← Daftar isi Aliran Roh Kudus · bab 1/5

ALIRAN ROH KUDUS

Ada satu aliran (arus), di hadapan Allah kita menyebutnya “aliran Roh Kudus”. Dalam setiap zaman Allah menjaga aliran ini tidak terputus, selalu mengalir, selalu bergerak maju. Hari ini aliran Roh Kudus dalam gereja-gereja terus maju. Beberapa waktu yang lalu saya membaca kumpulan khotbah dari Wesley. Saya berterima kasih kepada Allah karena saya dapat melihat bahwa hari ini aliran Roh Kudus telah bergerak maju. Jika kita menengok kembali Wesley, di satu aspek, kita harus mengakui bahwa pekerjaan mereka di hadapan Allah sangatlah hebat dan mungkin kita pun tidak dapat mencapai kehidupan yang mereka tempuh; di aspek lain, hari ini aliran Roh Kudus masih tetap bergerak maju.

Di sini ada satu prinsip dasar: Jika kita melakukan apa yang Allah ingin lakukan pada masa kita ini, kita akan mendapatkan aliran Roh Kudus. Jika kita selalu memegang pengalaman kita yang lampau dan meminta Allah melakukan apa yang kita harapkan dan apa yang kita anggap penting, kita tidak akan mendapatkan aliran Roh Kudus. Adalah benar menjadi Martin Luther pada abad ke-16, tetapi tidak cukup hanya menjadi Martin Luther pada tahun 1950. Adalah benar menjadi Madame Guyon pada Abad Pertengahan, tetapi tidak cukup hanya menjadi Madame Guyon pada tahun 1950. Adalah benar menjadi Wesley pada abad ke-18, tetapi tidak cukup hanya menjadi Wesley pada tahun 1950. Adalah benar menjadi Darby pada tahun 1828, tetapi tidak cukup hanya menjadi Darby pada tahun 1950. Allah terus maju, dan setiap perabot menunaikan tugasnya masing-masing bagi gereja. Aliran Roh Kudus dalam gereja selalu bergerak maju.

Di sini, banyak orang memiliki kelemahan yang mendasar; yaitu tidak mengenal aliran Roh Kudus dalam gereja. Dalam gereja ada banyak tokoh rohani, ada banyak perkara rohani; hari ini kita mewarisi kekayaan mereka. Orang-orang kudus seperti Martin Luther, Madame Guyon, John Nelson Darby, Evan Roberts, dan Nyonya Penn-Lewis, semuanya telah meninggalkan warisan kekayaan rohani kepada kita. Kita sangat berterima kasih kepada mereka dan sangat memuji Tuhan karena mereka. Tetapi, hari ini, sekalipun kita berhasil menjadi Martin Luther, Madame Guyon, Darby, Roberts, atau Nyonya Penn-Lewis, kita masih gagal, karena kita tidak melihat titik intinya — aliran Roh Kudus.

Setiap zaman bergantung pada satu aliran. Kita harus mengakui bahwa seluruh Alkitab, dari Kejadian sampai Wahyu, terus maju. Dari satu zaman ke satu zaman, Allah diwahyukan setahap demi setahap, dan diwahyukan lebih maju.

Seorang saudara di Hong Kong bertanya kepada saya makna dari Kitab Ibrani. Saya bertanya kepadanya, “Apakah perbedaan antara Kitab Kisah Para Rasul dengan Kitab Ibrani?” Kitab Kisah Para Rasul adalah kitab yang terus maju. Ketika kita sampai pada pasal 8, kita tidak dapat kembali ke pasal 2. Tuhan sudah berjalan sampai ke Samaria. Jika kita kembali ke Yerusalem, bagaimana kita dapat sampai ke ujung bumi? Di mana Tuhan berada, di situ ada jalan. Roh Kudus ingin pergi ke Roma, dan Roh Kudus ingin pergi sampai ke ujung bumi. Pergi ke Samaria adalah tahap pertama, juga suatu persiapan untuk pergi sampai ke ujung bumi. Menghasilkan rasul-rasul untuk orang kafir adalah benar dan merupakan hal yang progresif. Setelah keluar dari Yerusalem, lalu ingin kembali dan tetap tinggal di Yerusalem, itu salah. Rasul-rasul untuk orang kafir harus terus maju sampai tiba di Roma.

Kitab Ibrani menunjukkan kepada kita satu identitas orang — orang Yahudi atau orang Kristen; tetapi Kitab Kisah Para Rasul menunjukkan kepada kita dua identitas orang — sebagai orang Yahudi juga sebagai orang Kristen. Dalam Kisah Para Rasul ada Bait Suci. Pada saat itu di satu aspek orang Kristen masih mengunjungi bait, di aspek lain dalam sidang (perhimpunan) mereka berdoa, “Tuhan, aku mempersembahkan diriku kepada-Mu.” Ketika mereka menyadari mereka telah berdosa, di satu sisi mereka berdoa sendiri, di sisi lain mereka mencari bantuan dari imam. Pada saat itu orang Kristen menjadi orang yang mempunyai dua tugas, sebagai orang Yahudi juga sebagai orang Kristen. Ada dua kurban, dua pengampunan, dua kurban penghapus dosa. Ada salib, dan ada juga binatang kurban — domba. Kitab Ibrani mengatakan kepada orang Kristen yang kembali ke Yudaisme, “Anda adalah seorang Kristen, atau seorang Yahudi?” Dalam Kisah Para Rasul, seseorang dapat menjadi baik orang Kristen dan orang Yahudi sekaligus, tetapi dalam Ibrani, ia tidak dapat menjadi kedua-duanya. Kita harus memilih menjadi salah satu dari dua macam orang itu. Hanya ada satu domba penebus, satu imam, dan satu bait. Karena itu, Ibrani 10 mengatakan untuk tidak menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah (ayat 25). Jika kita berhenti dari pertemuan ibadah dalam Kristus, maka tidak akan ada lagi kurban penghapus dosa (ayat 26). Sebab itu, dalam Kitab Ibrani hanya ada satu pikiran dasar, yaitu terus bergerak maju. Kita harus maju. Aliran Roh Kudus terus bergerak maju.

Karena aliran Roh Kudus selalu maju, apa yang dilakukan di Yerusalem tidak akan cukup untuk memenuhi keperluan di Roma. Apa yang digenapkan di Kaisarea tidak akan memadai untuk hari ini. Kemajuan yang dibicarakan di sini berkaitan dengan seluruh aliran Roh Kudus. Mengapa Allah membiarkan Pangeran Titus menghancurkan Yerusalem? Karena Ia hanya dapat membiarkan keberadaan satu Yerusalem. Begitu gereja didirikan di bumi, Allah menghancurkan Yerusalem yang lain. Penghancuran Yerusalem mengakhiri persembahan-persembahan kurban. Hari ini orang Yahudi mungkin masih memegang hari Paskah, tetapi tidak ada domba lagi. Inilah kemajuan. Allah menghancurkan yang pertama. Dalam Kitab Kisah Para Rasul, seseorang masih bisa mempunyai dua identitas. Tetapi ketika kita sampai pada Kitab Ibrani, kita hanya bisa mempunyai satu identitas. Ini adalah perkataan yang sangat serius — tidak ada lagi binatang kurban untuk dosa.

Pada zaman Kitab Kisah Para Rasul, Paulus masih bernazar (Kis. 18:18). Ingatlah, jangan mengukur seseorang dalam zaman tertentu menurut wahyu Allah yang mutlak. Hari ini kita harus mengikuti aliran Roh Kudus. Ke mana saja Roh Kudus pergi, kita harus mengikuti-Nya. Tidak salah bagi Paulus untuk mencukur rambutnya dan pergi ke dalam bait untuk menyucikan dirinya (Kis. 21:26), karena aliran Roh Kudus hanya mencapai pada tahap itu. Akan tetapi, Kitab Ibrani merubuhkan seluruh agama Yahudi. Kitab Ibrani mengatakan bahwa sejak Yang sempurna datang, Musa telah lewat. Allah selalu maju baik dalam pengajaran maupun dalam aliran Roh Kudus.

Selama 2.000 tahun sejarah gereja, Roh Allah terus maju. Bahkan setelah Kisah Para Rasul 28, Roh Allah masih terus maju; Ia tidak pernah berhenti. Kisah Para Rasul tidak ada akhirnya. Kita bodoh jika kita berpikir bahwa Roh Kudus telah meninggalkan gereja. Sesungguhnya, dalam setiap zaman Allah selalu membangkitkan orang. Dalam setiap zaman, gereja terus maju. Dari generasi ke generasi, selalu bergerak maju dan selalu progresif, bahkan terus maju sampai hari ini.

Hanya orang yang diperkenan Allah yang mempunyai keturunan. Mikha tidak mempunyai anak (2 Sam. 6:23); sebaliknya Batsyeba, ibu Salomo, mempunyai anak (2 Sam. 12:24). Apa artinya mempunyai keturunan? Adanya kelanjutan dari garis Roh Kudus — inilah yang saya sebut aliran Roh Kudus. Kita telah mewarisi semua anugerah dari nenek moyang dan leluhur kita, kita menerima warisan rohani dari mereka. Hari ini, apakah jalan Allah terus maju dari antara kita, atau bergerak melalui orang lain? Inilah yang saya sebut otoritas Roh Kudus. Kalau kita gagal, Roh Kudus akan melaksanakan pekerjaan-Nya yang selanjutnya melalui orang lain. Otoritas Roh Kudus adalah seperti batang pohon yang terus bertumbuh. Di mana ada meterai Roh Kudus, di sana ada jalan Allah.

Bagaimana jika garis ini terputus? Kita harus mempelajari sejarah gereja untuk mengamati jejak-jejak langkah Allah. Jejak-jejak langkah Allah dapat ditelusuri dalam sejarah dan dalam gereja. Ketika kita melihat kembali ke Martin Luther, kita dapat melihat banyak kelemahan pada dirinya, tetapi pada saat itu, pekerjaan Luther telah mencapai puncak pekerjaan Roh Kudus. Hari ini kita adalah buah dari pekerjaan Luther. Tidak seorang pun dari antara kita yang memiliki umur yang cukup panjang untuk mengatur garis ini.

Sepanjang zaman, orang yang dipakai Allah sepertilah batu-batu loncatan dalam sebuah aliran sungai. Pekerjaan Roh Kudus atas kita adalah menjadikan kita batu loncatan, yang membuat Dia dapat bergerak maju. Ini adalah kemuliaan kita yang terbesar. Jika Ia tidak mendapatkan jalan keluar melalui kita, Ia akan memilih batu yang lain untuk maju. Jika Ia tidak dapat keluar melalui kita, kita akan menderita kerugian yang paling besar. Sekarang meterai Roh Kudus mungkin ada pada tempat tertentu, tetapi setelah sepuluh tahun kemudian, kita tidak tahu Dia akan meletakkannya di mana. Setiap hari Roh Kudus menyingkirkan manusia, menyisihkan orang, kelompok demi kelompok. Karena itu, kita harus berada pada jalur Roh Kudus. Banyak orang kelihatannya sudah tamat dipakai oleh Roh Kudus. Roh Kudus tidak dapat lagi melakukan sesuatu melalui mereka. Karena itu Ia harus membuat permulaan baru pada diri orang lain. Betapa seriusnya perkara ini!

Kita harus selalu berjalan pada jalur yang positif. Dua puluh tahun berselang, Saudara T. Austin Sparks sangat memperhatikan pelayanan Tubuh. Ada orang telah menyinggung hal ini 130 tahun yang lalu; tetapi tidak ada orang yang berjalan pada jalur ini. Pemulihan kebenaran berbeda dengan penempuhan jalan kebenaran itu. Sampai pada saat T. Austin Sparks, baru realitas rohani ini mulai terwujud. Sekarang adalah saat bagi kita untuk menempuh jalan seluruh kaum saleh berfungsi dalam pelayanan Tubuh. Segala sesuatu harus dipersembahkan untuk Injil. Yang bersekolah, untuk Injil; yang bekerja, untuk Injil. Jalan yang dipulihkan Allah dalam gereja juga dinyatakan dalam ruang lingkup yang lain. Ketika Tuhan bergerak dalam gereja, Ia juga melakukan pergerakan dalam dunia. Kita harus mencapai tahap segenap Tubuh berkoordinasi bersama dalam pelayanan dan mencapai tahap segala sesuatu adalah untuk Injil. Ketika seluruh gereja melayani, kedatangan Tuhan sudah dekat. Pada saat itu tidak hanya pengajaran tersebar, Roh Kudus juga akan tersebar. Gereja bergerak karena Roh Kudus telah bergerak. Begitu Roh Kudus bergerak, semua akan mengatakan, “Amin” atas pergerakan-Nya. Roh Kudus berjalan di depan, dan kita mengikuti-Nya dalam aliran ini. Perkataan kita, perasaan rohani kita, harus bisa mengikuti aliran Roh Kudus.