SUNGAI YANG MENGALIR DARI RUMAH ITU
Pembacaan Alkitab:
Yeh. 47:1-12; Mzm. 36:8; 46:4; Yl. 3:18b; Zak. 14:8a
Kitab Yehezkiel membicarakan tentang dua sungai. Sungai pertama, di dalam pasal 1, adalah sungai Kebar, yang ada di tempat di mana umat Allah ditahan di dalam penawanan. Sungai yang kedua, yang ada di dalam pasal 27, adalah sungai hayat di tanah kudus itu. Sungai yang pertama adalah untuk melaksanakan penghakiman; sedangkan sungai yang kedua adalah untuk bagi penyuplaian hayat. Dekat ke sungai Kebar berarti berada di satu tempat pendisiplinan, sedangkan dekat kepada sungai air hidup berarti berada di satu tempat untuk menerima hayat. Di dalam berita ini, kita akan melihat sungai yang mengalir dari rumah itu.
ALLAH MENJADI MAKANAN DAN AIR BAGI MANUSIA
Kejadian 2 membicarakan tentang pohon hayat (ay. 9) dan tentang sebuah sungai yang mengalir ke Eden untuk menyirami taman itu (ay. 10). Baik pohon maupun sungai menandakan bahwa Allah damba untuk menyalurkan diri-Nya sendiri kepada manusia sebagai hayat. Pohon hayat menunjukkan bahwa Allah ingin agar kita makan Dia, dan sungai menunjukkan bahwa Allah ingin agar kita minum Dia. Pohon dan sungai di dalam Kejadian 2 adalah permulaan dari dua garis—yang satu mengenai Allah sebagai makanan yang hidup dan yang lainnya mengenai Allah sebagai air yang hidup—yang menelusuri Alkitab sampai keduanya rampung dengan pohon hayat dan sungai air hayat di dalam Wahyu 22. Mengenai Allah sebagai makanan bagi manusia, Alkitab membicarakan tentang daging anak domba, roti yang tidak beragi, manna, berbagai macam kurban persembahan, dan semua hasil, baik hewan maupun sayur mayur, dari tanah Kanaan yang baik itu. Di dalam Yohanes 6, Tuhan Yesus membicarakan dengan jelas tentang hal ini: “Akulah roti hayat” (ay. 48); “Akulah roti hidup yang turun dari surga” (ay. 51); “Dagingku adalah benar-benar makanan, dan darah-Ku adalah benar-benar minuman” (ay. 55); “siapa saja yang makan Aku akan hidup oleh Aku” (ay. 57). Mengenai Allah sebagai air untuk diminum oleh manusia, Alkitab membicarakan tentang mata air (Kel. 15:27), air dari batu karang (17:6; Bil. 20:11; 1 Kor. 10:4), air dari sumur (Bil. 21:16-17), dan air dari tanah (Hak. 15:19). Mazmur 36:8b mengatakan, “Engkau membuat mereka minum dari sungai-sungai kesenangan-Mu.” Mazmur 46:4 mengatakan, “Kota Allah, kediaman Yang Mahatinggi, disukakan oleh aliran-aliran sebuah sungai.” Yoel 3:18 mengatakan, “mata air akan terbit dari rumah Tuhan.” Zakharia 14:8 mengatakan, “Pada waktu itu akan mengalir air kehidupan dari Yerusalem.” Injil Yohanes membicarakan tentang air hidup di dalam 4:14 dan 7:37-38. Porsi-porsi dari Firman ini mewahyukan bahwa Allah sebagai air hidup mengalir keluar dari kekekalan ke dalam kita untuk memuaskan dahaga kita.
Porsi dari Firman itu yang menggambarkan dengan paling rinci tentang aliran air hidup Allah adalah Yehezkiel 47. Adalah bermakna bahwa aliran air hayat ini bukan ada di dalam pasal 1. Di dalam pasal itu, bukannya ada sungai hayat, sebaliknya malah ada api yang menghanguskan. Di dalam pasal 37, ada angin yang menjadi nafas bagi kita, tetapi tidak ada aliran air. Aliran air ini tidak ada sampai pasal 47. Air tidak bisa muncul sebelum pasal 47, karena rumah itu belum dibangunkan.
FAKTOR-FAKTOR YANG MENGHASILKAN SUNGAI
Ada beberapa faktor penting yang menghasilkan aliran sungai ini. Yang pertama adalah pembangunan dan penyelesaian rumah itu. Setelah ini, orang-orang mulai memiliki penghidupan mereka menurut rumah itu, menurut polanya, hukum-hukum dan ketetapan-ketetapannya. Kehidupan mereka sehari-hari dan semua tindak tanduk mereka mulai menurut bentuk, model, pola teladan, ketetapan-ketetapan, dan hukum-hukum dari rumah itu (43:10-11). Kemudian, orang-orang yang melayani, yaitu imam-imam, melayani Tuhan dengan cara yang tepat. Terakhir, ada semua kurban persembahan: seekor anak domba dari dua ratus ekor, seperenam puluh gandum dan jelai, dan seperseratus minyak. Ada persembahan-persembahan tahunan, persembahan-persembahan bulanan, persembahan-persembahan harian, dan semua hari raya yang agung. Kita perlu sadar bahwa pengalaman terhadap semua perkara ini menghasilkan aliran dari sungai itu.
Ketika Tuhan melihat semua hal ini, Dia pasti sangat gembira. Dia memiliki sebuah rumah—tempat takhta-Nya, satu tempat bagi tapak kaki-Nya, satu tempat di mana Dia bisa tinggal bagi perhentian dan kepuasan-Nya. Dia melihat rumah dengan bentuk dan ketetapan-ketetapannya, dan Dia melihat imam-imam dan kurban-kurban persembahan. Karena itu, Dia mengirimkan aliran dari sungai itu, dan sungai itu mulai mengalir keluar dari rumah itu.
Sekarang kita dapat memahami mengapa tidak disinggung tentang aliran dari sungai itu sebelum pasal 47. Aliran sungai itu tergantung kepada bangunan itu. Kapan saja dan di mana saja sekelompok kaum beriman terbangun dalam keesaan seperti yang digambarkan oleh Yehezkiel, maka di sana akan ada aliran dari sungai yang keluar dari bangunan itu. Jika ada pembangunan itu di lokalitas Anda, maka aliran itu akan mengalir dari pembangunan itu. Misalnya mengenai gereja di lokalitas Anda Tuhan bisa mengatakan, “Inilah tempat takhta-Ku, inilah tempat di mana Aku bisa menaruh tapak kaki-Ku, dan inilah tempat di mana Aku bisa tinggal, beristirahat, dan dipuaskan.” Jika Tuhan dapat mengatakan tentang ini di tempat Anda, maka sungai itu tentu akan mengalir keluar dari bangunan itu.
Hari ini banyak orang Kristen yang bergairah yang menaruh perhatian kepada pekerjaan injil di ladang misi, namun situasi mereka itu sangat miskin. Mereka pergi ke luar untuk bekerja bagi Tuhan, tetapi tidak ada aliran yang mengikuti mereka, karena mereka mengabaikan sumbernya—pembangunan gereja. Tidak mungkin ada aliran yang terpisah dari pembangunan yang sejati. Jika ada satu pembangunan yang kuat di dalam gereja-gereja lokal, maka akan ada sungai yang mengalir ke luar dari pembangunan itu ke tempat-tempat lainnya. Akan ada aliran, pemenuhan, dan pengaruh yang kuat.
Betapa kita sangat memerlukan pembangunan! Kita perlu gereja terbangun sebagai bait, rumah Allah. Dari bangunan yang demikian, aliran Allah akan dihasilkan. Pencapaian itu tergantung kepada pembangunan itu. Pemberitaan injil tergantung kepada pembangunan itu. Inilah alasannya mengapa di dalam Yohanes 17:23, Tuhan Yesus mengatakan bahwa ketika kita disempurnakan menjadi satu, maka dunia akan tahu bahwa Bapa telah mengutus Putra. Ini berarti bahwa bila kita dibangun menjadi satu, maka dunia akan diyakinkan. Situasi Kekristenan yang terpecah belah sangat membatasi pengaruh yang kuat dari injil.
AIR MENGALIR KELUAR DARI AMBANG PINTU
Yehezkiel 47:1a mengatakan, “Kemudian ia membawa aku kembali ke pintu Bait Suci, dan sungguh, ada air keluar dari bawah ambang pintu Bait Suci itu dan mengalir menuju ke timur.” Supaya air itu mengalir, maka harus ada satu ambang pintu, satu pintu, yang melaluinya air itu bisa mengalir. Ini menunjukkan bahwa jika kita, melalui Kristus, memiliki kontak lebih banyak dengan Allah dan tertarik lebih dekat kepada-Nya, maka akan ada satu pintu yang akan membiarkan air hidup Allah untuk mengalir keluar dari gereja.
SUNGAI ITU MENGALIR KE ARAH SEBELAH TIMUR
Sungai itu keluar dari rumah itu dan mengalir ke sebelah timur (ay. 1b). Timur adalah arah dari kemuliaan Tuhan (Bil. 2:3; Yeh. 43:2). Aliran yang mengalir ke sebelah timur ini menunjukkan bahwa sungai Allah akan selalu mengalir dalam arah kemuliaan Allah. Sungai itu memperhatikan kemuliaan Allah.
Segala sesuatu di dalam kehidupan gereja haruslah bagi kemuliaan Allah. Misalnya, di dalam pemberitaan injil kita, kita harus mencari kemuliaan Allah. Jika pemberitaan injil kita adalah bagi kemuliaan Allah, maka akan ada aliran air hidup. Namun, jika kita tidak memperhatikan kemuliaan Allah, maka aliran itu akan dibatasi. Setiap orang di dalam gereja harus mencari dan memperhatikan kemuliaan Allah. Kemudian air hidup itu akan mengalir keluar dari gereja.
AIR MENGALIR KELUAR DARI SAMPING KANAN RUMAH ITU
Yehezkiel 47:1c juga memberi tahu kita bahwa air itu akan mengalir keluar dari samping kanan rumah itu. Menurut Alkitab, samping kanan menandakan kedudukan yang tertinggi. Aliran air dari samping kanan ini menunjukkan bahwa aliran Tuhan haruslah memiliki keutamaan. Kita perlu memberikan kedudukan yang paling tinggi kepada Tuhan, dan kita juga perlu memberikan kedudukan yang paling tinggi kepada aliran Tuhan. Dengan demikian aliran ini akan unggul dan menjadi faktor pengendali di dalam penghidupan dan pekerjaan kita.
MENGALIR DI SISI MEZBAH
Aliran ini mengalir di sisi mezbah (ay. 1d). Ini menunjukkan bahwa aliran itu selalu melalui salib. Jika kita tidak memiliki pemberesan salib, maka aliran ini akan terhalang. Jika kita ingin memiliki aliran itu, maka kita harus memiliki pemberesan salib. Kita perlu rela melalui salib supaya aliran itu bisa keluar.
MANUSIA DENGAN TALI PENGUKUR
Poin utamanya di sini adalah manusia dengan tali pengukur di tangannya (ay. 3). Manusia ini, yang adalah Tuhan Yesus itu sendiri, memiliki penampilan tembaga (40:3). Seperti yang telah kita tunjukkan, dalam perlambangan tembaga menandakan penghakiman dan pengujian. Tuhan Yesus diuji dan dihakimi sebagai seorang manusia, dan karena Dia telah diuji dan dihakimi, maka Dia sekarang menguji dan menghakimi. Karena Dia telah diuji, maka Dia layak untuk menguji dan karena Dia telah dihakimi, maka Dia layak untuk menghakimi. Dia adalah Manusia dengan tali pengukur di tangan-Nya, dan sepenuhnya layak untuk mengukur kita.
Kita telah menunjukkan sebelumnya bahwa mengukur itu berarti menguji, menghakimi, dan memiliki. Ketika seorang saudari akan membeli beberapa pakaian, maka ia terlebih dahulu mencoba dan kemudian mengukurnya. Seberapa besar ia mengukur sebesar itu juga ia memilikinya. Ini menunjukkan bahwa mengukur berarti mencoba, menguji, menghakimi, dan pada akhirnya mengambil alih dan memiliki.
MENGUKUR ALIRAN SUNGAI
Manusia dengan tali pengukur di tangannya itu mengukur aliran sungai itu (47:3-5).
Mengukur Seribu Hasta
Ketika manusia ini pertama kali mengukur sungai itu, maka hanya ada satu aliran yang perlahan-lahan keluar dari rumah itu. Kemudian ia mengukur seribu hasta, dan aliran itu menjadi semakin dalam, sampai ke pergelangan kaki (ay.3). Ia mengukur lagi seribu hasta, dan aliran itu menjadi semakin dalam, sampai ke lutut (ay. 4). Setelah ini, manusia itu mengukur seribu hasta lagi, dan aliran itu menjadi semakin dalam, bahkan sampai ke pinggang (ay. 4). Ketika keempat kalinya ia mengukur seribu hasta lagi, maka aliran itu menjadi sebuah sungai yang tidak bisa diseberangi, dan sungai itu penuh dengan air sehingga orang bisa berenang di dalamnya.
Di dalam Alkitab, angka seribu menandakan satu unit yang lengkap. Misalnya, di dalam Mazmur 84:10, pemazmur mengatakan bahwa satu hari di pelataran Tuhan itu lebih baik daripada seribu hari di luar pelataran. Karena seribu menandakan satu unik yang lengkap, maka mengukur seribu hasta berarti mengukur satu unit yang lengkap; ini adalah pengukuran yang lengkap.
Jika kita ingin menikmati aliran yang keluar dari rumah itu, maka kita perlu diukur dengan lengkap. Jika kita ingin menikmati satu aliran yang lebih dalam, maka kita perlu diukur, yaitu dites, diuji, dihakimi, dan diambil alih oleh Tuhan. Motivasi-motivasi kita, maksud-maksud kita, tujuan-tujuan kita, sasaran-sasaran kita, kedambaan-kedambaan kita—semuanya haruslah dihakimi. Segala sesuatu yang kita miliki dan segala sesuatu yang kita terlibat di dalamnya itu haruslah dihakimi. Ini akan memperdalam aliran di dalam kita.
Ketika kita dihakimi oleh Tuhan, kita perlu membuat satu pengakuan yang menyeluruh. Kita perlu membiarkan Tuhan menjadi Hakim kita dan membiarkan Dia membawa kita masuk ke dalam terang-Nya dan menyingkapkan kita. Kemudian kita harus mengatakan kepada-Nya, “Tuhan, semua yang telah Kauhakimi sekarang adalah milik-Mu. Aku meminta kepada-Mu, Tuhan, untuk mengambil alih diriku, untuk memiliki diriku sepenuhnya.”
Penghakiman dan pengujian Tuhan terhadap kita itu bukanlah satu kali untuk selamanya. Di dalam Yehezkiel 47, manusia/orang yang mengukur itu bukan satu atau dua atau bahkan tiga kali; ia mengukur empat kali. Di dalam Alkitab, empat adalah angka ciptaan. Mengukur empat kali di sini menunjukkan bahwa sebagai satu makhluk ciptaan, kita perlu dihakimi dan diuji secara menyeluruh oleh Tuhan dan kemudian diambil alih sepenuhnya oleh Dia.
Diambil alih oleh Tuhan seluruhnya itu tidaklah mudah untuk dialami. Kita mungkin mengira bahwa kita telah diambil alih sepenuhnya oleh Tuhan, tetapi setelah sejangka waktu, kita akan sadar bahwa kita masih memiliki beberapa persediaan. Kemudian kita akan diuji dan dihakimi lagi oleh Tuhan, dan setelah ini, kiat akan memiliki satu konsekrasi lebih lanjut kepada Tuhan, dengan mengatakan, “Tuhan, ambillah ini dan milikilah.” Kita mungkin mengira bahwa Tuhan telah mengambil alih segalanya, tetapi Tuhan tahu bahwa Dia telah mendapatkan kita hanya pada satu tingkatan tertentu. Karena itu, kadang-kadang, kita mungkin sadar lagi bahwa kita telah menyimpan dan memelihara sangat banyak bagi diri kita sendiri. Sekali lagi kita akan membuat pengakuan kita kepada Tuhan dan mengalami pengujian dan penghakiman-Nya. Bahkan setelah bertahun-tahun, kita masih belum dimiliki sepenuhnya oleh Tuhan, dan kita akan perlu lagi diukur, diuji, dihakimi, dan dimiliki oleh-Nya.
Kedalaman Aliran itu Tergantung kepada Berapa Banyak Kita Telah Diukur dan Diambil Alih oleh Tuhan
Anda mungkin membayangkan bagaimana kita bisa menetapkan berapa banyak kita telah diukur dn dihakimi oleh Tuhan. Kita menetapkan hal ini dengan kedalaman dari sungai itu. Jika sungai itu hanya sampai ke pergelangan kaki kita, maka ini membuktikan bahwa kita belum diukur sepenuhnya oleh Tuhan. Kedalaman sungai itu tergantung kepada berapa banyak kita telah diukur oleh Tuhan. Kita tidak perlu berargumen dan membenarkan diri kita sendiri. Sebaliknya, kita harus dengan sederhana mempertimnbangkan kedalaman dari aliran kita. Berapa dalam aliran Anda? Apakah sampai ke pergelangan kaki? Sampai ke lutut? Sampai ke pinggang? Sudahkah aliran itu menjadi sebuah sungai yang tidak bisa diseberangi? Sudahkah aliran itu menjadi banyak air sehingga orang bisa berenang di dalamnya? Kita perlu mempertimbangkan situasi pribadi kita secara demikian.
Prinsip yang sama bisa diterapkan kepada gereja-gereja lokal. Tidak perlu berargumen mengenai gereja di lokalitas Anda. Anda mungkin mengatakan bahwa gereja di mana Anda berada itu adalah yang terbaik. Gereja Anda mungkin yang terbaik menurut konsep Anda, tetapi mungkin bukan yang terbaik menurut aliran itu. Anda mungkin mengklaim bahwa Anda memiliki satu aliran, tetapi berapa dalam aliran ini? Pertimbangkanlah kedalaman aliran itu di dalam gereja di mana Anda berada. Aliran itu mungkin hanya sampai ke pergelangan kaki atau lutut atau pinggang. Mungkin aliran itu adalah sebuah sungai yang tidak bisa diseberangi, dan dengan demikian aliran itu menjadi penuh dengan air sehingga orang bisa berenang di dalamnya. Kedalaman aliran di setiap gereja lokal itu tergantung kepada tingkatan pengukuran dan pemilikan Tuhan. Mengenai hal ini, kita bisa membodohi orang lain, tetapi kita tidak bisa membodohi Tuhan. Dia tahu kedalaman dari aliran di mana kita berada.
Kita semua perlu diukur dan diambil alih oleh Tuhan. Bagi pengukuran-Nya ini, Tuhan memerlukan kerja sama kita. Sulit bagi Tuhan untuk mengukur kita, menghakimi kita, memiliki kita, dan mengambil alih kita tanpa kerja sama yang memadai di pihak kita. Kiranya kita menengadah kepada Tuhan untuk belas kasihan-Nya agar melalui pengukuran-Nya di semua gereja lokal akan ada sebuah sungai yang tidak bisa diseberangi oleh siapa pun.
KASIH KARUNIA LAWAN USAHA SENDIRI
Berjalan di tanah kering itu mudah, tetapi aliran sungai itu membuatnya menjadi sulit untuk berjalan. Ketika air itu sampai ke pergelangan kaki, maka kita masih bisa berjalan, tetapi ini sangat tidak nyaman. Ketika air itu sampai ke lutut, lebih sulit lagi berjalan. Ketika air itu sampai ke pinggang, maka sulit sekali untuk berjalan. Ini menunjukkan bahwa sebelum kita menikmati kasih karunia Tuhan sebagia aliran itu, maka kita bisa melakukan apa saja yang kita sukai. Bila kita mengalami aliran Tuhan hanya dengan cara yang dangkal, maka kita masih bisa berjalan dengan usaha kita sendiri. Tetapi bila aliran itu menjadi semakin dalam, sampai ke lutut, maka berjalan itu menjadi lebih sulit. Kita memiliki kasih karunia, tetapi banyaknya kasih karunia yang kita miliki itu tidak cukup, maka kita terus menerus memakai usaha kita sendiri.
Ketika aliran itu bertambah, maka aliran ini mengganggu, membatasi, dan menghalangi kita. Ketika aliran kasih karunia itu naik semakin tinggi, sampai ke pinggang, maka ini adalah waktu yang paling sulit untuk menjadi seorang Kristen. Situasi kita menjadi sangat sulit/sangat tidak nyaman. Misalnya, di satu pihak, kita mungkin memiliki kasih karunia yang cukup untuk membuatnya sulit bagi kita untuk kehilangan temperamen kita; di lain pihak, kita mungkin tidak memiliki kasih karunia yang cukup untuk mengatasi temperamen kita. Kita memiliki kasih karunia, tetapi kita masih perlu melatih usaha kita sendiri. Ini adalah satu dilema. Sungai kasih karunia itu menyertai kita, tetapi sungai itu tidak cukup dalam. Tetapi begitu aliran kasih karunia itu menjadi begitu dalam hingga kita tidak bisa menyeberanginya, maka kita akan memuji Tuhan dan mulai berenang di dalam air sungai itu. Ketika kita berenang, kita tidak akan lagi berusaha untuk berdiri di atas kaki kita. Sebaliknya, kita akan meninggalkan usaha kita sendiri dan mulai untuk berenang di sungai itu.
Semakin sedikit kasih karunia yang kita terima dari Tuhan, semakin kita perlu memakai kekuatan kita sendiri. Tetapi bila kita menerima kasih karunia yang berlimpah, maka kita tidak lagi perlu memakai kekuatan kita sendiri. Sebaliknya, kita akan berhenti dari usaha kita sendiri dan membiarkan aliran sungai itu membawa kita pergi. Bila kita dibawa secara demikian, maka kita bisa dengan mudah mengikuti Tuhan dan membiarkan Dia memimpin kita ke mana saja Dia ingin agar kita pergi.
Saya prihatin bahwa ada banyak di antara kita yang belum menanggalkan usaha mereka sendiri melainkan masih berusaha untuk berdiri di atas usaha mereka sendiri. Mereka terus bergumul dalam usaha mereka untuk berdiri di atas kaki mereka. Ini berarti bahwa mereka memakai usaha mereka sendiri untuk menjadi seorang pemenang. Orang-orang yang berada di dalam situasi yang demikian ini perlu sadar bahwa mereka memerlukan kasih karunia lebih banyak. Mereka perlu satu aliran yang lebih dalam sehingga mereka mau menyerah untuk berusaha berdiri dan sebaliknya mau berenang di sungai itu. Cara yang terbaik bagi kita untuk berenang di sungai itu adalah dengan menaruh sandaran kita di dalam aliran dari sungai itu, melupakan usaha kita sendiri, dan membiarkan aliran itu membawa kita pergi. Bila kita menerima kasih karunia yang berlimpah, maka inilah yang akan menjadi pengalaman kita.
Meskipun kasih karunia itu cukup, tetapi kita masih perlu berjalan bersama dengan aliran dari kasih karunia Tuhan ini. Ketika kita dibawa oleh sungai itu, maka kita tidak boleh berusaha untuk memiliki arah kita sendiri. Kita harus meninggalkan arah kita dan bergerak di dalam arah dari aliran itu. Namun, aliran itu mungkin satu arah, tetapi maksud kita adalah bergerak dalam arah yang bertentangan. Karena alasan ini, maka Tuhan seringkali memiliki masalah dengan kita.
SUNGAI ITU MEMBUAT SEGALA SESUATU MENJADI HIDUP
Ke mana saja sungai itu mengalir, maka segala sesuatu akan menjadi hidup dan penuh dengan hayat (Yeh. 47:9). Sungai ini adalah sungai hayat, dan hanya hayatlah yang bisa membuat hal-hal menjadi hidup. Pengajaran-pengajaran dan karunia-karunia semata-mata tidaklah penting di sini, karena hal-hal itu tidak bisa menyalurkan hayat. Yehezkiel tidak mengatakan bahwa segala sesuatu akan mengenal atau bahwa segala sesuatu akan memakai karunia; ia mengatakan bahwa ke mana saja sungai itu datang maka segala sesuatunya akan hidup.
Di dalam aliran ini, pohon-pohon akan hidup dan menghasilkan buah yang manis, lezat setiap bulannya (ay. 12). Juga, air akan menghasilkan ikan-ikan yang berlimpah (ay. 9). Ternak disiratkan oleh nama dua kota—Engedi dan Eneglaim (ay. 10). Engedi berarti “sumber air dari anak domba,” dan Eneglaim berarti “sumber air dari dua sapi lembu muda.” Sumber-sumber air ini adalah bagi ternak muda, anak-anak domba dan lembu-lembu muda. Dari semuanya ini kita bisa melihat bahwa aliran sungai itu menghasilkan pohon-pohon, ikan, dan ternak.
Di dalam kehidupan gereja yang tepat, ada banyak pohon yang menghasilkan buah, dan dengan demikian, tidak ada kekurangan buah. Jika gereja di lokalitas Anda hidup, maka akan ada pohon-pohon yang menghasilkan buah. Pohon-pohon yang menghasilkan buah ini adalah satu petunjuk bahwa ada satu aliran di dalam gereja Anda. Pohon-pohon itu bertumbuh di tepi air hidup ini. Jika ada satu aliran di dalam gereja lokal Anda, maka tentu akan ada pohon-pohon yang menghasilkan buah yang berlimpah.
Pada aliran sungai ini, juga ada penangkapan ikan (ay. 10). Menangkap ikan menandakan pertambahan dalam jumlah. Jika jumlah orang-orang di dalam gereja lokal Anda tidak bertambah tahun demi tahun, maka ini berarti tidak ada penangkapan ikan, dan tidak ada penangkapan ikan itu berarti tidak ada aliran. Jika kita ingin memiliki penangkapan ikan, maka kita harus memiliki aliran itu. Kita memerlukan satu tempat untuk melemparkan dan menebarkan jalan kita. Kita perlu penangkapan ikan untuk memiliki pertambahan di dalam jumlah.
Di dalam kehidupan gereja, kita juga perlu beberapa sumber air dari anak domba dan sumber air dari lembu sapi bagi pemberian makanan. Jadi, kita memerlukan makanan, kita memerlukan pertambahan dalam jumlah, dan kita memerlukan pemberian makanan. Ini akan menghasilkan perbaikan, pembangunan. Oh, kita memerlukan pohon-pohon, penangkapan ikan, dan sumber-sumber air! Semua perkara ini tergantung pada satu hal—aliran dari sungai itu. Sekali lagi kita melihat betapa kita memerlukan aliran dari sungai Allah.
SUNGAI ITU MENGALIR KE ARAH LAUT TIMUR
Yehezkiel 47:8 mengatakan bahwa sungai itu mengalir ke arah Laut Timur. Menurut peta, Laut Timur adalah Laut Asin atau Laut Mati. Melalui aliran sungai yang keluar dari rumah itu, air asin dari Laut Mati itu disembuhkan. Ini berarti bahwa maut ditelan oleh hayat. Ketika ada satu aliran yang kaya dan dalam di dalam satu gereja lokal, maka banyak maut akan ditelan oleh hayat. Namun, jika tidak ada aliran di dalam satu gereja tertentu, maka gereja itu akan menjadi satu “laut mati” yang penuh dengan garam. Tetapi jika ada aliran dari sungai itu, maka kematian akan ditelan oleh hayat, dan dengan demikian”laut mati” ini akan dijadikan hidup.
SUNGAI ITU TIDAK DAPAT MENYEMBUHKAN RAWA-RAWA
Meskipun Laut Mati dan tempat-tempat kering bisa dijadikan hidup dan kematian bisa ditelan oleh hayat, tetapi rawa-rawa tidak dapat disembuhkan (ay. 11). Rawa-rawa adalah satu tempat yang tidak kering dan tidak dialiri dengan air. Karena, sebagian terdiri dari lumpur dan sebagian lagi terdiri dari air, maka rawa-rawa itu tidak basah dan tidak kering. Rawa-rawa menandakan satu situasi yang penuh dengan kompromi. Ini berarti bahwa kapan saja ada situasi yang kompromi, maka di sana ada rawa-rawa. Kita tidak pernah boleh terlibat dengan situasi apa pun yang adalah “rawa.”
Tuhan Yesus menegur gereja di Laodikia karena menjadi suam-suam kuku dan tidak panas atau tidak dingin. Dia memberitahu orang-orang yang ada di Laodikia bahwa mereka seharusnya panas atau dingin bukan suam-suam kuku. Dia juga mengatakan bahwa jika mereka tetap suam-suam kuku, Dia akan memuntahkan mereka dari mulut-Nya (Why. 3:15-16). Suam-suam kuku berarti berada dalam situasi yang kompromi, berada di rawa-rawa.
Pendirian kita mengenai gereja haruslah mutlak. Jika Anda berdiri di satu denominasi, maka Anda harus berdiri dengan mutlak. Jika Anda berdiri bersama dengan satu kelompok bebas, maka Anda harus berdiri dengan kelompok itu dengan mutlak. Jika Anda berdiri di atas dasar gereja, maka Anda harus berdiri dengan mutlak. Anda harus dingin atau panas, tetapi Anda tidak boleh suam-suam kuku. Menjadi suam-suam kuku berarti berada di rawa-rawa. Jika Anda menanggalkan denominasi-denominasi dan kelompok-kelompok bebas namuan Anda tidak mutlak bagi dasar gereja yang tepat, maka Anda berada di rawa-rawa. Adalah mungkin bagi seseorang berada di dalam kehidupan gereja tetapi tidak mutlak. Orang yang demikian adalah seperti rawa-rawa.
Tuhanpun tidak bisa menyembuhkan rawa-rawa. Rawa-rawa adalah satu tempat yang netral, tempat yang tengah-tengah, satu tempat yang kompromi. Ada kaum saleh tertentu yang tidak berada di Babel juga tidak berada di Yerusalem tetapi di tengatengah di antara Babel dan Yerusalem. Ini berarti bahwa mereka berada di rawa-rawa dan bahkan mereka itu adalah rawa-rawa.
Kita perlu mutlak baik itu di dalam aliran atau tinggal di tanah kering. Jika kita tetap berada di siatuasi yang berawa-rawa atau “berlumpur”, maka Tuhan tidak bisa berbuat sesuatu terhadap kita. Sangat mudah sekali masuk ke dalam rawa-rawa, tetapi sulit sekali untuk keluar daripadanya. Gereja harus berada di satu tempat yang mutlak. Karena itu, bagi kehidupan gereja, kita perlu menjadi mutlak.
Gereja juga harus menjadi satu tempat menurut jenisnya. Kejadian 1:11-12 mengatakan bahwa rumput, pohon-pohon dan sayur-sayuran tumbuh menurut jenisnya masing-masing. Pohon apel tidak bisa menghasilkan buah apel-peach. Menghasilkan apel-peach, yaitu sesuatu yang bukan menurut jenisnya, itu berarti menjadi rawa-rawa. Laki-laki haruslah menjadi laki-laki dan perempuan haruslah menjadi perempuan; tidak seorang pun bisa menjadi seorang laki-laki-perempuan. Jika Anda berada di satu denominasi, beradalah di sana menurut jenis Anda. Jika Anda berada di dalam satu kelompok bebas, beradalah di sana menurut jenis Anda. Demikian juga, sekelompok kaum saleh di satu lokalitas tertentu adalah gereja di lokalitas itu, mereka harus menjadi gereja menurut jenisnya.
Jika Anda berada di dalam pemulihan Tuhan, beradalah di dalam pemulihan ini dengan mutlak, tidak setengah-setengah. Kembalilah sepenuhnya dari Babel ke Yerusalem. Jika Anda berhenti di tengah jalan, maka Anda akan menjadi rawa-rawa, dan Anda tidak akan memiliki aliran apa pun, bahkan aliran yang lambatpun tidak akan ada. Sebaliknya Anda akan memiliki cukup air yang membuat Anda menjadi “berlumpur.” Anda akan menjadi rawa-rawa, dan rawa-rawa tidak bisa disembuhkan. Sepanjang tahun-tahun saya di dalam pemulihan Tuhan, saya belum pernah melihat rawa-rawa yang bisa disembuhkan.
Di dalam Wahyu 22:11 Tuhan Yesus mengatakan, “Barangsiapa yang berbuat jahat, biarlah ia terus berbuat jahat; barangsiapa yang tidak kudus, biarlah ia terus tidak kudus; dan barangsiapa yang benar, biarlah ia terus berbuat kebenaran; barangsiapa yang kudus, biarlah ia terus menguduskan dirinya!" Di sini kita melihat bahwa Tuhan Yesus damba dan menuntut kemutlakkan. Kita harus belajar untuk menjadi mutlak. Dengan mutlak, kita akan berada di dalam aliran itu, dan aliran itu tidak akan menjadi aliran kecil yang lambat, melainkan menjadi sebuah sungai untuk berenang. Maka segala sesuatu akan hidup ke mana saja sungai ini mengalir.