← Daftar isi Yehezkiel (1) · bab 24/26

IMAM-IMAM DAN KURBAN-KURBAN PERSEMBAHAN

Pembacaan Alkitab:

Yeh. 44:9-30; 45:13-25; 46:1-7, 13-15

Di dalam berita yang terakhir kita melihat bahwa Allah memperhatikan rumah-Nya dan bahwa kedambaan-Nya adalah terhadap rumah-Nya. Karena itu, pekerjaan, perilaku, dan persona kita haruslah menurut bentuk, pola teladan, ketetapan-ketetapan, dan hukum-hukum dari rumah itu (43:10-12). Ini berarti bahwa segala sesuatu yang kita lakukan itu perlu menurut gereja, yang adalah rumah Allah. Standar pengukurannya bukanlah perilaku baik atau kerohanian pribadi; standar pengukurannya adalah gereja. Segala apa adanya kita dan segala yang kita lakukan haruslah diukur, diuji, oleh rumah Allah, yaitu gereja.

Di dalam berita ini, kita akan meliput dua poin utama: pertama, orang yang bagaimana yang layak untuk melayani di dalam rumah Tuhan dan bagaimana orang yang demikian bisa melayani Tuhan; kedua, kurban-kurban persembahan yang dibuat untuk Tuhan. Namun, pertama-tama kita perlu mempersekutukan tentang pintu gerbang tertentu yang harus ditutup.

PINTU GERBANG LUAR DARI TEMPAT KUDUS YANG MENGHADAP KE SEBELAH TIMUR DITUTUP

Yehezkiel 44:1-3 mengatakan, “Kemudian ia membawa aku kembali ke pintu gerbang luar dari tempat kudus, yang menghadap ke timur; gerbang ini tertutup.Lalu TUHAN berfirman kepadaku: "Pintu gerbang ini harus tetap tertutup, jangan dibuka dan jangan seorangpun masuk dari situ, sebab TUHAN, Allah Israel, sudah masuk melaluinya; karena itu gerbang itu harus tetap tertutup.Hanya raja itu, oleh karena ia raja boleh duduk di sana makan santapan di hadapan TUHAN. Raja itu akan masuk melalui balai gerbang dan akan keluar dari situ." Pintu gerbang timur ini spesial karena Allah masuk ke dalam bait melalui pintu gerbang ini (43:1, 4). Pintu gerbang ini ditutup, dan hanya “raja” yang bisa masuk ke dalam melaluinya dan duduk di dalamnya untuk makan roti di hadapan Tuhan. Raja di sini adalah raja di dalam kerajaan milenium yang akan datang, dan raja ini tentunya adalah Kristus. Perkataan tentang pintu gerbang timur ini menunjukkan bahwa Kristus dan Allah memiliki satu kedudukan yang sama, karena setelah Allah masuk melalui pintu ini, maka orang lain satu-satunya yang bisa melalui pintu ini juga adalah Kristus. Hanya Kristus yang bisa masuk dan keluar melalui pintu gerbang ini yang melaluinya Allah telah melewatinya. Ini mewahyukan bahwa Allah dan Kristus memiliki satu porsi yang spesial, yang kudus di antara umat Allah.

IMAM-IMAM

Disunat

Jika kita ingin melayani Tuhan di dalam rumah-Nya, yaitu gereja, maka kita perlu disunat (44:9). Orang-orang yang tidak disunat tidaklah layak untuk melayani di dalam rumah Allah. Sunat melambangkan pemberesan daging, manusia alamiah, dan manusia lama oleh salib. Bagi kita sebagai kaum beriman dalam Kristus, hari ini sunat bukanlah sesuatu yang lahiriah melainkan satu pemberesan yang di dalam terhadap daging, manusia alamiah, dan manusia lama oleh salib. Jika daging kita, manusia alamiah dan manusia lama kita belum dibereskan oleh salib, maka kita tidak layak untuk melayani di dalam kehidupan gereja. Sebaliknya, kita dianggap sebagai orang asing oleh Tuhan. Seorang asing adalah seorang yang tidak bersunat, seorang yang dagingnya, manusia alamiahnya, dan manusia lamanya belum dibereskan oleh salib. Kita mungkin adalah kaum beriman yang sesungguhnya, tetapi jika kita belum dibereskan di dalam daging, manusia alamiah, dan manusia lama kita oleh salib, maka Tuhan menganggap kita sebagai orang-orang asing, yaitu mereka yang tidak layak untuk melayani di dalam kehidupan gereja. Kita perlu membawa perkara ini kepada Tuhan dan bertanya kepada-Nya tentang daging, manusia alamiah, dan manusia lama kita. Hal-hal ini harus dibereskan melalui pekerjaan salib. Hanya dengan demikianlah kita akan disunat dan dilayakkan untuk melayani Tuhan di dalam kehidupan gereja.

Menjadi seperti Anak-anak Zadok

Pada waktu kebanyakan dari umat itu tersesat, ada beberapa dari orang-orang yang bersunat ini juga tersesat (44:10). Meskipun orang-orang ini telah disunat, tetapi mereka menyimpang dari Allah kepada berhala-berhala dengan mengikuti orang-orang yang tersesat itu. Karena orang-orang yang telah disunat ini tersesat, maka kita bisa mengatakan bahwa mereka hanya setengah layak untuk melayani Tuhan. Di satu pihak, mereka layak karena mereka telah disunat; tetapi di pihak lain, mereka tidak layak karena mereka telah menyimpang dari Allah kepada berhala-berhala. Sunat mereka itu melayakkan mereka, tetapi kesesatan mereka itu membuat mereka didiskualifikasi.

Apakah yang harus Tuhan lakukan terhadap mereka, dan apakah sikap-Nya terhadap mereka? Tuhan mengatakan bahwa orang-orang yang demikian bisa melayani di dalam rumah itu, tetapi mereka tidak bisa mendekat kepada Tuhan atau kepada hal-hal yang kudus (ay. 11-14). Mereka bisa melayani di dalam bait dengan membantu umat itu untuk mempersembahkan kurban-kurban persembahan mereka, tetapi mereka tidak bisa mendekat kepada Tuhan dan melayani Dia. Ada beberapa kaum saleh di dalam kehidupan gereja hari ini juga setengah layak. Di satu pihak, mereka telah disunat, tetapi di pihak lain, mereka telah tersesat bersama dengan kebanyakan orang. Mengikuti mayoritas itu menjijikan. Pertimbangkanlah situasi hari ini: Kebanyakan orang-orang Kristen telah meyimpang dari Tuhan kepada berhala-berhala, dan ada beberapa kaum saleh di dalam gerjea telah mengikuti mayoritas dalam hal menyimpang dari Tuhan. Karena mayoritas dari orang-orang Kristen ini telah tersesat, maka mereka telah kehilangan kelayakan dan kedudukan mereka itu untuk melayani Tuhan secara langsung. Mereka mungkin masih memiliki satu bagian dalam pelayanan gereja, tetapiadalah satu pelayanan yang tidak langsung kepada Tuhan.

Kita semua perlu menjadi seperti anak-anak Zadok, yang disunat dan yang mutlak setia kepada Tuhan. Mereka tidak pernah tersesat, dan mengikuti kebanyakan orang. Mereka telah disunat dan mereka selalu jujur dan setia kepada Tuhan (ay. 15-16). Karena itu, mereka bisa melayani Tuhan secara langsung. Tuhan mengatakan bahwa mereka bisa mendekat kepada Dia dan melayani Dia secara langsung. Mereka tidak dibatasi sekadar melayani orang-orang; mereka bisa melayani Tuhan itu sendiri.

Saya harap tidak ada seorang pun di antara kita yang setengah layak. Saya harap agar kita semua akan dilayakkan sepenuhnya: disunat, jujur, tidak pernah menyimpang, dan tidak pernah mengikuti mayoritas.

Mempersembahkan Lemak dan Darah

Pada kejadian ini, kita perlu melihat bagaimana orang-orang yang telah disunat, setiap, dan layak itu melayani Tuhan. Pertama, mereka melayani dengan mempersembahkan lemak dan darah dari kurban-kurban persembahan (ay. 15). Bagian yang paling berharga dari kurban-kurban persembahan ini adalah lemak, yang melambangkan persona yang mustika dari Tuhan Yesus. Lemak melambangkan kemustikaan persona Tuhan, sedangkan darah menandakan pekerjaan penebusan Kristus. Singkatnya, lemak menandakan persona Kristus dan darah menandakan pekerjaan Kristus. Di dalam pelayanan kita kepada Allah, kita harus mempersembahkan kepada-Nya persona Kristus yang mustika dan pekerjaan penebusan Kristus.

Tidak Mengenakan Pakaian dari Bulu Domba

Ketika imam-imam datang untuk melayani Tuhan, mereka tidak diizinkan untuk mengenakan pakaian dari bulu domba (ay. 17). Sebaliknya, ketika mereka berada di hadirat Tuhan untuk melayani Dia, mereka harus mengenakan pakaian lenan. Di dalam Alkitab, lenan menandakan perilaku, penghidupan yang murni, bersih, dan halus. Pakaian lenan menandakan satu penghidupan dan perjalanan sehari-haris di dalam Roh pemberi hayat oleh hayat Kristus.

Imam-imam tidak diizinkan mengenakan pakaian dari bulu domba karena pakaian dari bulu domba itu akan membuat para imam itu terlalu hangat dan menyebabkan mereka berkeringat. Menurut Kejadian 3:19, keringat adalah tanda berada di bawah kutukan Allah. Karena kejatuhan, manusia berada di bawah kutukan Allah, ia harus berjerih lelah dan berkeringat. Dengan berada di bawah kutuk ini, manusia kekurangan berkat Allah, dan harus memakai energi dan kekuatannya, yang menyebabkan menjadi berkeringat. Di dalam pelayanan Tuhan, kita tidak perlu memakai kekuatan kita sendiri. Bila kita memakai kekuatan kita sendiri untuk berusaha dan berjuang, maka ini membuktikan bahwa kita tidak berada di bawah berkat Tuhan, melainkan berada di bawah kutukan Tuhan.

Di dalam pelayanan gereja dalam pemulihan Tuhan, kita perlu menghindarkan diri dan bahkan menyelamatkan diri dari segala jenis kekuatan diri sendiri, perjuangan diri sendiri dan usaha diri sendiri. Kita tidak boleh mendorong sesuatu. Jika satu perkara tertentu itu berasal dari Tuhan, maka Tuhan tentu akan mengaruniakan berkat-Nya yang melimpah ke atasnya dan mengerjakan perkara itu. Kita tidak perlu mendorong, berusaha, berjuang, dan menghabiskan energi kita untuk mengerjakan sesuatu. Kita tidak boleh melakukan sesuatu yang menyebabkan kita untuk “berkeringat.” Di dalam pelayanan gereja, kita semua perlu berada di dalam Roh pemberi hayat oleh hayat Kristus dan tidak memakai kekuatan alamiah kita untuk mendorong sesuatu. Sebaliknya, kita seringkali perlu mundur sedikit dan memberikan kesempatan kepada orang lain. Berbuat demikian berarti memberi Tuhan masuk dan menempatkan tanggung jawab kepada-Nya untuk perkara yang kita prihatinkan itu. Maka kita akan dapat mengatakan, “Aku meminta kepada-Mu, Tuhan, pikullah beban ini. Ini akan meneguhkan bebanku sehingga aku dapat mengenal bahwa ini benar-benar berasal daripada-Mu.” Kiranya kita sadar bahwa kita tidak perlu berjuang atau berselisih dengan orang lain dalam pelayanan kita kepada Tuhan.

Menanggalkan Pakaian yang Mereka Pakai dalam Melayani dan Menyimpannya dalam Bilik-bilik Kudus

Yehezkiel 44:19 mengatakan, “Dan waktu mereka keluar ke pelataran luar menjumpai umat TUHAN itu, mereka harus menanggalkan pakaian mereka yang mereka pakai dalam menyelenggarakan kebaktian dan menyimpannya dalam bilik-bilik kudus, kemudian mengenakan pakaian yang lain.” Di sini kita melihat bahwa ketika imam-imam pergi ke pelataran luar kepada umat itu, mereka harus menanggalkan pakaian yang mereka pakai dalam melayani dan menyimpannya di dalam bilik-bilik kudus dan kemudian mengenakan pakaian lainnya. Ini menunjukkan bahwa imam-imam tidak diizinkan untuk mencapuradukkan apa yang kudus dengan apa yang tidak kudus melainkan harus menjaga pemisahan di antara yang kudus dan yang tidak kudus. Jika kita hari ini ingin berdiri di dalam kedudukan seorang imam, maka kita harus menjaga pemisahan semacam ini. Allah tidak mengizinkan percampuran; Dia menuntut kita untuk dipisahkan kepada-Nya.

Rambut Mereka Harus Dipotong Pendek

Perkara lainnya mengenai imam-imam yang datang untuk melayani Tuhan adalah rambut mereka. “Rambut mereka tidak boleh dicukur atau dibiarkan tumbuh panjang, melainkan harus dipotong pendek.” (ay. 20). Ayat ini mengatakan bahwa imam-imam tidak boleh mencukur rambut kepala mereka, yaitu mencukur seluruh rambut mereka, ataupun mereka membiarkan rambutnya tumbuh panjang. Sebaliknya, mereka harus menggunting rambut mereka, yang berarti memotong pendek.

1 Korintus 11:5 menunjukkan bahwa memotong, atau mencukur seluruh rambut kita menandakan pemberontakan terhadap kekepalaan Tuhan. Dalam melayani Tuhan, kita jangan memberontak terhadap otoritas-Nya. Sebaliknya, kita harus tunduk kepada kekepalaan Tuhan. Untuk ini, kita perlu beberapa rambut di kepala kita, yang menandakan ketundukkan kita kepada kekepalaan Tuhan. Di lain pihak, 1 Korintus 11 memberi tahu kita bahwa memiliki rambut panjang menunjukkan kemuliaan diri sendiri dan kehormatan diri sendiri (ay. 15). Kita bahkan memakai istilah lainnya—kenikmatan diri. Di dalam Alkitab, rambut panjang menandakan keelokan dan kemuliaan. Jika seorang laki-laki memelihara rambutnya tetap panjang, maka ini menunjukkan bahwa ia memelihara kemuliaan dirinya dan kehormatan dirinya dan bahwa ia memenuhi kesenangannya dan kenikmatan dirinya. Ia hanya menikmati rambutnya yang panjang.

Poin-poin mengenai rambut ini bisa diterapkan kepada kehidupan gereja. Misalnya seorang saudara mempunyai sikap bahwa ia tidak perlu berada di bawah siapa pun; ia merdeka dan mengklaim bahwa ia sama dengan setiap anggota lain di dalam Tubuh. Ia bahkan mengutip perkataan Tuhan di dalam Matius 23:8 dalam membela sikapnya itu. Baginya mempunyai sikap yang demikian itu menunjukkan bahwa, secara rohani, ia telah mencukur semua rambutnya dan tidak tunduk kepada kekepalaan Tuhan. Ya, Matius 23:8 memang mengatakan bahwa kita semua adalah saudara, tetapi 1 Petrus 5:5 mengatakan bahwa yang muda harus tunduk kepada yang tua dan bahwa kita semua harus tunduk kepada satu sama lain. Dalam kehidupan gereja, kita perlu ketundukkan yang tepat. Karena itu, kita tidak boleh mencukur kepala kita.

Sekarang kita perlu melihat bahwa, secara rohani, memiliki rambut panjang dalam kehidupan gereja, menandakan kemuliaan diri sendiri, yaitu berarti damba dan menuntut untuk menjadi seorang pemimpin. Satu masalah di dalam kehidupan gereja adalah kekurangan ketundukkan, dan yang lainnya adalah damba terhadap kedudukan dan jabatan pemimpin. Menuntut satu kedudukan di dalam gereja itu berarti mencari kemuliaan diri sendiri dan kehormatan diri sendiri. Ada beberapa yang menuntut untuk menjadi seorang penatua atau menajdi seorang pemimpin. Penuntutan semacam ini bukanlah satu kemuliaan; ini adalah satu hal yang memalukan. Menuntut jabatan pemimpin atau mencari kemuliaan diri macam apa pun adalah satu hal yang memalukan. Ini akan membunuh kita secara rohani dan mendiskualifikasi kita dari melayani Tuhan dengan tepat. Jika kita ingin layak melayani Tuhan, maka kita tidak boleh mencukur kepala kita, yang berarti bahwa kita harus memiliki satu ketundukkan yang tepat, dan kita tidak boleh membiarkan rambut kita tumbuh panjang, yang berarti bahwa kita tidak boleh mencari kemuliaan diri sendiri, kehormatan diri sendiri, kedudukan, dan jabatan pemimpin.

Baik kekurangan ketundukkan maupun mencari satu kedudukan keduanya akan merusak gereja. Siapa saja yang menuntut jabatan pemimpin di dalam kehidupan gereja akan didiskualifikasikan dan akan habis dalam kehidupan gereja. Saya berterima kasih kepada Tuhan bahwa banyak saudara yang telah menerima kasih karunia dari Tuhan dan tidak memiliki kedambaan untuk menuntut jabatan pemimpin. Namun, ada beberapa saudara yang bukan hanya damba untuk menjadi seorang penatua melainkan juga menjadi kepala di antara para penatua. Ini berarti membiarkan rambut seseorang itu tumbuh panjang, yaitu, mencari kemuliaan diri sendiri.

Secara rohani, kita perlu menjaga potongan rambut yang pantas. Kita perlu memotong rambut kita, yaitu, memiliki satu potongan yang pantas. Di satu pihak, kita tunduk kepada otoritas Tuhan. Di lain pihak, kita tidak menuntut untuk menjadi seorang pemimpin. Bukannya menuntut untuk menjadi seorang pemimpin, sebaliknya kita malah harus dengan sederhana meministrikan hayat kepad aorang lain dan menopang kehidupan gereja dengan kasih karunia-Nya. Kita harus melakukan segala sesuatu yang bisa kita lakukan bagi gereja tanpa menuntut untuk memiliki satu kedudukan atau untuk menjadi seorang pemimpin. Sikap yang demikian ini sangat indah.

Tidak Minum Anggur

“Imam-imam tidak boleh minum anggur, kalau mereka hendak masuk dalam pelataran dalam” (44:21). Di sini kita diberitahu bahwa imam-imam yang melayani Tuhan secara langsung di pelataran dalam tidak diizinkan untuk minum anggur. Anggur menandakan kesenangan dan sukacita yang duniawi, yang fisik. Orang-orang yang melayani Tuhan secara langsung tidak boleh berhubungan dengan “anggur” kesenangan-kesenangan duniawi.

Tidak Mengambil seorang Janda atau Perempuan

yang telah Diceraikan untuk menjadi Istri-istri Mereka

Ayat 22 mengatakan, “Janda atau seorang perempuan yang telah diceraikan oleh suaminya jangan mereka ambil menjadi isteri, tetapi hanya seorang perawan dari keturunan kaum Israel, atau seorang janda imam boleh mereka ambil.” Ini menandakan bahwa di dalam kontak dan hubungan kita dengan orang lain, kita perlu murni dan tidak rumit. Namun, jika kita mengontaki orang lain dengan cara yang tidak murni, maka kita akan dicemarkan dengan satu elemen yang tidak murni.

Mengajarkan kepada Umat Allah Perbedaan di antara

yang Kudus dan yang tidak Kudus

Ayat 23 melanjutkan, “Mereka harus mengajar umat-Ku tentang perbedaan antara yang kudus dengan yang tidak kudus dan memberitahukan kepada mereka perbedaan antara yang najis dengan yang tahir.” Seorang imam harus cakap mengajar umat Allah apa yang kudus dan yang tidak kudus dan apa yang tahir dan apa yang najis. Seorang yang mendekati Allah sebagai seorang imam harus dapat membedakan hal-hal ini dan juga bisa mengajar orang lain untuk membedakan.

Berdiri di hadapan Allah untuk Menghakimi dalam Pertengkaran

Ayat 24a mengatakan, “Di dalam sesuatu perkara mereka harus bertindak sebagai hakim dan mereka harus menghakiminya menurut peraturan-peraturan-Ku.” Ketika ada satu pertengkaran, kelompok-kelompok yang terlibat harus datang ke hadapan imam. Kemudian imam akan memberikan satu penghakiman, bukan menurut opininya sendiri melainkan menurut peraturan-peraturan Allah. Jika, sebagai orang-orang yang takut akan Allah dan mendekati Allah, kita diminta untuk membereskan satu pertengkaran, maka kita perlu bertanya kepada Allah apa yang akan Dia katakan tentang perkara ini dan kemudian kita harus menghakimi menurut kehendak Allah. Ini berarti bahwa dalam membantu untuk memecahkan perkara-perkara yang sulit, kita perlu berdiri di hadapan Tuhan dengan satu hati yang takut. Kemudian kita perlu menjamah perasaan Tuhan dan menghakimi menurut perasaan itu.

Memelihara Hukum-hukum Allah dan Ketetapan-ketetapan di dalam Hari-hari Raya Allah

“Mereka harus berpegang pada hukum-hukum-Ku dan ketetapan-ketetapan-Ku pada hari-hari raya-Ku” (ay. 24b). Semua hari raya, atau “ketetapan-ketetapan” berhubungan dengan kisah keselamatan Allah yang penuh kurnia. Jadi, jika kita ingin melayani Allah sebagai imam-imam, maka kita perlu mengingat kisah keselamatan Allah yang penuh kurnia, termasuk penyaliban, kebangkitan, dan kenaikan-Nya dan pencurahan Roh Kudus.

Menguduskan Hari-hari Sabat

“Dan mereka harus menguduskan hari-hari Sabat-Ku” (ay. 24c). Sabat menunjukkan bahwa Allah telah melakukan segala sesuatu; karena itu, Allah beristirahat. Memelihara atau menguduskan Sabat berarti bahwa kita menerima segala yang telah Allah lakukan dan beristirahat di dalam segala yang telah Allah genapkan. Bukannya berusaha untuk melakukan sesuatu sebagai tambahan untuk apa yang telah dilakukan Allah, sebaliknya kita malah harus secara sederhana menikmati apa yang telah Allah lakukan dan mengambil apa yang telah digenapkan-Nya sebagai kepuasan dan perhentian kita. Ini berarti bahwa kita tidak bergantung kepada apa yang kita lakukan melainkan kepada apa yang telah Allah lakukan.

Tidak Dicemari oleh Orang-orang Mati

Seorang imam yang melayani Tuhan secara langsung di hadirat-Nya tidak boleh dicemarkan dengan orang mati manapun (ay. 25). Ini berarti bahwa kita tidak boleh mengontaki orang-orang yang secara rohani mati. Kita tidak boleh menjamah “mayat-mayat” apa pun. Secara rohani, banyak orang Kristen yang mati, bahkan sampai kepada poin membusuk. Jika Anda mengontaki mereka dan mendengarkan mereka, maka mereka akan menyebabkan Anda menjadi mati, jika tidak seluruhnya, mati sebagian. Dengan tidak memiliki sesuatu yang positif untuk dikatakan, mereka hanya akan membicarakan hal-hal yang negatif kepada Anda, mungkin mengkritik para penatua, para sekerja, atau berbagai kaum saleh. Mengontaki orang-orang yang mati demikian bisa menyebabkan kita menjadi mati dan negatif. Jadi, bila kita sadar bahwa kita berada di hadapan orang semacam ini, maka kita harus menghindar untuk berkontak dengannya. Jika tidak demikian, kita akan dicemari oleh kematiannya.

Dicemarkan oleh kematian itu lebih serius daripada dicemarkan oleh sesuatu yang penuh dengan dosa. Jika kita dicemarkan oleh sesuatu yang penuh dengan dosa, kita bisa mengakui, menerima penerapan darah Kristus, dan dengan segera dibersihkan (1 Yoh. 1:9). Namun, jika kita dicemarkan oleh kematian, maka itu akan memerlukan sejangka waktu sebalum kita bisa dibersihkan dan dimurnikan dari pencemaran ini (cf. Bil. 19:11).

Ada beberapa dari kita yang memiliki pengalaman semacam ini. Setelah meluangkan hanya sedikit waktu dengan seorang kaum beriman yang secara rohani mati dan negatif, maka kita menemukan bahwa kita tidak bisa berdoa atau berfungsi di dalam sidang-sidang untuk sejangka waktu, mungkin beberapa hari. Ini seharusnya memperingatkan kita tentang meluangkan waktu bersama dengan orang-orang mati. Jahilah mereka! Janganlah Anda mengira bahwa Anda bisa membantu mereka. Sebaliknya, kematian mereka akan menyebar kepada Anda. Mereka yang secara rohani mati mungkin sangat hidup dalam hubungannya dengan hal-hal duniawi atau hal-hal negatif, tetapi dalam hubungannya dengan gereja mereka itu mati. Sejauh hubungannya dengan kehidupan gereja, mereka itu mati. Jika kita ingin melayani Tuhan secara langsung, maka kita harus menjauhi orang-orang mati dan dengan demikian menjaga diri kita dari pencemaran maut.

Mempersembahkan Kurban Penghapus Dosa

“Dan pada hari ia masuk lagi ke tempat kudus, ke pelataran dalam, untuk menyelenggarakan kebaktian di tempat kudus, ia harus mempersembahkan korban penghapus dosanya” (Yeh. 44:27). Kapan saja kita mendekati Allah, kita perlu mempersembahkan kurban penghapus dosa, sekalipun kita tidak sadar akan kenajisan kita. Setiap kali kita datang mendekati Allah, kita perlu menerapkan penebusan Tuhan dan menerima pembasuhan darah-Nya yang mustika.

Hanya Memiliki Allah sebagai Harta Kekayaan Mereka

“Akulah milik pusakanya, dan janganlah berikan kepada mereka tanah milik di Israel, sebab Akulah milik mereka” (ay. 28b). Ini mewahyukan bahwa imam-imam tidak memiliki harta kekayaan lain selain Allah. Harta kekayaan mereka adalah Allah itu sendiri, dan mereka menikmati Allah sebagai suplai mereka. Semua orang yang melayani ini hanya memiliki Allah itu sendiri sebagai warisan mereka, harta kekayaan mereka. Ini menunjukkan bahwa sebagai imam-imam hari ini, kita tidak boleh berharap untuk menjadi kaya secara fisik, yaitu kaya dalam harta kekayaan materi. Sebaliknya, kita perlu sadar bahwa Allah kita, yang kita layani, adalah harta kekayaan kita, warisan kita.

Menikmati Kekayaan-kekayaan Kristus

Terakhir, semua imam menikmati kekayaan-kekayaan Kristus. Semua persembahan khusus, semua buah sulung, dan semua hasil utama dari umat Tuhan adalah milik dari orang-orang yang melayani ini (ay. 29-30). Ini menunjukkan bahwa kekayaan-kekayaan Kristus adalah bagi kenikmatan mereka. Mereka memiliki Allah sebagai harta kekayaan mereka, dan mereka memiliki Kristus di dalam segala aspek kekayaan-Nya sebagai kenikmatan mereka. Kiranya kita semua melayani Tuhan dengan cara demikian.

KURBAN-KURBAN PERSEMBAHAN

Memerlukan Kekayaan dalam Pengalaman akan Kristus

Kewajiban imam adalah mempersembahkan kurban-kurban persembahan kepada Allah. Mengenai hal ini, catatan dalam Yehezkiel mungkin kelihatannya ganjil. Musa menyuruh umat Tuhan untuk mempersembahkan kepada Allah seekor anak domba dari sepuluh ekor, tetapi Yehezkiel menyuruh mereka untuk mempersembahkan seekor anak domba dari dua ratus ekor (45:15). Ini menunjukkan bahwa jika kita tidak menghasilkan jumlah yang besar dari kenikmatan akan Kristus, maka kita tidak layak untuk mempersembahkan sesuatu. Sesuau yang kurang dari dua ratus ekor anak domba itu tidaklah memadai. Jika kita ingin layak untuk mempersembahkan seekor anak domba, maka kita harus terlebih dahulu membangkitkan dua ratus ekor anak domba. Ini berarti bahwa kekayaan kita dalam pengalaman akan Kristus melayakkan kita untuk mempersembahkan sesuatu.

Prinsip ini sama dengan gandum dan jelai. Yehezkiel 45:13 mengatakan, “Inilah persembahan khusus yang kamu harus persembahkan: seperenam efa dari sehomer gandum dan seperenam efa dari sehomer jelai.” Sehomer itu sama dengan sepuluh efa, dan persembahan itu haruslah seperenam efa. Jadi, seseorang dituntut untuk mempersembahkan satu bagian dari enam puluh bagian. Ini berbeda dengan tuntutan Musa, yaitu satu bagian dari sepuluh bagian. Mereka yang mempunyai kurang dari satu homer gandum tidak layak untuk mempersembahkan sesuatu. Jika seseorang mempunyai satu homer gandum, maka ia layak untuk mempersembahkan seperenamnya kepada Allah. Untuk mempersembahkan persembahan dari gandum, seseorang harus kaya akan gandum. Berkebalikan dengan tuntutan Musa, tuntutan Yehezkiel memaksa kita untuk menjadi kaya.

Persembahan minyak juga memerlukan satu suplaian yang berlimpah. Yehezkiel 45:14 mengatakan, “Tentang ketetapan mengenai minyak: sepersepuluh bat dari satu kor; satu kor adalah sama dengan sepuluh bat. Satu homer sama dengan sepuluh bat, dan umat itu disuruh untuk mempersembahkan sepersepuluh bat. Mempersembahkan sepersepuluh bat dari satu homer berarti mempersembahkan satu persen. Seseorang harus kaya akan hasil dari Kristus untuk mempersembahkan persembahan dari minyak kepada Tuhan.

Orang-orang yang tidak kaya tidak layak untuk mempersembahkan sesuatu. Persembahan gandum dan jelai haruslah seperenampuluh; persembahan minyak, seperseratus; dan persembahan dari anak-anak domba, seperduaratus.

Tiga Kategori tentang Persembahan-persembahan Unjukan

Dalam tulisan-tulisan Musa, ada banyak jenis persembahan unjukkan, tetapi Yehezkiel hanya menyinggung tiga kategori untuk persembahan unjukan: gandum dan jelai, minyak dan anak-anak domba. Persembahan unjukkan adalah yang diunjukkan ke udara yang menandakan Kristus yang naik, Kristus yang mahatinggi. Di dalam pelayanan kita kepada Allah, kita perlu “mengunjukan” Kristus, yaitu mempersembahkan Kristus yang naik, Kristus yang mahatinggi, kepada Allah.

Di dalam buku Kristus yang Almuhit, kita menunjukkan bahwa gandum menandakan Kristus yang berinkarnasi untuk mati bagi kita. Di dalam Yohanes 12:24, Tuhan Yesus menyerupakan diri-Nya dengan sebutir gandum yang jatuh ke dalam tanah dan mati. Dari inkarnasi-Nya sampai penyaliban-Nya, Dia adalah gandum. Jelai menandakan Kristus dalam kebangkitan, karena di Palestina, jelai adalah butiran gandum pertama yang dituai. Jadi, jelai menandakan buah sulung dari kebangkitan. Adalah bermakna bahwa Tuhan Yesus memberi makan lima ribu orang dengan roti yang terbuat dari jelai (Yoh. 6:9). Gandum dan jelai menandakan Kristus dari waktu inkarnasi-Nya sampai kepada kebangkitan-Nya. Seperti yang kita ketahui, anak domba menandakan Kristus yang menebus, dan minyak menandakan Roh Kudus. Ini adalah aspek-aspek utama dari persembahan unjukan yang perlu kita persembahkan di dalam pelayanan kita. Semuanya ini berhubungan dengan Kristus, karena Kristus adalah gandum, jelai, anak domba, dan minyak.

Kapan untuk Mempersembahkannya

Persembahan Tahunan

Menurut catatan Yehezkiel, ada persembahan tahunan, persembahan bulanan, persembahan mingguan, dan persembahan sehari-hari. Persembahan tahunan dipersembahkan pada hari pertama dari tahun itu, yang menandakan bahwa, secara prinsip, setiap tahun kita harus memiliki satu permulaan yang baru (45:18-19). Setiap tahun kita perlu satu pembasuhan dan pembersihan yang segar. Persembahan tahunan bukan hanya dipersembahkan pad ahari pertama dari tahun itu melainkan juga pada hari ketujuh dari tahun itu (ay. 20). Ini menunjukkan periode kemurahan bagi umat itu. Ada beberapa yang tidak siap pada hari pertama dari tahun itu untuk sepenuhnya membersihan situasi mereka dan dibersihkan, maka Tuhan memberikan kesempatan lainnya kepada mereka pada hari ketujuh. Jika mereka kehilangan hari pertama, maka mereka memiliki kesempatan lainnya pada hari yang ketujuh.

Menurut prinsipnya, pada permulaan dari setiap tahun, kita perlu memiliki satu pembaharuan dalam pelayanan kita bagi Tuhan. Pada permulaan dari setiap tahun, kita memerlukan satu permulaan yang baru di dalam pelayanan kita.

Persembahan Bulanan

Juga ada persembahan bulanan pada waktu bulan baru. Kapan saja ada satu bulan baru, maka satu persembahan haruslah dibuat (46:6). Bulan baru juga menunjukkan bsatu permulaan yang baru. Kita memerlukan satu permulaan yang baru bukan hanya setiap tahun melainkan juga setiap bulan.

Persembahan Mingguan

Selain itu, ada satu persembahan mingguan. Satu persembahan harus dibuat setiap minggu pada hari Sabat (ay. 4). Sabat bukan hanya berarti bahwa kita memiliki satu perpalingan yang baru melainkan juga bahwa kita sedang menikmati pekerjaan Tuhan. Memelihara Sabat itu berarti bahwa kita menghentikan pekerjaan kita dna menikmati apa yang telah Tuhan lakukan. Memelihara Sabat menunjukkan bahwa kita tidak bersandar di dalam pekerjaan kita melainkan sepenuhnya bersandar dan menikmati pekerjaan Tuhan. Kita perlu dapat mengumumkan kepada alam semesta, “Pekerjaan kita telah berhenti dan kita sedang menikmati pekerjaan Tuhan.” Inilah prinsip Sabat.

Persembahan Sehari-hari

Juga ada satu persembahan sehari-hari (ay. 13). Persembahan sehari-hari di dalam Yehezkiel ini berbeda dengan persembahan sehari-hari yang dituntut oleh Musa. Musa mengatakan bahwa secara terus menerus setiap hari kurban bakaran itu harus ada di pagi hari dan petang hari, tetapi di dalam Yehezkiel, tidak ada persembahan di petang hari. Saya percaya bahwa in imenunjukkan bahwa di dalam pelayanan dari imam-imam tidak ada petang hari; mereka terus menerus berada di dalam kesegaran dari pagi hari. Situasi di dalam Yehezkiel telah meningkat sampai kepada poin bahwa tidak ada petang hari, hanya ada pagi hari. Tidak ada matahari terbenam, hanya ada matahari terbit.

Persembahan-persembahan pada Hari-hari Raya yang Ditetapkan

Selain persembahan tahunan, bulanan, mingguan, dan sehari-hari, juga ada persembahan-persembahan pada hari-hari raya yang ditetapkan—pada Hari Raya Paskah, Hari Raya Roti Tidak Beragi, dan Hari Raya Tabernakel (54:21, 25). Puji Tuhan untuk persembahan-persembahan dan hari-hari raya!

Sekarang kita mengenal imam-imam macam apa yang ktia perlukan untuk melayani Tuhan dan apa yang kita perlukan untuk dipersembahkan kepada Tuhan.