MENGGUNAKAN KESEMPATAN
Kolose 4:5:— “Pergunakanlah waktu yang ada.”
Efesus 5:16: — “Dan pergunakanlah waktu yang ada.”
Dalam pembahasan ini saya bermaksud membicarakan satu hal. Istilah “waktu” yang baru kita baca dalam dua ayat Alkitab di atas, dalam bahasa Yunaninya, bahasa asli Alkitab, ada banyak kata. Dalam dua ayat ini, kata yang dipakai bukan “chronos”, melainkan “kairos”. Kata ini tidak hanya mengacu kepada “waktu” saja. Dalam bahasa Yunani, di beberapa kalimat, ketika kata ini bergandengan dengan kata yang lain, dapat diterjemahkan sebagai “kesempatan”. Misalnya Galatia 6:10 mengatakan, “Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang.” Artinya, kita harus menggunakan kesempatan untuk melakukan kebaikan. Kata-kata ini tercantum dalam Alkitab, memperlihatkan kepada kita pemikiran Tuhan terhadap kesempatan. Tuhan sangat mementingkan kesempatan. Kata “waktu” yang dibicarakan dalam Efesus dan Kolose yang disebut di atas, boleh diterjemahkan sebagai “kesempatan”. Saya tidak tahu berapa banyak pemahaman Anda terhadap kata “kesempatan”. Saya terus berpikir, entah berapa banyak kesempatan yang telah kita lewatkan. Di aspek negatif, kita telah melewatkan entah berapa kesempatan untuk melakukan banyak perkara. Ada perkara yang dapat kita lakukan, tetapi tidak kita lakukan. Ada orang yang bisa kita selamatkan, tetapi tidak kita selamatkan. Ada tempat yang bisa mulai ada sidang gereja, tetapi kita tidak memulainya. Ada saudara yang bisa kita dapatkan, tetapi tidak kita dapatkan. Kita telah kehilangan banyak kesempatan! Kelak di hadapan Tuhan, kita akan sangat menyesal! Semuanya buram, kabur, tidak jelas, entah sudah berapa banyak kesempatan yang kita lewatkan!
Dalam waktu yang Tuhan tentukan untuk Anda, mungkin kemarin adalah waktu yang terbesar dalam kehidupan Anda, tetapi kemarin Anda lewatkan dengan biasa saja. Ini berarti kehilangan kesempatan. Sebab itu, seorang yang belajar melayani Allah, tidak seharusnya menganggap sebagaimana halnya kemarin, maka hari ini juga begitu. Kalau kemarin bagaimana, lalu hari ini juga begitu, Anda adalah orang yang kehilangan kesempatan. Kalau kita tidak tahu hari ini Tuhan akan melakukan apa, tidak tahu maksud hati Allah, tidak tahu hari ini akan terjadi apa, ini berarti kehilangan kesempatan.
Misalnya, di Shanghai, pada awalnya saudara-saudara tidak memperhatikan keperluan tempat bersidang, akibatnya entah berapa banyak jiwa yang hilang. Saya berkata kepada saudara-saudara yang menghemat uang, memang uang sudah dihemat, tetapi jiwa juga sudah hilang! Semestinya bisa menyelamatkan lebih banyak jiwa, tetapi karena tempatnya tidak cukup, akhirnya jiwa-jiwa itu hilang. Kehilangan satu jiwa berarti kehilangan satu kesempatan. Karena kita menghemat uang, banyak jiwa tidak dapat diselamatkan. Sekarang kita mengira bahwa kita sudah mengeluarkan segenap tenaga kita dalam hal perpindahan dari Jalan Hardoon ke Jalan Nanyang. Kita tidak pernah mengira, kalau di depan Tuhan kita tidak melewatkan kesempatan, ada sidang-sidang yang tidak perlu muncul. Karena kita melalaikan kesempatan, maka muncullah sidangsidang tertentu. Ketika kita bekerja di satu tempat, kita mudah sekali melakukan pelayanan secara rutin. Setiap hari Minggu berkhotbah, setiap minggu mengadakan satu kali sidang pembinaan. Kalau setiap minggu mendapatkan sepuluh atau dua puluh orang, kita sudah merasa puas. Siapa tahu Tuhan menghendaki kita dalam satu hari mendapatkan seribu orang, jadi kita telah kehilangan lebih dari sembilan ratus orang. Kita telah melewatkan banyak kesempatan, kita telah kehilangan banyak kesempatan.
Saya lihat, mungkin orang yang ingin Tuhan dapatkan di Yangshupu (nama daerah, red.) lebih banyak daripada orang yang didapatkan di Jalan Nanyang. Apakah kita bisa menggunakan kesempatan ini? Mungkin orang yang ingin Tuhan dapatkan di Jalan Szechuan Utara lebih banyak daripada orang yang didapatkan di Jalan Nanyang. Apakah kita bisa menggunakan kesempatan ini? Mungkin orang yang ingin Tuhan dapatkan di Nanshi lebih banyak daripada orang yang didapatkan di Jalan Nanyang. Apakah kita bisa menggunakan kesempatan ini? Sebab itu, setiap orang yang bekerja, setiap orang yang melayani Allah, sama sekali tidak boleh merasa puas dengan hasil yang dicapai sekarang. Setiap orang yang puas dengan hasil yang dicapai sekarang, adalah orang yang kehilangan kesempatan. Kita tidak tahu Allah akan melakukan perkara besar apa. Lihatlah di China, penduduknya lebih dari 470 juta orang, tetapi hanya ada ratusan ribu orang Kristen saja, berarti kita telah kehilangan banyak kesempatan! Saya percaya bahwa kesempatan yang Allah berikan kepada kita jauh lebih banyak daripada yang bisa kita bayangkan. Kalau kita bisa menggunakan dan bisa terus menggunakan kesempatan yang Allah berikan kepada kita, perkembangan pekerjaan Allah akan seperti yang Allah inginkan. Kalau perkembangan pekerjaan Allah tidak bisa seperti yang Allah inginkan, itu dikarenakan kita telah membatasinya. Semoga pembatasan ini hanya sampai hari ini saja, pembatasan ini hanya sampai di sini saja.
Boleh jadi pada suatu hari, ketika kita berada di hadapan Tuhan, kita mengundang datang semua saudara yang muda. Lalu kita membuka kalender tahun 1930, 1939, atau 1949. Saat itu kalau kita mengetahui seperti apa yang diketahui oleh Tuhan, kita akan nampak, pada tanggal 1 Januari 1930, Tuhan memberikan satu kesempatan kepada saya, menghendaki saya pada hari itu pergi ke Jalan Szechuan Utara untuk menyelamatkan 20 jiwa, tetapi hari itu saya tidak pergi ke Jalan Szechuan Utara, malah pergi ke Jalan Nanyang, sehingga hari itu saya kehilangan kesempatan; saya kehilangan 20 jiwa. Saya melihat tanggal 2 Januari, pada hari itu Tuhan menghendaki saya pergi ke Pudong memimpin sidang pemberitaan Injil, mungkin dalam enam bulan akan mendapatkan 500 orang. Tetapi pada hari itu saya tidak pergi ke sana. Saya kehilangan satu kesempatan lagi, kehilangan 500 jiwa. Tanggal 3 Januari, Tuhan menghendaki saya pergi mencari seseorang. Mungkin lewat lima tahun lagi orang ini akan dipakai oleh Tuhan secara besar-besaran, Tuhan akan memakai dia menyelamatkan ribuan orang. Tetapi hari itu, karena takut cuaca yang terlalu panas, saya merasa malas, lalu saya tidak pergi. Saya kehilangan kesempatan lagi, kehilangan seorang yang akan dipakai oleh Tuhan secara besar-besaran. Kita melihat kalender satu hari demi satu hari, dalam sepanjang hidup kita, entah berapa banyak kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita, namun semuanya telah kita lewatkan.
Mengapa Alkitab juga menerjemahkan “waktu” menjadi “kesempatan”? Karena kesempatan berada di dalam waktu. Setiap hari selalu ada kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita. Sebab itu hari ini kita hanya menundukkan kepala dan berkata kepada Tuhan, “Tuhan, aku tidak tahu hari ini Engkau mengatur kesempatan apa untukku.” Tidak ada satu hari pun Tuhan tidak mengatur kesempatan untuk kita. Setiap hari pasti ada yang Tuhan tetapkan untuk kita. Kalau seseorang setiap hari tidak kehilangan kesempatan yang Tuhan berikan kepadanya, orang ini adalah orang yang bisa dipakai oleh Allah. Tuhan menentukan kita besok menyewa satu rumah, kita menyewanya. Tuhan menetapkan aku membawa beberapa orang datang ke sini, orang-orang itu aku bawa ke sini. Ingatlah kalau satu perkara sudah selesai, perkara yang kedua akan menyusul. Setelah perkara kedua selesai, perkara ketiga akan datang, bahkan perkara keempat juga akan datang. Perkara-perkara ini terus berkesinambungan datang, sehingga tidak tahu akan terjadi perkara besar yang bagaimana. Sama seperti melempar batu ke dalam kolam, gelombang air dalam kolam akan satu lingkaran demi satu lingkaran terus maju sampai mencapai tepi kolam. Kalau Anda berbuat demikian, berarti tidak kehilangan kesempatan, dan akan ada hasil yang sangat besar. Begitu ada satu kesempatan terlewatkan, mungkin ada satu gelombang terhenti karena terhalang oleh diri Anda.
Ada seorang tukang sepatu yang tidak terpelajar, siapa yang mengira dia bisa menjadi D.L. Moody? Kalau hari itu ada orang kehilangan kesempatan untuk mendapatkan dia, dunia ini akan kekurangan seorang Moody. Siapa yang mengira Filipus hari itu pergi ke padang gurun untuk bertemu dengan sida-sida, menjadi permulaan munculnya gereja di seluruh Afrika. Gereja di Afrika terbangun lebih dulu daripada gereja di Eropa!
Kita tidak tahu sebenarnya ada berapa banyak kesempatan yang tidak kita temukan. Bangun pagi, seluruh dunia terang? (Terang matahari). Dalam dunia, semuanya gelap? (Hari depan). Kita tidak mengetahui hari depan kita akan menemui perkara apa. Karena itu saya mohon kepada saudara saudari, harus setiap hari melihat kesempatan apa yang Allah berikan kepada kita. Semoga hari ini kita sudah bisa melihat kesempatan yang kelak akan kita lihat ketika menoleh ke belakang. Hari ini adalah tanggal 19 Juli 1950, hari ini Tuhan mengatur bagi saya beberapa kesempatan, hari ini juga saya sudah dapat melihatnya. Kalau hari ini kita bisa melihat perkara yang diatur oleh Tuhan, berarti kita sudah menebus waktu. Kalau Anda dan saya tidak kehilangan kesempatan, Tuhan akan mendapatkan banyak, pekerjaan Tuhan juga akan berkembang sangat pesat.
Supaya tidak kehilangan kesempatan, kita perlu melatih kerohanian kita, kita perlu memiliki perasaan rohani. Begitu ada perasaan rohani, begitu ada kesempatan, kita bisa segera merasakannya. Kalau kita melatih kerohanian kita, begitu ada kesempatan, kita bisa melihatnya. Kita jangan melewatkan kesempatan. Jangan sampai Kepala ada pengaturan, tetapi mata rohani kita buta. Jangan sampai Kepala ada perasaan, tetapi perasaan kita tumpul. Kita harus bergumul dengan sekuat-kuatnya. Begitu ada kesempatan, segera merebutnya. Kalau tidak ada pelatihan semacam ini, tidak akan ada perasaan semacam ini, dan kesempatan yang Tuhan tentukan akan terlewatkan oleh kita. Sehari lewat sehari, kita akan menjadi orang yang kehilangan kesempatan.
Pada suatu hari, ketika kita berada di depan Tuhan, apa saja yang kita anggap memuaskan dalam sepanjang hidup kita, mungkin hari itu menjadi penyesalan kita. Kita tidak bisa mencapai apa yang Allah tetapkan. Kita adalah orang yang tidak setia, kita adalah orang yang bodoh. Tuhan mengatur sepuluh kesempatan, mungkin satu pun tidak kita pegang. Dalam keadaan yang demikian, berdiri di hadapan takhta pengadilan Tuhan, kita benar-benar adalah orang yang sangat celaka! Kita tidak tahu berapa banyak kesempatan yang telah kita lewatkan. Kita sering hanya melakukan pekerjaan secara rutin saja, sehingga melewatkan semua kesempatan yang Allah berikan kepada kita. Kita sungguh adalah orang yang celaka!
Ketika gereja menyembunyikan atau memendam satu talenta di dalam tanah, mengira satu talenta itu adalah karunia yang tidak berguna, mengira satu talenta tidak cukup dipakai untuk melayani Tuhan, tidak memberi kesempatan kepada orang yang memiliki satu talenta untuk melayani Tuhan, ini adalah satu kesalahan yang besar, ini adalah kerugian yang amat besar. Harus mengeluarkan modal, barulah ada kesempatan mendapatkan keuntungan. Kalau memendam satu talenta di dalam tanah, berarti karunia rohaninya tidak diberi kesempatan untuk dipergunakan, bahkan menghentikan fungsi karunia rohani, tentunya tidak bisa mendapatkan kesempatan. Inilah yang disebut menggali tanah untuk memendam emas. Ini adalah perkara yang bodoh, entah telah kehilangan berapa banyak kesempatan yang seharusnya bisa digunakan.
Saya merasa bahwa di tengah-tengah kita Tuhan dapat melakukan pekerjaan yang lebih besar sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan pekerjaan yang lebih besar laksaan kali lipat, saya mengatakan pekerjaan yang lebih besar sepuluh kali lipat. Tetapi hari ini kita tidak mampu melakukannya. Kita kurang menggunakan kesempatan, kita sudah merasa puas! Kita mengira bila tempat sidang di Jalan Nanyang sudah selesai dibangun, seumur hidup terus begitu, berhenti sampai di sini saja. Semua kesempatan telah kita lewatkan, telah kita kubur, sejak kini ini tidak ada kesempatan lagi. Saudara-saudara, kita harus bangun dari tidur. Di depan entah masih ada berapa besar kesempatan. Kesempatan itu mungkin bisa berkembang mencapai tahap perkembangan yang dikehendaki Allah. Kita harus membawa anak-anak Allah menempuh perjalanan yang ditentukan oleh Allah. Sehari lewat sehari kita harus memegang kesempatan untuk menempuh perjalanan yang di depan, untuk melakukan pekerjaan Allah yang di depan.
Saya kira, para pewajib gereja haruslah penuh dengan perasaan memegang kesempatan, penuh dengan perasaan harus memakai kesempatan yang Allah berikan kepada kita. Setiap kali mengambil keputusan, harus tepat. Setiap kali mengambil keputusan, tidak saja memperhatikan keperluan sekarang, tetapi juga memperhatikan apakah selaras dengan kesempatan yang Allah berikan kepada kita. Kalau perasaan kita peka, kita akan mengetahui ada beberapa hal yang membuat kita merasa malu, ada beberapa hal yang membuat kita gembira. Pada suatu kali saya berbuat demikian, saya nampak bahwa saya telah kehilangan banyak kesempatan. Kali itu saya seharusnya pergi mengunjungi Saudara Tang, tetapi saya mengunjungi Saudara Chang. Kali itu saya seharusnya pergi melakukan satu perkerjaan pada pukul 08.00, tetapi saya tunda sampai pukul 09.00 baru pergi melakukannya. Kali itu saya seharusnya berjalan ke Utara, tetapi saya berjalan ke Selatan. Akibatnya, saya kehilangan banyak kesempatan; saya hanya dapat menyesalinya. Ada juga dalam banyak hal saya harus bersyukur kepada Allah. Hari itu saya hampir berbuat kesalahan, tetapi Tuhan melindungi saya sehingga tidak berbuat salah. Hari itu saya seharusnya mengunjungi Saudara Hsie, namun saya hampir saja mengunjungi Saudara Tu. Saya hampir kehilangan kesempatan, tetapi Tuhan menjaga saya sehingga tidak kehilangan kesempatan itu. Pada hari itu seharusnya saya berjalan ke arah Selatan, hampir saja saya berjalan ke arah Utara, tetapi Tuhan menjaga saya tidak berjalan ke arah Utara. Tuhanlah yang memutar saya, hasilnya juga sangat berbeda. Allah yang menjaga saya, menyuruh saya menggunakan kesempatan itu. Semoga sebelum kita sampai pada hari itu, baik-baik belajar menyerahkan diri ke tangan Tuhan, belajar melatih perasaan rohani kita, belajar melatih pandangan rohani kita. Kalau kita kekurangan keduanya ini, begitu berjumpa dengan urusan, kita tidak tahu harus bagaimana menghadapinya. Setiap hari kita harus berbuat dan berlatih demikian. Perkara-perkara yang kita jumpai setiap hari belum tentu adalah kesempatan. Namun kesempatan itu diberikan oleh hari. Kesempatan itu tidak selalu ada. Kita selalu memiliki waktu, namun tidak selalu ada kesempatan. Kesempatan berada dalam waktu. Waktu selalu ada, tetapi kesempatan belum tentu selalu ada, adakalanya ada kesempatan, adakalanya tidak ada kesempatan, sebab itu kita harus menggunakan atau memegang kesempatan. Hari ini, begitu ada kesempatan, harus bisa merasakannya; begitu ada kesempatan, harus segera memegangnya.
Di satu aspek, kita harus memiliki pandangan rohani. Begitu ada kesempatan, kita bisa mengambil keputusan. Begitu ada kesempatan, kita bisa menguasainya. Kita harus bertindak agak cepat. Satu kesempatan demi satu kesempatan, kalau kita tidak membiarkannya lewat begitu saja, perkembangan gereja pasti akan sangat pesat. Perkembangan itu akan melebihi apa yang bisa kita pikirkan.
Hari ini bukan Tuhan tidak memberi kita kesempatan, tetapi kitalah yang melewatkan kesempatan. Saudara-saudara, kita semua harus bangun. Saudara-saudara pewajib gereja harus bangun. Kita jangan melepaskan kesempatan yang Allah berikan kepada kita. Kalian melihat Allah memberkati pekerjaan Saudara Witness Lee. Kelebihan pada dirinya adalah dia tidak melepaskan setiap kesempatan. Jarang sekali satu kesempatan yang tidak ia gunakan, begitu ada kesempatan langsung ia gunakan. Kalau Anda melepaskan kesempatan, pekerjaan Allah akan terbatas oleh Anda.
Kehendak Allah sebagian besar berada dalam kesempatan Allah. Pada suatu hari, ketika Anda berdiri di hadapan Allah, Anda akan melihat kehendak Allah sebagian besar adalah kesempatan yang Allah berikan kepada Anda. Kalau Anda bisa mengenal kesempatan itu, berarti Anda mengenal kehendak Allah. Ini adalah perkara yang sangat serius. Daniel 11:32 mengatakan, “Umat yang mengenal Allahnya akan tetap kuat dan akan bertindak.” Dalam bahasa aslinya, ayat ini berarti umat yang mengenal Allah pasti meluas dan berkembang ke tempat yang baru. Sebab itu semakin mengenal kehendak Allah, semakin bisa menggunakan kesempatan. Orang yang berhenti di sini adalah orang yang melakukan pekerjaan rutin saja. Orang yang mengenal Allah tidak akan melakukan pekerjaan rutin saja.
Saya ingin berkata kepada saudara-saudara yang di Shanghai, kita harus meluas dan berkembang ke tempat yang baru, jangan berhenti di sini. Jangan merasa cukup setelah memiliki sekian banyak saudara. Kalian harus terus maju, jangan berhenti. Setiap kali sepertinya belum merampungkan pekerjaan itu, setiap kali sepertinya belum ada pekerjaan itu. Jangan setelah mengatur semuanya sampai mantap, lalu boleh merasa lega, merasa tidak ada masalah lagi. Urusan gereja sepertinya tidak ada habisnya, setiap kali seperti berada di permulaan saja. Perkara pertama belum selesai, datang perkara kedua; perkara kedua belum selesai, datang perkara ketiga. Kalau seseorang melihat pekerjaannya sudah selesai, ini adalah prinsip Babel. Pada suatu hari Nebukadnezar memegahkan diri dan berkata, “Bukankah ini Babel yang besar itu, yang dengan kekuatan kuasaku dan untuk kemuliaan kebesaranku telah kubangun menjadi kota kerajaan?” (Dan. 4:30). Kalau seseorang melihat dirinya sendiri telah merampungkan pekerjaannya, itu adalah prinsip Babel. Gereja adalah perkara yang berkesinambungan, perkara yang satu belum selesai, datang lagi satu perkara, terus-menerus meluas dan berkembang. Saya tidak bermaksud lain, saya hanya mempunyai satu harapan, yaitu saudara saudari di sini tidak kehilangan kesempatan yang khusus ini. Tidak ada kesempatan yang sebaik dan sebanyak seperti yang sekarang kita hadapi. Asal kita sedikit membuka mata, kesempatan itu segera terlihat. Saya ulangi lagi, kita tidak bisa kehilangan kesempatan. Kalau kita memegang semua kesempatan, ada perkara-perkara yang tidak bisa terjadi; kalau kita memegang semua kesempatan, ada tempat-tempat yang tidak akan menghasilkan sesuatu hal yang lain. Karena saudarasaudara malas, tidak mampu, maka muncul sesuatu hal yang lain. Saudara-saudara seharusnya melakukan perluasan dan perkembangan. Begitu Allah bergerak, kita ikut bergerak. Kita jangan melepaskan kesempatan apa pun.
Saya merasa puas terhadap kesempatan yang Allah berikan kepada saya. Ada kesempatan datang, ada uang datang. Ada kesempatan datang, ada jiwa datang. Ada kesempatan datang, ada pekerjaan Tuhan datang. Begitu pintu sedikit terbuka, harus segera masuk. Tetapi, kesulitan terletak pada kesempatan tidak menunggu kita. Allah membuka jalan, menyuruh kita melakukan sesuatu, kita harus segera melakukannya. Begitu waktunya lewat, kesempatan itu juga akan hilang. Kalau hari ini tidak melakukan, baru besok melakukan, sudah kehilangan kesempatan. Hari ini berbincang-bincang dengan saudara ada gunanya, menunggu besok berbincang-bincang sudah tidak berguna, karena kesempatannya sudah lewat. Kita harus memiliki pandangan rohani, kita harus mempunyai perasaan rohani. Kita harus mohon Allah menjaga setiap kesempatan yang Ia berikan kepada kita.
Belakangan ini, dalam perasaan saya ada satu perubahan yang besar. Tuhan menghendaki kita memiliki perasaan yang peka. Begitu salah, kesempatan yang Allah berikan kepada kita akan hilang. Begitu hilang mungkin akan lewat beberapa puluh tahun, baru bisa melakukannya lagi.
Di sini saya ingin menyinggung beberapa hal yang riil. Saya rasa, ketika pembinaan dasar di setiap tempat dilakukan dengan kuat, kita boleh mencari jalan bersekutu dengan kelompok kekristenan yang mengasihi Tuhan tetapi tidak menentang kita, membawa mereka ke dalam gereja. Dulu kita mementingkan untuk menyelamatkan orang-orang berdosa dari kalangan lain. Sedangkan terhadap orang-orang yang sudah percaya Tuhan, kita membiarkan mereka secara perorangan datang ke tengah-tengah kita. Kita takut ada orang mengatakan bahwa kita mencuri domba, lalu tidak berusaha mendapatkan mereka. Inilah sikap yang kita pegang selama ini. Sampai sekarang pun kita tetap berjalan demikian. Dulu Tuhan menghendaki kita berbuat demikian. Setelah pelatihan periode kedua di Kuling, perasaan saya agak berubah, tetapi bukan perubahan dalam doktrin. Tiga bulan ini, perasaan di dalam saya makin lama makin hebat, merasakan hari ini sudah sampai satu tahap, tidak saja akan mendapatkan satu per satu orang yang mengasihi Tuhan secara perorangan, bahkan akan mendapatkan satu per satu organisasi yang mengasihi Tuhan. Misalnya, ada satu organisasi yang dengan murni mengasihi Tuhan (tidak tercampur aduk dengan denominasi yang ruwet), tetapi mereka belum mengetahui gereja, belum sejalan dengan kita, ketika pembinaan dasar kita dikerjakan dengan kuat (kalau tidak kuat mudah jatuh), saya kira Tuhan menghendaki kita bersekutu dengan organisasi rohani yang demikian. Semua saudara harus bersama-sama keluar untuk mendapatkan mereka. Dulu kita tidak pernah melakukan itu, sekarang kita perlu melakukannya. Kita harus banyak berdoa, semua harus mempertimbangkan baik-baik di hadapan Tuhan, melihat apakah perasaan ini menjadi makin kuat di dalam Anda. Di satu pihak kita memperhatikan memberitakan Injil, di pihak lain kita memperhatikan organisasi yang rohani. Kita bukan mendapatkan mereka secara perorangan, melainkan mendapatkan satu organisasi seutuhnya. Saudara-saudara pewajib di setiap tempat perlu melihat apakah perkara ini adalah yang Allah kehendaki untuk kita lakukan hari ini.
Misalnya, ada organisasi kekristenan yang menamakan dirinya “Keluarga Yesus”, mungkin waktunya sudah tiba, kita seharusnya mendapatkan mereka. Kita bisa belajar sesuatu dari mereka. Dalam hal segala sesuatu adalah kepunyaan bersama, mereka lebih banyak mengenal dan lebih maju daripada kita. Mereka bisa memberi bantuan kepada kita. Terhadap kebenaran gereja, mungkin kita bisa memberi mereka sedikit bantuan. Mungkin ini adalah satu perkara besar yang akan Allah kerjakan di tempat ini. Semoga Allah memimpin kita. Kalau ini adalah kesempatan Allah, semoga kita tidak melewatkannya.
Kalau kita membawa semua organisasi yang mengasihi Tuhan ke atas jalan yang sama, selain “Keluarga Yesus”, masih ada banyak organisasi kecil yang lainnya. Perlu seluruh saudara saudari bangun untuk mendapatkan mereka. Perlu mengubah mereka semua. Hal ini saya bentangkan dengan sederhana di hadapan saudara saudari. Semoga kalian meluangkan lebih banyak waktu dengan tenang merenungkan hal ini, sehingga bisa meraih kesempatan yang Allah berikan kepada kita. Tidak saja demikian, ini adalah kesempatan yang ada di dalam kesempatan, kita jangan kehilangan hal ini, kita harus menjemputnya. Kita perlu menyesal, perlu mengaku dosa, karena kesempatan yang kita lewatkan terlalu banyak! Kita terus melewatkan kesempatan yang Allah berikan kepada kita. Kalau kita tidak kehilangan kesempatan, hari ini tempat sidang kita tidak hanya satu saja, tempat pembinaan kita juga tidak hanya satu saja, ladang kita juga tidak hanya satu saja. Semoga sejak hari ini, kesempatan tidak pernah terlewat dari perasaan kita, kesempatan juga tidak terlewat dari pandangan kita. Kita bisa berjalan lebih jauh lagi di atas jalan yang ada kesempatan.