← Daftar isi Yehezkiel (1) · bab 12/26

MANUSIA DI TAKHTA

Pembacaan Alkitab:

Yeh. 1:26-28; Kel. 24:10; Kej. 9:12-15; Why. 4:2-3; 21:19a; 22:1

Dalam berita sebelumnya kita telah menunjukkan bahwa dalam kehidupan orang Kristen dan dalam kehidupan gereja kita perlu langit yang jernih dengan takhta di dalamnya. Memiliki langit yang jernih berarti kita tidak memiliki awan atau kegelapan di antara kita dengan Tuhan, dan emiliki takhta berarti kita berada di bawah pemerintahan surga. Kita semua perlu memiliki kehidupan dengan langit yang jernih dan takhta di atas langit yang jernih. Dalam berita ini kita akan melanjutkan untuk mempertimbangkan Dia yang duduk di atas takhta (Yeh. 1:26-27).

DIA YANG DI TAKHTA

MEMILIKI PENAMPILAN MANUSIA

Ayat 26b berkata, “dan di atas yang menyerupai takhta itu ada yang kelihatan seperti rupa manusia”. Di sini kita diberitahu bahwa Dia yang di takhta kelihatannya seperti seorang manusia. Ini mutlak berbeda dengan konsep manusia, juga berbeda dengan konsep agama, termasuk konsep yang luas yang dipegang oleh Kekristenan hari ini. Terutama, konsep kita adalah bahwa Dia yang di atas takhta adalah Allah yang Mahakuasa. Pernahkah kamu berpikir bahwa Tuhan yang di atas takhta bukan hanya Allah yang Mahakuasa, tetapi juga adalah seorang manusia? Oh, Dia yang duduk di atas takhta adalah seorang manusia! Namun, ayat 28 berbicara tentang “Begitulah kelihatan gambar kemuliaan TUHAN”. Dia yang di atas takhta kelihatannya seperti seorang manusia, namun pada-Nya ada penampilan kemuliaan Tuhan.

Tentu saja orang Kristen menyadari, bahwa Tuhan Yesus adalah seorang manusia, ketika Dia berada di atas bumi. Mreka menyadari fakta bahwa dari palungan di Bethlehem sampai pada waktu Dia berada di atas salib di Golgota, dia adalah seorang manusia. Kita semua memiliki konsep ini. Namun, banyak kaum beriman dalam Kristus tidak menganggap bahwa Tuhan yang di atas takhta hari ini masih seorang manusia. Dia adalah manusia di sana. Sebagai Dia yang di takhta, Tuhan masih seorang manusia. Meskipun Dia adalah Allah yang Mahakuasa, di atas takhta Dia kelihatan seperti seorang manusia. Oleh karena itu, Matius 19:28 memberitahu kita bahwa “di dalam restorasi,”yaitu, di dalam zaman kerajaan yang akan datang, Anak Manusia akan duduk di atas takhta kemuliaan-Nya.

Betapa mustikanya bahwa Dia yang duduk di atas takhta di dalam Yehezkiel 1:26 memiliki penampilan seorang manusia! Ayat ini tidak berbicara tentang Allah Yang Mahakuasa, tetapi Dia yang memiliki “rupa seperti penampilan seorang manusia”. Setidaknya ada dua makna ganda pada fakta bahwa Dia yang duduk di atas takhta di sini memiliki penampilan seorang manusia. Pertama, teantu saja ada kaitan antara Yehezkiel 1:26 dan Kejadian 1:26, yang berkata bahwa Allah menciptakan manusia di dalam gambar-Nya dan menurut rupa-Nya. Kedua, dalam inkarnasi, Diri Allah Sendiri menjadi seorang manusia. Memiliki sifat manusia, Dia Hidup, mati, bangkit, dan naik sebagai seorang manusia, dan sekarang di surha Dia masih tetap Anak Manusia (Yoh. 6:62; Kis. 7:56).

Dalam Alkitab ada suatu pemikiran rahasia mengenai hubungan antara Allah dan manusia. Kedambaan Allah adalah untuk menjadi sama seperti manusia dan untuk membuat manusia sama seperti Dia. Ini berarti bahwa maksud Allah adalah untuk membaurkan Diri-Nya Sendiri dengan manusia dan dengan demikian membuat Diri-Nya Sendiri seperti manusia dan membuat manusia seperti Dia. Tuhan Yesus adalah manusia Allah; Dia adalah Allah yang lengkap dan manusia yang sempurna. Kita juga boleh berkata bahwa Dia adalah Allah-Manusia. Dia yang kita sembah hari ini adalah Allah-Manusia. Lagipula, untuk menjadi manusia dari Allah, seperti Musa menyebutnya (Ul. 33:1; Yos. 14:6; Mzm. 90), adalah untuk menjadi manusia Allah, manusia yang berbaur dengan Allah. Ini berkenan kepada Allah bahwa semua umat pilihan dan tebusan-Nya akan menjadi manusia Allah.

MAKSUD ALLAH ADALAH UNTUK MEMILIKI SEORANG MANUSIA

Maksud Allah di bumi adalah untuk memiliki seorang manusia. Inilah kedambaaan-Nya. Akhirnya, Dia Sendiri menjadi seorang manusia, dan hari ini di atas takhta Dia masih tetap seorang manusia. Orang-orang mungkin ingin menjadi seperti Allah, tetapi Allah ingin menjadi manusia. Maksud Allah adalah untuk mengerjakan Diri-Nya Sendiri ke dalam kita, membuat kita sama seperti Dia, dan bahkan membuat Diri-Nya Sendiri sama seperti kita. Jadi, maksud Allah adalah untuk memiliki seorang manusia dan mengerjakan Diari-Nya Sendiri ke dalam manusia. Kita perlu terkesan secara mendalam dengan fakta bahwa Tuhan masih tetap seorang manusia di atas takhta. Dalam kitab Yehezkiel, Istilah anak manusia digunakan lebih dari sembilan puluh kali. Ini menunjukkan betapa Allah mendambakan untuk memiliki seorang manusia.

Jika kita ingin memperhidupkan Allah dan mengekspresikan Allah, kita perlu menjadi seorang manusia dan memiliki penampilan manusia. Yehezkiel 1:5 berkata bahwa empat makhluk hidup memiliki penampilan manusia, dan ayat 26 berkata bahwa dIa yang di atas takhta memiliki penampilan manusia. Poin penting di sini adalah karena manusia diciptakan dalam gambar Allah untuk mengekspresikan Allah, hanya manusia yang seperti Allah. Seseorang harus memiliki penampilan manusia untuk memperhidupkan gambar Allah dan oleh karena itu mengekspresikan Allah. Jika kita ingin memperhidupkan Allah dan mengekspresikan Allah, kita harus menjadi seorang manusia dan memiliki penampilan manusia. Setiap orang yang tidak memiliki penanpilan manusia tidak dapat mengekspresikan Allah. Dia yang di atas takhta dan empat makhluk hidup keduanya memiliki penampilan manusia, menunjukkan bahwa empat makhluk hidup di atas bumi adalah ekspresi dari Dia yang di atas takhta.

Yehezkiel pasal satu adalah pasal terdalam di dalam Alkitab. Pemikiran dalam pasal ini adalah unggul. Kita telah melihat bahwa takhta berada di atas langit yang jernih, di atas permukaan luas yang rohani dan surgawi, atau cakrawala. Kasih karunia Allah bekerja atas sekelompok orang sampai pada satu tingkat yang membuat kondisi mereka sekarang menjadi kondisi surgawi. Dalam kondisi ini, ditunjukkan oleh langit yang jernih seperti kristal, takhta Allah hadir. Tempat takhta adalah tempat dimana langit dan bumi berkaitan. Karena pada makhluk-makhluk hidup di atas bumi ada takhta di atas langit yang jernih, Allah bukan hanya Allah langit, tetapi juga Allah bumi. Melalui makhluk-makhluk hidup ini, yang memiliki takhta di atas kepala mereka, langit dan bumi disatukan.

Dalam Yehezkiel 1 Dia yang di atas takhta adalah kesatuan Allah dan manusia. Jadi, tempat dimana takhta berada, adalah tempat dimana langit dan bumi disatukan. Dia yang di atas takhta adalah Allah, tetapi Dia memanifestasikan penampilan manusia. Ketika Tuhan Yesus berada di bumi, Dia adalah Allah yang termanifestasi di dalam daging, karena Dia adalah manusia Allah dan memiliki penampilan manusia. Secara batini, Dia adalah Allah, tetapi penampilan-Nya di bumi adalah penampilan manusia. Sekarang, sebagai Dia yang di atas takhta setelah kenaikan-Nya, Dia masih tetap manusia Allah; Dia adalah Allah, namun dengan penampilan manusia.

Di dalam hidup gereja hari ini, seharusnya ada kondisi dimana Allah termanifestadi di dalam manusia. Ini berarti di dalam gereja seharusnya kita tidak hanya memiliki langit yang jernih dengan takhta dan Tuhan di atas takhta, tetapi juda ekspresi di dalam manusia dari Dia yang di atas takhta. Ketika hal ini menjadi kondisi gereja, akan ada di dalam gereja rahasia besar dari ibadah—Allah termanifestasi di dalam daging (1 Tim. 3:15-16). Di satu pihak, ada langit yang jernih, takhta, dan Tuhan di atas takhta; di pihak lain, manifestasi Tuhan di dalam gereja adalah penampilan manusia. Dalam hidup gereja seharusnya ada manifestasi Allah di dalam daging. Agar hal ini menjadi situasi kita, harus ada di dalam gereja kesatuan yang mulia antara Allah dan manusia. Secara batini kita seharusnya memiliki Allah, tetapi Allah termanifestasi di dalam daging, termanifestasi di dalam dan melalui keinsanian yang tepat. Semua orang dalam hidup gereja—para saudara dan saudari, orang yang lebih tua dan orang muda—seharusnya bertingkah laku secara normal dan cocok untuk masing-masing usia mereka. Daripada berpura-pura, seharusnya ada kesejatian baik insani dan ilahi. Ini adalah kondisi dari Allah dimanifestasikan di dalam keinsanian.

Rencana kekal Allah adalah menghubungkan surga dengan bumi dan menyatukan Allah dengan manusia. Allah di surga ingin mendapatkan manusia di bumi bagi ekspresiNya untuk mengerjakan Diri-Nya Sendiri ke dalam manusia. Kedambaan hati Allah adalah untuk mencapai satu sasaran yaitu menghubungkan surga dengan bumi dan menyatukan Allah dengan manusia. Dimana ada kondisi yang demikian, di sana ada takhta. Dia yang duduk di atas takhta adalah Allah, tetapi manifestasi-Nya memiliki penampilan seorang manusia.

Rencana kekal Allah adalah memiliki manifestasi demikian. Di dalam hidup gereja hari ini, kita perlu berada dalam kondisi dimana Allah dimanifestasikan dalam penampilan manusia.

MEMBAWA MANUSIA KE TAKHTA

Maksud Allah adalah untuk bekerja pada manusia supaya manusia dapat berada di atas takhta. Pernahkah kamu menyadari bahwa ini adalah maksud-Nya? Kita mungkin dipuaskan dengan pergi ke surga. Ini mungkin memuaskan kita, tetapi hal itu tidak akan pernah memuaskan Allah. Allah tidak akan dipuaskan sampai kita berada di atas takhta.

Dalam Wahyu 3:21 Tuhan Yesus berkata, “Siapa yang menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya”. Tuhan Yesus kelihatannya berkata bahwa Dia menjadi manusia, dan sebagai manusia Dia pergi ke takhta. Maksud Allah adalah membawa kita ke takhta. Kedambaan-Nya adalah untuk membuat kita, umat dari takhta. Kerajaan Allah tidak dapat datang secara penuh sampai kita berada di takhta. Lagipula, musuh Allah tidak akan ditundukkan sampai kita berada di takhta. Oleh karena itu, sasaran Allah bukan sekedar membebaskan kita dari neraka, tetapi untuk membawa kita ke takhta.

Kita perlu mempertimbangkan kondisi kita hari ini di dalam terang dari maksud Allah. Dalam banyak hal kita ceroboh dan kendor. Tuhan membawa kita ke takhta, tetapi jika kita masih ceroboh dan kendor, kita belum siap untuk berada di takhta. Tidak seorang pun dapat duduk di takhta dengan cara yang tidak terhormat atau tidak tepat. Saya tidak setuju dengan bentuk Kekristenan yang formal, tetapi saya juga tidak setuju dengan kekendoran yang begitu menyebar hari ini. Jika kamu bermaksud berbisnis dengan Tuhan sebagai orang Kristen dan sebagai murid Tuhan Yesus, kamu tidak boleh kendor, ceroboh, dan tidak disiplin. Ketika Tuhan Yesus di bumi, Dia tidak ceroboh dalam segala sesuatu. Sebaliknya, banyak kaum beriman hari ini, tidak kelihatan memiliki konsep dan perasaan yang tepat tentang bagaimana menjadi manusia yang tepat. Orang yang demikian tidak dapat berada di atas takhta. Allah telah memilih kita. Dia telah memanggil kita ke takhta. Bukti kuat bahwa Allah telah memanggil kita adalah agar kita berseru kepada nama Tuhan. Panggilan Allah adalah untuk membawa kita ke takhta.

PEMBERONTAKAN SATAN MELAWAN TAKHTA

Mengapa Allah ingin membawa kita ke takhta? Allah damba membawa kita ke takhta karena pemberontakan Satan melawan takhta Allah (Yes. 14). Jika kita membaca Alkitab dengan teliti, kesulitan terbesar yang Allah hadapi di alam semesta adalah bahwa takhta-Nya telah ditentang dan diserang oleh pasukan yang memberontak. Takhta Allah itu mutlak, tetapi satu dari makhluk ciptaan-Nya telah memberontak dan menuntu untuk meninggikan takhtanya sama dengan Allah. Dalam pemberontakannya melawan takhta Allah, Satan bermaksud untuk meninggikan takhtanya ke surga dan dengan demikian mencampuri kekuasaan Allah. Yesaya 14:12-14 berkata, “Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai Bintang Timur, putera Fajar, engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi, hai yang mengalahkan bangsa-bangsa! Engkau yang tadinya berkata dalam hatimu: Aku hendak naik ke langit, aku hendak mendirikan takhtaku mengatasi bintang-bintang Allah, dan aku hendak duduk di atas bukit pertemuan, jauh di sebelah utara. Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan, hendak menyamai Yang Mahatinggi!” Dari waktu pemberontakan Satan sampai sekarang, telah ada perselisihan di alam semesta mengenai kekuasaan. Kebanyakan apa yang terjadi di bumi adalah perlawanan Satan kepada takhta Allah. Pertanyaan pentingnya adalah ini: Siapakah sebenarnya yang memerintah di bumi—Allah atau Satan?

Ketika Tuhan Yesus berada di bumi, Dia tunduk dengan mutlak kepada kekuasaan Allah. Mentaati Tuhan adalah untuk menjadi orang yang berada di bawah takhta. Karena Tuhan Yesus mentaati Allah Bapa dan tunduk kepada kekuasaan-Nya dengan mutlak, setelah Dia bangkit dari kematian, Allah memberi Dia semua kekuasaan di surga dan di bumi (Mat. 28:18) dan meninggikan Dia ke takhta. Sekarang Dia yang duduk di takhta bukan hanya Allah, tetapi juga manusia, karena Dia ini adalah perbauran Allah dan manusia. Oleh karena itu, setelah kenaikan Tuhan Yesus, telah ada manusia di takhta.

Pikiran Allah adalah pada manusia (Ibr. 2:6), dan Dia ingin manusia mengekspresikan Dia dan melaksanakan kekuasaan-Nya. Manusia memiliki gambar Allah dan wilayah kekuasaan Allah dengan kekuasaan-Nya. Allah damba untuk memanifestasikan Diri-Nya Sendiri melalui manusia, dan Dia damba untuk memerintah, untuk mengadministrasi, melalui manusia.

Maksud Allah adalah melempar Satan ke bawah untuk menebus banyak orang yang ditawan oleh Satan dan membawa mereka ke takhta-Nya. Allah tidak dapat menerima kemuliaan yang penuh sampai kita dibawa ke atas takhta. Satu hari kita akan dibawa ke takhta, kemudian Allah akan sanggup bermegah kepada Satan. Dia akan menyatakan dengan kemenangan bahwa umat pilihan-Nya, yang telah ditawan oleh Satan, telah dibawa ke takhta.

Namun, kita perlu menyadari bahwa di dalam kondisi kita saat ini, kita tidak bersyarat untuk berada di takhta. Apakah kamu seperti seorang raja? Jika kamu ditimbang dengan skala surgawi untuk menentukan bobot kerohanianmu, berapa besarkah bobotmu? Saya prihatin bahwa banyak dari kita akan tidak memiliki bobot sama sekali. Ini adalah perkara yang sangat serius. Kita telah dipanggil untuk menjadi anak-anak Allah, dan kita ditentukan untuk menjadi raja, tetapi kita memerlukan Allah bekerja di dalam kita dan pada kita untuk melayakkan kita bagi kerajaan.

TUHAN YESUS MENJADI MANUSIA DI TAKHTA

Melalui ketersaliban, kebangkitan, dan kenaikan, Tuhan Yesus dibawa ke takhta. Seorang manusia yang riil yang bernama Yesus berada di takhta. Inilah mengapa kita memberitakan, “Yesus itu Tuhan” dan mengapa kita berseru, “O Tuhan Yesus”. Allah selalu adalah Tuhan, tetapi sekarang seorang manusia di takhta sebagai Tuhan. Melalui kebangkitan-Nya dan di dalam kenaikan-Nya, “Allah telah membuat Yesus yang kamu salibkan itu menjadi Tuhan dan Kristus” (Kis. 2:36). Allah telah membuat Yesus, seorang Nazaret, Tuhan, dan sekarang, Tuhan langit dan bumi adalah seorang manusia.

Apakah kamu sungguh-sungguh menyadari bahwa Tuhan alam semesta hari ini adadalah seorang manusia? Haleluya untuk manusia ini! Tidaklah kelihatan aneh bagi kita untuk mengatakan bahwa Yehova Elohim adalah Tuhan alam semesta. Tetami sangatlah tidak mudah bagi kita untuk menyadari bahwa seorang manusia yang dapat disalib dan dikuburkan dapat menjadi Tuhan alam semesta. Ketika Yudas dan banyak orang datang untuk menangkap Dia, Dia tidak melarikan diri. Dia dengan rela membuat Diri-Nya Sendiri lemah dan membiarkan Diri-Nya Sendiri ditangkap dan disalibkan. Di dalam firman dari 2 Korintus 13:4, “Ia telah disalibkan oleh karena kelemahan”. Tetapi setelah dia disalibkan dan dikubur, Allah telah membangkitkan Dia dan mendudukkan Dia di sebelah kanan Allah, membuat Dia Tuhan dari seluruh alam semesta. Hari ini, Tuhan alam semesta adalah seorang manusia.

TUHAN YESUS MENJADI PERINTIS KE TAKHTA

Kita juga perlu melihat bahwa Tuhan Yesus memimpin jalan ke takhta. Dia adalah Perintis, Pelopor (Ibr. 6:20), memotong jalan ke takhta (2:10). Ini menunjukkan bahwa Dia bukan satu-satunya manusia yang menuju takhta. Dia telah memotong jalan dan telah mengambil pimpinan sehingga kita dapat mengikuti. Dia adalah orang pertama yang sampai ke takhta, dan kita akan sampai setelah Dia. Sekarang kita dipimpin ke takhta, karena Allah bermaksud membawa kita ke dalam kemuliaan dan mendudukkan kita di takhta.

PENAMPILAN MANUSIA DI TAKHTA

Yehezkiel 1:27 berkata, “Dari yang menyerupai pinggangnya sampai ke atas aku lihat seperti suasa mengkilat dan seperti api yang ditudungi sekelilingnya; dan dari yang menyerupai pinggangnya sampai ke bawah aku lihat seperti api yang dikelilingi sinar”. Di sini kita melihat bahwa penampilan manusia di takhta memiliki dua aspek: Dari pinggan-Nya ke atas, Dia kelihatan seperti suasa, dan dari pinggang-Nya ke bawah, Dia kelihatan seperti api. Mengapa bagian atas-Nya kelihatan seperti suasa, dan mengapa bagian bawah-Nya kelihatan seperti api? Bagian atas manusia dari pinggang sampai kepalanya, adalah bagian perasaaan, sensasi. Bagian ini melambangkan sifat dan wataknya. Menurut sifat dan watak-Nya, Tuhan Yesus di takhta kelihatan seperti suasa. Bagian bawah dari tubuh manusia adalah untuk pergerakan. Penampilan api dari pinggangnya ke bawah melambangkan penampilan Tuhan di dalam pergerakan-Nya.

Ketika Tuhan datang kepada kita, Dia datang pertama sebagai api. Ketika Dia tinggal bersama kita, Dia menjadi suasa. Lagipula, kapankala Tuhan bergerak melalui kita, Dia bergerak seperti api untuk membakar, menerangi, dan menyelidiki. Setelah pembakaran ini, sesuatu akan tertinggal, dan itu akna menjadi suasa—campuran emas dan perak melambangkan Allah-Anak Domba, Allah yang menebus.

Allah menginginkan kita mendapatkan Dia sebagai suasa. Agar hal ini menjadi pengalaman kita, Dia pertama harus datan kepada kita sebagai api untuk menerangi, menyelidiki, dan membakar. Kemudian melalui api, Dia menjadi suasa bagi kita. Jadi, jika kita ingin mendapatkan Dia sebagai suasa, kita perlu mengalami Dia sebagai api.

Akhirnya, kita perlu menyadari bahwa tidak ada yang baik yang tinggal dalam kita. Seperti Paulus, kita seharusnya sanggup berkata, “Aku tahu bahwa di dalam aku, yaitu, di dalam dagingku, tidak ada sesuatu yang baik” (Rm. 7:18a). Berikut adalah sebagian dari daftar hal-hal negatif yang kita miliki di dalam kita: perpecahan, perselisihan, kebencian, iri hati, amarah, mengasihani diri, sasaran pribadi, ambisi, kepentingan diri, ego, dan banyak hal buruk, hal jahat lainnya. Kita dipenuhi hal-hal ini, tetapi kita mungkin memiliki sangat sedikit Tuhan. Oleh karena itu, kita perlu Tuhan datang kepada kita dan membakar semua hal negatif ini. Setelah semua hal ini dibakar, suasa, Allah yang menebus, akan tinggal di dalam kita.

Tidak peduli berapa jernih langit kita dan berapa banyak kita memiliki takhta di dalam langit kita, kita masih perlu hadirat Tuhan sebagai api yang menerangi, menyelidiki, dan membakar sehingga kita dapat memiliki Dia tinggal di dalam kita sebagai suasa. Ini adalah lawatan Tuhan pada kita, dan ini adalah pergerakan Tuhan bersama kita dan pada kita. Ini adalah berkat yang besar untuk berada di bawah lawatan Tuhan. Tuhan datang kepada kita sebagai api yang menghabisi, dan kita mendapatkan Dia sebagai suasa. Seringkali tidak perlu bagi kita untuk mendeklarasikan bahwa kita memiliki Allah yang demikian. Ketika orang lain bersama kita, mereka akan mampu merasakan bahwa kita memiliki suasa, Allah yang menebus, tinggal bersama kita. Mereka juga dapat memiliki kesan bahwa kita bukan orang yang ringan, tetapi orang yang berbobot. Kita dibebani dengan suasa, dibebani dengan Allah-Anak Domba.

MEMILIKI BUSUR PELANGI

Pada poin ini, empat makhluk hidup bukan hanya untuk manifestasi Tuhan dan bukan hanya untuk pergerakan Tuhan, tetapi juga untuk administrasi, pemerintahan, dari Tuhan. Tuhan di antara mereka dan di atas mereka bagi manifestasi, pergerakan, dan pemerintahan-Nya. Ini sungguh-sungguh ajaib.

Sebagai hasil dari memiliki langit yang jernih dengan takhta dan dari mengalami manusia yang memiliki penampilan suasa dan api yang menghabisi, kita akan memiliki penampilan pelangi. Yehezkiel 1:28 berkata, “Seperti busur pelangi, yang terlihat pada musim hujan di awan-awan, demikianlah kelihatan sinar yang mengelilinginya. Begitulah kelihatan gambar kemuliaan TUHAN. Tatkala aku melihatnya aku sembah sujud, lalu kudengar suara Dia yang berfirman”. Sebuah busur pelangi bersinar mengelilingi manusia yang sedang duduk di atas takhta. Sinar ini melambangkan kesemarakan dan kemuliaan mengelilingi Tuhan di atas takhta.

Untuk memahami makna dari busur pelangi, kita perlu mengingat busur pelangi pada zaman Nuh. Air bah telah merusak seluruh bumi, dan hanya delapan orang terhindar dari penghakiman itu. Setelah itu, ketika orang melihat awan gemuruh di langit mereka mungkin takut dibinasakan. Oleh karena itu, Allah membuat suatu perjanjian dimana Dia berjanji tidak akan pernah lagi menghancurkan semua yang hidup dengan air bah, dan Dia menaruh busur pelangi di awan sebagai tanda dari perjanjian ini. “Busur-Ku Kutaruh di awan, supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi. Apabila kemudian Kudatangkan awan di atas bumi dan busur itu tampak di awan, maka Aku akan mengingat perjanjian-Ku yang telah ada antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, segala yang bernyawa, sehingga segenap air tidak lagi menjadi air bah untuk memusnahkan segala yang hidup. Jika busur itu ada di awan, maka Aku akan melihatnya, sehingga Aku mengingat perjanjian-Ku yang kekal antara Allah dan segala makhluk yang hidup, segala makhluk yang ada di bumi” (Kej. 9:13-16). Oleh karena itu, busur pelangi adalah sebuah tanda kesetiaan dan janji Allah untuk tidak menghancurkan manusia jatuh dengan air bah.

Dalam penghakiman dan penghancuran-Nya atas ras manusia yang jatuh pada zaman Nuh, Allah menyisihkan beberapa orang dengan kesetiaan-Nya. Ini juga adalah situasi kita sebagai kaum beriman dalam Kristus. Kita perlu menyadari bahwa kita telah disisihkan oleh Allah. Kita semua telah jatuh dan layak untuk dibinasakan, tetapi Allah menyisihkan kita. Puji Tuhan bahwa kita telah disisihkan oleh kesetiaan-Nya! Sekarang kita memiliki busur pelangi sebagai tanda kesetiaan Allah. Meskipun Allah adalah Allah yang kudus dan api yang menghabisi dan tidak seorang pun dapat tetap ada di dalam hadirat-Nya, oleh kesetiaan-Nya kita telah disisihkan.

Dalam pelangi, ada beberapa warna yang berbeda, tetapi warna dasarnya hanya tiga—merah, kuning, dan biru. Ketika warna-warna ini bersinar dan berbaur, mereka menghasilkan warna-warna lain, seperti oranye, hijau, dan ungu. Sangatlah bermakna bahwa tiga warna utama dari pelangi adalah merah, kuning, dan biru karena mereka berkaitan dengan apa yang telah kita lihat dalam kitab Yehezkiel. Takhta kelihatan seperti batu nilam biru, suasa berwarna kuning, api berwarna merah. Dengan penyinaran dan pembiasan mereka, tiga warna ini bergabung untuk membentuk busur pelangi.

Sekarang kita perlu melihat makna rohani dari tiga warna ini. Biru melambangkan takhta. Menurut Mazmur 89:14 fondasi takhta Allah adalah keadilbenaran. Ini menunjukkan takhta biru melambangkan keadilbenaran Allah. Api melambangkan api yang menguduskan, memisahkan, dan menghabisi. Ini berarti merah mengacu pada kekudusan Allah. Kuning melambangkan kemuliaan Allah dalam suasa yang mengkilat. Oleh karena itu, di sini kita memiliki keadilbenaran, kekudusan, dan kemuliaan Allah yang dilambangkan oleh warna biru, merah, dan kuning.

Keadilbenaran, kekudusan, dan kemuliaan Allah adalah tiga atribut ilahi yang menjaga orang berdosa jauh dari Allah. Sebelum kita diselamatkan, kita jauh dari Allah karena keadilbenaran, kekudusan, dan kemuliaan-Nya. Tetapi Tuhan Yesus datang, mati di atas salib untuk memuaskan tuntutan-tuntutan keadilbenaran, kekudusan, dan kemuliaan Allah,dan telah bangkit, dan Dia sekarang adalah keadilbenaran, pengudusan, dan penebusan kita (1 Kor. 1:30). Sekarang, Dia juga kemuliaan kita. Dalam diri kita sendiri, kita kekurangan kemuliaan Allah (Rm. 3:23), kita berada di bawah penghakiman keadilbenaran Allah, dan kita dijaga oleh kekudusan Allah. Tetapi sekarang, sebagai kaum beriman, kita berada dalam Kristus, dan Dia telah menjadi keadilbenaran, kekudusan, dan kemuliaan kita. Lebih jauh lagi, karena kita berada dalam Kristus, kita bahkan mengemban Kristus sebagai keadilbenaran, kekudusan, dan kemuliaan. Karena kita berada dalam Kristus, dalam pandangan Allah, kita kelihatannya seperti keadilbenaran, kekudusan, dan kemuliaan.

Ini tidak seharusnya hanya menjadi doktrin atau pengajaran bagi kita. Kita perlu mengalami Kristus secara demikian sehingga ketika orang lain mengontaki kita, mereka dapat merasakan keadilbenaran, kekudusan, dan kemuliaan. Ini berarti bahwa mereka seharusnya mampu merasakan bahwa kita memiliki langit yang jernih, bahwa kita memiliki takhta, dan bahwa kita adilbenar dan tepat, tidak ceroboh atau kendor secara apapun. Kita juga seharusnya memiliki suasa, mengkilat, bersinar, dan berbobot. Kemudian kita akan memiliki penampilan pelangi, dan para malaikat, roh najis, dan Satan akan sanggup melihatnya. Pelangi ini adalah tanda kesetiaan Allah yang menyisihkan kita, orang yang telah jatuh. Sebagai mereka yang telah jatuh, tetapi yang sekarang telah diselamatkan, kita telah menjadi sebuah kesaksian dari kesetiaan Allah dalam menyelamatkan kita. Setiap gereja lokal seharusnya mengemban kesaksian dari pelangi yang demikian.

Bahkan Yerusalem Baru memiliki penampilan pelangi. Batu fondasi dari Yerusalem Baru ada dua belas lapis, dengan setiap lapis memiliki warna yang berbeda (Why. 21:19-20). Beberapa tahun yang lalu saya membaca sebuah artikel yang menyatakan bahwa dua belas lapis dari batu fondasi memiliki penampilan warna pelangi. Dari hal ini kita melihat bahwa kota kudus, Yerusalem Baru, kelihatannya seperti pelangi. Pelangi ini menandakan bahwa kota itu dibangun dan dijamin oleh kesetiaan Allah dalam memelihara perjanjian-Nya. Pelangi ini akan mendeklarasikan sampai kekal bahwa ketika Allah menghakimi orang dosa menurut keadilbenaran-Nya, Dia tidak membinasakan setiap orang, tetapi menyelamatkan banyak orang dari pengrusakan sebagai kesaksian dari kesetiaan-Nya. Dalam kekekalan kita, agregat dari orang yang diselamatkan, akan menjadi pelangi yang mempersaksikan sampai selamanya bahwa Allah kita adilbenar dan setia.

Kita, orang yang disisihkan Allah, akan menjadi kota kudus ini. Oleh keadilbenaran, kekudusan, dan kemuliaan-Nya, kita akan memiliki penampilan pelangi, mendeklarasikan kepada seluruh alam semesta, kesetiaan Allah yang menyelamatkan. Di akhir Alkitab ada sebuah kota yang fondasinya memiliki penampilan pelangi yang mengelilingi Allah yang kekal sebagai kesaksian-Nya yang kuat. Pengalaman kehidupan orang Kristen dan kehidupan gereja akan rampung dalam pelangi yang demikian.

Ketika pelangi muncul, Allah akan memiliki pemenuhan kedambaan hati-Nya. Sepanjang zaman, Allah telah menghakimi manusia jatuh menurut takhta keadilbenaran-Nya, api kudus-Nya, dan sifat kemuliaan-Nya. Namun, Allah telah menyelamatkan beberapa orang sampai pada tingkat bahwa mereka menjadi pelangi yang bersinar memantulkan kemuliaan-Nya dan mempersaksikan Dia dan kesetiaan-Nya selamannya. Penampilan dari pelangi ini menunjukkan bahwa langit dan bumi telah diikatkan dan bahwa Allah dan manusia telah disatukan. Di sekeliling takhta di dalam Yerusalem Baru, akan ada sekelompok olrang yang telah menerima keselamatan karena kesetiaan Allah, dan sampai kekekalan mereka akan menjadi pelangi memantulkan cahaya keadilbenaran, kekudusan, dan kemuliaan Allah. Pada poin ini, rencana kekal Allah akan digenapkan.

Meskipun pelangi ini akan dimanifestasikan dalam kekekalan, realitas rohani dari pelangi yang bersinar ini harus dimanifestasikan dalam gereja hari ini. Dalam hidup gereja kita perlu membiarkan Allah bekerja di dalam kita dan kita perlu menerima kasih karunia sampai pada tingkat bahwa segala sesuatu menjadi murni, benar, dan kudus. Ini berati bahwa api kudus Allah harus membakar segala sesuatu yang tidak cocok dengan Allah sehingga sifat Allah dimanifestasikan sebagai emas yang terang di dalam dan melalui keinsanian para saudara dan saudari. Kemudian gereja akan dipenuhi dengan keadilbenaran, kekudusan, dan kemuliaan Allah. Tiga karakteristik ini akan bergabung dan memantulkan satu dengan yang lain untuk membentuk pelangi terang yang mengekspresikan Allah dan bersaksi bagi Dia.

Sekali lagi saya berkata bahwa hal ini seharusnya tidak sekedar menjadi pengajaran bagi kita. Sebaliknya, realitas dari pelangi ini harus digarapkan ke dalam kita sehingga, sebagai orang yang disisihkan Allah, kita akan mengemban penampilan pelangi, mengemban kesaksian Allah, dan mendeklarasikan kesetiaan Allah kepada seluruh alam semesta. Ini berarti bahwa kita akan mengemban keadilbenaran, kekudusan, dan kemuliaan Allah.

Yehezkiel berkata bahwa apa yang kita lihat adalah penampilan dari kemuliaan Tuhan. “Tatkala aku melihatnya aku sembah sujud, lalu kudengar suara Dia yang berfirman” (Yeh. 1:28b). Jika kita ingin mendengar firman Tuhan di dalam pasal-pasal berikutnya dari kitab Yehezkiel, kita semua perlu mencapai poin yang sama—di bawah langit yang jernih, di depan takhta dengan manusia duduk di atasnya dan mengemban pelangi yang bersinar dan memantulkan. Ini adalah tempat dimana kita dapat mendengar suara dari atas. Berada di sini, memposisikan kita untuk mendengar suara yang berbicara dari surga. Saya harap bahwa setiap orang dari kita akan mencapai poin ini, dan saya juga berharap bahwa semua gereja lokal akan juga berada di sini. Kemudian Tuhan akan memiliki jalan untuk berbicara kepada kita.