← Daftar isi Yehezkiel (1) · bab 7/26

KOORDINASI DARI EMPAT MAKHLUK HIDUP (1)

Pembacaan Alkitab: Yeh. 1:11b-14; Rm. 12:4-5

Yehezkiel 1:11b-14 mewahyukan gambaran yang sangat jelas tentang koordinasi. Tidak ada ayat lain di dalam Alkitab menyajikan perkara koordinasi secara pasti dan praktis demikian. Dalam berita ini kita akan mulai untuk mempertimbangkan koordinasi dari empat makhluk hidup yang dijelaskan di dalam bagian Yehezkiel 1 ini.

KOORDINASI DALAM KUASA,

KEKUATAN DAN SUPLAI ILAHI

Yehezkiel 1:11b mengatakan, “mereka saling menyentuh dengan sepasang sayapnya dan sepasang sayap yang lain menutupi badan mereka”. Di sini kita melihat bahwa dua dari sayap mereka adalah untuk bergerak, dan pergerakan ini berada dalam koordinasi. Dua sayap mereka menyatu satu dengan yang lainnya, dan dengan cara inilah mereka berkoordinasi. Seperti yang telah kita lihat, Makhluk hidup menggunakan dua sayapnya yang lain untuk menutupi diri mereka sendiri.

Kita juga telah melihat bahwa di dalam Perjanjian Lama sayap rajawali melambangkan kuasa ilahi, kekuatan ilahi, dan suplai ilahi. Ini menunjukan bahwa koordinasi dari makhluk hidup bukanlah berasal dari diri mereka sendiri. Di dalam diri mereka sendiri, mereka tidak memiliki kemampuan untuk berkoordinasi. Koordinasi mereka adalah di dalam kuasa ilahi, kekuatan ilahi, dan di dalam suplai ilahi karena sayap-sayap rajawali adalah sarana bagi mereka untuk berkoordinasi satu dengan yang lain. Jadi, koordinasi mereka tidak bergantung pada diri mereka sendiri; tidak bergantung pada apa adanya mereka atau apa yang dapat mereka lakukan. Koordinasi mereka bergantung pada sayap-sayap rajawali. Sayap-sayap rajawali adalah sarana yang dengannya mereka berkoordinasi dan bergerak sebagai satu kesatuan. Diri Allah sendiri adalah kuasa dan kekuatan, dan oleh kuasa dan kekuatan ilahi inilah mereka berkoordinasi.

Prinsip yang sama dapat dilihat di dalam tabernakel. Tabernakel dibangun dengan empat puluh delapan papan yang berkoordinasi menjadi satu kesatuan. Papan-papan ini berkoordinasi menjadi satu bangunan bukan oleh diri mereka sendiri, tetapi oleh penyalutan emas (Kel. 26:29-30). Semua papan-papan disalut dengan emas. Di atas salutan emas ada gelang-gelang emas, dan pada gelang-gelang emas dimasukkan kayu lintang yang disalut emas. Oleh karena itu, emas mengkoordinir empat puluh delapan papan menjadi satu kesatuan. Salutan emas melambangkan sifat ilahi dan menunjukkan bahwa Diri Allah Sendiri adalah faktor koordinasi yang memampukan semua bagian dari bangunan ilahi menjadi satu.

Di dalam diri mereka sendiri makhluk-makhluk hidup itu terpisah dan individu, tetapi dengan sayap-sayap rajawali mereka dikoordinasikan sebagai satu tubuh. Ini menunjukkan bahwa koordinasi di antara kita, orang-orang Kristen, bukanlah sesuatu yang berasal dari diri kita sendiri. Apa yang kita miliki di dalam diri kita sendiri bukan koordinasi—tetapi perpecahan. Bagaimanapun kita berada dalam diri kita sendiri, apapun yang kita miliki dalam diri kita sendiri, dan apapun yang kita lakukan dalam diri kita sendiri tidak menghasilkan koordinasi, tetapi perpecahan dan pemisahan. Namun, kita memiliki sayap-sayap rajawali, dan dengan sayap-sayap rajawali kita dapat menjadi satu dan dapat dikoordinasikan.

BAGI EKSPRESI, PERGERAKAN,

DAN ADMINISTRASI TUHAN

Sangatlah penting bagi kita untuk menyadari mengapa kita perlu berkoordinasi. Kita harus berkoordinasi sebagai makhluk hidup agar Kristus dapat diekspresikan dan dinyatakan. Koordinasi dari makhluk hidup juga adalah untuk pergerakan Tuhan. Pergerakan Tuhan berada di dalam pusat koordinasi dari makhluk hidup. Lagipula, koordinasi adalah administrasi ilahi, pemerintahan ilahi. Takhta yang di atasnya Tuhan berada, takhta yang adalah bagi administrasi Allah, berada di dalam pusat koordinasi ini. Jadi, koordinasi dari makhluk-makhluk hidup adalah bagi ekspresi dan manifestasi Tuhan, bagi pergerakan Tuhan, dan bagi pemerintahan ilahi.

CARA BERKOORDINASI

Sekarang kita perlu melihat bagaimana empat makhluk hidup berkoordinasi. Muka dari masing-masing makhluk hidup berada pada satu arah, secara berurutan menghadap utara, selatan, timur, dan barat. Saat muka mereka menghadap empat arah ini, dua dari sayap mereka dibentangkan dan menyentuh syap-sayap makhluk hidup yang berdekatan, membentuk sebuah persegi. Setiap makhluk hidup menggunakan dua sayapnya untuk bersatu dengan yang makhluk-makhluk hidup yang lain.

Yehezkiel 1:12 berkata, “Masing-masing berjalan lurus ke depan; ke arah mana roh itu hendak pergi, ke sanalah mereka pergi, mereka tidak berbalik kalau berjalan”. Di sini kita melihat bahwa masing-masing makhluk hidup berjalan lurus ke depan. Mereka tidak berbelok, tetapi beberapa mundur, yaitu, bergerak ke belakang. Misalnya, ketika salah satu dari makhluk-makhluk hidup itu bergerak ke utara, makhluk hidup yang menghadap selatan harus mundur, bergerak ke belakang. Jadi, satu berjalan maju ke depan sementara makhluk yang berlawanan bergerak ke belakang. Pada saat yang sama, dua makhluk hidup yang lain harus bergerak ke samping. Satu makhluk bergerak ke samping kiri, dan yang lain bergerak ke samping kanan. Tidak peduli pada arah mana makhluk-makhluk hidup itu bergerak, tidak ada keperluan bagi yang lain untuk berbelok. Yang satu berjalan maju ke depan; yang satu mundur, bergerak ke belakang; dan makhluk hidup pada sisi yang lain bergerak ke samping. Inilah gambaran yang indah dari koordinasi yang kita perlukan dalam hidup gereja.

Saudara dan saudari tertentu tidak dapat mentoleransi berkoordinasi bersama. Sebaliknya, mereka lebih suka terpisah dan melakukan hal-hal pribadi mereka. Selama mereka terpisah, tidak ada penderitaan. Sekali mereka berkoordinasi, ada semacam penderitaan, karena dalam koordinasi tidak ada kebebasan atau kenyamanan.

Koordinasi menjaga kita dari membelok. Jika seseorang bergerak oleh dirinya sendiri, pertama dia mungkin bergerak ke utara dan kemudian berbelok dan bergerak ke timur. Kemudia mungkin dia berbelok lagi dan bergerak ke selatan dan akhirnya berbelok sekali lagi dan bergerak ke barat. Dia bergerak dalam berbagai arah dengan membuat banyak belokan. Sebaliknya, dalam ministri Tuhan, tidak ada belokan yang demikian. Dia berjalan maju ke depan, sedangkan mereka yang berkoordinasi dengannya bergerak ke belakang atau ke samping.

Jika seseorang bertindak tanpa koordinasi dalam pelayanan gereja, melakukan hal-hal pribadinya, dia akan membuat sejumlah belokan. Jika dia berfungsi dengan cara melakukan banyak hal yang berbeda oleh dirinya sendiri, akan sangat perlu bagi dia untuk membuat banyak belokan. Namun, dalam pelayanan gereja, tidak ada keperluan untuk berbelok. Setiap orang memiliki fungsi dan posisinya. Dia dapat dengan sederhana berjalan maju ke depan di dalam fungsi dan posisinya. Jika ada keperluan untuk bergerak dalam arah yang lain, yang lain dapat memperhatikan hal itu. Tidak ada keperluan bagi seorangpun untuk berbelok.

Dalam hidup gereja kita semua perlu belajar bukan hanya bagaimana berjalan lurus ke depan, tetapi juga bagaimana berjalan ke belakang (yaitu, mundur) dan berjalan ke samping. Meskipun hal ini kelihatannya janggal, kita semua perlu belajar pelajaran ini. Jika tidak, kita tidak dapat berkoordinasi.

Satu masalah adalah bahwa saudara dan saudari tertentu ingin melakukan segala sesuatu atau tidak melakukannya sama sekali. Mereka yang ingin melakukan segala sesuatu menginginkan untuk mampu bergerak dalam setiap arah. Jika mereka diminta untuk bergerak dalam arah tertentu, mereka juga ingin untuk bergerak dalam arah lainnya. Ini berarti bahwa mereka ingin membuat banyak belokan. Tidak peduli arah apa yang diperlukan dalam pelayanan gereja, mereka ingin untuk mampu berjalan dalam arah itu.

Dalam koordinasi yang tepat tidak ada belokan. Kamu berjalan lurus ke depan atau kamu mundur dengan berjalan ke belakang atau kamu berjalan ke samping. Sangatlah sulit untuk berjalan ke samping, dan banyak saudara dan saudari tidak mampu melakukan hal ini. Kita perlu koordinasi yang tepat di dalam gereja lokal. Dalam beberapa gereja, saudara dan saudari tertentu sangat mampu dan membuat banyak belokan. Yang lain tidak begitu mampu, sehingga mereka tidak melakukan apapun. Hasilnya, tidak ada koordinasi. Jika kita ingin memiliki koordinasi dalam hidup gereja, kita semua perlu belajar untuk berjalan lurus ke depan, untuk berjalan ke belakang, dan untuk berjalan ke samping.

KOORDINASI DALAM MINISTRI

Jika dalam sebuah gereja lokal seorang saudara memiliki sebuah ministri untuk memberitakan injil dan saudara lain memiliki sebuah ministri untuk membangun kaum saleh, mereka harus berkoordinasi. Jika tidak, mereka dapat menyebabkan masalah. Jika hanya ada satu ministri—ministri pemberitaan injil bagi pembangunan kaum saleh—akan ada sedikit atau tidak ada masalah. Namun, jika saudara-saudara dengan ministri-ministri yang berbeda tidak tahu bagaimana berkoordinasi, mereka akan bersaing dan bahkan berjuang menentang satu sama lain. Saudara yang berbeban terhadap injil mungkin bersaing untuk hasil yang di luar dan pertambahan, dan ia mungkin mencoba untuk meyakinkan yang lain untuk bergabung dengannya. Saudara yang berbeban untuk membangun kaum saleh mungkin mengkritik saudara lain yang berbeban untuk injil, berpendapat bahwa ia membawa orang baru tetapi tidak memperdulikan mereka. Kemudian dia mungkin mendorong orang lain untuk membantunya merawat orang-orang baru. Hasil dari kurangnya koordinasi antara dua saudara ini mungkin adalah perpecahan, dengan beberapa orang yang hanya mementingkan injil dan beberapa orang lainnya mementingkan hanya penggembalaan.

Karena saudara-saudara memiliki ministri yang berbeda, apakah yang seharusnya mereka lakukan? Mereka harus belajar untuk berkoordinasi. Ini berarti bahwa ketika saudara-saudara yang berbeban untuk injil berfungsi, berjalan maju ke depan, saudara yang memiliki beban untuk menggembalakan harus belajar untuk berjalan mundur. Demikian pula, ketika saudara yang memiliki beban untuk menggembalakan berfungsi dan berjalan maju ke depan, saudara yang memiliki beban untuk memberitakan injil harus berjalan mundur. Kaum saleh yang lainnya harus mengikuti dua saudara ini, berjalan menyamping, di satu waktu berada dalam arah dari ministri pemberitaan injil dan di waktu yang lain berada dalam arah dari ministri penggembalaan.

KOORDINASI DI DALAM SIDANG

Kita juga harus mempraktekkan koordinasi macam ini di dalam sidang. Beberapa saudara suka untuk berteriak, dan saudara lain lebih suka untuk tenang. Di satu waktu mereka yang suka berteriak perlu berjalan mundur dan belajar untuk tenang. Di waktu yang lain mereka yang tenang harus berjalan mundur dan belajar untuk memuji Tuhan dengan suara yang keras. Masalahnya adalah bahwa baik mereka yang suka berteriak maupun mereka yang lebih suka untuk tenang tidak mau berjalan mundur. Dalam sidang-sidang kita perlu belajar untuk berjalan maju ke depan, mundur, atau menyamping. Praktek semacam ini akan menjaga kita dari perpecahan di dalam sidang-sidang.

BERJALAN MUNDUR DAN MENYAMPING

Dalam penghidupan gereja kita perlu untuk mampu berjalan maju ke depan, mundur dan menyamping. Ini akan menyebabkan kita sungguh-sungguh berkoordinasi.

Berjalan mundur adalah mengatakan “Amen” terhadap ministri, fungsi, dan beban orang lain. Ketika seorang saudara berjalan maju ke depan menurut bebannya, kamu harus mengatakan “Amen” dan berjalan mundur dalam berkoordinasi dengannya. Berjalan menyamping juga adalah mengatakan “Amen” pada fungsi orang lain. Masalah hari ini adalah di dalam gereja-gereja terlalu banyak yang berbelok dan terlalu sedikit yang berjalan mundur dan menyamping. Sangatlah sulit untuk membantu saudara-saudara dan saudari-saudari untuk berjalan menyamping. Sangat sedikit yang mau berjalan dengan cara ini.

Di dalam sebuah gereja lokal seorang saudara mungkin sangat aktif dalam memperhatikan pelayanan-pelayanan tertentu. Ia melakukan pekerjaan yang baik dalam perkara ini, tetapi ia terus-menerus mencari orang yang mampu untuk bergabung dengannya di dalam pelayanan ini. Dia hanya memperdulikan pelayanan ini dan tidak memperdulikan untuk memberitakan injil atau membangun kaum saleh. Karena ia hanya perduli pada pelayanannya, akhirnya ia akan menyebabkan permasalahan dalam gereja tersebut. Dari perkara ini kita dapat melihat bahwa mudah bagi kita untuk menyebabkan perpecahan, tetapi sulit bagi kita untuk memiliki koordinasi yang tepat dan riil.

Kita semua perlu menjaga posisi kita dan berjalan maju ke depan. Kita juga perlu untuk belajar untuk berjalan mundur dan menyamping, mengatakan “Amen” terhadap posisi, fungsi, dan ministri orang lain. Ini berarti bahwa dalam penghidupan gereja kita semua perlu untuk belajar empat macam berjalan: berjalan maju, berjalan mundur, berjalan menyamping ke kanan, dan berjalan menyamping ke kiri. Jika kita tidak belajar untuk memiliki empat macam berjalan ini, kita akan menjadi masalah bagi gereja lokal kita. Semakin kita bertumbuh, belajar, berfungsi, dan menjadi minister, semakin kita menyebabkan banyak masalah karena kita hanya tahu bagaimana berjalan maju dan berbelok.

Kita perlu menyadari bahwa tidak ada belokan di dalam koordinasi yang tepat. Tidak ada belok ke kanan atau ke kiri. Sebaliknya, kita memiliki empat macam berjalan—maju ke depan, mundur ke belakang, menyamping ke kanan, dan menyamping ke kiri.

MENGIKUTI ROH

Jika kamu adalah seorang yang berjalan maju, kamu harus sangat berhati-hati untuk berjalan menurut pimpinan Roh itu. Yehezkiel 1:12 mengatakan, “ke arah mana roh itu hendak pergi, ke sanalah mereka pergi”. Mengikuti Roh itu adalah tanggung jawab dari seorang yang berjalan maju; bukan tanggung jawab dari mereka yang berjalan mundur atau menyamping. Jika seorang yang berjalan maju tidak hati-hati mengikuti pimpinan Roh itu, maka koordinasi akan dirusak.

Sebagai contoh, adalah benar bahwa seorang saudara harus memiliki ministri memberitakan injil dan saudara yang lain harus memiliki ministri penggembalaan. Tetapi disana harus ada pimpinan Roh itu mengenai waktu untuk memberitakan injil dan waktu untuk menggembalakan. Jika ini adalah waktunya bagi gereja untuk memikul ministri memberitakan injil, saudara yang berada dalam ministri ini harus mengambil pimpinan dibawah petunjuk dari Roh itu, dan seluruh gereja harus mengikuti dan menjadi satu dengan saudara ini. Mereka yang memiliki ministri yang berbeda atau fungsi yang berbeda harus berkoordinasi dengan cara berjalan mundur atau menyamping.

Kadang-kadang seorang saudara harus mengambil pimpinan untuk menggerakkan di dalam arah. Namun, karena dia rendah hati secara alamiah, dia ragu-ragu dan tidak mengambil pimpinan dengan cara yang berani. Ini membuat gereja tertunda dan tidak memiliki arah untuk kemajuannya. Di waktu lain seorang yang seharusnya tidak memimpin mengambil pimpinan. Ini merusak kehidupan gereja. Ketika waktunya bagi kamu untuk mengambil pimpinan, lakukan itu dengan berani. Ketika waktunya bagi saudara yang lain untuk mengambil pimpinan, belajarlah untuk berjalan mundur atau menyamping. Ini akan memampukan gereja maju dengan cara yang baik.

HASIL KOORDINASI

Pada poin ini kita perlu mempertimbangkan hasil koordinasi dari empat makhluk hidup—bara api yang menyala dan suluh yang terbakar. Kita semua perlu mengemban rupa makhluk-makhluk hidup, rupa manusia, dan rupa bara api yang menyala dan suluh yang terbakar.

Menjadi Bara yang Menyala

Yehezkiel 1:13 mengatakan, “Di tengah makhluk-makhluk hidup itu kelihatan seperti bara api yang menyala, seperti suluh, yang bergerak kian ke mari di antara makhluk-makhluk hidup itu, dan api itu bersinar sedang dari api itu kilat sabung-menyabung”. Di sini kita melihat bahwa hasil dari koordinasi dari empat makhluk hidup adalah bahwa mereka menjadi bara api yang menyala. Di tengah-tengah dan di dalam mereka terdapat api. Karena mereka adalah orang-orang yang berkoordinasi, Allah datang sebagai api, dan masing-masing dari mereka menjadi bara api yang menyala.

Bagaimana kita dapat mengetahui apakah ada koordinasi yang tepat atau tidak dalam satu gereja lokal? Kita mengenal hal ini oleh kehadiran bara api yang menyala. Jika tidak ada bara api yang menyala dalam satu gereja, maka di sana tidak ada koordinasi. Dimana ada koordinasi, disana tentu ada bara api yang menyala.

Di dalam koordinasi kita saling membakar satu dengan yang lain. Kamu membakar saya, dan saya membakar kamu. Namun, jika kita terpisah dari kaum saleh dan tidak menghadiri sidang-sidang, kita tidak akan menjadi bara api yang menyala. Melainkan, kita akan menjadi dingin, menjadi bara hitam. Prinsip rohani adalah bahwa kita saling membakar satu dengan yang lain. Dari pengalaman kita dapat bersaksi bahwa semakin kita berkoordinasi bersama, semakin kita membakar satu dengan yang lain. Hasil dari koordinasi adalah bahwa kita semua menjadi bara api yang menyala.

Membakar hal-hal negatif

Bara api yang menyala melakukan paling sedikit tiga perkara. Pertama, membakar segala sesuatu yang negatif. Jika sesuatu diletakkan di atas bara api yang menyala, sesuatu itu akan terbakar. Jika terdapat koordinasi yang tepat dalam gereja, maka akan terjadi pembakaran untuk membakar habis segala sesuatu seperti dunia, daging, tujuan pribadi, sasaran pribadi, kebanggaan, opini, dan kemegahan. Semua hal yang negatif akan dibakar habis melalui koordinasi. Segala sesuatu yang tidak berkaitan dengan Allah dan sifat Allah akan dibakar oleh api pengudusan dan pemurnian dari bara api yang menyala, dan hanya apa yang berasal dari Allah yang tinggal. Ini adalah kondisi yang tepat dalam penghidupan gereja.

Membuat Kita Sungguh-Sungguh

Kedua, pembakaran dari koordinasi akan membuat kita sungguh-sungguh, sangat membara. Daripada dingin dan suam-suam kuku, setiap orang akan terbakar dan membakar. Ketika seorang yang lain datang ke gereja, mereka akan menyadari bahwa mereka tidak dapat tinggal jika mereka tidak mau terbakar. Koordinasi menghasilkan pembakaran yang riil, sungguh-sungguh sejati. Pembakaran ini tidak akan membiarkan kamu menjadi seperti gereja di Laodikia, yang suam-suam kuku, tidak memiliki kesungguhan, tidak ada pembakaran.

Menghasilkan Kuasa

Ketiga, pembakaran di dalam koordinasi menghasilkan kuasa dan pengaruh pada gereja. Pengaruh di dalam gereja lokal berasal dari pembakaran. Kuasa ini berada di dalam dan rahasia karena berasal dari pembakaran. Jika kamu ingin memiliki pengaruh, kamu harus berkoordinasi, dan dalam koordinasi ini kamu akan terbakar. Kemudian hasil dari pembakaran ini akan menjadi pengaruh dan kuasa. Hal-hal negatif akan dibakar habis, kamu akan menyala-nyala, dan kamu akan memiliki kuasa dan pengaruh.

Menjadi Suluh yang Terbakar

Empat makhluk hidup tidak hanya terlihat seperti bara api yang membara, tetapi juga seperti suluh yang terbakar. Dimana bara api adalah untuk pembakaran, dan suluh adalah untuk penerangan. Dari koordinasi yang tepat dalam sebuah gereja lokal, tidak hanya ada pembakaran, tetapi juga penerangan dan penyinaran. Jika gereja dalam keadaan normal, akan penuh dengan bara api yang membakar dan suluh yang menerangi.

Api Pengudusan

Menjadi Terang Pengudusan

Kapankala bara api sedang membakar, suluh akan bersinar. Ini berarti bahwa api pengudusan menjadi terang pengudusan. Semakin api membakar, semakin terang menerangi. Jika api membakar kita secara menyeluruh, kita akan diterangi secara menyeluruh. Namun, jika kita tidak membiarkan api pengudusan untuk membakar kita dalam perkara tertentu, kita tidak akan diterangi dalam perkara ini. Daerah dimana kita telah dibakar oleh api pengudusan secara spontan menjadi daerah dimana kita diterangi dan yang mengenainya kita dapat menerangi yang lain. Jika aspek tertentu dari karakter kita telah dibakar oleh api pengudusan, dalam perkara ini kamu akan diterangi, dan karena itu kamu akan sanggup menerangi yang lain dalam perkara ini.

Semakin kuat api membakar di dalam gereja, penyinaran akan semakin terang di dalam gereja. Segala hal negatif akan disingkapkan dan dibakar. Dalam kehidupan gereja yang tepat seharusnya tidak ada kegelapan di antara para saudara dan saudari. Setiap sudut harus diterangi secara menyeluruh.

Namun, mungkin ketika kamu mengunjungi satu gereja lokal, kamu merasa bahwa gereja di lokal itu berada dalam kegelapan. Tidak jernih, dan tidak ada terang; sebaliknya, segala sesuatu gelap, dan setiap bagian di bawah kegelapan. Ada kegelapan karena gereja terpecah dan tidak memiliki koordinasi yang tepat. Jika gereja memiliki koordinasi yang tepat, segala sesuatu berada di bawah terang.

Memiliki Api yang Naik dan Turun

Di antara makhluk hidup yang berkoordinasi, yang adalah bara api yang membara dan suluh yang terbakar, ada api yang naik dan turun. Ini menunjukan bahwa api tidak diam, tetapi selalu bergerak, karena api adalah Allah itu sendiri. Kapankala gereja dengan tepat berkoordinasi, membakar seperti bara api dan menerangi seperti suluh, akan ada api ilahi yang naik dan turun.

Api di antara makhluk hidup memiliki sumbernya di dalam api pembakaran Allah. Api Allah bukan berada di depan makhluk-makhluk hidup; tetapi di atas mereka. Ada api bersama makhluk-makhluk hidup karena di dalam persekutuan mereka, mereka membiarkan Allah untuk bergerak dengan bebas di antara mereka. Jadi, api dalam persekutuan mereka adalah rupa api Allah.

Pada satu pihak, Yehezkiel 1 menunjukkan pada kita bahwa Allah adalah api yang membakar. Pada pihak lain, pasal ini menunjukkan pada kita bahwa ada api yang membakar di antara empat makhluk hidup. Rupa Allah adalah api yang membakar, dan rupa dari empat makhluk hidup juga adalah api yang membakar. Ini menunjukkan bahwa makhluk-makhluk hidup memiliki rupa pengudusan Allah. Mereka seperti Allah di dalam pengudusan. Dari hal ini kita melihat bahwa semakin kita dibakar dan diterangi, semakin kita memiliki rupa Allah dan mengekspresikan Dia. Jika kita sunguh-sungguh dan terang, kita akan dipenuhi Allah dan mengekspresikan Allah.

Kecemerlangan dari Api dan Kilat di dalam Api

Yehezkiel 1:13b mengatakan, “Api itu bersinar sedang dari api itu kilat sambung-menyambung”. Fakta bahwa api itu bersinar menunjukan bahwa makhluk hidup menyatakan kondisi yang mulia dan agung. Ini haruslah menjadi kondisi penghidupan gereja hari ini. Jika situasi gereja seperti demikian, tidak akan ada perselisihan. Sebaliknya, orang-orang yang lebih muda akan taat kepada orang-orang yang lebih tua, dan orang-orang yang lebih tua akan melayani orang-orang muda. Situasi yang demikian itu indah dan bersinar-sinar.

Jika kita ingin hal ini menjadi kondisi gereja, kita harus secara menyeluruh dibakar dan diterangi. Semakin kita dibakar dan diterangi, semakin orang lain akan melihat kecemerlangan kemuliaan, keindahan, dan keagungan Allah.

Di dalam api tidak hanya ada kecemerlangan, tetapi juga pancaran kilat. Dimana terang itu biasa, sedangkan pancaran kilat itu khusus, yang berkaitan dengan angin badai dan gelap. Secara umum, gereja seharusnya dipenuhi penerangan Allah dengan kecemerlangannya. Namun, pada waktu yang khusus—dalam waktu yang mendesak atau krisis—mungkin ada pancaran kilat. Ini berarti pada waktu yang khusus ada terang yang khusus yang memancar tiba-tiba dan menyebabkan yang lain menjadi heran.

Tidak Berjalan tetapi Berlari

Ayat 14 mengatakan, “Makhluk-makhluk hidup itu berlari ke sana ke mari seperti kilat” (TL). Ini menunjukan bahwa makhluk hidup, memiliki koordinasi yang demikian, menjadi bara api yang menyala dan suluh yang terbakar, dan memiliki api yang naik dan turun, tidak akan berjalan tetapi berlari. Mereka berlari karena mereka memiliki kekuatan dan pengaruh.

Namun dalam beberapa gereja, tidak sedang berlari. Sebaliknya, ada pertengkaran. Pada gereja-gereja yang lain kaum saleh sedang duduk atau berjongkok. Pada gereja-gereja yang lain mungkin mereka masih merangkak. Gereja yang tepat adalah gereja yang berlari.

Gereja berlari karena di dalam gereja itu ada koordinasi yang tepat. Gereja berlari seperti kilat, dan sewbagai gereja yang berlari, gereja memberi terang kepada yang lain. Inilah koordinasi, dan ini adalah pergerakan yang tepat dari sebuah gereja lokal. Setiap gereja lokal seharusnya seperti ini. Karena koordinasi adalah bagi pergerakan dan pergerakan di dalam koordinasi, maka menyertai koordinasi demikian ada pergerakan gereja lokal.

Ayat-ayat dalam Yehezkiel 1 ini memperlihatkan pada kita bagaimana memiliki koordinasi yang tepat. Kita telah melihat bahwa jika kita ingin memiliki koordinasi semacam ini, kita perlu memiliki empat macam berjalan: berjalan maju ke depan, berjalan mundur ke belakang, berjalan menyamping ke kanan, dan berjalan menyamping ke kiri. Ini akan memberikan kita suatu koordinasi yang baik. Sebagai hasil dari koordinasi ini, kita akan menjadi bara api yang membakar dan suluh yang bersinar dan menerangi, dan kita akan memiliki Allah sebagi api ilahi di antara kita yang naik dan turun. Ini akan menjadi kuasa kita dan pengaruh kita. Orang lain akan melihat terang di dalam lari kita. Kemana pun kita pergi dan apapun yang kita lakukan, kita akan memancarkan kilat. Pada kita akan ada pancaran kilat, menyebabkan orang lain diterangi. Pergerakan ini adalah penghidupan gereja yang tepat. Koordinasi yang demikian akan membawa masuk hadirat dan berkat Tuhan, dan akan menjaga gereja di dalam keseimbangan yang tepat, mencegahnya dari melakukan hal yang ekstrim.

Kita harus mennerapkan perkara koordinasi ini bukan hanya di dalam satu gereja lokal, tetapi juga diantara gereja-gereja. Ini berarti kita harus menjadi pengikut dari gereja-gereja (1 Tes. 2:14). Kita adalah satu Tubuh di dalam satu pergerakan Tuhan. Ketika satu gereja mengambil pimpinan di dalam arah yang jelas di bawah pimpinan Roh Kudus, kita semua harus berjalan mundur dan menyamping untuk mengikutinya.