ANGIN, AWAN, API, DAN SUASA
Pembacaan Alkitab:
Yeh. 1:4; Mzm. 75:6-7a; Yeh. 37:9; Yoh. 3:8; Kis. 2:2, 4a; Kel. 24:16a; 40:34;
Ul. 4:24; Ibr. 12:29; Yeh. 1:27a, 28; 8:2b, 4; Why. 4:3a; 22:1
Dalam berita ini kita akan mempertimbangkan Yehezkiel 1:4. Ayat ini mencakup empat perkara utama: angin, awan, api, dan suasa. Pertama, angin badai datang dari utara. Kedua, segumpal awan yang besar yang datang bersama dengan angin. Ketiga, ada api yang berkilat-kilat. Keempat, keluar dari tengah-tengah api itu suasa yang mengkilat.
PENGALAMAN ROHANI KITA
ADALAH MENURUT PENGETAHUAN AKAN ALLAH
Kejadian 1 dimulai dengan sebuah perkataan mengenai Allah, dan Yehezkierl 1 dibuka dengan sebuah visi yang mulia akan Allah. Mereka yang mengenal Allah dapat bersaksi bahwa pengalaman rohani kita adalah menurut pengetahuan kita akan Allah. Demikian pula, pelayanan kita dan perkara-perkara gereja juga tergatung pengetahuan kita akan Allah. Tingkat pengenalan kita akan Allah akan menentukan baik tingkat pengalaman rohani kita dan situasi gereja. Berbicara secara rohani, segala sesuatu yang kita miliki tergantung diri Allah, visi, dan manifestasi Allah dan pengenalan kita akan Allah.
Visi dalam kitab Yehezkiel tidak dimulai dengan manusia tetapi dengan Allah. Visi itu, yang dimulai dari utara, dimana Allah ada, memperlihatkan kepada kita Allah di dalam kehendak-Nya, rencana-Nya, perhatian-Nya, pekerjaan-Nya, perbuatan-nya, dan hubungan-Nya dengan manusia. Visi ini mewahyukan apa yang Allah harapkan dari manusia dalam berhubungan dengan Dia. Sebagai tambahan kepada empat butir yang disebutkan di atas, visi dalam pasal satu termasuk empat makhluk hidup, roda yang tinggi dan menakutkan, langit yang jernih seperti kristal, takhta Allah yang mulia, dan manusia itu ada di atas takhta. Saat kita mempertimbangkan visi Allah yang mulia dalam pasal ini, kita perlu memperhatikan dengan teliti kepada semua perkara ini.
ALKITAB ADALAH SEBUAH KITAB GAMBAR
YANG MENJELASKAN HAL-HAL ROHANI
Alkitab adalah kitab gambar yang mewahyukan kepada kita Allah dan hal-hal rohani. Allah itu Roh, dan sebagai yang demikian, Dia itu abstrak,misterius, tidak tampak, tidak dapat diraba, dan tidak dapat diduga. Tidak hanya Allah itu abstrak, tetapi semua hal rohani juga abstrak. Tanpa gambar-gambar di dalam Alkitab, akan lebih sulit bagi kita untuk memahami Allah dan hal-hal rohani. Dalam hikmat-Nya Allah menggunakan benda-benda yang tampak, materi untuk menjelaskan hal yang tidak tampak, hal-hal rohani. Lagipula, Dia menggunakan tanda-tanda dan lambang-lambang, untuk mengekspresikan perkara-perkara abstrak, misterius. Untuk alasan ini, Alkitab menggunakan banyak lambang, tokoh, dan gambar untuk menjelaskan dan melukiskan hal-hal rohani.
Banyak butir besar di alam semesta adalah lambang dari hal-hal rohani. Misalnya, matahari melambangkan Kristus sebagai terang kita (Mal. 4:2; Luk. 1:78), dan makanan melambangkan Kristus sebagai makanan kita (Yoh. 6:35). Sebenarnya, semua hal positif di alam semesta dapat digunakan untuk melukiskan apa adanya Kristus bagi kita. Perhatian Allah di dalam penciptaan-Nya adalah menggunakan hal-hal penciptaan untuk melukiskan apa adanya Kristus. Ini berarti seluruh alam semesta dijadikan bagi tujuan untuk menjelaskan Kristus. Misalnya, jika pohon anggur belum diciptakan, Tuhan Yesus tidak dapat menggunakan pohon anggur untuk menjelaskan Diri-Nya Sendiri (Yoh. 15:1). Jika tidak ada serigala dan burung, Kristus tidak dapat membandingkan situasi-Nya dalam ministri-Nya dengan serigala dengan goanya dan burung dengan sarangnya (Mat. 8:20). Bahkan padang rumput diciptakan agar Tuhan Yesus dapat menggunakannya sebagai ilustrasi dari Diri-Nya Sendiri (Joh. 10:9). Karena alam semesta dengan miliaran bendadan orang di dalamnya diciptakan bagi tujuan untuk menjelaskan Kristus, Dia, dalam mewahyukan Diri-Nya Sendiri, dapat menemukan sesuatu dalam lingkungan macam apapun untuk melayani sebagai ilustrasi dari Diri-Nya Sendiri. Seluruh alam semesta adalah gambar Kristus. Jika kita melihat hal ini, kita menyadari betapa kaya, unggul, tidak terbatas, dan tidak terduga Kristus itu.
Sama seperti Alkitab secara keseluruhan adalah kitab gambaran, demikian juga Yehezkiel sebagai miniatur dari Alkitab juga adalah kitab gambaran, sebuah kitab yang penuh dengan gambar. Gambar-gambar ini disajikan dalam bentuk visi. Visi-visi yang Yehezkiel lihat secara mutlak berkaitan dengan Allah dan hal-hal rohani dan oleh karena itu, tidak seharusnya dipahami secara literal, fisik. Jika kita mencoba menafsirkan visi dalam kitab Yehezkiel secara literal, kita tidak akan sanggup memahaminya.
Ketika saya masih muda, saya tidak dapat memahami kitab Yehezkiel. Semakin saya membaca kitab ini, semakin saya bingung. Secara khusus, saya tidak dapat memahami perkara empat makhluk hidup. Setiap makhluk hidup memiliki empat muka: di depan, muka manusia; di kanan, muka seekor singa; di kiri, muka seekor lembu; dan di belakang, muka seekor burung rajawali (Yeh. 1:5-6, 10). Lagipula, “telapak kaki mereka seperti kuku anak lembu,” dan “mereka memiliki tangan manusia di bawah sayap-sayapnya” (ay. 7a, 8a). Saya berpikir bahwa gambaran makhluk hidup itu sangat aneh, dan saya tidak memahaminya sama sekali. Saya bersyukur kepada Tuhan bahwa seiring kemajuan saya yang perlahan-lahan dalam pengalaman rohani saya,saya mulai memahami visi dalam kitab Yehezkiel, membandingkan catatan di dalam Yeheskiel dengan bagian lain di dalam Firman. Akhirnya, sama seperti beberapa orang yang menaruh bersama potongan-potongan puzzle untuk memiliki gambar yang lengkap, saya menaruh berbagai bagian Firman bersama dan mulai melihat gambaran perkara-pera rohani yang dilukiskan di dalam kitab Yehezkiel, menyadari bahwa Yehezkiel menggunakan benda-benda tampak, fisik untuk melambangkan hal-hal rohani. Sekarang dalam pembelajaran kita akan Yehezkiel, kita perlu melihat makna rohani yang mendasar dari gambaran di dalam kitab ini, menyadarinya di dalam terang seluruh Alkitab dan membandingkannya dengan pengalaman rohani kita.
Sekarang marilah kita mulai mempertimbangkan empat perkara dalam Yehezkiel 1:4 poin demi poin.
ANGIN BADAI
Dari Utara
Bagian pertama dari Yehezkiel 1:4 berkata, “Lalu aku melihat, sungguh, angin badai bertiup dari utara”. Terjemah Baru John Nelson Dar by dan Versi American Standard keduanya menerjemahkan kata Ibrani, menerjemahkan angin yang berputar menjadi “angin badai”, dan saya merasa bahwa terjemahan ini lebih disukai. Jadi, ayat ini mengatakan bahwa angin badai datang dari utara.
Mengapa angin badai datang dari utara dan bukan dari selatan, timur, atau barat? Jawaban untuk pertanyaan ini ditemukan di dalam Mazmur 75:6-7a: “Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan pula dari selatan datangnya peninggian itu. Tetapi Allah adalah Hakim”. Di sini utara diganti dengan Allah. Ini menunjukkan bahwa Allah ada di utara. Dalam istilah geografi, secara umum utara menunjukkan atas, sehingga pergi ke utara adalah pergi ke atas. Allah, yang ada di utara, selalu di atas. Berbicara secara rohani, ini berarti bahwa ketika kita pergi ke utara, kita sedang pergi kepada Allah. Fakta bahwa angin utara datang dari utara berarti bahwa angin itu datang dari Allah. Tempat kediaman, tempat tinggal Allah adalah sumber dari semua hal rohani. Angin badai datang dari utara, dari tempat tinggal Allah. Oleh karena itu, Allah adalah sumber dari angin badai.
Melambangkan Roh Allah
Kata Ibrani untuk angin adalah ruach. Ruachmungkin diterjemahkan “angin” atau “nafas” atau “roh”. Dalam Versi King James dari Yehezkiel 37, kata Ibrani ini semuanya diterjemahkan dengan tiga cara: “angin” di dalam ayat 9, “nafas” di dalam ayat 5, 6, 8, 9, dan 10, dan “Roh” di dalam ayat 1 dan 14. Sangat sulit bagi penerjemah untuk memutuskan apakah dalam satu ayat ruach bearti angin, nafas, atau roh. Keputusan harus dibuat menurut konteksnya.
Dalam 1:4 ruach menunjukkan angin, suatu angin badai yang tidak lain melambangkan Roh yang berkuasa. Pada hari Pentakosta ada angin yang melanda, berkuasa yang memenuhi rumah dimana seratus dua puluh orang sedang duduk. Lalu semua dari mereka dipenuhi dengan Roh Kudus (Kis. 2:2, 4a). Tidak diragukan, angin yang melanda, berkuasa adalah Roh yang berkuasa.
Dalam Yohanes 3:8 Tuhan Yesus berkata, “Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh”. Beberapa versi menunjukkan di dalam catatan kaki bahwa kata angin di dalam ayat ini adalah terjemahan kata Yunani untuk roh, pneuma.Kata Ibrani ruach dan kata Yunani pneuma memiliki arti yang tepat sama. Seperti ruach, kata pneumadapat diterjemahkan “angin”, “nafas”, atau “roh”. Jadi, dalam ayat ini, kata Yunani menerjemahkan angin bertiup boleh juga diterjemahkan “Roh yang bertiup”. Dalam Yehezkiel 1:4 angin kuat, badai adalah lambang, gambar, dari Roh Allah yang berkuasa.
Dalam Alkitab angin memiliki makna baik negatif maupun positif. Dalam setiap makna negatif, angin adalah lambang, atau tanda, dari penghakiman Allah atas manusia. Ini adalah makan angin di dalam Daniel 7:2 dan di dalam Wahyu 7:1. Dalam setiap makna positif, angin adalah lambang, atau tanda, dari Roh Kudus yang bertiup atas manusia atau Roh kudus yang turun pada manusia untuk memperhatikan manusia. Tentu saja, ini adalah makna dari angin yang melanda, berkuasa di dalam Kis. 2. Dalam kitab Yehezkiel, angin juga memiliki makna ganda: makna negatif—penghakiman Allah yang membangkitkan lingkungan yang melaluinya Dia menghakimi mereka yang memberontak melawan Dia; makna positif—Roh yang datang kepada manusia untuk membuat manusia memiliki hayat Allah. Angin badai di dalam Yehezkiel 1 memiliki makna positif ini.
Pengalaman Rohani Kita
Selalu Dimulai dengan Angin Badai Rohani
Pengalaman rohani kita selalu dimulai dengan angin badai rohani. Menurut sejarah gereja, sepanjang generasi, Roh Allah telah bertiup seperti angin yang berkuasa untuk menggerakkan orang untuk bertobat dari dosa-dosa mereka, untuk percaya dalam Tuhan Yesus bagi kelahiran kembali mereka, membuang dunia untuk mengikuti Tuhan, dan memiliki hati yang bersungguh-sungguh dan roh yang menyala-nyala untuk melayani Tuhan. Apakah kamu memiliki pengalaman semacam ini?Apakah kamu tidak merasakan angin Allah bertiup atasmu? Apakah kamu tidak pernah dijamah oleh Roh Allah? Apakah kamu tidak merasakan, sekali dalam hidupmu, bahwa ada kuasa—angin bada dari Allah—bergerak atasmu, membuat kamu membenci dosa, memiliki sikap yang berbeda terhadap dunia, atau mengubah pandanganmu mengenai hidupmu? Jika kamu tidak pernah memiliki pengalaman demikian, kapu perlu memandang kepada Tuhan dan berdoa agar angin-Nya dari utara bertiup atasmu.
Seorang muda yang menjanjikan, yang adalah anggota kuat dari satu partai politik, mengalami angin dari utara ini pada saat pertobatan-Nya. Satu hari dia pergi ke dalam kuil berhala dan melihat di atas meja yang digunakan untuk persembahan. Dia berjalan ke arah Alkitab dan membaca beberapa ayat.Tiba-tiba, Roh kudus bertiup atas dia, dan dia diyakinkan akan dosa-dosanya. Saat angin Roh terus bertiup atasnya, dia mulai bertobat atas dosa-dosanya dan membuat pengakuan dosa yang tuntas, berteriak dengan pahit seperti tidak berdaya dan bahkan berguling-guling di atas lantai. Dia diselamatkan melalui tiupan dari angin yang berkuasa dari utara.
Lawatan Allah selalu dimulai dengan tiupan angin Allah atas diri kita. Apakah kamu tidak mengalami angin badai, tiupan Roh Allah, ketika kamu diselamatkan? Mungkin kamu adalah seorang pelajar muda tidak mempedulikan apapun selain dengan sederhana pergi ke sekolah, belajar, dan bermain. Kemudian satu hari angin badai datang kepadamu. Angin badai bertiup atasmu membolak-balikkan kamu. Ini membuat kamu mempertimbangkan makna hidup manusia, dan kamu mulai menanyakan dirimu sendiri tentang darimana kamu berasal dan kemana kamu pergi. Ini adalah hasil dari tiupan angin badai. Saya percaya bahwa setiap orang yang diselamatkan mengalami angin badai demikian pada saat pertobatan.
Saya tidak dapat melupakan angin badai yang saya alami pada hari saya diselamatkan. Sebagai seorang muda di bawah umur dua puluh tahun, saya penuh ambisi, dan saya belajar keras, mengejar pengetahuan dari dunia untuk memiliki masa depan yang baik. Tetapi satu hari saya mendengar tentang sidang penginjilan, dan saya memutuskan untuk menghadiri. Dalam sidang itu saya mendengarkan berita injil yang kuat, angin badai bertiup atas saya dan membolak-balikkan saya.
Angin badai datang kepada kita dari Tuhan bukan hanya pada saat pertobatan kita tetapi juga setelah kita diselamatkan. Apakah kita masih muda atau sudah tua, kita semua mengalami angin badai. Misalnya, seorang diantara kita dalam hidup gereja mula-mula adalah misionaris atau pekerja Kristen. Satu hari angin badai datang kepada mereka dari utara dan membolak-balikan segala sesuatu. Ini membuat mereka mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh dan pada akhirnya datang ke dalam hidup gereja.
Sebenarnya, angin badai bertiup atas kita pada setiap belokan dalam kehidupan rohani kita. angin badai ini adalah diri Allah sendiri meniup atas kita untuk membawa badai ke dalam kehidupan kita, ke dalam pekerjaan kita, dan kedalam hidup gereja kita. saat kita mengikuti Tuhan, kita akan mengalami badai demi badai. Saya tidak dapat berkata berapa banyak badai telah datang kepada saya, tetapi saya dapat bersaksi bahwa setiap badai adalah ingatan yang berharga. Setiap badai telah menjadi ingatan yang menyenangkan. Saya percaya bahwa ketika kita berada dalam kekekalan, kita akan mengingat badai yang telah kita alami.
Kapan kala Allah melawat kita dan membangunkan kita, Roh-Nya bertiup atas kita seperti angin yang berkuasa. Kita perlu mengalami Roh dengan cara ini—lebih banyak lebih baik, dan lebih kuat lebih baik. Saya memiliki kedambaan yang kuat bahwa hari-hari ini Roh Allah akan meniup dengan kuat atas kita seperti angin yang berkuasa.
AWAN
Awan selalu mengikuti angin badai. Jika kita memiliki angin, kita tentunya akan memiliki awan, karena awan adalah hasil dari tiupan angin. Sama seperti angin badai, awan melambangkan Roh Kudus. Ketika Roh Kudus menjamah kita, Dia seperti angin. Ketika Roh Kudus melawat kita dan menudungi kita, Dia seperti awan. Pertama, Roh Kudus meniup atas kita seperti angin untuk menggerakkan kita, kemudian Dia tinggal bersama kita seperti awan untuk menaungi kita.
Allah yang Mengerami
Datang sebagai Angin dan Tinggal sebagai Awan
Awan di dalam Yehezkiel 1:4 adalah gambaran dari Allah menaungi umat-Nya. Kita dapat menggunakan kata mengerami dan mengatakan bahwa awan adalah Allah mengerami umat-Nya. Oleh karena itu, awan tidak lain adalah Allah yang mengerami. Allah datang sebagai angin, tetapi Dia tinggal sebagai awan. Dengan tinggal sebagai awan, Dia menaungi kita, menudungi kita, dan mengerami kita untuk memberikan kita kenikmatan dari hadirat-Nya, dengan demikian menghasilkan sesuatu dari Diri-Nya Sendiri dalam kehidupan sehari-hari kita. Betapa ajaib! Ini adalah penutupan Allah dilambangkan oleh awan yang menaungi.
Dengan mempertimbangkan sejarah umat Israel, kita memahami dengan lebih penuh makna awan. Beberapa kali Allah menampakkan diri kepada mereka dan melawat mereka seperti sebuah awan besar yang menudungi mereka. Misalnya, setelah Israel keluar dari Mesir, mereka melalui Laut Merah.
Mengenai hal ini Paulus berkata, “Nenek moyang kita semua berada di bawah perlindungan awan dan mereka semua telah melintasi laut. Untuk menjadi pengikut Musa mereka semua telah dibaptis dalam awan dan dalam laut.” (1 Kor. 10:1-2). Awan yang menaungi bani Israel melambangkan Roh Allah. Akhirnya, bani Israel datang ke Gunung Sinai dan berkemah di sana. Dalam Keluaran 19:9 Tuhan berkata kepada Musa, “Sesungguhnya Aku akan datang kepadamu dalam awan yang tebal,” dan di sana ada “awan padat di atas gunung” (ay. 16). Dalam pasal dua puluh empat kita diberitahu bahwa “awan menaungi gunung”, bahwa Tuhan “memanggil Musa keluar dari tengah-tengah awan”, dan bahwa “Musa pergi ke tengah-tengah awan” (ay. 15, 16, 18). Kemudian, setelah kemah pertemuan didirikan untuk Allah, kemuliaan Allah memenuhi kemah dan awan menaunginya dan tinggal atasnya (40:34-35). Semua orang dapat melihat bahwa awan menaungi kemah pertemuan. Awan melambangkan lawatan Allah dan tinggalnya Dia bersama mereka.
Awan juga melambangkan perhatian Allah bagi umat-Nya dan kemurahan-Nya terhadap mereka. Dia menampakkan diri kepada mereka seperti awan, menaungi dan dan menudungi mereka, untuk memperhatikan mereka. Amsal 16:15 berkata bahwa kemurahan raja adalah seperti “awan hujan musim semi.” Dalam lawatan kemurahan-Nya, Allah datang kepada kita seperti awan untuk memperhatikan kita dan untuk menunjukkan kemurahan pada kita
Mengalami dan Menikmati Allah
sebagai Awan yang Bermurah Hati
Dalam Yehezkiel 1:4 awan disebutkan dalam hubungannya dengan angin. Angin dan awan bersama-sama adalah petunjuk bahwa sebuah transaksi penting terjadi antara Allah dan manusia. Setidaknya dari waktu ke waktu, dalam kehidupan Kristiani kita ada keperluan transaksi rohani yang penting antara Allah dan manusia. Saya percaya bahwa setiap orang yang telah diselamatkan secara sejati telah mengalami transaksi demikian. Kita juga mengalami transaksi rohani selama waktu kebangunan. Pertama, Roh Kudus menjamah kita dan menggerakkan kita, membuat kita berpaling kepada Tuhan, untuk melihat kerusakan kita, dan untuk bertobat dan mengakui dosa-dosa kita. kemudian kita memiliki perasaan bahwa Allah adalah seperti awan yang melawat kita, menudungi kita, dan menaungi kita. Kita dapat juga merasa bahwa kasih karunia Allah tercurah kepada kita, menaungi kita seperti sebuah kanopi.
Allah adalah angin yang bertiup, dan Dia juga adalah awan yang menudungi dan menaungi. Kapan kala kita mengalami Allah sebagai angin yang bertiup, kita juga memiliki perasaan bahwa setelah Dia meniup atas kita, Dia tinggal bersama kita, menaungi dan menudungi kita, dan mengerami kita. Inilah Allah sebagai awan yang bermurah hati. Angin yang bertiup menbawa hadirat Allah kepada kita dalam bentuk awan yang surgawi, mengerami, menudungi.
Ketika saya diselamatkan, saya mengalami tidak hanya tiupan angin yang berkuasa dari utara atas seluruh diri saya, tetapi juga hadirat Allah menudungi saya seperti awan. Dibawah penudungan ini saya mulai menanyakan diri saya sendiri, “Mengenai apakah kehidupan itu? Haruskah saya tetap berjalan pada jalan yang telah saya jalani?” Karena angin yang bertiup dan awan yang menudungi, sebuah transaksi penting terjadi antara saya dan Allah. Transaksi sejati dan kebangunan yang sejati melibatkan angin rohani dan awan rohani.
Saya tidak dapat melupakan pengalaman khusus yang saya miliki tentang Allah sebagai awan yang menudungi di tahun 1935. Pada satu hari Tuhan di sore hari, saya meministrikan tentang Roh itu. Pada poin tertentu saya merasa bahwa awan telah turun dan menudungi saya. Meskipun saya tidak melihat apapun dengan mata fisik saya, saya merasa bahwa sesuatu menudungi saya. Saya terbungkus oleh awan yang menaungi saya, dan saya memiliki perasaan yang dalam akan hadirat Tuhan dengan cara yang sangat pasti dan praktis. Pada saat itu hadirat Tuhan sesungguhnya adalah seperti awan. Pengalaman itu adalah bukan hanya perkara iman; tetapi juga sesuatu yang dapat dirasakan. Saya merasa bahwa saya dinaungi dan ditudungi oleh hadirat Tuhan. Sangatlah ajaib, menyenangkan, menghibur; menguatkan, dan memberi energi. Perhimpunan itu menyadari bahwa sesuatu telah terjadi dan bahwa atmosfir telah berubah, dan tiba-tiba saya mulai berbicara dengan cara yang penuh kuasa.
Banyak dari kita telah mengalami Tuhan sebagai awan yang menudungi. Ketika kamu berdoa, bertobat dan mengakui dosa-dosamu, kamu mungkin merasa bahwa kamu berada di bawah penutupan kanopi atau awan. Itu mungkin telah menjadi pengalamanmu bahwa selama penyegaran pagimu atau selama waktu doa baca Firman, angin badai dari Allah datang dan meniup atasmu. Lalu setelah angin bertiup, awan datang dan tinggal bersamamu, mungkin untuk sepanjang hari. Sepanjang hari kamu memiliki perasaan bahwa sesuatu mengikutimu, menudungimu, menaungimu, dan mengeramimu, dan kamu menikmati hadirat Tuhan sepanjang hari.
Saya dapat bersaksi bahwa saya telah sering mengalami hal ini. Saat saya berada dalam kontak dengan Tuhan di pagi hari, Roh datang kepada saya seperti angin yang kuat dari utara, dan dengan segera saya masuk ke dalam hadirat Tuhan, yang adalah seperti awan yang menaungi saya. Hadirat-Nya menjadi kenikmatan saya, dan sepanjang hari saya mengalami penutupan-Nya dan menikmati hadirat-Nya.
Kita semua perlu mengalami hadirat Tuhan seperti awan yang mengerami, menudungi. Kita seharusnya tidak diisi hanya dengan doktrin dan pengajaran. Kita perlu mencari diri Tuhan sendiri, daripada datang pada Alkitab mencari lebih banyak pengetahuan. Ketika kita datang pada Firman, kita seharusnya berdoa, ”Tuhan, aku memerlukan angin dan awan. Tuhan, tiuplah aku seperti sebuah angin badai dari utara dan naungilah aku dengan awan yang menudungi. Datanglah kepadaku sebagai angin dan tinggalah bersamaku sebagai awan.”
API
Yehezkiel melihat bahwa awan yang menudunginya, ditutupi dengan api yang berkilat-kilat terus-menerus. Ini juga adalah perkara yang berkaitan dengan pengalaman rohani kita. Ketika angin badai datang dari Tuhan dan hadirat Tuhan yang menudungi tetap tinggal, kita merasakan sesuatu di dalam kita bersinar, menyelidiki, dan membakar. Di bawah penyinaran, penerangan, penyelidikan, dan pembakaran demikian, kita mungkin menyadari bahwa kita salah dalam perkara tertentu. Misalnya, kita mungkin menyadari bahwa sikap kita terhadap saudara tertentu adalah salah. Di bawah penyinaran dan penyelidikan hadirat Tuhan, kita diekspos, dan kita menyalahkan diri kita sendiri dan mengakui kekurangan kita. Kemudian api yang menyelidiki akan membakar hal-hal negatif di dalam kita.
Api yang dilihat oleh Yehezkiel melambangkan kuasa pembakaran dan pengudusan Allah. Segala sesuatu yang tidak cocok dengan sifat kudus dan watak Allah harus dibakar. Hanya apa yang cocok dengan kekudusan Allah dapat melewati api kudus-Nya. Ini dapat ditegaskan oleh pengalaman rohani kita. Roh Kudus datang untuk meyakinkan orang mengenai dosa, keadilbenaran, dan penghakiman (Yoh. 16:8). Kapankala Roh Kudus menjamah kita dan membuat kita mengakui dosa-dosa kita dan berdoa, kita akan merasa ada keperluan untuk dikuduskan dan semua kerusakan dari diri kita disingkirkan. Kita akan menyadari bahwa segala sesuatu yang tidak cocok dengan kekudusan Allah harus dibakar. Jika seseorang menyatakan telah dilawat oleh Allah, tetapi tidak memiliki perasaan mengenai dosa-dosa dan ketidakudusannya, orang itu tidak sungguh-sungguh telah dijamah oleh Roh Allah. Ketika Allah melawat seseorang, api kudus-Nya akan datang untuk membakar hal-hal negatif di dalamnya. Api yang membakar ini juga membuat kita diterangi. Semakin api Roh Kudus membakar di dalam kita, semakin kita akan dimurnikan dan diterangi.
Jika kita mengalami Tuhan dengan cara ini, tidak akan ada keperluan bagi orang lain untuk memberitahu kita bahwa kita salah dalam perkara tertentu atau bahwa sikap kita terhadap saudara tertentu adalah salah. Jika seseorang mencoba untuk mengoreksi kita, kita mungkin tersinggung. Bahkan jika kita akan menerima perkataan koreksi dan kemudian mencoba untuk memperbaiki diri kita, ini tidak akan berarti apa-apa sepanjang hayat batini diperhatikan. Kita perlu berada di bawah penyinaran dan penyelidikan dari hadirat Tuhan. Semakain kita berada di bawah penyinaran ini, semakin kita rela untuk berkata, “Tuhan Yesus, bakarlah aku! Aku tidak baik untuk apapun kecuali untuk dibakar. O Tuhan, bakarlah watak alamiahku. Bakarlah perhatianku, maksud pribadiku, motivasiku, dan sasaranku”. Ini adalah pengalaman sejati akan hayat batini, bukan sekedar pengajaran.
Setelah meministrikan Firman kepada umat Tuhan selama bertahun-tahu, saya telah belajar bahwa sekedar pengajaran tidak dapat menggenapkan apapun. Kita semua perlu tiupan angin, hadirat Allah yang menudungi, dan penyelidikan dan pembakaran dari api ini. allah kita adalah api yang menghanguskan (Ul. 4:24; Ibr. 12:29). Angin, awan, dan api semuanya adalah Diri Tuhan Sendiri. Ketika Dia datang, Dia datang sebagai angin badai. Ketika Dia tinggal bersama kita, Dia tinggal sebagai awan. Ketika Dia menyelidiki dan membakar kita, Dia menyelidiki dan membakar sebagai api yang menghanguskan. Tidak seorang pun dapat mengalami Tuhan sebagai angin yang bertiup, sebagai awan yang menaungi, dan sebagai api yang membakar, menghanguskan tanpa mengalami perubahan dan transformasi yang riil. Kita semua perlu transformasi oleh api. Kita semua perlu ditransformasi dengan dibakar.
Allah kita, Tuhan Yesus, bukan hanya air hidup, tetapi juga api yang menghanguskan. Banyak Orang Kristen mengapresiasi Yehezkiel 47 karena pasal ini berbijara tentang air yang mengalir. Kita perlu menyadari bahwa sungai yang mengalir bukanlah hal yang pertama dalam kitab Yehezkiel. Sebaliknya, sungai datang setelah api. Api ada di pasal pertama, dan sungai ada di pasal empat puluh tujuh. Api selalu datang pertama. Sumber dari api adalah tiupan angin dan awan yang menaungi. Dari hal ini kita melihat bahwa api tidak datang kepada kita secara langsung. Allah datang kepada kita sebagai angin yang bertiup dan tinggal bersama kita sebagai awan yang menaungi. Di bawah naungan-Nya kita diekspos oleh penyinaran-Nya. Saat kita berada di bawah penyinaran-Nya, kita harus mengakui keperluan kita akan pembakaran-Nya dan berdoa bagi Dia untuk membakar diri kita, sifat usang kita, watak alamiah kita, keduniawian kita, dan sikap, sasaran, maksud, motivasi, dan perhatian kita. Kita semua perlu dibakar oleh Tuhan dengan cara ini. Sekali mengalami pembakaran demikian lebih baik daripada ribuan pengajaran.
SUASA YANG MENGKILAT
Perhatian Allah bukan dengan sederhana membakar kita dan membuat kita menjadi abu. Allah adalah Allah yang baik dengan tujuan yang baik. Apa yang menjadi tujuan-Nya ditiupkan pada kita sebagai angin, menaungi kita sebagai awan, dan menghanguskan kita sebagai api? Jawaban dari pertanyaan ini adalah bahwa keluar dari api tampak suasa mengkilat. Pembakaran dari api ilahi adalah bagi manifestasi dari suasa.
Kata Ibrani untuk suasa sangat sulit diterjemahkan. Dalam catatannya tentang Yehezkiel 1:4 dalam Terjemahan Barunya, J. N. Darby berkata bahwa kata Ibraninya menunjukkan “substansi yang tidak diketahui; suatu campuran dari emas dan perak”. Salah satu versi Yahudi menggunakan kata suasa. Suasa adalah paduan logam dari emas dan perak. Emas melambangkan sifat Allah, dan perak melambangkan penebusan. Versi King James menerjemahkan kata Ibraninya sebagai “cahaya kekuning-kuningan” karena warna dari logam yang bersinar ini adalah warna cahaya yang kekuning-kuningan, yang kelihatannya seperti warna emas. Suasa bukan hanya emas, bukan hanya perak, tetapi emas dicampur dengan perak.
Dalam kitab Wahyu kita dapat melihat prinsip yang sama. Wahyu 22:1 berbicara tentang takhta Allah dan Anak Domba. Dia yang duduk di takhta bukan hanya Allah dan bukan hanya Anak Domba, tetapi Allah-Anak Domba, Allah yang menebus. Dalam Kejadian 1 Allah adalah Allah yang sendirian, tetapi di dalam Wahyu 22 Dia adalah yang menebus kita, Allah-Anak Domba kita. Menurut Wahyu 4:3 Allah, Dia yang duduk di takhta itu, “tampaknya bagaikan permata yaspis dan permata sardis”. Yaspis, yang berwarna hijau tua, melambangkan Allah sebagai Allah yang mulia di dalam hayat-Nya yang kaya, dan sardis, yang berwarna merah, melambangkan Allah sebagai Allah penebusan. Fakta bahwa penampilan Allah di atas takhta seperti permata yaspis dan sardis menunjukkan bahwa Allah bukan hanya Allah, tetapi juga Penebus kita. Ilustrasi ini dari Wahyu 22 dan 4 membantu kita untuk memahami makna suasa dalam kitab Yehezkiel. Allah kita bukan sekedar Diri ilahi yang dilambangkan dengan emas; Dia juga Allah yang menebus, dilambangkan dengan perak. Dia bukan lagi hanya emas—Dia adalah suasa, emas yang dicampur dengan perak.
Ketika kita mengalami angin yang bertiup, kita menikmati awan yang menaungi dan kemudian kita melewati pembakaran, api yang menghanguskan. Hasilnya adalah suasa yang mengkilat, sesuatu yang bersinar, terkasih, mustika, dan menyenangkan. Sebagai suasa, Tuhan Yesus adalah Dia yang menebus kita dan adalah segala sesuatu bagi kita. Dia adalah Allah kita, Anak Domba kita, Penebus kita, yaspis kita, dan sardis kita. Jika kita mempertimbangkan pengalaman rohani kita, kita akan menyadari bahwa Dia yang tinggal di dalam kita hari ini adalah Allah-Anak Domba, Dia yang dilambangkan oleh suasa.
Dalam pandangan Allah, sebelum kita diselamatkan, kita ini hina dan jahat, tidak memiliki apa-apa yang berharga dan mulia. Puji Tuhan bahwa Dia menyelamatkan kita dan melahirkan kita kembali! Angin-Nya, awan-Nya, dan api pembakaran-Nya telah membuatnya mungkin bagi kita untuk memiliki Dia, Allah yang menebus, di dalam kita sebagai suasa yang mengkilat. Sekarang kita memiliki Dia sebagai harta dalam bejana tanah liat (2 Kor. 4:7), dan dengan demikian kita menjadi orang yang terhormat dan mulia. Kita perlu menyadari betapa mustika dan terhormatnya Kristus yang ada di dalam kita. Sebagai suasa di dalam kita, Dia adalah harta yang nilainya tidak dapat dibandingkan. Harta ini dihasilkan dari angin, awan, dan api. Semakin kita melewati angin, awan, dan api, semakin suasa tersusun ke dalam diri kita, membuat kita menjadi orang yang dipenuhi Allah Tritunggal dan yang menyatakan kemuliaan-Nya.
Kita semua perlu lebih banyak angin rohani, awan yang menudungi, api yang membakar, dan suasa yang mengkilat. Dengan melewati pengalaman semacam ini, kita menjadi visi kemuliaan Allah. Dalam pengalaman kita, kita memiliki angin, awan, api, dan suasa. Lalu, kapankala kita berkumpoul bersama, kita adalah visi kemuliaan dari suasa, mememiliki harta mustika yang bersinar dan mengkilat.
PENGALAMAN DASAR
Apa yang telah kita pertimbangkan dalam berita ini adalah visi pertama yang telah dilihat oleh nabi Yehezkiel. Visis ini menggambarkan pengalaman yang paling dasar di antara semua pengalaman rohani akan hayat ilahi. Ada berbagai kategori dari pengalaman rohani, tetapi pengalaman ini adalah kategori pertama, dan dasar—kategori dari angin, awan, api, dan suasa.
Kita tidak mengalami angin, awan, api, dan suasa sekali untuk selamanya. Sebaliknya, pengalaman ini adalah sebuah siklus yang seharusnya diulangi sekali demi sekali. Hari ini, kita mungkin mengalami angin, awan, api, dan suasa, lalu setelah sejangka waktu angin datang lagi, diikuti oleh awan, api, dan suasa. Siklus ini seharusnya diulangi sekali demi sekali sepanjang kehidupan Kristiani kita. Dari hal ini, kita melihat bahwa, dalam satu pengertian, kita orang-orang Kristen tidak memiliki istirahat dalam pengalaman rohani kita. Saya telah menjadi orang Kristen selama lebih dari empat puluh tahun, dan saya tidak pernah beristirahat dari siklus ini. Sebaliknya, ada pengalaman yang terus-menerus dari angin yang bertiup, awan yang menaungi, api yang membakar, dan suasa yang mengkilat. Setiap kali siklus ini berulang, semakin banyak suasa yang dihasilkan.
Sangat mengerikan jika siklus ini berhenti. Dalam pengalaman kita, siklus angin, awan, api, dan suasa tidak seharusnya pernah berhenti. Semakin kita mengalami siklus ini, semakin baik. Sangat baik jika kita setiap hari mengalami angin, awan, api, dan suasa. Ini adalah pengalamn riil dari hayat batini, dan ini akan menghasilkan pertumbuhan hayat.