← Daftar isi Yehezkiel (1) · bab 6/26

SAYAP-SAYAP RAJAWALI, TANGAN MANUSIA, DAN KUKU ANAK LEMBU

Pembacaan Alkitab:

Yeh. 1:6b-9a, 11b; Yes. 40:31; 2 Kor. 4:7; 1:12; 12:9; 1 Kor. 15:10; Flp. 4:13;

Mzm. 17:8b; 57:1b; Kis. 20:34; Kol. 3:9; Mzm. 29:6a; Why. 1:15

Pasal pertama dari Yehezkiel berisi banyak gambar yang menyusun satu gambaran. Jika semua gambar ini tidak diterapkan secara rohani, mereka kelihatannya tidak berarti. Anggaplah, sebagai contoh, empat muka dari makhluk hidup: muka manusia, muka singa, muka lembu, dan muka rajawali. Jika kita menerapkan hal ini secara rohani, mereka sungguh bermakna.

Dalam berita ini kita akan mempertimbangkan sayap elang, tangan manusia, dan kuku anak lembu. Empat muka ini adalah ekspresi dari makhluk hidup, dan sayap-sayap, tangan-tangan, dan kuku anak lembu berhubungan dengan perbuatan dan pergerakan dari makhluk hidup.

Berbicara mengenai makhluk hidup, Yehezkiel 1:6 mengatakan, “tetapi masing-masing mempunyai empat muka dan pada masing-masing ada pula empat sayap”. Tentunya sayap-sayap ini adalah sayap rajawali karena di antara makhluk-makhluk hidup yang diwakili oleh empat muka, hanya rajawali yang memiliki sayap.

Ayat 8 mengatakan, “Pada keempat sisi mereka di bawah sayap-sayapnya tampak tangan manusia”. Pada setiap sisi, ada sayap rajawali, dan di bawah sayap ada tangan manusia.

Ayat 7 berbicara mengenai kuku anak lembu: “Kaki mereka adalah lurus dan telapak kaki mereka seperti kuku anak lembu”. Makhluk hidup dilambangkan oleh empat muka, hanya satu yaitu anak lembu yang memiliki kaki yang lurus. Kaki manusia tidak lurus, tetapi berbentuk seperti huruf L. Seekor singa tidak memiliki kaki, tetapi sebaliknya memiliki tangan dengan cakar. Seekor rajawali juga memiliki cakar. Secara tegas, ayat 7 berbicara bukan tentang kaki lembu, tetapi kaki atau kuku anak lembu, yang lurus.

Jika kita ingin memahami arti rohani dari sayap rajawali, tangan manusia, dan kuku anak lembu, kita perlu mengingat arti dari angin yang bertiup, awan yang menudungi dan mengerami, dan api yang menghabisi, menyelidiki, menerangi, dan membakar, yang darinya keluar suasa yang mengkilat. Seperti yang telah kita tunjukkan, pengalaman dari semua hal ini membuat kita menjadi makhluk hidup, mengekspresikan Kristus dan memperhidupkan hayat-Nya secara korporat.

SAYAP-SAYAP RAJAWALI

Sekarang marilah kita mulai mempertimbangkan sayap-sayap rajawali.

Melambangkan Kekuatan Allah yang Diterapkan pada Kita

Menurut Firman yang murni, adalah mudah untuk melihat arti rohani dari sayap-sayap rajawali, tangan manusia, dan kaki anak lembu. Di dalam Alkitab sayap-sayap rajawali melambangkan kekuatan Allah yang diterapkan pada kita. Dalam Keluaran 19:4, Allah berkata kepada umat-Nya, “Kamu sendiri telah melihat apa yang Kulakukan kepada orang Mesir, dan bagaimana Aku telah mendukung kamu di atas sayap rajawali dan membawa kamu kepada-Ku”. Ayat ini membicarakan kekuatan Allah diterapkan pada umat-Nya. Yesaya 40:31 berkata, “orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah”. Ini juga memperlihatkan kepada kita bahwa kekuatan Allah diterapkan pada kita seperti sayap-sayap rajawali.

Dalam Perjanjian Baru sayap-sayap rajawali adalah kasih karunia, kuasa, dan kekuatan Allah di dalam Kristus yang diterapkan pada kita. Dua Korintus 4:7 mengatakan, “Tetapi harta ini kami miliki dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami”. Ini adalah sayap-sayap rajawali. Dalam 1:12 Paulus berkata, “Inilah yang kami megahkan, yaitu bahwa suara hati kami memberi kesaksian kepada kami bahwa hidup kami di dunia ini, khususnya dalam hubungan kami dengan kamu, dikuasai oleh ketulusan dan kemurnian dari Allah bukan oleh hikmat duniawi, tetapi oleh kekuatan anugerah Allah”. Sekali lagi, ini adalah sayap-sayap rajawali. Lagipula, dalam 12:9a Tuhan Yesus berkata pada Paulus, “Cukuplah anugerah-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna”. Karena inilah, dalam 12:9b Paulus berkata, “Sebab itu, aku terlebih suka bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku”. Dalam pengalaman kita terhadap Tuhan, kuasa Kristus turun menaungi kita, bahkan seperti sayap-sayap rajawali menaungi orang yang dilindungi. Dalam ayat ini kita dapat melihat bahwa sayap-sayap rajawali melambangkan kekuatan dan kasih karunia Tuhan Yesus yang diterapkan pada kita.

Dalam 1 Korintus 15:10 Paulus mengatakan, “Tetapi karena anugerah Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan anugerah yang diberikan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras daripada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan anugerah Allah yang menyertai aku”. Ini adalah sayap-sayap rajawali. Apapun yang kita lakukan dan apa adanya kita seharusnya tidak menuruti hikmat, kekuatan, dan kemampuan diri sendiri, tetapi oleh kasih karunia, kuasa, dan kekuatan dari Tuhan. Oleh karena itu, seperti yang dikatakan Paulus, jika kita bermegah, bailaklah kita bermegah di dalam Tuhan (1:31). Kita tidak memiliki kemegahan di dalam diri kita sendiri atau di dalam hal apapun, tetapi hanya di dalam Tuhan. Kuasa, kekuatan, dan kasih karunia-Nya adalah sayap-sayap rajawali bagi kita hari ini.

Dalam kehidupan Kristiani kita, kita semua harus memikul empat sayap pada empat sisi, memperlihatkan pada orang lain bahwa apa adanya kita dan apapun yang kita lakukan bukan oleh diri kita sendiri dan bukan dari diri kita sendiri, tetapi dari Tuhan, sehingga kuasa yang sempurna berasal dari Allah dan bukan dari kita.

Untuk Menaungi dan untuk Bergerak

Masing-masing dari empat makhluk hidup memiliki empat sayap, dua untuk menaungi dan dua untuk bergerak. “Mereka saling menyentuh dengan sayapnya” (Yeh. 1:9a). Penyatuan ini adalah untuk pergerakan. Nanti kita akan melihat bahwa pergerakan ini sepenuhnya adalah perkara korporat.

Alkitab mewahyukan bahwa sayap-sayap rajawali bukan hanya untuk kuasa tetapi juga untuk perlindungan. Dalam mazmur 17:8 Daud meminta Allah untuk menyembunyikannya di bawah naungan sayap-Nya. Mazmur 57:1 berbicara tentang berlindung dalam nauangan sayap Allah, dan 63:7 berbicara tentang bersukacita dalam naungan sayap-Nya. Mazmur 91:4 berkata, “Dengan kepak-Nya Ia akan menudungi engkau, di bawah sayap-Nya, engkau akan berlindung.”

Kasih karunia, kuasa, dan kekuatan dari Tuhan adalah untuk pergerakan dan untuk menaungi kita. Di satu pihak, kasih karunia Tuhan adalah kuasa bagi kita untuk bergerak; di pihak lain, kuasa Tuhan adalah untuk perlindungan kita, tempat persembunyian kita. Kita berada di bawah penudungan kasih karunia dan kuasa Kristus, dan kita berada dibawah naungan kuasa-Nya. Apapun yang kita lakukan dan apa adanya kita haruslah oleh kasih karunia Tuhan dan oleh kuasa Tuhan. Pada waktu yang sama, kita berada di bawah penudungan, naungan, dari kasih karunia dan kuasa Tuhan.

Ini menunjukkan bahwa sebagai orang Kristen, anak-anak Allah, kita harus memiliki sebuah unsur yang membuat orang lain mengingat kita. Mereka seharusnya merasa bahwa sesuatu menaungi dan menudungi kita. Mereka harus menyadari bahwa kita adalah normal, namun ada sesuatu memberi kuasa, menguatkan, menudungi, dan menaungi kita.

Muka di bagian depan dari empat makhluk hidup adalah muka seorang manusia, tetapi tubuhnya adalah tubuh seekor rajawali. Dua sayapnya dikembangkan untuk bersatu dengan makhluk hidup yang lainnya, dan dua sayap yang lain membungkus di sekeliling tubuh mereka untuk menutupi tubuh mereka. Maka, jika kamu melihat mukanya, ia terlihat seperti seorang manusia, tetapi jika kamu melihat tubuhnya, ia terlihat seperti seekor rajawali. Dia terlihat seperti seorang manusia, tetapi dia bergerak seperti seekor rajawali. Ini menunjukan bahwa kita harus selalu mengekspresikan diri kita sendiri seperti manusia normal, sebagai contoh, seperti suami, isteri, orang tua, atau anak yang normal dan tepat. Tetapi ketika orang lain melihat kita dan mempertimbangkan kita, mereka seharusnya menyadari bahwa ada sesuatu yang menaungi, memberi kuasa, menguatkan, melindungi, dan menudungi kita. Sebagai hasilnya, sulit bagi orang lain untuk menjelaskan kita. Mereka yang bekerja dengan orang yang demikian mungkin akan berkata, “Dia dapat menanggung penderitaan yang tidak dapat kita tanggung, dan ia dapat memikul tanggung jawab yang tidak dapat kita pikul. Ia memahami sesuatu lebih dalam daripada yang kita pahami. Orang macam apakah dia? Bagaimana dia dapat hidup secara demikian?”

Poinnya disini adalah bahwa bersama dengan kita sebagai anak-anak Allah seharusnya selalu ada sesuatu yang rahasia. Walaupun kita menderita, kita senang dan bersukacita di dalam Tuhan karena sesuatu sedang menaungi kita. Kita meiliki dua sayap untuk bergerak dan dua sayap yang lain untuk menaungi dan menudungi kita. Sayap untuk bergerak dan menudungi kita ini haruslah memberikan kesan sesuatu yang Ilahi bagi orang lain. Kita memiliki empat sayap rajawali, memberikan kesan bagi orang lain bahwa kita memiliki Allah beserta kita sebagai kuasa dan perlindungan kita. Ini adalah rajawali.

TANGAN MANUSIA

Yehezkiel 1:8a berkata, “Pada keempat sisi mereka di bawah sayap-sayapnya tampak tangan manusia”. Ini menunjukan bahwa seorang Kristen yang tepat dan normal harus selalu melakukan segala sesuatu persis seperti seorang manusia. Ini adalah untuk menggunakan tangan manusia. Ini adalah kesaksian Paulus di dalam Kisah Para Rasul 20:34: “Kamu sendiri tahu bahwa dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku dan keperluan kawan-kawan seperjalananku.”

Mengenai iman di dalam Allah, kita perlu menjadi seimbang. Beberapa orang mungkin menyatakan bahwa sejak mereka memiliki iman di dalam Allah yang mahakuasa untuk mensuplai semua keperluan mereka, maka mereka tidak perlu menggunakan tangan mereka untuk melakukan apa pun. Secara khusus, mereka mungkin menganggap bahwa tidak ada keperluan bagi mereka untuk bekerja dengan cara insani. Tetapi pertimbangkanlah rasul Paulus. Paulus itu seimbang; selalu terdapat dua sisi dengannya. Tulisan-tulisannya menunjukkan bahwa dia tidak hanya memiliki sayap rajawali, tetapi juga memiliki tangan manusia. Dia dapat berkata bahwa dia memperlakukan dirinya sendiri bukan dengan hikmat daging, tetapi di dalam kasih karunia Allah dan bahwa kasih karunia yang menyertainya tidak sia-sia. Ini adalah sisi dari sayap-sayap rajawali. Namun, dia juga mengatakan bahwa dia lebih berjerih lelah dibandingkan dengan rasul yang lain. Kita mungkin berpikir bahwa Paulus tidak perlu bekerja dengan tangannya sendiri. Tetapi Paulus mengambil jalan bekerja dengan kedua tangannya sendiri. Ini menunjukkan bahwa meskipun dia mengalami sayap-sayap rajawali, di dalam kehidupannya dia masih sangat insani, mengambil jalan insani dan melakukan sesuatu dengan cara insani.

Kadang-kadang orang-orang muda mungkin membayangkan bahwa karena mereka menuntut Tuhan, maka mereka tidak perlu untuk belajar keras. Mereka mungkin berharap, bahkan tanpa belajar, mereka mungkin akan berhasil dalam ujian mereka dengan nilai yang tinggi. Sikap yang demikian adalah salah. Orang-orang muda, tidak peduli berapa banyak kamu menuntut Tuhan, mengasihi Tuhan dan mempedulikan Tuhan, kamu masih perlu rajin di dalam belajarmu. Ini berarti bahwa tidak peduli seberapa besar kasih karunia Allah yang menyertai kita dan tidak perduli berapa banyak Tuhan memberi kita kuasa, namun kita harus memenuhi kewajiban insani kita dalam hidup kita sehari-hari. Sebagai contoh, kita harus makan makanan yang sehat secara insani dan menurut prinsip insani. Jika kita tidak makan dengan cara insani yang tepat, sebaliknya mencoba untuk bertingkah laku seperti malaikat, kita akan sakit. Kita harus melakukan hal-hal secara insani. Di bawah saya-sayap rajawali seharusnya ada tangan manusia. Ini adalah untuk diseimbangkan.

Sebaliknya, orang-orang dunia, hanya memiliki tangan manusia; mereka tidak memiliki sayapsayap rajawali. Tetapi banyak orang yang disebut kaum agamawan kelihatannya hanya memiliki sayap-sayap rajawali; mereka tidak memiliki tangan manusia. Kita perlu memiliki baik sayap-sayap dari kasih karunia Tuhan yang berkuasa maupun tangan manusia, bekerjasama dengan Allah secara insani.

Sangatlah bermakna bahwa tangan-tangan manusia dari empat makhluk hidup berada di bawah sayap-sayap rajawali. Ini menunjukkan bahwa dalam melakukan segala sesuatu, kita harus berada di bawah kasih karunia Allah dan di bawah naungan-Nya. Dalam semua yang kita lakukan, kita harus bergantung pada Tuhan dan mengekspresikan Dia. Dalam perkara ini, kita sepenuhnya berbeda dengan orang-orang dunia, yang tidak bersandar pada Allah, juga tidak mengekspresikan Dia. Semua perbuatan yang mereka lakukan tidak mengekspresikan Allah, tetapi mengekspresikan diri mereka sendiri. Sebaliknya, dalam segala sesuatu yang kita lakukan harus berada di bawah kasih karunia dan kekuasaan Tuhan, bergantung pada-Nya dan mengeskpresikan Dia.

MEMILIKI KUKU ANAK LEMBU

Sekarang marilah kita lanjutkan untuk mempertimbangkan perkara dari pentingnya visi yang khusus dicatat dalam Yehezkiel 1.

Lurus

Kita semua harus berjalan seperti anak lembu, memiliki kuku-kuku yang lurus. Orang Kristen tidak seharusnya berjalan dengan cakar singa. Ketika kita dapat menerapkan keberanian singa pada karakter Kristiani kita, kita tidak seharusnya menerapkan cakar singa pada jalan Kristisni kita. Kita juga tidak seharusnya berjalan dengan cakar rajawali. Mereka yang berjalan dengan cakar rajawali, pada akhirnya akan melukai yang lain.

Juga, kita tidak seharusnya berjalan dengan kami manusia. Kaki manusia itu baik, tetapi kaki manusia agaknya bengkok. Kepandaian manusia adalah sesuatu yang bengkok. Inilah mengapa Paulus berkata bahwa dia tidak bertingkah laku dalam hikmat daging, yaitu, bukan dalam kepandaian manusia. Daripada menjadi bengkok atau pandai, jalan Kristiani kita seharusnya menjadi lurus dan jujur. Inilah sebabnya Paulus memberitahu kita untuk tidak berdusta seorang terhadap yang lain (Kol. 3:9). Kita seharusnya tidak pernah berdusta kepada seorang saudara. Berdusta adalah menjadi bengkok. Jika kamu sanggup membicarakan sesuatu, bicarakanlah itu dengan jujur. Jika kamu tidak sanggup berbicara dengan jujur, secara sederhana jangan berbicara.

Selama hari-hari terakhir sebelum Tuhan Yesus disalibkan, Dia pergi ke Yerusalem dan dikelilingi oleh para pemimpin agama dan politik. Pada satu kejadian, “ketika Ia mengajar di situ, datanglah imam-imam kepala serta tua-tua bangsa Yahudi kepada-Nya, dan bertanya: "Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu?” (Mat. 21:23). Dalam jawaban-Nya, Tuhan Yesus berkata kepada mereka, “Aku juga akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu dan jikalau kamu memberi jawabnya kepada-Ku, Aku akan mengatakan juga kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu. Dari manakah baptisan Yohanes? Dari surga atau dari manusia?” (ay. 24-25a). Kemudian mereka berdebat di antara mereka sendiri, dengan berkata, “Jikalau kita katakan: Dari surga, Ia akan berkata kepada kita: Kalau begitu, mengapakah kamu tidak percaya kepadanya? Tetapi jikalau kita katakan: Dari manusia, kita takut kepada orang banyak, sebab semua orang menganggap Yohanes ini nabi” (ay. 25b-26). Dalam dilema semacam ini, mereka menganggap bahwa jawaban terbaik adalah jawaban yang bengkok. Jadi, mereka berpaling kepada Tuhan Yesus dan berkata, “Kami tidak tahu” (ay. 27a). Sebenarnya mereka tahu, tetapi mereka tidak ingin memberitahu. Ini menunjukkan bahwa mereka bengkok. Lalu Tuhan Yesus mengetahui kebengkokan mereka, berkata kepada mereka, “Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu” (ay. 27b). Di sini kita bahwa mengingat imam-imam kepala dan tua-tua Yahudi itu bengkok, sedangkan Tuhan Yesus itu lurus. Kaki Tuhan Yesus adalah kuku-kuku anak lembu; pada-Nya tidak ada kebengkokan.

Jika kita membaca empat kitab Injil, kita akan melihat bahwa ketika Tuhan Yesus di atas bumi, Dia berjalan dengan cara yang sangat lurus. Langkah demi langkah, jalan-Nya adalah lurus. Dia berjalan di atas bumi dengan kuku-kuku anak lembu.

Hari ini, kita juga harus berjalan dengan cara ini. Jika kita berjalan dengan cara yang bengkok, kita tidak seharusnya mengharapkan gereja terbangun. Dalam hidup gereja, kita semua perlu belajar menjadi terus terang, jujur, setia, dan tulus. Kita seharusnya menjadi sederhana dan tulus. Jika ya, kita harus berkata ya; jika tidak, kita harus berkata tidak. Apa yang lebih daripada itu adalah berasal dari si jahat (Mat. 5:37), bapa segala dusta (Yoh. 8:44). Seseorang mungkin berdusta dengan maksud yang baik,

Tetapi dusta itu tetap berasal dari si jahat. Kita tidak seharusnya berjalan menurut kaki manusia yang bengkok, tetapi kita seharusnya berjalan dengan kuku-kuku anak lembu. Kaki manusia itu bengkok, tetapi kuku-kuku anak lembu itu lurus.

Bukan hanya Tuhan Yesus yang lurus dalam jalan-Nya, tetapi rasul Paulus juga sangat lurus, terus terang, setia, dan jujur dalam jalannya. Dengan membaca Surat Kiriman Paulus kepada orang-orang Korintus, kita dapat menyadari bahwa Paulus adalah seorang yang lurus dan terus terang. Dalam 1 Korintus 4:21 dia bertanya, “Apa yang kamu kehendaki? Haruskah aku datang kepadamu dengan cambuk atau dengan kasih dan dengan, lemah lembut?” Apa jadinya jika seorang hamba Tuhan harus menulis surat dengan menanyakan pertanyaan demikian kepada gereja hari ini? Seluruh perhimpunan akan terkejut. Jika kita ingin menjadi hamba Tuhan yang setia, kita harus lurus secara demikian.

Membelah

Sebagai tambahan pada lurus, kuku-kuku anak lembu juga membelah, atau terbagi. Menurut Imamat 11:4-6 beberapa binatang yang tidak memiliki kuku belah adalah tidak tahir. Binatang-binatang yang tahir memiliki kuku belah, terpecah. Binatang yang tahir seperti lembu dan domba memiliki dua ciri: memamah biak dan kukunya bersela panjang.

Kuku yang membelah melambangkan bahwa dalam berjalan bersama Allah, kita memerlukan pembedaan yang tepat untuk membedakan yang benar dari yang salah dan yang tahir dari yang najis. Memiliki kuku yang utuh adalah tidak tahir, seperti seekor unta, adalah berjalan tanpa pembedaan. Sebagai kaum beriman dalam Kristus, kita perlu memiliki berjalan yang demikian yaitu kita dapat membedakan apa yang benar dan apa yang salah di mata Allah. Kita perlu pembedaan semacam ini dalam perjalanan Kristiani kita sehari-hari.

Kita perlu pembedaan ini juga mengenai praktek hidup gereja. Di negara ini istilah gereja lokal telah menjadi agak terkenal. Banyak kelompok menggunakan istilah ini dan secara sembarangan menyebut diri mereka gereja lokal. Oleh karena itu, kita perlu menjadi sanggup untuk membedakan apakah kelompok kaum beriman tertentu secara fakta adalah gereja lokal yang normal, tepat, dan asli. Kita perlu berkuku belah. Kita tidak seharusnya ceroboh, mengira dengan sederhana karena kelompok itu mengatakan bahwa mereka adalah gereja lokal, mereka pasti adalah gereja lokal. Beberapa kelompok adalah asli dan kelompok yang lain tidak asli. Beberapa kelompok adalah benar dan beberapa yang lain adalah salah. Beberapa kelompok adalah riil dan kelompok yang lain tidak. Kita perlu pembedaan. Baik di dalam kehidupan Kristiani kita sehari-hari dan di dalam hidup gereja, kita perlu kuku belah anak lembu.

Mengkilap seperti Tembaga yang Baru Digosok

Yehezkiel 1:7 memberitahu kita bahwa kuku anak lembu “mengkilap seperti tembaga yang baru digosok”. Tembaga yang mengkilap berasal dari panas dari pembakaran. Semakin pembakaran dibakar dan diuji, kilapnya semakin terang. Ini menunjukkan bahwa kita perlu jalan yang telah diuji dan dibakar oleh Tuhan. Jika jalan kita telah diuji dengan cara ini, itu akan menjadi seperti tembaga yang mengkilap, menerangi yang lain dan menjadi semacam kilap bagi mereka. Jika kita telah diuji dan diperiksa oleh Tuhan, jalan kita akan mengkilap seperti tembaga yang baru digosok, memberi terang kepada yang lain, menguji mereka, dan membuat mereka menyadari apakah jalan mereka benar atau salah.

Demikian pula, jika kita memiliki pembedaan yang tepat mengenai apakah kehidupan gereja yang sejati dan jika kita telah diuji dan diperiksa oleh Tuhan dalam hidup gereja, lalu jalan kita dalam hidup gereja akan seperti kilap tembaga, menerangi yang lain dan menguji mereka. Tetapi jika kita tidak teliti dan ceroboh, kekurangan daya pembeda mengenai hidup gereja, bagi kita segala sesuatu akan menjadi sama. Hitam, putih, dan abu-abu akan kelihatan sama. Ini berarti bahwa kita tidak sanggup untk melatih daya pembeda. Jika ini kasus kita, maka jalan kita akan menjadi seperti batu yang dihitamkan, dengan tanpa terang.

Jika jalan kita adalah jalan pembedaan, kita akan membedakan semua hal dalam jalan Kristiani kita, dan akhirnya kuku-kuku kita akan menjadi seperti tembaga yang mengkilap. Kemanapun kita pergi dan apapun jalan yang kita ambil, jalan kita akan bersinar atas orang lain, memberi mereka terang dan menguji mereka.

Kesegaran dan Kehidupan

Dalam Alkitab seekor anak lembu melambangkan kesegaran dan kehidupan. Seorang beriman dalam Kristus yang menikmati kasih karunia dan hidup di hadirat Allah selalu baru dan segar, dan padanya tidak ada keusangan. Kadang-kadang kamu mungkin bertemu seorang saudara yang cukup muda secara insani, tetapi sebaliknya secara rohani tua, kekurangan dalam kesegaran dan kebaruan. Pada waktu lain kamu mungkin memiliki persekutuan dengan seorang saudara yang lebih tua yang sangat berpengalaman di dalam Tuhan. Kapan saja dia berdoa, kamu merasa sesuatu yang baru dan segar. Dalam semua aktivitas kita sebagai kaum beriman, kita seharusnya menjadi baru dan segar. Jika kita menjadi usang, kita bukan lagi makhluk hidup.

Alkitab berkata bahwa seekor anak lembu meloncat dan melompat (Mzm. 29:6; Mal. 4:2). Ini berarti bahwa anak lembu itu hidup. Jalan Kristiani kita tidak seharusnya menjadi jalan yang mati, tetapi “jalan yang meloncat,” jalan yang penuh dengan hayat. Anak lembu itu muda dan semangat, penuh energi. Kita semua seharusnya penuh hayat, seperti anak lembu muda, datang ke sidang seperti anak lembu yang meloncat. Semoga Tuhan membuat kita semua meloncat seperti anak lembu!

Semua poin tentang kuku anak lembu ini berkaitan dengan jalan Kristiani kita. Jalan Kristiani kita itu lurus dan terus terang. Ini juga jalan dengan daya pembeda, sebuah jalan yang bersinar dan memberi terang kepada yang lain dan menguji mereka, dan sebuah jalan yang semangat, penuh hayat, energi, kesegaran, dan kebaruan.

Ketika kita berbicara tentang kaki seperti tembaga yang mengkilap, kita seharusnya mengingat Wahyu 1:15, dimana kita diberitahu bahwa kaki Tuhan Yesus “mengkilap bagaikan tembaga membara di dalam perapian”. Kita semua seharusnya memiliki jalan seperti jalan Tuhan.

Dalam berita selanjutnya kita akan melihat bahwa empat makhluk hidup berkoordinasi bersama. Mereka dapat berkoordinasi hanya dengan menempuh kehidupan dan jalan semacam ini. Kehidupan ini adalah kehidupan dengan sayap-sayap rajawali dan tangan manusia, dan jalan ini adalah jalan kuku-kuku anak lembu.

Hidup orang Kristen haruslah kehidupan yang semacam ini, dan jalan orang Kristen harus menjadi jalan yang semacam ini. Dengan memiliki kehidupan dan jalan semacam ini, maka kita, makhluk hidup, dapat berkoordinasi dan menjadi satu kesatuan. Koordinasi adalah poin sentral dalam pasal satu dari Yehezkiel. Namun, koordinasi ini tergantung pada semua butir sebelumnya: angin, awan, api, suasa, dan empat makhluk hidup dengan empat muka dan memiliki sayap-sayap rajawali, tangan manusia, dan berjalan dengan kuku belah. Jika kita ingin memiliki koordinasi yang tepat, kita perlu kehidupan dan jalan Kristiani yang demikian. Kita memerlukan kehidupan yang memiliki sayap-sayap rajawali dan tangan manusia, dan kita perlu sebuah jalan yang memiliki kuku-kuku lurus dari anak lembu. Semoga Tuhan mengesankan kita dengan semua hal ini sehingga kita dapat memiliki koordinasi yang tepat di dalam hidup gereja.