← Daftar isi Ratapan · bab 2/4

PENDAHULUAN RATAPAN KETIGA— SUATU RATAPAN ATAS PENDERITAAN NABI

MERASAKAN HUKUMAN UMATNYA

Pembacaan Alkitab: Rat. 3

Dalam berita ini kita akan mengcover ratapan ketiga Yeremia. Ini adalah suatu ratapan atas penderitaan nabi mengenai hukuman umatnya. Walaupun Yeremia sendiri tidak menderita oleh Allah, dia bersatu dengan penderitaan umat Allah. Ini menunjukkan bahwa seorang pelayan Tuhan harus belajar bagaimana merasakan dirinya dengan umat Allah, tidak menghiraukan situasi, dan khususnya dalam suatu situasi menderita. Dia menderita karena dia merasakan penderitaan umat Allah.

Mari kita memperhatikan ratapan ini secara menyeluruh dan kemudian secara khusus memperhatikan ratapan ayat 22 sampai 25.

I. KESENGSARAAN NABI (GAMBARAN UMATNYA)

Ayat 1 sampai 20 adalah kesengsaraan nabi (gambaran umatnya). Kesengsaraan ini adalah oleh cambuk murka Yehova (ay. 1-17). Kesengsaraan nabi (gambaran umatnya) dan harapannya dalam Yehova lenyap (ay. 18). Dalam ayat 19 dan 20 nabi berkata, “Ingatlah akan sengsaraku dan pengembaraanku, / Akan ipuh dan racun itu. / Jiwaku selalu teringat akan hal itu / Dan tertekan dalam diriku.”

Kesengsaraan digambarkan dalam semua ayat ini tidak terjadi secara personal kepada Yeremia. Allah tidak menimpakan kepada Yeremia secara langsung denga cara ini. Namun, karena Yeremia bersatu dengan kesengsaraan umat Allah, dalam perasaannya, dalam simpatinya, dia menderita semacam kesengsaraan.

II. HARAPAN NABI (GAMBARAN UMATNYA)

Dalam ayat 21 sampai 39 kita melihat harapan nabi (gambaran umatnya). Harapan nabi adalah dalam kasih setia, rahmat, dan kesetiaan Yehova, yang adalah bagiannya (ay. 21-24). Dia berharap dalam Yehova dengan menanti pada-Nya dan mencari Dia bagi pertolongannya (ay. 25-30), saat bergantung pada pekerjaan dan penghukuman Tuhan (ay. 31-39).

III. PERMOHONAN NABI BAGI UMATNYA

Dalam ayat 4- sampai 54 kita memiliki permohonan nabi bagi umatnya. Pertama-tama, dia memohon bahwa mereka dapat memeriksa jalan-jalan mereka dan kembali lagi kepada Yehova (ay. 40-41), Kemudian dia memohon bahwa mereka bertobat dari pelanggaran-pelanggaran dan pemberontakan mereka yang menyebabkan Tuhan menutup diri-Nya dari mereka dan yang mengarahkan musuh-musuh mereka untuk menghancurkan mereka (ay. 42-54).

IV. DOA NABI KEPADA YEHOVA (GAMBARAN UMATNYA)

Akhirnya, dalam ayat 55 sampai 66 kita memiliki doa nabi kepada Yehova (gambaran umatnya). Dia menyeru nama-Nya agar Dia dapat membela kasus mereka dan menghukum perkara mereka (ay. 55-62). Kemudian dia bertanya kepada Dia untuk membela mereka dari musuh-musuh mereka karena kejahatan-kejahatan mereka (ay. 63-66).

Walaupun ratapan ini menghasilkan suatu rasa Perjanjian Lama, namun hal ini terpisah dari ekonomi Perjanjian Baru. Ini secara khusus ayat 22 sampai 25, yang mana sekarang kita akan memperhatikan secara mendetail.

Ratapan 3:22 dan 23 mengatakan, "Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, / Tak habis-habisnya rahmat-Nya, / Selalu baru tiap pagi; / Besar setia-Mu." Saya percaya bahwa firman ini datang kepada Yeremia ketika dia mengontak Tuhan di pagi hari, meninjau lagi semua kesengsaraan umatnya. Saat Yeremia meninjau lagi kesengsaraan ini, dia harus menyesali kebejatan Israel. Pada waktu ini firman Yehova datang kepada dia, yaitu bukan perkara bagaimana harus Dia menghukum Israel, Dia sama sekali tidak menghabisi mereka. Yeremia dan banyak orang yang tersisa lainnya. Ini adalah kasih setia Allah. Menyadari bahwa dia dan semua orang yang tersisa lainnya bersama dia ada di bawah rahmat Allah, Yeremia mengucapkan pujian, "Tak habis-habisnya rahmat-Nya" (ay. 22b). Umat Israel telah jatuh, tetapi rahmat Allah tidak jatuh. Rahmat-Nya telah memelihara sisa orang Israel.

Mengacu kepada rahmat Yehova, Yeremia pergi untuk mengatakan, "Selalu baru tiap pagi" (ay. 23a). Ini menunjukkan bahwa Yeremia mengontak Tuhan sebagai Sang perahmat setiap pagi. Ini melalui kontaknya dengan Tuhan agar dia menerima firman ini berkenaan dengan kasih setia, rahmat, dan kesetian-Nya.

Dalam ayat 23b Yeremia menyatakan, "Besar setia-Mu." Rahmat Allah tidak jatuh, karena Dia adalah Sang setia. Kesetian Allah mengacu kepada firman-Nya. Kesetiaan-Nya juga berhubungan dengan janji-Nya. Karena Dia telah membuat satu janji dengan Abraham dan ditegaskan bersama Ishak dan Yakub, Allah telah setia menjaga firman-Nya. Allah telah berbicara kepada nenek moyang Israel, dan Dia setia menjaga firman-Nya.

Dalam ayat 24 dan 25 Yeremia melanjutkan, berkata dari kedalaman dirinya, "Tuhan adalah bagianku, kata jiwaku, / Oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya. / TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, / Bagi jiwa yang mencari Dia." Firman ini tentang Yehova bagian kita dan tentang berharap di dalam Dia sesungguhnya memiliki rasa Perjanjian Baru. Ini menunjukkan bahwa ketika Yeremia menulis ayat 22 sampai 25, dia berada di dalam ekonomi Perjanjian Baru.

Yeremia menikmati Yehova sebagai bagiannya, dan dia meletakkan harapannya di dalam dirinya bukan di dalam manusia atau bukan di dalam segala sesuatu lainnya tetapi hanya di dalam Yehova. Pada satu pihak, Yeremia menyadari bahwa Allah adalah Allah kasih setia, bahwa Dia adalah perahmat, dan bahwa firman-Nya adalah setia. Di pihak lain, Yeremia menyadari bahwa kita masih perlu mengontak Tuhan setiap pagi, meletakkan seluruh harapan kita di dalam Dia, dan menantikan Dia.

Pada zaman Yeremia, situasi umat Israel tidak baik. Ini tidak terlihat bahwa Allah demikian kasih, baik, perahmat, dan setia. Lebih lagi, Dia dipandang hanya berkebalikkan, Ketika kita berada di dalam situasi yang serupa, apa ayang seharusnya kita lakukan? Seperti Yeremia, kita perlu menyadari bahwa Allah masih bagian kita dan bahwa kita seharusnya berharap di dalam Dia, menantikan Dia, dan menyeru nama-Nya (ay. 55). Namun, terlebih dulu kita melakukan hal-hal ini, kita seharusnya tidak mengharap situasi berubah dengan segera. Sejak hal itu ada tidak mungkin berubah dengan segera, kita perlu selanjutnya menantikan Tuhan.

Dalam kasus Yeremia, menantikan Tuhan begitu lama. Penggenapan nubuatannya mengenai waktu pemulihan masih belum kunjung tiba. Sebaliknya, situasi Israel hari ini tidak nampak satu pernyataan nubuatan ini. Ini menunjukkan bahwa kita perlu belajar pelajaran menantikan Tuhan. Hari ini bukan zaman perampungan akhir; karena itu, kita harus menantikan Tuhan.

Dengan kita ada perkara waktu, elemen waktu. Kerena kita berada di dalam waktu, elemen waktu adalah sangat penting bagi kita. Kita menyadari elemen waktu, dan karena itu kita secara tenang menjadi tidak sadar. Tetapi bersama Allah kita tidak ada elemen waktu.

Menanti Tuhan adalah sangat penting. Allah adalah bagian kita; Dia penuh kasih setia dan rahmat; dan Dia mutlah setia. Sekarang kita perlu berharap di dalam Dia, menantikan Dia, dan menyeru nama-Nya. Namun, kita seharusnya tidak berharap bahwa Dia akan bertindak tergesah-gesah. Beberapa pengajar Alkitab menunjukkan bahwa Allah bertindak tergesah-gesah dalam menyelamatkan kita, tetapi banyak hal yang lain Dia tidak bertindak tergesah-gesah. Sebagai contoh, kita mengenal bahwa Allah penjawab doa. Kita mungkin berdoa kepada Dia tentang satu perkara khusus, tetapi Dia menanti sejangka bulan sebelum Dia menjawab doa kita. Ini menolong kita untuk menyadari bahwa Allah kita adalah benar, hidup, perahmat, dan setia, namun Dia seringkali tidak melakukan sesuatu secara tergesah-gesah seperti yang kita harapkan.

Sebab Allah menangguhkan yaitu Dia bermaksud untuk menguji kita. Dia akan menguji kita sampai tingkat tertentu agar kita kehilangan harapan kita dan merasa bahwa kita samasekali diakhiri. Ketika kita merasa bahwa situasi tidak ada harapan, yaitu sering waktu sedemikian Allah akan datang. Ini adalah pengalaman kita di bawah dispensi Allah.

Di dalam ayat 55 ratapan ini, Yeremia berkata, "Ya TUHAN, aku memanggil nama-Mu" (ay. 55a). Di dalam pemulihan Tuhan kita telah belajar menyeru nama Tuhan Yesus. Namun, banyak kaum beriman Perjanjian Baru tidak mengenal tentang menyeru nama Tuhan dan tidak mempraktekkannya. Beberapa bahkan mengkritik kita untuk praktek ini. Sungguh sangat disayangkan situasi ini!

Saya mengapresiasi tiga perkara yang kita tekankan dalam berita ini: memiliki pengharapan kita di dalam Tuhan, menantikan Dia, dan menyeru nama-Nya. Bila kita mempraktekkan hal-hal ini, kita akan di bawah dipensi Allah dengan suatu cara yang praktikal.

Kemudian situasi disekeliling kita nampak tidak ada pengharapan, kita perlu menyadari bahwa Allah kita tidak pernah dapat dikalahkan. Apapun yang telah Dia firmankan, Dia akan setia mengenapinya. Karena itu, kita harus percaya semua yang Alkitab katakan. Tambahan, kita perlu menyadari bahwa Allah adalah bagian umat-Nya, dan kita perlu meletakkan harapan kita dan kepercayaan di dalam Dia. Kita perlu percaya di dalam Dia dan menantikan Dia apakah Dia menjawab kita sekarang atau kemudian. Bahkan bila Dia nampaknya tidak menjawab doa kita, kita harus melanjutkan untuk berdoa dan menantikan Dia. Hasil akhirnya akan seturut tujuan-Nya, dan akan menjadi orang-orang yang beruntung oleh Dia. Kita semua dapat belajar pelajaran ini.