PEMULIHAN LAHIRIAH DAN BATINIAH OLEH HAYAT
Pembacaan Alkitab:
Yeh. 34:5, 14, 10, 15; 36:8-12, 15, 22-30, 33-38
Dalam berita ini kita akan mempertimbangkan perkara pemulihan lahiriah dan batiniah oleh hayat.
MENGHAKIMI MANUSIA LAMA LAGI
Pemulihan oleh hayat dimulai dalam pasal tiga puluh tiga, dimana Allah menetapkan penjaga. Pemulihan ini dilanjutkan dalam pasal tiga puluh empat, dimana Allah sendiri datang untuk menjadi Gembala untuk mennyelidiki umat-Nya, mencari mereka, untuk membawa mereka kembali, dan membuat mereka menikmati kenikmatan Kristus yang dilambangkan oleh kekayaan tanah permai. Setelah itu, dalam pasal tiga puluh lima Tuhan mengingatkan kita akan keperluan penghukuman manusia lama kita, yang dilambangkan oleh Edom. Inilah alasan bahwa setelah pasal tiga puluh ada perkataan lain mengenai penghakiman atas Edom. Sebagian besar, Allah menunggu sampai penghakiman telah dilakukan sebelum Dia memulai pekerjaan pemulihan-Nya. Namun, dalam proses dari pemulihan ini, masih ada keperluan penghakiman Allah. Ini benar, khususnya, mengenai Edom. Edom dihakimi dalam bagian sebelumnya, karena manusia lama sangat sulit ditanggulagi, penghakiman atas manusia lama harus diulangi. Kemarin kamu mungkin telah menghukum manusia lamamu dan menggalami penghakiman atasnya. Tetapi hari ini manusia lamamu mungkin kembali mengujungi kamu, mungkin dengan cara yag baik atau dengan cara yang licik. Kamu telah dipulihkan dan telah dibawa kembali kepada Kristus sebagai tanah permai dan telah masuk ke dalam keikmatan yang kaya akan Krtistus. Kamu megira bahwa manusia lamamu telah sepeuhnya dihukum dan dihakimi, tetapi kamu tidak meyandari bahwa dia telah kembali tanpa memberi kamu pegumuman apapun dan tanpa meminta ijin utuk mengujungi kamu. Sekarag kamu sedang menikmati Kristus, dia menyertai kamu, membeci kenikmatanmu akan Kristus dan kenikmatanmu akan hidup gereja.
Yehezkiel 35 berkata bahwa Edom dan sekutunya gembira melihat bahwa Israel dipandang redah (ay. 12, 15). Edom juga menantikan untuk memiliki dua bangsa dari Israel dan Yehuda, menyatakan mereka milik Edom. Bagi Tuhan, Edom berbicara tidak masuk akal, karena Dia bermaksud melaksanakan penghakiman-Nya atas Edom sekali lagi.
Kita perlu belajar pelajaran dari penghakiman Edom. Ketika kita sedang dipulihkan, kita harus menghakimi manusia lama kita lagi dan lagi. Peghakiman atas Amon, Moab, Tirus, Sidon, dan Mesir mungkin sekali untuk selamanya, tetapi penghakiman atas Edom tidak dapat sekali untuk selamanya. Sebaliknya, manusia lama kita, harus dihakimi secara berulang sampai hari penebusan tubuh kita. Inilah alasan bahwa antara Yehezkiel 34 dan 36, yang adalah pasal ajaib, ada pasal negatif mengenai peghakiman atas Edom. Karena Edom kembali, peghakiman atasnya harus diulangi. Meskimun kita telah menghukumnya, menghakiminya, dan menyingkirkannya, dia kembali. Oleh karena itu, kita perlu bekerjasama dengan Tuhan untuk melaksanakan sekali lagi penghakiman-Nya atas manusia lama.
Pemulihan Tuhan sejati bukan perkara pertobatan secara sederhana, berpaling kepada Tuhan, dan meikmati berkat Tuhan. Juga ada keperluan untuk berubah dalam hidup dan sifat kita. Dalam pemulihan-Nya, Allah perlu menjamah hati kita dan roh kita dan dengan demikian menjamah kehidupan kita dengan langsung dan megubah kita dalam hayat dan sifat. Oleh karena itu, kita perlu baik pemulihan lahiriah yang dijelaskan dalam Yehezkiel 34 dan pemulihan batiniah yag dijelaskan dalam Yehezkiel 36. Karena pemulihan dalam Yehezkiel 36 memperhatikan kehidupan dan sifat kita dan melibatkan hati kita dan roh kita, pasal tiga puluh lima disisipkan utuk menujukkan pentingnya penghakiman manusia lama. Untuk memulihkan dan membuat kita manusia baru, Allah harus menghakimi manusia lama kita, ciptaan lama kita.
PEMULIHAN TANAH PERMAI
Poin utama dalam Yehezkiel 36 adalah pemulihan tanah permai, yaitu, restorasi kenikmatan yang penuh akan kekayaan Kristus (ay. 8-15, 33-36). Kapan saja kita kembali, dan menjadi jatuh,kita kehilangan kenikmatan yang kaya akan Kristus. Kristus Sendiri kaya, tetapi kita dapat kehilangan kenikmatan kekayaan-Nya. Kita memuji Tuhan bahwa di dalam pemulihan-Nya, ada restorasi kenikmatan kekayaan Kristus.
PEMULIHAN LAHIRIAH DAN PEMULIHAN BATINIAH
Dalam pemulihan Tuhan ada dua aspek: aspek lahiriah dan aspek batiniah, pemulihan lahiriah dan pemulihan batiniah. Misalnya, kamu telah jatuh dari Kristus, dari hidup gereja, dan dari persekutuan dengan kaum saleh dan telah terlibat dalam hal-hal dosa, duniawi. Tetapi satu hari Tuhan mencari kamu dan membawa kamu kembali kepada Diri-Nya Sendiri, kepada hidup gereja, dan persekutuan dengan kaum saleh. Ini suatu pemulihan, tetapi itu hanya pemulihan lahiriah, aspek lahiriah dari pemulihan Tuhan. Namun, pada saat yang sama Tuhan melakukan pekerjaan batiniah. Dia tidak hanya membawa kamu kembali ke tanah permai, tetapi Dia juga memulihkan kamu secara batini. Untuk dipulihkan kembali kepada hidup gereja dan persekutuan dengan Kristus adalah hanya aspek lahiriah. Kamu masih perlu aspek batiniah dari pemulihan Tuhan, yang dibahas dalam pasal 36:22-30.
MEMPERHATIKAN NAMANYA YANG KUDUS
Yehezkiel 36:21-23 berkata, “Aku merasa sakit hati karena nama-Ku yang kudus yang dinajiskan oleh kaum Israel di tengah bangsa-bangsa, di mana mereka datang. Oleh karena itu katakanlah kepada kaum Israel: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Bukan karena kamu Aku bertindak, hai kaum Israel, tetapi karena nama-Ku yang kudus yang kamu najiskan di tengah bangsa-bangsa di mana kamu datang. Aku akan menguduskan nama-Ku yang besar yang sudah dinajiskan di tengah bangsa-bangsa, dan yang kamu najiskan di tengah-tengah mereka. Dan bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, demikianlah firman Tuhan ALLAH, manakala Aku menunjukkan kekudusan-Ku kepadamu di hadapan bangsa-bangsa”. Di sini kita melihat bahwa dalam memulihkan umat-ya, Allah melakukannya demi nama-Nya yang kudus. Pemulihan hayat batiniah dilakukan oleh Allah untuk kepentingan nama-Nya. Banyak dari kita dapat bersaksi bahwa kita telah dipulihkan dan dibangunkan bukan karena jasa apaun di dalam diri kita sendiri, tetapi karena Allah melakukan sesuatu di dalam kita untuk nama-Nya sendiri.
MEMBAWA MEREKA KE TEMPATNYA SENDIRI
“Aku akan menjemput kamu dari antara bangsa-bangsa dan amengumpulkan kamu dari semua negeri dan akan membawa kamu kembali ke tanahmu” (ay. 24). Dalam pemulihan-Nya, Allah membawa kita keluar dari dunia dan membawa kita kembali ke tempat kita sendiri. Dia mengembalikan kita kepada Kristus sebagai tanah kita.
TUHAN MEMBASUH KITA DENGAN AIR JERNIH
Tuhan tidak hanya membawa kita kembali kepada kenikmatan Kristus; Dia juga membasuh kita dengan air jernih. Zakharia 13:1 berkata bahwa darah Tuhan adalah sebuah sumber yang membasuh. Demikian pula, air jernih dalam Yehezkiel 36:25 mengacu pada darah penebusan dan pembasuhan Tuhan. Tuhan Yesus membasuh kita dengan darah-Nya yang membasuh bukan hanya ketika kita diselamatkan, tetapi saat kita dibangunkan dan dibawa kembali kepada Dia.
Pembasuhan dari Pencemaran
Tuhan membasuh kita dari dua kategori hal yang kotor—dari pencemaran dan dari berhala. Pencemaran mencakup segala macam hal dosa, ketidakadilan, ketidakadilbenaran, dan kegelapan. Juga mencakup membenci yang lain, melakukan kesalahan terhadap yang lain, berbuat salah kepada yang lain, dan mengikuti hiburan duniawi. Ketika kita diselamatkan, kita merasa malu akan hal cemar ini. Ketika kita dibangunkan, kita juga memiliki perasaan malu demikian, tidak menginginkan hal-hal dosa dan duniawi dimana kita telah sekali terlibat dengannya. Darah Tuhan sebagai air jernih membasuh kita dari semua pencemaran kita. Mungkin hari ini kita perlu dibasuh dari gosip, desas-desus, kecemburuan, kritikan, dan ketidakbaikan. Kita memuji Tuhan bahwa tidak peduli betapa cemarnya kita, darah Tuhan adalah air jernih yang membasuh kita dan membersihkan kita.
Dibersihkan dari Berhala
Sebelum kita diselamatkan, kita tidak hanya telah sangat dicemari, tetapi kita juga memiliki banyak berhala. Ini juga dapat menjadi situasi kita setelah kita menjadi murtad, sebelum kita dibangunkan. Pertimbangkan betapa banyak berhala yang kamu miliki sebelum kamu diselamatkan atau dibangunkan. Bagi beberapa orang, sebuah iklan pakaian adalah suatu berhala. Mereka mengasihi iklan pakaian ini lebih daripada mereka mengasihi Tuhan Yesus. Suatu kali ketika Saudara Watch man Nee sedang meministrikan di Shanghai, tiba-tiba dia menunjuk satu saudari tertentu dan bertanya, “Berapa banyak pasal yang ada dalam kitab Matius?” Dia menjawab, “Dua puluh satu”. Lalu Saudara Nee menanyakan dia berapa banyak kancing yang ada pada gaunnya yang panjang, dan tanpa keragu-raguan saudari itu memberitahu dia jumlah yang tepat. Saudara Nee selanjutnya berkata, “Kamu mengenal gaunmu yang panjang begitu baik. Kamu bahkan mengingat berapa banyak kancing yang ada padanya. Tetapi kamu tidak ingat berapa banyak pasal yang ada dalam kitab Matius”. Ilustrasi sederhana ini menunjukkan pada kita bahwa kita mungkin mengasihi sebuah iklan pakaian lebih daripada kita mengasihi Tuhan Yesus. Segala sesuatu yang kita kasihi lebih daripada Tuhan adalah berhala.
Beberapa orang Kristen belum pernah mencucurkan air mata untuk Tuhan Yesus, tetapi mereka mencucurkan banyak air mata untuk pakaian mereka. Ini membuktikan bahwa mereka mengasihi pakaian lebih daripada Tuhan Yesus. Orang lain mungkin memperhatikan hal-hal seperti gelar doktor atau jabatan yang tinggi. Yang lain mungkin masih damba untuk terkenal atau membuat nama untuk diri mereka sendiri. Semua hal ini adalah berhala. Kita perlu darah penebusan Tuhan untuk membasuh kita tidak hanya dari semua pencemaran kita, tetapi juga dari semua berhala kita.
HATI YANG BARU DAN ROH YANG BARU
Pembasuhan yang disebutkan di atas adalah sesuatu pada pihak negatif. Pada pihak positif, setelah pembasuhan, Tuhan memberi kita hati yang baru dan roh yang baru. Banyak dari kamu telah menjadi orang Kristen bertahun-tahun, tetapi kamu tidak pernah mendengar suatu berita yang memberitahu kamu bahwa kamu memiliki roh yang baru. Tidak seorang pun memberitahu kamu bahwa pada saat pertobatanmu, Tuhan bukan hanya memberi kamu satu hati yang baru, tetapi juga satu roh yang baru.
Mengasihi Tuhan dengan Hati Kita
Kita perlu menyadari bahwa ada perbedaan antara hati dan roh. Hati kita adalah sebuah organ mengasihi. Sekali saya melepaskan berita dimana saya menunjukkan bahwa tidak cukup hanya memiliki hati yang mengasihi terhadap Tuhan. Seorang saudari dibuat pusing oleh hal ini dan ingin mengenal apa yang saya maksud dengan mengatakan bahwa kita perlu sesuatu lebih daripada hati yang mengasihi. Untuk mengilustrasikannya, saya menanyakankan dia, apakah dia mengasihi Alkitab tertentu yang dimiliki suaminya dan apakah dia ingin memilikinya. Kemudian saya berkata, “Alkitab itu milikmu; silakan ambil”. Ketika dia mengulurkan tangannya untuk mengambil Alkitab itu, saya berkata, “Jangan gunakan tanganmu. Gunakan saja hatimu yang mengasihi. Ambillah Alkitab dengan hatimu”. Melalui ilustrasi ini, dia menjadi paham bahwa memiliki sebuah hati yang mengasihi tidaklah cukup. Dia juga perlu mengulurkan tangannya untuk mengambil Alkitab. Dengan cara yang sama, kita perlu baik hati yang mengasihi Tuhan maupun roh yang menerima Dia.
Menerima Tuhan dengan Roh kita
Kita menghasihi Tuhan dengan hati kita. Hati adalah organ mengasihi, tetapi bukanlah organ menerima. Untuk mengambil atau menerima sesuatu kita harus menggunakan organ yang tepat. Jika kita ingin mengontaki Tuhan, menerima Tuhan, menikmati Tuhan, makan Tuhan, dan minum Tuhan, kita perlu roh. Kita mengasihi Tuhan dengan hati kita, sedangkan kita mengontaki Tuhan dan menerima Tuhan dengan roh kita.
Pertama, kita perlu mengasihi Tuhan. Ini berarti kita memiliki selera untuk Tuhan. Jika kita tidak memiliki kasih terhadap Tuhan dan tidak memiliki selera untuk Dia, kita tidak akan datang kepada Dia atau menerima Dia. Sebelum kita diselamatkan, kita tidak mengasihi Tuhan dan kita tidak memiliki selera terhadap Tuhan. Sebaliknya, citarasa kita adalah untuk dunia dan untuk hal-hal dunia, khususnya hiburan duniawi. Ketika orang lain berbicara kepada kita tentang Tuhan Yesus, kita tidak peduli untuk mendengarkannya. Kita tidak tertarik karena kita tidak memiliki selera. Kita mengasihi hal lain, dan hati kita melekat pada hal-hal itu. Namun, satu hari Tuhan menjamin kita dengan lawatan-Nya yang mulia, dan dengan segera selera kita diubah. Kita mulai mengasihi Tuhan dan Alkitab, dan kita kehilangan selera kita untuk hal-hal duniawi. Inilah perbuatan Tuhan yang mulia, dan hal itu membuat hati kita berpaling dari dunia kepada Tuhan.
Kita perlu mengasihi Tuhan Yesus dan memiliki selera untuk Dia yang akan memalingkan kita dari selera terhadap hal-hal lain. Kita harus sanggup memberitahu Tuhan Yesus bahwa kita mengasihi Dia dan bahwa kita lapar dan haus akan Dia. Sekali kita mendapatkan selera mengasihi demikian terhadap Tuhan, kita perlu menggunakan roh kita sebagai organ untuk mengontaki Dia, menerima Dia, makan Dia, minum Dia, dan menghirup Dia. Sekarang kita telah melihat bahwa kita perlu dua organ, hati yang mengasihi dan roh yang menerima. Roh yang menerima telah sangat diabaikan oleh banyak orang Kristen. Di beberapa tempat, berita-berita membangkitkan hati orang yang mengasihi, tetapi tidak menolong mereka untuk melatih roh mereka. Kita bersyukur kepada Tuhan bahwa Dia memberi kita tidak hanya hati baru untuk mengasihi Dia, tetapi juga roh baru untuk mengontaki Dia, menerima Dia, dan memuat Dia.
Hati yang Lembut
Hati baru yang Tuhan berikan kepada kita adalah sangat lembut. Bukan hati yang kaku, keras, dan membatu, tetapi sekarang kita memiliki hati daging, sebuah hati yang lembut terhadap Tuhan. Sebelum kita diselamatkan, kita dapat melakukan banyak hal dosa tanpa perasaan menyesal. Karena hati kita dikeraskan dan kaku, kita tidak memiliki perasaan batini terhadap dosa. Tetapi ketika kita diselamatkan, hati kita diubah oleh Tuhan. Sekarang kita memiliki hati yang lembut. Misalnya, kita hanya mengatakan beberapa kalimat dan merasakan bahwa kita salah dan kita tidak seharusnya mengatakan apapun. Dengan segera kita berhenti berbicara dan mungkin bahkan meminta maaf untuk apa yang telah kita katakan. Pada waktu yang lain, karena hati kita lembut, kita mungkin dibuat pusing oleh bahkan sedikit kesalahan atau oleh sedikit ketidakmurnian dalam motivasi kita. Ini berarti bahwa kita telah berubah dan dibangunkan, bahwa kita telah berpaling kepada Tuhan, dan bahwa hati kita telah menjadi lembut dan peka.
Melatih Roh Kita
Kita juga perlu melatih roh kita. Satu hati yang mengasihi tidaklah cukup. Sebagai tambahan kepada hati yang mengasihi, kita perlu roh yang diperbarui, menerima.
Kita memiliki roh insani sebelum kita diselamatkan, tetapi telah mati. Dalam Efesus 2:1 Paulus berkata bahwa kita telah mati dalam pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa. Tentu saja ini berarti bahwa kita telah mati bukan di dalam tubuh kita atau di dalam jiwa kita, tetapi di dalam roh kita. Ketika kita hidup di dalam tubuh kita, kita mati dalam roh kita. Ketika kita diselamatkan, Tuhan Yesus menghidupkan roh kita. Jadi, sekarang kita memiliki roh yang dihidupkan dan diperbarui.
Kamu mungkin merasa bahwa sangat sulit untuk membedakan antara roh kita dan hati kita. Daripada mencoba menganalisa perbedaannya, lebih baik kita mengenal perbedaannya menurut pengalaman kita. Ketika kita mempertimbangkan betapa manis dan mustikanya Tuhan Yesus itu dan betapa banyak yang telah Dia lakukan bagi kita, kita mungkin dibangkitkan dalam emosi kita dan berkata, “Tuhan Yesus, aku cinta pada-Mu!” Ini adalah ekspresi dari hati kita yang mengasihi. Tetapi ketika kita berseru kepada nama Tuhan Yesus, kita dapat merasa bahwa di dalam ada sesuatu selain hati kita yang telah dilatih. Inilah roh kita. Sama seperti kita tahu bahwa kita memiliki dua kaki dengan menggunakannya untuk berjalan, kita tahu bahwa kita memiliki roh dengan melatih roh kita untuk mengontaki Tuhan. Salah satu cara yang terbaik untuk menggunakan roh kita untuk mengontaki Tuhan adalah berseru, “O Tuhan Yesus!” Ketika kita melatih roh kita dengan cara ini, kita merasa bahwa sesuatu bergerak di dalam diri kita. Sesuatu itu adalah roh kita.
Dalam kelicikannya, Satan telah menyembunyikan perkara roh insani ini dari kebanyakan orang Kristen. Ketika banyak kaum beriman membaca Alkitab, mereka tidak melatih roh mereka, tetapi hanya melatih pikiran mereka. Ketika kita membaca Alkitab, kita perlu melatih roh kita sama seperti melatih pikiran kita. Kita tidak seharusnya mengabaikan roh kita. Jika kita tidak melatih roh kita, kita tidak dapat menjadi orang Kristen yang tepat. Sangat tragis bahwa orang Kristen diajarkan untuk memperhatikan pikiran tetapi bukan memperhatikan roh mereka. Banyak orang memperhatikan pengajaran fundamental atau karunia Pentakosta, tetapi menurut sejarah, pengajaran dan karunia tidak efektif dalam pembangunan gereja. Tentu saja, pengajaran dan karunia memiliki nilai, tetapi hal utama yang kita perlukan hari ini adalah melatih roh kita. Ini adalah hal yang paling penting, vital, dan unggul.
Satu Korintus berbicara tidak hanya tentang karunia-karunia, tetapi juga tentang hal-hal lainnya. Misalnya, dalam pasal tiga Paulus berbicara tentang makanan dan pertumbuhan. Ayat 2 berkata, “Susulah yang kuberikan kepadamu, bukan makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Sekarang pun kamu belum dapat menerimanya”. Dalam ayat 6, dia selanjutnya berkata, “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang menumbuhkan”. Ini bukanlah perkataan mengenai karunia-karunia. Dalam 12:13 Paulus berkata, “Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh”. Dalam ayat ini Paulus berkata bahwa kita telah diposisikan untuk minum dari satu Roh, tetapi dia tidak mengatakan apapun tentang karunia. Ayat penting lainnya dalam 1 Korintus adalah 15:45b: “Adam yang terakhir menjadi Roh pemberi hayat”. Banyak pembaca dari 1 Korintus mengapresiasi perkataan dalam pasal dua belas dan empat belas tentang berbicara dalam bahasa lidah dan bernubuat, tetapiu mengabaikan 15:45b. Mana yang kamu suka—berbicara dalam bahasa lidah atau Kristus sebagai Roh pemberi hayat? Jika kita membandingkan Roh pemberi hayat dengan berbicara dalam bahasa lidah, kita dapat berkata bahwa Roh pemberi hayat adalah seperti emas dan bahwa berbicara dalam bahasa lidah seperti kuningan. Dalam 13:1 Paulus berkata, “Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing”. Ini menunjukkan sebuah bunyi tanpa hayat. Jika kita berbicara dalam bahasa lidah dari manusia dan dari malaikat, namun tidak memiliki hayat di dalam roh kita, pembicaraan ini adalah seperti gong yang berkumandang. Perkataan Paulus di sini menujukkan bahwa berbicara dalam bahasa lidah bukanlah perkara hayat. Berbicara dalam bahasa lidah bukanlah ekspresi hayat.
Pada titik waktu ini, kita perlu mempertimbangkan cara Paulus berbicara dalam 1 Korintus 7. Bertentangan dengan banyak kaum Pentakosta hari ini, Paulus tidak berkata, “Demikianlah firman Tuhan”. Sebaliknya, dalam ayat 25 dia berkata, “Untuk mereka aku tidak mendapat perintah dari Tuhan. Tetapi aku memberikan pendapatku sebagai seorang yang dapat dipercayai karena rahmat Allah”. Ekspresi Demikianlah firman Tuhan dikutip dari Perjanjian Lama, tetapi tidak digunakan oleh para penulis Perjanjian Baru. Petrus, Paulus, dan Yohanes tidak menggunakan ekspresi ini. Daripada mengikuti kaum Pentakosta mengadopsi ekspresi dalam Perjanjian Lama, kita seharusnya belajar melatih roh kita untuk menjadi satu roh dengan Tuhan (1 Kor. 6:17). Ini berarti kita perlu menyadari bahwa, dalam pemulihan-Nya secara batini oleh hayat, Dia telah memberi kita roh yang baru.
Menaruh Roh-Nya ke dalam Roh Mereka
Yehezkiel 36:27 berkata, “Aku akan menaruh Roh-Ku di dalam kamu” (NASB). Di sini kita melihat bahwa Tuhan berkata tidak hanya Dia akan memberi kita hati baru dan roh baru, tetapi Dia akan menaruh Roh-ya di dalam kita, menaruh Roh-Nya ke dalam roh kita. Kita tidak seharusnya mengabaikan roh kita, karena roh kita adalah bejana yang berisi Roh Ilahi. Ketika kaum beriman mendengar kata roh,
mereka biasanya mengira Roh Kudus. Mereka jarang mempertimbangkan bahwa mereka memiliki roh insani. Ya, kita memerlukan Roh Kudus, tetapi kita perlu menyadari bahwa Roh Kudus berada dalam roh insani kelahiran kembali kita. “Roh itu Sendiri bersaksi bersama roh kita” (Rm. 8:16). Puji Tuhan bahwa kita memiliki hati yang baru dan roh yang baru dan bahwa kita memiliki Roh Kudus di dalam roh kita menguatkan kita setiap waktu.
Ini memampukan kita untuk memelihara perintah-perintah Allah. Perintah-perintah Allah adalah menurut sifat-Nya, dan kita memiliki sifat Allah di dalam kita karena kita memiliki Roh Kudus di dalam kita. Sekarang ada sesuatu di dalam kita yag berkaitan dengan hukum Taurat Allah. Roh Allah di dalam kita mengandung sifat Allah, dan sifat Allah berkatan dengan hukum Taurat Allah. Karena kita memiliki sifat Allah di dalam kita, sangatlah mudah bagi kita memelihara hukum Taurat-Nya. Mula-mula sulit bagi kita mengasihi yang lain, tetapi sekarang sangatlah mudah bagi kita mengasihi yang lain dan sulit untuk membenci mereka karena kita memiliki sifat baru, sifat Allah di dalam kita.
TANAH ITU MENJADI SEPERTI TAMAN EDEN
Dalam 36:34-36 Tuhan berjanji bahwa tanah yang tinggal tandus akan menjadi seperti taman eden. Ada taman kebahagiaan (34:29), Kristus sebagai pohon hayat, akan menjadi suplai kaya mereka. Gereja-gereja lokal harus mencapai kondisi yang tinggi demikian supaya mereka seperti taman Eden. Bahkan hari ini, seringkali di dalam sidang-sidang gereja, kita memiliki perasaan bahwa kita berada di taman Eden.
MEMBUAT MEREKA BANYAK SEPERTI LAUTAN MANUSIA
Yehezkiel 36:37-38 berkata, “Beginilah firman Tuhan ALLAH: Dalam hal ini juga Aku menginginkan, supaya kaum Israel meminta dari pada-Ku apa yang hendak Kulakukan bagi mereka, yaitu membuat mereka banyak seperti lautan manusia. Seperti domba-domba persembahan kudus, dan seumpama domba-domba Yerusalem pada waktu-waktu perayaannya, begitulah kota-kota yang sudah runtuh penuh dengan lautan manusia. Dengan begitu mereka akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN”. Di sini Tuhan berjanji bahwa Dia akan membawa masuk lautan manusia. Meskipun Dia berjanji untuk melakukan hal ini, kita masih perlu memohon kepada Dia. Ini berarti kita perlu berdoa untuk pertambahan, berkata, “O Tuhan, bawalah masuk lautan manusia. Engkau menjanjikan hal ini kepada kami.”
Di masa lalu, kapan saja kita berdoa bagi pertambahan jumlah, Tuhan menjawab. Saya rasa kita perlu berdoa lebih banyak. Tuhan berjanji, namun Dia perlu permohonan kita. Dia berjanji bahwa Dia akan menambah jumlah kita dengan lautan manusia, tetapi kita perlu berdoa untuk hal ini dan memohon Dia untuk melakukannya. Saya harap bahwa semua kaum saleh di semua gereja lokal akan berdoa secara pasti dan dengan khusus untuk pertambahan jumlah. Kita seharusnya tidak pernah menjadi puas dengan jumlah kita hari ini. Sebaliknya, kita semua seharusnya terdorong untuk melipat ganda untuk sejangka waktu. Jadi, kita perlu berdoa, “Tuhan, bawalah masuk lautan manusia.”
Di tahun 1963 di Los Angeles, kita hanya memilki dua puluh atau tiga puluh orang, tetapi setelah kita berdoa selama enam bulan, jumlahnya bertambah sangat besar. Di Elden Hall kita juga berdoa supaya Tuhan membawa masuk lautan manusia. Kita berdoa, “Tuhan, bawalah lautan manusia kepada kami”, dan Tuhan mendengar doa ini. Saya merasa bahwa hari ini kita perlu berdoa bahkan lebih, bertumpu pada dan mengklaim Yehezkiel 36:37-38 mengenai pertambahan jumlah.
Kita tidak seharusnya berkata bahwa jumlah tidak berarti apa-apa dan bahwa kita tidak memperhatikan jumlah. Kita tidak seharusnya menghibur diri kita sendiri dengan kegagalan macam apaun dalam perkara pertambahan jumlah. Kita tentu perlu pertambahan jumlah. Kita perlu berdoa untuk pertambahan, mengklaim janji Tuhan dalam Yehezkiel 36. Ketika beberapa orang mendengar hal ini, mereka mungkin berkata bahwa mereka tidak memperhatikan kuatitas, tetapi kualitas. Namun, kualitas berasal dari kuantitas. Oleh karena itu, kita perlu berdoa supaya Tuhan akan memberi kita pertambahan dan bahwa Dia akan membawa masuk lautan manusia.