ANUGERAH SESAAT DAN ANUGERAH SIMPANAN
Tanya : Apa yang menyebabkan orang Kristen miskin? Bagaimana baru bisa mendapatkan simpanan di hadapan Allah?
Jawab: Perkataan Tuhan dalam Wahyu 3:17 yang berbunyi “Engkau tidak tahu bahwa engkau melarat” ditujukan kepada gereja di Laodikia. Di sini berarti ada orang yang tidak memiliki simpanan di hadapan Allah. Melarat, bukan hanya hari ini tidak memiliki apa-apa; melarat, adalah terus tidak memiliki apa-apa.
KESULITAN YANG MENDASAR
Banyak saudara saudari memiliki satu kesulitan yang mendasar, yaitu memerlukan anugerah sesaat ketika terjadi sesuatu, agar mereka bisa tertopang. Ini adalah satu kesulitan yang besar. Banyak orang bersandarkan anugerah sesaat, banyak orang tidak memiliki wahyu tiga belas tahun yang lalu. Kita pernah berkata bahwa pekerjaan Allah di atas diri kita seluruhnya adalah pekerjaan anugerah. Kalau Allah mengambil anugerah dari diri kita, yang tersisa di atas diri kita adalah manusia yang sia-sia; ini adalah satu fakta. Tetapi di lain pihak, ini juga satu fakta, Allah tidak menghendaki anak-anaknya tidak memiliki simpanan, sehingga kalau tidak ada anugerah sesaat yang menunjang mereka, mereka segera berjalan di luar kehendak Allah. Allah tidak senang anak-anak-Nya hanya hidup bersandarkan anugerah sesaat, Allah senang anak-anak-Nya memiliki simpanan.
Banyak orang tidak memiliki simpanan, sebab itu Tuhan berkata harus berpuasa, harus berdoa. Kalau tidak berpuasa, tidak berdoa, setan jenis ini tidak bisa diusir (Mat. 17:21). Tuhan berkata kepada murid-murid, harus memiliki doa dan puasa yang sesaat, yang khusus, sewaktu terjadinya sesuatu. Kalau tidak ada doa dan puasa yang sesaat ini, tidak akan memiliki kekuatan. Orang Kristen yang pinggangnya kendur, tidak terikat, yang rohnya sembarangan, menempuh hidup bersandarkan anugerah yang sesaat. Kalau kita baru percaya Tuhan, mungkin pantas hidup bersandarkan anugerah yang sesaat. Tetapi kalau setelah percaya Tuhan satu atau dua tahun, masih tetap hidup bersandarkan anugerah yang sesaat, itu berarti melarat, berpenyakit. Karena hanya hidup bersandarkan anugerah yang sesaat, maka di dalam kita tidak ada kelebihan, tidak ada simpanan, sebab itu kita miskin, melarat.
Apa yang disebut kaya? Lawan miskin adalah kaya. Kaya adalah kita di hadapan Allah memiliki simpanan, tidak bersandar anugerah sesaat. Di dalam saya ada kelebihan, sebab itu tidak miskin.
PAULUS MEMILIKI ANUGERAH SIMPANAN
Beberapa hari yang lalu, kita beberapa sekerja berkumpul, khusus menyinggung Surat Korintus. Saya sendiri merasakan, dalam seluruh Perjanjian Baru, yang paling banyak mewahyukan hayat adalah Surat Korintus.
Satu dan Dua Korintus memiliki kedudukan yang tersendiri. Hanya 1 dan 2 Korintus yang meletakkan Paulus di hadapan kita. Surat Roma paling tuntas membahas keselamatan, wahyu yang ditulis dalam Surat Efesus paling dalam, namun keduanya ini berasal dari Allah. Tetapi kalau ingin mengenal diri Paulus, hanya 1 dan 2 Korintus yang paling rinci menjelaskan diri Paulus kepada kita, sehingga kita mengenal lebih jelas diri Paulus.
Bagi banyak orang, perlu ada ilham baru ada suplai firman. Kalau ilhamnya berhenti, firmannya juga berhenti. Mereka harus memiliki sumber untuk mendapatkan ilham, baru mempunyai suplai firman. Semua firman bersandarkan ilham yang ia terima, hal ini benar, juga suatu fakta. Tetapi ingatlah, ilham itu tidak selalu ada, tidak terusmenerus ada. Pada para rasul kelompok pertama pun tidak sering ada ilham. Di atas diri Paulus juga tidak sering ada ilham. Paulus berkata, “Aku tidak mendapat perintah dari Tuhan” (1 Kor. 7:25). Aku tidak mendapatkan firman dari Tuhan, Tuhan tidak berbicara apa-apa. Bukan Tuhan yang berbicara, tetapi aku yang berbicara. Dengan kata lain, tidak ada ilham rohani, tidak ada perkataan Tuhan.
Tetapi ada satu hal yang sangat ajaib, yaitu Paulus berkata, “Tetapi aku memberikan pendapatku sebagai seorang yang setia (dapat dipercayai, LAI) karena rahmat Allah” (1 Kor. 7:25b). Paulus berbicara berdasarkan dirinya sendiri. Ini adalah perkara yang luar biasa. Dalam dua ribu tahun ini, para ahli teologi takut membaca bagian ini. Paulus sangat jelas, adakalanya meskipun dia tidak memiliki ilham, dia masih bisa berbicara.
Tidak ada ilham tetapi masih bisa berbicara, hal ini sangat tidak mungkin bagi banyak orang. Karena di dalamnya tidak ada simpanan, tidak ada yang tersisa, tidak ada yang kelebihan, maka begitu tidak ada ilham, tidak ada juga perkataan. Anugerah yang Allah berikan kepadanya, hanya cukup ia pakai untuk hari itu. Orang yang demikian, begitu tidak ada ilham, ia pun tidak ada perkataan. Karena dia hanya mengatasi masalah dengan anugerah sesaat. Orang yang demikian, kalau tidak memiliki anugerah sesaat, pasti tidak memiliki perkataan.
Tetapi di sini ada satu orang, meskipun tidak ada ilham masih tetap ada perkataan. Perkataan Paulus adalah perkataan Allah. Roh Kudus memilih perkataannya, menaruh perkataannya di dalam Alkitab, kita percaya ini adalah pengaturan Allah. Perhatikan: Dia berulang-ulang berkata bahwa dia yang berkata, bukan Tuhan yang berkata. Tetapi, ketika dia berkata, juga terasa bahwa perkataan ini seperti bukan perkataannya. Karena itu pada akhirnya ia berkata, “Aku berpendapat bahwa aku juga mempunyai Roh Allah” (1 Kor. 7:40). Yang paling berharga adalah dengan tidak terasa dia telah digerakkan oleh Roh Kudus. Ada orang begitu bergerak segera berkata bahwa dirinya telah digerakkan oleh Roh Kudus. Saya khawatir orang yang dengan cepat digerakkan oleh Roh Kudus semacam itu, justru membuktikan dia tidak memiliki banyak simpanan. Lebih baik orang yang digerakkan oleh Roh Kudus, tetapi tidak tahu bahwa dirinya sedang digerakkan oleh Roh Kudus. Banyak orang yang dangkal, sering meragukan dirinya tidak diberi ilham; sedangkan orang yang memiliki simpanan juga meragukan apakah dirinya telah diberi ilham. Bagaimana aku bisa berkata bahwa perkataan ini bukan perkataan Tuhan? Perkataan ini adalah perkataan yang diucapkan oleh Tuhan.
Sebab itu di sini ada satu prinsip dasar: di atas diri Paulus, selain ilham yang sesaat, masih ada sesuatu yang lain, yang bukan berasal dari ilham sesaat, yang diberikan kepadanya. Dia memiliki anugerah itu karena bertahuntahun mengikuti Tuhan, bertahun-tahun menerima pembatasan, bertahun-tahun tidak sembarangan, bertahuntahun tidak berdosa, bertahun-tahun tidak gagal, bertahuntahun belajar takut kepada Allah, bertahun-tahun ada sesuatu di dalam dirinya, meskipun tidak ada ilham, tetapi tetap ada perkataan. Inilah simpanannya, boleh dikatakan inilah kekayaannya.
Sebab itu, tidak ada satu tempat yang menyingkapkan diri Paulus sebanyak Surat Korintus. Ia berkata bahwa dirinya yang berbicara, tidak ada ilham; tetapi perkataannya menjadi wahyu kepada gereja. Di sini ada satu orang, ia mengucapkan perkataan manusia, tetapi perkataan-perkataan itu diletakkan di dalam Alkitab menjadi firman Allah, inilah tingkatan tertinggi dalam Perjanjian Baru. Manusia diciptakan oleh Allah, diukir oleh Allah, diolah oleh Allah, dan disusun oleh Allah, sampai satu tahap, perkataan manusia menjadi perkataan Allah, inilah kekayaannya, inilah di dalamnya memiliki simpanan, inilah hasil Allah bertahun-tahun bekerja di atas diri Paulus. Ini tidak bisa dicapai oleh anugerah yang sesaat.
HARUS KAYA, MEMILIKI ANUGERAH SIMPANAN
Sering kali yang membuat saya merasa sedih adalah banyak saudara saudari harus dibantu oleh anugerah yang sesaat. Kalau tidak ada anugerah sesaat, perkataannya, motivasinya, sama dengan orang yang tidak percaya Tuhan. Ini sangatlah miskin! Orang yang demikian kalau tidak ada sesuatu yang masuk, di dalamnya kosong melompong. Saya mengakui, begitu kita meninggalkan anugerah Allah, kita tidak memiliki apa-apa. Namun saya juga mengakui, anugerah Allah ada sebagian yang tersusun ke dalam manusia. Allah menaruh simpanan di dalam manusia adalah satu fakta. Ada orang hanya bersandarkan penerimaan yang sesaat untuk mengatasi pengeluaran yang sesaat, sebab itu dia tidak mampu menghadapi ujian.
Apa yang disebut ujian? Yaitu ketika dari luar sepertinya Allah tidak mempedulikan, sepertinya Allah tidak mendengarkan, sepertinya Allah tidak ada persekutuan dengan kita. Siapa yang paling mengerti ujian? Madame Guyon. Apakah ujian rohani itu? Sepertinya Allah menutup muka tidak mempedulikan, sepertinya Allah menutup mulut tidak berbicara, sepertinya Allah tidak menjawab, sepertinya Allah tidak bersuara, sepertinya Allah diam saja, sepertinya di surga tidak ada Allah. Pada saat ini, segera dapat dibedakan siapa yang memiliki simpanan, siapa yang tidak memiliki simpanan.
Orang yang miskin, hidup bersandarkan sukacita dalam doa, mempertahankan kehidupan rohaninya bersandarkan kesegaran satu kali sidang pemecahan roti. Kalau tidak ada ini, satu minggu tersebut akan gagal, tidak baik, akan jatuh. Banyak orang, seluruh hayat dan hidupnya bersandar pada anugerah sesaat semacam ini. Artinya, dia tidak memiliki simpanan.
Madame Guyon, selama beberapa bulan terus-menerus menerima ujian, seluruh dunia kacau balau bagaikan tidak ada Allah. Orang yang di dalamnya memiliki simpanan, pada saat demikian akan ternyata; dia bisa tahan uji, di dalamnya ada sesuatu, simpanan di dalamnya cukup untuk dipakai, inilah yang disebut berlimpah, kaya. Inilah “agar engkau menjadi kaya” yang Tuhan katakan kepada Laodikia (Why. 3:18a).
Jadi, miskin berarti tidak memiliki simpanan; kaya berarti memiliki simpanan. Inilah simpanan rohani.
BAGAIMANA BARU BISA MEMILIKI SIMPANAN YANG KAYA
1. Perlu Waktu
Bagaimana supaya di dalam kita bisa kaya, bagaimana supaya kita bisa mempunyai simpanan? Saya kira ini adalah persoalan yang sangat mendasar. Maafkan saya berkata terus terang. Saudara-saudara yang muda, bagaimanapun, kalian tidak bisa kaya sekali. Mungkin kalian sendiri mengira bahwa kalian sudah menjadi kaya. Tetapi: Pertama, kaya itu perlu waktu. Orang yang memiliki banyak waktu di hadapan Allah, mungkin bisa kaya. Orang yang tidak memiliki banyak waktu di hadapan Allah, pasti tidak bisa kaya. Bagi orang muda, bagaimanapun tidak mungkin kaya. Ingatlah, waktu adalah faktor yang sangat besar. Kali ini di Foochow, memberi kita kesan yang sangat dalam. Dulu kita mengira ketika menjamah perkara dasar kerohanian, beberapa orang muda lebih baik daripada orang yang tua. Tetapi begitu menjamah fakta yang dalam, banyak saudara muda yang paling baik, justru tidak bisa menjamah hal-hal yang paling konkret. Hai orang muda, ingatlah, berapa banyak simpanan Anda? Yang Anda simpan, mungkin cuma sedikit saja, sebab itu jangan sombong. Kesombongan adalah perkara yang bodoh. Anda harus nampak, di depan Anda masih ada satu perjalanan yang panjang, perlu setiap hari disusun oleh Roh Kudus, dibangun oleh Roh Kudus. Sebab itu waktu adalah faktor yang pertama, tidak bisa ditawar.
2. Harus Mempunyai Pengalaman
Kedua, harus mempunyai pengalaman melewati perkara. Banyak orang, meskipun sudah cukup lama percaya Tuhan, tetapi perkara yang ia jumpai di hadapan Allah tidak banyak. Orang yang kaya atau berlimpah perlu waktu, juga perlu mempunyai pengalaman melewati perkara. Apakah artinya ini? Ini adalah pendisiplinan Roh Kudus. Ada orang telah menjadi orang Kristen 18 tahun, kelihatannya Roh Kudus di atas dirinya sangatlah kendur, tidak begitu mengurusi dia. Bukan saja tidak mengurusi, sepertinya Roh Kudus tidak mau tahu dia, sepertinya Roh Kudus tidak senang mengurusinya. Ada orang di atas dirinya Roh Kudus tidak kendur, mengurusinya dengan ketat. Ada orang, tidak peduli ia berbuat apa saja, sepertinya tidak ada apa-apa terjadi di atas dirinya, Roh Kudus tidak berbicara melalui lingkungannya, juga tidak berbicara di dalam hati nuraninya. Lingkungan tidak memberi banyak kesulitan kepadanya, hati nurani juga tidak memberi seberapa kesulitan kepadanya. Meskipun seseorang sudah melewati banyak waktu, kalau tidak banyak dibatasi, diukir, dihalangi, dipukul, maka orang ini tidak terlalu banyak belajar di hadapan Allah, dan kekayaannya di depan Allah juga tidak terlalu banyak. Sebab itu, di hadapan Allah, janganlah takut terhadap perkara yang kita alami. Karena tidak ada satu perkara yang tidak menambah kekayaan kita. Kalau yang Anda alami sedikit, simpanan Anda juga sedikit, perkataan yang Anda berikan kepada orang lain juga lebih sedikit. Tidak ada orang yang tidak memiliki pengalaman bisa memiliki perkataan. Seberapa banyak pengalaman Anda, sebanyak itu juga yang bisa Anda katakan. Seberapa banyak perkara yang Anda temui, sebanyak itu juga pelayanan Anda terhadap anak-anak Allah. Suplai kita kepada orang lain tergantung pada banyaknya yang kita pelajari di hadapan Allah. Ini tidak mungkin didapatkan dari doktrin, juga tidak mungkin didapatkan dari komentar atau penjelasan Alkitab. Ini didapatkan melalui pimpinan Roh Kudus dalam perjalanan kehidupan sehari-hari.
Sebab itu, saya harap kita sebagai orang-orang yang belajar mengikuti Allah, jangan bersikap acuh tak acuh terhadap pengalaman sehari-hari kita. Perkara yang kita temui setiap hari, misalnya perkara yang mengecewakan, perkara yang tidak lancar, semuanya adalah saatnya Tuhan dengan serius menanggulangi kita. Kita harus menundukkan kepala menyembah kepada Allah dan berkata, “Tuhan, aku bersyukur kepada-Mu, sebab hari ini Engkau bermaksud supaya aku menjadi orang yang kaya, membawa aku masuk ke dalam kekayaan.”
Ada seorang saudara mengira dia bisa percaya, tetapi begitu ia sakit, barulah ia tahu apa makna iman yang sesungguhnya. Kalau tidak bertemu dengan kemiskinan, tidak tahu bagaimana menengadah kepada Tuhan. Kalau tidak mengalami sakit, tidak tahu iman itu apa. Kalau tidak bertemu dengan kesulitan, tidak tahu penyembahan yang sejati itu apa. Kalau tidak bertemu dengan perkara, tidak ada pelajaran, berarti miskin. Semua orang yang takut akan urusan adalah orang yang miskin. Semua orang yang ingin keadaan lingkungannya selalu lancar adalah orang yang miskin. Kalau mau maju, harus memohon untuk mempunyai banyak pengalaman. Semakin banyak belajar, semakin mempunyai pengalaman. Penengadahan kita, iman kita, ketaatan kita, semua dihasilkan oleh berbagai keadaan yang berbeda-beda ini. Ketika di luar tambah satu perkara, di dalam juga tambah satu perkara. Setiap berjumpa satu perkara, tidak peduli daging Anda merasa bagaimana sulitnya, lahir Anda merasa sangat tidak senang, ketahuilah, semuanya mendorong Anda untuk belajar. Anda harus menundukkan kepala dan berkata, “Ini adalah satu kesempatan lagi, bahkan kesempatan yang jarang didapatkan, kesempatan yang sulit didapatkan! Tuhan, aku berterima kasih kepada-Mu.”
Ada beberapa orang yang ada di sekitar Anda yang juga sebagai orang Kristen, kelihatannya mereka terlindung, tidak ada ujian. Anda melihat kehidupan saudara saudari tersebut sangat tenang, sangat tenteram. Tetapi Anda segera merasakan mereka sangat miskin, sangat sedikit belajar beriman, berharap, dan bersandar kepada Allah.
Sebab itu, saya harap ketika kalian mendengar perkataan yang terus terang dari seorang saudara, ketika berjumpa dengan ujian, seharusnya mengangkat kepala memuji Tuhan, “Ya Tuhan, kembali Engkau menciptakan satu kesempatan kelimpahan di dalamku, tidak ada satu yang tidak baik. Kembali Engkau di dalamku menciptakan satu hal yang tidak dimiliki orang lain, supaya aku bisa menyuplai gereja.” Saudara-saudara! Jangan sekali-kali mengira bersandar buku sudah bisa berkhotbah. Anda boleh berkhotbah, tetapi Anda tidak memiliki roh yang kaya. Anda boleh memperkaya perkataan Anda, supaya perkataan Anda penuh dengan makna, tetapi Anda tidak bisa membuat roh Anda limpah.
Penuh dengan makna mutlak berbeda dengan penuh dengan roh. Sebab itu semakin banyak urusan, semakin banyak kejadian, tidak berarti Allah memperlakukan tidak baik kepada Anda, sebaliknya Allah memperlakukan Anda secara istimewa. Allah telah memilih kita, Allah telah memandang kita layak, ini adalah satu perubahan yang besar. Bagaimanapun, kita harus mendapatkan hal ini. Kalau kita memiliki terang, akhirnya akan nampak satu hal: di hadapan Allah, saudara ini telah mempunyai berapa banyak pengalaman? Apakah ia memiliki simpanan? Tidak peduli bagaimana sombongnya Anda, kesombongan Anda tidak berguna. Kalau di dalam seseorang memiliki sesuatu, ia memilikinya; kalau tidak memiliki sesuatu, ia tidak memilikinya. Kalau Anda semakin ingin menipu orang, orang lain akan semakin mengenal Anda. Kalau Anda semakin sombong, menutupi diri sendiri, Anda semakin menyingkapkan diri sendiri. Begitu Anda membuka mulut, langsung menyingkapkan diri Anda sendiri. Anda tidak bisa berkata, “Kalau dijamah adalah Esau, kalau didengarkan suaranya adalah Yakub,” lalu Anda boleh menipu orang lain. Karena kekayaan rohani berdasar pada berapa banyak perkara yang Anda alami.
3. Harus Ada Akhirnya
Ketiga, harus ada akhirnya. Tidak tergantung pada berapa banyak perkara yang dihadapi. Kalau sudah cukup waktunya, sudah cukup perkaranya, apakah ada hasilnya? Ini masih merupakan satu persoalan. Harus mencapai suatu hasil. Sama seperti sewaktu melakukan percobaan kimia di labotarium sekolah, ada satu perkataan, “melakukan hingga akhir”, artinya melakukan sampai ada hasilnya, melakukan sampai selesai. Telah melakukan banyak hal, tetapi kalau tidak selesai, tidak berguna; harus melakukannya sampai selesai, sampai tuntas.
Alkitab memperlihatkan kepada kita dengan sangat jelas: yaitu ketika Allah menanggulangi seseorang, Ia melakukannya sampai tuntas. Ternak dirampas belum terhitung apa-apa; kawanan domba dan hamba dibakar belum terhitung apa-apa; rumah roboh belum terhitung apa-apa; anak-anak mati belum terhitung apa-apa; tubuh sakit bisul pun belum terhitung apa-apa. Sampai suatu hari, bibir, mulut, dan lidah, semuanya tunduk, duduk dalam debu dan abu (lihat Ayb. 1:6-2:10; 42:1-6). Dalam Surat Yakobus ada kata “pada akhirnya” (Yak. 5:11), yaitu “apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan.” Perkataan ini memperlihatkan kepada kita, yang Allah persoalkan bukanlah berapa banyak masalah yang kita alami, melainkan apakah ada akhirnya. Anak Ayub mati, coba Anda pikir, ada berapa anak yang diperbolehkan untuk mati? Seseorang tidak mempunyai anak-anak yang diperbolehkan untuk mati. Ini adalah perkara yang sangat serius. Penanggulangan yang Ayub terima sangatlah berat, tetapi ia tetap miskin. Jangan Anda mengira bahwa di atas diri Anda Allah dapat memberi ujian yang tidak ada habisnya. Ada seorang saudari menjadi janda karena suaminya meninggal dunia, tetapi ia terhadap perkara rohani sangat kendur. Pada suatu hari, setelah ia bersaksi, di dalam saya terasa sangat berat, lalu dengan terus terang saya berkata kepadanya, “Sikap Anda salah. Allah telah mengambil suami Anda, ini adalah perkara yang sangat besar, tetapi Anda belum belajar apa-apa!” Seorang perempuan tidak mempunyai banyak suami untuk mati. Banyak orang ingin pergi ke Kuling (tempat pelatihan rohani, red.). Jangan mengira Kuling itu tempat yang menyenangkan. Penghakiman yang tanpa toleransi, itulah Kuling. Demikian juga, lembu domba dirampas, rumah roboh, anak mati, tetapi belum ada hasilnya, sampai satu tahap tubuh terjangkit bisul, juga belum ada hasilnya. Inilah artinya belum ada akhirnya. Banyak perkara yang dialami orang, tetapi perkara yang dialami juga ada batasnya. Kalau seseorang ketika mengalami suatu perkara tidak mau belajar pelajaran rohani, ia tidak bisa mencapai akhir yang disediakan Tuhan. Artinya, tidak bisa mencapai tujuan Tuhan. Ingatlah, kalau demikian, Tuhan tidak mendapatkan banyak, Anda pun tidak mendapatkan banyak simpanan, hanya melewati waktu dengan sia-sia, hanya ditanggulangi dengan sia-sia, diuji dengan sia-sia, didisiplin dengan sia-sia! Inilah yang kita takuti. Banyak orang telah melewati banyak penanggulangan, tetapi hasilnya adalah satu bejana yang remuk yang tidak bisa dipakai. Sama seperti tempat kerja tukang periuk yang dikatakan dalam Yeremia 18:4, di sana terdapat banyak bejana tanah liat yang rusak. Ada yang rusak ketika dibakar, juga ada yang pecah karena terjatuh ke tanah.
Karena itu, kita tidak hanya mengharapkan hari-hari kita cukup banyak, pengalamannya juga cukup banyak, tetapi juga mengharapkan setelah mengalami semuanya itu, bisa menjadi bejana yang mulia.
Karena itu, Ayub tidak hanya mengalami perkara saja. Pada suatu hari, Allah melihat waktunya sudah cukup, sudah ada susunan yang baru tergarap ke dalamnya, manusianya pun mengalami perubahan. Inilah persoalan dasarnya. Bukan persoalan masuknya hayat, melainkan persoalan hayat Allah tersusun dengan hayat manusia.
Saya sering mengucapkan satu perkataan, tetapi mungkin perkataan ini sering disalahpahami orang. Saya berkata: Manusia lama tidak bisa berubah. Allah menyalibkan manusia lama di atas salib, ini adalah fakta. Allah menaruh hayat baru ke dalam kita, ini juga fakta. Kalau Allah mengambil hayat ini, manusia lama tetap adalah manusia lama. Tetapi Alkitab juga berkata: Manusia bisa berubah, pikiran juga bisa diperbarui (Rm. 12:2). Ingatlah, bukan saja hayat baru ada di dalam kita sehingga kita berbeda dengan orang lain; diri kita ini, juga berubah karena pekerjaan hayat, sehingga berbeda dengan orang lain. Anda tinggal bersama dengan satu orang sekian lama, pasti ada sedikit mirip dengannya. Orang yang tinggal bersama Allah sekian lama, tetapi sedikit pun tidak berubah, itu adalah perkara yang mengherankan. Apalagi Roh Kudus tinggal di dalam Anda, Anda sedikit banyak pasti belajar kepada-Nya, sehingga mirip dengan-Nya. Inilah pembaruan, inilah pengubahan (transformasi).
Sebab itu, kita harap bisa belajar, bisa mencapai akhirnya. Kita harap bisa mengeluarkan waktu di hadapan Allah, belajar perkara satu per satu, juga mendapatkan hasilnya satu per satu. Tuhan menaruh Roh-Nya ke dalam kita, supaya kita belajar dan mendapatkan hasilnya, barulah Tuhan bisa memakai kita untuk menyuplai orang lain. Kita bukan mendapatkannya dari membaca buku, juga bukan mendapatkannya dari mendengarkan perkataan Paulus, tetapi mendapatkannya dari belajar kepada Tuhan (Ef. 4:20). Jangan karena Alkitab berkata demikian, lalu kita juga melakukan demikian. Yang benar adalah kita melakukan itu karena kita sendiri sudah mempelajarinya. Demikian kita baru bisa melayani Allah, baru bisa memiliki perkataan untuk disuplaikan kepada orang lain.
4. Perlu Diterangi
Perkara yang terakhir yaitu menerima penerangan. Dalam hal menerima penerangan ini, kalau seseorang kaya, penerangan yang ia terima juga limpah. Tidak saja kita harus belajar pelajaran rohani, perlu juga Tuhan di dalam roh menerangi kita, supaya kita bisa nampak apa yang kita pelajari. Tidak saja kita mengetahui perkara ini, bahkan perkara ini terbentuk sebagai pengajaran di atas diri kita. Demikian barulah kita dapat mengubah apa yang kita pelajari menjadi perkataan untuk menyuplai orang lain. Tidak saja hal ini tergarap di atas diri kita, bahkan kita bisa memakai apa yang kita pelajari ini untuk menyuplai orang lain. Ketika terang itu datang, kita bisa berbicara, dan perkataan kita akan menyuplai orang lain.
Sering kali Allah menanggulangi kita, tetapi kita tidak mengetahuinya. Tetapi, adakalanya kita mengetahui. Hal mengetahui ini, membuat penanggulangan itu lebih efektif untuk mencapai akhirnya. Karena penerangan, kita bisa percaya, juga bisa taat, sehingga kita lebih bisa mempercepat mencapai akhir dari penanggulangan itu. Setelah ada buahnya, dan matang, inilah hasil dari orang itu di hadapan Allah. Penerangan yang dibicarakan di sini adalah obat mata yang dibicarakan dalam Kitab Wahyu, supaya kita bisa melihat dan terang (3:18).
PERBEDAAN TERANG DENGAN ILHAM
Tanya: Apa bedanya terang yang Anda tadi katakan dengan ilham?
Jawab: Terang yang tadi saya katakan berbeda dengan ilham. Terang ini datang melalui wahyu, adalah terang yang di dalam. Kesulitan yang di dalam adalah masalah ketaatan.
MENGENAI PENDISIPLINAN ROH KUDUS
Tanya: Ketika perkara menimpa ke atas diri kita, apakah kita lebih cepat taat lebih baik? Apakah ketaatan yang cepat ini tergantung pada dengan cepat mengetahui situasi ini berasal dari Tuhan?
Jawab: Benar. Saya rasa, kita masih perlu secara mendasar mengenal: Apa yang disebut pendisiplinan Roh Kudus?
Pendisiplinan Roh Kudus berarti adanya permintaan Roh Kudus di dalam kita; ketika Roh Kudus sendiri di dalam situasi kita yang di luar melakukan sampai taraf tertentu, Dia juga ada permintaan di dalam kita. Inilah yang disebut pendisiplinan Roh Kudus. Sebab itu, kalau kita tidak taat, itu tidak ada gunanya. Sekalipun kita tidak taat, Dia tetap akan menggarap kita sampai taat. Hingga suatu hari, Dia akan menggarap kita sampai taat. Sering kali pendisiplinan Roh Kudus menggantikan ketaatan kita, bukan sejak semula kita telah berminat untuk taat, tetapi kita digarap sampai taat, itulah yang terjadi. Dengan sendirinya taat. Saudara saudari yang sudah percaya Tuhan bertahun-tahun, boleh menoleh ke belakang dan melihat, sering kali Tuhan berkata kepada Anda, Anda langsung taat. Tuhan berkata lagi, Anda taat lagi. Anda bisa menunjukkan beberapa perkara yang demikian. Tetapi kalau Anda renungkan lagi, sering kali juga banyak perkara yang telah ada perintah Tuhan, pada awalnya kita tidak berminat menaati, namun kemudian hari Anda melakukannya. Ini juga salah satu hasil dari pendisiplinan Roh Kudus. Adakalanya kita tidak ada hati untuk taat, tetapi tidak tahu bagaimana setelah lewat dua atau tiga tahun, ketidaktaatan itu hilang, ketidaktaatan itu tidak ada lagi, ini juga hasil dari pendisiplinan Roh Kudus. Sering kali ketika Anda bisa taat, Anda cepat melakukannya. Tetapi syukur kepada Allah, meskipun adakalanya Anda tidak ada hati untuk taat, meskipun Anda tidak ada iman, pada suatu hari, Anda juga dibawa pada tahap ketaatan, ini juga hasil dari pendisiplinan Roh Kudus. Pendisiplinan Roh Kudus sering kali menutupi kekurangan ketaatan kita.
Pendisiplinan Roh Kudus ada dua makna: Pertama, supaya kita taat. Dia mengatur situasi untuk kita taati. Kedua, pendisiplinan Roh Kudus juga menggantikan ketaatan kita. Bukan kita bermaksud taat, tetapi kita digarap sampai satu tahap, sehingga bisa taat.
Ada seorang saudara yang sangat mencintai uang. Sering kali Roh Kudus mendisiplin dia, tetapi dia tetap mencintai uang. Dalam tiga sampai empat tahun ini, banyak urusan terjadi di atas dirinya yang membuatnya marah. Tetapi ada satu hal terjadi, sekarang dia dengan tidak terasa sudah tidak mencintai uang lagi. Dia bertanya, “Lebih baik aku taat lalu tidak mencintai uang, atau aku tidak taat akhirnya juga tidak mencintai uang?” Saya jawab, “Asal tidak mencintai uang, apa saja baik.” Lebih baik kita sedikit dipukul, lebih baik mengurangi banyak penanggulangan, sehingga lebih cepat sampai di tujuan. Inilah pendisiplinan Roh Kudus. Sebab itu, pekerjaan Roh Kudus di batin sangatlah berharga, pekerjaan Roh Kudus di luar melalui situasi juga sangat berharga.
Tanya: Bagaimana bisa lebih cepat taat?
Jawab: Adakalanya pekerjaan Roh Kudus melalui menggerakkan di dalam kita, adakalanya pekerjaan Roh Kudus melewati waktu. Ketika Allah dengan Roh Kudus menggerakkan kita, segeralah menaati. Allah tidak saja dengan Roh-Nya bekerja di dalam manusia, Allah juga akan melalui pendisiplinan Roh Kudus bekerja di luar manusia. Ini tidak segera selesai dalam sekejap mata, tetapi proses dalam sehari-hari; sampai suatu hari Anda menjadi rela, Anda sudah berubah, ini memerlukan waktu. Sebab itu, doa mohon Allah membuat kita taat ada dua macam jawaban: mungkin ada pergerakan di dalam, sehingga kita segera taat; atau melalui situasi di luar, yang memerlukan sejangka waktu baru membuat kita taat. Sebab itu, seberapa besar ketaatan kita, tergantung pada penerangan atau pendisiplinan.
Kelak, gereja akan mencapai kedewasaan penuh yang disebut dalam Efesus 4, atau mencapai keadaan tidak bercacat cela atau kerut yang disebut dalam Efesus 5. Di sini ada dua aspek pekerjaan: Yohanes nampak tidak ada orang yang layak membuka gulungan kitab, lalu menangis (Why. 5:4). Saya kira kita tidak akan menangis seperti Yohanes, tetapi orang yang membaca Alkitab paling khawatir mengenai firman dalam Efesus 4 dan 5. Sepertinya bintang yang jatuh dari langit sama seperti buah pohon ara yang jatuh ke bumi, tidak sulit terjadi. Sepertinya setiap gumpalan es yang beratnya satu talenta jatuh, juga tidak sulit terjadi. Tetapi tentang pertumbuhan gereja menjadi manusia yang dewasa penuh sehingga mencapai perawakan Kristus, tanpa cacat kerut, kudus tidak bercela, cemerlang; sekalipun dengan sengaja dicari-cari kesalahannya, atau dikritik sekuat-kuatnya, tetap tidak ditemukan kesalahannya; inilah yang dikhawatirkan banyak orang, sulit terjadi. Tetapi kita nampak, Roh Kudus tidak saja bekerja di dalam manusia, juga mendisiplinkan di luar manusia; Ia bisa membawa kita sampai tahap tidak bercela. Pendisiplinan Roh Kudus sangatlah berharga. Banyak perkara yang kita lepas melalui pergumulan. Tetapi juga ada banyak perkara yang kita lepas di luar pengetahuan kita. Untuk hari depan kita, Tuhan mengatur berbagai macam perkara bagi kita. Ini benar-benar adalah Injil bagi orang Kristen! Satu hal yang sangat ajaib, yaitu orang Kristen memiliki pendisiplinan Roh Kudus.