HARTA DALAM BEJANA TANAH LIAT
“Sebab kami mau, Saudara-saudara, supaya kamu tahu tentang penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga mengenai hidup kami. Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati. Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati”(2 Kor. 1:8-9).
“Jadi, apakah aku bertindak seenaknya saja dalam merencanakan hal ini? Atau apakah aku membuat rencanaku itu menurut keinginanku sendiri, sehingga padaku serentak terdapat ‘ya’ dan ‘tidak’?” (1:17).
“Sebab, jika aku mendukakan hatimu . . .” (2:2a).
“Justru itulah maksud suratku itu, yaitu supaya jika aku datang, jangan aku berdukacita karena mereka yang seharusnya membuat aku menjadi gembira” (2:3a).
“Aku menulis kepada kamu dengan hati yang sangat cemas dan pedih dan dengan mencucurkan banyak air mata, bukan supaya kamu bersedih hati, tetapi supaya kamu tahu betapa besarnya kasihku kepada kamu semua” (2:4).
“Apakah kami mulai lagi memujikan diri kami? Atau perlukah kami seperti orang-orang lain menunjukkan surat pujian kepada kamu atau dari kamu?” (3:1).
“Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah”
(3:5).
“Tetapi harta ini kami miliki dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak hancur terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami” (4:7-10).
“Sebab selama masih diam di dalam kemah ini, kita mengeluh oleh beratnya tekanan, karena kita mau mengenakan pakaian yang baru itu tanpa menanggalkan yang lama, supaya yang fana itu ditelan oleh hidup” (5:4).
“Sebab itu, kami tidak lagi menilai seorang pun juga menurut daging”(5:16a, Tl.).
“Ketika dihormati dan ketika dihina; ketika diumpat atau ketika dipuji; ketika dianggap sebagai penipu, ternyata orang benar, sebagai orang yang tidak dikenal, namun terkenal; sebagai orang yang nyaris mati, dan sungguh kami hidup; sebagai orang yang dihajar, namun tidak mati; sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersukacita; sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak bermilik, sekalipun kami memiliki segala sesuatu”(6:8-10).
“Bahkan ketika kami tiba di Makedonia, kami tidak beroleh ketenangan bagi tubuh kami. Di mana-mana kami mengalami kesusahan: Pertengkaran dari luar dan ketakutan dari dalam” (7:5).
“Aku, Paulus, seorang yang tidak berani bila berhadapan muka dengan kamu, tetapi berani terhadap kamu bila berjauhan, aku memperingatkan kamu demi Kristus yang lemah lembut dan ramah” (10:1).
“Bahkan, jikalau aku agak berlebih-lebihan bermegah atas kuasa, yang dikaruniakan Tuhan kepada kami untuk membangun dan bukan untuk meruntuhkan kamu, maka dalam hal itu aku tidak akan mendapat malu”(10:8).
“Sebab, kata orang, surat-suratnya memang tegas dan keras, tetapi bila berhadapan muka sikapnya lemah dan perkataan-perkataannya tidak berarti” (10:10).
“Tetapi menurut pendapatku sedikit pun aku tidak kurang daripada rasul-rasul yang tak ada taranya itu. Jikalau aku kurang pandai dalam hal berkata-kata, tidaklah demikian dalam hal pengetahuan; sebab kami telah menyatakannya kepada kamu pada segala waktu dan di dalam segala hal” (11:5-6).
“Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menghantam aku, supaya aku jangan meninggikan diri. Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari hadapanku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku, ’Cukuplah anugerah-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.’ Sebab itu, aku terlebih suka bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu, aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesengsaraan karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat” (12:7-10).
“Karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng” (10:4).
PAULUS DALAM SURAT 2 KORINTUS
Kalau kita dengan baik-baik membaca Surat 2 Korintus di hadapan Allah, kita akan nampak, seolah-olah di dalam surat ini ada dua orang; di satu pihak kita nampak diri Paulus sendiri, di pihak lain kita nampak Paulus yang di dalam Kristus. Kalau kita membaca dari pasal 1 hingga pasal 13, kita akan nampak bahwa apa saja yang dibicarakan dalam Surat Kiriman ini, semuanya sama, semuanya dalam satu prinsip. Kita boleh dengan beberapa kata mencakup perkara-perkara yang Paulus singgung dalam kitab ini, yaitu perkataan dalam 4:7, “Tetapi harta ini kami miliki dalam bejana tanah liat.” Dalam pasal ini, kita nampak harta diletakkan dalam bejana tanah liat. Dari pasal 3 hingga pasal yang terakhir, di satu pihak memperlihatkan kepada kita bejana tanah liat, di pihak lain memperlihatkan kepada kita harta. Setelah kita membaca ayat ini di hadapan Allah, ketika Allah dengan terang-Nya menerangi kita, kita dengan sendirinya akan melihat satu perkara, yaitu bejana tanah liat tidak bisa menghalangi pemancaran terang dari harta, bejana tanah liat tidak dapat memendam kekuatan harta.
Saya pernah berkata bahwa dalam seluruh Perjanjian Baru, tidak ada buku kedua yang seperti Surat 2 Korintus yang begitu jelas menggambarkan kepribadian seseorang. Banyak Surat Kiriman yang menyinggung doktrin, kebenaran, atau wahyu. Atas banyak Surat Kiriman, kita nampak semuanya dari pihak Allah ditujukan kepada pihak kita. Tetapi Surat 2 Korintus adalah satu-satunya surat dalam Perjanjian Baru yang memperlihatkan kepada kita, orang yang dipakai oleh Allah untuk menyalurkan wahyu-Nya. Kalau tidak ada Surat 2 Korintus, kita selamanya tidak bisa mengenal diri Paulus. Kita hanya mengetahui pekerjaan yang ia kerjakan, kita tidak bisa mengenal ministri ini. Karena ada Surat 2 Korintus, barulah kita dapat melihat ministrinya. Kita mengenal ministri ini, juga mengenal orang ini. Di sini, kita nampak dia adalah sebuah bejana tanah liat.
ORANG KRISTEN YANG IDEAL
Ketika saya baru menjadi orang Kristen, dalam benak saya ada satu angan-angan tentang orang Kristen yang ideal, lalu menurut model orang Kristen yang saya anganangankan itu saya sekuatnya menuntut Tuhan. Saya mengira kalau saya bisa mencapai model orang Kristen ideal itu, saya adalah orang yang sempurna. Saya berharap menjadi orang yang sempurna, saya memiliki satu manusia sempurna dalam angan-angan, saya memiliki satu standar orang Kristen yang ideal. Saya mengira kalau saya bisa mencapai standar yang saya angan-angankan itu, saya adalah orang yang sempurna. Menurut saya, seorang Kristen yang sempurna seharusnya sepanjang hari selalu tersenyum atau tertawa. Kalau pada suatu waktu dia menangis, saya nilai dia tidak menang, dia telah gagal total, dia tidak benar. Saya mengira orang Kristen yang sempurna pasti memiliki keberanian yang sangat besar, dalam perkara apa saja tidak pernah merasa takut, dalam perkara apa saja penuh dengan keberanian. Kalau dalam sesuatu perkara dia merasa takut, saya akan menilai dia tidak memiliki iman, dia tidak bersandar Tuhan, dia bukan orang yang sempurna. Banyak perkara semacam ini yang bisa kita singgung. Misalnya lagi, kalau seseorang adalah orang Kristen yang sempurna, saya mengira dia seharusnya sama sekali tidak sedih. Kalau dia sedih, saya meragukan apakah dia orang yang sempurna. Perkara-perkara semacam ini, tidak perlu saya bicarakan terlalu banyak kepada kalian. Saya percaya, banyak saudara saudari muda, dalam benaknya mempunyai pikiran mengenai orang Kristen yang ideal. Saya sedikit pun tidak menyalahkan saudara saudari, karena saya sendiri juga pernah berpikir demikian.
PAULUS ADALAH SEORANG MANUSIA
Pada suatu hari, saya membaca Surat 2 Korintus, saya membaca bahwa Paulus berkata, hatinya berduka. Saya berkata, mengapa Paulus juga bisa berduka? Saya membaca dia berkata, ia sering mencucurkan banyak air mata. Saya berkata, mengapa Paulus juga bisa menangis? Saya membaca Paulus berkata, hatinya sangat cemas, pedih. Saya berkata, mengapa Paulus juga bisa merasa cemas dan pedih? Apakah Paulus juga memiliki kepedihan? Saya membaca Paulus berkata, beban yang ditanggungnya begitu besar dan begitu berat, sehingga dia telah putus asa juga akan hidupnya. Saya berkata, apakah Paulus juga bisa putus asa? Saya baca lebih lanjut, saya nampak di dalam Surat Kiriman ini ada banyak hal yang belum pernah saya duga. Saya tidak pernah menduga bahwa orang seperti Paulus juga memiliki keadaan yang demikian. Saya mulai nampak, ternyata orang Kristen bukan malaikat jenis yang lain. Allah tidak menempatkan malaikat jenis yang lain ini di bumi, lalu menyebutnya orang Kristen. Saya mulai melihat satu hal, yaitu Paulus sangat dekat dengan kita, dia tidak pernah berjauhan dengan kita. Paulus adalah Paulus yang saya kenal, bukan Paulus yang tidak saya kenal. Saya mengenal dia, saya melihat Paulus adalah seorang manusia.
HARTA TERNYATA DARI DALAM BEJANA TANAH LIAT
Banyak orang dalam pikirannya memiliki satu orang Kristen yang ideal. Ingatlah, itu adalah buatan diri Anda sendiri, bukan ciptaan Allah. Tidak pernah ada orang Kristen semacam itu, bahkan Allah juga tidak menghendaki orang semacam itu. Di sini kita berjumpa dengan satu bejana tanah liat. Tetapi keistimewaan bejana tanah liat ini ialah ada harta yang diletakkan di dalamnya. Bejana tanah liat menutupi harta ini, harta ini ternyata dari bejana tanah liat. Inilah yang disebut kekristenan, inilah yang disebut orang Kristen. Anda melihat di sini ada seorang yang bisa merasa takut, tetapi juga sangat kuat. Hatinya merasa duka, tetapi dia mempunyai pengharapan. Dalam segala hal ia ditindas, namun tidak hancur terjepit; meskipun dia teraniaya, namun tidak ditinggalkan sendirian; kelihatannya dia terhempas, namun tidak binasa (2 Kor. 4:7-9). Anda melihat dia lemah, tetapi dia berkata, jika saya lemah, maka saya kuat (2 Kor. 12:10b). Anda melihat dirinya senantiasa membawa kematian Yesus, tetapi dia berkata, kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuhnya (2 Kor. 4:10). Anda melihat dia diumpat juga dipuji; dianggap sebagai penipu, ternyata orang benar; sebagai orang yang tidak dikenal, namun terkenal; sebagai orang yang nyaris mati, namun dia hidup; sebagai orang yang dihajar, namun tidak mati; sebagai orang yang berdukacita, namun senantiasa bersukacita; sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang; sebagai orang yang tak bermilik, namun memiliki segala sesuatu (2 Kor. 6:8-10). Inilah yang disebut orang Kristen, juga yang disebut kekristenan.
Apa yang disebut orang Kristen? Yaitu di atas dirinya ada satu kontradiksi yang harmonis, inilah yang disebut orang Kristen. Apa yang disebut kekristenan? Yaitu ada satu hayat, di dalam hayat ini mencakup satu kontradiksi rohani yang menakjubkan. Kontradiksi ini adalah pemberiaan Allah kepada kita. Ada sekelompok orang, mengira tidak ada bejana tanah liat, yang ada cuma harta saja. Ada sekelompok orang yang lain, mengira kalau memiliki bejana tanah liat, mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Pikiran manusia berada dalam dua ekstrem ini. Kalau mau semuanya adalah harta, kebaikan yang sangat ideal. Kalau dalam kenyataannya masih ada unsur bejana tanah liat, maka sedikit pun tidak bisa berbuat apa-apa. Tetapi yang kita lihat di hadapan Allah adalah harta diletakkan di dalam bejana tanah liat, bejana tanah liat ini tidak dilenyapkan; juga tidak mengatakan bejana tanah liat ini sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa, tetapi mengatakan harta ini kita miliki dalam bejana tanah liat.
KEKUATAN ALLAH TERNYATA ATAS KELEMAHAN MANUSIA
Di sini rasul berkata bahwa di dalam dagingnya ada suatu duri (2 Kor. 12:7). Saya tidak tahu suatu duri itu apa, namun saya tahu suatu duri itu membuat Paulus lemah. Tentang hal ini dia sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, mohon Tuhan menyingkirkan duri itu. Tetapi Tuhan berkata kepadanya, “Cukuplah anugerah-Ku bagimu” (2 Kor. 12:8-9). Maksud Tuhan: Meskipun di atas tubuhmu ada suatu duri yang membuat kamu menjadi lemah, tetapi justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku ternyata dengan sempurna. Bagaimana kuasa Tuhan ternyata dengan sempurna di atas diri orang yang lemah? Dia berkata, karena kuasa-Ku turun menaungimu, atau, kuasa-Ku menutupi kelemahanmu, menaungi kelemahanmu. Inilah yang disebut kekristenan. Kekristenan bukan menghapus kelemahan, kekristenan bukan hanya menghendaki kuasa Tuhan; kekristenan adalah kekuatan Tuhan ternyata di atas kelemahan manusia. Kekristenan tidak membuat satu jenis malaikat yang baru atau malaikat yang ajaib di atas bumi; kekristenan adalah dalam kelemahan manusia bisa menyatakan kuasa Allah.
Saya mengambil satu contoh: Pada suatu kali saya sakit keras, selama dua bulan saya dirontgen tiga kali, hasil tiga kali rontgen semuanya jelek. Saya berdoa, saya juga percaya, saya pun mengharapkan Allah menyembuhkan penyakit saya. Ada beberapa kali kekuatan saya lebih baik daripada biasanya. Tetapi di hadapan Allah saya mengakui, saya merasa sebal. Penyebab kesebalan saya adalah, meskipun hari ini badan saya baik, kekuatan saya juga lumayan, tetapi apa gunanya Allah memperlakukan saya seperti ini? Akar penyakit ini masih ada di sini, bahkan sewaktu-waktu ada kemungkinan bisa kambuh. Apa gunanya Allah memberi saya kekuatan sementara? Hati saya sudah jemu dengan penyakit saya. Pada suatu hari saya membaca Alkitab, membaca sampai 2 Korintus, bahkan membaca sampai pasal 12, tercatat Paulus pernah tiga kali memohon kepada Tuhan bagi sesuatu duri yang ada di dalam dagingnya. Tuhan tidak mau mengabulkan permohonannya, tetapi Tuhan berkata, “Cukuplah anugerah-Ku bagimu.” Untuk keberadaan duri, Tuhan menambahkan anugerah; untuk keberadaan kelemahan, Tuhan menambah kekuatan. Saya nampak inilah kekristenan.
Ketika saya berbaring di tempat tidur, saya memohon kepada Allah supaya saya bisa melihat lebih jelas lagi akan maksud-Nya. Di dalam saya timbul satu perasaan, ada sebuah kapal melintasi sebuah sungai; misalnya sarat air kapal itu sepuluh kaki, maka perlu ada air yang sedalam sepuluh kaki baru kapal itu bisa melewatinya. Di dasar sungai ada sebuah batu yang setinggi lima kaki. Lalu saya berkata kepada Allah, kalau Engkau kehendaki, mohon Engkau memindahkan batu itu, supaya kapal yang sarat airnya sepuluh kaki ini bisa lewat. Tetapi di dalam saya timbul satu pertanyaan: Lebih baik memindahkan batu itu, atau mohon Allah menambah tinggi air sungai lima kaki lagi? Allah bertanya kepada saya, lebih baik menyingkirkan batu atau meninggikan air sungai lima kaki lagi? Saya berkata, lebih baik air sungai ditinggikan lima kaki lagi.
Sejak hari itu, saya mengakui, banyak perkara bisa lewat. Saya tidak berani berkata bahwa saya tidak pernah menerima pencobaan lagi, tetapi syukur kepada Allah, dalam hal itu saya menemukan Allah bisa menambahkan sesuatu yang saya perlukan. Inilah kekristenan. Saya ulangi lagi, kekristenan bukan memindahkan batu, kekristenan adalah menambah tinggi air sungai lima kaki lagi. Inilah kekristenan. Apakah ada kesulitan? Ada. Kita semua mempunyai kesulitan kita masing-masing. Apakah ada ujian? Ada. Kita semua memiliki ujian kita masing-masing. Apakah ada kelemahan? Ada. Kita semua memiliki kelemahan kita masing-masing. Tetapi ingatlah, pekerjaan yang Allah lakukan di atas diri kita bukan secara negatif menyingkirkan kelemahan kita, juga bukan tanpa alasan di aspek positif menambahkan kekuatan kepada kita. Ingatlah, semua kekuatan Allah ternyata di dalam kelemahan, semua harta atau mustika kita diletakkan di dalam bejana tanah liat.
KONTRADIKSI KEHIDUPAN ROHANI
Sebab itu hari ini saya berkata, yang ada di sini, tidak ada seorang Kristen pun yang bejana tanah liatnya begitu jelek, sehingga harta Tuhan tidak bisa ternyata dari dirinya. Tidak peduli seberapa lemah diri Anda, ingatlah, harta Tuhan akan ternyata dari diri Anda. Jadi, di atas diri Paulus ada satu kontradiksi kehidupan rohani, di atas diri kita juga ada satu kontradiksi kehidupan rohani. Apa yang dikatakan orang lain tentang Paulus? Orang lain berkata, perkataan-perkataannya tidak berarti (2 Kor. 10:10b), dia dengan licik telah menjerat orang lain dengan tipu daya (2 Kor. 12:16), ia bertindak seenaknya saja dalam merencanakan hal, sehingga padanya serentak terdapat “ya” dan “tidak” (2 Kor. 1:17), surat-suratnya tegas dan keras (2 Kor. 10:10a). Tetapi di sini terjadilah kontradiksi, harta Allah yang diletakkan dalam bejana tanah liat ini sangat indah sekali. Kalau harta Allah tidak diletakkan di dalam bejana tanah liat, belum kelihatan keindahannya. Saya berkata demikian, di sini ada seorang manusia, dia benar-benar sebagai seorang manusia, tetapi kita bersyukur kepada Allah, Tuhan ternyata dari dirinya, Tuhan tertampil keluar dari dirinya. Dia bukan seorang yang mati rasa, dia mempunyai perasaan, tetapi dalam keadaan berdukacita dia bisa berkata, aku senantiasa bersukacita. Dia tidak terus berdukacita, juga tidak terus bersukacita, tetapi dalam kedukacitaan dia terus bersukacita.
Ketahuilah, inilah kekristenan. Keistimewaan kekristenan terletak di sini. Air mata terus mengalir, tetapi wajah penuh senyum. Banyak orang Kristen kelihatannya melakukan lebih baik daripada Paulus, tetapi mereka tidak hidup seperti orang Kristen. Mereka hanya bisa memuji Tuhan; mereka tidak mirip orang Kristen. Banyak orang Kristen mengira dirinya bisa mencapai satu tahap, tidak lagi berdukacita, tidak cemas. Di lain pihak, ada orang yang terus berdukacita, cemas, ini membuktikan harta belum ternyata di atas dirinya. Tetapi di sini ada seorang, Tuhan Yesus bisa lewat dari dirinya. Saya pernah melihat anak-anak Allah yang sangat baik, ketika Anda melihatnya, Anda segera tahu siapa dia, Anda segera tahu dia orang macam apa; tetapi bersamaan dengan itu, Anda juga tahu dia di dalam Tuhan adalah orang macam apa. Hari ini kita mengharapkan ketika kita melihat seseorang, sama sekali tidak melihat bejana tanah liatnya. Adakalanya mata kita terus melihat bejana tanah liat orang lain. Tetapi orang yang mengenal Allah, ketika melihat banyak anak Allah yang baik, bisa melihat harta yang ada di dalam bejana-bejana tanah liat itu.
Saya pernah berjumpa dengan seorang saudari dalam Tuhan. Begitu saya bertemu dengannya, saya segera tahu bahwa temperamennya tinggi, bekerjanya cepat, bicaranya cepat, menegur orang juga cepat, menulis surat pun cepat. Tetapi kita bersyukur kepada Allah, dalam keranjang kertasnya mungkin ada seratus lembar surat yang belum ia kirim. Perlu menulis surat, tetapi surat-surat itu berada dalam keranjang kertas; itu membuktikan dia memiliki keduanya, karena harta ada di dalam bejana tanah liat. Begitu Anda melihat dia, Anda bisa mengenal dia. Dia asalnya adalah orang yang demikian, tetapi di atas dirinya Anda bisa melihat Tuhan. Anda melihat dia adalah seorang yang menderita, dia adalah seorang yang menerima ujian, tetapi Anda juga nampak orang ini kaya, Anda melihat inilah harta di dalam bejana tanah liat.
Saya mengharapkan kalian di hadapan Allah melihat perkara ini: Hari ini yang Allah minta, yang Allah harapkan, bukan hal-hal yang abstrak. Ada saudara berkata kepada saya bahwa dia tidak tahu mengapa dirinya merasa sangat lemah. Saya berkata kepadanya, lemah sedikit tidak menjadi masalah, karena bisa menjadi kuat. Ada seorang saudara berkata kepada saya bahwa dia tidak bisa melakukan pelayanan dengan baik, bagaimana baiknya? Saya berkata, sedikit pun tidak menjadi masalah, karena semua masalah tergantung pada Allah menaruh harta ini di dalam kita. Sebab itu kita tidak perlu berpura-pura memperbaiki bejana tanah liat ini, menampilkan satu nada suara, menampilkan satu macam model. Kita harus nampak, semua yang berasal dari Allah bisa ternyata dari kita yang sebagai bejana tanah liat ini.
Banyak orang berkata kepada saya bahwa dia berdoa untuk anggota keluarganya, atau dia berdoa bagi penyakitnya, dia berdoa bagi suatu urusan. Lalu saya bertanya kepada mereka, bagaimana kelanjutannya? Mereka masingmasing berkata, aku percaya, aku percaya Allah akan segera menyembuhkan penyakitku, aku percaya Allah pasti menyelamatkan anakku; Allah pasti akan memimpin suamiku beroleh selamat. Semua merasa yakin, sedikit pun tidak merasa ragu. Tetapi, tunggulah sejangka waktu lagi, lihatlah penyakit mereka masih tetap ada, anaknya belum juga bertobat, kesulitan mereka masih tetap ada. Mengapa demikian? Karena iman itu berada di atas diri malaikat, bukan berada di dalam bejana tanah liat. Iman itu abstrak, terlalu baik. Saya bisa berkata, di dunia ini tidak ada iman yang sebesar ini.
Ada saudara berkata kepada saya bahwa sekarang dia belajar percaya kepada Allah. Dia tidak berani berkata sudah benar atau mungkin juga salah; tetapi tidak peduli benar atau salah, dia masih tetap percaya. Kemarin dia sudah berdoa, Allah sudah memberi janji kepadanya. Dia tahu Allah menjawab doanya, tetapi entah mengapa, hari ini setelah bangun pagi, hatinya merasa bimbang lagi, lalu berdoa lagi. Bagaimana sebaiknya? Tadi ketika berjalan menuju ke sini, dalam perjalanan, hatinya kembali bimbang, bagaimana baiknya? Saya berkata kepadanya, meskipun Anda memiliki sedikit kebimbangan itu tidak apa-apa. Iman yang sejati tidak bisa dibunuh oleh kebimbangan. Sesungguhnya, menaruh iman ke dalam kebimbangan akan terlihat lebih indah. Saya tahu apa yang saya katakan. Saya harap kalian jangan salah paham kepada saya, saya tidak bermaksud supaya kalian bimbang. Masalahnya ialah, bejana tanah liat ini bergandengan dengan harta Allah.
Gereja semula berhimpun berdoa untuk Petrus, menyelamatkan dia terlepas dari tangan orang yang ingin berbuat jahat kepadanya. Allah mendengarkan doa mereka. Petrus keluar dari penjara dan pergi ke tempat saudara saudari berdoa, ketika ia mengetuk pintu, mereka mengira yang datang mungkin adalah malaikatnya Petrus (Kis. 12:12-15). Nampakkah kalian? Inilah iman, iman yang sejati, Allah dapat mendengarkan iman dari doa, tetapi kelemahan manusia masih terletak di dalamnya, Anda tidak melihat kelemahan manusia disembunyikan. Hari ini ada orang yang imannya lebih besar daripada keluarga Maria, Markus; mereka sangat yakin, percaya Allah pasti mengutus malaikat, percaya Allah pasti membuka semua pintu penjara; atau begitu mendengar sedikit suara angin bertiup sudah menganggapnya sebagai ketukan pintu Petrus, begitu mendengar suara rintik-rintik hujan sudah menganggapnya sebagai ketukan pintu Petrus. Orang semacam ini terlalu mempercayai, tetapi perkaranya tidaklah demikian. Saya berterus terang, orang Kristen semacam ini hanya bisa menjadi orang untuk dirinya sendiri, hanya bisa menipu sekelompok orang yang bisa ditipu. Orang yang mengenal Allah akan berkata kepada Anda, kekristenan bukan tidak memiliki bejana tanah liat, kekristenan adalah harta ternyata di dalam bejana tanah liat. Saya berkata, keragu-raguan manusia benar-benar patut dibenci; saya juga mengakui bahwa keragu-raguan itu adalah dosa. Yang keluar dari bejana tanah liat tidak ada satu pun yang dapat diperkenan. Tetapi masalahnya bukan bejana tanah liat, melainkan harta telah diletakkan di dalamnya. Bukan memperbaiki bejana tanah liat, membetulkan bejana tanah liat, melainkan meletakkan harta ke dalam bejana tanah liat.
Ketahuilah, sering kali ketika kita berdoa, kita merasa sangat mantap, merasa Allah mendengarkan doa kita. Tetapi pada saat iman kita paling kuat, saat itu kita justru merasakan kebimbangan. Saat kita paling jelas mendengarkan suara Allah, saat itu juga paling jelas mendengar suara Iblis; tetapi dalam keadaan ini, Anda berkata, “Puji Allah. Syukur kepada Allah. Inilah iman yang Allah berikan kepadaku.” Anda nampak iman ini tidak bisa berubah, Anda nampak iman ini masih berada di sana. Anda di hadapan Allah nampak bahwa harta yang di dalam bejana tanah liat dapat sering diekspresikan, dapat menyatakan kemuliaan-Nya.
Banyak kehidupan orang Kristen, banyak perbuatan orang Kristen, adalah buatan manusia, bukan pernyataan dari harta; semuanya direkayasa oleh manusia, semuanya dibuat-buat manusia, semuanya adalah perbuatan manusia saja. Satu kehidupan orang Kristen yang normal adalah ketika Anda di hadapan Allah benar-benar memiliki kemantapan, Anda malah merasakan mungkin Anda berbuat kesalahan di hadapan Allah. Ketika Anda benar-benar kuat di hadapan Allah, bersamaan dengan itu di dalam Anda malah merasakan Anda tidak mampu. Ketika Anda benarbenar berani di hadapan Allah, di dalam Anda malah merasakan ketakutan. Ketika Anda benar-benar gembira, bersamaan dengan itu Anda malah merasakan dalam perkara ini ada yang kurang beres. Ini adalah satu kontradiksi, tetapi kontradiksi ini membuktikan di dalam bejana tanah liat ada harta.
KELEMAHAN MANUSIA TIDAK BISA MEMBATASI KEKUATAN ALLAH
Terakhir, saya akan berkata demikian, ada satu perkara yang karenanya kita harus berterima kasih kepada Allah, yaitu kelemahan manusia yang mana pun tidak bisa membatasi kekuatan Allah. Apa yang kita pikirkan? Yang kita pikirkan adalah: Kalau ada dukacita, seharusnya tidak ada sukacita; kalau ada air mata, seharusnya tidak bisa memuji; kalau ada kelemahan, seharusnya tidak ada kekuatan; kalau dalam segala hal ditindas, seharusnya hancur terjepit; kalau bimbang, seharusnya tidak bisa percaya. Tetapi di sini izinkan saya dengan suara lantang berkata, hal-hal itu tidak ada! Ingatlah, Allah menghendaki kita mencapai satu tingkatan, Allah akan memperlihatkan kepada kita bahwa apa saja yang dimiliki oleh manusia hanyalah bejana tanah liat yang dipakai untuk menyimpan harta Allah. Semua yang dimiliki oleh manusia, tak lain adalah bejana tanah liat yang dipakai untuk mewadahi harta Allah. Semua yang dimiliki manusia, tidak ada satu pun yang bisa memendam harta Allah. Sebab itu, setiap kali mengalami putus asa, janganlah kecewa. Meskipun kita tidak bisa berbuat sesuatu, tetapi bisa membiarkan perkara yang positif masuk. Begitu perkara yang positif itu masuk, akan ternyata lebih terang, lebih baik, lebih mulia. Sering kali ketika kita berdoa, tiba-tiba kita merasa bimbang, lalu kita merasa habislah sudah; namun begitu iman masuk, meskipun kebimbangan itu masih di sana, tetapi iman itu bisa membuat harta itu ternyata lebih besar, bisa membuat harta itu terwujud lebih mulia. Di sini saya tidak mengatakan sesuatu yang ideal, saya tahu apa yang saya katakan. Dalam semua bejana tanah liat yang bagaimanapun, mustika Allah tetap bisa ternyatakan. Ini adalah satu kontradiksi rohani, ini adalah kemustikaan orang Kristen. Dalam kontradiksi rohani inilah kita baru bisa hidup. Dalam kontradiksi rohani inilah kita baru bisa mulai mengenal Allah.
Sebab itu, ketika kita di hadapan Allah sehari demi sehari semakin jauh menempuh jalan ini, kita akan semakin menemukan bahwa kontradiksi di dalam kita sangatlah besar. Kita akan nampak keretakan yang di dalam, celah yang di dalam, semakin lama semakin besar; semakin besar kontradiksi yang ada di dalam, harta itu akan semakin hebat dinyatakan. Namun kita juga akan nampak bahwa bejana tanah liat tetap adalah bejana tanah liat. Ini sangatlah baik! Kalau Anda melihat Allah memberikan kesabaran kepada seseorang, ini lebih baik daripada Anda melihat seseorang yang asalnya pendiam, tidak banyak bicara. Lebih baik melihat Allah meletakkan kerendahan hati pada diri seseorang, daripada melihat seorang yang asalnya penakut. Lebih baik melihat seseorang yang kepadanya Allah meletakkan kelemahlembutan, daripada melihat seorang yang berdasarkan alamiahnya adalah lemah tak dapat berbuat apaapa. Lebih baik melihat Allah meletakkan kekuatan Allah ke dalam seseorang, daripada melihat seorang yang secara alamiah kuat. Ketahuilah, perbedaan ini sangat besar! Bejana tanah liat, tidak peduli bejana tanah liat macam apa, bisa diisi oleh harta; namun bejana tanah liat ini tetap adalah bejana tanah liat, tetap penuh dengan tanah liat. Semua orang yang lemah merasakan bahwa di dalam dirinya yang sebagai bejana tanah liat ini penuh dengan tanah liat, dia adalah orang tanah liat yang sangat jelek, orang yang tidak ada harapan. Ingatlah, janganlah putus asa, jangan merasa cemas. Kerohanian, kekuatan, kehebatan, semuanya berasal dari Tuhan, atas diri kita Tuhan juga akan menyatakan kekuatan itu, sehingga bejana tanah liat ini akan berpancar lebih terang, bercahaya lebih besar. Kalau demikian, Anda akan melihat betapa pentingnya harta ini.
Sebab itu saudara saudari, semua permasalahan berada di sisi sana. Semua permasalahan berada di sisi positif. Orang yang memperhatikan hal-hal yang negatif adalah orang yang bodoh. Tuhan bisa menyatakan diri-Nya dari diri setiap orang. Ketika harta ternyata dari atas diri Anda, banyak orang akan mengetahuinya.