← Daftar isi Yehezkiel (1) · bab 11/26

TAKHTA DI ATAS LANGIT YANG JERNIH

Pembacaan Alkitab:

Yeh. 1:26-28; Mat. 26:64a; Kis. 2:36; Why. 3:21

Visi di dalam pasal satu, perkara-perkara di dalam ruang lingkup alami digunakan untuk menjelaskan perkara-perkara di dalam ruang lingkup rohani. Perkara-perkara rohani di sini dalam, tetapi kita dapat memahaminya melalui perkara-perkara alami dan fisik yang digunakan untuk menjelaskan perkara-perkara rohani. Menurut rencana Allah perkara-perkara rohani yang diwahyukan di sini dimulai dengan angin (ay. 4) dan diakhiri dengan pelangi (ay. 28). Seperti yang akan kita lihat dalam berita selanjutnya, ada sebuah pelangi yang memanifestasikan kesemarakan Allah. Dalam pengalaman kita, takhta (ay. 26) dan pelangi keduanya bergantung pada kita memiliki yang jernih sepeti kristal.

Dalam berita yang lalu kita melihat bahwa di atas kepala makhluk-makhluk hidup ada cakrawala yang jernih, langit yang jernih, yang permukaannya luas namun stabil. Sekarang dalam berita ini kita perlu melihat bahwa di atas langit yang jernih ada takhta. Yehezkiel 1:26 berkata, “Di atas cakrawala yang ada di atas kepala mereka ada menyerupai takhta yang kelihatannya seperti permata lazurit; dan di atas yang menyerupai takhta itu ada yang kelihatan seperti rupa manusia”. Kita perlu mempertimbangkan makna dari takhta dan penerapannya pada pengalaman kita.

LANGIT YANG JERNIH DAN HATI NURANI YANG BERSIH

Kita orang Kristen perlu mempertahankan langit yang jernih dengan Tuhan. Ini berarti bahwa kita perlu selalu memiliki persekutuan yang jernih dengan-Nya. Kita seharusnya tidak memiliki apa-apa di antara kita dan Tuhan. Ketika tidak ada apapun di antara kita dan Tuhan, langit kita akan jernih seperti kristal, dan hati nurani kita akan dimurnikan, terlepas dari berbagai macam pelanggaran (Kis. 24:16).

Kita perlu memiliki kesan yang dalam dengan fakta bahwa jika kita sebagai orang Kristen ingin memiliki langit yang jernih, kristal surgawi, di hadapan Tuhan, kita perlu memiliki hati nurani yang tanpa pelanggaran. Kapanpun ada tuduhan atau sebuah pelanggaran pada hati nurani kita, langit kita segera menjadi berawan, gelap, dan berkabut. Pada waktu demikian, kita harus mengakui kegagalan kita dan dosa kita kepada Tuhan dan menerima pengampunan-Nya dan pembasuhan dari darah mustika-Nya (1 Yoh 1:9, 7). Ini akan membersihkan hati nurani kita sehingga hati nurani kita akan terlepas dari pelanggaran. Kita akan kembali memiliki langit yang jernih dan persekutuan yang jernih dengan Tuhan, tanpa apa pun di antara kita dan Dia.

Kadang-kadang perkara kecil, seperti sikap yang buruk terhadap pasangan kita, dapat menyebabkan kita memiliki awan di langit kita. Mungkin kelompok lain salah, tetapi sikap kita juga salah, dan kita kehilangan sukacita dan damai sejahtera kita. Kita juga mungkin tidak memiliki pengurapan untuk berdoa untuk sejangka waktu. Hati nurani kita mulai menuduh kita kita dan mengganggu kita. Inilah kehilangan langit orang Kristen yang jernih, kehilangan langit yang jernih. Kita tidak lagi memiliki langit yang jernih di atas kita, karena ada sesuatu yang salah di antara kita dan Tuhan. Situasi ini akan tetap tinggal sampai kita datang pada Tuhan dan memohon pengampunan untuk sikap buruk kita. Kemudian pengurapan Tuhan di dalam kita dapat menyebabkan kita merasakan bahwa kita perlu mengaku dosa dan meminta maaf kepada pasangan kita. Meskipun kita ragu-ragu, karena kita kehilangan hadirat Tuhan, akhirnya kita mengaku dosa, meminta maaf, dan memohon pengampunan. Segera setelah kita melakukan hal ini, “iklim” berubah; awan-awan menghilang, dan langit yang jernih kembali. Sesuatu di dalam kita hidup kembali, dan kita dapat memuji Tuhan. Sekali lagi kita memiliki langit yang jernih, sebuah langit seperti cakrawala kristal yang mendasyatkan di atas kepala makhluk hidup. Kita seharusnya memiliki pengalaman semacam ini tidak hanya di dalam kehidupan kita sehari-hari, tetapi juga dalam kehidupan gereja.

LANGIT YANG JERNIH DAN TAKHTA

Kapanpun kita memiliki langit jernih yang demikian di dalam kehidupan Kristiani kita dan dalam kehidupan gereja, kita juga akan memiliki takhta, yang berada di atas langit yang jernih (Yeh. 1:26). Takhta adalah pusat dari alam semesta, dan di sanalah Allah berada. Kita sering berbicara mengenai hadirat Allah, tetapi kita perlu menyadari bahwa hadirat Allah selalu bersama dengan takhta. Dimana Allah berada, di sanalah ada takhta-Nya. Hadirat-Nya tidak dapat dipisahkan dari takhta-Nya. Takhta Tuhan berada di langit tingkat ketiga, tetapi takhta-Nya selalu berada di dalam roh kita. Karena itu, takhta Allah beserta dengan kita setiap waktu.

Sebagai orang Kristen dan sebagai gereja lokal, kita semua harus berada di bawah langit yang jernih seperti kristal dan luas. Di atas langit yang jernih, yang luas ini ada takhta Tuhan. Dengan memiliki langit jernih yang demikian, kita secara spontan berada di bawah pemerintahan takhta Allah. Sekarang kita berada dibawah pengaturan dan pemerintahan takhta.

Kita harus selalu berada di bawah pemerintahan takhta Allah. Karena kita berada di bawah takhta, kita tidak memerlukan polisi dan pengadilan untuk mengatur kita. Jika kita perlu diatur oleh oleh polisi dan oleh pengadilan, ini berarti bahwa kita tidak berada di bawah takhta.

Kita harus selalu berada di bawah takhta Allah setiap waktu. Mungkin kita ingin membicarakan suatu perkara, tetapi pemerintahan dari takhta tidak mengijinkan kita berbicara satu kata pun. Saat kita mulai berbicara, takhta melaksanakan pemerintahan-Nya, dan kita dipaksa untuk menelan perkataan kita. Pada waktu yang lain, kita mungkin marah dan mungkin hampir kehilangan tempareman kita, tapi kita menyadari bahwa kita berada di bawah pemerintahan takhta dan kita ditundukkan. Siapakah yang memerintah atas kita? Kita bukan hanya diperintah oleh pengajaran-pengajaran Alkitab, tetapi oleh takhta.

Dalam kehidupan Kristiani kita dan dalam kehidupan gereja kita, jika langit jernih, maka takhta akan ada disana. Tetapi jika langit kita berawan dan gelap, kita tidak akan melihat takhta. Ketika kita tidak dapat melihat takhta, kita akan menjadi kendor dan melakukan banyak hal berdasarkan kesukaan dan kesenangan kita. Hari ini banyak kaum beriman kurang memperhatikan kehidupan Kristiani mereka sehari-hari karena mereka tidak memiliki langit yang jernih dengan takhta di atasnya. Kapankala kaum beriman beada di dalam kegelapan dan karena hal itu mereka tidak berada di bawah takhta, mereka dapat menjadi sangat kendor, berbicara apapun yang mereka ingin bicarakan, menampilkan apa yang mereka ingin tampilkan, dan pergi kemanapun mereka mau pergi. Tetapi seseorang yang berada di bawah takhta tidak memiliki kebebasan untuk bertingkah laku secara demikian.

Di satu pihak, karena kita telah diselamatkan, kita dimerdekakan, tetapi di pihak lain kita berada di bawah takhta dan sama sekali tidak memiliki kemerdekaan. Saya dapat bersaksi bahwa saya ingin pergi ke suatu tempat, tetapi karena takhta, saya tidak memiliki kemerdekaan untuk pergi ke sana. Puji Tuhan untuk langit yang jernih dan untuk takhta! Di atas kepala kita ada cakrawala, dan di atas cakrawala ada takhta.

PENGALAMN ROHANI TERTINGGI—

MEMILIKI TAKHTA DI DALAM CAKRAWALA KITA

Langkah tertinggi dari pengalaman rohani orang Kristen adalah untuk memiliki takhta dalam cakrawala kita, dalam langit jernih kita. Untuk memiliki takhta, atau untuk datang pada takhta, adalah untuk mengijinkan Allah untuk memiliki posisi tertinggi dan terunggul di dalam kehidupan Kristianai kita. Bagi Tuhan untuk memiliki takhta di dalam kita berarti Ia memiliki posisi untuk meraja di dalam kita. Oleh karena itu, untuk mencapai takhta dalam pengalaman rohani kita berarti bahwa dalam segala hal kita tunduk sepenuhnya pada kekuasaan dan administrasi Allah. Kemudian kita tidak lagi seorang yang tanpa takhta, tanpa kekuasaan, tanpa pemerintahan.

Seorang kaum beriman yang tidak memiliki langit yang jernih dengan takhta di atasnya, dapat mudah menjadi kendor dan ceroboh dalam kehidupan sehari-harinya. Sebaliknya, seorang kaum beriman yang memiliki langit sejernih kristal, memiliki perasaan untuk berada di bawah pemerintahan dan pembatasan Ilahi; oleh karena itu, dia tidak dapat menjadi kendor atau ceroboh dalam apa pun yang dia katakan atau lakukan. Seorang kaum beriman yang memiliki langit yang jernih atasnya berada di bawah kekuasaan yang membatasi dan mengendalikan dia dalam perkara berbicara atau menunjukkan amarah. Kekuasaan ini adalah perkara takhta.

Semakin jernih cakrawala kita, semakin kita berada di bawah takhta. Semakin kita memiliki persekutuan yang jernih dengan Tuhan, semakin kita berada di bawah kekuasaan-Nya. Kita perlu bertanya kepada diri kita sendiri apakah ada takhta dalam kehidupan Kristiani kita. Jika kita memiliki takhta di atas langit yang jernih, kita diberkati secara besar-besaran, dan kita harus menyembah Allah untuk berkat ini.

Ada seorang saudari muda yang berasal dari keluarga yang makmur. Setelah dia diselamatkan, dia menerima berkat dari belajar hidup di bawah takhta dan menerima pembatasan dari takhta di dalam segala sesuatu. Hal-hal yang orang lain dapat lakukan, dia tidak dapat lakukan, dan hal-hal yang orang lain dapat gunakan, dia tidak dapat gunakan. Meskipun orang tuanya sangat mengasihi-Nya, dia tidak dapat memahami cara penghidupannya. Satu hari dia bersaksi kepada mereka, berkata, “Aku tidak melakukan hal-hal tertentu karena orang lain memberitahuku untuk tidak melakukannya. Ada Persona di dalamku yang meraja dan membatasi aku dari melakukan hal-hal ini”. Setelah percakapan itu, ayahnya, seorang yang cerdik, menyadari bahwa dia seorang Kristen sejati. Dai mempunyai penghargaan yang tinggi terhadapnya dan memberinya kebebasan yang mutlak.

Saya ingin menekankan fakta bahwa poin tertinggi di dalam kehidupan rohani kita adalah memiliki langit yang jernih dengan takhta di atasnya. Pernahkah kamu mencapai tahap ini? Pernahkah kamu datang kepada poin dimana kamu merasa bahwa ada sebuah kekuasaan yang membatasi kamu? Pernahkah kamu sampai pada tingkat itu dalam kehidupan rohanimu dimana kamu diatur di dalam segala sesuatu oleh takhta? Saya akan mendesak kamu untuk mempertimbangkan hal ini di hadapan Tuhan di dalam persekutuanmu dengan Dia.

TAKHTA DAN TUJUAN ALLAH

Takhta bukan hanya bagi Allah untuk meraja atas kita tetapi juga bagi Allah untuk menggenapkan tujuan kekal-Nya. Jika kita memiliki takhta di dalam kehidupan rohani kita, Allah tidak hanya akan memerintah atas kita, tetapi juga akan memenuhi tujuan-Nya di dalam kita, dengan kita, dan melalui kita. Mereka yang tidak memiliki takhta di dalam kehidupan Kristiani mereka tidak akan mengijinkan Allah mendapatkan tujuan-Nya pada mereka. Saya harap bahwa Roh Kudus akan mengesankan kamu lebih dalam dengan perkara ini. Jika kamu ingin tujuan dan rencana Allah dilaksanakan di dalammu dan denganmu, kamu harus menjadi orang yang tunduk kepada takhta. Kamu harus menjadi orang yang berada di bawah pemerintahan Allah. Hanya dengan demikian, Allah dapat melaksanakan tujuan-Nya di dalam hubungannya dengan kamu.

TAKHTA MENTRANSMISIKAN KE BUMI

MELALUI MAKHLUK-MAKHLUK HIDUP

Makhluk-makhluk hidup masih di bumi, bergerak atau berdiri, tetapi di atas kepala mereka ada langit yang jernih dengan takhta. Dari apa yang digambarkan di sini, kita dapat melihat bahwa takhta di langit ditransmisikan ke bumi melalui dan bersama makhluk-makhluk hidup. Bersama mereka dan melalui mereka, langit dengan takhta terbuka ke bumi. Dengan cara ini, takhta di langit menjadi satu dengan bumi, karena takhta ditransmisikan ke bumi. Transmisi ini dapat dibandingkan dengan transmisi dari listrik. Listrik adalah generator pada sumber listrik yang jauh dari rumah, tetapi listrik ditransmisikan kepada kita melalui kabel listrik. Dengan sarana transmisi ini, listrik yang ada dalam generator juga menyertai kita di rumah kita. Kita dapat berkata bahwa makhluk-makhluk hidup di dalam Yehezkiel 1 adalah kabel listrik surgawi. Melalui mereka, oleh mereka, dan dengan mereka bahwa takhta surgawi ditransmisikan ke bumi. Dimana pun mereka berada, ada takhta di sana. Kemana pun mereka pergi, takhta mengikuti mereka.

Kadang-kadang kita mungkin mengontaki saudara terkasih yang lemah lembut, halus, dan lembut, namun di dalam kehadirannya kita memiliki perasaan bahwa sesuatu yang berbobot dan berkuasa hadir memerintah atas situasi itu. Kita mungkin orang yang kendor dan ceroboh, tetapi ketika kita datang ke dalam hadirat saudara yang demikian, kita menyadari bahwa sesuatu sedang memerintah atas kita. inilah takhta, atau kita boleh berkata bahwa ini adalah hadirat Tuhan. Apakah kita menyebutnya takhta atau hadirat Tuhan, itu adalah transmisi takhta surgawi ke bumi melalui saudara terkasih ini.

Kita mungkin memiliki pengalaman semacam ini di dalam mengunjungi gereja-gereja. Kita mungkin mengunjungi satu gereja lokal dimana kaum salehnya lemah lembut, baik, dan gembira, namun kita merasa bahwa di sana ada sesuatu yang berbobot dan berkuasa, suatu kekuasaan, sesuatu yang memerintah atas segala sesuatu dan setiap orang dalam gereja itu. Inilah takhta.

KEKUASAAN DI DALAM GEREJA

TIDAK INSANI DAN ALAMIAH

TETAPI ADALAH TAKHTA DI ATAS LANGIT YANG JERNIH

Kita tidak seharusnya berbicara tentang kekuasaan secara insani, alamiah. Di dalam gereja, tidak ada kekuasaan insani. Kekuasaan di dalam gereja adalah takhta di atas langit yang jernih.

Misalnya saudara atau penatua yang memimpin dalam satu gereja lokal tidak berada di bawah langit yang jernih, namun mereka melaksanakan kekuasaan mereka berdasarkan posisi mereka. Pelaksanaan kekuasaan semacam ini tidak dapat bekerja karena tidak memiliki bobot atau tidak ada pemerintahan; tidak ada takhta di langit yang jernih. Namun, misalnya saudara dan penatua yang memimpin terus-menerus berada di bawah langit yang jernih, memiliki hati nurani yang murni dan bebas dari kesalahan. Jika ini adalah situasi mereka, mereka akan berada di bawah takhta surgawi, dan bersama mereka akan ada sesuatu yang berbobot and suatu kekuasaan. Jadi, tidak perlu bagi mereka menyatakan kekuasaan atas kaum saleh.

Menyatakan kekuasaan atas kaum saleh menunjukkan bahwa orang itu tidak memiliki kekuasaan apapun. Sepanjang kita berada di bawah langit yang jernih dengan takhta di atasnya, tidak perlu bagi kita menyatakan bahwa kita memiliki kekuasaan—kekuasaan akan ada di sana dengan sendirinya. Kita tidak seharusnya pernah mencoba membawa orang lain ke bawah kekuasaan kita. Hal demikian adalah hirarki; itu adalah suatu organisasi. Kita tidak seharusnya mencoba memerintah atas kaum saleh. Sebaliknya, kita seharusnya merendahkan diri kita dan tetap berada di bawah takhta di dalam langit yang jernih.

Sangatlah memalukan bagi seseorang menyatakan untuk menjadi kekuasaan dalam sebuah gereja lokal. Tida hal yang demikian! Dalam gereja tidak ada kekuasaan insani. Tuhan Yesus berkata, “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barang siapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu” (Mat. 20:25-27). Dalam Matius 23:11 Dia berkata, “Siapa saja terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu”. Inilah cara untuk memiliki kekuasaan. Kekuasaan bukanlah milikku atau milikmu atau milik orang lain. Satu-satunya kekuasaan adalah takhta di atas langit yang jernih.

Saya akan menjamin kamu bahwa jika kita berada di bawah langit yang jernih dengan takhta di atasnya, kekuasaan yang sejati akan menyertai kita. Tidak ada penentangan atau penganiayaan yang sanggup mengalahkan kita atau mengguncangkan kita karena langit dan takhta menyertai kita. Jika langit di atas kita jernih dan takhta menyertai kita, kita akan memiliki kekuasaan dan bobot.

Orang yang berbobot di hadapan Allah sama tingkatannya dengan orang yang tunduk kepada kekuasaan Allah. Seorang saudara mungkin tepat dalam pembicaraan dan tingkah lakunya, tetapi dia ringan seperti bulu, sepenuhnya kekurangan bobot rohani. Ini menunjukkan bahwa dia tunduk kepada takhta. Namun, situasi pada saudara lain mungkin berbeda. Ketika kamu mengontaki dia, kamu merasa bahwa dia berbobot dan kamu menghargainya. Saudara ini berbobot karena dia telah belajar menundukkan dirinya sendiri kepada kekuasaan Allah. Semakin kita tunduk kepada takhta, semakin berbobot kita jadinya.

Biarlah saya beritahu kamu mengenai pengalaman seorang misionaris perempuan di Cina. Sebagai seorang yang dengan kuat memberitakan mengenai kelahiran kembali, dia berada di bawah kekuasaan Allah dan dengan demikian adalah seorang dengan kekuasaan dan bobot di dalam Tuhan. Satu hari perahu yang ditumpanginya untuk menempuh perjalanan ditangkap oleh bajak laut, yang menguasai kapal untuk beberapa hari. Saat mereka menyelidiki kamarnya untuk uang dan berlian, dia duduk di sana dengan tenang, tanpa ketakutan sedikitpun. Dia memberitahu pemimpin bajak laut bahwa terlalu panas untuk mengurung para penumpang pada kamar mereka. Dia juga memberitahunya bahwa ia harus bertanggung jawab membersihkan perahu. Pemimpin bajak laut mentaatinya dan memberitahu anak buahnya untuk membersihkan perahu. Seorang pemimpin bajak laut yang ganas berada di bawah kekuasaan misionaris ini karena dia sendiri berada di bawah takhta. Dia menundukkan dirinya sendiri kepada kekuasaan Allah; Oleh karena itu, kekuasaan Allah menyertainya.

Kita perlu menyadari sejumlah bobot yang kita miliki bergantung pada ketundukan kita kepada takhta. Perkataan yang keluar dari mulut seorang saudara mungkin memiliki bobot dan kuasa, tetapi perkataan yang sama yang keluar dari mulut saudara lain mungkin tidak berarti apa-apa. Alasannya adalah saudara itu berada di bawah langit yang jernih dengan takhta, tetapi saudara lain berada di bawah gelap, langit yang berawan tanpa takhta. Sangatlah mudah belajar untuk mengulangi atau mengutip perkataan yang lain. Tetapi apakah perkataan yang keluar dari mulut kita itu memiliki bobot atau tidak berarti apa-apa bergantung pada apakah kita berada di bawah langit yang jernih dengan takhta atau tidak. Kehidupan orang Kristen yang tepat dan kehidupan gereja yang tepat adalah kehidupan di bawah takhta yang berada di atas langit yang jernih.

Saya ingin mengingatkan semua orang terkasih yang memikul tanggung jawab dalam gereja lokal jangan pernah melaksanakan kekuasaan mereka. Kita harus menyadari bahwa tidak seorang pun dari kita memiliki kekuasaan apapun. Kekuasaan adalah takhta. Pertimbangkanlah situasi pada Musa dalam kitab Bilangan. Ketika umat Israel memberontak melawan dia, dia tidak melaksanakan kekuasaannya. Sebaliknya, Musa dan Harun bersujud dan berteriak kepada kekuasaan yang tertinggi. Kemudian Tuhan datang untuk memulihkan (Bil. 14:5; 16:1-4, 22; 20:2-6). Adalah kesalahan yang serius untuk melaksanakan kekuasaan atas orang lain di dalam gereja. Tidak ada yang lebih memalukan dari hal ini. Melaksanakan kekuasaan atas kaum saleh tidaklah mulia—tetapi memalukan. Tidak seorang pun dari kita adalah kekuasaan. Kekuasaan adalah manusia di takhta. Kita harus memiliki manusia di takhta di dalam langit jernih kita. Dalah kehidupan gereja, kita perlu langit yang jernih dengan takhta surgawi.

Tuhan perlu gereja yang demikian hari ini. Dia perlu sekelompok makhluk hidup yang berkoordinasi. Ketika mereka sedang berdiri atau berjalan di bumi, surga terbuka kepada bumi. Melalui mereka takhta surgawi ditransmisikan ke bumi. Inilah kehidupan gereja.

Jangan mengambil cara alamiah, insani untuk melaksanakan kekuasaan apapun. Bahkan jika orang lain datang kepadamu, mencoba mengakui kamu sebagai kekuasaan, kamu harus menolaknya. Kamu perlu memberitahu orang ini bahwa kamu bukan kekuasaan. Ini bukanlah apa kekuasaan itu. Kekuasaan yang tepat adalah perkara takhta di atas langit yang jernih. Ini mutlak bukan perkara insani tentang organisasi dan hirarki. Kita perlu memiliki langit yang jernih dengan takhta. Sangatlah memalukan untuk berkuasa di antara kaum saleh, untuk menjadi kekuasaan di antara kaum saleh, atau bermaksud agar kaum saleh mendengarkan kita. Kita selalu menganggap Paulus seorang rasul besar. Tetapi namanya berarti “kecil”, dan dia menganggap dirinya sendiri yang paling kecil di antara kaum saleh yang terkecil (Ef. 3:8). Paulus mungkin berkata, “Kamu memberiku terlalu banyak gelar. Aku tidak layak untuk hal itu.”

LANGIT YANG JERNIH DAN TAKHTA YANG MEMULIHKAN

Apakah para saudara dan saudari mendengarkan kamu atau tidak, bergantung pada dimana kamu berada dan bergantung pada apa adanya kamu. Apakah kamu berada di bawah langit yang jernih? Jika kamu berada di bawah langit yang jernih, tidak perlu bagimu untuk beralasan, dan tidak perlu bagimu untuk menyatakan sesuatu atau bahkan mengatakan sesuatu. Langit yang jernih dan takhta di atas langit akan memulihkannya.

Semua gereja lokal memerlukan wahyu tentang takhta di atas langit yang jernih. Dalam kehidupan gereja kita tidak memiliki organisasi atau hirarki macam apapun. Kita tidak memiliki papan misis atau papan lainnya; kita tidak memiliki markas besar dan organisasi macam apapun. Kita hanya memili langit yang jernih dengan takhta di atas langit.

Saya dapat bersaksi bahwa saya takut hanya oleh satu hal—bahwa saya akan kehilangan hadirat Tuhan saya. Seringkali ketika saya sendirian di dalam kamar pribadi saya, saya telah mendeklarasikan kepada seluruh alam semesta dan kepada diri saya bahwa satu hal yang saya takutkan adalah kehilangan hadirat Tuhan. Sepanjang saya memiliki hadirat Tuhan, saya tidak takut apa-apa. Saya hanya peduli hadirat-Nya, bukan untuk sesuatu yang lain. Dengan perkataan lain, saya hanya peduli untuk langit yang jernih dengan takhta di atasnya. Saya memiliki jaminan penuh bahwa saat saya mengatakan perkataan ini, takhta menyertai saya. Puji Tuhan bahwa hal ini adalah cukup! Kita semua perlu belajar hal ini.

Kita begitu kecil dan tidak layak, namun Tuhan melawat kita. Saya harus mengaku bahwa di masa lalu, kadang-kadang saya memberitahu Tuhan bahwa saya tidak seperti melakukan pekerjaan ini, dan saya menanyakan Dia mengapa Dia telah memegang saya. Pada saat demikian, Tuhan memberi saya peringatan serius tentang pembicaraan dengan cara ini. Lalu saya berkata, “Tuhan, ampuni aku. Lakukan apa yang Engkau suka. Aku rela kehilangan segala sesuatu, tetapi aku tidak ingin kehilangan langit yang jernih dan takhta”. Di bawah naungan Tuhan, saya dapat bersaksi bahwa saya sungguh-sungguh mengatakan hal ini.

Di dalam gereja lokalmu, kamu seharusnya tidak peduli untuk segala sesuatu, kecuali untuk memiliki langit yang jernih dengan takhta di atasnya. Sepanjang kita memiliki langit yang jernih dengan takhta, penentangan dan kritikan tidak berarti apa-apa. Satu-satunya yang perlu kita pedulikan adalah langit yang jernih dengan takhta di atasnya.

TAKHTA MEMILIKI RUPA BATU NILAM

Yehezkiel 1:26 berbicara tentang “ada menyerupai takhta yang kelihatannya seperti batu nilam”. Di sini kita melihat bahwa takhta memiliki penampilan batu nilam. Keluaran 24:10 sangat membantu dalam memahami makna batu nilam di dalam Yehezkiel 1. Ayat ini berkata, “Lalu mereka melihat Allah Israel; kaki-Nya berjejak pada sesuatu yang buatannya seperti lantai dari batu nilam dan yang terangnya seperti langit yang cerah” Batu nilam melambangkan semacam kondisi surgawi yang ada ketika Allah hadir dalam situasi tertentu. Menurut Keluaran 24:10 ketika Musa, Harun, dan kepala kaum Israel melihat Allah, merka melihat di bawah kaki-Nya penampilan dari batu nilam. Ini memberi umat pengertian tentang penampilan hadirat Tuhan. Batu nilam berwarna biru, dan biru adaah warna surgawi yang menunjukkan situasi dan kondisi hadirat Allah. Ayat ini juga berkata bahwa pada saat itu langit jernih dengan luar biasa. Allah hadir di dalam situasi dan atmosfir semacam ini. Oleh karena itu, batu nilam melambangkan situasi dan kondisi dari langit dengan hadirat Allah di dalamnya. Takhta memiliki rupa batu nilam menunjukkan hadirat Allah di dalam situasi surgawi.

Kapan saja kita memiliki takhta Allah di dalam langit yang jernih, situasinya akan menjdi surgawi. Tidak akan ada sesuatu yang bumiah atau sesuatu yang suram atau tidak murni. Sebaliknya, segala sesuatu akan menjadi surgawi, jernih, bersih, dan mutlak transparan. Ini menggambarkan semacam situasi yang harus kita miliki di hadirat Allah. Kapan saja kita memiliki langit yang jernih dengan takhta Allah di dalamnya, kita berada dalam situasi surgawi memiliki penampilan batu nilam.

Saya ingin meminta kamu untuk melihat sekali lagi pada gambaran di dalam Yehezkiel 1. Tuhan berada di takhta di atas cakrawala di langit, dan makhluk-makhluk hidup sedang berjalan atau berdiri di bumi. Melalui mereka Tuhan di langit menjadi satu dengan bumi, dan dengan cara ini, langit berhubungan dengan bumi. Ini berati bahwa langit telah dibawa turun ke bumi dan sekarang langit sedang bergerak di bumi melalui, oleh, dan dengan makhluk-makhluk hidup. Ini perlu menjadi situasi gereja lokal hari ini, situasi di antara para pemenang, dan situasi dan kondisi dari kehidupan Kristiani kita sehari-hari.