MENGHARAPKAN BERKAT ALLAH
Belakangan ini saya terus-menerus merasakan satu hal, yaitu semua pekerjaan tergantung pada berkat Allah. Sering kali kita setia, tetapi tidak peduli seberapa besar kesetiaan kita, jika tidak ada berkat, tidak ada buahnya. Sering kali kita rajin, tetapi tidak peduli seberapa besar kerajinan kita, jika tidak ada berkat, tidak ada buahnya. Sering kali kita beriman, kita sungguh percaya Allah dapat melakukan sesuatu, kita juga berdoa agar Dia mau bekerja, tetapi jika Allah tidak memberkati, segala sesuatu berada dalam kesia-siaan. Cepat atau lambat, orang-orang yang melayani Allah harus dibawa ke satu tahap, yaitu mengharapkan berkat Allah. Tanpa berkat Allah, kesetiaan kita, kerajinan, iman, dan doa-doa kita tidak bermanfaat. Akan tetapi, jika kita memiliki berkat Allah, meskipun kelihatannya salah, masih ada buahnya; meskipun kelihatannya tidak ada harapan, tetapi ada buahnya. Karena itu, semua perkara tergantung pada berkat Allah.
Satu
Mengenai menerima berkat, saya ingin menyinggung tentang mujizat memperbanyak roti (Mrk. 6:35-44; 8:1-9). Masalahnya bukan terletak pada berapa banyak roti yang ada di tangan kita, melainkan apakah Allah memberkati roti-roti itu atau tidak. Sekalipun kita memiliki lebih banyak roti, itu masih tidak cukup untuk memberi makan empat atau lima ribu orang. Bahkan jika kita memiliki sepuluh kali atau bahkan seratus kali lebih, tetap tidak cukup untuk memberi makan empat atau lima ribu orang. Masalahnya bukan terletak pada berapa banyak yang kita miliki. Cepat atau lambat, kita harus dibawa sampai ke satu tahap, nampak bahwa hal ini bukanlah perkara kita dapat mengeluarkan berapa banyak barang dari gudang, bukan perkara berapa besar karunia kita, atau berapa banyak kuasa yang kita miliki. Pada suatu hari, kita akan berkata kepada Tuhan, “Tuhan, segala sesuatu tergantung pada berkat-Mu. Aku membawa roti ke hadapan-Mu, satu atau dua ketul, atau seratus ketul. Tuhan, semua tergantung pada berkat-Mu.” Ini adalah perkara yang mendasar. Sebenarnya berapa banyak berkat yang Tuhan berikan kepada kita? Banyak atau sedikitnya roti tidak begitu berperan, yang bisa merawat dan menghidupi orang adalah berkat Tuhan.
Satu hal yang menyusahkan hati saya: Apakah kita sungguh-sungguh memustikakan berkat Allah? Ini adalah masalah mendasar dalam pekerjaan. Hari ini, mungkin kita bahkan tidak memiliki lima atau tujuh roti, tetapi keperluan kita lebih besar daripada empat ribu atau lima ribu orang. Mungkin apa yang ada dalam gudang kita lebih sedikit daripada zaman para rasul, sedangkan keperluan kita lebih besar daripada keperluan pada zaman para rasul. Gudang kita sendiri, sumber kita sendiri, kuasa kita sendiri, jerih lelah kita sendiri, dan kesetiaan kita sendiri, pada suatu hari akan memberi tahu kita, semuanya itu tidak berguna. Saudara-saudara, yang terletak di depan kita adalah kekecewaan yang sangat besar, karena kita melihat bahwa kita tidak dapat berbuat apa-apa.
Kita perlu memperhatikan dalam kitab Injil, mengapa Tuhan melakukan dua mujizat yang hampir sama sifat dan tindakannya? Saya kira karena pelajaran ini tidak mudah untuk dipelajari. Mengapa Ia memberi makan lima ribu orang dan kemudian memberi makan empat ribu orang? Dua mujizat hampir identik dalam sifat diulangi dua kali dalam kitab Injil. Kita harus belajar pelajaran ini, tetapi ini tidak mudah. Banyak orang tetap tidak memandang kepada berkat Allah, tetapi sebaliknya memandang kepada berapa ketul roti yang ada di tangan mereka! Roti di tangan kita sangat sedikit, tetapi kita tetap membuat rencana berdasarkan roti itu. Semakin kita membuat rencana, semakin sulit pekerjaan itu terwujud; kadang kala bahkan menjadi tidak mungkin dilakukan. Saya kadang kala terhibur oleh perkataan yang diucapkan oleh seorang saudara seratus tahun yang lalu. Ia berkata, “Ketika Allah ingin melakukan suatu mujizat kecil, Dia terlebih dulu akan menaruh kita dalam situasi yang sulit. Ketika Dia ingin melakukan suatu mujizat yang besar, Dia terlebih dulu akan menaruh kita dalam keadaan yang kelihatannya tidak mungkin.” Situasi kita sulit, dan bahkan kelihatannya tidak mungkin. Sering kali sangat sulit, dan kita seperti anak laki-laki kecil yang hanya mempunyai beberapa roti saja. Kita hanya dapat berharap pada mujizat, dan mujizat ini terjadi karena Tuhan sendiri yang mengambil roti-roti itu dan memberkatinya.
Saudara saudari, mujizat-mujizat dihasilkan oleh berkat Allah. Kalau Tuhan memberkati, roti berubah dan bertambah banyak. Kalau Tuhan memberkati, meskipun tidak kelihatan, meskipun tidak ada yang dapat diandalkan, bahkan dalam keadaan yang tidak mungkin, roti akan bertambah banyak. Mujizat-mujizat itu berdasarkan berkat Tuhan. Ada berkat bisa menyuplai empat ribu orang, ada berkat juga bisa mencukupi lima ribu orang; kalau tidak ada berkat, dua ratus atau lima ratus dinar pun tidak cukup untuk membeli roti untuk memuaskan sekian banyak orang. Pada waktu itu Tuhan melatih murid-murid, akan membawa mereka ke satu tahap — menengadah kepada berkat Allah.
Sering kali kita tidak cukup, juga tidak mampu; suasana lingkungan di luar sulit, bahkan tidak mungkin. Jika mata kita tertuju pada lingkungan yang demikian, kita tidak akan memiliki jalan untuk menghadapinya. Akan tetapi, Tuhan satu dua kali membawa kita melewatinya. Tuhan satu dua kali membawa kita melewatinya ini adalah berkat Tuhan. Ketika kita mempunyai berkat, segala sesuatu berjalan dengan baik dan tidak ada yang sulit. Tanpa berkat Tuhan, segala sesuatu berjalan dengan salah dan tidak ada yang mudah. Tuhan ingin membawa kita ke satu tahap yang belum pernah kita alami, yaitu mengenal bahwa berkat-Nya menempati kedudukan yang pertama. Ketika Tuhan membawa kita ke tahap ini, Dia akan memiliki jalan untuk maju. Jika Tuhan tidak membawa kita ke tahap ini, kita pasti akan mengatakan bahwa dua ratus dinar pun tidak cukup untuk membeli roti bagi keperluan itu. Hari ini masalahnya adalah berdasarkan kita sendiri, kita tidak dapat memenuhi keperluan yang kita hadapi. Walaupun semua uang kita digabungkan, tidak akan cukup untuk menghadapi keperluan itu, walaupun semua orang digabungkan, tidak akan cukup menghadapi masalah itu. Namun Tuhan mempunyai jalan. Dalam pekerjaan Tuhan, masalah yang mendasar adalah berkat Tuhan, yang lain bukan masalah.
Dua
Saudara-saudara, kalau Allah membawa kita ke satu tahap mengenal bahwa dalam pekerjaan Allah, apa pun tergantung pada berkat Alah, maka dalam pekerjaan Allah kita akan mempunyai satu perubahan yang mendasar. Kita tidak akan memikirkan ada berapa banyak orang, ada berapa banyak uang, atau ada berapa banyak roti. Anda akan berkata: Kekuranganku bisa dicukupi oleh berkat; yang tidak bisa kuhadapi, bisa dihadapi oleh berkat. Meskipun aku tidak bisa mencapai ukuran yang diperlukan, meskipun aku tidak bisa mencapai kapasitas yang diperlukan, tetapi berkat melampaui ukuran yang tidak bisa kucapai, melampaui kapasitas yang tidak bisa kucapai. Ketika kita nampak ini, pekerjaan kita akan mengalami perubahan yang mendasar. Dalam setiap hal kita akan lebih banyak menuntut berkat daripada menuntut perkara lainnya. Tidak perlu main politik, tidak perlu pertimbangan, tidak perlu hikmat manusia, tidak perlu perkataan yang manis. Dalam pekerjaan Allah, kita dapat percaya kepada berkat Allah, dapat menengadah kepada berkat Allah. Sering kali, karena kita kurang teliti sehingga pekerjaan menjadi gagal, itu juga bukan masalah. Kalau Tuhan sedikit memberkati kita, perkara apa pun bisa terbawa lewat.
Kita sungguh mengharapkan dalam pekerjaan kita tidak ada kesalahan, tidak ada perkataan yang sembarangan, tidak ada pergerakan yang sembarangan, tetapi kalau ada berkat Allah, sekalipun adakalanya sepertinya kita akan bersalah, juga tidak dapat berbuat salah. Adakalanya sepertinya perkara itu salah, sangat serius, tetapi karena ada berkat Allah, akhirnya salahnya tidak seberapa. Sebab itu saya pernah berkata, ketika ada berkat Allah, benar adalah benar, salah pun juga benar, tidak ada orang yang bisa merusaknya.
Tiga
Hari ini persoalan yang mendasar adalah harus belajar tidak menghalangi berkat Allah. Bila di atas diri kita ada kecenderungan yang tidak bisa diberkati oleh Allah, harus segera kita singkirkan; bila ada temperamen yang tidak bisa diberkati oleh Allah, harus kita buang. Kita harus belajar percaya kepada berkat Allah, harus belajar bersandar kepada berkat Allah, di samping itu juga harus belajar menyingkirkan rintangan yang menghalangi berkat Allah.
Misalkan, masalah yang terjadi di Sian, begitu saudarasaudara terpecah menjadi dua kubu, benar-benar ada sesuatu yang menghalangi berkat Allah. Kalau kesulitan mereka terus bertahan di sana, berkat Allah tidak akan datang. Belakangan ini keadaan di Szechuan ada sedikit kesulitan, kita tidak bisa mengharapkan di Szechuan ada berkat yang istimewa. Saya hanya mengambil satu atau dua perkara sebagai contoh.
Kita harus nampak, Tuhan tidak menyisakan satu perkara yang baik yang tidak diberikan kepada kita. Ketika pekerjaan tidak bisa maju, keadaan saudara saudari tidak baik, jumlah orang yang beroleh selamat tidak bertambah, kita jangan menyalahkan situasi, juga jangan menyalahkan orang lain, menyalahkan saudara ini tidak baik, menyalahkan saudara itu tidak baik. Mungkin di atas diri kita ada hal-hal yang menghalangi berkat Allah. Kalau Tuhan bisa berjalan lancar pada diri kita, berkat Allah pasti akan berkelimpahan sampai tidak tertampung. Dulu Allah berkata kepada orang Israel, “. . . Ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan” (Mal. 3:10). Sampai hari ini Allah masih mengucapkan perkataan yang sama. Kehidupan menerima berkat seharusnya adalah kehidupan sehari-hari orang Kristen. Pekerjaan yang diberkati Allah seharusnya adalah pekerjaan yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari kita. Kalau terjadi keadaan yang tidak diberkati, Anda harus berkata, “Tuhan, mungkin di pihakku ada kesulitan.”
Setahun lewat setahun, semakin lama semakin terlihat dengan jelas, ada saudara yang bisa diberkati Allah, ada saudara yang tidak bisa diberkati Allah. Bukan kita berdasarkan diri sendiri bisa memutuskan perkara, tetapi karena kita sudah bertahun-tahun mengikuti Tuhan, sepertinya bisa tahu, kalau saudara itu yang pergi ke sana, tidak akan ada kesulitan, pasti ada berkat; sebaliknya kalau saudara lainnya yang pergi ke sana, pasti tidak ada berkat, tidak ada buahnya. Kita sepertinya bisa memperkirakan hasilnya.
Empat
Bisa diberkati atau tidak bisa diberkati, ada model tertentu, ada syarat tertentu, bukan kebetulan, juga bukan untung-untungan. Allah mempunyai jalan-Nya sendiri, Allah bekerja berdasarkan ketentuan-Nya. Ada keadaan yang diperkenan Allah, ada keadaan yang tidak diperkenan Allah. Esau baik, tetapi Allah tidak berkenan kepadanya. Yakub tidak baik, tetapi Allah berkenan kepadanya. Allah mempunyai alasan-Nya sendiri. Siapa saja yang tidak diberkati Allah, pasti ada sebabnya. Orang yang tidak diberkati Allah, jangan sekali-kali melemparkan tanggung jawab itu kepada situasi atau keadaan lingkungan. Tidak diberkati oleh Allah pasti ada sebabnya. Kalau kita di depan Tuhan bisa dibawa sampai ke satu tahap, dari lubuk batin belajar mengharapkan berkat Allah, bersamaan dengan itu dari lubuk batin mohon Allah menunjukkan kepada kita di mana penyebab kita tidak bisa diberkati oleh Allah, pekerjaan Allah akan mempunyai hari depan yang sangat besar. Kalau tidak, pekerjaan tidak begitu efektif, tidak begitu berhasil. Semoga kita hidup di bumi menjadi orang yang hidup dengan mengharapkan berkat Allah. Tidak ada satu hal yang lebih penting daripada berkat Allah, karena hasil pekerjaan berada dalam berkat.
Saya tahu kita semua mempunyai kelemahan masingmasing. Ada kelemahan yang kelihatannya dibiarkan oleh Allah, ada kelemahan yang tidak dapat dibiarkan oleh Allah; begitu kita ada kelemahan itu, kita tidak mendapatkan berkat. Ada kelemahan yang kelihatannya tidak dipermasalahkan oleh Allah, meskipun kita salah agak banyak lagi, masih bisa ditoleransi oleh Allah. Tetapi ada kelemahan yang sangat diperhitungkan oleh Allah. Sebab itu kita harus hati-hati, ada kelemahan yang mungkin bisa menyebabkan kita kehilangan berkat Allah. Mungkin kita tidak bisa menyingkirkan semua kelemahan, tetapi kita perlu mohon belas kasihan Allah, supaya kita bisa menjadi orang yang diberkati Allah. Kita boleh berkata kepada Tuhan, “Tuhan, meskipun aku menjadi bejana yang tidak terlalu kuat, janganlah sampai bejana ini terlalu rendah sehingga tidak bisa mendapatkan berkat; juga jangan supaya bejana ini terlalu kecil, sampai tidak bisa mendapatkan berkat.” Meskipun kita rendah, meskipun kita kecil, tetapi masih bisa diberkati oleh Allah. Berkat Allah, karunia Allah, adalah pekerjaan Allah. Sebab itu kita berharap Allah membelaskasihani kita.
Lima
Semoga berkat Allah mengalir keluar dari diri kita, sama seperti mengalir keluar dari diri Abraham. Saya percaya pekerjaan Injil akan ada perubahan yang besar. Semoga Tuhan tidak saja memberkati kita, juga membelaskasihani kita, supaya kita nampak berkat Allah, sehingga kita sepertinya menjadi orang yang terbiasa menerima berkat Allah. Kita jangan menghalangi Allah memberi kita berkat yang besar. Seribu orang beroleh selamat, mungkin menjadi halangan bagi keselamatan beberapa puluh ribu orang. Mungkin di suatu tempat ada beberapa puluh orang beroleh selamat, tetapi menjadi halangan bagi beberapa ribu orang beroleh selamat. Setiap kali menerima berkat, seharusnya bisa menjadi pemicu mendapatkan berkat yang selanjutnya. Setiap kali kita harus berpijak pada berkat Allah yang lebih besar. Setiap pekerja yang ada di sini harus mengharapkan Allah di tengah-tengah kita akan melakukan pekerjaan yang luar biasa. Di depan kita masih akan ada pekerjaan yang lebih besar puluhan bahkan ratusan kali. Apakah keselamatan beberapa orang, pembangunan tempat sidang, menjadi batasan berkat? Dulu terus bertumbuh, sekarang diikat dengan tali! Berkat yang lalu, sekarang menjadi penghalang. Ini sangat kasihan sekali.
Setiap kali kita datang ke hadapan Allah, harus seperti orang yang baru keluar bekerja. Ada orang yang sudah bekerja 20 tahun, kelihatannya sama seperti orang yang baru keluar bekerja. Ada orang yang sudah bekerja 30 tahun, kelihatannya seperti orang yang baru keluar bekerja. Harus mengesampingkan perkara yang lampau. Dalam keadaan yang paling sulit, kalau harapan Anda semakin besar, kalau Anda semakin menengadah kepada Allah, kalau hati Anda semakin besar, maka yang akan Allah kerjakan juga semakin banyak. Jangan sekali-kali memakai ukuran kita untuk mengukur Allah. Beberapa ketul roti cukup untuk memberi makan empat ribu orang, juga cukup memberi makan lima ribu orang, kalau ukuran berkat besar, tidak ada satu hal yang bisa menghalangi berkat ini. Ketika kita orang-orang yang melayani Tuhan berkumpul menjadi satu, kalau semua dengan hebat mengharapkan berkat Allah, hari depan kita pasti melebihi apa yang kita minta dan pikirkan.
Enam
Berkat Allah bagaikan seekor burung yang terbang masuk ke ruangan semaunya sendiri. Burung yang berada di luar jendela, tidak bisa Anda paksa terbang masuk, tetapi setelah ia masuk ke dalam ruangan, mudah sekali Anda mengusir dia pergi. Allah sendiri yang ingin memberi berkat, lalu Dia memberi berkat; kita tidak bisa memaksa-Nya. Tetapi sama seperti seekor burung yang tidak mudah dibujuk untuk terbang masuk ke dalam ruangan, tetapi mudah sekali mengusirnya keluar, begitu juga kalau Anda tidak hati-hati, Anda akan mengusir berkat keluar.
Dalam dua atau tiga tahun ini, saya nampak saudarasaudara sekerja kita telah menyelesaikan beberapa hal. Tetapi seorang sekerja mulai mengkritik sekerja yang lain, mulai ada perselisihan. Memang perkataannya benar, pekerjaannya juga benar; tetapi hati saya selalu ingin berkata, “Saudara, meskipun Anda tidak salah, tetapi apakah kita yang melakukan pekerjaan Tuhan, melakukannya berdasarkan benar salah? Atau berdasarkan berkat Allah?” Dalam banyak perkara Anda dapat melakukan dengan benar. Meskipun Anda melakukan dengan benar, kalau Allah tidak memberkati, Anda akan bagaimana? Setiap gerak gerik kita tidak tergantung pada benar atau salah, tetapi tergantung pada ada berkat Allah atau tidak. Di sini kita bukan berdebat tentang benar atau salah, melainkan akan bertanya, Allah memberkati atau tidak. Karena menuntut ada berkat dalam pekerjaan, maka kita perlu membatasi banyak perkataan kita, juga perlu banyak membatasi kehidupan kita. Meskipun Anda benar, namun masalahnya apakah Allah memberkati Anda? Anda mudah sekali memotong berkat Anda sendiri, bersamaan dengan itu juga memotong berkat saudara itu. Benar atau salah hanya sebagai tolok ukur pekerjaan kita. Tetapi kita perlu mengharapkan berkat Allah. Meskipun yang Anda lakukan semuanya benar, tetapi bisakah Allah memberkati pekerjaan Anda? Kehidupan kita perlu dikendalikan oleh berkat Allah.
Dalam pekerjaan Allah, tidak saja yang salah tidak diberkati Allah, adakalanya yang benar pun tidak diberkati oleh Allah. Begitu sehati, bersama-sama berdiri di satu pijakan, berkat segera datang. Sebab itu saya mengharapkan kita semua tahu bahwa perselisihan di antara saudara adalah perkara yang sangat serius. Menurut alasan mungkin Anda sepenuhnya benar, tetapi berkat telah berhenti! Saya dengan tegas berkata kepada saudara-saudara, kalian jangan berbicara dengan sembarangan, jangan mengira asal benar, itu sudah cukup. Kalau Tuhan membelaskasihani kita, kita harus berhati-hati berbicara, baik membicarakan saudara tertentu, atau mengkritik saudara tertentu. Meskipun benar sekali, juga tidak ada gunanya. Meskipun benar, kalau Allah tidak memberkati, apa gunanya? Pekerjaan tidak dibangun di atas kekuatan kita, tidak dibangun di atas karunia kita, tidak dibangun di atas kesetiaan kita, juga tidak dibangun di atas kerajinan kita. Kalau kita melepaskan berkat Allah, semuanya akan habis.
Tujuh
Apa yang disebut berkat? Berkat adalah pekerjaan Allah yang tanpa dasar. Secara logis, kalau satu sen dapat membeli satu barang; Anda tidak mengeluarkan satu sen pun, namun Allah justru memberi Anda sepuluh ribu barang. Ini membuat Anda tidak dapat membuat perhitungan. Berkat Allah adalah pekerjaan Allah yang tidak ada dasarnya, melebihi apa yang seharusnya kita dapat. Lima ketul roti memberi makan lima ribu orang sampai kenyang, bahkan sisa dua belas bakul! Inilah yang disebut berkat. Orang semacam ini tidak seharusnya mendapatkan hasil yang demikian. Saya seharusnya hanya memiliki sedikit, tetapi ternyata mempunyai sekian banyak. Seluruh pekerjaan kita dibangun di atas berkat Allah. Berkat adalah mendapatkan hasil yang tidak selayaknya kita terima. Menurut karunia yang kita miliki sebenarnya tidak bisa mendapatkan hasil yang sebanyak itu, inilah berkat. Menurut kemampuan kita seharusnya tidak bisa mendapatkan hasil yang sebanyak itu, inilah berkat. Atau kita tekankan lebih berat lagi, menurut kegagalan dan kelemahan kita seharusnya tidak bisa mendapatkan hasil, tetapi kita mendapatkan hasil yang banyak, inilah berkat. Sebab itu, kalau kita mengharapkan mendapatkan berkat Allah, Allah akan memberi kepada kita hasil yang di luar dugaan kita. Apakah dalam pelayanan kita, kita memiliki hati yang menaruh pengharapan, yaitu mengharapkan Allah memberi kita banyak buah? Banyak saudara saudari hanya mengharapkan hasil yang sepadan dengan dirinya. Namun hasil yang jauh lebih besar, yang tidak sepadan dengan penyebabnya, barulah bisa disebut berkat.
Kita hanya mengharapkan hasil yang sepadan dengan kita, kita hanya mengharapkan hasil yang sedikit, tidak mengharapkan hasil yang banyak. Kita harus hati-hati supaya tidak kehilangan berkat Allah. Anda hanya memperhatikan jerih lelah Anda dari pagi sampai malam, sebab itu Allah tidak bisa melakukan perkara yang di luar dugaan Anda. Kita harus menaruh diri kita ke dalam lingkaran yang bisa diberkati Allah. Kita harus berkata kepada Tuhan, “Berdasarkan hasil yang tidak sepantasnya kami terima, Tuhan, untuk nama-Mu, untuk gereja-Mu, untuk jalan-Mu, kami mengharapkan Engkau memberikan kepada kami.” Iman dalam pekerjaan adalah percaya berkat Allah. Iman dalam pekerjaan adalah mengharapkan berkat Allah. Iman dalam pekerjaan adalah percaya hasil yang berbeda dengan faktor yang kita miliki. Ketika kita demikian, saya percaya dalam penempuhan kita, Allah akan memberkati kita. Saya harap ketika saudara-saudara membicarakan masalah migrasi, ada berkat Tuhan yang melampaui yang seharusnya kita dapatkan.
Adakalanya Allah tidak saja tidak memberkati, bahkan sepertinya sengaja tidak memberkati. Perihal Allah tidak memberkati itu lebih serius daripada tidak ada berkat. Berdasarkan kemampuan kita, berdasarkan karunia kita, seharusnya kita mendapatkan yang lebih banyak dari ini, tetapi kita tidak mendapatkannya. Berjerih lelah semalam suntuk, seharusnya mendapatkan hasil tertentu, tetapi karena Allah tidak memberkati, hasilnya lebih sedikit daripada yang seharusnya kita dapatkan. Berjerih lelah sekian lama, tetapi tidak mendapatkan hasil. Sudah rajin bekerja, tetapi tidak ada buahnya. Karena Allah sama sekali tidak memberkati.
Saya tidak tahu, seberapa berat perasaan Anda? Anda jangan sekali-kali berselisih tentang sudah bertindak dengan benar atau salah. Benar atau salah tidak ada gunanya, Anda harus memperhatikan Allah memberkati atau tidak. Sering kali yang Anda lakukan sangat benar, tetapi Allah tidak memberkati. Semalam suntuk menjala ikan, itu benar, tetapi Allah tidak memberkati. Kita hidup di bumi bukan untuk melakukan pekerjaan yang benar, tetapi untuk melakukan pekerjaan yang diberkati Allah. Daud melakukan pekerjaan yang sangat salah, Abraham juga melakukan kesalahan, Ishak tidak terlalu berguna, Yakub sangat licik, tetapi mereka semua diberkati Allah. Sebab itu masalahnya bukan salah atau benar, masalahnya adalah Allah memberkati atau tidak. Kita yang ada di sini sekarang, mungkin lebih baik daripada Yakub, tetapi kalau tidak diberkati Allah, apa gunanya. Kita harus menjadi orang yang bisa diberkati Allah. Anda boleh membela diri, mungkin Anda yang benar, tetapi kalau Allah tidak memberkati, apa gunanya. Hari depan semua pekerjaan berada dalam berkat Allah, tidak tergantung pada benar salah Anda. Kalau Allah memberkati, banyak orang dosa bisa beroleh selamat. Kalau Allah memberkati, kita bisa mengutus orang ke tempat yang terpencil. Kalau tidak ada berkat, orang tidak bisa beroleh selamat. Kalau berkat tidak datang, orang tidak bisa terbina. Kalau berkat tidak datang, orang tidak mau mempersembahkan diri. Kalau berkat tidak datang, tidak ada orang yang mau pergi untuk Tuhan. Begitu berkat datang, meskipun perkara itu kelihatannya salah, tetapi masih tidak salah. Ketika Allah memberi berkat, yang kelihatannya salah pun tidak menjadi salah. Dalam suatu sidang, saudara saudari menyanyikan satu kidung yang kelihatannya salah, tetapi karena ada berkat Allah, akhirnya ada hasil yang baik. Khotbahnya kelihatannya ditujukan kepada sasaran yang salah, isinya tidak cocok, tetapi Allah memberkati sekelompok orang itu. Lewat beberapa waktu lagi berkhotbah lagi, kelihatannya tidak cocok lagi, tetapi Allah memberkati juga sekelompok orang itu. Saya tidak berkata bahwa kita boleh sembarangan; tetapi saya berkata, dalam berkat Allah, Anda tidak akan berbuat salah. Sepertinya Anda dengan kesalahan menghalanginya, namun berkat itu tetap tidak terhalang. Allah berkata: Aku mencintai Yakub dan membenci Esau. Allah senang lalu memberkati. Perkara ini sangat serius. Anda sekali-kali jangan mengira berkat adalah satu perkara yang kecil. Berkat adalah jiwa-jiwa yang diselamatkan; berkat adalah persembahan. Mungkin kata berkat mewakili lima puluh jiwa; mungkin kata berkat mewakili persembahan seratus orang. Ada perkataan, sikap, dan opini orang bisa membuat berkat Allah berhenti. Kita harus mohon kepada Allah, supaya batin kita seperti tertusuk oleh pisau, tertusuk begitu rupa sehingga tidak bisa tidak memperoleh berkat Allah. Kalau tidak, begitu berkat terganggu, itu lebih besar daripada dosa apa saja yang kita lakukan. Berkat membicarakan ratusan bahkan ribuan orang beroleh selamat. Kita harus berharap kepada berkat Allah, jangan membiarkan dia pergi. Kita harus sangat memohon kepada Allah untuk memberkati kita.
Delapan
Saudara-saudara, kita harus belajar senantiasa hidup dalam berkat Allah. Baik yang melayani Allah, maupun yang bekerja, semuanya harus memperbesar kapasitas kita. Dalam pelayanan terhadap Allah, maupun dalam tingkah laku, harus mohon Allah menjaga kita selalu berada dalam berkat-Nya. Kalau masalah ini tidak dibereskan, kita akan menderita kerugian yang besar.
Tahun 1945, Saudara Witness Lee berada di Shanghai. Pada suatu hari ia berkata, hari ini saudara-saudara bersidang sangat ada berkat Allah. Saya percaya sedikit kemajuan Saudara Witness Lee berada pada titik ini. Di hadapan Allah Anda harus nampak, yang kita tunggu bukan hasil pekerjaan, melainkan berkat Allah. Ada pekerjaan yang mempunyai sedikit hasil, tetapi buahnya kering dan asam. Kalau Anda menunggu berkat Allah, akan menghasilkan banyak perkara yang di luar dugaan. Menunggu berkat Allah akan menghasilkan banyak perkara yang di luar kapasitas Anda. Dalam pekerjaan Allah, harus selalu mengharapkan terjadi mujizat, terjadi perkara yang di luar dugaan. Jangan selalu mengharapkan diri sendiri memiliki buah yang bagaimana. Jangan selalu mengharapkan menghasilkan buah yang kecil, itu akan membatasi Allah. Kalau kita tidak mengharapkan berkat Allah, kita tidak memiliki hari depan yang besar. Keusangan kita sangat sulit, perjalanan di depan kita sangat sulit, sebab itu kita harus tidak mengharapkan upah pribadi kita, tetapi mengharapkan mendapatkan berkat Allah. Kalau yang ingin kita dapatkan hanya upah dari jerih lelah kita, maka tidak tahu akan lewat berapa lama baru bisa membuat banyak orang percaya Tuhan. Harus mengharapkan Allah melakukan pekerjaan yang di luar dugaan. Mohon Allah memberi kita sedikit visi, supaya kita nampak apa yang disebut berkat.
Orang selalu melihat, orang muda ini bekerja dengan benar atau tidak, bekerja dengan tepat atau tidak. Tetapi kita seharusnya melihat, apakah orang ini adalah orang yang diberkati Allah. Kalau seseorang bisa diberkati oleh Allah, ini akan lebih baik berlipat kali daripada karunianya, lebih baik berlipat kali daripada kemampuannya. Kalau tidak, meskipun dia sangat teliti, sangat sibuk, tetap tidak berguna.
Ada orang bisa diberkati oleh Allah. Ada orang tidak bisa diberkati oleh Allah. Mungkin temperamen Anda lebih baik sedikit daripada saudara tertentu, mungkin karunia Anda lebih besar daripada saudara tertentu, tetapi pekerjaannya ada hasilnya, sebaliknya pekerjaan Anda tidak ada hasilnya. Banyak orang yang tidak Anda pandang, Anda menganggap diri Anda lebih baik banyak daripada mereka, tetapi Allah memberkatinya. Anda tidak bisa berkata, Allah salah. Ketahuilah, diri Anda di hadapan Allah bukanlah orang yang diberkati Allah.
Hal-hal ini jangan membuat Anda marah atau iri. Hal-hal ini seharusnya membuat Anda dengan hebat menghakimi diri sendiri. Alasan Anda banyak, alasannya juga banyak; Anda benar, dia juga benar. Tetapi kalau Allah tidak memberkati, apa boleh buat? Meskipun benar, tetapi tidak mendapatkan jiwa. Meskipun benar, tetapi gereja tidak terbina. Meskipun benar, tetapi tidak berguna. Sebab itu kita harus mencari bagian apa yang tidak diberkati Allah, perkara apa yang menghalangi berkat Allah, kita harus menyingkirkan penghalang itu. Sejak hari ini, kita jangan menjadi orang yang dengan keras berdebat soal benar salah, tetapi jadilah orang yang sangat diberkati oleh Allah.