← Daftar isi Yehezkiel (1) · bab 5/26

EMPAT MAKHLUK HIDUP

Pembacaan Alkitab:

Yeh. 1:5-6, 10, 26; Why. 5:9b; Yoh. 5:25; Kol. 2:12-13; Flp. 2:7-8;

Mrk 10:45; Why. 5:5; Kel. 19:4; Yes.40:31; Flp. 1:21

Yehezkiel adalah kitab lambang atau gambar, yang melukiskan hal-hal rohani. Kita telah mempertimbangkan empat lambang ini—angin, awan, api, dan suasa—yang melukiskan apa adanya Allah bagi kita. Dalam pengalaman kita akan Dia, Allah seperti angin yang bertiup, seperti pengeraman, melayang-layang, dan awan yang menudungi seperti penyinaran, penerangan, penyelidikan, dan api yang membakar (Ibr. 12:29), yang menguduskan kita dengan membakar kita, dan seperti suasa yang mengkilat, bersinar. Suasa, terdiri dari unsur emas dan perak, melambangkan Allah yang majemuk, Allah-Anak Domba (Why. 22:1). Allah yang hidup di dalam kita hari ini adalah Allah-Anak Domba; Dia adalah Allah (emas) dan Dia juga Penebus (perak). Maka, sebagai Allah yang majemuk, Dia dilambangkan oleh suasa. Bagi orang Yahudi, Allah dilambangkan hanya oleh emas, Tetapi bagi kita, orang Kristen, Allah kita, Allah yang majemuk, dilambangkan oleh suasa dengan dua unsur dari emas dan perak.

TIDAK MATI TETAPI HIDUP

Yehezkiel 1:5a berkata, “Dan di tengah-tengah itu juga ada yang menyerupai empat makhluk hidup”. Kita perlu memperhatikan pada kata pertama di dalam ayat ini, juga. Tidak hanya suasa keluar dari api; sesuatu yang lain juga keluar. Angin membawa masuk awan; awan membungkus api; dan api menghasilkan suasa ditambah sesuatu yang lain—empat makhluk hidup. Ketika kita mengalami Allah sebagai angin yang bertiup, awan yang menudungi, dan api yang membakar, dan suasa, kita menjadi empat makhluk hidup. Kita telah mati, tetapi dengan mengalami Allah dengan cara ini kita menjadi sesuatu yang hidup. Tuhan Yesus berkata bahwa “orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah” dan bahwa “mereka yang mendengarnya, akan hidup” (Yoh. 5:25). Paulus bahwa kita telah mati, tetapi Allah telah menghidupkan kita (Ef. 2:5). Semakin kita mengalami siklus angin, awan, api, dan suasa, semakin hidup kita jadinya. Setiap kali kita ditiupi oleh Allah dan ditudungi, dihabisi, dan dibakar oleh Dia, kita dihidupkan. Hasilnya kita menjadi hidup dan vital. Jika kita tidak hidup di dalam sidang-sidang, ini membuktikan bahwa kita kekurangan pengalaman akan siklus yang terdiri dari angin, awan, api, dan suasa. Semakin kita mengalami siklus ini, semakin hidup kita jadinya. Namun banyak Orang Kristen hari ini lebih suka mengikuti pelayanan yang tenang, kita seharusnya menjadi sangat hidup di dalam sidang-sidang dan bahkan kadang-kala membuat kegaduhan sukacita kepada Tuhan (Mzm. 95:1-2). Hanya orang-orang yang hidup yang dapat membuat kegaduhan demikian. Jika kita mengalami Allah sebagai angin, awan, api, dan suasa, kita tidak akan menjadi tenang, tetapi akan menjadi hidup dan bahkan membuat kegaduhan dalam sidang-sidang gereja.

Kata hidup dalam bahasa Ibrani memiliki akar kata yang sama dengan hayat di dalam Kejadian 2:9, yang berbicara tentang pohon hayat. Bagaimana mungkin, kita, makhluk ciptaan-Nya, menjadi makhluk yang hidup? Kita menjadi makhluk yang hidup dengan mengalami Allah sebagai pohon hayat. Hayat ini, hayat Allah yang ilahi, kekal, tidak tercipta, adalah hayat yang sejati. Hanya dengan memiliki hayat yang sejati kita menjadi makhluk yang hidup. Kapankala kita mengalami Allah sebagai pohon hayat, kita merasa bahwa kita memiliki sesuatu yang hidup di dalam kita. Kita memiliki unsur yang hidup, faktor yang hidup, di dalam kita. Unsur atau faktor yang hidup selalu akan membuat kita hidup.

Sebelum kita diselamatkan, kita mati dalam prajawaligaran dan dosa-dosa kita (Ef. 2:1, 5; Kol. 2:13). Dalam Yohanes 5:25 Tuhan Yesus berbicara secara langsung mengenai mereka yang secara rohani mati: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Saatnya akan tiba dan sudah tiba bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah, dan mereka yang mendengar-Nya, akan hidup”. Dalam ayat ini, hidup berarti menjadi hidup di dalam roh. Ketika kita diselamatkan dan dilahirkan kembali, kita mengalami angin, awan, api, dan suasa. Angin Roh Kudus meniupi kita, awan Roh Kudus menudungi kita, dan api Roh Kudus menerangi kita dan membakar kita. Hasilnya, kita mengakui dosa-dosa kita, dan suasa dihasilkan di dalam kita. Dengan cara ini, kita mendengar suara Anak Allah dan dihidupkan. Kita bertemu dengan kemuliaan Allah dan diselamatkan serta dilahirkan kembali di dalam manifestasi kemuliaan-Nya.

Melalui pengalaman akan angin, awan, api, dan suasa, kita, yang telah mati, dihidupkan untuk menjadi makhluk yang hidup. Sekarang kita harus mengalami angin, awan, api, dan suasa setiap hari, sehiangga kita dapat menjadi hidup dan vital dalam batin kita.

Bagaimana kita dapat membuktikan bahwa kita tidak lagi mati, tetapi telah menjadi makhluk yang hidup? Ada dua bukti ganda, yaitu bukti yang di dalam dan bukti yang di luar. Bukti yang di dalam bahwa kita adalah makhluk hidup adalah bahwa kita sekarang memiliki perasaan, atau cita rasa, hayat. Orang yang hidup memiliki perasaan. Misalnya, saat kita duduk dalam suatu ruangan, kita akan memiliki perasaan mengenai suhu. Kita mungkin merasa panas atau mungkin kita merasa dingin. Sebaliknya, orang yang mati, tidak memiliki perasaan demikian. Demikian pula, jika kita hidup di hadapan Allah, kita kan memiliki perasaan batiniah, rohani mengenai situasi kita. Jika kita bersalah kepada Allah atau jika kita melakukan sesuatu yang tidak berkenan kepada Allah, kita akan memiliki perasaan tentang hal ini. Seseorang yang hidup secara rohani akan memiliki perasaan yang dalam kapankala dia hidup dengan cara yang tidak memuliakan Allah atau yang tidak berkenan kepada-Nya. Jika perasaan batin kita, citarasa batini akan hayat, adalah peka, dalam, dan segar, ini adalah bukti bahwa secar a batini kita hidup dan oleh karena itu, kita adalah makhluk yang hidup. Namun, beberapa anak Allah mungkin bertingkah laku sangat buruk, mempermalukan nama Tuhan, namun mereka tidak memiliki perasaan tentang apa yang mereka lakukan. Mereka jauh dari Allah dan mereka perlu bertobat, tetapi mereka tidak memiliki perasaan batini sama sekali. Ini membuktikan bahwa secara batini mereka mati. Seorang kaum beriman yang adalah makhluk hidup sesungguhnya memiliki banyak perasaan batini tentang situasinya.

Mengingat bukti pertama bahwa kita makhluk hidup adalah yang di dalam dan yang berkaitan dengan perasaan kita, bukti yang kedua adalah yang di luar dan yang berkaitan dengan aktivitas kita. Orang mati itu tidak aktif, tetapi orang hidup sangat aktif. Misalnya, anak-anak sangat aktif karena mereka penuh hayat. Prinsipnya adalah sama dengan kehidupan orang Kristen. Orang Kristen yang hidup, yang adalah makhluk hidup, akan terikat dengan sejumlah aktivitas. Yang pertama dari aktivitas ini adalah doa. Sama seperti kita tidak dapat hidup secara fisik tanpa bernafas, demikian juga kita tidak dapat hidup secara rohani tanpa berdoa. Doa adalah nafas rohani orang Kristen, dan doa seringkali spontan. Misalnya, segera setelah kita bangun di pagi hari, kita dengan spontan bersyukut kepada Tuhan untuk hari yang baru. Berdoa seperti ini adalah bernafas, dan itu adalah tanda bahwa kita hidup. Namun, beberapa kaum beriman, mungkin pergi untuk waktu yang lama, bahkan sebulan, tanpa berdoa. Kekurangan mereka akan aktivitas doa adalah bukti bahwa mereka tidak hidup. Aktivitas lain yang membuktikan bahwa kita adalah makhluk hidup meliputi membaca Alkitab, berfungsi di dalam sidang-sidang, melayani Allah, dan memberitakan injil. Tidak membaca Alkitab, tidak menghadiri sidang-sidang, dan tidak berfungsi di dalam sidang-sidang, tidak melayani Allah, tidak bersaksi bagi Tuhan, dan tidak memberitakan injil—semua kekurangan ini menunjukkan bahwa seseorang bukanlah makhluk hidup. Cara membuktikan bahwa kamu adalah orang Kristen yang hidup adalah mempertimbangkan semua poin-poin ini. Apakah kamu berdoa? Apakah kamu membaca Alkitab? Apakah kamu melatih rohmu untuk berfungsi di dalam sidang-sidang? Apakah kamu melayani Tuhan? Apakah kamu bersaksi bagi Tuhan dan memberitakan injil ? Jika kamu kekurangan perkara-perkara ini, kamu bukanlah kaum beriman yang hidup.

Kita tidak seharusnya mengira bahwa orang Kristen yang matang tidak perlu terikat dalam semua aktivitas ini. Semakin kita tua dan matang di dalam Tuhan, semakin banyak aktivitas rohani yang seharusnya kita miliki. Saya percaya bahwa jika rasul Paulus ada di tengah-tengah kita, dia akan sangat aktif dalam doa, dalam membaca Alkitab, dalam berfungsi dalam sidang-sidang, dalam melayani Tuhan, dan dalam memberitakan injil. Dalam kehidupan orang Kristen kita tidak pernah “lulus” dari menjadi hidup. Untuk lulus dari menjadi hidup adalah mati. Setiap orang hidup harus hidup terus-menerus. Setiap hati kita perlu mengalami angin, awan, api, dan suasa. Setiap kali kita berjumpa Tuhan sebagai angin, awan, api, dan suasa, batin kita akan dibuat hidup.

ANGKA EMPAT

Sangatlah bermakna bahwa ayat 5 berbicara tentang empat makhluk hidup. Banyak ayat dalam Alkitab menunjukkan bahwa angka empat berkaitan dengan penciptaan Allah dan melambangkan manusia sebagai makhluk ciptaan Allah (Yes. 11:12; Yer. 49:36; Why. 7:1). Wahyu 5:9 berkata bahwa Tuhan telah menebus kita keluar dari empat sumbur: keluar dari setiap suku, bahasa, umat, dan bangsa. Lagipula, Wahyu 21 memberitahu kita bahwa Yerusalem Baru memiliki empat sisi—timur, utara, selatan, dan barat—dan stiap sisi memiliki tiga pintu gerbang. Ini berarti bahwa dari setiap arah bumi, kita dapat masuk kota. Oleh karena itu, angka empat melambangkan bahwa kita adalah umat tebusan dari banyak suku, bahasa, umat, dan bangsa. Di mata Allah, kita adalah empat makhluk hidup.

EKSPRESI KORPORAT

Empat makhluk hidup dicatat bukan sebagai individu tetapi sebagai satu kelompok. Semua makhluk dianggap sebagai satu kesatuan. Kemudian kita akan melihat bahwa makhluk-makhluk hidup ini adalah ekspresi koorporat dari manusia di takhta. Sebagai ekspresi yang demikian, makhluk itu mengekpresikan manusia ini bukan hanya dalam satu arah, tetapi dalam empat arah: timur, utara, selatan, dan barat. Ini menunjukan bahwa sebagai empat makhluk hidup, kita bukan hanya ekspresi unik dari Kristus, tetapi juga bahwa kita adalah ekspresi lengkap dari Kristus. Kita mengekspresikan Kristus di dalam segala arah, terhadap setiap sisi. Kita adalah empat makhluk hidupmengekspresikan Kristus dengan cara yang tepat dan lengkap.

MENGEMBAN PENAMPILAN MANUSIA

Poin utama dari Yehezkiel 1:5 adalah empat makhluk hidup mengemban penampilan manusia. Ayat 26 berkata bahwa “di atas yang menyerupai takhta itu ada yang kelihatan seperti rupa manusia.” Manusia adalah kata yang besar di dalam Alkitab. Perhatian Allah adalah pada manusia, pemikiran Allah difokuskan pada manusia, dan hati Allah didirikan pada manusia. Kedambaan Allah adalah untuk mendapatkan manusia. Fakta bahwa empat makhluk hidup mengemban penampilan manusia dan bahwa Allah yang di atas takhta juga mengemban penampilan manusia menunjukkan bahwa pemikiran sentral Allah dan pengaturan-Nya berkaitan dengan manusia.

Dalam pembacaan empat kitab injil kita mungkin berada dibawah pengaruh konsep agama yang menempatkan penekanan yang tidak semestinya pada keilahian Kristus. Hasilnya, kita mungkin tidak memiliki apresiasi yang tepat tentang keinsanian Tuhan. Ketika kita membaca di dalam kitab injil bagaimana Tuhan Yesus menyatakan keilahian-Nya dengan menampilkan mujijat, kita mungkin memuji Tuhan untuk kuasa keilahian-Nya. Namun, ketika kita membaca di dalam Yohanes 13 tentang bagaimana Tuhan membasuh kaki murid-murid-Nya, kita mungkin tidak mempersembahkan pujian apa pun. Demikian pula, ketika kita membaca tentang mujijat tentang Tuhan memberi makan lebih dari lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan, kita mungkin merasa bhawa hal ini adalah sesuatu yang besar, tetapi kita mungkin tidak memiliki apresiasi untuk pengaturan-Nya atas orang-orang untuk duduk dalam kelompok-kelompok atau untuk perintah-Nya atas murid-murid untuk mengumpulkan potongan-potongan roti yang tersisa sehingga tidak ada yang terbuang. Hal-hal demikian mungkin tidak membuat kita terkesan. Jika kita tahu bagaimana membaca kitab Injil dengan cara yang tepat, kita akan menyadari bahwa keelokan yang mulia dari Tuhan Yesus dinyatakan didalam keinsanian-Nya. Dia menyatakan keelokan-Nya yang mulian bukan melalui martabat ilahi tetapi melalui keinsanian-Nya dengan kerendahan hati dan kelembutan. Pada sidang Meja Tuhan, kita perlu memuji Tuhan untuk keinsanian-Nya.

Banyak orang Kristen telah dipengaruhi oleh konsep bahwa lebih baik menjadi seorang malaikat daripada menjadi seorang manusia. Jika kamu memiliki pilihan, apakah yang lebih kamu sukai—seorang malaikat atau seorang manusia? Mungkin banyak dari kita lebih suka untuk menjadi malaikat. Namun, Allah memiliki cukup banyak malaikat, tetapi Dia kekurangan manusia. Allah tidak mengapresiasi malaikat begitu besar. Para malaikat adalah pelayan-Nya. Allah menyuruh mereka pergi, dan mereka pergi; Ia menyuruh mereka datang, dan mereka datang. Para malaikat juga adalah pelayan kita (Ibr. 1:13-14). Sebagai kaum beriman kita semua memiliki malaikat pribadi kita (Kis. 12:12-15). Kita perlu membuang konsep bahwa lebih baik menjadi malaikat daripada manusia. Kita perlu melihat betapa mulia dan ajaibnya bahwa kita adalah manusia.

Jika kita damba untuk menjadi seperti malaikat, setidaknya kita mungkin damba untuk menjadi seperti Allah. Banyak orang Kristen terus-menerus bergumul untuk menjadi seperti Allah. Namun, Allah ingin untuk menjadi seperti kita. Dia bahkan menjadi seorang manusia untuk menyatakan Allah (Yoh. 1:18), dan hari ini di surga, Tuhan Yesus, yang adalah Allah, adalah masih seorang manusia. Ada seorang manusia di atas takhta (Kis 7:56).

Alkitab dengan jelas mewahyukan bahwa manusia adalah sarana bagi Allah untuk menyatakan Diri-Nya Sendiri. Allah tidak dapat dinyatakan tanpa manusia. Manusia diciptakan dalam gambar Allah untuk menjadi ekspresi Allah. Allah adalah pusat alam semesta, tetapi Dia memerlukan ekspresi, dan ekspresi ini adalah melalui manusia. Tanpa manusia, Allah tidak memiliki ekspresi. Jutaan malaikat tidak dapat menjadi ekspresi Allah. Allah memerlukan manusia korporat untuk mengekspresikan Dia. Kamu seharusnya tidak pernah meremehkan fakta bahwa kamu adalah seorang manusia.

Dalam Alkitab, seseungguhnya hanya ada empat manusia: manusia pertama, manusia kedua, manusia baru, dan anak laki-laki. Kita adalah manusia pertama; Kristus disebut manusia kedua (1 Kor. 15:47); kita menjadi manusia baru oleh kelahiran kembali; dan sekarang ada harapan bahwa kita dapat menjadi anak laki-laki. Ministri ini bukan hanya bagi manusia baru, tetapi juga bagi anak laki-laki.

Kita mungkin berbicara tentang gereja sebagai ekspresi Kristus, tetapi mungkin kita tidak menyadari apakah ekspresi Kristus itu. Kristus yang gereja harus ekspresikan adalah seorang manusia di atas takhta. Jika kita ingin mengekspresikan Kristus, kita perlu menyadari Kristus hari ini adalah masih manusia. Kita tidak hanya menekspresikan Allah; kita mengekspresikan Allah dalam seorang manusia. Gereja adalah ekspresi Kristus. Ini berarti bahwa gereja adalah ekspresi bukan hanya Allah, tetapi juga manusia.

Yehezkiel 1:26 menunjukkan kita bahwa Tuhan hari ini adalah seorang manusia di atas takhta. Allah memerlukan manusia, dan pada akhirnya Dia menjadi manusia. Kita sebagai makhluk hidup mengekspresikan Dia sebagai manusia. Dia adalah manusia di atas takhta, dan kita juga mengemban penampilan dari seorang manusia. Hanya manusia yang dapat memenuhi rencana Allah, hanya manusia yang dapat mengekspresikan Allah, hanya manusia yang dapat mengalahkan musuh, dan hanya manusia yang dapat membawa kerajaan Allah ke dalam ras manusia. Allah memerlukan manusia.

Pengajaran agamawi di dalam Kekristenan mendorong kita untuk menjadi seperti malaikat atau untuk menjadi seperti Allah. Namun, wahyu ilahi menyingkapkan bahwa kedambaan Allah adalah untuk memiliki seorang manusia. Kita perlu ingat bahwa si licik mencobai manusia pertama dengan memberitahunya bahwa jika dia makan buah pohon pengetahuan baik dan jahat, dia akan menjadi seperti Allah (Kej. 3:5). Dari hari itu, konsep tentang menjadi seperti Allah telah ada di dalam darah kita. Setiap manusia jatuh memiliki konsep yang menginginkan untuk menjadi seperti Allah. Pengajaran jahat tertentu mendorong orang untuk menjadi sesuatu selain manusia. Tetapi dalam penebusan dan keselamatan-Nya, Allah tidak memiliki maksud untuk membuat segala sesuatu selain manusia. Penebusan Allah dan keselamatan Allah membawa kita kembali kepada permulaan dan memulikihkan kita untuk menjadi manusia yang tepat. Kita adalah makhluk hiodup dan kita memiliki hayat Allah di dalam kita, namun kita mengemban penampilan manusia. Kita tidak seharusnya mencoba untuk menjadi seperti malikat. Sebaliknya, dalam apapun yang kita lakukan, dalam apapun yang kita katakan, dan dalam apapun yang kita ekspresikan, kita harus menjadi seorang manusia. Ini adalah apa yang Allah perlukan hari ini.

Visi dalam Yehezkiel 1 mewahyukan tiga perkara penting mengenai empat makhluk hidup mengemban penampilan seorang manusia. Pertama, kemuliaan Allah dinyatakan di atas mereka. Pernyataan kemuliaan Allah bergantung pada kepemilikan mereka akan penampilan manusia. Dimana mereka berada, di sana kemuliaan Allah ada. Kemuliaan Allah tidak terpisah dari mereka, dan terpisah dari mereka, kemuliaan Allah tidak dapat dinyatakan. Kedua, makhluk hidup ini adalah sarana bagi pergerakan Allah. Pergerakan Allah tergantung pada mereka. Ketika mereka bergerak, Allah akan bergerak, karena pergerakan-Nya adalah bersama mereka. Ketiga, empat makhluk hidup yang mengemban penampilan seorang manusia, adalah sarana dari administrasi Allah. Yehezkiel 1 mewahyukan bahwa Allah sedang duduk di atas takhta. Takhta Allah menguasai segala sesuatu di atas bumi dan segala sesuatu yang dicatat dalam kitab ini. Oleh karena itu, takhta ini adalah pusat administrasi Allah. Namun, pusat administrasi Allah bergantung pada empat makhluk hidup memiliki penampilan seorang manusia. Karena hal ini, maka ada administrasi takhta Allah. Jika kita menaruh tiga hal ini bersama, kita akan melihat bahwa manusia adalah sarana manifestasi Allah, bahwa manusia adalah sarana pergerakan Allah, dan bahwa manusia adalah sarana administrasi Allah. Di mata Allah dan di tangan Allah, manusia memiliki posisi penting demikian.

Kita semua perlu menyadari bahwa kedambaan Allah adalah untuk mendapatkan manusia. Allah menggunakan angin, awan, api, dan suasa untuk menghidupkan agar mendapatkan manusia sebagai sarana dari manifestasi, pergerakan, dan administrasi-Nya. Karena manusia begitu penting bagi Allah, sangatlah penting bagi kita untuk menjadi seorang manusia dan mengemban penampilan manusia. Kita perlu menjadi manusia bagi manifestasi Allah, bai pergerakan Allah, dan bagi administrasi Allah. Bagi hal ini, kita perlu untuk menjadi makhluk hidup yang dihidupkan oleh pengalaman angin, awan, api, dan suasa.

EMPAT MAKHLUK HIDUP MEMILIKI EMPAT MUKA

Masing-masing dari empat makhluk hidup memiliki empat muka. Jika kita melihat seseorang dengan empat muka, kita akan takut, namun ini adalah apa yang seharusnya kita menjadi. Kita semua perlu memiliki empat muka.

Muka Manusia

Muka yang pertama adalah muka manusia. Kita adalah manusia, dan karena kita adalah manusia, kita seharusnya terlihat seperti manusia. Kita diciptakan sebagai manusia, tetapi kita dirusak, diracuni, dihancurkan oleh kejahatanl. Oleh karena itu, kita perlu penebusan Tuhan. Melalui penebusan Tuhan, kita dibawa kembali kepada keinsanian yang tepat. Sesungguhnya, keinsania yang kita miliki sekarang bukanlah milik kita, tetapi milik-Nya, karena kita memiliki keinsanian Yesus.

Beberapa orang mengatakan bahwa sangatlah sulit menjadi seorang manusia dan menyatakan bahwa mereka muak dengan menjadi seorang manusia. Mereka yang memiliki sikap ini terhadap keinsanian mereka perlu melihat bahwa konsep mereka mutlak berbeda dari konsep Tuhan dalam keselamatan-Nya. Keselamatan Tuhan adalah membuat kita menjadi manusia yang tepat. Jika kamu adalah seorang suami, keselamatan Tuhan membuat kamu menjadi suami yang tepat. Jika kamu adalah seorang isteri, keselamatan Tuhan membuat kamu menjadi isteri yang tepat. Jika kamu adalah orang tua, keselamatan Tuhan membuat kamu menjadi orang tua yang tepat. Jika kamu adalah anak, keselamatan Tuhan membuat kamu menjadi anak yang tepat. Keselamatan Tuhan adalah untuk membuat kita menjadi manusia yang tepat. Jadi, kita semua harus mengemban muka manusia. Namun, beberapa orang Kristen, khususnya saudari-saudari tertentu, tidak terlihat seperti manusia. Sebaliknya, mereka kelihatannya begitu “rohani”, mereka telah menjadi makhluk aneh—setengah manusia, setengah malaikat. Kita perlu memiliki muka manusia. Kita seharusnya tidak lebih suka menjadi sesuatu yang lain, dan kita seharusnya tidak berpura-pura menjadi sesuatu yang lain. Kita seharusnya menjadi apa adanya kita—manusia. Daripada mencoba untuk menjadi sesuatu yang lain dari manusia, kita seharusnya dengan sederhana menjadi manusia. Namun, kita seharusnya menjadi manusia bukan oleh keinsanian alamiah kita, tetapi oleh keinsanian Tuhan Yesus.

Jika kita membaca empat kitab Injil sekali lagi, kita akan melihat bahwa Yesus adalah seorang dengan keinsanian yang tepat. Banyak orang yang membaca kitab Injil hanya memperhatikan mujizat yang dibuat oleh Tuhan dalam keilahian-Nya; mereka tidak memiliki perhatian yang cukup pada hal-hal yang dibuat oleh keinsanian Tuhan. Misalnya, Yohanes 4 berkaitan dengan bagaimana Tuhan Yesus menempuh perjalanan bersama murid-murid-Nya ke kota Samaria. Dia lelah dan haus, dan Dia meminta murid-murid-Nya untuk pergi ke dalam kota untuk membeli sesuatu untuk dimakan. Setelah mereka pergi untuk membeli makan, seorang perempuan Samaria datang untuk menimba air dari sumur yang dekat dengan dimana Tuhan Yesus duduk. Meskipun Dia adalah Allah yang Mahakuasa, Dalam situasi ini Dia memperlakukan Diri-Nya Sendiri sama seperti orang biasa, tanpa petunjuk atau tanda apapun bahwa Dia adalah Allah. Ketika Dia meminta air pada perempuan itu, Dia tidak memberi petunjuk bahwa Dia adalah sesuatu yang lebih daripada manusia. Perempuan itu menanyakan Dia, berkata, “Masakan Engkau seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?” (ay. 9). Dia merespon pertanyaannya dengan cara insani. Keempat kitab Injil mencatat banyak cerita yang mirip yang menunjukkan pada kita bagaimana Tuhan Yesus memperlakukan Diri-Nya Sendiri sebagai manusia normal, mengemban muka manusia. Tidak seperti umat agamawi tertentu hari ini yang berpakaian dengan cara yang sangat aneh, Tuhan Yesus tidak berpakaian dengan cara yang aneh. Dalam pakaian-Nya, Dia tidak aneh atau berbeda dengan yang lain. Sebaliknya, penghidupannya adalah seorang manusia biasa. Penghidupannya adalah biasa sampai pada satu tingkat beberapa orang akan berkata, “bukankah Ia ini anak tukang kayu?” (Mat. 13:55). Di mata orang, Tuhan Yesus adalah anak tukang kayu biasa. Daripada menjadi aneh, Dia adalah seorang manusia biasa dan Dia mengemban muka manusia. Hari ini, kita juga perlu mengemban muka manusia.

Beberapa kaum beriman memiliki pemikiran bahwa sekali mereka mulai mengejar Tuhan, mereka seharusnya menjadi khusus dan berbeda dengan yang lain. Oleh karena itu, kita perlu menyadari, bahwa kita seharusnya menjadi biasa, yaitu, kita seharusnya menjadi sama seperti manusia umum, biasa. Meskipun kita berdoa, membaca Alkitab, menghadiri sidang-sidang, dan melayani Tuhan, penampilan kita masih penampilan manusia, dan muka kita adalah muka manusia. Dalam pakaian kita, kita tepat, tetapi kita biasa, bukan aneh atau antik. Ya, kita mengalami Tuhan sebagai angin, awan, api, dan suasa, tetapi hasil pengalaman ini adalah kita mengemban muka manusia. Sebagai makhluk hidup, kita bukan malaikat, tetapi manusia. Faktanya, Semakin kita rohani, semakin normal dan insani kita jadinya. Semakin kita memiliki Kristus sebagai hayat kita (Kol. 3:4), semakin kita mengemban muka manusia. Di dalam Surat Kiriman kita diajarkan oleh rasul untuk menjadi manusia tepat, secara khusus bagaimana menjadi suami, isteri, dan orang tua yang tepat (Ef. 5:22 —6:9; Kol. 3:18—4:1). Keselamatan Allah membuat kita menjadi manusia yang tepat bagi manifestasi, pergerakan, dan administrasi-Nya.

Muka Singa

Kita juga perlu mengemban muka singa. Dalam Alkitab, singa melambangkan keberanian, tenaga, kekuatan, dan kemenangan. Dalam kehidupan Kristiani kita, pertama kita perlu menjadi seorang manusia. Dimanapun kita berada—di sekolah, di kantor, atau di antara tetangga kita—kita seharusnya menjadi seorang manusia. Tetapi kita juga seharusnya menjadi singa. Jika di dalam kantor, kamu adalah manusia yang tepat, orang lain akan tertarik padamu. Namun, mereka yang tertarik kepadamu mungkin “kuman-kuman” yang dapat merusak kamu. Karena mereka menyukaimu, mereka mungkin mengundang kamu untuk berpartisipasi bersama mereka dalam hiburan duniawi tertentu. Pada saat demikian, kamu seharusnya bertingkah laku tidak seperti manusia, tetapi seperti singa. Ini berarti terhadap segala sesuatu yang berdosa atau duniawi, kita harus berani seperti singa. Semua yang bekerja di kantormu harus tahu bahwa jika mereka berbicara kepadamu tentang hal-hal duniawi, kamu akan bertingkah laku seperti singa.

Orang-orang sering menganggap bahwa Tuhan Yesus itu lembut dan halus. Namun, setidaknya pada kejadian tertentu, Dia tidak lembut sama sekali. Misalnya, ketika Dia pergi ke dalam bait dan menemukan “pedagang-pedagang lembu, domba, dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ”, Dia menjadi marah dan membuat cambuk dari tali “lalu mengusir mereka semua dari bait Allah, dengan semua domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya” (Yoh. 2:14-15). Lagipula, dalam Matius 23 Dia dengan keras menegur kaum agamawan, dengan berkata kepada mereka, “Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular berbisa!” (ay. 33).

Dalam situasi ini, tentu saja Dia berani seperti singa. Dalam Wahyu 5:5 Dia bahkan disebut “Singa dari Suku Yehuda”. Adakalanya, kita juga perlu memiliki muka singa. Dalam Alkitab. Singa bukan hanya melambangkan keberanian, tenaga, kekuatan, dan kemenangan, tetapi juga memerintah. Singa adalah raja binatang. Kita, kita yang telah menjadi makhluk hidup melalui kelahiran kembali, tidak seharusnya menjadi manusia untuk menyatakan Allah, tetapi juga menjadi singa untuk memerintah bagi Allah. Jika terhadap dosa, dunia, dan Satan, kita kuat dan berani seperti singa, Allah akan sanggup mendirikan pemerintahan-Nya melalui kita.

Muka Lembu

Kita perlu bukan hanya muka manusia dan muka singa, tetapi juga muka seekor lembu. Muka singa diseimbangkan oleh muka lembu. Jika di dalam kantormu, kamu memiliki muka singa, muka itu saja tidak akan meyakinkan yang lain. Kamu perlu diseimbangkan dengan memiliki muka lembu. Seekor lembu adalah seorang yang rela memikul beban, untuk melakukan pekerjaan, dan bahkan mengorbankan dirinya sendiri. Kita semua perlu memiliki penampilan demikian dan untuk mengekspresikan realitas demikian dalam melayani yang lain, memikul beban, dan memperhatikan tanggung jawab, dan bahkan mengorbankan hidup kita. Jika saat kamu sedang bekerja di kantormu, kamu adalah manusia yang tepat, kamu berani seperti singa, dan kamu juga setia dalam memikul tanggung jawab, kamu akan membuat kesan yang baik pada yang lain. Untuk membuat kesan yang demikian, kamu perlu bertingkah laku bukan hanya seperti manusia dan seperti singa, tetapi juga seperti lembu yang melayani, menderita. Ketika kantor perlu dibersihkan, kamu harus mengambil pimpinan untuk membersihkan, melakukan lebih daripada pegawai yang lain. Dengan cara ini, kamu akan menunjukkan pada kolegamu bahwa kamu rela untuk berkorban, untuk membantu yang lain, dan untuk melayani mereka. Lalu kamu akan memiliki realitas muka lembu. Ketika orang lain melihat kamu dengan muka manusia, muka singa, dan muka lembu, mereka akan berkata, “Inilah seorang Kristen sejati.”

Muka Rajawali

Lagipula, kita juga perlu, pada bagian belakang, muka yang tersembunyi—muka seekor rajawali. Setelah Allah membawa umat Israel keluar dari Mesir dan memimpin mereka ke padang gurun, Dia berkata kepada mereka, “Aku telah mendukung kamu di atas sayap rajawali dan membawa kamu kepada-Ku” (Kel. 19:4). Ini menunjukkan bahwa dalam Akitab, muka rajawali menunjukkan Allah yang berkuasa, melampaui. Allah melampaui, mengapung, dan berkuasa. Tidak ada yang dapat mengganyang Dia, menindas Dia, atau menekan Dia. Semakin kamu mencoba untuk menekan Dia, semakin mengapung dan melampaui Dia jadinya. Orang Kristen memiliki hayat Allah di dalamnya, dan hayat ini melampaui, dan membuat kita memiliki ekspresi mengapung dan melampaui. Ini adalah makna muka rajawali. Kita perlu menjadi seperti rajawali, tidak membiarkan sesuatu pun menahan kita, menindas kita, atau menekan kita. Ini berarti kita harus sanggup mengalahkan baik penganiayaan atau pujian.

Kadangkala lebih sulit mengalahkan pujian daripada mengalahkan penganiayaan. Beberapa orang dapat mengalahkan penganiayaan, tetapi mereka tidak sanggup mengalahkan pujian orang. Ini tidak seharusnya menjadi kasus kita. Baik kita dianiaya maupun dipuji, kita perlu sanggup terbang pada sayap rajawali. Kita seharusnya mengapung dan melampaui. Ini seperti Tuhan Yesus dalam kitab Yohanes ketika orang-orang mencoba menjadikan Dia raja setelah Dia memberi makan dengan lima roti dan dua ikan. Mengenai hal ini Yohanes 6:15 berkata, “Karena Yesus tahu bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir lagi ke gunung, seorang diri”. Dia tidak dapat ditahan karena Dia memiliki kuasa rajawali dan oleh karena itu melampaui.

Seorang Kristen tidak seharusnya diduduki oleh sesuatu apapun. Namun, sangatlah mungkin bagi kita untuk diduduki oleh berbagai macam hal. Seorang beriman mungkin diduduki oleh kemiskinan, dan yang lain mungkin diduduki oleh kekayaan. Jika kita ingin menjadi menjadi orang Kristen yang tepat, kita tidak seharusnya diduduki oleh kemiskinan atau kekayaan. Seperti Paulus, kita harus sanggup berkata, “Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam setiap keadaan dan dalam segala hal tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam keadaan kenyang, maupun dalam keadaan lapar, baik dalam keadaan berkelimpahan maupun dalam keadaan berkekurangan. Segala hal dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Flp. 4:12-13). Perkataan Paulus mewahyukan bahwa dia memiliki sayap rajawali. Dia mengemban penampilan manusia, singa, lembu, dan juga rajawali.

EMPAT MAKHLUK HIDUP

MENJADI EKSPRESI EMPAT GANDA DARI KRISTUS

Empat muka ini—muka manusia, muka singa, muka lembu, dan muka rajawali—menggambarkan hayat Kristus. Empat muka ini berkaitan dengan empat kitab Injil, yang mungkin dianggap sebagai empat biografi dari Tuhan Yesus, yang masing-masing menyajikan aspek tertentu dari Kristus. Lukas menunjukkan Dia sebagai manusia, Matius menunjukkan Dia sebagai singa, Markus menunjukkan Dia sebagai lembu, dan Yohanes menunjukkan Dia sebagai rajawali. Empat ganda hayat ini adalah hayat Kristus.

Empat makhluk hidup adalah ekspresi korporat dari Kristus. Mereka mengekspresikan Kristus di dalam empat aspek—sebagai manusia, sebagai singa, sebagai lembu, dan sebagai rajawali. Ini adalah ekspresi dari hayat Kristus secara korporat. Sebagai orang Kristen, kita seharusnya menjadi makhluk hidup, mereka yang adalah satu kesatuan korporat yang mengekspresikan Kristus yang persis sama seperti pada waktu Dia di atas bumi. Ketika Dia hidup di atas bumi, Dia hidup dalam empat aspek dari manusia, singa, lembu, dan rajawali. Hari ini kita harus menjadi ekspresi korporat Kristus yang demikian.