← Daftar isi 1 Petrus (2) · bab 1/11

KEHIDUPAN KRISTIANI DAN PENDERITAANNYA (6)

Pembacaan Alkitab: 1Ptr. 3:14-22

Dalam berita ini kita sampai pada 3:14-22, satu bagian yang membicarakan penderitaan untuk kebenaran oleh kehendak Allah seperti yang dilakukan Kristus. Meskipun bagian ini tercakup dalam bab kehidupan kristiani dan penderitaannya, sebenarnya bagian ini membicarakan kematian, kebangkitan, dan kenaikan Kristus. Ayat-ayat ini meliputi dua masalah besar yang telah diperdebatkan bertahun-tahun, masalah yang satu berhubungan dengan kematian Kristus dan yang lain adalah mengenai baptisan, berhubungan dengan kebangkitan dan kenaikan-Nya.

MENGUDUSKAN TUHAN DI DALAM HATI KITA

Ayat 14-15 mengatakan, “Tetapi sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenaran, kamu akan berbahagia. Sebab itu janganlah kamu takuti apa yang mereka takuti dan janganlah gentar. Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungjawaban kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungawaban dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat (rasa takut).” Jika kita takut dan cemas karena penganiayaan, itu menyatakan sepertinya kita tidak memiliki Tuhan di dalam hati kita. Karena itu, ketika kita menderita aniaya, kita harus memperlihatkan kepada orang lain bahwa kita memiliki Kristus sebagai Tuhan di dalam kita. Inilah yang dimaksud dengan menguduskan Dia, memisahkan Dia dari ilah-ilah, tidak merendahkan Dia sehingga Dia terlihat seperti berhala yang tidak berhayat.

Pengharapan yang dikatakan dalam ayat 15 adalah pengharapan yang hidup dari warisan hayat kekal. Ini adalah satu pengharapan untuk kelak dalam pengembaraan kita hari ini; bukan pengharapan akan hal-hal yang obyektif, melainkan pengharapan hayat, yaitu hayat yang kekal dengan segala berkat ilahi yang tidak ada habisnya. “Rasa takut” (hormat, LAI) yang dimaksudkan oleh Petrus dalam ayat 15 adalah rasa takut yang ibadah, yang kudus. Petrus membicarakan rasa takut beberapa kali dalam surat ini, sebab pengajaran surat ini menyinggung pemerintahan Allah.

Dalam penderitaan-penderitaan yang berasal dari penentangan dan penganiayaan, kita harus menguduskan Kristus sebagai Tuhan di dalam hati kita. Kata “menguduskan” dalam bahasa Yunaninya berarti menyisihkan, memisahkan dari hal-hal yang umum atau biasa. Ini berarti membuat sesuatu menjadi khusus, bahkan menjadi luar biasa. Dalam penderitaan penganiayaan, kita harus mengkhususkan Kristus; kita harus memperlihatkan bahwa Dia cemerlang, mutlak berbeda dari berhala-berhala. Menguduskan Kristus sebagai Tuhan di dalam hati kita bukanlah satu masalah aktivitas lahiriah untuk menyisihkan Dia dari hal-hal yang biasa atau umum. Ini adalah masalah yang batiniah. Menguduskan Kristus sebagai Tuhan di dalam hati kita berarti ketika kita berada di bawah penganiayaan, kita memiliki Tuhan di dalam hati kita. Jika kita membiarkan Tuhan menjadi Tuhan di dalam hati kita ketika kita menderita penganiayaan, kita akan mengekspresikan-Nya. Pengekspresian ini dengan spontan akan menguduskan Kristus dan menyisihkan-Nya dari berhala-berhala.

Jika kita gentar dan takut ketika menderita penganiayaan, Tuhan tidak akan dikuduskan di dalam hati kita. Itu sangat memalukan Dia! Tampaknya seolah-olah kita tidak memiliki Tuhan di dalam hati kita. Kapan saja kita menderita penganiayaan, orang lain harus menyadari bahwa kita memiliki Kristus di dalam kita sebagai Tuhan. Tetapi jika kita gentar dan takut, orang lain akan mengira bahwa kita tidak memiliki apa pun di dalam kita. Mereka akan mempunyai kesan bahwa kita tidak memiliki Tuhan yang hidup di dalam kita. Tetapi jika kita berani, menguduskan Tuhan di dalam hati kita, dan mengekspresikan Dia melalui penampilan wajah kita, orang lain akan menyadari bahwa kita memiliki sesuatu di dalam kita. Inilah artinya menguduskan Kristus sebagai Tuhan di dalam hati kita.

Dulu saya pernah memberi tahu Anda kisah yang saya dengar tentang seorang wanita muda yang mati martir saat “Pemberontakan Boxer” di China. Peristiwa itu terjadi di Beijing. Karena pergerakan Boxer, semua perdagangan di kota ditutup. Seorang pemuda yang baru belajar berdagang tidak berani membuka pintu rumahnya. Sambil mengintip lewat celah-celah pintu, dia melihat para Boxer berparade di jalan. Dia mendengar tangisan dan teriakan. Dia melihat beberapa Boxer dengan pedang di tangan mereka sedang mengancam seorang wanita muda. Wanita itu adalah seorang Kristen. Dia duduk di dalam sebuah kereta yang akan membawa dia ke tempat di mana dia akan dihukum mati. Walaupun para Boxer mengelilinginya, berteriak, menggertak, dan mengancam, dia tidak takut. Wajahnya bercahaya dan dia bergembira di dalam Tuhan dan memuji-Nya. Orang muda ini sangat terkesan dengan apa yang dilihatnya. Sebagai orang yang belum percaya pada saat itu, dia lalu memutuskan bahwa dia akan mempelajari kepercayaan orang Kristen. Dia berkata kepada dirinya sendiri, “Jika hal ini tidak lebih daripada agama orang Barat, mengapa wanita muda ini tidak takut terhadap ancaman dan gertakan? Mengapa dia tidak takut mati? Mengapa wajahnya bercahaya, dan mengapa dia bergembira?” Pemuda ini tidak tahu bahwa wanita ini memuji Tuhan. Di kemudian hari, pemuda ini percaya Tuhan dan menjadi seorang penginjil. Lama sesudah itu, saat dia tua, saya bertemu dengannya di kampung halaman saya, dan kami menikmati satu persekutuan yang menyenangkan. Dia menceritakan kepada saya kisah yang dia alami di Beijing pada hari itu.

Wanita muda yang mati martir pada pemberontakan Boxer itu benar-benar menguduskan Kristus sebagai Tuhan di dalam hatinya. Cahaya di wajahnya, kegembiraan, pujian, semuanya mengekspresikan bahwa Tuhan ada di dalam hatinya. Dengan spontan, dia menguduskan Kristus sebagai Tuhan. Cara dia menguduskan Kristus itu mempengaruhi pemuda ini untuk percaya Tuhan.

MEMPERHATIKAN HATI NURANI KITA

Dalam ayat 16 Petrus selanjutnya berkata, “dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena perilakumu yang baik dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu.” Karena hati nurani adalah bagian dari roh manusia (Rm. 9:1; 8:16), maka mem-perhatikan hati nurani kita berarti memperhatikan roh kita di hadapan Allah.

Perilaku yang baik dari orang Kristen seharusnya berada dalam Kristus. Ini adalah suatu kehidupan sehari-hari dalam Roh. Ini lebih tinggi daripada kehidupan yang etis dan bermoral.

Jika kita ingin memiliki perilaku yang baik dan menguduskan Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari, kita harus memperhatikan hati nurani kita. Tidaklah cukup kita dibenarkan oleh orang lain. Kita perlu dibenarkan oleh hati nurani kita sendiri. Kita tidak boleh puas bahwa kita dibenarkan oleh masyarakat, oleh saudara-saudara, atau oleh seluruh gereja. Tidak seorang pun mengenal kita sepenuhnya selain hati nurani kita sendiri. Ini khususnya berlaku bagi hati nurani yang diterangi dari roh yang dilahirkan kembali. Hati nurani yang diperbarui diterangi oleh roh yang dilahirkan kembali. Hati nurani yang diterangi oleh Roh yang berhuni dapat dipercaya dalam kesaksian dan akurat dalam penilaian. Penilaian dari hati nurani kita yang diterangi lebih akurat daripada penilaian siapa pun.

Hati nurani yang diterangi dari roh kita yang dilahirkan kembali adalah hakim yang batiniah. Hakim yang batiniah yaitu hati nurani kita, bekerja sama dengan Allah yang berhuni. Hati nurani yang diterangi dari roh kita yang dilahirkan kembali dapat menjadi hakim yang batiniah karena ia bekerja sama dengan Allah yang berhuni. Itulah sebabnya penilaian hati nurani yang diterangi sangat cermat dan akurat. Karena itu, kita harus memperhatikan hati nurani kita.

Misalnya, saudara harus memperhatikan hati nuraninya dalam hubungannya dengan istrinya. Dalam pandangan manusia, mungkin dia sama sekali tidak bersalah kepada istrinya. Tetapi hati nuraninya yang diterangi mungkin memberitahukannya bahwa dia telah bersalah terhadap istrinya dalam banyak hal. Demikian juga, dalam hidup gereja kelihatannya kita mungkin jujur dan setia. Akan tetapi, hati nurani kita mengetahui bahwa dalam hal-hal tertentu kita belum seluruhnya jujur dan setia kepada gereja. Karena itu, sangatlah penting kita memperhatikan hati nurani kita.

MENDERITA KARENA BERBUAT BAIK

Dalam ayat 17 Petrus melanjutkan, “Sebab lebih baik menderita karena berbuat baik, jika hal itu dikehendaki Allah, daripada menderita karena berbuat jahat.” Kembali Petrus berbicara mengenai penderitaan yang tidak adil. Dia membahas butir ini sebelumnya dalam 2:18-21, di mana dia mengatakan bahwa Kristus adalah teladan bagi kita sebagai orang yang menderita karena ketidakadilan dan kita harus mengikuti jejak-Nya.

KRISTUS MATI

UNTUK MEMBAWA KITA KEPADA ALLAH

Ayat 18 mengatakan, “Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk dosa-dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dihidupkan dalam Roh” (Tl.). Kristus adalah Ia yang Benar dan kita adalah orang-orang yang tidak benar, tetapi Dia telah mati untuk dosa-dosa kita. Kristus mati untuk dosa-dosa kita agar Dia dapat membawa kita kepada Allah. Kematian-Nya menghapus semua rintangan, khususnya rintangan dosa-dosa dan ketidakbenaran kita. Karena kematian-Nya telah menghapus rintangan dosa-dosa dan ketidakbenaran, maka kita mempunyai satu jalan untuk mencapai Allah. Kristus mati untuk membawa kita kepada Allah.

Dosa-dosa dalam ayat 18, 2:24, 1Korintus 15:3, dan Ibrani 9:28 mengacu kepada perbuatan-perbuatan dosa lahiriah kita, sedangkan dosa dalam 2Korintus 5:21 dan Ibrani 9:26 mengacu kepada dosa yang ada dalam sifat kita sejak lahir. Kristus mati karena dosa-dosa kita, memikul dosa-dosa kita di atas salib, agar dosa-dosa kita bisa diampuni Allah. Tetapi Dia dijadikan dosa dan menghapus dosa dunia, agar persoalan dosa (tunggal) kita bisa dibereskan. Petrus tidak menanggulangi dosa dalam sifat kita lebih dulu, melainkan dosa-dosa dalam perbuatan, tindakan kita. Penekanan kitab ini adalah kematian Kristus menebus kita dari cara hidup sia-sia yang kita warisi (1:18-19).

Sesungguhnya, Kristus itu, orang yang benar, mati “untuk orang-orang yang tidak benar” menunjukkan bahwa kematian Kristus adalah untuk penebusan, bukan untuk mati sebagai martir. Di atas salib, Dia adalah Pengganti kita, memikul dosa-dosa kita; Dia yang benar, menggan-tikan kita yang tidak benar, dihakimi oleh Allah yang adil berdasarkan keadilan-Nya, guna menyingkirkan rintangan dosa kita, dan membawa kita masuk ke hadapan Allah. Inilah menebus kita terlepas dari dosa-dosa, berpaling kepada Allah, lepas dari perilaku kita yang tidak benar, berpaling kepada Allah yang adil.

DIHIDUPKAN DALAM ROH

Menurut ayat 18, Kristus telah “dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi telah dihidupkan dalam Roh” (Tl.). Ini bukan mengacu kepada Roh Kudus, melainkan Roh sebagai esens keilahian Kristus (Rm. 1:4, lihat Yoh. 4:24a). Menyalibkan Kristus hingga mati, bukan mematikan Dia dalam Roh-Nya sebagai keilahian-Nya, melainkan dalam daging-Nya, daging ini Dia dapatkan melalui inkarnasi-Nya (Yoh. 1:14). Dia atas salib, daging-Nya mati, tetapi Roh-Nya sebagai keilahian-Nya tidak mati, malahan hidup dengan lincah oleh kekuatan baru dari hayat, sehingga dalam Roh sebagai keilahian-Nya, yang dikuatkan ini, setelah kematian daging-Nya dan sebelum kebangkitan-Nya, Ia menyampaikan pemberitaan kepada para malaikat yang telah jatuh.

Di atas salib Kristus dibunuh di dalam daging, tetapi dihidupkan dalam roh. Jangan menafsirkan “dihidupkan dalam roh” di sini ditujukan kepada kebangkitan Kristus. Seperti yang telah dijelaskan, meskipun tubuh Kristus dibunuh di atas salib, roh-Nya dihidupkan. Karena itu, seperti yang ditunjukkan oleh frase “dalam roh itu juga” pada awal ayat 19, dalam roh-Nya yang dihidupkan itu Kristus memberitakan Injil kepada roh-roh yang di dalam penjara. Ini menunjukkan dan membuktikan bahwa setelah mati dalam daging-Nya, Kristus tetap aktif dalam Roh ini.

Dalam ayat 18 kita nampak kematian Kristus, tetapi tidak disebutkan tentang kebangkitan. Ketika Kristus dikuburkan, sebelum kebangkitan-Nya, dalam roh kuasa-Nya Dia pergi ke jurang maut untuk memberitakan kemenangan Allah kepada malaikat-malaikat yang memberontak.

PEMBERITAAN KRISTUS

KEPADA ROH-ROH DI DALAM PENJARA

Ayat 19-20a mengatakan, “Dan di dalam Roh itu juga Ia pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang di dalam penjara, yaitu kepada roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah . . .” Dari abad ke abad guru-guru besar dari berbagai aliran memiliki penafsiran yang beragam mengenai roh-roh yang di dalam penjara. Yang paling sesuai dengan Alkitab adalah sebagai berikut: di sini roh-roh itu tidak mengacu kepada roh-roh manusia yang sudah mati dan tidak bertubuh, yang berada di alam maut, melainkan mengacu kepada malaikat-malaikat (malaikat-malaikat adalah roh-roh — Ibr. 1:14) yang jatuh karena ketidaktaatan pada zaman Nuh (ayat 20 dan Pelajaran-Hayat Kejadian, berita ke-27) dan dipenjara dalam lubang kegelapan, menunggu penghakiman hari besar itu (2Ptr. 2:4-5; Yud. 6). Setelah kematian-Nya dalam daging, Kristus dalam Roh-Nya yang hidup pergi (kemungkinan ke jurang maut — Rm. 10:7) menemui malaikat-malaikat yang memberontak itu untuk memberitakan, kemungkinan, kemenangan Allah atas siasat Iblis untuk mengacaukan rencana ilahi, yang dirampungkan melalui inkarnasi-Nya dalam Kristus dan kematian Kristus dalam daging.

“Penjara” dalam ayat 19 mengacu kepada Tartarus, lubang yang dalam dan gelap (2Ptr. 2:4; Yud. 6) tempat malaikat-malaikat yang jatuh ditahan. Frase “memberitakan Injil” bukan ditujukan kepada memberitakan kabar baik, melainkan memberitakan kemenangan yang dicapai oleh Allah, yaitu melalui kematian Kristus di atas salib, Allah mem-binasakan Iblis dan kuasa kegelapannya (Ibr. 2:14; Kol. 2:15). Pemberitaan ini ditujukan kepada “yang tidak taat”. Ini adalah untuk malaikat, bukan manusia, dan sebab itu ber-beda dengan “delapan orang” yang disebut dalam ayat 20. Jadi, roh-roh di dalam penjara tidak ditujukan kepada roh-roh yang tidak bertubuh dari orang-orang yang mati di alam maut, tetapi kepada malaikat-malaikat yang jatuh karena tidak taat pada zaman Nuh. Tetapi banyak penafsir mengatakan bahwa roh-roh dalam ayat 19 mengacu kepada roh-roh orang-orang tertentu yang tidak mendengarkan pemberitaan Nuh. Orang-orang yang mengikuti penafsiran itu mengatakan bahwa pada zaman Nuh, Kristus melalui Roh-Nya memberitakan Injil kepada orang-orang pada generasi Nuh. Tidak hanya demikian, mereka juga mengajarkan bahwa “dihidupkan dalam roh” dalam ayat 18 mengacu kepada Roh Kudus. Mereka mengira dalam Roh Kudus ini Kristus memberitakan Injil pada zaman Nuh.

Penafsiran yang lain ialah Kristus, setelah Dia mati, memberitakan Injil kepada roh-roh manusia yang telah mati. Betapa kelirunya penafsiran ini! Menurut penafsiran ini, setelah orang-orang mati dan pergi ke alam maut, Injil masih diberitakan kepada mereka di sana (di alam maut).

Kristus tidak memberitakan injil kepada roh-roh yang di dalam penjara, Dia memberitakan kepada malaikat-malaikat yang memberontak tentang kemenangan Allah atas Iblis melalui inkarnasi dan kematian Kristus. Pada saat itu, Kristus belum dibangkitkan. Setelah kematian-Nya, dalam roh kuasa-Nya Dia pergi ke suatu tempat khusus untuk memberitakan kemenangan Kristus. Mungkin Dia berkata, “Kalian, malaikat-malaikat yang mengikuti Iblis memberontak melawan Allah. Tetapi melalui inkarnasi dan kematian-Ku, pemimpinmu, Iblis, telah ditaklukkan.” Pemberitaan ini adalah satu hal yang memalukan bagi Iblis dan pengikut-pengikutnya, tetapi adalah kemuliaan bagi Allah.

Saya minta Anda mempelajari Pelajaran-Hayat Kitab Kejadian berita ke-27. Berita ini menerangkan bagaimana pada zaman Nuh, yang disebut anak-anak Allah, yaitu malaikat-malaikat, jatuh. Mereka meninggalkan tempat mereka, turun ke bumi, dan mengenakan tubuh-tubuh manusia untuk melakukan perzinaan dengan anak-anak perempuan manusia. Hal itu mencemari ras manusia dan menghasilkan raksasa-raksasa. Merasa situasinya tidak bisa dibiarkan, Allah tidak lagi membiarkan ras manusia hidup, sebab umat manusia telah dicemari oleh malaikat-malaikat Iblis. Karena itu, kecuali Nuh dan keluarganya, Allah membinasakan seluruh ras manusia dengan air bah. Juga, ketika Allah mengirim bani Israel ke Kanaan untuk membunuh bangsa Kanaan, ada raksasa-raksasa semacam itu di antara bangsa Kanaan, raksasa-raksasa yang lahir dari perzinaan antara malaikat-malaikat dengan anak-anak perempuan manusia.

Kita bukanlah satu-satunya yang menafsirkan Alkitab dengan cara ini. Sejumlah pakar Alkitab termasuk Pember dan Govett, setuju dengan pengertian ini.

Kristus mati di atas salib untuk menebus kita. Tetapi meskipun Dia dibunuh di dalam tubuh-Nya, Dia dihidupkan dan diberi kuasa dalam roh-Nya sebelum kebangkitan-Nya. Dalam Roh yang hidup dan berkuasa ini Dia pergi untuk memberitakan kepada malaikat-malaikat yang memberontak mengenai kemenangan Allah atas Iblis, pemimpin mereka.

Perkataan Petrus dalam ayat-ayat ini sangat berarti. Petrus mengungkapkan sesuatu yang luar biasa yang berkaitan dengan kematian Kristus. Dia menunjukkan kepada kita bahwa kematian Kristus tidak hanya merampungkan penebusan bagi kita, tetapi juga memperoleh kemenangan atas Iblis dan pengikut-pengikutnya. Karena itu, setelah kematian-Nya dan sebelum kebangkitan-Nya, Kristus memberitakan kepada pengikut-pengikut Iblis tentang kemenangan Allah atas Iblis melalui penyaliban Kristus.