KEHIDUPAN KRISTIANI DAN PENDERITAANNYA (7)
Pembacaan Alkitab: 1Ptr. 3:14-22
Dalam berita sebelumnya kita telah mengungkapkan perihal menguduskan Kristus sebagai Tuhan di dalam hati kita, memiliki hati nurani yang murni, Kristus mati karena dosa-dosa, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, dan Kristus dibunuh dalam daging tetapi dihidupkan dalam Roh, dan dalam Roh-Nya yang dihidupkan dan dikuatkan pergi memberitakan kepada roh-roh yang di dalam penjara, kepada malaikat-malaikat yang memberontak. Dalam berita ini kita akan khusus memperhatikan apa yang dikatakan Petrus dalam ayat 20-21 mengenai baptisan.
BAHTERA DAN AIR BAH
Ayat 20 mengatakan, “Yaitu kepada roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah, ketika Allah tetap menanti dengan sabar waktu Nuh sedang mempersiapkan bahteranya, di mana hanya sedikit, yaitu delapan orang, yang diselamatkan melalui air bah itu.” Menurut ayat 19-20, Kristus memberitakan kepada “yang tidak taat”. Yang tidak taat ini berbeda dengan delapan orang yang dikatakan dalam ayat ini. Yang tidak taat adalah malaikat-malaikat, bukan manusia.
Dalam ayat 20 Petrus mengatakan bahwa di dalam bahtera yang dipersiapkan oleh Nuh, delapan jiwa “diselamatkan melalui air”. Bahasa Yunaninya berarti “tiba dengan selamat di satu tempat yang aman melalui kesulitan atau bahaya, seperti dalam Kisah Para Rasul 27:44” (Darby). Air adalah media yang melaluinya keselamatan tergenap. Bahtera menyelamatkan Nuh dan keluarganya dari penghukuman Allah yang membinasakan dunia dengan air bah. Air ini menyelamatkan mereka dari angkatan yang rusak itu dan memisahkan mereka kepada satu zaman baru, sama seperti yang dilakukan oleh air Laut Merah bagi bani Israel (Kel. 14:22, 29; 1Kor. 10:1-2), dan yang dilakukan air baptisan bagi kaum beriman Perjanjian Baru (ayat 21).
Dalam Perjanjian Lama, air bah pada zaman Nuh dan air Laut Merah keduanya melambangkan baptisan. Bahtera menyelamatkan Nuh dan keluarganya dari penghakiman Allah, dari penghukuman Allah oleh air bah. Tetapi air me-nyelamatkan mereka dan memisahkan mereka dari zaman yang jahat dan membawa mereka ke dalam zaman yang baru untuk memulai hidup baru di bumi baru.
Dalam Kitab Keluaran, bani Israel melalui Laut Merah. Air Laut Merah adalah penghakiman bagi Firaun dan tentara Mesir. Firaun dan tentaranya tenggelam di dalam air penghakiman. Tetapi air yang sama memisahkan bani Israel dari Mesir, memisahkan mereka dari dunia yang bobrok. Seperti Nuh dan keluarganya dipisahkan dari angkatan mereka yang bobrok oleh air bah, bani Israel juga dipisahkan dari dunia yang bobrok, yang dilambangkan oleh Mesir — melalui air Laut Merah.
Dalam Perjanjian Baru kita juga mempunyai air, air baptisan. Baptisan menyelamatkan dan memisahkan kita dari dunia.
Dalam ayat 21 Petrus berkata, “Juga kamu sekarang diselamatkan oleh kiasannya, yaitu baptisan — maksudnya bukan untuk membersihkan kenajisan jasmani, melainkan untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah — melalui kebangkitan Yesus Kristus.” Seperti yang akan kita lihat, ayat ini tidak mengajarkan penyelamatan baptisan. Sebab itu, kita tidak menganut kepercayaan bahwa air baptisan membersihkan kenajisan jasmani. Tetapi, menurut ayat ini, baptisan adalah untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah.
Kata “kiasan” mengacu kepada air yang disebutkan dalam ayat sebelumnya, yang mengiaskan air baptisan. Ini menunjukkan bahwa Nuh dan keluarganya melalui air bah dengan tinggal di dalam bahtera adalah lambang kita melalui air baptisan. Air bah melepaskan mereka dari cara hidup yang lama ke dalam satu lingkungan yang baru; demikian pula air baptisan melepaskan kita dari cara hidup sia-sia yang kita warisi ke dalam satu cara hidup kebangkitan dalam Kristus. Inilah penekanan utama kitab ini. Kristus menebus kita untuk ini (1:18-19). Penebusan Kristus dirampungkan oleh kematian Kristus dan diterima serta diterapkan kepada kita dalam baptisan oleh Roh melalui kebangkitan Kristus. Kini kehidupan kita sehari-hari seharusnya berada dalam Roh Kristus yang bangkit, suatu kehidupan yang di dalamnya kita memperhidupkan Kristus dalam kebangkitan melalui kuasa hayat dari Roh-Nya (Rm. 6:4-5). Ini adalah cara hidup yang baru dan unggul, yang memuliakan Allah (1Ptr. 2:12).
Baptisan sendiri bukan dan tidak dapat menanggalkan kenajisan daging kita — kecemaran sifat kita yang telah jatuh dan kekotoran hawa nafsu daging. Ajaran yang salah mengenai keselamatan berdasarkan baptisan, ajaran yang berdasarkan ayat ini dan Markus 16:16 dan Kisah Para Rasul 22:16, dikoreksi di sini. Baptisan hanya suatu lambang; realitasnya adalah Kristus dalam kebangkitan sebagai Roh pemberi-hayat, yang menerapkan kepada kita segala hal yang telah dilalui Kristus dalam penyaliban dan kebangkitan-Nya, membuat hal-hal itu menjadi riil dalam kehidupan kita sehari-hari.
MEMOHONKAN HATI NURANI YANG BAIK
Kata “memohon” bahasa Yunaninya adalah eperotema, suatu pertanyaan, permintaan. Makna kata ini sering diperdebatkan. Makna yang sebenarnya mungkin seperti yang ditunjukkan oleh Alford — “memohon kepada Allah akan hati nurani yang baik dan murni”. Inilah yang mengendalikan kehidupan orang Kristen yang normal. Pertanyaan ini, permintaan ini, dapat dianggap suatu permohonan. Mungkin di sini Petrus mengira bahwa baptisan adalah permohonan orang yang dibaptis kepada Allah, meminta satu hati nurani yang baik terhadap Allah. Sebagai suatu lambang, baptisan adalah pasangan kepercayaan kita kepada segala perampungan Kristus, yang mempersaksikan bahwa semua persoalan kita di hadapan Allah dan persoalan kita dengan Allah sudah diselesaikan. Karena itu, baptisan juga suatu kesaksian yang mempersaksikan bahwa dalam hati nurani kita tidak ada tuduhan lagi, sebaliknya, kita penuh damai sejahtera dan keyakinan bahwa kita sudah dibaptis ke dalam Allah Tritunggal (Mat. 28:19) dan sudah disatukan secara organik dengan Dia melalui kebangkitan Kristus, yaitu oleh Kristus dalam kebangkitan sebagai Roh hayat. Tanpa Roh Kristus sebagai realitasnya, baptisan air segera menjadi upacara yang hampa dan mati.
Dalam ayat ini kita nampak arti baptisan, pertama adalah permohonan kita, permohonan orang yang dibaptis kepada Allah untuk hati nurani yang baik dan murni. Baptisan yang tepat selalu membawa orang yang dibaptis ke dalam situasi semacam ini. Sebelum kita percaya Tuhan dan dibaptis, kita adalah orang-orang dosa. Tetapi ketika kita diterangi melalui pemberitaan Injil, kita menjadi jelas bah-wa kita penuh dosa. Di hadapan Allah dan manusia kita melakukan banyak pelanggaran, kesalahan, dan kekeliruan, dan bahkan berbuat salah dalam banyak hal. Kemudian kita bertobat, percaya Tuhan, menerima pengampunan-Nya, dan diselamatkan. Tetapi pertobatan dan kepercayaan kita perlu pernyataan yang di luar. Pernyataan ini adalah baptisan. Sebab itu, baptisan dan percayanya kita, iman kita, adalah dua as-pek dari satu hal. Untuk inilah Perjanjian Baru membicarakan percaya dan dibaptis (Mrk. 16:16). Percaya dan dibaptis dapat disamakan dengan menggunakan dua kaki kita untuk satu langkah. Pertama kita percaya, dan percayanya kita dapat disamakan dengan setengah langkah dari satu kaki; kemudian kita dibaptis. Baptisan kita dapat disamakan dengan kelengkapan langkah dengan kaki yang satunya. Percaya dan dibaptis, bersama-sama adalah satu langkah yang lengkap.
Seperti yang telah kami jelaskan di tempat lain, percaya adalah pemantulan dari semua yang telah dirampungkan Kristus. Pertama, apa yang telah dirampungkan Kristus untuk keselamatan kita diberitakan sebagai Injil kepada kita. Saat kita mendengar pemberitaan ini, Roh bekerja atas kita dan dalam kita, menyebabkan kita memantulkan apa yang telah kita dengar dalam Injil, suatu pemantulan dari apa yang telah kita dengar tentang yang dirampungkan Kristus.
Pengalaman pemantulan yang dirampungkan Kristus dapat disamakan dengan memotret. Sebuah kamera membidik suatu pemandangan, lalu pantulan dari pemandangan itu tercetak di atas film. Kita dapat menyamakan yang dirampungkan Kristus dengan sebuah pemandangan untuk difoto dengan kamera. Penginjilan yang tepat membawa gambar dari “pemandangan” ini ke dalam kita, dan Roh Kudus menerangi kita. Lalu pemandangan ini tercetak di atas “film” roh kita. Akibatnya, dari dalam, kita percaya Kristus. Sebab itu, di dalam diri kita ada satu pemantulan yang dirampungkan Kristus, dan pemantulan ini adalah kepercayaan kita kepada Kristus.
Kita telah menjelaskan bahwa percaya Kristus memerlukan sebuah pernyataan, dan pernyataan ini adalah baptisan. Sebab itu, baptisan adalah pasangan percayanya kita kepada Kristus.
Tidak hanya demikian, ketika dibaptis, kita, orang-orang yang dibaptis, memohon kepada Allah akan hati nurani yang baik dan murni. Setelah kita dibaptis dan keluar dari air, kita mempunyai satu hati nurani yang baik dan murni, sebuah hati nurani yang tak bercela. Semua dosa, kelalaian, pelanggaran, dan kesalahan kita telah diampuni, dan semua masalah yang telah menjerat kehidupan dan diri kita telah dikubur dalam air. Ini berarti melalui baptisan, masa lalu kita yang penuh dosa dibereskan. Karena pemberesan ini, kita dapat memiliki satu hati nurani yang baik dan murni.
Kita perlu menegaskan bahwa baptisan itu sendiri tidak membersihkan kenajisan jasmani. Tetapi baptisan memungkinkan kita memiliki jaminan dan kesaksian bahwa kita memohon kepada Allah satu hati nurani yang baik dan murni. Kemudian, setelah kita dibaptis, Allah menjawab kita dengan menunjukkan bahwa kita sekarang memiliki satu hati nurani yang baik dan murni.
MELALUI KEBANGKITAN YESUS KRISTUS
Ayat 21 diakhiri dengan kata “Melalui kebangkitan Yesus Kristus”. Tanpa kebangkitan Yesus Kristus, kita tidak dapat memiliki hayat kebangkitan, dan kita tidak dapat memiliki Roh pemberi-hayat di dalam kita. Melalui iman dan baptisan, kita semua telah diletakkan ke dalam kesatuan yang organik dengan Allah Tritunggal. Melalui kebangkitan Kristus kita dibawa ke dalam Allah Tritunggal. Demikian kita bersatu secara organik dengan Allah Tritunggal. Sekarang di dalam Allah Tritunggal dan bersama Allah Tritunggal kita menikmati hayat ilahi dan Roh pemberi-hayat. Jadi, setelah kita dibaptis, kita mempunyai hayat ilahi dan Roh pemberi-hayat untuk membuat kiasan baptisan menjadi nyata dan hidup bagi kita dalam pengalaman kita.
Ayat 21 menekankan baptisan yang berkaitan dengan kebangkitan Yesus Kristus. Realitas baptisan hanya dapat di-realisasikan melalui hayat ilahi dan Roh pemberi-hayat. Dasar kita mengatakan hal ini adalah perkataan Petrus “melalui kebangkitan Yesus Kristus”. Di dalam kebangkitan-Nya, Kristus membebaskan hayat ilahi sehingga dapat disalurkan ke dalam roh kita. Juga di dalam kebangkitan, Kristus menjadi Roh pemberi-hayat, masuk ke dalam roh kita, berhuni di dalam roh kita, dan menerapkan semua kekayaan hayat ilahi-Nya. Melalui kebangkitan Kristus, dengan sungguh-sungguh dan pasti kita mengalami realitas apa yang dikiaskan dalam baptisan.
Ada dua aspek baptisan, aspek kematian dan aspek kebangkitan. Turun ke dalam air dan dibenamkan di dalam air berarti mati. Keluar dari air dan meninggalkan air berarti bangkit. Sebab itu, dalam baptisan kita tidak hanya melihat aspek kematian Kristus, tetapi juga aspek kebangkitan Kristus. Kematian Kristus dapat berkhasiat dan berlaku hanya di dalam kebangkitan. Jika Kristus mati tetapi tidak bangkit, kematian-Nya menjadi sia-sia. Keberhasilan kematian Kristus ada di dalam Roh kebangkitan. Kristus mati menghapus dosa kita (Yoh. 1:29), dan Dia mati karena dosa-dosa kita, menanggung dosa-dosa kita (1Kor. 15:3; 1Ptr. 2:24). Kematian Kristus sekarang membuat kita terbebaskan dari dosa (Rm. 6:7). Tetapi khasiat kematian ini ada di dalam kebangkitan Kristus. Realitas dan khasiat kematian Kristus adalah di dalam Roh pemberi-hayat dalam kebangkitan. Ketika Roh pemberi-hayat dengan hayat kebangkitan masuk ke dalam kita, Roh ini membuat kematian Kristus berkhasiat dalam pengalaman kita. Dengan segera dan spontan, kita dibebaskan dari dosa, dan kita menikmati penebusan yang dirampungkan oleh Kristus di atas salib.
Baptisan adalah sebuah kiasan yang menyatakan bahwa semua hal negatif telah dilarutkan dan dikubur di dalam air. Tetapi baptisan juga melambangkan kebangkitan Kristus. Melalui kebangkitan Kristus, kita mempunyai realitas yang dilambangkan dalam baptisan.
KRISTUS DI DALAM KEBANGKITAN
MELEWATI KEMATIAN
Pada butir ini saya ingin mengatakan lagi sebuah kata mengenai bahtera Nuh. Semua orang mengakui bahwa bahtera Nuh melambangkan Kristus. Tetapi banyak pembaca Alkitab tidak jelas dengan cara apa atau dalam aspek apa bahtera Nuh melambangkan Kristus. Bahtera Nuh melam-bangkan Kristus dalam kebangkitan melewati kematian.
Ketika Kristus hidup di bumi, Dia tentu saja belum dibangkitkan, karena Dia belum mati. Namun dalam Yohanes 11:25 Ia berkata kepada Marta, “Akulah kebangkitan dan hidup (hayat).” Ini dengan jelas menyatakan bahwa Kristus, sebelum kematian dan kebangkitan-Nya, adalah hayat dan kebangkitan. Karena itu, bahtera Nuh melambangkan Kristus yang bangkit melewati kematian.
Jika bahtera Nuh tidak mewakili Kristus yang bangkit, bagaimana bahtera itu melewati air dan keluar dengan selamat? Fakta bahtera itu melewati air dan keluar dari air melambangkan Kristus di dalam kebangkitan, sebab bahtera itu sendiri adalah lambang Kristus. Bagaimana mungkin Kristus dan Kristus sendiri, masuk ke dalam kematian dan keluar darinya? Kristus dapat keluar dari kematian dalam kebangkitan karena Dia adalah kebangkitan dan milik kebangkitan. Karena Kristus adalah Yang unik dari kebangkitan, Dia mempunyai kekuatan untuk melewati kematian. Menurut Kisah Para Rasul 2:24, maut tidak dapat menahan Dia. Tetapi bila orang lain masuk ke dalam lingkungan maut, dia tertahan di sana, tidak mungkin keluar. Kristus tidak hanya masuk ke dalam kematian dan melewatinya, tetapi Dia malah dengan sengaja tinggal dalam lingkungan kematian selama tiga hari. Setelah lewat tiga hari, Dia meninggalkan kematian. Karena Kristus adalah kebangkitan, Dia dapat dengan mudah meninggalkan kematian. Ini dilambangkan dengan bahtera Nuh, yang masuk ke dalam air kematian, tinggal di dalam air kematian, melintasi air kematian, dan keluar dari air kematian. Inilah lambang Kristus di dalam kebangkitan.
Dalam kebangkitan-Nya, Kristus menjadi Roh pemberihayat (1Kor. 15:45b), masuk ke dalam kita (Yoh. 20:22), dan menyalurkan hayat kebangkitan-Nya kepada kita. Sekarang hayat kebangkitan dan Roh pemberi-hayat ini membuat setiap aspek kematian Kristus nyata dan berkhasiat bagi kita dalam pengalaman kita.
KESATUAN ORGANIK
YANG MULIA DAN TERHORMAT
Dalam ayat 22 Petrus menyimpulkan bab ini dengan mengatakan, “Yang duduk di sebelah kanan Allah, setelah Ia naik ke surga sesudah segala malaikat, kuasa, dan kekuatan ditaklukkan kepada-Nya.” Perkataan tambahan ini bukan hanya mewahyukan lebih lanjut kepada kita tentang hasil mulia dari penderitaan Kristus, yaitu peninggian diri-Nya setelah kebangkitan-Nya dan kedudukan tinggi serta terhormat, yang kini dimiliki-Nya di surga, di sebelah kanan Allah, terlebih juga menunjukkan betapa mulia dan terhormatnya kesatuan organik yang kita masuki bersama-Nya melalui baptisan, karena kita telah dibaptis masuk ke dalam Dia (Rm. 6:3; Gal. 3:27)
Ciri khas tulisan Petrus adalah menambah butir-butir di dalamnya sebanyak mungkin. Kita melihat ciri khas ini dalam ayat 22. Setelah menunjukkan dalam ayat-ayat sebelumnya tentang kebangkitan Kristus, Petrus selanjutnya menunjukkan kepada kita bahwa hari ini Kristus yang bangkit ada di sebelah kanan Allah. Kristus telah masuk ke dalam surga, dan malaikat-malaikat, kekuasaan-kekuasaan dan kekuatan-kekuatan telah ditaklukkan kepada-Nya. Kita telah nampak bahwa melalui baptisan kita telah diletakkan ke dalam Kristus, dan sekarang kita bersatu secara organik dengan-Nya. Kristus yang bersatu secara organik dengan kita ini bukan hanya Kristus yang bangkit, tetapi juga yang terangkat. Sebab itu, melalui kesatuan yang organik, kita tidak hanya dibawa masuk ke dalam kebangkitan Kristus, tetapi juga ke dalam kenaikan dan peninggian-Nya. Ini berarti karena kita di dalam Kristus, malaikat, kekuasaan-kekuasaan, dan kekuatan-kekuatan telah ditaklukkan kepada-Nya, juga telah ditaklukkan kepada kita. Haleluya, kita bersatu dengan Kristus yang tersalib, bangkit, dan ditinggikan!