan Tuhan. Adalah satu berkat yang besar untuk berbagian dalam perjamuan Tuhan. Akan tetapi, kita perlu mengambil roti dan cawan dengan tepat. Jika kita ceroboh dalam hal ini, kita akan makan dan minum penghakiman atas diri kita sendiri. Penghakiman ini dapat menyangkut kelemahan, penyakit, ataupun mati. Kelemahan adalah sebuah peringatan, dan penyakit adalah peringatan lebih lanjut. Jika kita tidak memperhatikan peringatan-peringatan ini, kita mungkin mengalami penghakiman kematian. Penghakiman ini adalah pendisiplinan Allah, yaitu suatu penghakiman pendisiplinan sezaman yang dilaksanakan atas kaum beriman yang bersalah dalam hal-hal tertentu. Inilah salah satu dasar pengajaran rasul-rasul, dan ini diajarkan baik oleh Petrus maupun Paulus.