← Daftar isi Ratapan · bab 3/4

RATAPAN KEEMPAT— SUATU RATAPAN ATAS UMAT YANG DIHUKUM DAN

RATAPAN KELIMA—

SUATU RATAPAN SEBAGAI SATU DOA BAGI UMAT KUDUS

Pembacaan Alkitab: Rat. 4—5

Dalam berita ini kita akan mengcover ratapan keempat dan kelima. Setelah memperhatikan ratapan ini sebagai keseluruhan, kita akan berusaha lebih memperhatikan pasal 5:19-22.

I. RATAPAN KEEMPAT—

SUATU RATAPAN ATAS UMAT YANG DIHUKUM

Ratapan keempat—suatu ratapan atas umat yang dihukum—yang dicatat di dalam pasal empat.

A. Menderita Kekurangan Makanan di dalam Pengepungan Mereka

Umat Israel menderita kekurangan makanan di dalam pengepungan mereka (ay. 1-10). Cahaya "emas murni" dan gemilang "batu nilam" menjadi "hitam jelaga" karena kekurangan makanan (ay. 1-5, 7-9). Wanita yang lemah lembut memasak dan memakan anak-anak mereka (ay. 10). Umat Allah menderita karena kesalahan mereka yang besar bahkan lebih dari dosa Sodom (ay. 6).

B. Dihabisi melalui Murka Yehova yang Menyala-nyala

Bangsa Israel dihabisi melalui murka Yehova yang menyala-nyala (ay. 11-20). Murka yang demikian tidak dipercayai raja-raja di bumi pun seluruh penduduk dunia (ay. 12). Umat Allah dihabisi karena dosa-dosa nabi-nabi mereka dan kesalahan-kesalahan imam-imam mereka (ay. 13-16). Umat itu menanti dalam kesia-siaan bagi suatu bangsa yang menolong (ay. 17-20).

C. Harapan Mereka di Masa akan Datang

Ayat 21-22 membicarakan harapan mereka di masa akan datang. Mereka berharap bahwa penghukuman dari kesalahan mereka telah rampung dan Yehova tidak lagi membawa mereka ke dalam pembuangan (ay. 22a). Mereka berharap agar Yehova menghukum kesalahan Edom (ay. 21, 22b).

Yeremia menulis ratapan ini bersama-sama secara insani. Simpatinya, kasihnya, penderitaannya, dan tangisannya bersama-sama. Setiap hal dituangkan oleh Yeremia dalam ratapan ini yang dihasilkan dari insaninya. Mengulangi sejarah Israel (ay. 2) dia adalah insani, dan di dalam membicaraan mengenai penghukuman yang datang kepada Edom (ay. 22) dia bahkan masih insani. Perasaan insaninya bagi Israel memimpin dia ke dalam kecemburuan insani mengenai Edom. Yeremia tidak bahagia bahwa Edom menikmati damai saat Israel di bawah penghukuman Allah. Karena itu, menurut perasaan insaninya, dia menyatakan bahwa Allah akan menghukum kesalahan Edom dan tidak menutupi dosa-dosa mereka.

II. RATAPAN KELIMA—

SUATU RATAPAN SEBAGAI SATU DOA BAGI UMAT KUDUS

SEBAGAI KESIMPULAN DARI RATAPAN KEEMPAT

Ratapan kelima, yang adalah suatu ratapan sebagai satu doa bagi umat kudus sebagai kesimpulan ratapan keempat, yang dicatat di dalam pasal lima.

A. Bertanya kepada Yehova untuk Mengingat Penderitaan-penderitaan Mereka

Doa ini dimulai dengan pertanyaan Yeremia kepada Yehova untuk mengingat penderitaan-penderitaan mereka dan untuk memandang dan melihat kehinaan mereka (ay. 1).

B. Menceritakan Kondisi Mereka yang Menyedihkan

Doa ini dilanjutkan dengan cerita Yeremia mengenai kondisi mereka yang menyedihkan (ay. 2-6, 8-18).

C. Mengakui Dosa Nenek Moyang Mereka dan Dosa Mereka

Dalam ayat 7 dan 16b Yeremia mengakui dosa nenek moyang mereka dan dosa mereka.

D. Kesimpulan dengan satu Permohonan

Doa kesimpulan ini dengan satu permohonan (ay. 19-22). Dalam permohonan ini, Yeremia memuji-muji Yehova (ay. 19), Pertanyaan-pertanyan kepada Dia (ay. 20, 22), dan membuat satu permohonan dari Dia (ay. 21). Mari sekarang kita memperhatikan poin penting dalam ayat-ayat ini.

Kitab Yeremia dan Ratapan ditulis berdasarkan pandangan kekal ekonomi Allah. Tetapi dalam kitab Ratapan sampai akhir pasal lima, Yeremia menulis dengan satu cara yang sangat insani, dengan simpati insani dan rahmat demikian bagi umat Israel. Walaupun Yeremia sangat insani, dia juga seorang manusia dari Allah. Dia tahu bahwa masalah-masalah umat Israel tidak dapat dipecahkan hanya oleh insaninya. Karena itu, pada akhir ratapan kelima, dalam ayat 19 sampai 22, dia berpaling kepada Yehova.

Ayat 19 mengatakan, "Engkau, ya TUHAN, bertakhta selama-lamanya, / Takhta-Mu tetap dari masa ke masa." Kalimat "Engkau ya TUHAN, bertakhta selama-lamanya" mengacu kepada diri kekal Allah, dan ini menunjukkan bahwa tidak ada perubahan dengan Dia. Dalam alam insani, perubahan terjadi di setiap cara. Khususnya, banyak hal berubah dalam situasi bangsa Israel. Tetapi tidak ada perubahan dengan diri kekal Allah. Dia tetap selama-lamanya.

Kalimat "Takhta-Mu tetap dari masa ke masa" mengacu kepada diri kekal Allah dan pemerintahan yang tak berubah. Takhta Allah tidak ada awal atau akhir; Takhta-Nya tetap ada dari masa ke masa. Penulisan Yeremia mengenai diri kekal Allah dan kekekalan-Nya dan pemerintahan-Nya tidak berubah semata-mata ilahi.

Walaupun ekspresi Yeremia dalam ayat 19 adalah ilahi, dia kembali berbicara dengan satu cara yang sangat insani dalam ayat 20 sampai 22. Dalam ayat 20 dia menulis, "Mengapa Engkau melupakan kami selama-lamanya / Meninggalkan kami demikian lama?" Di sini Yeremia sebenarnya membantah Allah dan mengubah Dia. Setelah mempersembahkan pujian tertinggi dalam ayat 19, Yeremia secara tegas mengubah Allah dalam ayat 20, menanyai Dia, kenapa Dia melupakan mereka dan meninggalkan mereka. Sebenarnya Allah tidak melupakan dan meninggalkan umat-Nya.

Dalam ayat 21 Yeremia melanjutkan, "Bawalah kami kembali kepada-Mu, ya TUHAN, maka kami akan kembali, / Baharuilah hari-hari kami seperti dahulu kala." Firman ini, yang diekspresikan sebagai satu bentuk perintah, menunjukkan bahwa Yeremia menganggap bahwa bertanggung jawab untuk berpaling dari bangsa Israel yang merdeka kepada Yehova. Dia menganggap bahwa Yehova adalah yang aktif dan bangsa Israel adalah yang pasif. Ini juga suatu ekspresi dari perasaan insani Yeremia. Di sini Yeremia melihat dan berkata, "Yehova, tidak dapat kembali atau memperbarui. Tanggung jawab ini adalah dengan Engkau. Engkau telah kembali kepada kami, dan kemudian kami akan kembali, Kami tidak dapat aktif kecuali Engkau yang pertama aktif ."

Walaupun Yeremia berbicara dengan satu cara insani tentang mereka memerlukan Yehova agar kembali kepada mereka, pemikirannya dikoreksi. Ini dibuktikan oleh Zakharia 12, satu pasal yang membicarakan tentang keselamatan seisi keluarga Israel. Kapan keluarga Israel menerima keselamatan Tuhan, yang akan kembali kali pertama, Israel atau Tuhan? Siapa yang akan mengambil inisiatif? Pasal ini mewahyukan bahwa ini adalah Tuhan, bukan Israel, yang akan mengambil inisiatif dan kembali. Ketika Yerusalem dikepung oleh Antikristus, Tuhan Yesus akan kembali kepada bangsa Israel dan menampakkan kepada mereka. Mereka kemudian akan memandang kepada Dia, Yang telah mereka tikam, dan bertobat (ay 10). Ini berarti bahwa ketika mereka memandang Tuhan, mereka akan kembali kepada Dia dan menerima keselamatan seisi keluarga dari Dia.

Dalam ayat 22 Yeremia menyimpulkan penulisannya dengan bertanya dua pertanyaan kepada Yehova: "Atau, apa Engkau sudah membuang kami sama sekali? / Sangat murkakah Engkau terhadap kami?" Yehova sama sekali tidak menolak Israel, atau Dia murka terhadap mereka. Tetapi mereka perlu menantikan Dia sampai waktu pemulihan, ketika Dia akan memulihkan bangsa Isreal terjadi dalam persona-Nya dan dalam kerajaan kekal-Nya untuk menikmati apa yang telah Dia janjikan kepada nenek moyang mereka.

Seperti yang telah kita tunjukkan, dalam ratapan ketiga Yeremia membicarakan kasih setia, rahmat, dan kesetiaan Allah, dan pada akhir ratapan kelima dia memohon kepada diri kekal Allah dan tahkta kekal-Nya, Pemerintahan-Nya tidak berubah. Apakah Anda semakin mengapresiasi dan apakah Anda menganggap tertinggi—kasih setia, rahmat, dan kesetiaan Allah atau diri dan takhta kekal Allah? Diri kekal Allah dan takhta Allah adalah yang tertinggi kemudian kasih setia, rahmat dan kesetiaan Allah.

Menurut Perjanjian Baru, keselamatan Allah adalah satu perkara kasih-Nya (Yoh. 3:16), kasih karunia-Nya (Ef. 2:8), dan kebenaran-Nya (Rm. 1:17). Kasih dan kasih karunia Allah dapat berubah, tetapi kebenaran Allah tidak dapat berubah, karena kebenaran-Nya berhubungan dengan pemerintahan-Nya (Mzm. 89:14, ASV). Kasih dan kasih karunia berhubungan dengan hati Allah. Hati Allah dapat berubah, namun Dia akan tetap dalam kebenaran. Kebenaran Allah tidak dapat berubah, kerena Dia harus selalu benar. Kasih setia dan rahmat Allah dapat berubah, tetapi persona Allah dan pemerintahan-Nya tidak dapat berubah selama-lamanya.

Yeremia mengakhiri Ratapan bukan dengan kasih setia, rahmat, dan kesetiaan Allah tetapi dengan diri kekal Allah dan takhta-Nya. Ini adalah pandangan yang kuat bahwa dalam penulisan Ratapan Yeremia menjamah ekonomi Allah. Walaupun ratapannya di sini kebanyakan dalam perasaan, rasa, kasih, dan simpati insani, pada akhirnya dia keluar dari insaninya dan masuk ke dalam keilahian Allah. Maka, dalam 5:19, dia menjamah persona Allah dan takhta Allah.

Dalam Yerusalem Baru, Allah akan secara penuh menyingkapkan persona-Nya dan pemerintahan-Nya, keduanya yang adalah fondasi yang tak tergoyahkan dari hubungan-Nya dengan kita. Pada waktu itu, kita akan melihat Allah sendiri sebagai Raja kekal dengan kekekalan-Nya, kerajaan yang tak tergoyahkan (Ibr. 12:28).