← Daftar isi Yehezkiel (1) · bab 23/26

BANGUNAN DI BELAKANG, TEMBOK, MEZBAH UKUPAN, RUANG KUDUS, DAN TEMPAT MEMASAK

Pembacaan Alkitab:

Yeh. 41:12-20, 22-25; 42:1-20; 46:19-20

Dalam berita ini, kita akan mempertimbangkan bangunan di belakang bait, mezbah ukupan di dalam bait, ruang kudus di samping bait, dua tempat memasak dimana imam menyiapkan persembahan-persembahan, dan tembok.

BANGUNAN DI BELAKANG BAIT

Di masa lampau, saya menghabiskan banyak waktu mempertimbangkan bangunan di belakang bait (41:12-14) dan menengadah kepada Tuhan untuk menemukan arti dan tujuan bangunan ini. Kadang-kadang apa yang Alkitab tidak katakan lebih bermakna daripada apa yang dikatakannya. Kita dapat tahu arti dan tujuan kebanyakan dari bangunan di dalam Yehezkiel, tetapi kita tidak dapat menemukan petunjuk mengenai kegunaan bangunan di belakang. Bangunan ini lebih besar daripada bait. Bait berukuran seratus hasta kali enam puluh hasta, tetapi bangunan di belakang itu berukuran seratus hasta kali delapan puluh hasta. Meskipun bangunan ini lebih besar daripada bait, catatannya tidak memberitahu tujuan bangunan ini.

Saat saya mempelajari bangunan ini, Tuhan menunjukkan pada saya bahwa itu melambangkan kekayaan Kristus. Balai melambangkan kepenuhan Kristus, tetapi bangunan di belakang melambangkan kekayaan Kristus. Kita perlu membedakan antara kekayaan Kistus dan kepenuhan Kristus. Kekayaan Kristus adalah apa adanya Kristus. Misalnya, Kristus adalah hayat, terang, realitas, dan jalan. Kepenuhan Kristus adalah gereja sebagai ekspresi Kristus (Ef. 1:22-23). Kepenuhan Kristus berdasarkan pada kekayaan Kristus. Ketika kita mengalami dan menikmati kekayaan Kristus, kita menjadi gereja sebagai kepenuhan Kristus, ekspresi-Nya. Balai menunjukkan kepenuhan Kristus, bangunan di belakang menunjukkan kekayaan Kristus.

Biarkanlah saya memberikan kamu sebuah ilustrasi sederhana bagaimana bangunan di belakang melambangkan kekayaan Kristus. Misalnya, kamu adalah tamu di rumah saudara, daripada memberi kamu kamar untuk tinggal, saudara itu meminta kamu untuk tidur di sofa di ruang tamu. Ini menunjukkan bahwa saudara itu tidak kaya, tetapi miskin. Namun, jika saudara itu menyediakan kamu kamar kosong, luas, yang khusus disiapkan bagi kamu, ini menunjukkan bahwa dia kaya. Poinnya di sini adalah Kristus kita sangat kaya. Kristus begitu kaya sehingga Dia mampu memenuhi semua tuntutan dan semua keperluan baik Allah maupun manusia dan masih memiliki sebuah “bangunan” besar yang tersisa. Bangunan ini menunjukkan bahwa Kristus itu kaya, dengan kelimpahan yang tersisa.

Kita tidak seharusnya mengira bahwa sebagai bangunan Allah, Kristus hanyalah sebanyak yang kita perlukan. Dalam prinsipnya, Kristus sebagai bangunan selalu memiliki sesuatu yang tersisa, dan apa yang tersisa melampaui apa yang digunakan. Kita perlu ingat bahwa lima roti memberi makan lima ribu orang dengan dua belas bakul yang tersisa (Yoh. 6:12-13). Jumlah yang tersisa lebih besar daripada jumlah yang ada di tangan mula-mula. Ini menunjukkan bahwa Kristus tidak terbatas. Di belakang, bagian Kristus yang kita perlukan bahkan adalah bagian yang lebih besar yang “kosong”. Tidak seperti bangunan apartemen yang menampilkan tanda yang mengatakan “Tidak ada yang kosong”, dengan Kristus “tanda”-nya selalu mengatakan “Kosong”. Karena kekayaan Kristus tidak terduga, Dia adalah “bangunan” yang selalu “kosong”.

Ukuran bangunan ini—seratus hasta kali delapan puluh hasta—adalah bermakna. Delapan puluh adalah sepuluh kali delapan. Angka delapan melambangkan kebangkitan, dan angka sepuluh melambangkan kepenuhan. Oleh karena itu angka delapan puluh menunjukkan kebangkitan dalam kepenuhan. Lagipula, luas bangunan ini adalah delapan ribu hasta persegi, yaitu, seratus kali delapan puluh. Dengan kata lain, itu adalah seratus kali kebangkitan.

Dimensi dari bangunan di belakang meliputi tembok, yang adalah lima hasta tebalnya pada keempat sisi. Kapasitas sebenarnya dari banguan adalah tujuh puluh hasta kali sembilan puluh hasta (Yeh. 41:12). Angka ini juga bermakna. Tujuh puluh adalah sepuluh kali tujuh, sembilan puluh adalah sepuluh kali sembilan, dan sembilan adalah tiga kali tiga. Angka-angka ini menunjukkan kelengkapan (tujuh), kepenuhan (sepuluh), kebangkitan (delapan), dan Allah Tritunggal (tiga). Semua ini menunjukkan pada kita betapa kayanya Kristus itu.

UKURAN BAIT DAN AREA YANG TERPISAH

DI DEPANNYA DAN DI BELAKANGNYA

Yehezkiel 41:13-15 memberi kita ukuran bait dan area yang terpisah di depan dan di belakangnya: “Lalu ia mengukur Bait Suci itu: seratus hasta panjangnya dan lapangan tertutup bersama bangunan dan dindingnya: seratus hasta juga; begitu juga lebarnya muka Bait Suci bersama lapangan tertutup sebelah timur: seratus hasta. Kemudian ia mengukur panjang bangunan yang terdapat di lapangan tertutup sebelah barat bersama serambi-serambinya di kedua belah: seratus hasta. Ruang besar, ruang dalam dan balai luar”. Bait itu adalah seratus hasta panjangnya, dan lebar dari bagian depan bait dan area yang terpisah sepanjang sebelah timur totalnya seratus hasta. Lebar bagian tengah adalah dua puluh hasta (ay. 2, 4). Tebal dua sisi tembok seluruhnyan dua belas hasta, dengan masing-masing sisi enam hasta (ay. 5). Lebar balai adalah empat hasta pada masing-masing sisinya, seluruhnya delapan hasta (ay. 5). Tebal tembok luar dari balai adalah lima hasta pada masing-masing sisinya, seluruhnya sepuluh hasta (ay. 9). Lebar dari ruang yang tersisa sepanjang balai adalah lima hasta pada kedua sisinya, seluruhnya sepuluh hasta (ay. 9). Ketika kita menambahkan semua ini, kita memiliki enam puluh hasta. Area yang terpisah antara balai-balai milik bait dan bilik yang di luar dua puluh hasta lebarnya pada kedua sisi dari bait. Jika kita menambahkan semua ini bersama, kita memiliki seratus hasta. Ini membuat sebuah persegi dengan seratus hasta pada setiap sisinya, melambangkan bahwa Kristus itu mutlak sempurna, benar, lengkap, dan berlimpah-limpah sebagai tempat kediaman Allah.

Lebar pelataran dalam, bagian depan bait, dan dan area sepangjang sisi timur, adalah seratus hasta dan panjangnya juga seratus hasta. Jadi, area ini yang memiliki mezbah sebagai pusatnya, juga adalah persegi dengan pangjang seratus hasta pada masing-masing sisi. Ini petunjuk lebih lanjut bahwa Kristus itu sempurna, benar, dan lengkap dan bahwa Dia sepenuhnya bersyarat untuk digunakan Allah untuk menggenapkan pekerjaan penebusan-Nya.

Area yang terpisah dengan bangunan di belakang dan temboknya adalah seratus hasta panjangnya (ay. 13). Lebar bangunan sepanjang bagian depan area yang terpisah di belakangnya, dengan serambi pada masing-masing sisi, juga adalah seratus hasta (ay. 15). Di sini, di belakang bait, kita memiliki persegi lainnya dengan seratus hasta pada masing-masing sisi. Ini juga petunjuk lain bahwa Kristus itu sempurna, benar, dan lengkap. Dia lebih dari cukup untuk memenuhi keperluan baik Allah maupun manusia dengan kelebihan sisa yang berlimpah. Kelebihan Kristus, tentu saja berlimpah-limpah.

Pengaturan yang menakjubkan ini menunjukkan hikmat Allah kita. Seluruhnya, kita memiliki tiga bidang tanah, semuanya adalah seratus tanah persegi. Ini menunjukkan bahwa dalam Allah Tritunggal ada seratus persegi yang lengkap dan seratus kali kelebihan yang berlimpah-limpah.

Saya ingin meminta kamu untuk menggunakan diagram dari rancangan pada halaman 215 untuk mempertimbangkan seluruh area bait dan pelataran dalam serta pelataran luar. Jika dijumlahkan, panjang dari pintu gerbang timur yang memimpin ke pelataran luar (40:6-16) dan panjang dari pintu gerbang timur yang memimpin ke pelataran dalam (ay. 32-34) sama dengan seratus hasta. Pelataran luar juga seratus hasta panjangnya dari pintu gerbang luar ke pintu gerbang dalam. Pelataran dalam adalah seratus hasta panjangnya; bait itu sendiri seratus hasta panjangnya; dan panjang area yang terpisah dan bangunan di belakang juga seratus hasta. Dengan menambahkan lima bagian ini, kita memiliki jumlah total lima ratus hasta. Ini mengacu pada situasi Kristus di hadapan Allah. Sebagai pintu gerbang, Dia adalah seratus persen sempurna; sebagai pelataran luar, Dia adalah seratus persen sempurna; sebagai pelataran dalam, Dia adalah seratus persen sempurna; sebagai bait itu sendiri, Dia adalah seratus persen sempurna; dan sebagai kelebihan yang berlimpah-limpah, Dia juga adalah seratus persen sempurna. Kristus, yang adalah mutlak sempurna dalam setiap cara, adalah seratus kali lima. Kita perlu ingat bahwa lima adalah angka tanggung jawab. Jadi, bagi kita Kristus memikul tanggung jawab yang lengkap di hadapan Allah seratus kali lipat. Ini adalah gambaran dari kelengkapan, kebenaran, dan kelebihan dari Kristus. Kelengkapan, kebenaran, dan kelebihan-Nya adalah sempurna, berasal dari Allah dan dalam kebangkitan. Dalam memikul tanggung jawab bagi kita di hadapan Allah, Kristus adalah kesaksian yang utuh, sempurna, dan tanpa cacat bagi Allah.

TEMBOK DARI BAIT

Menurut catatan dalam Yehezkiel, semua bagian dari bangunan berkaitan dengan bait, termasuk bait, serambi, balai, bangunan di belakang, dan semua tembok, ditutupi, dilapisi, dengan kayu (41:16). Jadi, ketika kita masuk ke dalam bait, kita tidak dapat melihat yang lain selain kayu. Ini sepenuhnya berbeda dengan tabernakel yang dibuat oleh Musa, dimana seseorang dapat melihat emas di mana-mana. Setiap bagian dilapisi dengan emas (Kel. 26:29). Sebaliknya, di sini, dalam Yehezkiel, setiap bagian dilapisi dengan kayu. Emas melambangkan keilahian, sedangkan kayu melambangkan keinsanian, khususnya keinsanian yang tepat dari Tuhan Yesus.

Yehezkiel adalah kitab yang penuh keinsanian. Dalam pasal pertama, Kristus di atas takhta adalah seorang manusia. Di atas takhta ada seorang manusia. Bahkan dalam kemuliaan-Nya, Kristus diwahyukan sebagai seorang manusia. Dalam pasal empat puluh tiga, ketika kemuliaan kembali ke bait, manusia ada di sana (ay. 2, 6). Manusia ini adalah Tuhan sendiri. Dalam bangunan Allah, bahan yang utama adalah keinsanian. Ini menunjukkan bahwa kita perlu menjadi insani, tetapi bukan secara alamiah; sebaliknya, kita perlu menjadi “Insani seperti Yesus”. Keinsanian yang tepat bukanlah keinsanian kita yang alamiah; Keinsanian yang tepat adalah Yesus yang tersalib, bangkit, dan naik.

Dalam catatan mengenai bait, angka enam sering digunakan. Hampir setiap pintu masuk, pintu gerbang, dan ambang pintu memiliki angka enam. Kamar jaga adalah enam kali enam, dan tiga puluh bilik di atas trotoar adalah lima kali enam. Sekali lagi saya ingin menunjukkan bahwa angka enam di sini melambangkan keinsanian manusia Yesus. Kayu yang menutupi bait bagian dalam melambangkan keinsanian Tuhan Yesus.

Catatannya tidak memberitahu kita kayu macam apa yang digunakan untuk melapisi. Dengan cara yang sama, sangatlah sulit untuk menggambarkan keinsanian macam apakah yang Tuhan Yesus miliki. Keinsanian Yesus itu menakjubkan. Kita tidak dapat menjelaskannya, tetapi kita dapat melihatnya dan kita dapat memilikinya.

Pada semua pelapisan kayu, kerub dan pohon-pohon korma diukir (41:18-20). Kerub adalah empat makhluk hidup yang dijelaskan dalam pasal satu. Mereka melambangkan kemuliaan Tuhan yang dinyatakan pada makhluk hidup. Di antara kerub, ada pohon-pohon korma, melambangkan kemenangan Kristus dan kuasa Kristus yang selamanya dan tak berkesudahan. Dalam pasal satu, kerub memiliki empat muka, tetapi dalam ukiran pada tembok, mereka hanya memiliki dua muka—muka manusia dan muka singa. Muka manusia melambangkan dan mengekspresikan keinsanian, dan muka manusia melambangkan kemenangan dalam keinsanian.

Yehezkiel 41:18-19 berkata, “gambar-gambar kerub dan pohon-pohon korma, di antara dua kerub sebatang pohon korma, dan masing-masing kerub itu mempunyai dua muka. Dari sebelah yang satu muka manusia dan dari sebelah yang lain muka singa yang menghadap ke pohon korma itu dan begitulah dibuat di seluruh Bait Suci”. Di sini kita diberitahu bahwa di antara dua kerub ada sebatang pohon korma. Ini melambangkan bahwa kita menyatakan kemenangan Kristus dalam manifestasi kemuliaan gambar Kristus. Setiap pohon korma memiliki muka manusia pada satu sisi dan muka singa muda pada sisi lainnya. Ini melambangkan kemuliaan dan kemenangan Kristus dinyatakan pada manusia yang menang. Ini berarti bahwa jika kita memiliki persekutuan dengan Kristus dan menikmati Kristus dan jika kita menyatakan Kristus dan menang karena Kristus, maka orang lain akan melihat pada kita, baik muka manusia maupun singa. Pada kita akan ada gambar, kemuliaaan, dan kemenangan Kristus.

Kita perlu menaruh perhatian pada fakta bahwa kerub dan pohon-pohon korma bukan dilukis pada kayu, tetapi diukir ke dalam kayu. Ini mewahyukan bahwa, seperti pengukiran kayu, kita perlu “diukir” oleh Tuhan. Diukir berarti menderita sesuatu. Ketika kita bertemu saudara atau saudari tertentu, kita memiliki kesan bahwa pada mereka ada suatu ukiran dari Tuhan. Kemenangan Kristus dan kemuliaan Tuhan telah diukir ke dalam mereka. Kuasa yang tak berkesudahan, kesegaran, dan hayat yang selalu baru telah diukir ke dalam diri mereka. Karena pengukiran Tuhan, mereka mengemban gambar dan kesan ini kemanapun mereka pergi.

MEZBAH UKUPAN KAYU

Mezbah ukupan dibuat seluruhnya dari kayu. Setiap bagian, termasuk tanduk-tanduk, dibuat dari kayu (ay. 22). Ini sepenuhnya berbeda dengan mezbah ukupan di tabernakel yang didirikan oleh Musa. Mezbah ukupan di tabernakel dibuat dari kayu yang dilapisi emas, melambangkan keinsanian dipalisi dengan keilahian (Kel. 37:25-26). Mezbah ukupan yang didirikan dalam bait ini hanya dibuat dari kayu, hanya melambangkan keinsanian Yesus.

Dalam tabernakel dan dalam bait ada mezbah, kaki pelita, dan meja roti sajian. Tetapi di sini, dalam Yehezkiel, mezbah juga adalah meja (41:22). Sebagai sebuah mezbah, sangatlah baik bagi kita untuk mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan, dan sebagai meja, sangatlah baik bagi Allah untuk meministrikan sesuatu kepada kita. mezbah adalah bagi kita untuk mempersembahkan sesuatu kepada Allah bagi kepuasan-Nya, dan meja adalah baik bagi Allah untuk menyiapkan sesuatu untuk kita bagi kepuasan kita. Maka, satu mezbah melayani dua tujuan: bagi kita kepada Allah, itu adalah mezbah; bagi Allah kepada kita itu adalah meja. Kita mempersembahkan sesuatu dari Kristus kepada Allah di atas mezbah ini, dan Allah menyiapkan sesuatu dari Kristus untuk kita di atas meja ini. Keduanya berada di atas keinsanian Yesus.

Apapun yang di atas mezbah-meja haruslah Kristus. Kristus di atas mezbah adalah ukupan bagi Allah, dan Kristus di atas meja adalah makanan bagi kita. Ketika kita mempersembahkan Kristus kepada Allah di atasnya, itu adalah mezbah bagi kepuasan Allah. Ketika Allah menyiapkan sesuatu dari Allah untuk kita di atasnya, itu adalah meja bagi kepuasan kita. Dengkan perkataan lain, Kristus di atas mezbah adalah ukupan, dan Kristus di atas meja adalah makanan.

Poin utama di sini adalah bahwa tembok ditutupi dengan kayu dan bahwa mezbah ukupan dibuat dari kayu, melambangkan keinsanian Tuhan Yesus. Mezbah ukupan kayu tiga hasta tingginya dan dua hasta panjangnya. Ini menunjukkan Allah Tritunggal dalam kebangkitan sebagai sebuah kesaksian.

Mezbah yang dibuat dari kayu diletakkan di tempat pelapisan kayu yang diukir dengan kerub dan pohon-pohon korma. Ini menunjukkan bahwa jika kita adalah mereka yang menyatakan kemuliaan dan kemenagan Kristus, kita akan memiliki mezbah-meja bagi Allah dan kita untuk memiliki persekutuan bersama dalam Kritus. Di sini Allah menikmati ukupan yang kita persembahkan dalam Kristus dan kita menikmati makanan yang disuplaikan Allah dalam Kristus. Dengan cara ini, baik kita dan Allah menikmati Kristus. Allah dipuaskan karena keharuman dalam Kristus, dan kita dipuaskan oleh suplai makanan dalam Kristus . sekarang kita perlu melihat bahwa kenikmatan yang saling ini hanya dapat berada dalam atmosfir dan situasi dimana terdapat pernyataan kemuliaan dan kemenangan Kristus. Jika kita menang melalui Kristus dan menyatakan kemuliaan dan kemenangan Kristus, maka kita akan memiliki mezbah-meja untuk kita bersekutu dengan Allah dan menikmati Kristus. Persekutuan dan kenikmatan ini adalah hasil dari kemenangan kita dalam Kristus dan melalui Kristus.

TIDAK ADA KAKI PELITA

Dalam bait ini, tidak ada kaki pelita untuk memberi terang. Dalam tabernakel, tidak ada jendela, atau yang terbuka, di dalam Tempat Kudus, sehingga di sana diperlukan kaki pelita. Tetapi dalam bait yang dijelaskan dalam kitab Yehezkiel, ada banyak jendela yang membawa masuk terang dan udara. Jadi, tidak diperlukan kaki pelita.

PINTU-PINTU

Baik bait yang di luar maupun yang di dalam memiliki pintu-pintu pada jalan masuk (ay. 23). Pada kedua pintu gerbangnyaada dua pintu, masing-masing dua bagian lipatan. Pintu gerbang secara sederhana terbuka, tetapi dalam pintu gerbang ada pintu-pintu yang dapat dibuka dan ditutup. Saat kita menerapkan hal ini pada situasi kita pada hari ini, kita dapat berkata bahwa seorang yang positif, seperti para rasul, datang, tentu saja kita harus membuka pintu. Namun, ketika seorang yang negatif, seperti serigala (Mat. 7:15), datang, kita harus menutup pintu.

Apakah gereja lokal di tempatmu memiliki pintu? Saya prihatin bahwa gereja di lokalmu hanya memiliki jalan masuk, tetapi tidak memiliki pintu gerbang dengan pintu-pintu. Dalam kehidupan gereja, kita perlu pintu gerbang dengan pintu-pintu. Di satu pihak, kita seharusnya terbuka kepada orang yang positif dan hal positif; di pihak lain, kita seharusnya tertutup kepada orang yang negatif dan hal negatif. Kita seharusnya menutup pintu dan tidak membiarkan mereka masuk. Fungsi pintu sama dengan sekat pada jendela: mereka terbuka untuk membiarkan hal yang positif masuk, tetapi mereka tertutup untuk menyingkirkan hal negatif.

Setiap pintu gerbang memiliki dua pintu dan dibuat dari dua potong kayu. Jumlah totalnya empat potong kayu pada setiap pintu gerbang (Yeh. 41:24). Fakta bahwa setiap pintu dibuat dari dua lipat potongan kayu menunjukkan pada kita bahwa pintu itu fleksibel, dibelokkan dan dilipat. Kadang-kadang dalam hidup gereja, seorang yang memimpin tidak fleksibel. Mereka tidak tahu bagaimana dilipat dan dibelokkan. Gereja perlu pintu-pintu yang membelok, melipat, dan fleksibel yang mudah dibuka dan mudah ditutup.

RUANG KUDUS

Ruang kudus adalah bangunan yang menghubungkan, yang menghubungkan pelataran dalam dengan pelataran luar. Ruang ini berlokasi baik di sebelah utara maupun sebelah selatan (42:13). Ruang kudus adalah lima puluh hasta lebarnya dan seratus hasta panjangnya, dengan tempat berjalan sepuluh hasta lebarnya diantaranya. Setiap bangunan ini terdiri dari dua baris yang berhadapan satu sama lain dengan tempat berjalan di antaranya. Jadi, banyak pintu di sebelah selatan bangunan yang terbuka menghadap ke utara, dan banyak pintu di sebelah utara bangunan yang terbuka menghadap ke selatan. Ini membuat ruang kudus itu bangunan yang menghubungkan.

Poin pentingnya adalah ruang kudus adalah bagi para imam untuk makan persembahan. Kita telah melihat bilik di atas trotoar di pelataran luar adalah bagi umat untuk makan persembahan. Sekarang kita melihat ruang kudus adalah bagi para imam untuk makan persembahan dan juga untuk menempatkan dan menyimpan persembahan. Di sini para imam meletakkan pakaian keimaman mereka (ay. 14).

Dalam bilik di atas trotoar, umat dapat menikmati Kristus, tetapi mereka tidak dapat mengekspresikan Kristus, karena mereka tidak memiliki pakaian imam. Pakaian imam melambangkan Kristus diekspresikan dan diperhidupkan. Persembahan-persembahan melambangkan Kristus sebagai kenikmatan kita, sedangkan pakaian melambangkan Kristus sebagai ekspresi kita. Mereka yang di pelataran luar hanya dapat menikmati Kristus, tetapi mereka tidak dapat memperhidupkan Kristus dan mengekspresikan Dia. Situasi para imam banyak perbaikan. Para imam bukan hanya menikmati Kristus, tetapi juga mengekspresikan Kristus. Mereka tidak hanya makan Kristus, tetapi juga memperhidupkan Dia. Sebagai tambahan, mereka memiliki gudang Kristus. Dalam semua hal ini kita melihat banyak perbaikan di dalam mengalami Kristus.

Di sinilah, di dalam ruang kudus, seseorang mencapai puncak tertinggi dari pengalaman rohani. Hidup di dalam ruang kudus adalah hidup di dalam Kristus. Makan persembahan di dalam ruang kudus adalah makan Kristus. Mengenakan pakaian kudus adalah mengenakan Kristus. Dari hal ini, kita melihat bahwa di dalam ruang kudus kita hidup di dalam Kristus, kita menikmati Kristus, dan kita mengekpresikan Dia.

Ruang kudus berlokasi di sebelah utara dan selatan yang menghadap satu sama lain. Ini melambangkan persekutuan, kesaksian, dan konfirmasi. Gudang, suplai, dan kenikmatan Kristus adalah perkara persekutuan, kesaksian, dan konfirmasi.

Ruang kudus seratus hasta panjangnya dan lima puluh hasta lebarnya. Angka seratus melambangkan kelengkapan yang sempurna dalam kepenuhan, dan angka lima puluh melambangkan manusia memikul tanggung jawab yang penuh dan lengkap setelah menerima kasih karunia Allah. Juga, jika kita menggabungkan ruang kudus di sebelah utara dan selatan, kita memiliki persegi lainnya dengan seratus hasta pada masing-masing sisi, melambangkan gudang, suplai, dan kenikmatan yang sempurna. Lagipula, ruang kudus ini mempersaksikan satu sama lain, dan ketika mereka digabungkan, ada kelengkapan yang mutlak dan sempurna. Ini menunjukkan bahwa kesaksian yang saling ditambahkan bersama, ada kenikmatan yang mutlak dan gudang Kristus. Kita tidak dapat memiliki ini secara individu, tetapi bersama semua kaum saleh (Ef. 3:18).

Ruang kudus, seperti balai, ada tiga tingkat (Yeh. 42:5-6). Dalam tinggi mereka sama dengan balai, menunjukkan bahwa mereka berkaitan dengan kepenuhan Kristus. Para imam menikmati Kristus, mengenakan Kristus, menyimpan Kristus, dan memiliki Kristus sampai satu tingkat bahwa tinggi bilik mereka sama dengan tinggi balai, yang melambangkan kepenuhan Kristus.

Ayat 6 berkata, “Sebab bilik-bilik itu bertingkat tiga dan tidak mempunyai tiang-tiang seperti yang ada di pelataran luar. Itulah sebabnya bilik-bilik atas lebih kecil dari bilik-bilik bawah atau tengah”. Meskipun ruang kudus ada tiga tingkat, mereka tidak memiliki tiang-tiang. Saat memperhatikan pengalaman rohani, ini menunjukkan bahwa mereka yang menikmati Kristus pada tingkat tinggi demikian tidak seperti mereka yang termasuk tingkat yang lebih rendah. Mereka yang di dalam ruang kudus tidak mengekspresikan kuasa Kristus, yang dilambangkan oleh tiang-tiang. Sebaliknya, ada penekanan pada keunggulan dan superioritas dari Kristus. Bilik-bilik di atas trotoar dan di empat sudut menekankan kerendahan dan penerapan dari Kristus; serambi menunjukkan tersedianya Kristus; bangunan-bangunan yang berhubungan dengan bait dan ruang yang tidak terpakai yang bersebelahan dengan balai menunjukkan kepenuhan dan kelimpahan Kristus; dan area yang terpisah di sekeliling bait dan bangunan kosong menunjukkan kekayaan dan kelimpahan Kristus. Sekarang kita perlu menyadari bahwa ruang kudus menekankan keunggulan dan superioritas dari Kristus. Untuk alasan ini, ruang kudus ada tiga tingkat, tetapi tidak memiliki tiang-tiang seperti tiang-tiang pelataran.

Serambi pada tingkat ketiga, tingkat tertinggi, berhadapan satu sama lain. Ini menunjukan bahwa semakin kita menikmati Kristus, semakin banyak konfirmasi yang akan kita miliki. Semakin kita naik lebih tinggi dalam kenikmatan akan Kristus, semakin persekutuan dan saling konfirmasi akan kita miliki.

Ketika kita menikmati Kristus yang dilambangkan oleh tingkat ketiga, kita mengapresiasi persekutuan, konfirmasi dan menjadi terbuka kepada yang lain. Kita tidak ingin menjadi sendiri atau menjadi tertutup. Namun, mereka yang muda di dalam Tuhan dan tidak memiliki begitu banyak pertumbuhan rohani tidak merasa memiliki keperluan yang sama untuk persekutuan dan konfirmasi serta mungkin lebih suka menjadi sendiri. Mereka yang menikmati Kristus, menyimpan Kristus, mengenakan Kristus, hidup oleh Kristu, dan melayani Allah karena Kristus akan matang dan mencapai tingkat pengalaman rohani dimana mereka memperhidupkan hayat yang penuh persekutuan dan saling bersaksi, konfirmasi, dan terbuka.

Karena ruang itu diambil oleh serambi, balai di tingkat ketiga lebih kecil daripada yang ada di tingkat pertama dan kedua. Ini menunjukkan bahwa ketika pengalaman dan kenikmatan kita akan Kristus mencapai tingkat ketiga, kita akan terbuka lebih lebar kepada yang lain dalam persekutuan dan konfirmasi serta tidak akan memiliki rahasia yang kita miliki ketika kita berada di tingkat-tingkat yang lebih rendah.

DUA TEMPAT MEMASAK

Di ujung, menghadap belakang, ada tempat memasak, dua tempat bagi para imam untuk memasak persembahan mereka dan untuk memanggang kurban-kurban sajian (46:19-20). Ini adalah “dapur-dapur” imam. Dapur untuk umat ada di empat sudut dari pelataran luar, tetapi dapur untuk para imam ada dua tempat di dalam tempat kudus.

TANAH YANG MENGELILINGI BAIT

Setelah pengukuran bait lengkap, Yehezkiel dibawa keluar bangunan bait, dimana orang mengukur tanah di luar tembok (42:15-20). Dalam setiap arah, pengukuran tanah bukanlah lima ratus hasta, tetapi lima ratus tongkat (ay. 16-19). Satu tongkat sama dengan enam hasta. Maka, tanah di luar tembok adalah tiga ribu hasta persegi, jumlah totalnya adalah sembilan juta hasta persegi. Namun, hanya area di tengah-tengah yang digunakan seluas lima ratus hasta persegi, sisanya yang masih luas adalah tanah kosong yang mengelilingi bangunan bait.

.

Kesan yang Kuat akan Pemisahan

Desain bait memberi kesan yang kuat akan pemisahan. Tembok mengelilingi bidang tanah yang kosong memisahkan apa yang kudus dari yang umum.

Seluruhnya, setidaknya ada empat tembok: tembok yang mengelilingi seluruh bidang tanah, tembok yang mengelilingi pelataran luar, tembok yang mengelilingi pelataran dalam, dan tembok yang mengelilingi bait. Tembok-tembok ini menutup bait, memisahkan yang kudus dari yang umum. Ini mewahyukan bahwa ketika seseorang masuk ke dalam bait, dia telah melalui empat ganda pemisahan. Betapa besar batas pemisahan yang ada! Pada setiap sisi bangunan bait, ada “daerah pinggiran” yang kosong sepanjang seribu dua ratus lima puluh hasta mencapai tembok. Ini menunjukkan kekosongan dari pemisahan dalam Kristus.

Kesan Kemajuan

Desain bait juga memberi kesan kemajuan. Semakin kita maju ke dalam, semakin tinggi kita jadinya. Ketika kita berada dalam bait, kita berada lima belas hasta lebih tinggi daripada dasar. Juga semakin tinggi kita, semakin luas dan lebar kita jadinya. Semakin dalam, semakin tinggi, semakin luas, semakin lebar—inilah kemajuan. Pengalaman dari bangunan kudus Allah ini maju.

Kesan Keseimbangan

Lebih jauh lagi, dalam penampilan bait ada kesan yang jelas akan keseimbangan, simetri. Dalam desain ini tidak ada ketidakseimbangan atau kebengkokan. Segala sesuatu sepenuhnya seimbang, jujur, dan benar. Tidak ada kebengkokan.

Gambaran dari Kehidupan Gereja

Ini adalah sebuah gambaran dari kehidupan gereja. Kehidupan gereja adalah kehidupan dari pemisahan yang mutlak, kehidupan yang maju, dan kehidupan yang seimbang. Kehidupan gereja itu benar, jujur, dan lurus.

BERITADUA PULUH EMPAT

KEMBALINYA KEMULIAAN ALLAH UNTUK RUMAH

Pembacaan Alkitab:

Yeh. 43:1-5; 44:4; 43:6-12; 44:5; 43:18-27

Setelah penyelesaian pembangunan rumah itu, maka kemuliaan Tuhan kembali. Pada awal ministrinya, Yehezkiel telah melihat kemuliaan Tuhan meninggalkan di dalam beberapa tahap. Pertama, kemuliaan Tuhan meninggalkan bait dan tinggal di atas ambang pintu (Yeh. 9:3; 10:4). Dari ambang pintu, kemuliaan itu keluar menuju kota. Dari kota itu, kemuliaan Tuhan pergi lebih jauh ke Bukit Zaitun di sebelah timur kota itu (11:23), dan dari sana kemuliaan Tuhan itu naik ke surga.

Pada waktu Tuhan dalam kepergian-Nya berhenti di atas ambang pintu dari rumah itu, ini menunjukkan bahwa Dia tidak senang meninggalkannya. Dia tidak ingin pergi meninggalkannya, tetapi Dia terpaksa berbuat demikian. Ini menunjukkan ketidakrelaan-Nya untuk pergi, Dia enggan dan masih ingin tinggal di ambang pintu itu. Akhirnya, Dia terpaksa meninggalkannya karena kejijikan, persundalan, dan kemerosotan umat itu. Tetapi sekarang kemuliaan Tuhan kembali melalui jalan yang sama seperti ketika Dia meninggalkannya. Dia meninggalkannya dari sebelah timur, dan sekarang Dia kembali dari timur (43:1-3).

KEMULIAAN ITU KEMBALI KARENA PEMBANGUNAN BAIT ITU TELAH SELESAI

Adalah penting bila kita memahami mengapa kemuliaan Tuhan itu datang kembali. Kemuliaan Tuhan kembali karena pembangunan bait itu telah selesai. Ini adalah poin yang penting. Betapa Tuhan damba untuk kembali ke bumi ini! Namun, bagi kedatangan-Nya kembali, Dia memerlukan satu tempat untuk tumpuan kaki-Nya untuk beristirahat, satu tempat yang di atasnya Dia bisa menaruh kaki-Nya. Tempat kediaman-Nya, rumah-Nya, adalah tempat di bumi ini di mana Dia bisa menaruh kaki-Nya.

Selama berabad-abad, musuh dengan tipu dayanya telah menjauhkan orang-orang Kristen dari mengenal sesuatu tentang pembangunan ini. Guru-guru Kristen sangat menekankan perkara keselamatan dan sampai beberapa tingkat menekankan perkara kerohanian, tetapi mereka jarang menekankan perkara pembangunan. Perhatian Allah bukanlah sekadar pada keselamatan atau pada kerohanian melainkan pada bangunan. Selama bertahun-tahun, Tuhan telah memberi beban kepada kita dengan satu hal—pembangunan. Bangunan ini tidak lain selain dari gereja.

Saudara Watchman Nee sepenuhnya dipercayakan oleh Tuhan dengan beban bagi gereja. Saya mengenal dia dengan sangat baik, dan saya tahu bahwa ia berbeban bagi gereja dan bagi pembangunan gereja. Ia menyadari bahwa bagi pembangunan gereja ini, perlu ada hayat batini, dan Tuhan memberikan banyak berita tentang hayat batini kepadanya. Namun, berita-berita ini dilepaskan bukan supaya orang-orang dapat menjadi rohani dengan cara individu melainkan supaya gereja dapat dibangunkan. Semua berita tentang hayat batini ini adalah bagi pembangunan gereja. Tetapi musuh yang licik, Satan, telah memakai beberapa orang yang disebut rohani untuk menerbitkan berita-beritanya tentang hayat batini ini untuk digunakan bagi kerohanian secara individu. Orang-orang yang menerbitkan buku-buku Saudara Nee tentang hayat batini ini tidak memiliki banyak perhatian terhadap buku-bukunya mengenai kehidupan gereja. Banyak toko buku Kristen menjual buku Kehidupan Orang Kristen yang Normal; Duduk, Berjalan, Berdiri; Apakah yang akan Dilakukan Orang Ini?; Kidung Agung; dan lain-lain—semua buku tentang kehidupan rohani secara individu—tetapi sedikit sekali menjual buku-buku Saudara Nee tentang gereja. Mereka jarang menjual buku-buku seperti Kehidupan Gereja Kristen yang Normal, Gereja yang Mulia, Further Talks on the Church Life, atau buku-buku lain oleh Saudara Nee yang ada kata gereja pada judulnya. Di sini kita bisa melihat tipu muslihat si musuh.

Percayakah Anda bahwa Tuhan hanya memperhatikan kerohanian? Biarkan saya menjamin Anda bahwa Tuhan tidak hanya mempedulikan kerohanian; Dia memperhatikan pembangunan gereja. Mengenai ini, kita perlu menyingkapkan tipu muslihat musuh. Ada beberapa yang mengatakan bahwa Witness Lee berbeda dengan Watchman Nee—bahwa Watchman Nee adalah bagi kehidupan rohani sedangkan Witness Lee itu terlalu banyak menekankan gereja. Bahwa Saudara Nee bukan hanya bagi kehidupan rohani melainkan juga banyak menekankan gereja ini ditunjukkan oleh buku-bukunya seperti Further Talks on the Church Life, Ortodoksi Gereja, dan Gereja yang Mulia.

Hari ini Tuhan bukan sekadar memperhatikan kerohanian secara individu. Bahkan sekalipun banyak orang yang rohani seperti Daniel dibangkitkan di Babel, tetapi kemuliaan Tuhan tidak akan pergi ke sana untuk memenuhi mereka. Kemuliaan Tuhan tidak kembali kepada Daniel; sebaliknya, kemuliaan itu kembali ke bait Allah setelah bait itu dibangun kembali.

Setelah mengukur seluruh bangunan itu, Roh itu membawa Yehezkiel ke pintu gerbang timur di mana ia melihat kembalinya penampakkan kemuliaan Tuhan. “Yang kelihatan kepadaku itu adalah seperti yang kelihatan kepadaku ketika Aku datang untuk memusnahkan kota itu dan seperti yang kelihatan kepadaku di tepi sungai Kebar, maka aku sembah sujud” (Yeh. 43:3). Ketika saya pertama kali membaca ayat ini, saya mengira bahwa kata Aku itu seharusnya adalah Dia. Terhadap kesan saya, ayat ini seharusnya berbunyi, “Ketika Dia datang untuk memusnahkan kota itu.” Meskipun demikian, terjemahan yang tepat adalah, “Ketika Aku datang untuk memusnahkan kota itu.” Kelihatannya aneh bahwa Yehezkiel mengatakan bahwa ia datang untuk memusnahkan kota itu. Ini berarti bahwa ketika nabi pergi ke Yerusalem, Tuhan juga pergi ke Yerusalem. Tuhan pergi ke sana di dalam kepergian Yehezkiel ke sana. Dalam permulaan ministrinya, Yehezkiel melihat kemuliaan Tuhan meninggalkan bait suci dan kota itu, tetapi pada ministrinya di kemudian hari, ia melihat kemuliaan itu kembali ke rumah Tuhan itu.

Kita perlu terkesan dengan dalam dengan fakta bahwa kemuliaan Allah kembali hanya setelah pembangunan bait itu selesai. Jika kita ingin tinggal di dalam gereja dan memanifestasikan kemuliaan-Nya di dalam gereja, maka gereja haruslah lengkap/selesai. Jika gereja hari ini berhubungan dengan semua rincian dari bangunan kudus Allah yang diliput di dalam pasal-pasal dari Yehezkiel ini, dan dengan demikian dibangun di dalam setiap aspek, maka Allah akan tinggal di dalam gereja itu dengan mulia. Karena itu, supaya kemuliaan Allah tinggal di dalam gereja, maka gereja harus terbangun menjadi tempat kediaman Allah.

Allah ingin memiliki gereja yang terbangun di bumi ini karena Dia damba untuk memiliki satu tempat kediaman di bumi ini. Dia, Allah yang di surga, ingin tinggal di bumi. Tempat di mana Dia tinggal, yaitu tempat kediaman-Nya adalah gereja. Karena Allah tinggal di dalam gereja, maka orang-orang yang ingin mencari Allah dan mengontaki Dia itu harus datang kepada gereja. Beban utama kita di dalam pengkajian Yehezkiel ini adalah melihat tempat kediaman yang Allah dambakan untuk dimiliki-Nya di bumi ini. Jika kita memiliki kasih karunia untuk terbangun di dalam gereja, maka kemuliaan Allah akan tinggal di antara kita.

KEMULIAAN ITU KEMBALI DARI SEBELAH TIMUR

Ayat 2a mengatakan, “Sungguh, kemuliaan Allah Israel datang dari sebelah timur.” Kemuliaan itu kembali dari sebelah timur, yaitu, dari arah matahari terbit. Arah matahari terbit menandakan kemuliaan (Bil. 2:3). Tuhand atang kembali dari kemuliaan itu. Dia pergi ke sebelah timur, dan Dia datang kembali dari sebelah timur.

Yehezkiel 43:2 juga mengatakan, “Dan suara-Nya itu seperti suara air terjun yang menderu.” Tuhan bukan hanya kembali dengan kemuliaan melainkan juga dengan satu suara yang ribut, karena suara-Nya itu seperti suara air terjun yang menderu. Ini menunjukkan bahwa kapan saja kemuliaan Tuhan datang kembali kepada gereja, maka akan terjadi satu suara yang sangat riuh. Ketika kemuliaan Tuhan pergi, kita seharusnya tenang. Ketenangan menunjukkan bahwa kemuliaan itu telah pergi, tetapi keributan adalah tanda bahwa kemuliaan itu telah kembali. Di dalam Kisah Para Rasul 2, pada hari Pentakosta, itu tidak tenang. “Ada satu suara dari langit, seperti angin yang keras, dan angin itu memenuhi seluruh rumah di mana mereka duduk” (ay. 2). Kapan saja gereja dibangunkan, maka akan ada satu suara nyaring dan satu keriuhan yang besar.

Menurut Yehezkiel 43:2, “Bumi bersinar dengan kemuliaan-Nya.” Bumi ini berada di bawah terang, penyinaran kemuliaan Tuhan. Tidak ada kegelapan. Pada hari Pentakosta, kota Yerusalem berada di bawah penyinaran terang yang demikian. Kapan saja gereja memiliki satu kebangunan, maka kemuliaan Allah diekspresikan, suara Allah terdengar, dan kemuliaan Allah bersinar. Namun, tanpa manifestasi Allah dan dan suara Allah, maka di sana kegelapan.

PENAMPILAN-NYA ITU SAMA

Yehezkiel 43:3 mengatakan bahwa penampilan Tuhan itu sama ketika Dia kembali seperti ketika Dia datang bersama dengan nabi untuk memusnahkan kota itu. Perkataan yang menghibur ini mewahyukan betapa Tuhan itu penuh dengan belas kasihan. Bahkan ketika Yehezkiel berada di dalam penawanan, visi Tuhan pun ada di sana. Visi Tuhan datang bukan hanya ke tanah kudus melainkan juga ke tempat penawanan.

Di dalam Zakharia 1:8, Tuhan mengendarai seekor kuda merah di antara pohon-pohon murad. Pada waktu itu umat Tuhan berada di satu tempat yang rendah, yaitu di dasar, tetapi Tuhan mengendarai kuda di antara mereka untuk mengeluarkan mereka. Ini menunjukkan bahwa Dia bersama-sama dengan orang-orang di dalam penawanan itu. Tuhan tetap menyertai umat itu tetapi tidak dengan cara yang normal.

PINTU GERBANG TIMUR TERBUKA KEPADA KEMULIAAN TUHAN

Yehezkiel 43:4 mengatakan, “Sedang kemuliaan Yehovah masuk di dalam Bait Suci melalui pintu gerbang yang menghadap ke sebelah timur.” Tuhan datang kembali melalui pintu gerbang timur.

Bait Suci mempunyai tiga pintu gerbang: yang satu mengarah ke timur, yang satu mengarah ke selatan, dan yang satu lagi mengarah ke utara. Pintu gerbang di selatan dan di utara adalah bagi kenyamanan umat itu, tetapi pintu gerbang yang mengarah ke sebelah timur itu bukan hanya bagi kenyamanan umat itu melainkan juga bagi kemuliaan Tuhan. Di dalam kehidupan gereja, kita memerlukan beberapa pintu gerbang, tetapi pintu gerbang yang paling penting adalah pintu gerbang timur—pintu gerbang yang terbuka kepada kemuliaan Tuhan. Ini berarti bahwa di dalam kehidupan gereja, kita memerlukan satu pintu gerbang yang terbuka kepada kemuliaan Tuhan. Kita tidak boleh hanya memperhatikan kenyamanan; kita harus secara khusus memperhatikan kemuliaan Tuhan. Di dalam kehidupan gereja, pertimbangan pertama yang harus kita miliki adalah kemuliaan Tuhan. Keputusan-keputusan di dalam kehidupan gereja harus dibuat terutama menurut kemuliaan Tuhan. Bahkan di dalam membuat keputusan-keputusan mengenai hari dan waktu sidang-sidang, kita harus memperhatikan kemuliaan Tuhan dan tidak sekadar bagi kenyamanan orang-orang. Gereja harus terbuka kepada kemuliaan Tuhan sehingga kemuliaan-Nya bisa masuk ke dalam gereja.

KEDAMBAAN TUHAN YANG KUAT BAGI RUMAH-NYA

Kemuliaan Tuhan masuk ke dalam rumah itu, dan “Sungguh, kemuliaan Tuhan memenuhi rumah itu” (ay. 5). Akhirnya, rumah itu dan bagian dalam bait itu dipenuhi dengan kemuliaan Tuhan.

Di sini kita melihat bahwa Tuhan telah kembali ke bumi. Karena Dia telah kehilangan kedudukan-Nya di bumi, maka Dia kembali ke surga. Kedudukan Tuhan di bumi adalah pembangunan rumah-Nya. Supaya Tuhan datang kembali ke bumi ini, maka Dia memerlukan satu gereja yang terbangun sebagai kedudukan-Nya/pendirian-Nya di bumi ini. Tuhan bukan datang kembali untuk bumi; Tuhan datang kembali untuk gereja.

Pada waktu Yehezkiel melihat kemuliaan Tuhan, ia juga melihat seorang manusia berdiri di sampingnya. Ia melihat kemuliaan Tuhan dan Tuhan sebagai seorang manusia. Manusia yang berdiri di sampingnya itu mengatakan, “Hai anak manusia, inilah tempat takhta-Ku dan inilah tempat tapak kaki-Ku; di sinilah Aku akan diam di tengah-tengah orang Israel untuk selama-lamanya” (ay. 7a). Kata-kaat tempat takta-Ku ini membuktikanbahwa manusia yang berdiri di samping Yehezkiel itu adalah Tuhan itu sendiri. Menurut konstruksi gramatikalnya, “Tempat takhta-Ku, dan tempat tapak kaki-Ku, di mana Aku akan tinggal,” ini kelihatannya bukanlah satu komposisi yang baik. Ini mungkin karena kedambaan dan sukacita-Nya adalah pada rumah-Nya, maka Tuhan mengabaikan perkara tata bahasa. Dia sepenuhnya diduduki dengan rumah-Nya.

Tuhan begitu gembira dengan rumah-Nya sehingga kelihatannya Dia tidak peduli dengan tata bahasa. Mengenai kembali-Nya ke bait itu, Tuhan itu sangat gembira. Rumah itu telah dipulihkan, dan sekali lagi Dia memiliki satu tempat bagi tapak kaki-Nya. Karena itu, Dia mengatakan, “Hai anak manusia, tempat takhta-Ku, dan tempat tapak kaki-Ku.”

Di sini kita melihat kedambaan Tuhan bagi Rumah-Nya, yaitu bagi gereja. Tuhan memperhatikan pemulihan kehidupan gereja. Dia telah damba dan sedang menanti untuk datang kembali kepada gereja. Inilah sebabnya mengapa kita memiliki begitu banyak sukacita di dalam sidang-sidang. Kita penuh dengan sukacita dan kegembiraan karena Tuhan di dalam kita penuh dengan sukacita dan kegembiraan. Dia gembira karena di dalam gereja, Dia memiliki satu tempat—satu tempat bagi takhta-Nya, satu tempat bagi tapak kaki-Nya. Betapa gembiranya Dia, karena setelah pergi dari bumi begitu lama, sekarang Dia memilik gereja-gereja lokal sebagai tempat dari takhta-Nya dan tempat untuk tapak kaki-Nya! Adalah menakjubkan bahwa Tuhan, Allah yang mahakuat, bisa mengungkapkan perkataan yang tercatat di dalam ayat 7: “Tempat takhta-Ku, dan tempat tapak kaki-Ku.”

Jika saya menjadi Yehezkiel, maka saya mungkin bertanya, “Karena Engkau adalah Allah yang mahakuat, lalu mengapa Engkau mempedulikan tempat kecil yang demikian ini? Mengapa tempat ini membuat Engkau menjadi begitu gembira?” Jika Yehezkiel mengajukan pertanyaan ini, maka Tuhan mungkin akan menjawab, “Aku mencintai tempat yang khusus ini di bumi ini karena ini adalah tempat takhta-Ku dan tempat tapak kaki-Ku.”

Tempat tapak kaki Tuhan adalah tempat takhta-Nya. Takhta ini adalah bagi pemerintahan, administrasi, dan kerajaan Allah; ini adalah tempat yang daripadanya Dia bisa melaksanakan administrasi-Nya. Tapak kaki Tuhan adalah bagi pergerakan-Nya di bumi. Di luar bait itu sebagai tempat takhta-Nya dan tempat tapak kaki-Nya, Tuhan tidak memiliki dasar bagi administrasi dan pergerakan-Nya di bumi ini. Jika gereja tidak dibangunkan, maka Tuhan tidak akan memiliki pendirian/kedudukan untuk melaksanakan pemerintahan-Nya dan untuk bergerak di bumi ini. Selain itu, gereja adalah tempat di mana Tuhan bisa tinggal bagi perhentian dan kepuasan-Nya.

PERSUNDALAN DAN MAYAT-MAYAT UMAT ITU

Di dalam ayat 7b, Tuhan memberi tahu Yehezkiel bahwa umat itu telah melukai Dia dengan persundalan mereka dan dengan mayat-mayat mereka. Di sini Tuhan tidak menegur rumah Israel karena perilaku dan tindak tanduk mereka, tetapi karena persundalan dan mayat-mayat mereka. Persundalan adalah perzinahan. Tidak peduli betapa ramah dan baiknya seorang istri itu dan tidak peduli betapa banyaknya hal baik yang dilakukannya, jika ia mencintai seorang laki-laki lain selain dari suaminya, ini adalah persundalan. Secara prinsip, inilah situasi gereja di Efesus di dalam Wahyu 2. Tuhan mengatakan bahwa mereka telah melakukan banyak pekerjaan yang baik tetapi mereka telah kehilangan kasih yang semula (ay. 4). Dia mengatakan bahwa, selain diri-Nya, mereka mengasihi beberapa hal lainnya. Ini adalah persundalan. Tidak peduli betapa baik, murni, atau kudusnya sesuatu itu, jika kita mengasihi hal itu lebih daripada kita mengasihi Tuhan itu sendiri, maka ini adalah persundalan. Tidak banyak orang Kristen hari ini yang secara sederhanya memperhatikan Tuhan itu sendiri. Sebaliknya, banyak orang Kristen yang memperhatikan hal-hal lain, termasuk hal-hal yang baik, fundamental, rohani, dan kudus. Ini adalah persundalan.

Mayat-mayat adalah hal-hal yang mati. Yehezkiel 43:7b membicarakan tentang “mayat-mayat raja-raja mereka di tempat-tempat tinggi mereka.” Dalam menafsirkan bagian dari ayat ini, setelah tempat-tempat tinggi ini kita bisa menyisipkan dari Sion untuk menunjukkan bahwa tempat-tempat tinggi di sini dapat mengacu kepada tempat-tempat tinggi di Gunung Sion. Menurut kebiasaannya, mayat-mayat raja-raja dikuburkan di samping bait. Inilah sebabnya mengapa Tuhan mengatakan bahwa ambang pintu dari mayat-mayat itu tertutup terhadap ambang pintu-Nya dan bahwa tiang-tiang pintu kuburan mereka dekat dengan tiang-tiang pintu-Nya di bait itu (ay. 8). Di satu pihak, ini adalah tempat kudus Tuhan; di lain pihak adalah kuburan untuk mayat-mayat raja-raja. Jadi, ini bukanlah mayat-mayat dari orang-orang kelas bawah melainkan mayat-mayat raja-raja, yaitu orang-orang dengan kedudukan yang tinggi.

TUHAN MENYURUH YEHEZKIEL UNTUK MENUNJUKKAN RUMAH ITU KEPADA UMAT ITU

Setelah menunjukkan kekejian-kekejian ini, Tuhan memberi tahu Yehezkiel bagaiman untuk mengajar umat itu: “Maka engkau, hai anak manusia, terangkanlah kepada kaum Israel tentang Bait Suci ini, agar mereka menjadi malu melihat kesalahan-kesalahan mereka” (ay. 10a). Tuhan tidak menyuruh Yehezkiel untuk mengajarkan hukum taurat dan Sepeluh Perintah kepada umat Allah sebagaimana Dia telah menyuruh Musa. Sebaliknya, Dia menyuruh Yehezkiel untuk menunjukkan rumah Allah kepada umat itu. Di sini, Tuhan kelihatannya akan mengataka, “Mulai sekarang dan seterusnya, ini bukan lagi masalah dispensasi hukum taurat melainkan dispensasi rumah-Ku. Memelihara hukum taurat saja tidaklah cukup baik. Kamu harus memelihara bentuk, gaya, ketentuan-ketentuan, ketetapan-ketetapan, hukum-hukum, dan keluar masuk yang berhubungan dengan rumah itu. Kamu harus berperilaku bukan sekadar menurut Sepuluh Perintah melainkan juga menurut rumah-Ku.”

Menurut ayat 10, Allah ingin Yehezkiel menunjukkan bait itu kepada rumah tangga Israel supaya umat itu menjadi malu akan kesalahan-kesalahan mereka. Bait Allah adalah satu pola teladan, dan jika umat itu mau menguji diri mereka sendiri di dalam terang dari pola teladan ini, maka mereka akan mengenal kekurangan-kekurangan mereka. Adalah maksud Allah, memeriksa penghidupan dan tindak tanduk umat Israel dengan rumah-Nya, tempat kediaman-Nya, sebagai satu aturan dan pola teladan. Penghidupan umat Allah harus sesuai dengan bait Allah. Dengan menunjukkan bait kepada umat Allah itu menyingkapkan dosa-dosa dan kekurangan-kekurangan mereka dan menyebabkan mereka menjadi malu akan kesalahan-kesalahan mereka.

Kebanyakan kaum beriman hari ini merasa bahwa peraturan-peraturan moral dan prinsip-prinsip rohani itu sudah cukup sebagai peraturan-peraturan untuk perilaku dan tindak tanduk. Sedikit sekali yang menyadari bahwa perilaku dan tindak tanduk kita haruslah diuji bukan hanya menurut peraturan-peraturan moral dan prinsip-prinsip rohani melainkan juga menurut gereja, rumah Allah.

Pengajaran-pengajaran yang umum atau rendah di dalam Kekristenan hari ini memberi tahu kaum beriman bagaimana untuk berperilaku, yaitu apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Kaum beriman diberikan banyak peraturan-peraturan dalam berperilaku. Juga ada pengajaran-pengajaran yang lebih tinggi yang mendorong kaum beriman untuk menjadi rohani. Pengajaran-pengajaran ini merupakan satu peningkatan terhadap pengajaran-pengajaran mengenai perilaku. Tuhan tidak menyuruh Yehezkiel untuk menunjukkan hukum taurat atau prinsip-prinsip rohani kepada rumah tangga Israel. Sebaliknya, Tuhan menyuruh Yehezkiel untuk menunjukkan rumah-Nya kepada rumah tangga Israel. Karena rumah itu akan menjadi peraturan mereka, maka Tuhan menyuruh Yehezkiel untuk menunjukkannya kepada mereka “bagian-bagiannya, pintu-pintu keluar dan pintu-pintu masuknya dan seluruh bagannya; beritahukanlah kepada mereka segala peraturannya dan hukumnya dan tuliskanlah di hadapan mereka, agar mereka melakukan dengan setiap segala hukumnya dan peraturannya” (ay. 11).

Perhatian utama kita hari ini seharusnya bukanlah pada perilaku diri kita sendiri atau bahkan pada menjadi rohani. Perhatian kita haruslah pada disesuaikan dengan rumah Allah, yaitu dengan bagaimana kita berperilaku di dalam rumah Allah. Tuhan tidak menyuruh Yehezkiel untuk menunjukkan hukum taurat, yaitu Sepuluh Perintah, kepada rumah tangga Israel; Dia juga tidak menyuruh Yehezkiel untuk menunjukkan prinsip-prinsip rohani kepada rumah tangga Israel. Sebaliknya, Tuhan menyuruh Yehezkiel untuk menunjukkan rumah-Nya kepada rumah tangga Israel.

Misalnya ada seorang muda diselamatkan. Sebelum ia diselamatkan, ia memperlakukan orang tuanya dan kakak perempuannya dengan sangat jelek. Sekarang, setelah ia diselamatkan, ia belajar bagaimana memperlakukan mereka dengan hormat dan berperilaku dengan benar dan dengan tepat dalam hubungannya dengan ayah, ibu, dan kakak perempuannya. Kemudian, ia belajar untuk menjadi rohani dan melakukan hal-hal seperti menghitung diri sendiri telah mati. Ia baik dan tindak tanduk dan dalam perkara-perkara tertentu, ia bahkan rohani; namun, ia mutlak merdeka. Ia begitu merdeka hingga ia tidak mau berdoa dengan orang lain. Orang yang demikian, yang sangat merdeka ini, tidak mengenal sesuatu tentang rumah Allah. Ia sama sekali tidak memperhatikan gereja. Segala sesuatu yang ia lakukan adalah bagi dirinya sendiri secara individu; tidak ada sesuatu yang bagi gereja, Tubuh, yaitu ekspresi Kristus yang korporat.

Jika orang semacam ini diukur oleh rumah itu, maka ia akan menyadari bahwa ia kekurangan di dalam banyak hal. Misalnya, ia akan menyadari bahwa ia tidak memiliki jendela, yaitu, Roh pemberi hayat. Ia perlu memiliki jendela dengan berseru kepada nama Tuhan Yesus. Semakin ia berseru kepada nama Tuhan, semakin ia akan memiliki jendela. Saudara ini juga perlu diperiksa oleh pintu-pintu rumah itu dan dibandingkan dengan pintu-pintu rumah itu. Ini bisa menyebabkan dia sadar bahwa ia memiliki banyak pintu yang melaluinya ia bisa keluar dari kehidupan gereja. Mengenai kehidupan gereja, ia boleh datang dan pergi sesukanya, datang pada satu hari dan pergi pada hari berikutnya. Meskipun ia memiliki banyak pintu, tetapi bait itu tidak mempunyai banyak pintu. Ia tidak memiliki jendela, tetapi ia memiliki banyak pintu, yaitu banyak cara untuk meninggalkan kehidupan gereja.

Kita semua perlu diperiksa oleh bangunan itu, rumah itu, di dalam keluar masuk kita. Jika kita ingin masuk ke dalam kehidupan gereja, maka kita harus masuk melalui satu pintu gerbang. Kemudian kita perlu masuk ke dalam dan ke atas, dan naik semakin tinggi. Begitu kita mencapai bagian belakang dari tingkat ketiga, maka kita akan sadar bahwa kita tidak bisa melarikan diri, karena tidak ada pintu gerbang yang melaluinya kita bisa pergi ke luar.

Di dalam kitab Yehezkiel, Allah mengukur umat-Nya dengan bait itu. Misalnya, di dalam bait itu angka 6 seringkali dipakai. Seperti yang telah kita tunjukkan, angka 6 di sini yang dipakai untuk dinding, jalan masuk, dan bagian-bagian lainnya dari bait itu, menandakan keinsanian Tuhan Yesus. Ini menunjukkan bahwa kita perlu memeriksa keinsanian kita dengan bangunan itu dan mengambil keinsanian Tuhan Yesus sebagai keinsanian kita.

Contoh lainnya berhubungan dengan kayu yang dipakai di dalam bait itu. Kayu yang dipakai untuk satu tujuan tertentu harus memiliki satu ukuran yang tepat. Ini berarti bahwa kayu itu harus menjaga kedudukannya dan berfungsi sesuai dengan itu. Jika sepotong kayu itu lebih besar atau lebih kecil dari ukuran yang diperlukan, maka kayu itu tidak akan pas dengan bangunan itu. Dalam menerapkan hal ini kepada pengalaman kita di dalam kehidupan gereja hari ini, kita perlu melihat apakah di dalam situasi kita, kita sesuai dengan ukuran-ukuran bait Allah. Misalnya, Allah ingin agar Anda mengukur tiga hasta. Apakah Anda sesuai dengan ukuran ini, atau Anda mengukurnya lebih atau kurang dari tiga hasta? Seorang saudari harus berdiri di atas kedudukan sebagai seorang saudari. Jika ia ingin berdiri di atas kedudukan seperti seorang saudara, maka ia tidak akan berada dalam ukurannya, dan ini tidak akan sesuai dengan bangunan itu atau pas dengannya.

Contoh lainnya tentang diukur oleh bangunan Allah ini melibatkan kerub dan pohon-pohon palem. Jika kita diukur oleh kerub dan pohon-pohon palem yang diukir pada dinding, maka kita akan melihat perkara ekspresi dari gambar Kristus yang mulia dan ekspresi dari kemenangan Kristus. Sebagai seorang yang ada di dalam kehidupan gereja, apakah Anda memiliki gambar Kristus? Apakah Anda mengekspresikan kemuliaan Kristus dan kemenangan Kristus? Sudahkah Anda mengalami “pengukiran” Allah? Apakah Anda memiliki luka-luka atau luka-luka tergores yang mempersaksikan bahwa Allah telah mengukir Anda? Jika kita diukur oleh bait dengan cara demikian, maka kita dapat menyadari bahwa kita masih merupakan “kayu yang halus,” kayu yang tidak memiliki kerub dan pohon-pohon palem yang tidak diukirkan kepadanya.

Poin penting yang khususnya adalah bahwa di dalam bangunan itu tidak ada potongan-potongan yang terpisah. Setiap bahan telah dibangunkan. Setiap potongan berhubungan dengan yang lainnya, dan tidak ada potongan yang terpisah. Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda merdeka? Sudahkah Anda dibangun ke dalam bangunan itu? Anda mungkin mengatakan bahwa Anda menyukai ini dan tidak menyukai itu, tetapi pertanyaannya bukanlah apa yang Anda sukai atau tidak Anda sukai melainkan apakah Anda sesuai dengan bangunan itu, yaitu dengan gereja. Apakah cara Anda itu sesuai dengan kehidupan gereja?

Yehezkiel disuruh agar dari poin itulah rumah tangga Israel harus berperilaku menurut rumah Allah. Ini menunjukkan bahwa hari ini kita harus berperilaku bukan menurut pengajaran-pengajaran tertentu melainkan menurut gereja. Gereja harus menjadi peraturan kita. Kita perlu diatur oleh model gereja, oleh pintu masuk dan pintu keluar gereja, oleh ketentuan-ketentuan, ketetapan-ketetapan, dan hukum-hukum dari gereja. Ini berarti bahwa kita harus menjadi umat Allah yangbukan menurut hukum taurat Musa melainkan menurut bentuk bait di dalam Yehezkiel.

Hari ini perhatian Tuhan bukanlah hukum taurat—perhatian-Nya adalah rumah itu. Perhatian-Nya bukanlah kerohanian—perhatian-Nya adalah gereja. Tuhan memperhatikan gereja, yaitu tempat takhta-Nya, tempat tapak kaki-Nya, tempat di mana Dia bisa tinggal bagi perhentian dan kepuasan-Nya. Karena Tuhan begitu memperhatikan gereja, yaitu rumah-Nya, maka kita juga harus memperhatikan gereja sebagai rumah-Nya dan membuat kita sesuai dengannya. Jika kita menyadari hal ini, maka kita tidak akan sekadar memperhatikan pengajaran-pengajaran dari Alkitab atau tentang hayat batini. Demikian juga, kita tidak akan memperhatikan perkara bahasa lidah atau cara tertentu untuk berdoa. Sebaliknya, kita akan mutlak memperhatikan gereja dan membuat kita sendiri supaya sesuai dengan gereja, rumah Allah.

Kehidupan gereja, atau kehidupan Tubuh, adalah ujian yang paling besar dari kerohanian yang sesungguhnya. Jika kita tidak bisa melalui ujian kehidupan gereja ini, maka kerohanian kita itu tidaklah sejati.

Kita perlu melihat dari kitab Yehezkiel bahwa tuntutan dari Kristus yang berhuni itu bukanlah menurut hukum taurat melainkan menurut rumah-Nya. Setiap orang harus diukur dan diperiksa menurut ukuran rumah Allah. Kita bukan berada di bawah dispensasi hukum taurat; kita berada di bawah dispensasi rumah itu. Ini adalah zaman gereja, bukan zaman sekadar menjadi rohani. Sekarang adalah zaman bagi kehidupan gereja. Jika apa adanya kita dan apa yang kita lakukan itu tidak bisa sesuai dengan kehidupan gereja, maka itu tidak ada apa-apanya di pandangan Allah dan mungkin bahkan merupakan satu kekejian bagi-Nya, yaitu semacam persundalan. Karena itu, kita perlu membuat diri kita menjadi sesuai dengan gereja dan membiarkan gereja untuk mengukur kita dan memeriksa kita di dalam setiap aspek.

MEZBAH—TEMPAT BAGI UMAT ALLAH UNTUK DITEBUS DAN DIPERSEMBAHKAN

Setelah bait, kita sampai ke mezbah. Di dalam 43:18-27, kita memiliki ketentuan-ketentuan tentang mezbah. Mezbah adalah tempat bagi umat Allah untuk ditebus dan dipersembahkan. Menurut catatan di dalam ayat-ayat tentang mezbah ini, umat itu memerlukan waktu tujuh hari untuk dimurnika. Mereka dituntut untuk mempersembahkan satu kurban dosa dengan darah penebusan setiap hari selama tujuh hari itu. Kemudian pada hari kedelapan, yaitu hari kebangkitan, mereka harus mempersembahkan diri mereka sendiri dengan mempersembahkan satu kurban bakaran (ay. 27). Setelah kurban bakaran ini, mereka menikmati kurban pendamaian sebagai satu hari raya bersama dengan Tuhan dan umat-Nya. Ini menunjukkan bahwa setelah pemurnian itu, yaitu pentahiran di atas mezbah selama tujuh hari, umat Tuhan diterima oleh Dia, menjadi satu kepuasan bagi-Nya, dan memiliki satu hari raya bersama dengan-Nya,

Dalam kehidupa gereja hari ini, kita perlu mezbah bagi pemurnian dan bagi konsekrasi. Kita perlu mempersembahkan diri kita sendiri kepada Tuhan sebagai satu kurban bakaran. Berbuat demikian berarti bahwa kita mutlak bagi Tuhan. Pertama, kita perlu dibasuh, dibersihkan, dan dimurnikan dan kemudian kita bisa mempersembahkan diri kita sendiri kepada Tuhan. Untuk memelihara bait itu, kita memerlukan mezbah. Untuk memelihara kehidupan gereja, kita memerlukan pemurnian, pengudusan, dan konsekrasi melalui salib.

Pemurnian ini memerlukan satu periode waktu selama tujuh hari (ay. 26). Ini menunjukkan bahwa pemurnian itu tidak bisa digenapkan dengan cepat; bagi kita untuk dibersihkan dan dimurnikan itu memerlukan satu periode waktu, yaitu waktu di mana kita dijauhkan dari segala hal yang negatif. Kemudian pada hari kedelapan, yaitu di dalam kebangkitan, kita perlu mempersembahkan diri kita sendiri kepada Tuhan sebagai kurban bakaran dengan mutlak bagi kepuasan-Nya. Setelah ini, mulai dari hari kedelapan dan seterusnya, kita bisa memiliki satu hari raya bersama dengan Tuhan, dan menikmati kekayaan-kekayaan Kristus di hadirat Allah.

SATU RINGKASAN TENTANG HUKUM DARI RUMAH ITU

Ayat 12 mengatakan, “Inilah ketentuan mengenai Bait Suci itu: seluruh daerah yang di puncak gunung itu adalah maha kudus. Sungguh, inilah ketentuan mengenai Bait Suci itu." Di sini kita melihat bahwa hukum tentang rumah itu bisa diringkas menjadi dua poin: Rumah itu harus berada di atas puncak gunung, dan itu harus menjadi yang paling kudus. Berada di atas gunung berarti berada di dalam kebangkitan dan di dalam kedudukan kenaikan. Ini menunjukkan bahwa kehidupan gereja itu haruslah tinggi, yaitu di atas puncak gunung. Gereja juga harus menjadi kudus, terpisah, dan dikuduskan dari segala sesuatu yang duniawi.

Hukum dari rumah itu, yaitu hukum dari bait itu berhubungan dengan karakter Allah. Allah adalah Allah yang mahatinggi, dan Dia adalah Allah yang kudus. Karena itu, Dia ingin tempat kediaman-Nya juga menjadi tinggi dan kudus. Segalah sesuatu di dalam kehidupan gereja itu haruslah tinggi dan kudus, dan bisa sepadan dengan hukum dari bait itu.

Menjadi tinggi dan menjadi kudus—ini adalah dua prinsip besar mengenai gereja. Tinggi adalah kedudukan gereja, dan pengudusan adalah sifat dari gereja. Dalam kedudukan, gereja itu tinggi; dalam sifat, gereja itu kudus. Kita tidak boleh meredahkan gereja, dan kita tidak boleh membuat gereja menjadi umum/biasa. Sebaliknya, kita harus selalu menghormati ketinggian gereja dan menghormati kekudusan gereja, dan mengenal bahwa dalam kedudukan, gereja itu berada dalam kebangkitan dan kenaikan dan bahwa di dalam sifat, gereja itu sangat kudus.

Apakah kehidupan gereja Anda berada di puncak gunung? Apakah kehidupan gereja Anda itu kudus? Kita semua perlu memeriksa diri kita sendiri dengan dua aspek dari hukum rumah ini. Jika dalam kehidupan gereja kita, kita berada dalam kebangkitan dan dalam kedudukan kenaikan dan jika kita sangat kudus, aka kita bisaa menjadi tempat kediaman Allah.