← Daftar isi Yehezkiel (1) · bab 4/26

ANGIN, AWAN, API, DAN SUASA MENJADI KISAH KEHIDUPAN ROHANI ORANG KRISTEN

Pembacaan Alkitab:

Yeh. 1:4; Mzm. 75:6-7a; Yeh. 37:9; Yoh. 3:8; Kis. 2:2, 4a; Kel. 24:16a; 40:34;

Ul. 4:24; Ibr. 12:29; Yeh. 1:27a, 28; 8:2b, 4; Why. 4:3a; 22:1

Dalam berita ini saya ingin memberikan perkataan lanjutan mengenai pengalaman angin, awan, api, dan suasa. Beban saya adalah untuk menunjukkan bahwa angin, awan, angin, dan suasa harus menjadi sebuah kisah kehidupan rohani Orang Kristen. Sepanjang seluruh kehidupan Kristiani kita, pengalaman rohani kita harus menjadi satu siklus yang terus-menerus yang mencakup empat perkara ini.

BUKAN TEORI TETAPI PENGALAMAN

AKAN ANGIN YANG BERTIUP, AWAN AYNG MENAUNGI,

API YANG MEMBAKAR, DAN SUASA YANG MENGKILAT

Apa yang telah kita bicarakan dalam berita sebelumnya mengenai angin, awan, api, dan suasa adalah mutlak bukan sebuah teori melainkan suatu pengalaman rohani. Jika seseorang tidak pernah mengalami angin, awan, api dan suasa, tentu orang itu bukanlah orang Kristen yang normal. Seseorang mungkin memiliki sedikit pengetahuan doktrinal dari kebenaran mengenai keselamatan dan kemudian dibaptis dengan cara yang formal tanpa memiliki pengalaman sedikitpun akan angin, awan, api, dan suasa. Seseorang yang dengan sejati diselamatkan adalah seorang yang telah memiliki transaksi rohani dengan Allah, seseorang yang telah mengalami tiupan angin dan penudungan awan.

Sebelum kamu diselamatkan, hidupmu mungkin kelihatan damai dan tenang, tetapi suatu hari kamu mendengar injil dan mengalami tiupan angin yang berkuasa. Sebagai hasilnya, kamu dibangunkan dan mulai membayangkan tentang makna hidup manusia dan, secara khusus tentang makna dari hidupmu. Kamu mulai bertanya kepada dirimu sendiri, dengan berkata “Dari manakah aku berasal, dan kemanakah aku pergi? Apakah tujuan hidupku? Apakah makna hidupku? Jika aku tetap melanjutkan jalan hidup yang telah aku jalani, di manakah aku akan mengakhirinya?” Angin tetap bertiup ke atas kamu dan di dalam kamu sampai kamu percaya ke dalam Tuhan dan menerima keselamatan penuh-Nya.

Angin rohani tidak hanya bertiup ke atas kita ketika kita diselamatkan, tetapi juga bertiup setiap kali kita memiliki kebangunan rohani. Seorang kaum beriman tertentu mungkin sering ceroboh mengenai kehidupan rohaninya dan belum sungguh-sungguh diduduki dengan kondisi rohaninya. Jika kaum beriman yang demikian berada dalam suasana hati yang baik, ia mungkin membaca Alkitab dan berdoa. Tetapi jika ia berada dalam suasana hati yang tidak baik, ia mungkin menolak untuk berdoa dan membaca Alkitab. Situasinya sangat berbeda dengan seorang kaum beriman yang mengalami tiupan angin rohani yang berkuasa. Ketika angin bertiup ke atas dia, dia tidak dapat merasa puas dengan kondisi rohaninya. Sebaliknya, dia tidak akan memiliki perhentian dan sungguh mempedulikan situasinya dan mulai untuk bertanya mengenai kondisi kehidupan rohaninya. Prinsip gereja secara korporat juga sama seperti kaum beriman secara pribadi. Tiupan angin selalu membuat kita merasa tidak memiliki perhentian dan mempedulikan tentang situasi dan kondisi kita. Saya sangat damba bahwa angin yang melanda, berkuasa akan bertiup ke atas semua kaum saleh di semua gereja lokal dan membuat mereka tidak memiliki perhentian dan membuat mereka menuntut Tuhan tentang kondisi rohani mereka.

Angin yang bertiup membawa awan yang menaungi. Kita telah belajar dari pengalaman rohani kita bahwa ketika Roh Kudus bertiup atas kita dan menjamah kita, kita merasa bahwa Allah menudungi kita dan melaksanakan perhatian-Nya untuk kita. Hadirat-Nya adalah seperti sebuah awan yang menaungi kita dan mengelilingi kita, dan kita dapat merasakan baik hadirat-Nya mapun perhatian-Nya. Mengikuti hal ini kita mengalami pembakaran dari api yang menghanguskan. Pembakaran ini membuat kita menyadari bahwa kita salah dalam banyak hal dan dengan banyak orang. Pembakaran yang demikian menyingkapkan kondisi kita dan membuat kita mengakui pelanggaran-pelanggaran kita dan menanggulangi diri kita di hadapan Allah. Semakin api membakar, semakin kita mengaku dosa dan semakin kita dikuduskan dan dimurnikan.

Saya ingin meminta kamu untuk mempertimbangkan di dalam terang pengalaman rohani pribadimu perihal angin yang bertiup, awan yang menaungi, dan api yang membakar. Tidak pernahkah kamu mengalami angin yang bertiup, awan yang menaungi, dan api yang membakar dan memurnikan kamu? Sebelum kamu mengalami tiupan dan pembakaran Roh, kamu mungkin merasa bahwa orang lain selalu melakukan kesalahan dan kamu selalu benar. Tetapi kemudian melalui tiupan angin, di bawah penudungan awan, dan oleh pembakaran api, kamu mulai melihat betapa berdosa dan rusaknya kamu. Api membakar kamu sampai pada satu tingkat yang membuat kamu menyadari bahwa bahkan kasihmu adalah egois dan bersifat daging.

Api ini membakar tidak hanya kebanggan kita, tetapi juga kerendahan hati kita, tidak hanya kejahatan kita, tetapi juga kebaikan kita, tidak hanya kebencian kita, tetapi juga kasih kita. Ketika kita berada di bawah tiupan angin, penudungan awan, dan pembakaran api, kita tidak akan merasa bahwa kita baik-baik saja. Sebaliknya, kehendak kita “aku” gugur dan dilarutkan. Akhirnya, api ini akan membakar segala sesuatu selain Allah. Hanya Allah yang dapat melewati pembakaran ini.

EKSPRESI BERSINAR-SINAR DARI ALLAH YANG MENEBUS

Kita bersyukur kepada Tuhan bahwa di dalam api, ada suasa yang mengkilat. Saya akam mengingatkan kamu bahwa suasa, sebuah logam paduan dari emas dan perak, melambangkan Allah yang menebus. Setelah kita dibakar oleh Allah sebagai api yang menghanguskan, kita merasakan bahwa kita dipenuhi dengan sifat dan kemuliaan Allah. Ini berarti bahwa sekali kita telah mengalami angin, awan, dan api, benda satu-satunya yang tertinggal adalah suasa yang mengkilat, Allah yang menebus. Angin dan awan menghasilkan api, dan api menyatakan suasa yang bersinar. Hasil dari transaksi rohani yang mencakup angin yang bertiup, awan yang menaungi, dan api yang memurnikan selalu adalah ekspresi yang bersinar-sinar dari Allah yang menebus.

Pada titik ini saya ingin memberikan kesaksian singkat dari pengalaman saya ketika saya berumur dua puluh tahunan. Setelah dipikat oleh Tuhan, hampir setiap pagi saya pergi ke atas gunung dekat rumah saya untuk berdoa. Saat saya mempertimbangkan pengalaman saya di dalam terang Yehezkiel 1:4, saya dapat bersaksi bahwa saya dengan pasti mengalami angin, awan, api, dan suasa. Secara singkat, setelah saya mencapai puncak gunung, saya merasa pergerakan Roh Kudus, tiupan angin. Seringkali saat saya sedang menyanyi, air mata saya menetes dengan deras. Pada saat itu, saya juga merasa bahwa saya berada di bawah penudungan awan yang besar dari hadirat Tuhan. Pada saat yang sama, saya memiki kesadaran yang kuat bahwa saya berdosa dan rusak, dan saya mengakui dosa-dosa saya kepada Tuhan. Setelah berdoa dengan cara ini dan setelah membaca Alkitab, saya dipenuhi dengan sesuatu yang manis dan mulia—Allah yang menebus sebagai suasa yang mengkilat. Pengalaman ini berulang pagi demi pagi untuk sejangka waktu yang cukup lama.

SEJARAH ROHANI DARI SETIAP ORANG KRISTEN

Sejarah rohani dari setiap orang Kristen harus mencakup angin, awan, api, dan suasa. Ketika kita diselamatkan, kita mengalami Tuhan dalam empat cara ini, dan kita harus melanjutkan untuk mengalami Dia dengan cara ini. Faktanya, setiap waktu kita diberi karunia oleh Tuhan, kita memiliki transaksi rohani dengan Dia yang mencakup angin, awan, api, dan suasa. Ketika kamu bangun di pagi hari, kamu mungkin merasa bahwa angin Roh sedang meniup atasmu dan bahwa sebuah awan sedang menudungi kamu. Kemudian saat kamu meluangkan sedikit waktu untuk berdoa, kamu mungkin merasa bahwa api sedang membakar di dalammu untuk menghanguskan kerusakan, keduniawian, dan banyak hal negatifmu. Akhirnya, kamu mungkin merasa bahwa di dalammu ada sesuatu yang terang, elok, dan bermartabat—suasa mengkilat. Sebagai hasil dari pengalaman ini, kamu dapat hidup sepanjang hari dengan kenikmatan dari suasa mengkilat. Namun, saat kamu hidup dan berjalan dalam dunia yang rusak ini, kamu tidak dapat menghindari pencemaran dan kontaminasi, maka pada akhir dari satu hari atau pagi berikutnya kamu dapat memiliki pengalaman lebih lanjut dari angin, awan, api, dan suasa. Sekali lagi angin bertiup, awan mengerami, dan api membakar. Kamu mengakui dosa-dosamu dan menanggulangi pencemaranmu, dan mengikuti hal ini kamu sekali lagi menikmati suasa yang bersinar di dalammu.

Pengalaman semacam ini, tidak ada habisnya dan tidak akan berakhir. Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun, kita perlu untuk mengalami angin, awan, api, dan suasa. Setiap kali angin bertiup, awan menaungi, dan api membakar, kita akan diterangi untuk melihat bahwa kita perlu menanggulangi perkara-perkara tentang perkara yang belum kita sadari sebelumnya. Saat hal-hal negatif ini dibakar, kita mengalami pemurnian lebih lanjut dan memiliki kenikmatan yang lebih dalam dari suasa yang mengkilat.

DIBERI KASIH KARUNIA OLEH TUHAN

Beberapa kaum beriman telah beroleh selamat untuk waktu yang lama, tetapi keadaan rohani mereka tetap sama. Dalam kehidupan Kristiani mereka hampir tidak ada pengalaman terhadap angin, awan, api, dan suasa. Angin tidak bertiup, Awan tidak menaungi, api tidak membakar, dan karena itu tidak ada manifestasi suasa. Situasi yang demikian ini tidak normal. Jika seorang kaum beriman ingin diberi kasih karunia oleh Tuhan, dia harus mengalami angin rohani, dan awan rohani—lebih banyak, lebih baik. Kadangkala kita perlu mengalami tiupan angin yang berkuasa, angin yang membuat kita memiliki perpalingan yang besar. Kapankala kita memiliki perpalingan yang demikian, kita menerima banyak kasih karunia dari Tuhan.

Saya ingin menekankan fakta bahwa diberi kasih karunia oleh Tuhan adalah perkara angin, awan, api, dan suasa. Roh Kudus meniup atas kita seperti angin dari Allah. Ini adalah awal dari kita diberi kasih karunia. Selanjutnya saat kita berada di bawah pengeraman, penudungan awan dari hadirat Tuhan, kita dengan spontan menyadari betapa berdosa dan tidak murninya kita. Kita mungkin memiliki pengalaman yang dalam prinsipnya, adalah seperti nabi Yesaya. Ketika dia melihat visi dari Tuhan dalam kemuliaan-Nya, dia berteriak dan berkata, “Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam” (Yes. 6:5). Setelah ia mengakui kedosaannya, ia dibersihkan. Mengenai hal ini Yesaya berkata, “Tetapi seorang dari pada Serafim itu terbang mendapatkan aku; di tangannya ada bara, yang diambilnya dengan sepit dari atas mezbah. Ia menyentuhkannya kepada mulutku serta berkata: "Lihat, ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni” (ay. 6-7). Kapan saja angin bertiup, awan menaungi, dan api yang membakar, kita akan merasakan kedosaan kita dan menyadari bahwa kita memerlukan semua hal negatif dalam diri kita dibakar habis. Segala sesuatu yang tidak cocok dengan sifat kudus dan mulia Allah akan dibakar habis. Segala sesuatu yang bukan Allah—segala sesuatu yang berhubungan dengan dosa, dunia, daging, dan Satan—harus dibakar habis. Satu-satunya hal yang dapat melewati api yang menghanguskan adalah Allah yang menebus sebagai suasa yang mengkilat.

Semakin kamu mengejar Tuhan, semakin kamu akan menyadari bahwa api kudus membakar tidak hanya pada titik kelemahanmu tetapi juga titik kekuatanmu, termasuk kebaikan alamiahmu, kebajikan alamiahmu, dan segala sesuatu di dalam kamu yang kamu dan orang lain kagumi, apresiasi, dan pegang dengan teguh. Seperti Augustine, kamu mungkin pada akhirnya merasa bahwa bahkan pengakuan dosamu dan air mata pertobatanmu memerlukan pembasuhan Tuhan.

MANIFESTASI SUASA

Hasil dari tiupan angin, penudungan awan, dan pembakaran api adalah manifestasi yang bersinar-sinar dari suasa. Saat kita mengalami pembakaran dari api yang menghanguskan, Diri Allah Sendiri dinyatakan di dalammu. Semakin kita melewati angin, awan, dan api Allah, semakin Tuhan dinnyatakan di dalam kita dengan cara yang bermartabat dan mulia. Ketika Dia dinyatakan dengan cara demikian, kita merasa bahwa Dia sendiri adalah mustika, terkasih, terang, agung, dan mulia. Seperti murid-murid di atas Gunung Transfigurasi, kita tidak melihat “seorang pun kecuali Yesus seorang diri” (Mat. 17:8). Satu-satunya Persona dalam pandangan, satu-satunya Persona dalam pemandangan, adalah Tuhan Yesus yang terkasih, mustika, mulia. Kemudian kita tidak dapat melakukan apapun selain sujud di hadapan-Nya, menyembah Dia, meninggikan Dia, memahkotai Dia, dan mencurahkan segalanya kepada Dia. Dengan cara ini kita mendapatkan Tuhan, dan Dia mendapatkan kita. Semoga kita terkesan dengan dalam dengan gambaran di dalam Yehezkiel 1:4, dan semoga kehidupan Kristiani kita menjadi pengalaman yang terus menerus dan tidak ada habisnya akan angin, awan, api, dan suasa.