KEHIDUPAN KRISTIANI DAN PENDERITAANNYA (8)
Pembacaan Alkitab: 1Ptr. 4:1-4
DIPERSENJATAI DENGAN PIKIRAN KRISTUS
Dalam 1Petrus 4:1-6 Petrus menyinggung masalah kaum beriman mempersenjatai diri dengan pikiran Kristus untuk menderita. Ayat 1 mengatakan, “Jadi, karena Kristus telah menderita secara badani, kamu pun harus juga mempersenjatai dirimu dengan pikiran yang demikian — karena siapa yang telah menderita secara badani, ia telah berhenti berbuat dosa.” Kata “mempersenjatai” menunjukkan bahwa kehidupan orang Kristen adalah suatu peperangan.
Satu tujuan utama dari kitab ini adalah mendorong dan menasihati kaum beriman untuk mengikuti jejak Kristus saat mereka menderita aniaya (1:6-7; 2:18-25; 3:8-17; 4:12-19). Mereka harus memiliki pikiran yang sama dengan pikiran Kristus dalam penderitaan-Nya (3:18-22). Fungsi utama pikiran adalah untuk mengerti dan memahami. Untuk menempuh hidup yang mengikuti jejak Kristus, kita memerlukan pikiran yang diperbarui (Rm. 12:2) untuk mengerti dan memahami jalan hidup Kristus guna menggenapkan kehendak Allah.
Dalam realitas kehidupan kita sehari-hari, bagian yang terkuat dari diri kita adalah pikiran kita. Apa pun yang kita lakukan dalam kehidupan kita “diperintah” oleh pikiran kita. Bukan tekad, tetapi pikiranlah yang memerintah hidup kita. Semua kegiatan kita di bawah perintah pikiran kita.
Karena pikiran memerintah kehidupan kita, maka pemberitaan firman harus mengubah pikiran seseorang. Satu sasaran pemberitaan dan pengajaran adalah mengubah pikiran seseorang. Jika kita berpikir dalam cara tertentu, kita akan diperintah dalam cara tertentu itu. Tetapi jika kita mengubah pikiran kita dan berpikir dengan cara yang lain, kehidupan kita akan mempunyai arah yang berbeda. Apa yang kita pikirkan mempengaruhi apa yang kita lakukan, katakan, dan laksanakan. Karena alasan inilah Petrus dalam 4:1 menyuruh kaum beriman mempersenjatai diri mereka dengan pikiran Kristus.
Mempersenjatai diri kita dengan pikiran Kristus berarti mempersenjatai diri dengan pikiran dan konsepsi Kristus. Ini secara tidak langsung menyatakan bahwa kita mengubah cara kita berpikir. Banyak orang Kristen mengira asal seseorang mengasihi Allah dan melakukan kehendak-Nya, ia ada di bawah berkat-Nya dan tidak akan menderita apa pun. Umumnya orang-orang Kristen mempunyai konsepsi bahwa siapa saja yang mengasihi Tuhan tidak akan tertimpa penderitaan. Tetapi bagaimana dengan kehidupan Kristus? Apakah Dia tidak mengasihi Allah? Apakah Dia tidak melakukan kehendak Allah? Kristus mengasihi Allah sampai pada puncaknya, dan Dia melakukan kehendak Allah dengan penuh dan mutlak. Tetapi apa yang terjadi pada Dia dalam kehidupan-Nya? Seumur hidup-Nya di bumi sepertinya tidak ada berkat, hanya ada penderitaan. Dia dilahirkan dalam satu keluarga miskin, satu keluarga yang tidak terhitung kelas tinggi. Memang, keluarga itu keturunan Daud, jadi dari keturunan raja. Tetapi ketika Tuhan Yesus dilahirkan, keluarga raja ini sangat miskin. Selain itu, keluarga ini tidak tinggal di Yerusalem, tetapi di Nazaret, kota yang dipandang rendah di Galilea. Galilea dapat dibandingkan dengan satu negara bagian yang termiskin di Amerika Serikat, satu negara bagian yang tidak dapat disamakan dengan negara-negara bagian lain yang penduduknya kaya dan mempunyai populasi yang besar. Tuhan Yesus tinggal di Nazaret selama lebih dari 30 tahun. Pada awal kehidupan-Nya, Dia diletakkan di palungan, dan pada akhir hidup-Nya, Dia diletakkan di atas salib. Di mana kita dapat melihat berkat Allah dalam kehidupan Tuhan? Dia memikul penderitaan demi penderitaan. Dia tidak mempunyai nama baik, Dia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya. Inilah cara kehidupan Tuhan Yesus ketika Dia di bumi. Kehidupan-Nya adalah kehidupan penderitaan.
Konsepsi bahwa kehidupan orang Kristen adalah kehidupan penderitaan berlawanan dengan otak alamiah dan agamis, khususnya otak alamiah kebanyakan orang Kristen. Sebagian besar orang Kristen berpikir bahwa selama kita milik Allah, umat Allah, mengasihi Allah, dan melakukan kehendak Allah, segala sesuatu kita akan baik. Menurut konsepsi ini, kita akan diberkati dan mempunyai pekerjaan yang baik, rumah yang nyaman, dan kehidupan keluarga yang unggul. Orangorang Kristen yang memegang konsepsi ini mungkin mengharapkan semua anaknya menjadi terpelajar, orang profesional yang kaya. Beberapa orang Kristen yang berhasil dan kaya mungkin berkata, “Betapa berkat yang aku terima dari Tuhan! Semua yang kumiliki dan semua yang telah kucapai adalah karena aku mengasihi Tuhan Yesus dan melakukan kehendak Allah. Lihatlah bagaimana Allah telah memberkati aku.”
Konsepsi tentang kehidupan orang-orang Kristen ini sama sekali berlawanan dengan pengajaran Petrus dalam surat ini. Petrus mengetahui bahwa semakin kita mengasihi Tuhan, kita akan semakin dijauhkan dari hal-hal itu. Dia juga mengetahui bahwa semakin kita melakukan kehendak Allah, masalah yang kita hadapi mungkin semakin banyak. Kita mungkin menghadapi masalah dalam pekerjaan, keuangan, dan kehidupan keluarga kita. Ketika beberapa orang mendengarkan hal ini, mereka mungkin berkata, “Saudara Lee, jangan berkata demikian. Pengajaran semacam ini akan menakutkan orang-orang Kristen.” Inilah alasannya kita perlu memperhatikan pesan Petrus untuk mempersenjatai diri kita dengan pikiran Kristus.
Pikiran yang bagaimana adalah pikiran Kristus? Jika kita memiliki pikiran Kristus, kita akan menyadari bahwa kita hidup dalam zaman yang memberontak dan dalam angkatan yang bengkok, sesat. Karena zaman ini adalah zaman yang memberontak dan angkatan ini sesat, maka semakin kita mengasihi Allah dan melakukan kehendak-Nya, kita akan semakin menderita. Kita akan menderita karena kita tidak dapat mengikuti kecenderungan zaman ini. Kita bermaksud melakukan kehendak Allah, tetapi kehendak Allah mutlak berlawanan dengan kecenderungan atau arus zaman ini. Kita ingin mengasihi Tuhan Yesus, tetapi ini sama sekali ber-lawanan dengan kecenderungan dunia yang bobrok. Sebab itu, jika kita mengasihi Tuhan dan melakukan kehendak Allah, kita pasti menderita. Ini akan menjadi pandangan kita jika kita memiliki pikiran Kristus.
Kita perlu mempersenjatai diri sendiri, memperlengkapi diri sendiri dengan pikiran Kristus. Ini menyatakan bahwa pikiran Kristus adalah senjata, satu bagian dari persenjataan yang diperlukan dalam peperangan bagi Kerajaan Allah.
Jika kita mempersenjatai diri kita dengan pikiran Kristus untuk menderita, kita akan mau menanggung penderitaan. Kita akan berkata, “Puji Tuhan bahwa penderitaanku adalah bagian dari nasibku. Allah telah menetapkan ini untukku. Penderitaan adalah bagian anak-anak Allah dalam zaman ini.” Dalam 1Tesalonika 3 Paulus mengatakan kepada kaum beriman bahwa Allah telah menetapkan kita untuk penderitaan dan penganiayaan. Allah tidak menetapkan kita bagi berkat materi; Dia telah menetapkan kita bagi penderitaan. Sebab itu, mengetahui bahwa Kristus menderita di dalam daging (secara badani), kita juga perlu mempersenjatai diri kita dengan pikiran yang sama. Kita tidak seharusnya mempunyai pikiran berdoa untuk berkat materi. Itu berarti memiliki pikiran yang salah.
PENDERITAAN DALAM DAGING
DAN BERHENTI DARI DOSA
Dalam 4:1 Petrus menerangkan bahwa siapa saja yang menderita dalam daging (secara badani) telah berhenti dari (berbuat) dosa. Kesenangan membarakan hawa nafsu daging kita (ayat 2); penderitaan mendinginkannya. Tujuan penebusan Kristus adalah melepaskan kita dari cara hidup sia-sia yang kita warisi (1:18-19). Penderitaan sejalan dengan penebusan Kristus dalam menggenapkan tujuan itu, menjaga kita dari cara hidup yang berdosa, dari kubangan ketidaksenonohan (ayat 3-4). Penderitaan semacam itu kebanyakan dikarenakan penganiayaan adalah pendisiplinan Allah dalam pemerintahan-Nya. Mengalami penderitaan semacam itu adalah dihakimi, ditanggulangi, dan didisiplin Allah dalam daging (ayat 6). Karena itu, kita harus mempersenjatai diri kita dengan pikiran yang jernih untuk menanggung penderitaan semacam itu.
Dalam ekonomi Allah, penderitaan merampungkan satu pekerjaan yang baik bagi anak-anak Allah. Penderitaan banyak membatasi nafsu kita. Semakin banyak kenikmatan materi yang dimiliki seseorang, ia akan semakin banyak menggunakan dan menuruti hawa nafsunya. Tetapi jika kita menderita kemiskinan, penganiayaan, atau penyakit, penderitaan ini akan membatasi keinginan hawa nafsu. Secara umum orang tahu bahwa orang kaya lebih banyak melakukan dosa-dosa penuh nafsu daripada orang miskin. Jika Anda sangat kaya dan tidak perlu bekerja, Anda akan memakai waktu Anda untuk menuruti hawa nafsu Anda. Anda mungkin akan keliling dunia mencari kesenangan. Tetapi Tuhan mungkin membatasi keuangan Anda sehingga sulit memiliki cukup uang untuk kebutuhan hidup. Anda harus bekerja berjam-jam untuk mendapat penghasilan. Akibat pekerjaan-pekerjaan Anda, Anda tidak mempunyai waktu atau tenaga untuk menuruti nafsu Anda sendiri. Hasrat untuk mengejar kesenangan hawa nafsu dibunuh oleh kemiskinan Anda.
Menjadi orang kaya itu berbahaya. Jika Anda kaya dan mengendarai sebuah mobil mewah untuk pamer, segera hawa nafsu di dalam hati Anda timbul. Jangan mengira karena Anda seorang Kristen dan memiliki hayat ilahi, maka Anda tidak dapat digoda dengan cara ini. Iblis menggunakan kekayaan untuk menimbulkan hawa nafsu. Akan tetapi, Allah menggunakan penderitaan dalam daging (badani) untuk melepaskan kita dari (berbuat) dosa.
HIDUP DALAM KEHENDAK ALLAH
Dalam ayat 2 Petrus selanjutnya berkata, “Supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah.” Ayat ini menyatakan bahwa kita jangan lagi hidup dalam cara yang sia-sia, seperti cara hidup yang diwariskan nenek moyang kita (1:18), melainkan menempuh hidup dengan kudus dan unggul (1:15; 2:12), murni dalam rasa takut yang kudus, dan baik dalam Kristus (3:2, 16). Inilah kehendak Allah.
Jika kita kaya dalam materi, kita tidak mudah meninggalkan hawa nafsu dan melakukan kehendak Allah. Inilah sebabnya Allah memberikan sebagian penderitaan kepada kita. Penderitaan-penderitaan ini membatasi hawa nafsu kita dan melindungi kita dalam kehendak Allah. Dalam hal ini kita semua harus menyembah Allah untuk penderitaan-penderitaan kita. Kita harus berkata kepada-Nya, “Tuhan, betapa aku menyembah-Mu, karena dalam kedaulatan-Mu, Engkau telah memberikan penderitaan-penderitaan kepadaku sehingga aku boleh terlindung dalam kehendak-Mu.”
Jangan takut bahwa penderitaan-penderitaan kita akan terlalu besar. Tuhan tahu bagaimana memberikan penderitaanpenderitaan kepada kita. Jika Dia menuntut para suami memberi suatu kehormatan kepada istri mereka, tentu saja Dia tahu berapa banyak penderitaan yang akan diberikan kepada kita. Dia tidak akan memberi terlalu sedikit atau terlalu banyak. Karunia-Nya ada dalam takaran yang tepat, tepat dengan apa yang kita perlukan.
Seorang saudara mungkin berkata, “Baru-baru ini aku sangat bahagia di dalam Tuhan. Tetapi hari ini aku kehi-langan pekerjaanku dan aku sangat sedih.” Saudara ini perlu menyadari bahwa penderitaan itu telah diberikan kepadanya dari Tuhan. Akan tetapi, saudara itu mungkin berkata, “Aku kehilangan pekerjaan, karena inflasi dan krisis ekonomi. Bagaimana Anda dapat mengatakan bahwa hal ini datang dari Tuhan?” Kelihatannya, saudara ini kehilangan pekerjaannya karena perekonomian. Tetapi perekonomian dan segala sesuatu yang berhubungan dengan ekonomi berada di bawah kedaulatan Allah. Sebab itu, kehilangan pekerjaan juga adalah suatu perkara yang diberikan Tuhan. Demikian juga, penentangan yang kita hadapi bahkan dari anggota-anggota keluarga kita pun mungkin suatu penderitaan yang dikirim kepada kita oleh Allah untuk kebaikan kita.
GAMBARAN CARA HIDUP YANG SIA-SIA
Dalam ayat 3 Petrus berkata, “Sebab telah cukup banyak waktu kamu pergunakan untuk melakukan apa yang suka dilakukan bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Kamu telah hidup dalam berbagai hawa nafsu, keinginan, kemabukan, pesta pora, perjamuan minum, dan penyembahan berhala yang terlarang.” Perkataan “apa yang suka” di sini dalam bahasa aslinya berarti tujuan, maksud, kecenderungan, hasrat. Semua hal negatif yang tertera dalam ayat ini berhubungan dengan cara hidup yang sia-sia (1:18).
Semua pernyataan negatif dalam ayat 3 ini menunjukkan keinginan dalam berbagai aspek. Hawa nafsu menunjukkan keinginan seks, dan nafsu adalah berbagai macam keinginan. Orang-orang mungkin mempunyai berbagai-bagai nafsu. Misalnya, manusia duniawi mempunyai nafsu berdandan. Mereka bukan hanya mempunyai nafsu, juga menurutinya.
Kata “kemabukan” berarti keinginan dalam minum arak. Hal ini mengacu kepada minum arak yang berlebihan.
“Pesta pora” dimaksudkan makan dan minum bersama teman-teman jahat. Pesta pora meliputi bersorak-sorak dan membuat ribut tanpa batasan.
Dalam ayat 3 Petrus juga mengatakan tentang perjamuan minum. Orang-orang mengajak berlomba minum, mereka mencoba mengalahkan orang lain dalam hal minum. Mereka bersaing untuk melihat siapa yang dapat minum lebih banyak.
Kata-kata yang digunakan Petrus dalam ayat 3 menggambarkan masyarakat yang rusak pada zaman Kekaisaran Romawi. Kekaisaran Romawi tidak hanya dikalahkan oleh tentara-tentara asing, tetapi juga dikalahkan oleh kebobrokan dalam lingkungannya sendiri. Mengenal sejarah Kekaisaran Romawi, kita prihatin terhadap negara kita hari ini. Negara ini sangat kuat dalam segi kemiliteran, tetapi sangat rusak di dalamnya. Pertimbangkan kegiatan-kegiatan orang-orang dunia di akhir pekan. Hari pertama tiap minggu diatur oleh Allah sebagai hari libur sehingga kita boleh menyembah Dia dan mempelajari hal-hal tentang Allah. Tetapi orang-orang dunia memakai hari ini untuk menuruti hawa nafsu, keinginan, kemabukan, pesta pora, dan perjamuan (perlombaan) minum. Inilah sebuah gambaran cara hidup bangsa-bangsa. Dalam ayat 3 Petrus mengatakan kepada kita bahwa waktu yang lalu sudah cukup bagi kita untuk mengerjakan apa yang suka dilakukan bangsa-bangsa. Jangan kita hidup lebih lama lagi dalam cara itu.
PENYEMBAHAN BERHALA YANG TERLARANG
Dalam ayat 3 Petrus tidak hanya membicarakan keinginan nafsu, dia juga memasukkan “penyembahan berhala yang terlarang”. Di mana ada keinginan nafsu, di sana akan ada penyembahan berhala. Beberapa orang berkata, “Kami hidup di negara yang modern dan ilmiah. Masyarakat di sini tidak takhayul. Kami tidak mempunyai berhala apa pun.” Faktanya, setiap orang yang menuruti nafsu memiliki suatu berhala.
Dalam ayat 3 Petrus tidak hanya membicarakan penyembahan berhala, tetapi juga penyembahan berhala yang terlarang. Versi King James dan American Standard menggunakan kata sifat “kekejian” menggantikan terlarang. Darby menggunakan istilah “tidak suci”. Sedikitnya ada satu versi dalam bahasa Inggris yang menggunakan kata “tanpa hukum” atau “tidak patuh kepada hukum”. Yang penting di sini adalah penyembahan berhala selalu menyebabkan orang-orang menjadi tidak patuh kepada hukum. Orang yang menyembah berhala atau melaksanakan penyembahan berhala adalah orang yang tanpa hukum; ia bisa melakukan hal-hal tertentu tanpa batasan apa pun. Sebab itu, saya percaya bahwa kata yang digunakan Petrus dalam ayat 3 berkenaan dengan ketidakpatuhan kepada hukum. Di sini Petrus mengatakan bahwa penyembahan berhala membuat orang-orang tidak patuh kepada hukum. Dia tidak mengartikan bahwa menyembah berhala adalah terlarang. Dia mengatakan bahwa penyembahan berhala menyebabkan orang-orang menjadi tanpa peraturan dan batasan; menyebabkan mereka hidup tanpa diperintah oleh hukum macam apa pun. Di China saya melihat penyembah-penyembah berhala, benar-benar tidak patuh kepada hukum dalam hidup mereka.
TIDAK MENCEBURKAN DIRI
KE DALAM KUBANGAN KETIDAKSENONOHAN
Dalam ayat 4 Petrus melanjutkan, “Sebab itu, mereka heran (merasa aneh) bahwa kamu tidak turut menceburkan diri bersama-sama mereka di dalam kubangan ketidaksenonohan yang sama dan mereka memfitnah kamu.” “Heran” dalam bahasa Yunani adalah xenizo, artinya menjadi orang yang menumpang, tamu, orang asing, makhluk aneh; menerima, memberi tumpangan; menganggap aneh. Hidup dalam daging, dalam hawa nafsu (keinginan) manusia (ayat 2) sudah lazim di antara orang kafir yang tidak percaya, yang menceburkan diri dalam kubangan ketidaksenonohan. Tetapi menempuh hidup yang kudus dalam kehendak Allah, tidak menceburkan diri dalam penghamburan hawa nafsu, tidak lazim bagi mereka. Hal itu adalah sesuatu yang asing, aneh bagi mereka. Mereka heran dan tercengang olehnya.
Secara harfiah “menceburkan diri bersama-sama” berarti menghambur dalam kawanan seperti sekelompok penggembira. Inilah hidup dalam daging, dalam hawa nafsu manusia (ayat 2) menuruti keinginan orang kafir (ayat 3) dalam cara hidup yang sia-sia.
Dalam bahasa Yunani “kubangan ketidaksenonohan” adalah anachusis berarti curahan (seperti dalam arus), jadi berarti banjir. Di sini mengacu kepada membualnya hawa nafsu, kebejatan, dan kemerosotan moral yang berlebihan, seperti air bah (banjir), begitu seseorang menceburkan diri, ia segera tenggelam ke dalamnya.
Orang-orang dunia heran bahwa kita tidak menceburkan diri bersama mereka masuk ke dalam kubangan ketidaksenonohan yang sama. Semua keinginan yang tertera dalam ayat 3 ini diumpamakan dengan sebuah banjir (kubangan, LAI). Banjir ini adalah suatu arus, suatu kecenderungan. Setiap kali akhir pekan tiba, orang-orang dunia mengikuti arus ini untuk menuruti hawa nafsu mereka. Mereka heran bahwa kita, sebagai kaum beriman, tidak menceburkan diri bersama mereka ke dalam kubangan keinginan. Seolah-olah kita adalah orang asing bagi mereka. Mereka mungkin melihat diri kita sebagai orang asing, warganegara lain. Misalnya, andaikata Anda hidup di Amerika Serikat dan Anda menerima beberapa tamu dari luar negeri, mereka mungkin asing bagi Anda, dan Anda asing bagi mereka. Kedua pihak akan merasakan bahwa mereka sedang bersama dengan orang asing. Sama prinsipnya dengan kita tidak menceburkan diri bersama orang-orang yang tak percaya dan orang-orang dunia ke dalam kubangan ketidaksenonohan. Penolakan kita melakukan hal itu adalah aneh, asing, tidak lazim bagi mereka.
Teman sekerja Anda mungkin heran (merasa aneh) bahwa Anda tidak menggunakan akhir pekan untuk menikmati hiburan duniawi. Menjelang Jumat sore, beberapa dari mereka mungkin bertanya tentang rencana Anda di akhir pekan. Mereka mungkin membual tentang apa yang akan mereka lakukan untuk menuruti nafsu mereka, dan mereka mungkin ingin sekali memaksa Anda untuk mengatakan kepada mereka apa rencana Anda. Lalu Anda mungkin menjelaskan bahwa pada akhir pekan Anda akan mengikuti sidang-sidang gereja. Mungkin pada suatu akhir pekan Anda akan keluar kota untuk menghadiri konferensi gereja. Teman-teman Anda mungkin heran bahwa Anda melakukan hal-hal semacam itu di akhir pekan. Beberapa dari mereka mungkin berkata kepada Anda, “Dari mana asal Anda? Apakah Anda dari planet lain? Anda seorang yang aneh bagi kami. Anda seorang yang asing.”
Sebagai ganti “heran” ada versi yang menerjemahkan-nya sebagai “mencengangkan” atau “mengejutkan”. Kami tidak setuju dengan terjemahan itu karena telah bergeser terlalu jauh dari makna aslinya. Lebih baik menggunakan terjemahan harfiah dan mengatakan “heran” (merasa aneh). Orang-orang yang tidak percaya akan merasa aneh karena kita tidak berpartisipasi dengan mereka dalam keinginan daging. Khususnya, mereka mungkin merasa aneh bahwa kita tidak merayakan natal atau mengadakan pesta natal. Cara yang ditempuh dunia yang rusak, angkatan yang bobrok dan jahat ini adalah mengikuti arus keinginan dan ketidaksenonohan. Tetapi kita tidak menceburkan diri bersama mereka sehubungan dengan arus ini.
Kata “ketidaksenonohan” dalam ayat 4 juga menunjukkan keinginan yang berlebihan. Kita semua perlu makan, tetapi tidak seharusnya makan secara berlebihan. Kita semua perlu minum, tetapi tidak seharusnya minum terlalu banyak. Paulus pernah berkata kepada Timotius bahwa karena Timotius sering sakit, Timotius harus meminum sedikit arak. Tidaklah masalah bagi seseorang dengan satu kebutuhan yang khusus meminum sedikit arak untuk kesehatannya, tetapi ia tidak seharusnya terlalu banyak minum atau minum secara berlebihan. Jika kita berlebihan makan dan minum, itulah keinginan, kelebihan, ketidaksenonohan. Sebagai kaum beriman, kita seharusnya tidak memiliki ketidaksenonohan apa pun. Dalam makan, minum, berbelanja, dan menggunakan uang, kita harus memiliki batasan. Dalam hal-hal ini tidak boleh ada ketidaksenonohan. Orang-orang dunia mengikuti kubangan ketidaksenonohan untuk menuruti hawa nafsu mereka, tetapi kita tidak mengikuti cara itu. Mereka meng-ikuti arus zaman ini, tetapi kita bergerak melawan arus. Bagi mereka, ini sangat aneh.
MENGHUJAT KAUM BERIMAN
Ketika orang-orang yang tidak percaya menceburkan diri ke dalam kubangan ketidaksenonohan, mereka menghujat kaum beriman. Ini berarti mereka berbicara jahat tentang kita, berbicara yang menyakitkan kita (Kis. 13:45; 1Ptr. 2:12; 3:16). Selama zaman Kekaisaran Romawi, tingkah laku kaum beriman dianggap aneh, karena itu mereka difitnah dengan tidak adil dan dituduh melakukan berbagai kejahatan.
Hujatan dalam ayat 4 tidak langsung ditujukan kepada Allah, tetapi kepada kita, kaum beriman. Banyak di antara kita yang mengalami hujatan dari orang-orang yang tidak percaya di sekolah, di pekerjaan, di tetangga. Beberapa di antara kita malah dihujat oleh sanak keluarga mereka sendiri. Orang-orang yang mengikuti arus zaman ini sering kali menghujat kaum beriman.