TANAH KUDUS DAN KOTA KUDUS
Pembacaan Alkitab:
Yeh. 45:1-8; 47:13-20; 48:8-20, 31-35; Why. 21:12-13
Di dalam berita ini, kita sampai kepada akhir dari Yehezkiel, dan kita akan melihat dua perkara—tanah kudus dan kota kudus.
TANAH KUDUS
Bait Allah Adalah Hasil dari Tanah itu
Kita perlu melihat sesuatu lebih jauh mengenai tanah kudus. Di luar tanah itu, tidak mungkin ada bait. Kita mungkin sangat mengapresiasi bait itu, tetapi kita perlu sadar bahwa bait itu ada di dalam tanah itu, dan bahwa tanpa tanah itu, tidak mungkin ada satu bait. Bait itu, yang melambangkan gereja, adalah hasil dari tanah itu, yang melambangkan Kristus. Jadi bait itu tergantung kepada tanah itu. Jika kita tidak memiliki pengalaman akan Kristus, maka tidak mungkin bagi kita untuk memiliki gereja. Gereja adalah hasil dari kenikmatan akan kekayaan-kekayaan Kristus.
Sejarah dari Tanah itu
Tanah itu pertama-tama disinggung di dalam Kejadian 1:9. Pada hari ketiga dari pemulihan Tuhan akan penciptaan-Nya, daratan/tanah itu dipulihkan, karena pada hari ini daratan muncul dari air kematian. Sebelum waktu itu, tanah itu berada di bawah air kematian. Tetapi pada hari yang ketiga Tuhan menyebabkan tanah/daratan itu muncul dari air kematian. Tanah/daratan di dalam Kejadian 1 ini melambangkan Kristus, yang telah dibangkitkan dari antara orang mati pada hari ketiga sebagai tanah/negeri yang almuhit. Setiap jenis hayat—hayat tumbuhan, hayat hewan, dan hayat manusia—berasal dari tanah ini. Segala jenis penghidupan dihasilkan dari tanah ini. Karena tanah ini melambangkan Kristus, maka ini berarti bahwa semua makhluk hidup ini berasal dari Kristus.
Kristus adalah tanah yang baik yang dipersiapkan Allah bagi manusia. Namun, manusia jatuh dan menjadi merosot, dan ini mengakibatkan Allah menghakimi bumi ini lagi. Selama zaman Nuh, tanah ini dibanjiri dan sekali lagi ditutupi oleh air kematian (7:19). Akibatnya, ras manusia hilang ditanah ini. Tetapi Tuhan mengeluarkan tanah ini lagi dari air kematian, dan keluarga Nuh diberi hak untuk menikmati tanah ini.
Sejarah manusia adalah catatan tentang kejatuhan manusia. Di dalam perjalanan dari sejarah ini, keturunan Nuh kemudian jatuh dan akhirnya berkumpul di Babel untuk membangun satu menara untuk memberontak kepada Allah (11:1-9). Kemudian “Tuhan mencerai beraikan mereka dari sana ke seluruh permukaan bumi” (ay. 8a). Kemudian Allah memanggil Abraham keluar dari negeri Babel dan membawanya ke dalam Kanaan, tanah yang baik itu (12:1-8). Namun, akhirnya, keturunan Abraham jatuh dari negeri baik itu ke Mesir. Seluruh rumah tangga Israel turun ke Mesir, dan dengan demikian mereka kehilangan tanah/negeri yang baik itu.
Empat ratus tahun kemudian, melalui pembesasan Allah, umat Israel mengalami paskah, meninggalkan Mesir, dan melalui Laut Merah (Kel. 12—14). Setelah empat puluh tahun berkelana di padang gurun, mereka menyeberang Yordan masuk ke tanah yang baik itu. Setelah berperang melawan para penduduk tanah itu, mereka memulihkan tanah mereka yang telah hilang itu. Di atas tanah yang telah dipulihkan itulah mereka membangun bait dan kemuliaan Allah memenuhinya (2 Taw. 5:14). Kemudian, karena mereka jatuh dari Tuhan dan karena kemerosotan mereka, mereka dikeluarkan dari tanah itu dan kehilangan tanah itu lagi.
Di tengah-tengah penawanan, Yehezkiel dibawa kembali ke tanah itu oleh Roh itu dan melihat tanah itu. Ketika kita membaca Yehezkiel, kita perlu menaruh perhatian kepada fakta bahwa seringkali Tuhan berjanji untuk membawa umat-Nya kembali ke tanah itu (ps. 11, 33, 34, 36, 37). Dia bahkan berjanji untuk membawa mereka kembali ke puncak gunung Israel (34:14). Ini menunjukkan pemulihan dari tanah/negeri itu.
Adalah penting bila kita menyadari bahwa sebelum kita bisa memiliki pemulihan akan pembangunan itu, kita perlu memiliki pemulihan akan tanah itu. Pemulihan akan tanah itu melambangkan pemulihan kenikmatan akan Kristus. Kristus sendiri tidak mungkin hilang, tetapi di dalam pengalaman kita, Kristus mungkin telah hilang. Ketika kita diselamatkan, kita menerima Kristus. Namun, tidak lama setelah itu, kita jatuh dan kehilangan Kristus di dalam pengalaman kita. Pemulihan tanah itu adalah pemulihan pengalaman-pengalaman terhadap kekayaan-kekayaan Kristus. Begitu tanah itu dipulihkan, maka rumah itu bisa dibangun di atas tanah itu.
Tanah yang terdiri dari Susu dan Madu
Tanah/negeri ini dengan segala kekayaannya, disebut satu tanah yang “mengalirkan susu dan madu” (20:6). Susu dan madu keduanya adalah hasil dari dua hayat yang bekerja bersama-sama—hayat sayuran dan hayat binatang. Untuk menghasilkan susu dan madu diperlukan hayat sayuran dan hayat binatang. Untuk menghasilkan susu, kita memerlukan ternak, hayat binatang, dan juga padang rumput, hayat sayuran. Karena itu, susu adalah hasil dari kedua hayat ini yang bekerja bersama-sama. Prinsipnya sama dengan madu. Madu dihasilkan oleh lebah, tetapi lebah memerlukan bunga-bunga dari berbagai jenis tanaman. Karena itu, baik susu maupun madu adalah hasil dari kedua jenis hayat ini.
Sebagai tanah kita yang baik, Kristus memiliki dua jenis hayat; Dia memiliki hayat sayuran dan hayat binatang. Injil Yohanes menunjukkan hal ini. Di satu pihak, Tuhan Yesus mengatakan bahwa Dia adalah sebutir biji gandum (12:24); ini adalah hayat sayuran. Di lain pihak, Injil ini mengatakan Anak Domba Allah (1:29); ini adalah hayat binatang. Hayat binatang adalah untuk disembelih supaya darah bisa dicurahkan bagi penebusan, sedangkan hayat sayuran adalah untuk menghasilkan dan menunaskan hayat. Sebutir biji gandum jatuh ke dalam tanah, mati, bertumbuh, dan berlipat ganda menjadi banyak butir. Jadi, pada Kristus, kita memiliki hayat binatang untuk penebusan dan hayat sayuran untuk penunasan. Dari kedua hayat yang berbaur bersama-sama ini, kita memiliki kekayaan-kekayaan akan Kristus—susu dan madu—bagi kenikmatan kita.
Batas-batas dari Tanah itu
Yehezkiel menyajikan batas-batas dari tanah yang baik itu secara khusus namun sangat indah. Ia mengatakan bahwa batas di sebelah barat adalah Laut Besar (47:20). Ini menunjukkan bahwa pantai dari Laut Mediterania adalah batas sebelah barat. Yehezkiel memberi tahu kita bahwa ada juga sebuah lauh di sebelah timur (ay. 18). Laut di sebelah timur itu bukanlah Laut Besar; ini adalah Laut Mati. Di atas Laut Mati ada sungai Yordan, yang mengalir ke sebelah utara ke laut lainnya, yaitu Laut Galilea, atau Laut Tiberias. Sungai lainnya, yaitu sungai Mesir, adalah batas di sebelah utara dari tanah yang baik itu (ay. 19).
Kedudukan dari tanah yang baik itu di antara aliran-aliran sungai dari Laut Besar di sebelah barat dan aliran-aliran sungai dari Laut Mati di sebelah timur ini sangat bermakna. Tanah yang baik itu dikelilingi oleh air menunjukkan bahwa tanah itu dikelilingi oleh kematian. Di Laut Mati tidak ada sesuatu yang lainnya selain kematian, dan di Laut Besar ada air garam, yang melambangkan kematian. Jadi, tanah yang baik ini dikelilingi oleh kematian, tetapi tanah ini tidak dibanjiri oleh kematian. Ini mengingatkan kita akan tanah/daratan yang keluar dari air kematian pada hari ketiga, karena itu melambangkan Kristus yang bangkit.
Porsi-porsi tertentu dari firman itu menunjukkan bahwa tanah Kanaan yang baik itu adalah satu tanah yang naik (Ul. 32:13; Yeh. 20:40-42; 34:13-15; 37:22). Tanah yang baik ini adalah tanah yang bangkit, yang melambangkan Kristus yang dibangkitkan, yang naik, dari kematian. Karena itu, tanah yang baik ini bukanlah satu tanah yang rendah melainkan tanah yang tinggi. Laut Mati itu tingginya ratusan di bawah permukaan laut, sedangkan Gunung Sion tingginya adalah ratusan kaki di atas permukaan laut. Ini melambangkan bahwa tanah yang baik itu, sebagai lambang dari Kristus yang bangkit itu, adalah satu tanah yang naik/tinggi.
Di sebelah utara dari tanah yang baik itu, tidak ada sungai sebagai batasnya; sebaliknya ada Gunung Hermon. Menurut Mazmur 133, embun akan turun dari Gunung Hermon dan turun ke atas gunung-gunung Sion. Ini melambangkan bahwa kasih karunia akan turun dari surga dan turun ke atas semua gereja-gereja lokal. Tanah yang naik dengan Gunung Hermon ini melambangkan Kristus yang bangkit, yang telah naik ke surga. Sekarang bukan hanya ada kebangkitan, melainkan juga ada kenaikan, karena Kristus bukan hanya Kristus yang bangkit melainkan juga Kristus yang naik. Dia ada di atas air kematian, dan Dia telah naik ke gunung yang tinggi, yaitu Funung Hermon.
Pembagian-pembagian dari Tanah yang Baik itu
Mengenai pembagian-pembagian dari tanah itu, ada tujuh suku Israel di sebelah utara dan lima di sebelah selatan. (Lihat figure 5: Pembagian Tanah Kudus.) Dari kedua belas suku itu, Yehuda dan Benyamin adalah yang paling mustika bagi Tuhan. Ketika kedua belas suku itu terpecah belah, hanya Yehuda dan Benyamin yang tetap bersama dengan Tuhan dan tidak mengambil bagian di dalam perpecahan. Karena alasan ini, maka mereka dekat dengan tempat kediaman Tuhan. Karena kondisi Gad yang miskin, maka suku Gad ditaruh di bagian paling selatan dari tanah itu.
Kita harus memiliki keyakinan di dalam pertimbangan dan penilaian Tuhan mengenai kita. Orang lain mungkin salah mengenai kita, tetapi Tuhan tidak mungkin salah. Dia itu adil, dan Dia tahu apakah kita ditaruh di sebelah utara atau di sebelah selatan. Dia tidak pernah salah. Dalam hubungannya dengan kehidupan gereja, kita tidak tahu di mana kita seharusnya berada, tetapi Tuhan tahu kita harus ditaruh di mana. Misalnya, tidak peduli berapa banyak perhatian yang mungkin kita berikan kepada perihal ke mana kita harus pergi dalam migrasi bagi penyebaran kehidupan gereja, tetapi pada akhirnya kita akan berada di tempat yang terbaik di bawah kedaulatan Tuhan. Dia tahu apakah kita di Dan atau Benyamin, Yehuda atau Gad. Kita tidak seharusnya menyalahkan orang lain melainkan harus mengakui dan tunduk kepada kedaulatan Tuhan.
Namun, Dan tidak pernah puas dengan tempat di mana ia telah ditempatkan. Di dalam Wahyu 7, nama Dan tidak disinggung di dalam daftar nama dari suku-suku Israel karena penyembahan berhala dan kemerosotan Dan (Hak. 18). Untuk sementara waktu Tuhan menyingkirkan namanya dari daftar nama suku-suku itu.
Bagian Tengah
Yehezkiel memberi tahu kita bahwa seluruh tanah Kanaan dibagi menjadi tiga bagian. Bagian utara adalah untuk tujuh suku (48:1-8), bagian selatan adalah untuk lima suku (ay. 23-28), dan bagian tengah, yaitu bagian yang kudus, adalah satu persembahan kepada Allah. Karena Tuhan memberikan seluruh tanah Kanaan kepada umat Israel sebagai porsi mereka, maka Dia meminta mereka untuk mengkhususkan bagian tengah bagi-Nya sebagai satu persembahan. Karena itu, bagian tengah dari tanah itu adalah satu persembahan khusus, yang dikhususkan oleh umat Allah (ay. 8-12).
Di bagian tengah itu ada bidang empat persegi yang panjangnya dua puluh lima ribu hasta dan lebarnya dua puluh lima ribu hasta. Satu tali pengukur sama dengan enam hasta. Dua puluh lima ribu hasta menunjukkan lima, angka tanggung jawab, dikalikan dengan lima ribu. Betapa besarnya tanggung jawab yang ditunjukkan di sini!
Empat persegi ini disebut persembahan kudus yang khusus dan dibagi menjadi tiga bagian. Bagian tengah adalah dua puluh lima ribu hasta dari sebelah timur sampai sebelah barat dan sepuluh ribu hasta lebarnya dari utara ke selatan. Ini adalah bagian untuk bait; ini juga adalah bagian yang diberikan kepada imam-imam, khususnya kepada anak-anak Zadok, karena kesetiaan mereka (ay. 11). Bagian tengah ini menjadi warisan mereka, di mana ada itu adalah bagian untuk bait itu. Ini menunjukkan bahwa imam-imam, yaitu anak-anak Zadok, adalah orang-orang yang paling dekat kepada Tuhan. Tuhan bahkan tinggal di warisan mereka, di bagian mereka. Warisan mereka adalah tempat kediaman Tuhan.
Bagian kedua, di sebelah selatan, juga dua puluh lima ribu hasta panjangnya dan sepuluh ribu hasta lebarnya. Bagian ini adalah milik orang-orang Lewi yang melayani ke rumah itu dan melayani umat itu dan yang membantu di dalam segala urusan pelayanan dengan kurban-kurban persembahan. Orang-orang Lewi ini dekat kepada Tuhan tetapi tidak sedekat para imam (ay. 13).
Bagian ketiga, di sebelah utara, diukur dua puluh lima ribu hasta panjangnya dan lim ribu hasta lebarnya. Bagian ini adalah untuk kota (ay. 15). Kota itu ada dibagian tengah dari bagian di sebelah utara ini. Sisa bagian ini adalah milik orang-orang yang berjerih lelah, yaitu para pekerja, di kota itu. Dari semuanya ini, kita bisa melihat bahwa tanah untuk persembahan kudus yang khusus ini dibagi menjadi tiga bagian: satu bagian untuk imam-imam, satu bagian untuk orang-orang Lewi, dan satu bagian lagi untuk kota dengan semua pekerjanya.
Peta yang memperlihatkan pembagian tanah kudus ini menunjukkan bahwa di samping tanah untuk persembahan kudus yang khusus ini, masih ada beberapa sisa dari tanah itu di sebelah barat dan di sebelah timur. Dua bagian tanah ini sebagai satu bagian yang tersisa diatur dan diberikan kepada raja, kepada keluarga raja (ay. 21).
Kedekatan Suku-suku kepada Kristus itu Tidaklah Sama
Pembagian tanah dan penempatan suku-suku di bagian khusus mereka dari tanah itu sangat bermakna. Gambaran ini menunjukkan kepada kita bahwa dari Dan di sebelah utara sampai Gad di sebelah selatan, seluruh bangsa Israel itu menikmati Kristus, tetapi kedekatan mereka kepada Kristus itu tidaklah sama. Orang-orang yang paling dekat kepada Kristus adalah imam-imam, yaitu anak-anak Zadok yang setia. Di sisi mereka ada orang-orang Lewi dan orang-orang yang bekerja di kota. Di samping orang-orang ini ada keluarga raja. Jadi, setiap suku menikmati Kristus, tetapi jarak mereka dari Kristus itu berbeda-beda.
Kedekatan suku-suku itu kepada Kristus menentukan kepentingan mereka. Orang-orang yang paling penting adalah imam-imam, yang adalah orang-orang yang paling dekat kepada Kristus dan yang memelihara persekutuan di antara umat itu dengan Tuhan. Orang-orang Lewi adalah orang-orang yang selanjutnya yang dekat kepada Tuhan, dan mereka memelihara pelayanan kepada Tuhan. Pelayanan kepada Tuhan itu baik, tetapi tidak sebaik persekutuan. Pelayanan mereka, yang diperlukan itu, tidaklah senilai dan semustika persekutuan. Kemudian para pekerja bagi kota itu adalah orang-orang yang ketiga yang dekat kepada Tuhan. Kota itu adalah simbol dari pemerintahan ilahi, supaya di sana ada satu pekerjaan untuk mempertahankan pemerintahan ilahi. Di sini kita bisa melihat persekutuan, pelayanan, dan pekerjaan untuk mempertahankan pemerintahan ilahi. Selain itu, ada keluarga raja dengan raja dan jabatan raja.
Catatan Yehezkiel menunjukkan bahwa bait itu tidak ada di dalam kota itu melainkan terpisah dari kota itu. Kota menandakan pemerintahan Allah, sedangkan bait menandakan persekutuan Allah. Bait adalah rumah Allah, tempat kediaman Allah, bagi perhentian-Nya, dan kota adalah kerajaan Allah bagi otoritas-Nya.
Adalah penting bila kita menyadari bahwa semua hal ini—persekutuan imam-imam, pelayanan orang-orang Lewi, dan pekerjaan untuk memelihara pemerintahan dan kerajaan Allah—semuanya berasal dari kekayaan-kekayaan dari tanah itu. Ini berarti bahwa semua persekutuan, pelayanan, pekerjaan, pemerintahan, status, kekuasaan, dan jabatan raja berasal dari kenikmatan akan kekayaan-kekayaan Kristus.
Semakin kita menikmati Kristus, maka semakin kita dekat kepada-Nya, dan semakin kita dekat kepada-Nya, kita akan semakin penting di dalam tujuan-Nya. Kita mungkin seperti Dan atau Gad, yang jauh dari hadirat-Nya, namun kita tetap menikmati kekayaan-kekayaan-Nya. Namun, kita tidak begitu penting bagi ekonomi-Nya karena jarak di antara kita dengan Dia. Sebaliknya, imam-imam sangat penting. Bagian mereka, porsi mereka, adalah tempat kediaman Tuhan. Kita semua harus berhasrat untuk berada di dalam kedudukan imam-imam. Kita tidak perlu prihatin tentang siapa yang akan berada di tempat Dan. Tuhan akan memperhatikan hal itu.
Kita harus damba dan berlatih bukan hanya untuk menjadi imam-imam melainkan juga untuk menjadi raja-raja. Wahyu 1:6 mengatakan bahwa Tuhan telah membuat kita menjadi satu kerajaan, menjadi imam-imam bagi Allah dan Bapa-Nya. Sebagai raja-raja dan imam-imam, kita telah ditakdirkan untuk menjadi sangat dekat kepada Tuhan. Karena itu, kita tidak boleh merasa puas menjadi seperti Dan, yang jauh di paling utara dari tanah itu. Kita harus menjadi imam-imam, yaitu anak-anak Zadok, dan raja-raja yang sangat dekat kepada Tuhan. Di dalam kekekalan, kita semua akan menjadi raja-raja dan imam-imam (20:6; 22:35b-5). Kita akan menikmati susu dan madu—semua kekayaan Kristus.
Hari ini kita perlu belajar untuk menikmati Kristus. Bukannya memperhatikan begitu banyak pengajaran dan karunia-karunia, sebaliknya kita harus memperhatikan kekayaan-kekayaan Kristus. Kita bukan ditakdirkan untuk pengajaran-pengajaran dan karunia-karunia; kita telah ditakdirkan untuk bagi kenikmatan akan Kristus. Karena itu, kita perlu belajar untuk menikmati kekayaan-kekayaan Kristus sebagai tanah/negeri yang baik itu. Inilah cara kita untuk terus maju.
KOTA KUDUS
Baik Yehezkiel maupun Wahyu diakhiri dengan sebuah kota. Hanya satu kota di dalam Alkitab yang mempunyai dua belas pintu gerbang dengan dua belas nama dari kedua belas suku Israel, dan inilah kota Yerusalem.
Karena kita pada akhirnya akan menjadi Yerusalem Baru, maka kita harus menerapkan hal-hal yang disinggung di dalam Yehezkiel ini kepada diri kita sendiri. Ini berarti bahwa kita tidak boleh menganggap kata-kata Yehezkiel ini sebagai nubuat-nubuat. Meskipun kitab Yehezkiel berisi nubuat-nubuat, tetapi kita harus menerapkan catatan ini terutama kepada diri kita sendiri, menerapkan poin-poin di dalam Yehezkiel bukan sekadar untuk masa yang akan datang melainkan juga menerapkannya untuk masa sekarang ini.
Perbauran antara Allah dan Manusia
Pada kota ini ada angka 12, yang tersusun bukan dari enam dikali dua melainkan tersusun dari tiga dikali empat. Ini adalah tiga dikali empat karena ada tiga pintu gerbang di empat sisinya, dan secara total adalah dua belas pintu gerbang. Kita perlu ingat bahwa empat adalah angka ciptaan dan tiga adalah angka Allah Tritunggal. Jadi dua belas menandakan perbauran antara Allah Tritunggal dengan ciptaan.
Akhirnya, kota ini bukan hanya merupakan satu perbauran melainkan juga satu pemerintahan yang sempurna dengan satu administrasi yang lengkap. Di dalam Alkitab, angka 12 juga menunjukkan pemerintahan dan administrasi yang sempurna dalam kelengkapan. Ini bukan hanya merupakan satu perbauran antara keilahian dengan keinsanian; ini juga merupakan satu pemerintahan yang sempurna yang berasal dari perbauran ini. Perbauran ini adalah untuk kekekalan. Kota ini, yang dihasilkan dari perbauran, akan melaksanakan otoritas yang penuh bagi administrasi Allah yang lengkap.
Gereja hari ini harus menjadi seperti ini. Ini berarti bahwa gereja harus menjadi perbauran antara Allah dengan manusia. Dari perbauran yang demikianlah akan ada pemerintahan gereja bagi administrasi Allah di bumi ini.
Membuat Semua Orang Yang Masuk Menjadi Satu
Fakta bahwa kota itu mempunyai empat sisi dengan tiga pintu gerbang di setiap sisinya juga menunjukkan bahwa tidak peduli dari sisi mana kita masuk ke kota itu, kita akan berada di dalam kota yang sama. Tidak peduli pintu gerbang mana yang kita masuki, kita akan menjadi satu. Di dalam kota ini, kita tidak mungkin terpecah belah.
Wahyu 21:21 menunjukkan kepada kita bahwa di dalam Yerusalem Baru hanya ada satu jalan. Tidak peduli dari arah mana kita berasal dan tidak peduli pintu gerbang mana yang kita masuki, kita semua akan berada di jalan yang sama. Di jalan ini, ada satu aliran, satu sungai, dengan satu minuman dan satu pohon hayat (22:1-2). Di dalam kota ini, kita semua adalah satu. Kita memiliki satu jalan, satu sungai, satu aliran, satu minuman, satu pohon hayat. Di dalam setiap hal kita adalah satu.
Kitab Yehezkiel disimpulkan dengan kata-kata, “Sejak hari itu nama kota ialah: TUHAN HADIR DI SITU” (48:35b). Allah tinggal di dalam bait, dan Dia juga tinggal di dalam kota itu. Di dalam bait itu Allah memiliki persekutuan dengan umat-Nya, dan di dalam kota itu, Allah memerintah di antara umat-Nya. Ini menunjukkan bahwa Allah telah turun dari surga untuk hidup bersama-sama dengan manusia.
Kita berharap bahwa ini akan menjadi situasi di semua gereja lokal. Di dalam gereja sebagai bangunan-Nya pada hari ini, Allah memiliki bait-Nya, tempat kediaman-Nya, dan Dia juga memiliki kota-Nya bagi administrasi-Nya. Dengan cara ini, gereja menjadi pusat bagi persekutuan dengan Allah dan bagi pemerintahan Allah. Jika kita memiliki kenikmatan yang memadai akan Kristus sebagai sebagai tanah yang baik, maka akan ada satu hasil—bait dan kota. Kapan kala ada bait dan kota di tanah yang baik itu, maka Allah akan memiliki ekspresi-Nya, maka kita akan menikmati Allah dan Allah akan menikmati kita, dan kita dengan Allah akan saling memuaskan.
Pelajaran Hayat
KITAB DANIEL
Berita :
01 02 03 04 05 06 07 08
09 10 11
12 13 14 15 16 17